CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
.
EPILOG
KYUNGSOO sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kondisi tubuhnya sudah membaik dan dokter memastikan ia akan sehat-sehat saja ke depannya. Saat ini ia sedang duduk di samping ranjang, sudah mengenakan pakaian rapi dengan koper yang sudah siap di atas ranjang. Ia menunggu Jongin yang akan menjemputnya.
Suara ketukan di pintu membuat Kyungsoo menoleh penuh harap, tetapi bukan Jongin yang datang melainkan Chanyeol. Lelaki itu tersenyum, dan melangkah masuk ke ruangan duduk di kursi depan Kyungsoo.
"Menunggu Jongin?"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, tersenyum ke arah Chanyeol.
"Bagaimana keadaanmu?" Chanyeol bertanya lagi.
Kyungsoo tersenyum, menyelipkan sejumput rambut di belakang telinganya. "Aku sudah baikan..."
"Dikurung di bagasi seperti itu memang mengerikan. Ayah Jongin memang jahat, tetapi kau bisa tenang, Kyung, dia sudah kembali ke negaranya dan tidak akan mengganggumu lagi."
Ya. Peristiwa penculikan itu memang menakutkan, sebuah pengalaman traumatis yang sangat ingin dilupakannya. Kadangkala benaknya berpikir, bagaimana jika waktu itu Jongin dan Chanyeol serta pihak kepolisian tidak berhasil mengejar penculiknya dan menyelamatkannya? Mungkin ia akan berakhir menjadi korban perdagangan manusia di luar negeri seperti yang direncanakan oleh ayah Jongin.
Kadang di malam-malamnya di rumah sakit, Kyungsoo masih sering terbangun tengah malam, berkeringat dan ketakutan karena mimpi buruknya berada di dalam bagasi, tersekap, berteriak-teriak dan tidak ada yang menolongnya. Dan ketika itu, Jongin yang setia menungguinya langsung menggenggam tangannya, menenangkannya sampai ia tertidur kembali.
"Aku akan berusaha melupakannya." Kyungsoo menatap ke arah Chanyeol, "Terimakasih Chanyeol-ah, kau begitu baik kepadaku."
Chanyeol tersenyum, sebuah senyum lebar yang mempesona di wajah tampannya. "Aku menganggapmu seperti adikku sendiri, kau sangat mirip dengannya, dengan kemandirian dan sikap tegarmu." Lelaki tampan itu lalu mengerutkan keningnya, "Sayangnya tidak disangka kau mengalami nasib yang sama sepertinya. Diculik oleh orang jahat."
"Dan untunglah kami berdua sama-sama selamat." Gumam Kyungsoo, merasa benaknya dipenuhi rasa syukur yang begitu dalam.
"Ya. Untunglah pada akhirnya kalian menemukan laki-laki yang bisa menjaga kalian." Tatapan Chanyeol tampak melembut. "Jongin lelaki yang baik, meskipun dia kadangkala keras dan menakutkan, tetapi dia tidak pernah bersikap seperti itu kepada perempuan lain sebelumnya. Aku yakin dia benar-benar menyayangi dan akan menjagamu, Kyung."
Kyungsoo tersenyum. Hatinya terasa hangat ketika mengingat Jongin. Memang kemarahan Jongin terakhir kali sebelum ia diculik waktu itu benar-benar menyakiti hatinya. Kata-kata Jongin waktu marah memang kasar. Tetapi lelaki itu telah meminta maaf kepadanya dan menjelaskan sebab kemarahannya.
Jongin cemburu.
Kyungsoo tidak bisa menahan senyumnya memikirkan bahwa Jongin, lelaki sempurna itu cemburu kepadanya.
"Sepertinya kalian sangat asyik."
Lelaki yang dibayangkannya itu, Jongin, tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu. Seperti biasa penampilannya tampan dengan rambut basah sehabis keramas. Sepertinya ia baru saja mandi. Kyungsoo tersenyum, menyadari bahwa Jongin rela mengubah pola tidurnya yang biasa untuk menjemput Kyungsoo. Yah siapa yang bisa lupa bahwa Jongin selalu bersikeras bekerja sepanjang malam dan beranjak tidur ketika menjelang pagi lalu bangun di sore hari? Hari ini jam sepuluh pagi dan Jongin sudah rapi berada di sini untuk menjemputnya.
Jongin melangkah masuk, mengangkat alisnya ketika menatap Chanyeol. "Kenapa kau ada di sini Hyung?" suaranya terdengar curiga.
Chanyeol tersenyum jahil. "Aku berencana untuk menculik Kyungsoo sebelum kau ambil."
Seketika itu juga, Jongin dengan defensif berdiri di depan Kyungsoo yang masih duduk di tepi ranjang, seolah ingin menghalangi pandangan Chanyeol kepada Kyungsoo.
"Kau harus menghadapiku dulu." gumamnya tenang.
Chanyeol terkekeh, geli melihat tingkah posesif Jongin kepada Kyungsoo. "Kau bisa tenang Jongin, aku bercanda. Mana mungkin aku menculik Kyungsoo, dia tidak akan mau mengikutiku karena dia sedang menunggumu."
Jongin tidak bisa menahan senyumnya, ia menoleh ke arah Kyungsoo yang menatapnya malu-malu dan tersenyum. "Benarkah? Kau menungguku?"
Kyungsoo sendiri hanya tersenyum malu, bingung hendak menjawab apa, sementara Chanyeol tampak tidak tahan dengan sikap malu-malu Kyungsoo di bawah tatapan mata tajam Chanyeol, ia langsung menceletuk dengan nada menahan tawa.
"Tentu saja Kyungsoo menunggumu Jongin, kau kan berjanji akan menjemputnya keluar dari rumah sakit."
"Aku terlambat, aku sedikit kesiangan. Maafkan aku." Jongin menatap Kyungsoo dengan pandangan meminta maaf.
Dan Kyungsoo menganggukkan kepalanya, tersenyum penuh pengertian. "Aku mengerti, Jongin."
Sekali lagi, Chanyeol tampaknya tidak tahan untuk berkomentar. "Kau harus sedikit galak kepada Jongin, Kyung. Kalau tidak dia akan menindasmu." Gumamnya dan langsung mendapatkan tatapan mata galak oleh Jongin.
"Bisakah kau pergi Hyung? Aku ingin berbicara empat mata dengan Kyungsoo." Jongin seperti biasa melakukan pengusiran terang-terangan kepada sahabatnya itu.
Untunglah Chanyeol sudah biasa dengan sikap Jongin hingga sama sekali tidak merasa tersinggung, ia malahan tersenyum lebar, menatap pasangan di depannya dengan pandangan menggoda.
"Oh well baiklah, aku akan pergi. Jangan lupa Kyung, sekali-kali sedikit galaklah kepada Jongin." Gumam Chanyeol sambil terkekeh geli, melangkah ke luar ruangan, meninggalkan Jongin dan Kyungsoo hanya berdua saja.
Lama Jongin hanya menatap Kyungsoo, ia lalu duduk di tepi ranjang, di sebelah Kyungsoo. Aroma parfumnya yang menyenangkan menyentuh hidung Kyungsoo, dan tiba-tiba saja jantungnya berdebar. Jongin terasa begitu dekat. Dan sekarang lelaki itu menatapnya dengan pandangan intens.
"Bagaimana keadaanmu?" Jongin bergumam lembut, menatap Kyungsoo yang masih menunduk salah tingkah.
"Aku sudah baikan. Tidak ada bagian tubuhku yang terluka kok."
"Aku berjanji ayahku yang brengsek itu tidak akan bisa mengganggumu lagi." Mata Jongin menyala, tampak geram ketika membicarakan tentang ayahnya. Tetapi mata itu berubah penuh kasih sayang ketika menatap Kyungsoo. Lengannya bergerak, semula agak ragu, tetapi kemudian ia merangkul Kyungsoo ke dalam pelukannya dengan sebelah lengannya, menyandarkan kepala Kyungsoo ke dadanya dan memeluknya erat. "Aku senang kau baik-baik saja, Kyungsoo."
Jongin tidak pernah selembut itu kepadanya. Mungkin karena sekarang lelaki itu menyadari perasaannya kepada Kyungsoo dan sudah tidak mencoba menyangkalnya lagi? Lelaki itu sudah menyatakan cinta kepada Kyungsoo, meskipun rasanya Kyungsoo masih tak percaya. Dicintai oleh lelaki seperti Jongin, rasanya seperti mimpi. Tetapi sekarang ia tidak sedang bermimpi bukan? Sekarang Jongin memeluknya erat, sepenuh hatinya.
Tiba-tiba muncul keberanian di hati Kyungsoo. Ia merangkulkan sebelah lengannya ke punggung Jongin, dan sebelah lengannya lagi melingkari dada Jongin, setengah memeluk lelaki itu dari samping.
"Terimakasih Jongin." gumamnya lembut, berbisik pelan dengan pipi merona merah, malu akan keberaniannya sendiri memeluk tubuh Jongin yang harum beraroma maskulin itu.
Sejenak Jongin tampak tertegun, membeku, seolah tidak menyangka bahwa Kyungsoo akan balas memeluknya. Tetapi sedetik kemudian, lelaki itu merangkulkan sebelah lengannya yang lain ke tubuh Kyungsoo, setengah mengangkat Kyungsoo ke pangkuannya dan memeluknya erat-erat.
"Jangan berterimakasih kepadaku. Akulah yang harusnya berterimakasih kepadamu, sayang." Jongin menenggelamkan kepalanya di rambut Kyungsoo yang harum, "Hidupku dulu hampa, aku menjalani hidup dengan penuh kebencian dan rasa pahit, tidak mensyukuri semua yang telah kumiliki. Lalu kau datang, kau membuat hidupku berarti, membuatku bersyukur masih bisa membuka mata dan menghirup napasku setiap hari, masih bisa bersyukur karena aku bisa memilikimu, perempuan polos yang begitu manis, begitu baik hati, bahkan setelah perlakuan kasarku kepadamu."
Kyungsoo mendongakkan kepalanya, menatap Jongin. Lelaki itu rupanya masih menyimpan rasa bersalah atas kata-kata kasarnya kepada Kyungsoo di pertengkaran mereka waktu itu. "Aku sudah memaafkanmu." bisiknya tulus.
Jongin tersenyum, tidak bisa menahan diri untuk mengecup pucuk hidung Kyungsoo, dan kemudian menenggelamkan perempuan mungil itu ke dalam pelukannya lagi.
"Tentu saja kau sudah memaafkanku, dasar kau perempuan berhati baik." Bisiknya dengan penuh emosi, "Aku akan menikahimu Kyung, aku akan mengurus dan menjagamu, kau tidak akan sendirian lagi di dunia ini, begitupun aku, kita saling memiliki, kau dan aku akan selalu bersama."
Ucapan itu bagaikan sebuah janji. Diucapkan oleh seorang lelaki yang mencintai.
.
.
Pesta pernikahan berlangsung sederhana, hanya teman-teman dekat Jongin yang datang, serta beberapa rekan kerjanya dan koleganya. Pesta itu diadakan di ballrom sebuah hotel berbintang di pusat kota.
Kyungsoo berkali-kali mencuri pandang ke arah Jongin yang tampak begitu tampan dengan setelan jas hitam dan dasinya yang rapi. Sang pengantin lelaki begitu tampan. Kyungsoo mengawasi Jongin dan merasakan jantungnya berdebar.
Suaminya.
Ia masih tidak percaya bahwa sekarang dirinya dan Jongin adalah sepasang suami isteri. Matanya melirik ke arah cincin emas putih dengan berlian mungil yang elegan di jari manisnya, tanda bahwa ia terikat dengan Jongin. Lelaki itu mengenakan cincin perkawinan juga di jari manisnya, dengan versi yang lebih maskulin tentu saja. Dan setiap melihat kilatan cincin di jari manis Jongin, Kyungsoo merasakan perasaan hangat menjalari dadanya. Mereka sekarang adalah pasangan, saling memiliki. Kyungsoo tidak sebatang kara lagi di dunia ini. Ia memiliki Jongin, suaminya yang akan selalu menjaganya.
Tiba-tiba mata Kyungsoo terasa panas. Rasa haru yang luar biasa menyesaki dadanya. Membuatnya ingin menangis keras-keras. Oh tentu saja ini bukan tangisan kesedihan, ini tangisan kebahagiaan. Di pesta yang indah ini, Kyungsoo memang tidak mempunyai ayah, ibu ataupun keluarga lain yang ikut merayakan bersamanya. Pun demikian adanya dengan Jongin. Tetapi mereka bahagia, mereka memiliki satu sama lain dan tetap berbahagia. Kyungsoo percaya pada akhirnya mereka akan membentuk keluarga baru mereka sendiri, keluarga besar, seperti yang dikatakan Jongin kepadanya semalam, dengan banyak anak laki-laki dan perempuan yang memenuhi rumah besar mereka nanti.
"Jangan menangis."
Suara Chanyeol terdengar di belakangnya, membuat Kyungsoo menoleh, lalu tersenyum malu dan mengusap air matanya. Chanyeol mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, lelaki ini juga tampak tampan dengan setelan jasnya, dia menjadi pendamping pengantin pria, sementara Baekhyun menjadi pendamping pengantin wanita, Baekhyun juga tampak cantik dengan gaun warna peachnya, orang yang tidak mengenalnya tidak akan tahu bahwa Baekhyun bukanlah perempuan asli.
Dengan lembut Chanyeol mengusap air mata di sudut mata Kyungsoo dengan saputangannya. "Pengantin yang cantik tidak boleh menangis, nanti riasanmu rusak." Lelaki itu tersenyum, "Kau cantik sekali Kyung, dan Jongin terlihat sangat bahagia. Kalian tampak begitu cocok satu sama lain."
Tiba-tiba Kyungsoo merasa begitu terharu, sekuat tenaga ia menahan air matanya supaya tidak mengalir lagi. "Terimakasih, Chanyeol-ah."
"Sama-sama Kyung, aku mendoakan kebahagiaanmu." Chanyeol mengangkat bahunya, "Kalian orang-orang yang beruntung, bisa menemukan belahan jiwanya dan bersatu, seandainya saja aku seberuntung kalian."
"Kau pasti akan mengalami keberuntungan itu suatu saat nanti." Tiba-tiba Kyungsoo menggenggamkan buket bunganya ke tangan Chanyeol. "Ini buket bungaku untukmu."
Chanyeol terkekeh, tetapi ia menerima bunga itu. "Ini kan biasanya untuk perempuan lajang, aku yakin banyak perempuan lajang menanti untuk mendapatkan bunga ini jika dilempar."
Kyungsoo tertawa, "Aku rasa kau lebih membutuhkannya, Chanyeol."
"Hmm kalau memang kutukan bunga pengantin ini benar, berarti aku akan segera menyusul kalian."
"Itu bukan kutukan, Chanyeol. Itu sebuah berkat." Kyungsoo langsung mengoreksi, membuat Chanyeol mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa.
"Terimakasih atas bunganya. Kurasa aku harus segera pergi, ada pengantin pria yang datang dan memelototiku." Dengan gaya elegan dan menggoda, Chanyeol membungkukkan tubuhnya, lalu berbalik pergi, membawa bunga itu di tangannya sambil bersiul pelan.
"Kau memberikan bunga pengantinmu untuknya?" Jongin tiba-tiba muncul di belakang Kyungsoo, menatap ke arah kepergian Chanyeol.
Kyungsoo mendongak, menoleh ke belakang dan tersenyum lembut. "Aku rasa Chanyeol lebih membutuhkannya dibandingkan dengan perempuan-perempuan yang ada di sini."
Jongin terkekeh, "Ya. Mungkin dengan begitu dia bisa berhenti untuk semakin memperkuat reputasinya sebagai penghancur perempuan." Mata Jongin menatap Kyungsoo dengan tajam, "Tetapi dia sangat baik kepadamu, membuatku sedikit cemburu."
Dengan malu Kyungsoo memukul sebelah lengan Jongin, "Dia menganggapku seperti adiknya."
Jongin terkekeh, menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. "Ya. Aku tahu. Kurasa kau harus terbiasa, Sayang, aku akan mencemburui semua lelaki, siapapun yang berani melirikmu akan membuatku merasa cemburu, tak terkecuali."
"Tidak ada yang akan melirikku." Kyungsoo menyahut, menenggelamkan wajahnya ke dada Jongin.
Jongin menarik bahu Kyungsoo, membuat Kyungsoo berhadapan dengannya. Istrinya, pengantinnya. Perempuan itu tampak begitu cantik dalam balutan gaun putih yang mengembang indah di pinggangnya. Rambut Kyungsoo terurai sempurna, membingkai wajahnya, dengan riasan sederhana yang membuat wajah polosnya semakin cemerlang.
"Kau cantik, Sayang. Kau sempurna untukku. Apakah kau tidak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu? Bersamamu, menjadi suamimu adalah kebahagiaan yang sempurna untukku." Jongin menunduk, mengecup bibir Kyungsoo, "Sekarang maukah kau berdansa denganku, pengantinku?"
Kyungsoo mengangguk, membiarkan Jongin menggenggam tangannya dan membawanya ke lantai dansa. Mereka menyatu di tengah lantai dansa, dengan lengan-lengan kuat Jongin memeluk pinggangnya dengan posesif. Mereka berada di tengah pasangan lain yang berdansa, tetapi bagi Jongin dan Kyungsoo, sekarang hanya ada mereka berdua, menikmati kebahagiaan langkah baru dalam hubungan mereka.
Pernikahan bukanlah tujuan akhir dari sebuah hubungan percintaan. Pernikahan adalah sebuah awal, awal dimana dua anak manusia merengkuh janji untuk menjalani hidup bersama. Dua yang menjadi satu, satu yang terdiri dari dua. Itulah mereka sekarang.
Kyungsoo tidak tahu akan menjadi apa pernikahannya bersama Jongin nanti. Tetapi yang ia tahu, mereka akan menjadi kuat bersama menghadapi apapun ke depannya, karena mereka akan selalu bergenggaman tangan.
.
.
Chanyeol melepas kaca mata hitamnya, menyadari beberapa perempuan menoleh dua kali setiap berpapasan dengannya. Ia sudah biasa menerima tatapan mata seperti itu, tatapan mata kagum dan terpesona perempuan-perempuan itu kepadanya. Langkahnya terhenti ketika melihat Jongin dan Kyungsoo.
Jongin seperti biasa, tampak merangkul pinggang Kyungsoo dengan posesif seolah-olah ingin melindunginya dari hiruk pikuk keramaian bandara. Kyungsoolah yang pertama melihatnya dan langsung melambaikan tangannya dengan bersemangat, membuat Chanyeol tersenyum dan mempercepat langkahnya mendekati pasangan itu.
"Kalian hanya membawa dua tas itu?" Chanyeol melirik dua buah koper yang ada di dekat kaki Jongin.
Ya. Jongin dan Kyungsoo akan menetap permanen di Amerika, kebetulan Jongin menerima pekerjaan di sana, dan dia juga memiliki investasi di perusahaan yang cukup besar di sana. Mereka berdua memutuskan untuk memulai kehidupan baru di tempat yang benar-benar baru, mencoba membangun keluarga kembali dari awal.
"Barang-barang yang lain akan dikirimkan melalui jasa pengiriman. Lagipula aku tidak membawa banyak barang, kami bisa membelinya nanti di sana berikut perabotan untuk mengisi rumah kami di sana." Jongin tersenyum, menatap Chanyeol penuh arti. "Bagaimana rasanya menempati apartemen barumu? Kuharap kau kerasan."
Chanyeol memang telah membeli apartemen yang dulunya milik Jongin segera setelah Jongin memutuskan untuk pindah ke Amerika dan menetap di sana. Ia merasa nyaman di apartemen itu, sekaligus dengan pindah ke tempatnya sendiri, ia bisa menghindari ibunya yang terus menerus berusaha menjodohkannya dan memaksanya untuk segera mengakhiri masa lajangnya dan mencari pendamping hidup.
"Aku senang di sana." Chanyeol tersenyum lebar hingga barisan deretan giginya yang rapi terlihat, "Banyak kenangan manis yang tertinggal di sana." Matanya melembut, menoleh ke arah Jongin dan Kyungsoo berganti-ganti. Pada saat yang sama panggilan untuk keberangkatan penerbangan terdengar. "Hati-hati ya. Aku pasti akan sangat merindukan kalian berdua."
"Kami juga akan merindukanmu, Chanyeol-ah. Mampirlah ke Amerika kapanpun kau sempat." Kyungsoo menyahut lembut, matanya tampak berkaca-kaca, dan Chanyeol memeluk perempuan itu dengan sayang, seperti memeluk adiknya sendiri
"Pasti." Chanyeol mengecup puncak kepala Kyungsoo, lalu menoleh ke arah Jongin, "Aku yakin kalian akan berbahagia."
"Terimakasih, Hyung." Jongin menyalami Chanyeol, mereka berpelukan sejenak, dan Jongin menepuk pundak Chanyeol dengan menggoda, "Aku harap kau akan menemukan tempat berlabuh, sama seperti diriku."
Kata-kata itu membuat Chanyeol tersenyum skeptis. "Itu mungkin masih akan lama sekali." gumamnya.
Jongin tertawa, "Yah. Siapa yang tahu? Mungkin saja jodohmu ada di sekitar sini hanya saja kau belum mengetahuinya." Lelaki itu mengamit jemari Kyungsoo. "Ayo sayang, kita harus masuk sekarang."
Kyungsoo mengangguk, sekali lagi menatap lembut ke arah Chanyeol. "Sampai jumpa lagi Chanyeol."
Chanyeol melambaikan tangannya, menatap pasangan itu yang mulai melangkah menjauh, "Sampai jumpa lagi." jawabnya lembut.
Kyungsoo dan Jongin memasuki gate penerbangan, bergandengan tangan.
"Terimakasih karena mau mengikutiku ke Amerika." gumam Jongin sambil merangkul Kyungsoo ke dalam pelukannya, "Aku tahu mungkin ini sedikit berat untukmu, meninggalkan semua kehidupan yang biasa kau jalani untuk pindah ke negara baru yang sama sekali asing."
Kyungsoo tersenyum. "Aku tidak punya siapa-siapa yang kutinggalkan di sini, Jongin. Aku hanya punya kau, dan aku istrimu, aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi."
"Kemanapun?" mata Jongin tampak menggoda.
Kyungsoo langsung mengangguk mantap. "Kemanapun."
Jongin membungkuk, mendekatkan bibirnya ke telinga Kyungsoo, dan berbisik dengan sensual. "Saat ini, aku memikirkan untuk pergi ke tempat manapun yang menyediakan ranjang."
Pipi Kyungsoo langsung memerah, spontan memukul lengan Jongin. "Jongin!" gumamnya memperingatkan, memandang ke sekeliling takut kalau ada orang yang mendengar godaan sensual Jongin kepadanya tadi.
Sementara itu Jongin tertawa melihat pipi Kyungsoo yang semerah kepinting rebus. Diraihnya kembali istrinya ke dalam pelukannya, ketika ia berbisik, suaranya serak penuh perasaan.
"Aku bahagia bersamamu, Kim Kyungsoo. Kuharap kau merasakan hal yang sama."
Kyungsoo membalas pelukan suaminya matanya berbinar penuh kebahagiaan, "Akupun demikian adanya, Kim Jongin, suamiku."
Dan beginilah akhirnya, dua manusia yang berasal dari dua dunia berbeda, dua manusia yang seharusnya tidak pernah bersua, ternyata bersimpangan jalan dan saling terkait. Pada akhirnya mereka berdua menyatu, terikat oleh cinta, berlabuh di dalam janji pernikahan.
END
