"Orangtua mereka hanya salah menafsirkan kedekatan Jimin dan Taehyung selama ini. Tidak masalah, sebenarnya, tapi bagaimana jika berakhir perjodohan diantara keduanya? MASA SEME MAKAN SEME?! Bts Bangtan Boys VMIN MINV VKOOK MINKOOK"

author : MY Yeon

"MISUNDERSTAND"

=hanya sebuah pembuktian apakah cinta bisa berawal dari kesalahpahaman=

MY Yeon hanya memiliki ceritanya, tak bisa memiliki mereka meski banyak mengharap sekalipun

Happy Reading ^^^

888

"Akhirnya mimpi kita menjadi nyata Baek! Hihi."

"Tahu tidak Jin? Aku tidak menyangka kita akan menjadi besan sebentar lagi. Ihihi."

"Aku juga. Sempat khawatir mengetahui anak kita dua-duanya lelaki. Tapi takdir ternyata memang ingin menyatukan dua keluarga kita."

"Benar. Hihi. Oh ya, kau ingin berapa cucu?"

"Berapa saja! Makin banyak makin baik. Ihihi. Taehyung pasti bisa melahirkan anak-anak yang cantik sepertinya dan tampan seperti ayahnya."

"Tidak. Tidak. Anakku Taehyung tidak akan melahirkan Jin, dia yang akan menanam benih!"

"Astaga Taehyung itu cantik, dan kau pikir anakku Jimin yang kekar itu bisa mengandung?"

"Tentu saja! Lihat saja pantatnya yang bahenol. Dia seksi sepertimu kau tahu?"

"Ah benarkah?"

"Iya, hihi"

Bla bla bla

Bla bla bla bla

Taehyung menutup kuping dari suara samar kedua ibunya yang memaksa merasuki pendengarannya. Padahal ia sudah mengungsi di halaman belakang. Tadi, setelah perdebatan yang berujung pada keputusan tak mengenakkan yang sangat sangat sangat membebani Taehyung, ia segera saja menghindar dari sana. Begitupun Jimin beserta ayahnya. Taehyung menebak mungkin saja ayah Jimin sedikit kecewa menyadari bahwa dirinya tak dapat melihat jodoh Jimin dalam balutan tubuh seorang gadis cantik. Hanya saja ia tak dapat menolak keputusan istri dan sahabat istrinya. Tipikal suami-suami takut istri.

Taehyung berdiri tegak. Menepuk celananya yang kotor akibat sembarang duduk di atas rerumputan lantas menatap sosok di depannya nyalang.

"Ini semua gara-gara kau!" teriaknya tertahan. Menjaga agar suaranya tidak sampai ke telinga dua ibunya. Sosok di hadapan Taehyung hanya terdiam. Bahkan ketika Taehyung menendang kakinya.

"Gara-gara kelakuanmu, sebentar lagi aku akan kehilangan masa depan!" Taehyung semakin brutal menendang sosok itu menggunakan kakinya yang berbalut converse. Tadinya ia memakai sandal rumahan, tapi sengaja ia ganti manakala muncul keniatan menghabisi sosok di depannya.

"Kau mengacaukan segalanya! Aaaarrrghhh!"

Duk

Duk

Dukk

Kedumbranggg

"Hentikan itu Tae, kau hanya membuang waktu dengan menendangi tangga itu. Bahkan sampai kaki besinya patah sekalipun ia takkan menyesal." Jimin berujar malas. Malas jika harus terus mengomentari tingkah alien Taehyung yang tak jarang mengajak bicara benda mati. Menganggap mereka hidup dan mengerti apa yang dikatakannya.

Taehyung melirik Jimin di belakangnya sekilas, kemudian kembali menatapi tangga yang terjatuh di bawah kakinya. Beruntung tangga itu tak menjatuhi tubuh kerempeng Taehyung.

"Tapi ini semua karenanya! Kalau saja dia bisa seimbang, aku tidak akan terjatuh dan menarik kolormu! Lagipula apa-apa'an tonjolan paku yang merobek kaus seharga dua juta won ku itu huh?!" Taehyung mencak-mencak. Aura membunuh masih saja bertahan di sekujur tubuhnya. Matanya melotot sementara jemarinya terkepal. Berani-beraninya ia merusak kaus yang Taehyung dapat dengan susah payah; hasil dari merengek bak bayi pada ayahnya. Jika tangga itu makhluk hidup, memohon ampun sedari tadi adalah pilihan terbaik.

"Sudahlah. Kau mau ikut denganku atau tidak?"

Taehyung menoleh, menaikkan sebelah alis menatapi penampilan Jimin yang rapi. Namun yang membuatnya heran bukanlah itu, melainkan ransel besar yang menggantung di punggungnya.

"Mau kemana?"

"Kabur." Jimin menjawab enteng seraya membenarkan posisi ranselnya lantas berjongkok. Mengikat simpul tali sepatunya agar tak mudah terlepas sebelum kemudian kembali menunggu keputusan Taehyung.

"Apa tidak ada jalan lain?" Taehyung ragu. Ia tak pernah seharipun tinggal jauh dari orangtuanya. Kecuali jika ada kegiatan sekolah tentu saja.

"Ada. Silahkan berpikir. Dan setelah selesai kau akan mendapatiku sebagai suamimu. Memangnya kau mau menjadi istriku?"

"Hell. Aku ini seme bangsat."

Jimin bersedekap. "Ya. Ya. Kalaupun kau uke, aku tidak mau menikahi alien sepertimu."

"Aku pun tak sudi bercinta denganmu sialan."

"Kau mau terus mengumpatiku begitu?"

Taehyung terdiam.

"Ayo pergi. Aku membawa debit milik ayah. Kita harus menarik banyak tunai malam ini sebelum ayah memblokirnya. Tak usah mengambil barang-barangmu. Terlalu lama. Kau bisa memakai apapun milikku. Cepatlah brengsek. Kita harus bergegas."

Taehyung tidak sempat berpikir dua kali ketika Jimin menariknya paksa. Mengendap di belakang dua orang wanita yang tengah bergosip ria dan diam-diam menyogok Holly yang tengah bersantai di ruang tamu dengan snack scooby agar tidak menggonggong.

Akhirnya, Jimin berhasil mengeluarkan skuternya dari bagasi tanpa suara.

"Kenapa tak membawa mobil atau minimal motor sport milikmu Jim? Ini mmm kurang keren."

"Persetan. Mereka bersuara berisik Tae, kita hanya punya ini."

"Oh oke.."

Jimin sudah menaiki motornya. Sementara itu Taehyung tak kunjung duduk di belakangnya juga. Membuat Jimin gemas ingin menendang bokongnya. "Ayo naik, apalagi yang kau tunggu?"

Taehyung melempar tatapan datar. "Ranselmu sial. Ingin ku buang saja rasanya."

"Oh astaga." Jimin terkikik menyadari ranselnya menyita banyak tempat. Kemudian ia membaliknya hingga ransel beralih di depan dada.

Mesin dinyalakan, Taehyung membonceng, dan skuter itu melaju.

Meninggalkan dua pasang mata di balik tirai.

"Aigooo baru diputuskan akan menikah mereka sudah tak sabar rupanya."

"Ahh indahnya bulan madu..."

"Hihi yeoboooo Jimin pasti mengambil debit milikmu kan? Jangan coba-coba memblokirnya!"

Dan selanjutnya, hening. Sebab ayah Jimin telah berada di dunia mimpi semenjak tadi.

.

.

Taehyung pikir, ini sepenuhnya salah Jimin.

Bagaimana bisa pemuda penuh otot itu selalu bersikap sok manja di depannya. Menguntit kemanapun Taehyung pergi dengan alasan hanya Taehyung dan keidiotannya yang dapat membuat moodnya menjadi baik. Sampai sebatas itu, Taehyung tak pernah mempermasalahkannya. Tapi tidak harus menempel bak permen karet kan?

Sementara itu, Jimin berpikir ini sepenuhnya salah Taehyung.

Bagaimana bisa Taehyung seringkali menghilangkan heels ibunya. Memakainya untuk sekedar pamer kehebatan menari menggunakan heels di depan kawan-kawannya dan berakhir lupa membawanya pulang. Ibu yang dimaksud di sini adalah ibu Jimin, Seokjin. Ya, ibu Taehyung, Baekhyun, bukanlah penggemar sepatu hak tinggi berbeda dengan ibunya. Dan karena itu, nyonya Park Seokjin mengira Taehyung acap kali cross dressing. Membayangkan Taehyung dandan layaknya gadis hanya untuk Jimin berhasil membuat pekik gembiranya merusak gendang telinga. Terlebih lagi Taehyung dan kebiasaannya mengajak mandi bersama lebih dari sering terdengar oleh kedua orangtuanya.

Jadi sebenarnya salah siapa ini?

"Ini salahmu."

"Ya, benar. Ini salahmu."

"Maksudku ini salahmu."

"Aku tahu, ini memang salahmu."

Taehyung menggeram jengkel. Menendang-nendang guling yang tadinya berada di pelukan kakinya seakan itu adalah Jimin. Sementara Jimin tengah memainkan ponselnya. Tak sedikitpun memperhatikan tingkah mengamuk Taehyung.

"Sudah berapa hari kita di sini?"

Taehyung merubah posisinya menjadi duduk di kepala ranjang, persis di samping Jimin. "Entah. Seminggu?"

Jimin menggumam. "Apa hanya aku yang merasa bosan di sini?"

"Astaga aku pun bosan Jim, semenjak kabur kita hanya mendekam di sini. Bagaimana mungkin kita tidak merasa bosan?" Taehyung mendesah, kadar kebosanannya meningkat tiap waktu.

"Jika kita keluar hotel, mudah bagi mereka untuk menemukan kita,"

"Jangan beri ide ke luar angkasa Tae, please."

Taehyung mengatupkan mulutnya kembali. Sejenak lupa bahwa Jimin selalu mengetahui apapun yang ada di pikirannya bahkan sebelum kata itu terucap. Padahal, bukankah ide kabur ke luar angkasa itu terdengar keren?

"Aku bosan." celetuk Jimin. "Dan aku rindu."

"Rindu?"

"Hm.. Lihat." Jimin menunjukkan layar ponselnya pada Taehyung. Taehyung nyengir menyadari di sana ada figur seseorang berkolor iron man. Ternyata Jimin sempat mengambil foto Jungkook waktu itu.

"Kirimkan foto itu padaku."

Jimin segera melompat dengan kecepatan cahaya; menjauh dari Taehyung, sejauh mungkin. Tepatnya menjauhkan ponselnya dari jangkauan alien itu. "Tidak. Aku tidak rela Jungkookie ku yang manis dijadikan bahan onani oleh makhluk mesum sepertimu."

Taehyung mencibir, menggumam dua macam seperti; 'kau yang mesum' dan 'seenaknya saja menyertakan kepemilikan di belakang nama Jungkook' lalu kembali meringkuk di bawah selimut. Semoga saja ia mimpi indah malam ini. Dengan si kolor iron man Jungkookie.

.

****
.

Satu bintang.

Dua bintang.

Tiga bintang.

Banyak bintang bermunculan di mata Taehyung yang terpejam. Taehyung memiliki kebiasaan susah tidur, maka dari itu ia perlu membayangkan sesuatu apapun itu dan menghitungnya agar perlahan kesadarannya terambil alih. Dan kali ini, kebetulan Taehyung ingin menghitung bintang.

"Kau tahu Tae.."

Suara Jimin menginterupsi. Membuat Taehyung lupa nominal bintang yang telah terucap dalam hati. Sembari merutuki Jimin, ia menunggu apa gerangan hal yang ingin dibicarakannya malam-malam begini.

"Kau baru saja menghitung seratus lima belas bintang. Tapi bagiku, hanya ada satu bintang di dunia ini.."

Taehyung mencibir dalam hati. Selanjutnya ia memilih menghitung kembali bintang-bintang yang kembali bermunculan di dalam kelopaknya dimulai dari angka seratus enam belas dari pada mendengar rancauan yang keluar dari mulut Jimin. Siapa bisa menjamin jika lelaki itu tengah dalam kondisi sadar saat ini? Bisa saja ia hanya mengigau. Dan Taehyung terlalu malas bahkan hanya untuk membuka mata dan mengecek Jimin di sebelahnya.

"Tahu bintang apa itu?"

Sumpah. Jimin sungguh mengganggu. Bisakah seseorang menyumpal mulutnya sekarang juga?

"Taehyungrus."

A-apa? Apa yang Jimin katakan barusan? Oh Taehyung berharap bisa mengorek kupingnya kali ini. Sayangnya, ia sedang berpura-pura tertidur. Apa Jimin berkata taurus? Bukankah taurus adalah rasi bintang? Bukan nama bintang? Ah entahlah Taehyung bukanlah ahli perbintangan.

"Bukan taurus, tapi Taehyungrus. Kau, Taehyung. Kau adalah satu-satunya bintang.. Di hatiku."

Oh oke, apa ada yang sudi memberi Taehyung minuman? Karena sepertinya ia tersedak.

Ralat. Taehyung sungguhan tersedak. Bukan karena terkejut mendengar gombalan Jimin yang entah bagaimana bisa ditujukan padanya, tapi juga karena dadanya tertekan sesuatu. Ralat lagi, seluruh tubuhnya tertindih sesuatu.

Berat dan hangat.

"Sayangnya, bintangku berwarna tan. Bagaimana jika ku lumuri putih agar bersinar?"

Selanjutnya, Taehyung mendelik.

Jimin memagut bibirnya tanpa terduga.


Big thanks to :

Jieunjilee,/ vanillatae,/ ,/ Mara997,/ iseemoonlight,/ Guest,/ Gijeon,/ koook,/ 012kth,/ ParkceyePark,/ rlaxogud,/ MingyuAin,/ Park RinHyun-Uchiha,/ TaeHyun,/ HunHanLoverz,/ Guest,/ fujo keren,/ Marklee,/ Baby Shin Chimchim,/ Arvhy,/ Arco Iria,/ Chaerinnieee,/ Ohhana30,/ yohanasoherti98,/ Hinter EBrille,/ SIDERS

kalo chap selanjutnya ence, gimana menurut kalian?

ada satu komentar kalian yang bikin saya takjub, sumpah, saya langsung mikir 'waah ini anak cerdas' hihi

yang nanya Jungkook sebagai apa di sini, Jungkook -hanya-lah sebagai karakter yang bertugas meyakinkan pembaca bahwa di sini Jimin dan Taehyung sama-sama seme :v (tapi akan sangat-sangat berperan di sini selain kedua pasang orangtua mereka)

ohyaa ibu-ibuu rempong di atas adalah KimBaekhyun&ParkSeokjin!GS ya

TAPIIII saya bingung sumpah siapa yang cocok jadi suami mereka T.T ada bisa kasih saran?

fyi, ff ini juga ku publish di blog pribadiku, Beyeon Fanfiction. hanya di sana. jika menemukan di tempat lain, mohon beritahu. mari kita sama-sama berantas plagiator.