Desclaimer : seluruh cast milik dirinya masing-masing, walau Jonghyun, Daniel punya gue haha
Cast : wanna one member dan trainee pd 101, specialy justice league team
Pairing : Ongniel, Nielwink
Warning : YAOI/BXB/GS for Park Jihoon
rate : T untuk sekarang
jika tidak suka Yaoi silahkan tekan tombol close karena saya tidak menerima kata-kata kasar mengenai YAOI
.
.
.
Never x Ongniel
.
.
.
Ternyata berada di asrama tidak seburuk perkiraan Daniel, teman-temannya sangat baik dan dengan sangat mudah berbaur dengannya. Baru dua minggu Daniel disana ia sudah sangat akrab dengan kelima teman sekamarnya terutama Seongwoo yang berisik. Seongwoo juga yang pertama kali mengenalkan seisi asrama padanya, bahkan berada di kelas yang sama dengan Daniel. Saat ditanya kenapa ia baik pada Daniel Seongwoo bilang karena Daniel mengingatkannya pada anak anjingnya yang sudah mati, dasar kurang ajar.
Teman-teman sekamarnya yang lain juga tidak kalah baik apa lagi Jonghyun yang mendapat gelar malaikat dari satu asrama, ia biasa menolong Daniel dalam keadaan apapun. Minhyun juga mendapat gelar malaikat namun bedanya dia malaikat maut alias Jeosong Saja yang membantai setiap anak asrama yang melanggar peraturan, selalu ribut soal kebersihan kamar terlihat sangat dingin dan pendiam jika bersama orang lain tapi sangat ramah dan berisik pada orang-orang terdekatnya. Jaehwan si psiko yang mengajarkan Daniel banyak hal untuk melawan Hwang Minhyun tapi selalu takut jika Minhyun memarahinya, kalau tertawa sangat berisik tapi kemampuan bermusiknya tidak main-main. Kalau Hyunbin adalah maknae bongsor yang selalu punya makanan di lemarinya untuk dibagi, menunjukkan Daniel rute-rute tercepat untuk keluar asrama dengan harapan bisa di kenalkan pada gadis-gadis kaya di kelas reguler.
Berita Kang Daniel pindah ke asrama menjadi pembicaraan satu sekolahan, tak hanya anak kelas reguler saja yang penasaran kenapa pemuda itu pindah, anak-anak asrama juga membicarakannya. Tidak ada yang tahu pasti kenapa Daniel pindah ke asrama yang nyatanya punya segudang peraturan yang menyiksa. Gosip terus saja berkembang membuat Daniel yang sekarang lebih sering bersama teman sekamarnya kerap menjadi perhatian dimanapun mereka berada.
"Ya Niel-ah sebenarnya kenapa kau pindah?" celetuk Seongwoo suatu hari saat mereka sedang duduk di ruang utama asrama.
"Aku juga penasaran, kau membuat kami semua jadi perhatian satu sekolah." Jaehwan menyahut sementara Daniel meringis karena merasa tidak enak pada teman-temannya.
"Hehe." Jawabnya sambil nyengir tidak memberikan kejelasan apapun, begitu seterusnya sampai teman-temannya bosan dan berhenti bertanya.
Hari ini Seongwoo dan Minhyun sedang menyelesaikan esai untuk pelajaran sejarah Seo-saem, dua orang itu memilih mendekam di perpustakaan. Seongwoo sebenarnya sangat malas tapi mau bagaimana lagi ia tidak ingin nilainya turun dan ikut pelajaran tambahan lagi.
"Kapan Seo-saem akan berhenti memberi tugas esai, aku sudah bosan selalu mengerjakan esai tiap minggu." Seongwoo mengeluh untuk yang kesekian kalinya. Minhyun yang ada disebelahnya hanya tetap menulis tanpa memperdulikan keluhan Seongwoo.
"Jika kau terus mengeluh maka kita akan berada disini sepanjang hari." Tegas Minhyun lalu menutup bukunya tanda tugasnya beres.
"Kau sudah selesai? Boleh aku pinjam tugasmu?"
"Kerjakan sendiri." Minhyun mengambil buku baru dan mulai mengerjakan yang lain sementara Seongwoo berusaha sekuat tenaga melawan kemalasannya.
"Kudengar Kang Daniel pindah keasrama." Seongwoo dan Minhyun menegakkan kepala mereka dan mendapati sekelompok siswa yang tengah duduk melingkar di depan mereka, lagi-lagi menggosipkan Kang Daniel.
"Kira-kira kenapa dia bisa pindah keasrama? seingatku ayahnya tidak terlalu miskin dan rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah." Salah seorang dari mereka berpendapat, Seongwoo sebenarnya ingin sekali menyumpal mulut mereka tapi mengingat ada Minhyun disebelahnya dia hanya diam.
"Paling karena pendisiplinan, kudengar dia payah dalam berbagai mata pelajaran. Aku bertemu dengannya hampir diseluruh kelas perbaikan. Etikanya juga tidak terlalu bagus." Balas yang lain.
"Bukan, banyak yang bilang jika keluarganya bermasalah, dia punya masalah dengan ayahnya. Kau ingatkan terakhir kali dia tidak membawa siapapun kepertemuan orang tua? Hyunmin juga bilang dia melihat Kang Daniel bersama seorang wanita lebih tua di dekat bar, ku rasa dia kabur dari rumah."
"Apapun itu yang jelas dia memang pantas bersama anak-anak gedung utara. Aku masih ingat dia mempermalukan kelas reguler dengan rambut pink norak itu, satu sekolah menyaksikan Lee-saem menggunduli kepalanya. Setidaknya dia bergabung bersama orang-orang yang sama dengannya." Salah satu diantara mereka, yang Seongwoo duga sebagai ketuanya bicara dengan wajah super menyebalkan. Memang apa salahnya menjadi anak asrama? Toh setidaknya mereka menghasilkan banyak prestasi di bading anak-anak gedung barat itu. Kalau saja Minhyun tidak ada disini pasti anak-anak itu sudah habis ditangan Seongwoo.
Di sekolah ini jika kau menghuni asrama maka hanya ada dua pilihan, satu kau anak-anak beasiswa berotak encer yang seperti anjing sekolah menjadi pencetak prestasi atau pesuruh para guru, atau berandal yang perlu didisiplinkan, peraih nilai terbawah yang menjadi sampah kelas reguler. Asrama mereka menerapkan peraturan yang sangat ketat untuk memastikan seluruh anak-anak beradal dapat menjadi lebih baik dan anak-anak beasiswa tetap mencetak prestasi atas nama sekolah mereka.
BRAK! Suara itu mengagetkan satu perpustakaan termasuk Seongwoo dan anak-anak biang gosip didepan mereka, Hwang Minhyun menghempas sebuah buku sejarah Korea beribu-ribu halaman ke meja kayu.
"Hah sejak kapan perpustakaan ini dihuni orang-orang tidak berotak?" ucapnya dingin.
" kalau kalian merasa lebih baik dari pada Kang Daniel jangan bersikap pengecut dan bebicara di belakangnya. Dasar memuakkan setidaknya anak-anak asrama lebih berotak dari pada kalian." Ia melempar tatapan dinginnya pada anak-anak itu lalu bangkit dan berlalu pergi. Seongwoo yang melihat kepergian Minhyun mendekatkan dirinya kemeja para penggosip itu.
"Yak, kalau kalian berani membicarakan Kang Daniel seperti itu lagi bersiap-siap saja bertemu denganku di gudang belakang, kudengar Hyunbin dan Jaehwan juga bosan akhir-akhir ini atau kusuruh kau berhadapan dengan Niel saja, dia juga tidak buruk." Seongwoo menyeringai pada mereka semua.
Siapa yang tidak kenal Ong Seongwoo, Kwon Hyunbin dan si psiko Kim Jaehwan mereka itu seperti legenda sekolah selalu senang menghajar anak-anak di gudang belakang , sekarang di tambah Kang Daniel yang bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan tubuh kekarnya. Seongwoo memungut buku-bukunya lalu berlalu meninggalkan anak-anak yang pucat pasi.
Kalau biasanya penghuni asrama menyebut Hwang Minhyun sebagai Jeosong saja alias malaikat maut maka Seongwoo, Jaehwan dan Hyunbin adalah penjaga neraka, ketiganya menjadi penghuni asrama karena melanggar berbagai peraturan sekolah. Seongwoo adalah peraih peringkat terakhir di ujian masuk , Jaehwan si psiko yang memulai penyiksaan di gudang belakang sekolah, dan Hyunbin anak tahun pertama yang kedapatan merokok dan melanggar selusin aturan sekolah hanya dalam sebulan ia bersekolah. Mereka bertiga memang menjadi lebih tenang akhir-akhir ini, selain karena peraturan asrama yang memang ketat berada satu kamar dengan Hwang Minhyun dan Kim Jonghyun menjadi obat tersendiri bagi mereka.
.
.
.
Daniel merendam kakinya di air kolam yang tenang tangan kanannya memegang handphone berbicara pada seseorang di seberang sambungan. Ia sekarang berada di kolam renang indoor milik sekolah yang sedang tidak dipakai, pemuda itu merasa bosan diikuti oleh gosip yang terus berkembang karena kepindahannya.
"Kau sudah makan?" seseorang di sebrang berbicara.
"Ne abeoji, lagi pula sekarang sudah jam makan siang." Balas Daniel datar ia berbohong, sejak tadi ia belum makan apapun tapi jika Daniel jujur ayahnya mungkin akan khawatir.
"oh, apa semuanya baik-baik saja?" ayahnya berkata lagi Daniel dapat mendengar suara pria itu bergetar terlihat ragu-ragu menanyakan kabarnya.
"Ye, semuanya baik-baik saja. Apa disana baik?"
"Hum, semuanya baik, aku dan ibumu baik Woojinie juga baik dia terus merindukan Niel-hyungnya." Kata ayahnya, Daniel menghela nafasnya ia juga merindukan adik kecilnya.
"Dia bilang ingin bertemu denganmu kapan kau akan pulang?"
"Aku belum bisa memastikannya abeoji." Daniel memperhatikan bayangan dirinya yang terpantul di air yang jernih, ayahnya di sebrang tidak berkata apa-apa mungkin merasa kecewa karena Daniel lagi-lagi menolak untuk pulang.
"Niel-ah bisakah kita melupakan semuanya dan memulai segalanya dari awal?" suara berat laki-laki paruh baya itu terdengar lirih, Daniel tidak pernah tahu ayahnya bisa selunak ini. Daniel hanya kenal ayahnya silelaki busan yang jarang bersikap halus. Daniel tidak menyahut dan terus memainkan air kolam.
"Niel-ah apa yang kau lakukan disana?" Daniel mendengar suara Seongwoo memanggilnya dari ujung kolam, ia bisa melihat Seongwoo yang berjalan kearahnya dan Jonghyun yang berdiri di pintu sembari melambai.
"Abeoji teman-temanku sudah datang, aku akan menelfonmu lagi nanti." Katanya pada sang ayah terburu-buru ingin menutup telfon.
"Niel-ah.." ayahnya memanggil daniel tepat sebelum telfon ditutup
"Ye abeoji?"
"Jangan lupa minum obatmu... mianhada karena membuat semuanya serumit ini." Sambungannya tertutup dan Daniel terperangah mendengar ayahnya.
"Ya siapa yang menlfonmu, pacar?" seongwoo menyadarkan Daniel dari keterkejutannya, ia menggeleng lalu mengajak Seongwoo berjalan beriringan dengannya.
"bukan, abeoji." Lalu dia tersenyum pada Seongwoo, senyum yang sama yang dia berikan saat pertama kali sampai di asrama mereka.
"kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Seongwoo
"Ye?"
"Kau tersenyum tapi terlihat tidak ikhlas." Jawab Seongwoo dan Daniel tertawa
"Aku memang biasa tersenyum seperti ini, ada apa denganmu tiba-tiba membahas senyum ku? Suka eoh?" Kata Daniel "Tidak.. tidak ada orang normal yang tersenyum seperti caramu tersenyum, caramu tersenyum sangat aneh." Seongwoo ingin mengatakannya tapi lebih memilih diam tak ingin menyinggung Daniel
"Mimpi saja sana aku masih normal." Seongwoo meninju lengan Daniel dan mereka menyusul Jonghyun untuk pergi kekantin.
.
.
.
Saat ketiganya sampai dikantin Minhyun sudah memilih tempat duduk untuk mereka semua, Jaehwan terlihat memainkan gitarnya sama sekali tidak peduli dengan orang-orang yang memandangnnya sebal, sedang Hyunbin tertidur dibahu Minhyun. Daniel mengambil tempat duduk disebelah Jaehwan diikuti Jonghyun, dan Seongwoo berakhir di sebelah kiri Minhyun. Kantin mungkin satu-satunya tempat dimana kelas asrama dan kelas reguler bertemu dalam waktu yang sama,berbeda dengan gedung dan kelas yang berbeda kantin mereka adalah kantin campuran, kelas asrama dan kelas reguler di gabung. Sesekali mereka yang masih penasaran dengan kepindahan Daniel melirik dengan pandangan penuh tanya yang membuat Jaehwan sebal.
"Niel-ah suruh mereka berhenti menatap kemari aku bosan terus diperhatikan. Kau yang bereskan atau aku yang turun tangan." Ucap Jaehwan sambil memainkan gitarnya, Daniel hanya mengangkat bahu tanda tak perduli dan berjalan mengambil makanan mereka.
"Mereka tidak memperhatikamu Kim Jaehwan jadi tolong tutup mulutmu aku sedang tidur." Hyunbin menyambar.
"Kau melupakan sunbaenimnya lagi, mau berakhir di gudang belakang eoh?" Jaehwan mengancam dan Hyunbin mencibir tanda tidak takut sama sekali.
"Sekali lagi kau bawa-bawa gudang sialan itu ku pastikan kalian berdua tamat. Merusak citra asrama berarti detensi selama sebulan." Minhyun menyambung diangguki Jonghyun yang dari tadi hanya diam.
"Dari pada kalian membuang-buang waktu lebih baik pikirkan ujian minggu depan." Ujar Jonghyun diiringi erangan Seongwoo, Jaehwan dan Hyunbin. Ujian memang selalu menyebalkan bagi mereka semua atau mungkin tidak bagi Minhyun si rengking pertama dan Jonghyun yang secara misterius selalu mengekori Minhyun di posisi kedua walau jarang belajar.
" Bisa kau berhenti membahasnya baru tadi pagi aku ingin pura-pura amnesia." Kata Seongwoo sambil membaringkan kepalanya di atas meja.
"Ada apa dengannya?" Daniel datang dengan pesanan mereka menunjuk Seongwoo yang lesu.
"Jonghyun membahas ujian minggu depan." Jawab Minhyun santai, Daniel langsung paham Seongwoo memang di kenal sangat benci yang namanya ujian.
"Oh ujian itu." Kata Daniel santai sambil menyesap minumannya.
"Ya santai sekali kau, ku dengar kau juga tidak terlalu bagus." Ucap Seongwoo sakartis diiringi dengusan Daniel.
"Setidaknya tidak separahmu." Ujarnya datar
"Memangnya kemarin kau posisi berapa? Kudengar Seongwoo rengking dua ratus delapan puluh empat. " Seongwoo mengupat karena Minhyun membongkar aibnya, yah setidaknya rengkingnya naik enam belas peringkat.
"dua ratus delapan puluh." Balas Daniel santai dan berakhir di keroyok teman-temannya karena satu lagi makhluk sejenis Seongwoo bergabung dengan mereka.
"Setidaknya aku empat peringkat di atas Seongwoo." Ujar Daniel sambil membenarkan rambutnya yang di acak-acak anak-anak justice league.
"Empat angka yang tidak terlalu berarti, kau harus sekelas Minhyun baru boleh meremehkanku." Balas Seongwoo lalu mencuri makanan Daniel.
"280 atau 284 yang jelas kalian sama-sama bodoh." Ujar Minhyun menengahi, Seongwoo dan Daniel hanya tertawa Minhyun memang sering memanggil Seongwoo bodoh dan mulai sekarang Daniel juga akan dapat perlakuan sama.
"Sombong sekali, aku membencimu Hwang Minhyun." Seongwoo pura-pura merajuk membuat kelima temannya memasang tampang jijik. Daniel yang berada di dekatnya langsung memiting leher pemuda Ong itu.
"Kau pikir kau imut, berhentilah Ong atau ku lempar kau dengan ini." Minhyun menunjuk nampan makanannya sambil memperingatkan Seongwoo, ia kembali keposisinya semula dan menghilangkan aegyo murahan yang tidak cocok dengan tampangnya itu.
"Seo.. Seongwoo oppa." Suara kecil itu menyedot perhatian kelima pemuda yang masih tertawa karena Daniel terus saja menyiksa Seongwoo. Di sana berdiri seorang gadis tingkat satu sambil membawa sebuah tas, ia terlihat gugup berada diantara mereka. Daniel melepaskan Seongwoo lalu pemuda Ong itu menyapa si gadis.
"Oh Jihoonie ada apa?" Sapanya ramah, ia tersenyum pada si gadis yang terlihat tidak nyaman.
"Ahjumma menitipkan ini padaku, dia juga memintamu pulang minggu ini." Jawab Jihoon gugup, matanya bergantian melirik Seongwoo, teman-temannya dan lantai.
"Oh gomawo Jihoon-ah, sampaikan salamku pada eomma dan keluargamu ." Seongwoo menerima tas yang di berikan Jihoon padanya. Jihoon mengangguk dan bersiap meninggalkan Seongwoo sebelum tetangganya itu menahan Jihoon.
" Kau sudah makan, ingin kupesankan sesuatu?" tanya Seongwoo dia memang sudah menganggap Jihoon seperti adiknya sendiri, mereka tumbuh di lingkungan yang sama dan keluarga keduanya akrab.
"Aku makan dengan teman-teman saja." Gadis manis itu berlalu pergi meninggalkan Seongwoo dengan terburu-buru bahkan terjatuh karena menyenggol Daniel yang ikut berdiri untuk memesan makanan lagi. Daniel mengulurkan tangannya pada Jihoon membantu hoobaenya itu untuk bangun, Jihoon dengan sedikit gugup menerima uluran tangan Daniel dan benar-benar berlalu dari sana.
"Ada apa dengannya tangannya dingin sekali kenapa dia setakut itu padaku? Seongwoo-ya apa aku terlihat menyeramkan?" tanya Daniel pada Seongwoo yang sedang meminum minuman Minhyun.
"Tentu saja siapa yang tidak takut padamu? kau itu berbadan besar Jihoon pasti takut karena kau terlihat seperti beruang." Jawab Seongwoo asal,Daniel berlalu meninggalkan sibodoh Ong Seongwoo sambil mengupat. Sebenarnya ia juga merasa heran, Jihoon terlihat pucat dan ketakutan seperti bukan Jihoon yang dia kenal. Tetangga Seongwoo itu adalah gadis cantik yang ceria dan percaya diri sama sekali jauh dari sikap pemalu dan gugup. "Mungkin Jihoon sedang sakit." Pikir Seongwoo dalam hati dan kembali memakan mananannya.
Daniel berdiri diujung antrian ketika seorang anak tingkat satu menghampirinya. Anak itu terlihat kecil dan sangat gugup berhadapan dengan Daniel, sebenarnya gosip apa yang sudah menyebar hingga anak-anak tingkat satu menjadi sangat takut padanya?
"Sun.. sunbae ada yang mencarimu di depan." Suara anak itu bergetar setengah takut menatap Daniel.
"Oh siapa?" tanya Daniel, anak itu terlihat sangat takut jadi Daniel menenangkannya "Ya tidak perlu takut aku tidak menggit." Ia tertawa dan memberikan tatapan penuh canda.
"Tidak tahu hanya seorang wanita dan seorang pria bernama Noh Taehyun yang bilang ingin bertemu dengan sunbae." Anak itu tambah ketakutan setelah melihat rahang Daniel yang mengeras, tatapan halus yang tadi dia berikan menghilang dengan sekejap. Buru-buru Daniel merubah raut wajahnya saat melihat si anak kelas satu.
"Gomawo Sihyun-ah." daniel melirik name tag nya lalu berlari meniggalkan Sihyun yang masih terlihat gugup. Pemuda itu terlihat sangat terburu-buru rahangnya kembali mengeras pertanda semuanya tidak baik-baik saja.
.
.
.
Sudah hampir lima belas menit Daniel menghilang tanpa memberi kabar pada teman-temannya, ia juga melupakan dompet dan handphonenya yang kini diamankan Jonghyun. karena pealajaran selanjutnya akan dimulai Seongwoo atas perintah Minhyun memilih menysul Daniel yang diketahui berada didepan sekolah.
Seongwoo menemukan Daniel tengah berbicara dengan seorang wanita dan seorang pria, sepertinya mendebatkan sesuatu karena Daniel terlihat sedikit kacau. Seongwoo bertahan di tempatnya dia tidak berani mendekat, ketiga orang itu terlihat sangat serius membahas sesuatu yang bukan urusan Seongwoo. Pemuda Ong itu duduk di sebuah batu sambil memperhatikan Daniel yang seperti ingin memukul pria yang berada disebelah si wanita, Kang Daniel yang marah ternyata lumayan mengerikan pikir Seongwoo.
seongwoo duduk di batu itu hampir lima belas menit lamanya sebelum ia menemukan Daniel yang berlalu diiringi teriakan sang wanita yang memanggil namanya. Seongwoo berlari menyusul Daniel dan berhasil menyamai langkahnya.
"Mau kemana kau?" tanyanya sambil menggenggam pergelangan tangan Kang Daniel, amarah sama sekali belum surut dari wajah Daniel yang biasanya terlihat ramah.
"Lepaskan." bisik Daniel penuh ancaman, tapi bukan Seongwoo namanya jika menyerah dengan mudah, Seongwoo mengulangi pertanyaanya lagi.
"Aku bertanya mau kemana kau?"
"Bukan urusanmu Ong Seongwoo jadi lepaskan aku." jawab Daniel marah.
"Urusanku karena barang-barangmu ada bersamaku. Jawab aku kang Daniel kemana kau akan pergi kau terlihat tidak baik-baik sana" Seongwoo berkata tajam sama sekali tidak takut dengan kemarahan Daniel.
" jangan perdulikan aku." Daniel menyentak tangan Seongwoo keras lalu berlalu meninggalkan pemuda Ong itu.
"Tapi aku ingin peduli." balas Seongwoo
"Jangan pedulikan aku, ini semua tidak ada urusannya denganmu." bisik Daniel sebelum benar-benar meninggalkan Seongwoo.
Seongwoo memandang punggung lebar Daniel yang semakin menjauh merasa heran namun sama sekali tidak berniat menyusul teman sekamarnya itu. Ada yang tidak beres dengan Kang Daniel dan itu berkaitan dengan perdebatannya dengan wanita dan pria di depan gerbang sekolah tadi. Seongwoo berbalik dan kembali menuju kantin ia memutuskan untuk tidak bercerita pada yang lain, ini masalah Daniel jadi ia akan menunggu Daniel sendiri yang menceritakannya pada mereka semua. Sejak awal Seongwoo memang merasa aneh dengan Daniel apa lagi dengan senyumannya, Kang Daniel apa yang sebenarnya kau simpan dari kami semua? ia bertanya dalam hati, sekali lagi menengok kearah punggung Daniel sebelum benar-benar berlalu pergi.
.
.
.
TBC
.
.
.
hai gue balik lagi dengan chap dua, terima kasih buat yang udah review dan gue mohon maaf jika memang masih banyak typo dan kesalahan di ff ini gue bakal berusaha meminimalisir ini kedepannya gaes. Well karena gue udah janji kalo ff ini bakal ngikut mayoritas dan banyak yang pingin Top!Daniel maka selamat gaes Ff ini fix Top!Daniel dan Bot!Ong. buat temen-temen yang udah milih Bot!Daniel makasih dan maaf ya gaes, mungkin suatu hari gue dapet ilham buat bikin ff ongnie dengan Bot!Daniel tapi yang pasti bukan sekarang. Jihoon muncul di chapter ini tapi offcial kemunculannya bakal ada di chapter depan. jangan lupa review lagi see you...
