Well halo kembali yang disana #gatau buat siapa xD
Setelah update chap pertama, kini chap kedua pun hadir. Yah, menurutku malah tambah jelek dari pada chap yang kemarin-kemarin, tapi untuk chap tiga, kuharap bisa kuperbaikin kesalahan-kesalahan di chap sebelumnya :D
Hikari Uchiwa : Iya, ini aku, AKM XD. Gomen Dx ada alasan tersendiri mengapa aku tak mau memberitahukannya pada dikau xp
Miyoko Kimimori : Hehe, di chap ini emang ada. Tapi, kalau suka ya. Aku ga berani bikin story bergenre romance, ga sanggup Dx thx for the review :D
Happy Reading and Be Fun :D
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : Karena cinta itu tak perlu sebuah paksaan, melainkan ketulusan. Karena cinta itu… berdasarkan hati, bukan logika. Karena cinta itu… akan selalu bersama, selamanya.
=3=
CHAPTER 2
Ketika sore datang, Sakura dan Tenten saling bercakap di dalam kamar Tenten. Bahkan, mereka saling tergelak bersama. Yang mereka bicarakan cukup banyak. Orang tua mereka, hobi mereka, dan aib lucu mereka. Tak segan-segan mereka saling mengejek, meski itu hanya sebagai bahan candaan.
Yah, memang tak pernah ada kejanggalan terhadap persahabatan mereka.
Dari balik pintu kamar Tenten yang terbuka sedikit, seorang lelaki berambut biru kehitam-hitaman menatap mereka dengan tatapan bahagia. Seulas senyum terkembang di bibirnya.
Mereka akrab sekali, pantas saja kemarin-kemarin selalu bersama. Enak juga sih, jika punya sahabat seperti mereka. Tahan lama…
"Niisan mengintip apa?"
Sasuke menoleh, didapatinya seorang gadis kecil bermata lavender yang memandangnya marah. Sepertinya, ia berpikir tidak-tidak tentang Sasuke. "Eh, aku nggak ngapa-ngapain kok. Cuma ngeliat mereka lagi ngobrol."
Gadis kecil bernama Hanabi itu menatap Tenten dan Sakura yang sedang mengobrol bersama, kemudian tersenyum.
"Oh, mereka. Tenten-nee sama Sakura-nee memang selalu bersahabat sejak kecil, bahkan jika bertengkar pun sebatas beberapa jam saja, habis itu berbaikan. Hanabi suka sama persahabatan mereka, persahabatan mereka udah kayak kakak-adik."
"Ooooo…"
Hum, contoh persahabatan yang baik…
Sasuke kemudian berlalu meninggalkan kedua gadis di kamar Tenten itu.
OaOaOa
"Hm, kurasa keadaanmu mulai pulih. Aku mau antar piring kotor ini dulu ya," kata Sakura, lalu meninggalkan Tenten.
"Iya. Oh, Sasuke mana?" tanya Tenten. Sakura berpikir sebentar, kemudian menggeleng. "Sejak tadi, ia menghilang. Kurasa sedang menyendiri."
Sakura kemudian berlalu meninggalkan Tenten. Ia kaget ketika Sasuke langsung masuk tanpa permisi, dan tubuh mereka pun saling bertabrakan, seperti saling berpelukan.
"OH! SASUKE!"
Sakura dan Sasuke terdiam, ketika tubuh mereka saling bersatu dan saling berpelukan meski secara tak sengaja. Seketika, wajah Sakura sudah seperti kepiting rebus. Romantis? Memang, tapi kenapa harus di hadapan Tenten? Tentu kalian tahu apa perasaan Tenten melihat keduanya saling berdekatan walaupun tanpa sengaja, kan?
Keduanya blushing, kemudian segera menghindar secara bersamaan. Melihat itu, hati Tenten sedikit berdenyut. Bisa dikatakan, ia sedikit cemburu dengan posisi Sakura dan Sasuke tadi saat bertabrakan. Ibarat mereka sedang berpelukan saja.
"Ada apa kau kesini?"
Sasuke menatap Tenten, kemudian garuk-garuk kepala tak jelas.
"Maaf, tadi Nenek Chiyo menyuruhku mengantarkan piring kotor dari kamarmu. Nyatanya, ia mau mengantarnya."
Tenten ber'oh' ria. Ketika melihat wajah murung Tenten, Sakura langsung mendorong Sasuke ke bangku tempatnya duduk tadi. "Tenten mencarimu, bercakaplah dengan Tenten! Sedangkan aku permisi mengantarkan piring kotor ini!"
Sasuke hanya bisa cemberut melihat kelakuan Sakura, sedangkan Tenten tersenyum malu-malu.
Ketika Sakura sedang mencuci piring, tiba-tiba hatinya merasa remuk. Percaya atau tidak, innernya merasa menyesal ketika meninggalkan Sasuke dan Tenten berduaan.
Kenapa jantungku berdetak cepat, Tuhan?
Selesai cuci piring, Sakura mencuci tangannya hingga bersih tanpa noda dan berjalan menuju kamar Tenten. Alangkah kagetnya ia melihat Sasuke dan Tenten sedang berpelukan, hatinya terasa sedikit cemburu.
Huh, aku tak boleh cemburu! Aku nggak boleh berprasangka buruk!
Ketika Sakura hendak keluar, Tenten melihatnya. Ia langsung melepas pelukannya bersama Sasuke. "Em, Sakura-chan?" sapa Tenten, membuat Sakura menghentikan langkahnya.
Sakura segera tersenyum malu-malu di hadapan Tenten dan Sasuke.
"Maaf, Tenten, kuganggu kau! Aku akan segera pergi," kata Sakura. Secara tak sengaja, tangannya dipegang oleh Sasuke. "Jangan pikir macam-macam, aku dan Tenten hanya berpelukan. Tak lebih."
Tenten mengangguk kearah Sakura. Karena terpaksa, Sakura hanya bisa duduk malu di samping Sasuke.
"Maaf ya, mengganggu kalian! Sungguh, aku sama sekali tak berniat mengganggu kalian!"
Tenten tersenyum kecil melihat kelakuan Sakura. "Tak usah khawatir, lagian siapa yang menganggapmu pengganggu? Jangan rendahkan dirimu, Sakura-chan! Kau sama sekali tak menggangguku. Lagipula, tadi kami hanya berpe-lukan. Itu saja."
Sakura mengangguk paham, namun entah kenapa hatinya merasa sedikit kecewa.
Kenapa rasa cemburu ini masih bersarang di hatiku?
Tenten menatap Sakura dengan senyum. Tapi, jika kalian melihatnya lebih teliti, senyum itu lebih terlihat sebagai seringaian.
Sasuke milikku Sakura, bukan milikmu.
Sasuke yang merasakan seringai di wajah Tenten, hanya bisa menatap heran sekaligus curiga.
OaOaOa
Seorang gadis bermata emerald terduduk kaku di teras rumahnya, dengan teman angin yang sepoi-sepoi menampar sekujur tubuhnya. Di tangannya, ada sebuah buku tulis yang selalu menjadi temannya di kala sepi. Sekarang ini, tak ada siapapun yang mampu membuatnya tersenyum.
Walau hari ini terkesan biasa, baginya hari ini terkesan muram dan tanpa terang matahari.
Perlahan tapi pasti, gadis bubble gum itu membuka lembar per lembar dari buku tersebut. Sudah dua puluh lembar diisinya dengan berbagai pengalaman istimewa yang dialaminya selama enam belas tahun menjadi seorang manusia, dan kini ia sudah membuka lembar ke dua puluh satunya.
Tangan kanannya mulai menulis apa yang ingin ditulis hatinya saat ini.
Aku bingung, jalur kehidupan ini makin lama makin sempit
Dunia semakin meredup, matahari semakin enggan muncul
Aku tahu, tak seharusnya kumiliki rasa cemburu ini
Tapi, kenapa batin ini selalu tersiksa melihatnya bersama yang lain?
Bukankah ia adalah sahabatku? Kenapa aku harus cemburu padanya?
Bisakah kau pudarkan rasa cemburu ini, Tuhan?
Mana yang harus kupilih…
Sahabat… atau cinta?
TLUK…
Pulpen yang tadi digunakan untuk menulis, terjatuh entah kemana. Gadis itu menutup buku hariannya, kemudian menaruhnya di sampingnya. Ia kemudian menunduk, memikirkan jalan apa yang harus dilaluinya. Memilih sahabat? Artinya ia merelakan apa yang ia cintai bersama orang yang ia sayangi. Memilih cinta? Berarti ia rela persahabatan yang sudah ia bangun bertahun-tahun memudar hanya karena rasa cinta yang begitu menggebu-gebu.
Ia dilema, tentu saja.
"Ini."
Gadis bubble gum itu terkejut, kala mendapat segelas cokelat hangat yang pernah dibuatnya untuk seseorang. Ia menatap sang pemberi, sosok bermata onyx yang sedang menatapnya datar.
Dengan sungkan-sungkan, ia mengambil gelas cokelat hangat tersebut.
"Makasih."
Lelaki bermata onyx itu mengangguk, kemudian duduk di samping gadis berambut merah muda tersebut.
"Hum, ngapain aja disini? Malam-malam bukannya tidur."
Gadis itu menggeleng pelan, sembari tersenyum kecil. "Nggak bisa, aku lagi mikirin sesuatu."
"Oh, ya? Mikirin apa?"
"Ra-ha-si-a."
Lelaki berambut chickenbutt itu mendengus kesal, kemudian meneguk cokelat hangatnya. Tak lama kemudian, ia memulai pembicaraan.
"Hari Minggu, ada acara nggak?"
"Huh, dari dulu kamu juga tahu kan, aku selalu bebas?"
"Oke, gimana kalau kita jalan-jalan?"
"Eh?"
"Yah, antar aku jalan-jalan aja di sekitar daerah ini."
"Oh, sip Pak Guru…"
Sasuke tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum ini terkesan tulus dan bahagia. Ia menatap wajah Sakura, kemudian menatap bintang. Kalau kalian ingin tahu, sejak dulu Sasuke memang memiliki impian ingin mencapai bintang.
"Menurutmu, mencapai bintang itu cuma khayalan bukan?"
"Hah? Nggak, aku juga pernah berharap bisa menginjak bintang."
"Baguslah kalau begitu, impian kita sama."
"Iya. Kalau Tuhan mengizinkan, kita bisa bersama menginjak bintang."
"Iya. Kuharap Tuhan mengizinkan ya."
"Iya."
Suasana berubah hening. Kedua insane itu menatap bintang bersamaan, dan sesekali mengajak berbicara singkat. Diantara kedua insane itu, ada seorang gadis yang tengah tersenyum manis walau hatinya agak sakit saat ini.
Minggu ya? Pilihan yang tepat.
Gadis itu kemudian meninggalkan dua insane yang sedang berbahagia itu.
"Lihat saja nanti, nasib baik akan jatuh ke tanganku."
Sebelum memasuki kamarnya, ia menatap kembali Sakura.
Sasuke milikku, bukan milikmu…
OaOaOa
Pagi kembali menjelang, membangunkan tiap manusia yang sedang terlelap dalam mimpi mereka. Dan menyuruh tiap manusia untuk membuka kembali hari aktivitasnya.
KRIIING… KRIIING…
Pelupuk matanya mulai menyempit, emeraldnya pun mulai terbuka jelas. Ia menatap jam, sudah jam delapan pagi. Saatnya untuk memulai aktivitas!
"Hari Sabtu."
Ia lalu segera beranjak dari ranjangnya, dan menikmati bath-up hangat di kamar mandinya. Setelah mandi, ia mengenakan kaus putih dengan lapisan jaket hitam, serta celana kuning selutut. Tak lupa ia menyisir rambut merah mudanya yang indah dan terberai halus itu.
"Tuhan, jadikan hari ini lebih istimewa dibanding hari sebelumnya!"
Dengan langkah begitu riang, Sakura segera keluar dari kamarnya dan menemui seisi panti asuhan yang sudah seperti keluarganya itu.
Ketika ia keluar kamar, ia melihat Tenten dan Sasuke sedang berbicara bersama di teras rumah, tempatnya berbicara bersama Sasuke semalam. Ia tersenyum, meski hatinya menjerit entah kenapa. Ia kemudian berbalik meninggalkan kedua insane yang sedang asyik berbicara itu. Tanpa disadari-nya, Sasuke menatap tiap gerakannya.
"Mau kemana kau, Sakura?"
Sakura menoleh, dipandanginya Sasuke yang sedang menatapnya datar. Sementara Tenten, ia tersenyum ceria kala melihat Sakura.
"Bergabunglah, Sakura-chan!"
Sakura menggeleng cepat, sambil tersenyum. "Tak usah, aku memiliki banyak urusan."
Sakura segera berlalu meninggalkan Tenten dan Sasuke, kemudian melaju menuju dapur, menemui Nenek Chiyo. Terlihat, Nenek Chiyo yang sedang sibuk mencuci piring. "Wah, butuh bantuan, Nek?" tanya Sakura sembari memasang saputangan mencuci di tangannya.
"Jangan sekarang, Sakura! Ehm, bisakah kau kumpulkan piring kotor dari berbagai kamar? Anak-Anak dan Sasuke senang sekali makan di kamar mereka."
Sakura terdiam, kemudian mengangguk.
Di kamar adik-adik tirinya, begitu banyak piring kotor berserakan. Bahkan, ada piring kotor yang sudah berdebu karena tak disentuh berbulan-bulan, membuat Sakura sedikit jijik mengambilnya. "Dasar, mentang-mentang anak kecil nggak beresin bekas makan mereka."
Ketika Sakura memasuki kamar Sasuke, ia melihat kamar yang layaknya seperti kamar seorang lelaki.
Rapi, namun sedikit berantakan.
Sakura mulai mencari keberadaan piring kotor di kamar Sasuke. Ketika sedang mengambil sebuah piring kotor di meja belajar di kamar Sasuke, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah buku dengan selipan surat di dalamnya.
Ia menatap buku tersebut. Itu adalah buku novel yang pernah Sasuke pinjam kepada Paman Jiraiya.
"Kenapa ia selipkan surat di dalamnya?"
Sakura kemudian membuka surat tersebut, dan membaca kata per kata dari surat tersebut.
Berjalan di keheningan malam…
Menepi di terangnya pagi…
Bukankah ini pekerjaan vampire?
Tuliskanlah kiranya secercah harapan untukku
Mungkinkah aku akan bernasib buruk?
Kembali ke masalah bukan hal mudah
Apalagi lari dari masalah
Jalan inikah yang harus kupilih?
Menghindar… dan mengikut sertakan orang-orang tercinta?
Bukankah ini jalan kegelapan?
Tapi, aku tak butuh penerangan lagi
Sebab, sejak dulu
Tak pernah ada yang mau menerangi hati buramku ini
Kiranya hanya seonggok batu yang selalu kutemui disini
Di hati yang kelam dan penuh pengalaman buruk ini
Sakura terperangah. Isi puisi ini memang bagus, tapi Sasuke yang jarang memiliki masalah, bisa menulis puisi seperti ini? Menakjubkan. Sakura kemudian memasukkan kertas tersebut ke amplop seperti semula, dan menyelipkannya di novel remaja yang tadi tak sengaja sempat dijatuhkannya.
Sembari keluar dari kamar Sasuke, ia tetap keheranan.
Sebenarnya, masalah apa yang sedang dihadapi Sasuke?
OaOaOa
Sementara itu, di sebuah daerah di Konoha…
BRAKK!
Seorang lelaki bertampang seram dengan janggut yang tak pernah dirawatnya, menatap garang dua sosok yang sedang ketakutan sekaligus terluka. Sekujur tubuh mereka dipenuhi bekas pukulan dan setruman.
Seorang lelaki berambut kuning mulai mengeluh, tetapi itu tak diindahkan oleh sosok preman tersebut.
"KATAKAN, DIMANA SASUKE UCHIHA?"
Suaranya terdengar begitu sangar, membuat dua lelaki terikat di hadapannya kembali menggigit bibir karena ketakutan. Salah satu dari dua lelaki tersebut, seorang lelaki berambut nanas, hanya menatap bosan lelaki preman di hadapannya.
"Sudah berapa kali kami bilang, KAMI TAK TAHU!"
PLAKK!
Laki-laki berambut nanas itu makin kesal ketika pipinya ditampar berkali-kali oleh sosok preman tersebut.
Sasuke, kau harus membayar semua ini!
Lelaki bernama Shikamaru itu makin kesal dengan sahabatnya, yang kabur dari masalah dan menumpahkan segala akibatnya untuknya dan sahabatnya si Dobe, Naruto.
Naruto hanya bisa meringis kesakitan akibat dipukul berulang kali oleh para preman pembalap liar itu.
"KAU TAK BISA KABUR, SASUKE UCHIHA!"
OaOaOa
"Tenten."
Gadis bercepol dua itu segera menoleh. Ia mendapati seorang lelaki berumur 16 tahun dengan wajah datarnya duduk di sampingnya. Gadis tersebut segera tersenyum ceria, kala mendapati lelaki yang dicintainya ada di sampingnya.
"Iya?"
"Menurutmu… apa hal yang sangat disukai oleh Sakura?"
Mendadak, gadis tersebut kehilangan semangat. Ternyata, lelaki itu mendatanginya, hanya untuk mengetahui hal yang disukai sahabatnya?
Tak tahukah ia jika itu membuat gadis bercepol dua itu sakit hati?
"Jawab dong, kau pasti tahu!"
Gadis itu terdiam saja, sampai beberapa menit terlewati.
"Kenapa ingin tahu?"
"Bukan masalahmu."
"Tapi aku harus tahu."
"Kenapa harus tahu?"
"Karena kau mencurigakan."
"Oh, baiklah. Aku hanya ingin memberinya sesuatu yang special."
Gadis bercepol dua itu kembali terdiam. Ditatapnya orang yang sangat dicintainya itu. Bisakah lelaki ini memikirkannya, bukan memikirkan gadis yang selama ini selalu menjadi sahabat sehidup sematinya?
"Aku tak tahu."
"Kenapa tak tahu?"
"Bukan masalahmu."
Tenten segera beranjak dari hadapan Sasuke, matanya sudah berair dan mulai menderasi kedua pipinya. Semua tak terlihat oleh Sasuke, karena Sasuke hanya bisa melihat punggung tegaknya sambil mendecih kesal. Sedangkan gadis itu? Ia menangis dalam diam.
Bisakah kau tak ikut sertakan ia dalam keheningan kita berdua?
PUK!
Tenten kembali mendapati seseorang berada sampingnya. Kali ini beda, ia seorang gadis dengan nama Sakura.
"Hn?"
"Ada apa? Rasanya kau berubah."
"Aku memang berubah."
"Eh? Kenapa?"
"Karena seseorang."
Tanpa peduli ucapan Sakura, Tenten segera berjalan cepat menuju kamarnya. Merenungkan diri, mencoba mengetahui apa yang membuat Sasuke bisa tergila-gila pada Sakura.
Ada apa denganmu, Tenten?
OaOaOa
Ketika malam tiba, Sakura ditugaskan Nenek Chiyo untuk memanggil seluruh anggota panti asuhan untuk segera makan malam. Tanpa pikir panjang, Sakura segera menyanggupinya.
"Saatnya makan malam, Anak-Anak!"
"Saatnya makan malam, Sasuke!"
"Saatnya makan malam, Ten-"
Ketika akan menyuruh Tenten makan malam, Sakura tak melihat siapapun di kamar Tenten. Tenten tak berada di kamarnya. Samar-samar, Sakura bisa melihat secarik kertas diatas ranjang tidur Tenten.
Siapapun yang berniat menemuiku, datangiku di taman belakang.
Sakura menoleh ke jendela kamar Tenten yang berdekatan dengan taman belakang. Tampak, punggung seorang gadis bercepol dua yang sedang memandang malam kelam dengan mata cokelat teduhnya. Sakura tersenyum.
Begitu sampai di taman belakang, ia langsung menyapa Tenten.
"Ten, makan sudah disiapkan. Ayo bergabung."
Tenten masih terdiam, dalam wajahnya tersimpan setitik rasa sakit. Ia menatap Sakura, kemudian berdiri dari duduknya. "Sakura, aku mau bicara empat mata denganmu."
Sakura terdiam, apa yang dibicarakan Tenten?
"Apa maksudmu, Ten?"
"Aku ingin kau…"
Ucapan Tenten yang terhenti, membuat perasaan Sakura mulai tidak enak. Ia keheranan dengan tatapan tajam Tenten yang berhasil menusuk lubang kepenasarannya. Ia kemudian mulai mendekati tubuh gadis bercepol dua itu.
"Memang, apa yang harus kulakukan?"
"Mudah saja. Aku-ingin-kau-menjauhi-Sasuke."
Sakura menghentikan langkahnya, kemudian mulai memandang wajah Tenten yang begitu kelam lekat-lekat. Apa yang Tenten maksud, ia harus menjauhi Sasuke?
"Sasuke kehidupanku, aku butuh dia. Jauh lebih kubutuhkan daripada kau yang membutuhkannya."
"Aku tak mengerti maksudmu."
"Minggu besok, janjikan bahwa itu adalah hari terakhirmu ada di sampingnya."
"Hei, maksudmu apa?"
"Aku mencintai Sasuke! Tapi Sasuke mencintaimu! Sadarkah jika aku selalu sedih kala mendengar pembicaraanmu dari mulut Sasuke?"
Sakura mencerna tiap perkataan Tenten. Apa yang ditakutkannya terjadi. Tenten cemburu akan keberadaannya bersama Sasuke, dan berniat memecahkan hubungan erat itu. Sakura hanya bisa menangis dalam hati, kenapa Tenten berubah seperti ini?
"Aku permisi."
"Tunggu."
"Apa?"
"Jika kau abaikan, kujamin persahabatan kita takkan pernah ada lagi."
Sakura terdiam, kemudian ia segera meninggalkan Tenten. Tenten yang melihat kepergian Sakura, hanya diam. Ten, tak sadarkah kau jika apa yang kau lakukan menyimpang batas kecemburuan? Kau begitu kejam.
Aku menang, Sakura.
Ketika Sakura tiba di meja makan, Nenek Chiyo merasakan perbedaan kondisi Sakura. Wajah Sakura terlihat begitu murung. Ketika Sakura hendak membawa seporsi makan malamnya ke kamar, Nenek Chiyo segera menghentikannya.
"Kenapa makan malam di kamar?"
"Aku mau sendiri."
Sakura segera berlari menuju kamarnya, mencari tempat menyalurkan kekesalannya. Dari meja makan, Sasuke hanya bisa menatap semua itu dengan curiga.
Tenten, Sakura. Pasti ada sesuatu diantara mereka.
"Kau berniat melahap makan malammu, Sasuke?"
Sasuke menatap Nenek Chiyo, kemudian mengangguk. Dengan cepat, ia habiskan makan malamnya. Ia masih bingung dengan perubahan sikap Sakura yang tiba-tiba dingin dan penuh kalut itu.
BLAM!
Sampai di kamar, Sakura segera menaruh makan malamnya diatas meja kamarnya dan duduk di bangku meja belajarnya. Tak lama kemudian, air mata membuncah dari pipi manisnya.
"Kenapa kau berubah?"
Tak segan-segan, Sakura menendang apa saja yang bisa ditendangnya. Bahkan, ia biarkan kakinya yang mulai membengkak –karena terlalu banyak menendang barang- itu kian membengkak. Hanya dengan menendanglah salah satu cara meluapkan emosinya.
Pandangan Sakura terhenti pada dua buah bingkai fotonya dengan Tenten saat bermusim panas di Konoha Beach. Pemandangannya begitu indah, dengan subjek foto yang begitu memikat.
PRANGG!
Tak dapat dikira, dua bingkai foto itu langsung dilemparnya tak menentu hingga pecah dengan foto terberai kemana-mana. Ia benar-benar emosi.
"Jika kau abaikan, kujamin persahabatan kita takkan pernah ada lagi."
Sakura mencakar dinding kamarnya dengan perasaan berkecamuk di dadanya. Hanya karena Sasuke, semua menjadi berantakan?
"Tuhan, bantu aku," lirihnya pelan dengan isak tangis yang membahana di dalam kamar tersebut. Nenek Chiyo yang mendengar isak tangis itu, hanya bisa berdoa untuk kesabaran Sakura bilamana dirinya didera masalah. Sebab, bila Sakura sudah menangis, takkan ada yang bisa menghapus tangisannya itu kecuali Tuhan tersendiri, dan sahabat sehidup sematinya, Tenten.
Karena kelelahan, ia pun tertidur dengan posisi tubuh berantakan di lantai.
OaOaOa
Hari Minggu, hari pembalasan.
Ketika Tenten hendak menuju kamar Sakura, tubuhnya menabrak tubuh Sakura yang sedang bersiap untuk pergi kencan dengan Sasuke. Melihat Tenten terjatuh di lantai, Sakura tak mempedulikannya.
"Ingat pesanku, Sakura."
Sakura hanya bisa menangis dalam hati, mendengar kata terakhir Tenten sebelum ia dan Sasuke pergi berjalan-jalan di pagi hari ini.
Ketika Sasuke berniat menggandeng tangan Sakura, Sakura selalu menghindarinya dengan kasar. Bahkan, Sakura tak pernah mau menerima jasa darinya.
Hei, ada apa dengan Sakura?
Bahkan, ketika Sasuke berniat membelikan Sakura es krim saja, Sakura langsung menolaknya dan pergi meninggalkan Sasuke. Sehingga Sasuke pun tak bisa menahan keheranannya pada sikap Sakura hari ini.
"Kenapa menghindariku?"
"Bukan urusanmu."
"Kenapa kau membuat acara ini berantakan?"
"Bukan masalahmu."
"Jangan kecewakan acara hari ini, Sakura!"
"Pergi dari kehidupanku mulai sekarang."
Sasuke terdiam. Kenapa tiba-tiba Sakura mengucapkan ucapan yang dibencinya?
"HAH?"
"Dengar nggak sih? Aku nggak butuh kau!"
"Aku butuh penjelasan."
"Diam."
"AKU BUTUH PENJELASAN!"
"Bukan peduliku."
Sasuke makin kesal, ketika Sakura meninggalkannya, dan menaiki bus untuk pulang ke panti asuhan. Sasuke menghentakkan kaki dengan kesal, kotak kado yang akan ia berikan pada Sakura pun ia masukkan ke tong sampah.
Tenten dan Sakura sama saja, sama-sama berubah.
OaOaOa
Sakura tiba di rumah, dengan wajah basah dan penuh air mata. Nenek Chiyo yang melihatnya, langsung merangkul Sakura ke ruang keluarga.
"Ada apa denganmu, Sakura-chan?"
"Aku bingung, Nek!"
"Bingung kenapa?"
"Kenapa semua orang membenciku?"
"Kau salah Sakura-chan, kenapa kau berpikir demikian?"
"Aku tak tahu, Nek."
"Baiklah. Tenangkan dirimu di kamar, dan cobalah kau cari apa yang membuatmu terpuruk begini."
"Makasih, Nek. Aku permisi."
Sakura kemudian berlari ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya dengan keras. Nenek Chiyo memegang keningnya. "Sakura dan Tenten, kenapa mereka sama-sama berubah? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Sampai di kamar, Sakura hanya bisa menangis.
Ia memandangi seisi kamarnya. Kalau saja Tenten ada di sampingnya, pasti ia bisa meredakan seluruh amarahnya. Tapi, kenapa Tenten menjadi seperti penjahat? Tahukah Tenten, kalau hatinya sakit mengetahui Tenten bisa-bisanya melupakan persahabatan ini?
Amarah Sakura pun terluapkan dengan satu cara lagi. Tulisan.
Kenapa ia melupakannya?
Bukankah semua ini ia yang menyusunnya?
Kenapa sekarang ia yang meruntuhkannya?
Kenapa harus ia, Tuhan! Kenapa?
Bisakah Kau hapus kegelapan dalam dirinya?
Bisakah Kau kembalikan persahabatan ini?
Kami sudah menjalin semua ini bertahun-tahun!
Menjadi sahabat sehidup semati,
Dan takkan pernah terpisahkan
Tapi, kenapa ia mengingkari janji itu?
Kenapa ia melupakannya?
Putar kembali scenario kehidupan ini, Tuhan…
Kembalikan aku ke masa laluku
Kembalikan aku ke saat-saat persahabatan ini masih terjalin utuh!
KEMBALIKAN, TUHAN!
Sakura merobek kertas itu, dan membuangnya entah kemana. Sungguh miris. Persahabatan yang sudah seperti satu hati ini, harus berhenti hanya karena persaingan cinta.
SEMUA KARENA CINTA.
Dheg!
Tiba-tiba, Sakura merasakan pusing di keningnya. Perlahan tapi pasti, tubuhnya mulai melemah. Tanpa ia sadari, cairan sekental kecap mulai mengalir dari lubang hidungnya, membentuk dua air terjun merah.
"Ukh…"
Sakura menghapus darah tersebut dengan tangannya, mencoba meredakan gejolak emosi yang menghancurkan pikirannya.
"UHUK… UHUK…"
Ia terperangah, kala melihat telapak tangannya yang dipenuhi cairan kental berwarna merah. Darah. Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan menuju westafel kamarnya. Rasa sakit ini mulai tak tertahankan, sampai ia gagal menuju westafel kamarnya, dan rubuh dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
"Ukh… A-Aku le-lelah…"
Wajah putih itu pun mulai membiru pucat, pertanda keadaannya mulai tak membaik.
OaOaOa
"Nek…"
Seorang wanita tua menoleh, melihat seorang gadis kecil berumur sembilan tahun memandanginya dengan wajah khawatir. "Ada apa, Hanabi-chan?" tanyanya sambil membelai rambut panjang gadis lavender itu.
"Sakura-nee mana?"
Nenek Chiyo menghela napas, kemudian menyuruh Hanabi duduk di sampingnya. "Nenek juga bingung, Sakura-chan belum keluar juga dari kamarnya. Bisakah kau menengok keadaannya untuk Nenek, Sayang?"
Hanabi mengangguk, lalu beranjak menuju kamar Sakura.
Hanabi terperangah, ketika melihat pintu Sakura yang terbuka sedikit.
"Sakura-nee, bagaimana keada-SAKURA-NEE! KAU KENAPA?"
Nenek Chiyo, Sasuke, dan Tenten yang mendengar suara teriakan Hanabi langsung berlari kearah Hanabi. Sasuke kaget, kala melihat Sakura pingsan dengan wajah pucat dan darah di sekitar wajahnya.
"SAKURA!"
Tanpa ia sadari, sepasang mata cokelat menatapnya dengan tajam.
Kenapa kau masih memikirkannya, Sasuke? Bukankah ia sudah membencimu?.
OaOaOa
Nut… Nut… Nut…
Dari dalam sebuah ruang rawat, terlihat seorang gadis lemah dengan pendeteksi nyawa yang masih menampilkan keadaan hidup sang gadis. Seorang wanita tua dengan air mata mengalir membelai lembut helaian merah muda sang gadis.
"Sakura-chan, sadarlah…" ujarnya lirih sambil terus mengucurkan air mata. Di sampingnya, ada seorang gadis bercepol dua yang sedang terdiam tanpa ekspresi apapun, menatap gadis dalam ranjang pasien itu.
Kau kalah, Sakura.
"Kenapa menyeringai? Kau senang sahabatmu sakit?"
Gadis bernama Tenten itu melihat ke samping, melihat Sasuke yang agak curiga dengan seringaian di wajahnya. "Ah? Nggak kok, mana mungkin aku senang saat sahabatku seperti ini?"
Sementara itu, seorang gadis berambut merah muda yang masih terbaring lemas di ranjang pasien, hanya bisa tertidur pulas dengan selang yang masuk ke lubang hidungnya. Keadaannya begitu mencemaskan, membuat Nenek Chiyo benar-benar kuatir.
"Ngh… Ukh…"
Jemari yang kaku itu mulai tergerak, membuat Nenek Chiyo menghentikan tangisnya.
Gadis dengan nama Sakura itu mulai menggerakkan kelopak matanya, hingga emeraldnya terbuka sempurna. Dengan wajahnya yang masih pucat biru, ia memandang Sasuke, Nenek Chiyo, dan Tenten.
"Anak-anak mana?" tanya Sakura. Nenek Chiyo menempelkan telunjuknya di bibir Sakura, berniat menghentikan ucapan Sakura.
"Hanabi dan Konohamaru sudah kusuruh untuk menjaga enam belas anak lainnya. Jangan kuatir."
Sakura tersenyum miris, kemudian memandang Tenten dan Sasuke. Tiba-tiba saja, hatinya remuk seketika. Ia memalingkan muka, tak mampu menatap Tenten ataupun Sasuke. Samar-samar, buliran air mata keluar dari kedua mata hijaunya. Ketika Nenek Chiyo menyodorkan tisu kepadanya, dengan halus ia menolaknya.
"Biarkan saja, Nek."
"Aku permisi Nek, kurasa kedatanganku menimbulkan hal buruk."
Tak disangka-sangka, Sasuke yang mengetahui kenapa Sakura menangis, langsung pergi dengan pamit halus. Ia tahu, Sakura bersedih hati karenanya, meski Sasuke sendiri tak tahu kesalahan apa yang ia buat pada Sakura.
"Aku tunggu di lobi saja ya Nek."
Ketika Tenten akan keluar dari ruang rawat Sakura, Sakura menangkap sinyal tatapan tajam dari wajah Tenten.
Jangan Tenten Tuhan, Kumohon. Jangan Tenten.
Menjelang malam, Sakura sudah membujuk Nenek Chiyo untuk segera pulang. Sebab, keadaan Nenek Chiyo juga cukup mencemaskan. Sekujur tubuhnya demam tak karuan. Akan tetapi, Nenek Chiyo terus menolak, sebab ia ingin menjaga Sakura hingga Sakura bisa keluar dari rumah sakit.
"Nek, percayalah padaku. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri."
Nenek Chiyo yang sudah berulang kali menolak bujukan Sakura, akhirnya lelah sendiri. Ia pun menyetujui bujukan Sakura, dan bersedia pulang agar Sakura tak lagi mencemaskannya.
Ketika Sakura sendirian, ia hanya bisa berdiam diri di kamarnya. Akan tetapi, semakin lama ia semakin bosan.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk."
Sakura melihat seorang gadis berambut hitam pendek yang memiliki papan nama bertuliskan Shizune. Ia tersenyum kepada Sakura, kemudian duduk di samping Sakura. Shizune adalah dokter pertama yang menangani Sakura, jadi ia juga yang tahu apa yang diderita Sakura.
"Ah, Dokter Shizune…" kata Sakura sambil berusaha duduk.
Wanita yang masih lajang itu menatap Sakura sambil tersenyum tipis, ke-mudian membuka mapnya. "Sakura, sepertinya besok pagi hasil pemerik-saan akan keadaanmu sudah keluar. Aku akan melaporkannya besok," kata-nya sambil memakai kacamata minusnya. Sakura mengangguk pelan, sambil mengikuti semua aturan bicara Shizune. "Nah, kau mengerti?" tanya Shizune sebelum akhirnya ia menutup map pribadinya.
Sakura kembali mengangguk. "Dokter, kapan hasilnya akan diberitahukan? Disini… atau dimana?" tanya Sakura bingung sambil menatap Shizune.
"Jika kau ingin lebih cepat mengetahuinya, kau bisa segera datang ke kantorku."
Sekali lagi, Sakura mengangguk. Mereka pun membalas senyum sebentar, kemudian Shizune melangkah pergi dari hadapan Sakura. Jadilah, saat ini Sakura sendiri tanpa dampingan siapapun. Ia menatap ke sampingnya, segelas air putih yang baru diminumnya sedikit. Sakura pun meminumnya sampai air putih itu berkurang setengah volume dari sebelumnya.
TOK! TOK!
Sambil menaruh gelas air putihnya di meja pasien, Sakura memandang pintu yang hanya menampilkan siluet tamunya dari depan pintu ruangnya.
"Masuklah," kata Sakura pelan sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Udara Air Conditioner di ruang rawatnya saat ini lebih dingin dari pada udara di panti asuhannya.
Ia kaget, melihat Sasuke yang datang dengan kantung mata tebal dan tubuh yang lemas. Bahkan, Sakura agak iba dengan keadaan Sasuke saat ini.
"Ada apa kau kesini?" tanya Sakura sinis sambil menatap Sasuke. Seolah tak mempedulikan ucapan Sakura, Sasuke makin mendekatinya dan memilih duduk di sampingnya. Ia menatap Sakura nanar, kemudian memegang erat kursi lipatnya.
"Beritahu aku, apa yang sebenarnya membuatmu begini?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura bingung, sekaligus kesal dan marah.
Sakura yang mendapat sedikit interogasi dari Sasuke, hanya mendecih sebal dan membuang muka dari hadapan Sasuke. "Terserah aku. Lagipula, kenapa kau mau tahu? Itu juga bukan urusanmu," kata Sakura semakin sinis, berniat membuat Sasuke segera pergi dari hadapannya saat ini. Ia memang membutuhkan kesendirian, daripada ditemani Sasuke. Itu membuatnya makin sakit.
Ia kaget, ketika Sasuke secara tiba-tiba menggenggam kedua tangannya erat dan menatap emerald hijaunya dalam-dalam.
Tatapan itu… kenapa aku sulit menghindar dari tatapan itu?
"Sakura."
Gadis itu masih terdiam, sambil terus memandangi iris onyx lelaki yang sudah di hadapannya saat ini. Sangat dekat. Bahkan, jarak mereka hampir terhapus oleh sentuhan hidung mereka masing-masing.
"Aku mencintaimu..."
Dan untuk keberapa ratus kalinya, Sakura membulatkan emerald jernihnya setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari Sasuke.
.
.
.
TBC :D
Heuh, sori ya… kayaknya hasilnya masih amat-sangat jelek, karena author memang gak pernah pinter bikin cerita Dx author kan hanya melepas curhat, hanya melepas curhat. Author kan sering kena penyakit menahun, GALAU.
Oke…
Saran, pendapat, kritik, flame, dan lainnya…
Silakan tampung di review! xD
Salam manis, From si Manis dari Monas ini :D
