CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

.

BAB 15

KETIKA Kyungsoo membuka matanya, Jongin ada di sana menatapnya.

Semula Kyungsoo membelalak ketakutan, merasa bahwa dirinya ada di dalam bagasi yang gelap, sesak dan tanpa udara. Tetapi kemudian Jongin memegang tangan Kyungsoo yang panik dan menekannya lembut. Membuat Kyungsoo menoleh kepadanya, menyadarkan ia ada di mana.

"Kemarin kau diculik Kyungsoo, tetapi polisi menyelamatkanmu sebelum kau di bawa lebih jauh. Kau sekarang ada di rumah sakit, kau sudah selamat." Jongin berbisik lembut, berusaha meredakan ketakutan Kyungsoo, "Kau baik-baik saja, Kyungsoo."

Kyungsoo menatap Jongin dalam-dalam. Ingin rasanya ia menghambur ke pelukan lelaki itu dan menangis, tetapi kemudian seketika ia teringat akan kata-kata kejam Jongin kepadanya. Sebelum Kyungsoo diculik, Jongin telah melecehkan dan merendahkannya. Dan sekarang apa yang dilakukan lelaki itu di sini? Akankah dia akan merendahkan Kyungsoo lagi?

"Aku tahu kata-kataku malam itu menyakitkan." Gumam Jongin ketika Kyungsoo berusaha menarik tangannya, membuat Jongin harus menahannya. "Maafkan aku, Kyung. Aku menyesal, aku mengucapkannya karena aku marah... dan cemburu..."

Cemburu? Kali ini Kyungsoo tertarik dengan perkataan Jongin, ia mengangkat matanya dan menatap Jongin dengan bingung. Cemburu? Jongin cemburu? Kepada siapa? Kepadanya?

"Ya. Aku cemburu kepadamu dan Chanyeol... Aku..." Lelaki itu tampak salah tingkah dan kesulitan berkata-kata, "Aku sebenarnya menyimpan perasaan lebih kepadamu, entah sejak kapan yang pasti aku sadar ketika aku merasa tidak suka saat kau biasa-biasa saja ketika mengetahui aku akan keluar bersama Luhan." Senyum Jongin tampak pahit. "Aku ingin kau marah, aku ingin kau setidaknya mengungkapkan kecemburuanmu. Tetapi kau bersikap datar kepadaku, membuatku sulit menebak apa yang sebenarnya kau rasakan."

Bagaimana mungkin Kyungsoo menunjukkan kecemburuannya kepada Jongin? Bagaimana mungkin ia berani? Jongin adalah majikannya, penolongnya, bagaimana boleh ia yang hanya seorang pelayan menunjukkan perasaan lebih kepada majikannya?

"Dan kemudian itu mendorongku untuk bersikap sedikit kekanak-kanakan." Pipi Jongin tampak sedikit merona, laki-laki itu jelas-jelas merasa malu. "Tujuanku pergi bersama Luhan, menghabiskan waktu dengannya dan memperlihatkan ketertarikan kepada Luhan adalah untuk memancing rasa cemburumu. Aku ingin kau merasa cemas aku pergi dengan perempuan lain, aku ingin bisa menebak perasaanmu." Jongin mengacak rambutnya dengan frustrasi. "Pada akhirnya, aku malahan yang menjadi korban kecemburuanku sendiri. Aku pulang mendapati rumah kosong, mencemaskanmu setengah mati hanya untuk mendapati kau pulang bersama Chanyeol, tertawa-tawa dan berangkulan. Nampak begitu gembira, aku langsung menarik kesimpulan bahwa usahaku sia-sia. Aku pergi dengan Luhan seharian dan kau bahkan tidak memikirkanku sama sekali, malahan pergi bersenang-senang dengan Chanyeol, hal itulah yang memancing kemarahanku." Jongin menatap Kyungsoo sungguh-sungguh.

"Kata-kataku kasar Kyung, dan yang pasti sangat menyakitkan, aku tahu kau akan sulit memaafkanku." Jongin melanjutkan sambil menghela napas panjang, "Tapi satu yang harus kau tahu Kyungsoo, semua perkataan itu hanyalah manifestasi kemarahanku, tidak ada satupun yang berasal dari hatiku. Bagiku kau adalah perempuan sempurna, lugu, polos, pekerja keras, mandiri, bisa bertahan dalam kesulitan dan terlebih lagi kau telah menyentuh hatiku yang paling dalam." Dengan lembut Jongin mengecup jemari Kyungsoo. "Mungkin ini akan terdengar sangat klise, dan mungkin kau tidak akan mempercayainya, tetapi aku mencintaimu... Do Kyungsoo."

Kyungsoo ternganga, kaget dan tak percaya. Jongin mencintainya? Mencintainya? Apakah ia bermimpi? Kyungsoo menyentuh pipinya yang terasa hangat, tiba-tiba merasa malu, bagian mana dari dirinya yang bisa dicintai oleh lelaki sesempurna Jongin? Bagaimana mungkin Jongin bisa jatuh cinta kepadanya? Seorang pelayan udik yang kadang-kadang mempermalukannya?

"Dan aku tidak pernah bisa membaca perasaanmu." Gumam Jongin lembut, "Matamu begitu polos dan aku berusaha mencari-cari makna cinta di baliknya, yang tidak pernah aku temukan." Jongin menghela napas panjang. "Maka katakanlah padaku Kyung, bagaimana perasaanmu kepadaku?"

Wajah Kyungsoo merona, memerah karena malu atas pertanyaan Jongin, atas tatapan matanya yang begitu intens kepadanya. Bibirnya gemetar ketika mencoba berbicara, sementara benaknya menelaah dirinya sendiri. Bagaimanakah perasaannya kepada Jongin?

Kyungsoo mulai sering membayangkan Jongin di malam-malam sebelum tidurnya, mulai merasa rindu jika lama tidak melihat Jongin, dan ia selalu merasa bahagia jika ada Jongin di dekatnya.

"Aku... Ketika kau pergi bersama Luhan, aku sebenarnya merasa sedih... dan murung, karena itulah Chanyeol berbaik hati mengajakku ke taman hiburan." Kyungsoo bergumam pelan. Bingung bagaimana menjelaskan perasaannya.

Tetapi sepertinya itu sudah cukup untuk Jongin, lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Kyungsoo tajam. "Apa maksudmu kau merasa sedih ketika aku pergi bersama perempuan lain? Apakah kau... cemburu?"

Apakah Kyungsoo cemburu? Apakah perasaan sakit seperti jantung diremas ketika membayangkan Jongin berdekatan dengan Luhan, menggenggam tangannya dan merangkulnya itu adalah perasaan cemburu? Tiba-tiba Kyungsoo menyadari kebenaran perasaannya, ia menganggukkan kepalanya.

Seketika itu juga Jongin bangkit dan memeluknya yang sedang terduduk di ranjang, lelaki itu duduk di tepi ranjang, tepat di hadapannya. "Kalau begitu apakah kau mencintaiku?"

Lama, Kyungsoo mengerutkan kening dan berpikir, menyiksa Jongin, membuat lelaki itu ingin mengguncangkan bahu Kyungsoo, membuatnya berkata 'ya'. Tetapi kemudian bibir indah Kyungsoo tersenyum dan perempuan itu menatap Jongin dengan lembut.

"Ya Jongin."

"Ya apa?" Jongin masih tidak puas rupanya.

Kyungsoo menelan ludahnya, "Ya Jongin, aku mencintaimu."

Senyum lebar merekah di bibir Jongin membuat wajahnya berseri dan tampak begitu tampan.

"Dan aku juga mencintaimu, Kyungsoo." Tatapan Jongin tampak mesra, "Dan kita akan menikah jadi kau bisa tinggal di apartement itu tanpa masalah?"

"Menikah?"

"Ya. Menikah. Kau mencintaiku, aku mencintaimu. Harus menunggu apa lagi? Kita harus segera menikah."

Kyungsoo tersenyum, "Lalu bagaimana dengan menjadi pelayanmu?"

Jongin menatap Kyungsoo mesra, lalu mengerutkan keningnya menggoda. "Kau masih tetap menjadi pelayanku, tapi perkerjaanmu akan bertambah, karena kau juga akan melayaniku di kamar."

Pipi Kyungsoo langsung merah padam mendengar godaan Jongin itu, membuat Jongin terkekeh geli, dan kemudian meletakkan kepala Kyungsoo ke dadanya. Kyungsoo memejamkan matanya, menenggelamkan diri di kenikmatan aroma Jongin yang maskulin dan menyenangkan. Mensyukuri diri bahwa lelaki yang memeluknya ini adalah lelaki yang mencintai dan dicintainya.

Kyungsoo mengawali kehidupannya dengan pahit, menjadi anak yatim piatu yang tidak tahu asal usulnya, kemudian kejahatan orang lain membuatnya melarikan diri, mencoba hidup mandiri, memulai dari bawah dengan gigih dan mencoba bertahan di antara semua kesulitan. Sampai kemudian Tuhan mempertemukannya dengan Jongin, lelaki penyendiri yang baik hati dan menolongnya. Lelaki penyendiri yang kemudian membuatnya jatuh cinta. Kyungsoo tidak pernah menduga kehidupannya akan menemui jalan yang begitu membahagiakannya, pasti Tuhan begitu menyayanginya sehingga memberikan kekasih yang begitu sempurna, kekasih yang tidak pernah berani dibayangkannya sebelumnya.

Jemari mungil Kyungsoo melingkari pinggang Jongin, dan lelaki itu makin mempererat pelukannya yang penuh cinta kepada Kyungsoo. Nanti, pada saatnya nanti masih ada banyak waktu terbentang di depan mereka untuk berpelukan setiap saat. Jongin akan memiliki Kyungsoo di rumahnya, menjadi milik pribadinya, saling memiliki dengannya.

.

.

Chanyeol yang berdiri diam di depan pintu hanya tersenyum melihat kedua sejoli itu berpelukan. Ia menghela napas panjang. Setidaknya, sahabat-sahabatnya telah bertemu dengan perempuan yang benar-benar baik.

Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya kapan saat itu tiba untuknya? Akankah ia menemukan perempuan yang benar-benar baik? Ataukah ia akan selalu terkalahkan rasa takut dan traumanya yang membuatnya membenci dan berprasangka kepada perempuan? Matanya melirik kearah Jongin yang sekarang mencium bibir Kyungsoo lembut dan mengernyit.

Dan kenapa setiap perempuan baik, yang tidak menyalakan alarm Chanyeol selalu diambil oleh sahabatnya?

"Cemburu?"

Sebuah suara lembut dan feminim membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya. Chanyeol mengangkat kepalanya dan makin mengerutkan keningnya ketika melihat Baekhyun berdiri di depannya. Chanyeol memang masih menganut aliran konvesional, ia masih belum bisa menerima ada seseorang yang tidak menerima apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya dan kemudian mengubahnya, dengan kekuatan manusia. Itu hampir-hampir seperti bentuk kesombongan manusia kepada Tuhannya...

"Baekhyun." Chanyeol menyapa kaku, kemudian menegakkan tubuhnya. "Tentu saja aku tidak cemburu. Apa yang kau lakukan di sini?'

"Aku segera kemari setelah melihat berita televisi, bagaimanapun juga, meskipun baru sebentar bersama Kyungsoo, aku peduli kepadanya." Baekhyun mengintip hendak masuk, tetapi kemudian tidak jadi ketika melihat Jongin sedang berciuman, kemudian tertawa dan bergumam mesra kepada Kyungsoo. Ia mengangkat alisnya dan bergumam kepada Chanyeol, "Akhirnya Jongin kita mengakui perasaannya, eh?"

Chanyeol mengangkat alisnya. "Kau sudah tahu sejak lama perasaan Jongin kepada Kyungsoo?"

"Aku sudah tahu bahkan sebelum Jongin menyadari perasaannya sendiri." Baekhyun terkekeh, "Ketika dia membawa Kyungsoo ke butik, tanpa sadar dia bersikap begitu posesif, matanya mengawasi Kyungsoo seperti elang menunggu mangsa. Ketika itu aku sadar bahwa tinggal menunggu waktu saja sampai Jongin mengakui perasaannya."

"Dan mereka pun bahagia bersama." Chanyeol tersenyum.

Baekhyun mengangguk, "Kapan giliranmu, Yeol?"

"Apa?"

"Aku dengar kau pembenci wanita. Bagaimana kalau dengan wanita yang ini?" Baekhyun menyulurkan jemarinya menyentuh lengan Chanyeol.

Seketika itu juga Chanyeol berjingkat mundur, menatap Baekhyun dengan wajah shock.

"Kau tidak sungguh-sungguh dengan rayuanmu bukan?" Chanyeol bergidik.

Baekhyun tergelak melihat reaksi Chanyeol. "Tentu saja aku tidak sungguh-sungguh." Matanya menelusuri Jongin dan mencibir, "Aku sudah tentu akan menghindari lelaki yang wajahnya lebih cantik dariku." Dan kemudian, sambil menebarkan aroma parfumnya yang wangi, Baekhyun berlalu meninggalkan Chanyeol yang masih tertegun bingung.

Lama kemudian, Chanyeol menyadari candaan Baekhyun dan tertawa. Dasar! Makhluk ajaib yang satu itu ternyata menggodanya. Mata Chanyeol melirik lagi ke arah dua sejoli yang tampaknya begitu diliputi cinta itu, lalu tersenyum simpul. Waktunya sendiri akan tiba. Ia percaya akan menemukan perempuan baik hati, yang tidak jahat dan hanya menginginkan materi dan fisiknya, yang hanya diciptakan untuknya. Irene dan Kyungsoo telah menyadarkannya bahwa tidak semua perempuan berhati jahat, masih ada di sana, tersembunyi di antara semua yang mencolok, perempuan berhati baik yang menunggu untuk ditemukan.

Saat untuk kisah cintanya sendiri pasti akan segera tiba. Chanyeol hanya perlu mencari perempuan itu. Perempuan baik hati yang akan menyentuh hatinya yang kelam ini.