Jimin menggerutu.
Ngedumel.
Atau apapun itu.
Yang jelas moodnya sedang memburuk sekarang.
Dipandanginya raut tampan tapi menyebalkan yang tengah berada di kamarnya.
Di ranjangnya.
"Hyung." panggilnya kemudian. Yang dipanggil hanya menggumam tanpa sedikitpun terbersit niat membuka matanya.
"Aku sudah mengurus Holly dengan baik. Dan ini balasan dari hyung?"
"Kau merengek?"
Jimin mengusak rambutnya kesal. Jimin itu laki-laki tulen, dan ia tidak suka dikatakan merengek. Tapi mau bagaimana lagi? Merengek adalah satu-satunya senjata yang ia punya jika berhadapan dengan samchonnya. Iya, samchonnya. Samchon yang tidak mau dipanggil samchon. "Hyung tarik perkataan hyung tadi jebaal."
"Kemari."
Jimin menurut saja saat samchonnya menyuruhnya mendekat. Meski lambaian tangan samchonnya sama sekali tidak terarah padanya. Jelas saja, ia melambai sembari masih terpejam.
"Astaga!" Jimin terkejut. Samchonnya menarik lengannya tiba-tiba. Wajah Jimin hampir menubruk wajah samchonnya jika saja telapak tangan besar itu tidak menahannya. "Hmpttt lhephass hyung!" Jimin megap-megap sulit bernapas. Bukan karena telapak tangan itu menutupi hidungnya, tapi karena ada bau menyebalkan di sana. Bau parfum menyengat. Jangan-jangan samchonnya baru saja pulang nyabe. Eh. Samchonnya seme tulen kok.
"Hyung sayang padamu, kau tahu itu kan?"
"Tidak. Hyung jahat."
Samchon Jimin beranjak. Mendudukkan diri dan menepuk pahanya. Jimin yang melihat isyarat itu justru merinding dan duduk sejauh mungkin. Ketimbang duduk di pangkuan paman mesumnya mendingan duduk di lantai saja, begitu pikirnya.
Samchon Jimin tertawa melihatnya. Menggoda Jimin sudah semenjak dulu ia masukkan ke daftar kegiatan menyenangkan. "Coba katakan siapa yang membelikanmu lemari?"
Jimin terdiam.
"Siapa yang membelikanmu ferrari?"
Lagi-lagi Jimin terdiam.
"Siapa yang membelikanmu barbie?"
Jimin melotot. "Jadi yang mengirimiku boneka barbie bulan kemarin itu hyung?!"
"Begitulah." ucapnya bangga. Dengan efek mengibaskan rambut. Kok jadi mirip Holly? Batin Jimin. "Kau kan minta oleh-oleh boneka? Yasudah itu saja."
"Tapi kan itu permintaanku tahun kemarin." Jimin merendahkan suaranya. Padahal yang ia minta bukan boneka barbie. Tapi boneka.. Ah sudahlah. Samchonnya mungkin akan marah-marah. "Lagipula, aku tidak suka perempuan sekarang ini." tambahnya.
"Hyung tahu. Makanya lebih baik kau menikah besok saja dengan Taehyung."
"Hyung!" Jimin melotot. Reflek berdiri menegakkan tubuhnya. "Kan sudah kubilang aku sukanya Jungkookie!"
Plak
"Aduhh."
Sandal kumamon mendarat di kepala Jimin. Tepat mengenai benjolan di sana yang belum mengempis akibat ciuman panci.
"Pergi sana. Persiapkan dirimu untuk pernikahan besok. Keputusan hyung tidak dapat diganggu gugat."
"Yoongi samchon menyebalkan!"
Brak. Jimin keluar tak lupa membanting pintunya demi drama.
"Yahh! Keponakan kurang ajar! Panggil aku hyung!"
Bahkan author pun tidak mengerti entah siapa yang salah sekarang ini.
.
.
.
Pukul sepuluh malam, Taehyung sudah bersiap-siap di balkon rumahnya dengan berbagai macam peralatan tempur.
Ya, kalau sebuah selimut, secangkir kopi susu, dan teropong bisa dikatakan senjata, sih.
Taehyung menyesap kopi susunya hingga menyisakan ampas, lalu menyamankan tubuhnya dalam balutan selimut. Cuaca sedang dingin, tapi akan sayang sekali jika ia melewatkan cuci matanya malam ini.
Omong-omong, Jungkooknya sedang menunggu di depan sana untuk ia intip. Hihi. Lihat saja kamarnya yang terang benderang berbalik dengan gelapnya malam, menimbulkan bayang-bayang di gorden kamarnya.
Taehyung baru saja menempelkan teropongnya di kisaran mata ketika pintu kamarnya digedor secara brutal.
"Tae buka!"
Jimin. Taehyung mendengus. Jika tidak ingat Jimin sobat terbaiknya mungkin saja Taehyung akan dengan senang hati membukakan pintu lalu menyeret Jimin ke balkon untuk ia lempar ke bawah sana.
Sadis memang pikiran Taehyung.
"Hoaaamm aku mengantuk Jim, main besok saja ya!" Taehyung menaikkan selimutnya, berlagak menguap yang sedetik kemudian ia sesali karena nyamuk luar ruangan ternyata lebih mesum dari perkiraan. Terbukti dengan niatnya menghisap lidah Taehyung.
"Buka sekarang! Besok kau akan menjadi istriku bodoh."
Hah? Apa katanya barusan?
Lima menit sudah terlewat. Tapi otak Taehyung yang terlanjur terisi Jungkook yang kemungkinan sedang meliuk-liuk berganti piyama di kamarnya tidak bisa berpikir hal lain lagi.
Bahkan sampai akhirnya Jimin sudah berdiri di hadapannya dengan napas terengah.
Pintu kamar Taehyung tidak dikunci, ternyata.
Plakk
"Aduh!" Taehyung mengusap kepalanya. Meski mungil begitu, kekuatan tangan Jimin tidak main-main. Bak kekuatan sepuluh tangan. Taehyung seketika jadi teringat iklan deterjen.
"Lambat sekali sih, ayo pikirkan solusi."
Satu detik, dua detik, tiga detik. Taehyung berkedip. "Hah? Solusi apa?"
"Kita akan dinikahkan besok, Tae. Jangan sampai aku memukul kepalamu dua kali."
"APA?!" Taehyung reflek melindungi kepalanya. "Bisa jelaskan sekali lagi?"
Jimin menutup matanya lalu menarik napas dalam. Taehyung memang idiot sedari dulu, seharusnya Jimin tahu.
"Ayo ikut."
Dan Taehyung hanya pasrah saat choker panjangnya ditarik bak peliharaan.
Untungnya,
Taehyung tidak bisa menggonggong.
.
.
"Besok?" Baekhyun menganga. Antara tidak percaya dan membutuhkan banyak udara. Ia kemudian melirik Namjoon yang merangkulnya posesif lalu mendelik. Terlalu mencekik, bodoh. Inginnya sih mengomeli Namjoon yang masih sempat-sempatnya merasa cemburu padahal sudah jelas sekali jika Chanyeol selaku mantan kekasih Baekhyun telah beristri.
"Ya. Untuk persiapannya, serahkan saja pada Yoongi. Kau sudah menghubungi teman-temanmu kan Yoon?" Seokjin bertanya. Chanyeol yang seperti menyadari aura gelap Namjoon memutuskan menyambar jemari Seokjin dan memainkannya. Pamer kemesraan sedikit boleh kan ya? Hihi.
"Ya. Kalian tidak perlu khawatir. Semua aku yang urus."
Namjoon menghembuskan napas lega. Nyengir sebentar ke arah Baekhyun yang tengah berapi-api lantas memutuskan melonggarkan rangkulannya dan bersikap normal.
Jika mengelus paha sang istri bisa dikatakan normal, sih.
Namjoon berdehem. "Tapi apa ini tidak terlalu merepotkan? Maksudku kami dari pihak Taehyung apakah tidak ada yang harus kami lakukan?"
"Kalian berdua cukup pastikan Taehyung siap tepat waktu saja. Kami juga begitu. Biar semua persiapan pernikahan Jimin dan Taehyung, adikku Yoongi yang urus." ucap Chanyeol final.
Selanjutnya, percakapan mereka bak angin yang berlalu melewati kedua anak manusia yang bersembunyi di balik dinding pemisah. Taehyung melemas, hampir terjatuh jika Jimin tidak siaga menopang tubuhnya. Apa-apaan ini? Baru saja semalam Taehyung bermimpi memasuki Jimin, dan besok ia akan menikah dengannya?
Taehyung melirik ke arah Jimin. Wajah keduanya begitu dekat, tapi Taehyung tidak perduli.
"Jim."
"Hm."
"Apa akhirnya aku benar akan memasukimu?"
"Hah?"
.
.
Taehyung tidak bisa menemukan solusi. Meski idiot dan berkepribadian bak alien, Tarhyung tak pernah sekalipun membantah kedua orangtuanya. Jadi begitu Namjoon dan Baekhyun memberi tahu perihal pernikahannya dengan Jimin, Taehyung mengiyakan saja. Dan Jimin? Tentu saja tidak ada pilihan lain jika sang ayah sudah mengancam menyoretnya dari daftar penerus perusahaan.
Saat ini keduanya sudah rapi. Baik Jimin maupun Taehyung telah didandani mengenakan setelan tuksedo warna putih. Sampai di situ semuanya berjalan lancar. Hingga keributan mulai terjadi saat penentuan siapa yang akan menunggu di altar.
"Yahh kenapa harus Jimin?"
"Sudah jelas itu karena aku terlihat lebih manly daripada kau."
"Tidak bisa!" Taehyung mencak-mencak. "Yoongi hyung ini bagaimana sih? Kenapa pilih kasih sekali?"
Yoongi menyunggingkan senyum penuh arti, lalu merangkul bahu Tarhyung akrab. "Biarkan dia menunggumu Tae, bukankah itu jadi terkesan Jiminlah yang mengharapkan pernikahan ini cepat terjadi?"
Taehyung berpikir sejenak. Jimin hampir saja menyemburkan protes, tapi mata Yoongi yang menatapnya tajam mengurungkannya.
"Oke, tapi belikan aku banyak makanan setelah ini, bagaimana hyung?"
"Call."
Taehyung memekik heboh. Taehyung hanya lupa bahwa Yoongi adalah makhluk licik sejagat raya. Maksudku, begini, setiap hajatan pasti banyak makanan kan?
"Kalian ini lama sekali. Ayo. Para tamu sudah menung-ASTAGA TAEHYUNG KAU TAMPAN SEKALI!" mata Seokjin berbinar-binar layaknya kasmaran. Tak bisa menahan pergerakan jemarinya untuk tidak menyentuh dada Taehyung dengan senonoh. Entah apa jadinya jika Chanyeol berada di sampingnya sekarang ini. Bisa jadi pernikahan mereka batal karena tentu saja Chanyeol tidak mau bersaing dengan menantunya sendiri.
"Ehem hem hhem uhukk." Yoongi keselek biji durian. Niatnya menggasak satu butir durian secara diam-diam pupus sudah. Seokjin mendelik memperingati Yoongi sementara Yoongi sendiri hanya meringis idiot. Padahal Seokjin mendelik karena terkejut kepergok jiwa mudanya meledak-ledak terpesona ketampanan Taehyung.
Seokjin melirik makhluk yang berada di sebelah Taehyung. "Kau. Kau anak ibu kan?"
Jimin memutar bola matanya. Tak berniat menjawab pertanyaan ibunya yang memang tidak penting.
"Serius, kau anak ibu?" Seokjin mengguncang bahu Jimin dengan tidak berperikemanusiaan. "Kenapa ibu baru sadar kalau kau ini cantik sekali?"
Yoongi menyemburkan air putih yang nyaris melewati tenggorokannya. Taehyung terbahak. Sementara Jimin speechless.
Dan keputusannya pagi itu berakhir dengan Taehyung menunggu di altar dan Jimin membawa rangkaian bunga.
.
.
Oke, ini salahku.
Nekat mengetik kelanjutan padahal aku sedang kehilangan selera humor. Rasanya labil, kadang pengen marah kadang pengen nangis. Seringnya sih pengan gulat bareng Hosiki.
Soal jenis kelamin mayon, biarlah itu menjadi rahasia ilahi *bhak
Maaf lama, semester akhir benar-benar mencekikku, membunuhku, untungnya aku bisa bangkit lagi /?/
Chap depan kuusahakan lebih panjang lagi, kalo ada yang masih mau menungguku sih hehe
Akhir kata,
Big Thanks To :
Reviewer / fav+follow
p.s: ff ini juga ku post di blog pribadiku, beyeon fanfiction
p.s.s: mau nenggelemin diri lagi di rawa tugas /?/ doakan saya selamat.
p.s.s.s: ff ini baru kelar beberapa menit yang lalu, no editing. Bener-bener mburu waktu, saya cuma punya kuota pagi soalnya /?/
BERMINAT REVIEW LAGI? ^^
