CHAPTER 3
10 tahun yang lalu…
Matahari bergerak mencari tempat di ufuk timur, menampar fajar dan menggantikan kehadiran fajar yang tadi sempat mengganggu-nya. Konoha sudah kembali bangkit, menjalankan aktivitas seperti biasa.
"Sakura-chan! Bangun! Bangun!"
Gadis cilik itu menguap, ketika mendengar suara seseorang mem-bangunkannya dengan nada lembut campur tegas.
Ia membuka emeraldnya sayu, memandang seorang gadis cilik berambut cepol dua yang sedang tersenyum manis kearahnya. Gadis itu menyingkap helaian merah muda yang menutupi sebagian wajah cantik sang gadis, hingga gadis kecil itu sudah mulai sadar dari mimpinya.
"Hoah… sudah pagi, Tenten-chan? Kok membangunkanku pagi-pagi sekali?" tanya Sakura sambil memandang matahari yang baru saja terbit menggantikan fajar.
"Entah, Nenek menyuruh kita bangun pagi. Katanya, akan ada orang yang mau mengadopsi salah satu dari anak panti asuhan."
DHEG!
Sakura kaget, mendengar kata 'mengadopsi'. Itu artinya, salah satu dari penghuni panti asuhan ini akan pergi meninggalkan panti dan melupakan para penghuni lainnya? Oh, tidak. Sakura selalu benci dengan para pengadopsi anak!
"Tenten-chan, gimana nih? Aku takut kalau sampai salah satu dari kita sampai diadopsi," kata Sakura sambil memegang lengan Tenten erat.
Gadis bermata cokelat itu tersenyum kecil, kemudian mengacak-acak rambut merah muda Sakura. "Saku-chan, jangan takut. Kalau seandainya kita terpisah, kita kan bisa berhubungan meskipun secara tak langsung. Mengerti? Nah, sekarang, ayo bangun. Siapkan diri sebelum sang pengadopsi anak datang."
Dengan wajah lesu, Sakura bangun dari ranjang tidurnya dan berjalan lunglai kearah kamar mandi.
Tenten yang memandang lemasnya Sakura setelah mengetahui akan adanya acara pengadopsian hari ini, hanya tersenyum hambar. Ia memandang bingkai fotonya dengan Sakura yang sedang berlibur di Konoha Beach, sebuah pantai terkenal di daerah Konoha.
'Sama sepertimu, Saku-chan. Aku juga gak mau kalau salah satu dari kita harus berpisah…'
Dengan langkah mantap, Tenten yang sudah rapi dengan baju warna putih kesukaannya itu segera berlari keluar dari ruang tidur dan menjamah ruang tamu yang sudah dipenuhi anak-anak yang baru saja selesai mandi.
TOK! TOK! TOK!
Sakura kaget, mendengar suara ketukan pintu yang terdengar sopan namun mempu membuatnya terkena serangan jantung itu. Ia langsung memegang lengan Tenten erat, sambil memejamkan mata, berharap tak ada satupun darinya ataupun Tenten yang diadopsi oleh sang pengadopsi itu. Tak ada, satupun.
"Selamat datang, Nyonya Mikoto. Masuklah."
Seorang wanita berambut hitam panjang, memasuki panti asuhan itu dengan hati-hati dan menatap para anak kecil yang sedang berbaris itu dengan senyuman bahagia dan bangga.
Diantara seluruh anak yang ia tatap dengan wajah senang itu, ia merasa senang dengan wajah imut Sakura yang masih menahan rasa takut di samping Tenten. Sambil menelan ludah, Sakura mundur selangkah dari hadapan wanita bernama Mikoto itu.
"Gadis manis… siapa namamu?" tanya Mikoto ramah sambil membelai rambut merah muda Sakura.
"Sa-Sakura," jawab Sakura sebisanya, sambil menatap wajah Mikoto takut-takut.
Tenten yang memandang kegugupan Sakura, justru merasa kasihan. Kalau bisa, ia akan segera membatalkan acara pengadopsian ini dan mengajak Sakura bercanda ria seperti biasa di kamarnya. Tapi, ia hanya seorang gadis kecil. Apa yang bisa dilakukan seorang gadis cilik selain diam dan tersenyum manis?
"Manis sekali," puji Mikoto sambil menjentikkan jari kearah Sakura. Sakura makin takut, ia makin erat memegang lengan Tenten.
'Tenang Sakura, kumohon…'
"Jadi, siapa yang akan Nyonya pilih?" tanya Nenek Chiyo dengan amat sopan sambil menatap Mikoto.
Mikoto berhenti menatap Sakura, kemudian menoleh kearah Nenek Chiyo. "Aku ingin dia," katanya sambil menunjuk wajah Sakura begitu dekat.
DHEG!
Kebetulan, Sakura dan Tenten merasakan degupan jantung mereka berdebar tanpa hentinya. Sakura sudah berkeringat dingin, mendengar ucapan tanpa rasa takut dari mulut Mikoto itu. Apa wanita itu tak sadar, jika ia tak mau jauh-jauh dari Tenten? Apa wanita itu sadar, jika ia ingin selalu bersama Tenten? Ia tak mau bersama wanita itu.
"AKU NGGAK MAU SAMA TANTE!"
Tanpa menunggu komentar siapapun, Sakura melepaskan pegangan tangannya dari Tenten, kemudian berlari ke kamarnya di lantai dua.
Mikoto yang hendak menyusulnya, menunda langkahnya ketika Nenek Chiyo menyentuh pundaknya. "Biarkan saja, Nyonya. Ia pasti akan baik-baik saja."
Selagi Mikoto dan Nenek Chiyo sedang melakukan pembicaraan empat mata di ruang santai Nenek Chiyo, Tenten bergegas menyusul Sakura yang sedang menghabiskan kotak tisunya untuk mengelap air mata yang tiap kali mengalir dari tepian emeraldnya.
"Sakura-chan," panggil Tenten sambil mencoba menghentikan aksi gila Sakura yang mencoba menghabiskan sekotak tisu itu.
"Biarkan aku sendiri! Tenten-chan mau ya, kalau aku pisah darimu?" kata Sakura tegas sambil merebut kotak tisu dari genggaman Tenten.
Tenten menghela napas, kemudian duduk di samping Sakura. "Apa maksudmu, sih? Siapa yang kau bilang mau berpisah darimu?"
"Tenten."
Tenten tertawa kecil. "Mana mungkin! Kita kan sahabat, gak mungkin aku mau berpisah darimu, Sakura-chan…"
Sakura meredakan tangisnya, sambil menatap Tenten lekat-lekat. "A, apa maksud Tenten-chan?" tanya Sakura tak mengerti sambil menaruh kotak tisu yang sedari tadi ia pegang di sebelahnya. Tenten menoleh kearah Sakura, kemudian tersenyum manis kearahnya. "Kita ini tetap sahabat, Saku-chan. Walaupun kita berpisah, atau salah satu dari kita sudah tak ada lagi di dunia, kita tetap jadi sahabat. Kata Nenek, bersahabat itu harus dari hati, bukan hanya memandang fisik ataupun derajat. Jadi, kita masih bersahabat kok, walaupun kita berbeda tempat ataupun dunia," kata Tenten panjang lebar.
Sambil menghapus air mata yang membekas di emerald hijaunya, Sakura memandang Tenten. "Kau yakin?"
"Iya Sakura-chan… adakah dari tampangku yang mengatakan kalau aku itu bohong?"
Sakura tersenyum bahagia, kemudian menunjukkan jari kelingking-nya. Ia menunjukkannya kearah Tenten, mengajak Tenten melakukan tautan kelingking. Tenten menyanggupinya. Ia membalas tautan kelingking Sakura, kemudian saling bercanda, seperti waktu sebelumnya…
'Kalau salah satu dari kita sudah menjadi jahat, apa kita akan tetap bersahabat?'
Beberapa hari kemudian…
Tetap saja. Walaupun Sakura sudah mendapat semangat dari sahabatnya, ia tetap tak mau untuk berpisah tempat dari panti asuhan yang sudah lama menjadi tempat tinggalnya. Belum lagi, ia masih merasa asing dengan Mikoto dan keluarga barunya saat ini. Ia tak mau, terlihat bodoh dan lugu di hadapan keluarga terpandang itu.
"Kenapa menangis lagi sih? Bukankah kubilang kita tetap bersaha-bat walau sudah jauh jarak?" tanya Tenten malas sambil menatap Sakura yang masih uring-uringan dengan air mata membekas di pelupuk matanya.
Sakura menghela napas panjang, menahan tangis yang sedari tadi mengganggu nada suaranya. "Ta, tapi… aku tak bisa, kalau hidup tanpamu, Tenten-chan!"
"Sakura-chan, waktunya berpisah…"
Sakura dan Tenten berbalik, menatap Nenek Chiyo yang menatap mereka sendu. Sakura menghentikan tangisnya, kemudian menatap dirinya di dalam cermin. Cantik? Memang. Tapi… rapuh? Ya, benar-benar rapuh.
"Maaf Sakura-chan…"
Sakura memandang wajah penuh rasa bersalah dari Tenten, yang sedang menunduk kaku.
"Aku… tak bisa menahan kepergianmu."
Sakura terdiam mendengar ucapan Tenten. Ia tak membalasnya, lalu berbalik dan menyusul Nenek Chiyo dan Mikoto yang sudah ada di dalam ruang tamu. Tenten yang memandang kepergian Sakura, hanya bisa bergundah hati. Kalau saja ia bisa menahan kepergian Sakura, pasti saat ini Sakura masih dalam dekapannya.
Tapi… kenapa kini Sakura bersiap meninggalkannya?
"Kau sudah siap, Sakura?" tanya Mikoto pada Sakura. Sakura hanya mengangguk kecil, dengan wajah muram tanpa senyuman.
Tenten yang melihat ekspresi kecewa Sakura, hanya bisa bergundah hati. Bagaimanapun caranya, ia tak boleh memperlihatkan wajah murung Sakura di depan siapapun!
Ya, wajah murung Sakura… tak boleh ada.
"Maaf!"
Mikoto, Sakura, dan Nenek Chiyo yang berada di teras panti, menoleh kearah Tenten yang memecah keheningan diantara ketiga manusia berbeda umur itu. Mikoto tersenyum manis, sambil menatap Tenten. "Ada apa?"
"Tolong jangan paksa Sakura pergi, ia bilang, ia tak mau pergi. Jangan paksakan kehendak seorang anak kecil."
Mikoto dan Nenek Chiyo kaget mendengar ucapan Tenten, apalagi Sakura. Tak terasa, cairan hangat membasahi pipi Sakura. Ia terharu, ternyata Tenten masih memikirkan rasa kecewanya saat ini. Ya, Tenten masih menyayanginya seperti dulu.
"Hush, apa maksudmu Tenten?" tanya Nenek Chiyo dengan wajah murka kearah Tenten.
Tenten hanya membalas tatapan kesal Nenek Chiyo dengan wajah bosan, ia lalu menatap Mikoto. "Tante, berikan Sakura kebebasan. Sakura bilang, dia nggak mau ikut sama Tante. Dia maunya sama anak panti, sama penghuni panti. Nggak mau pisah sama mereka."
Mikoto terdiam mendengar ucapan Tenten. Tak terasa, tubuhnya bergetar tak karuan. Ia sadar, ia sudah memaksakan keinginannya tanpa peduli bagaimana kecewanya Sakura berpisah dengan penghuni panti asuhan.
"K-kau b, benar," kata Mikoto terbata-bata. Mikoto menatap Nenek Chiyo, kemudian beralih ke Sakura.
Ia kemudian berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan Sakura. "Kau boleh bergabung dengan teman-temanmu mulai sekarang, aku takkan pernah mengekangmu lagi."
Dengan sekali sentilan hidung dari Mikoto, Sakura berubah menjadi tersenyum bahagia.
Ia menatap Tenten bahagia, kemudian memeluknya. "Arigatou, Tenten-chan!"
Tenten tersenyum tipis, lalu meraba punggung Sakura. "Hihihi, arigatou, Baka-chan…"
"Kita… sahabat kan?"
Tenten terdiam sejenak. Ia mendekatkan mulutnya kearah telinga Sakura, kemudian membisikkan suatu kata.
"Selamanya…"
'Jadi, inikah bentuk persahabatanmu setelah 10 tahun kemudian bersamaku…
… Tenten-chan?'
=3=
Untuk sejenak, Sakura terdiam sekaligus tercengang mendengar ucapan penuh keyakinan dari Sasuke. Bagaimana tidak. Ia ditembak… oleh orang yang sudah menghancurkan persahabatannya? Ia sendiri bingung, mau menjawab iya atau tidak. Meskipun sebagai orang yang setia kawan, ia harus tahu jawaban apa yang perlu ia ucapkan.
"Maaf."
Sakura melepas genggaman tangan Sasuke, lalu membuang mukanya dari hadapan Sasuke. Yang diacuhkan, hanya diam mendengar ucapan Sakura.
"Maaf… untuk apa?" tanya Sakura, seolah ia tak mengerti apa yang diu-capkan Sakura. Padahal, dibalik semua rasa bingung itu, ia mengerti apa maksud dari ucapan Sakura barusan. Ia hanya butuh penjelasan, ia hanya butuh alasan. Hanya itu, mudah kan?
Sakura menghela napas panjang, kemudian menatap Sasuke sebal. "Jangan sok keheranan begitu! Tanpa kuberitahu, kau pasti tahu apa maksudku!"
Dengan tubuh yang masih kurang kuat, Sakura bangkit dari ranjang pasien-nya dan berlari meninggalkan Sasuke dan ruang pasiennya. Sasuke yang hanya tinggal sendiri, hanya bisa menatap punggung Sakura yang semakin lama makin menghilang di kejauhan itu. Untuk sekali lagi, ia kembali mengepalkan kedua telapak tangannya.
Aku yakin, Tenten pasti ada kaitannya dengan masalah ini…
Drrt… Drrt…
Sasuke terdiam, kala mendengar sebuah suara dari saku celananya. Rupanya, ponselnya memberitahukan sebuah panggilan masuk yang ditujukan padanya. Sasuke mengambil ponselnya, dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Ia kaget, ketika melihat siapa yang meneleponnya saat ini.
Ryo Mitarashi. Incoming call.
Sasuke segera me-reject telepon masuk itu, dan mematikan ponsel itu. Dengan hati gelisah, ia bertanya-tanya akan keadaan Naruto dan Shikamaru saat ini. Sudah pasti… mereka dalam bahaya.
Ya Tuhan, apa yang perlu kulakukan?
Sasuke melangkah keluar dari ruang pasien, dengan segenap rasa bersalah yang memupuk di sela-sela hatinya. Baru kali ini, ia merasa seperti pecundang.
Merasa menjadi pecundang itu buruk.
.
.
.
Pagi yang amat cerah, membuat Konoha makin bersinar dan terang benderang dimanapun berada. Namun, tidak untuknya. Ia yang kemarin merasakan sakit, kini kembali merasa sakit di hatinya. Entah kenapa, sejak kejadian malam kemarin, gadis itu lebih memilih mengasihani diri sendiri dan berdiam diri sepanjang hari. Bahkan, saat Nenek Chiyo mengajaknya bercanda, ia hanya membalas lelucon itu dengan senyuman tipis.
"Ini."
Gadis itu menoleh, ketika mencium aroma cokelat yang sudah lama tak diciumnya sejak ia menginap di rumah sakit. Ia terdiam melihat segelas cokelat hangat berada tepat di hadapannya.
Ketika ia melihat siapa pemberi cokelat hangat itu, hatinya kembali remuk. Kenapa harus dia lagi?
"Taruh saja," balasnya singkat, lalu kembali menoleh kearah jendela ruang rawatnya. Lelaki beriris obsidian itu hanya bisa menghela napas panjang, melihat gadis yang ia cintai kini mengacuhkannya seperti ini. Ia kemudian menaruh segelas cokelat hangat yang dibuatnya diatas meja samping ranjang pasien, lalu keluar dari ruang pasien tersebut.
Blam…
Gadis itu menatap pintu ruang pasiennya, yang baru saja ditutup oleh lelaki itu. Ia memejamkan mata sebentar, kemudian menatap cokelat hangat yang tadi diberikan sang lelaki. Air matanya menggantung, kala ia mengambil gelas berisi cokelat cair itu, kemudian mencium aromanya. "Ha-harum…"
Bibir manisnya menyentuh mulut gelas, dan menerima aliran cokelat cair yang berada dalam gelas tersebut. Bersamaan dengan itu, aliran air mata mengucur dari iris emerald gadis itu.
"Ma-manis…"
=3=
Sementara, di dalam sebuah kamar…
Terlihat seseorang yang sedang berkutat dengan ruang tidurnya saat ini. Ia sedang membersihkan ruang tidurnya yang berantakan, serta kotor itu. Malu kan, jika seorang gadis sepertinya memiliki kamar pribadi yang kotor dan super berantakan?
DOK! DOK! DOK!
Gadis itu terhenyak, mendengar suara ketukan pintu yang terdengar kencang dan bernafsu itu. "Se-sebentar."
Ketika ia membuka pintu, bola mata cokelatnya melebar seketika. Ia menatap seorang lelaki berambut raven, yang sedang menatapnya dengan marah dan penuh emosi. Gadis itu mundur sedikit, agak takut dengan ekspresi dari lelaki tersebut. "A-ada apa, Sasuke-kun?"
"Kenapa Sakura membenciku?" tanya Sasuke to the point. Gadis itu meng-hentikan langkah mundurnya, mendengar kata 'Sakura' kembali diulang oleh lelaki itu. Rasanya, ia sudah memberi jarak antara lelaki itu dengan Sakura, kan?
"Tanyakan sendiri pada Sakura," jawabnya enggan, lalu berusaha keluar dari kamar pribadinya.
Ia kaget, ketika tangan kanannya dicengkeram begitu erat oleh Sasuke, bahkan pergelangan tangannya agak sakit akibat cengkeraman yang cukup kuat itu. "Sa-sakit, Sasuke…" lirihnya pelan sambil menahan sakit dari ceng-keraman kuat Sasuke.
"Kenapa Sakura membenciku?" Untuk sekali lagi, lelaki bersuara barithon di depannya mengulang pertanyaannya barusan.
Gadis bercepol dua itu menunduk, mendengar ucapan penuh amarah dari Sasuke. Ia yakin, Sasuke curiga akan perubahan sikap Sakura padanya akhir-akhir ini. Tapi, kenapa harus dia yang dicurigai? Kenapa… harus Tenten?
"Kenapa kau masih membelanya?" tanya Tenten balik, dengan suara serak. "Kenapa kau tak sadar, bahwa aku lebih mencintaimu dari gadis itu!"
Sasuke melepas cengkeraman telapak tangannya pada pergelangan tangan Tenten, kemudian menarik napas, menahan emosi yang sempat meledak di sela-sela bicaranya. "Tapi, bukan ini cara yang tepat untuk bersaing dengan Sakura."
Tenten mengangkat wajahnya, memperlihatkan wajah basahnya yang sempat ia sembunyikan. "Bahkan, kau tetap membelanya! BAKA!"
"Kalau seandainya bukan karena kau, aku juga takkan pernah bersikap sejahat ini padamu," kata Sasuke kejam, sambil menatap bola mata cokelat kepemilikan Tenten tajam, bahkan sangat menusuk. "Aku takkan pernah memaafkanmu, bila sosok Sakura masih seperti yang kudapat saat ini."
Lelaki itu berbalik, meninggalkan gadis bercepol dua yang sudah ia interogasi habis-habisan itu. Sementara Tenten? Tinggal air matalah yang menemani sakit hatinya saat ini.
Tak bisakah kau beri aku kesempatan, Sakura?
BRAK! BRAK!
DUK!
Kamar yang tadinya sudah cukup rapi dan bersih, kini kembali berantakan dan membludak kemana-mana, akibat perasaan berkecamuk dalam hati gadis itu. Kalau saja… kalau saja…
Sasuke tak pernah ada…
… ia takkan pernah mengkhianati sebuah arti persahabatan.
=3=
Sementara, di sebuah ruang pasien…
Ia dengan senyum manisnya menatap sebuah mahkota. Sebenarnya, dibilang mahkota pun rasanya bukan. Sebab, mahkota itu terlihat usang dengan bahan ranting-ranting pohon dan dedaunan yang dibuat lingkaran, serta sebuah rangkaian nama dari ranting yang sudah berantakan dan sulit dibaca lagi. Namun, ia tahu tulisan apa yang sebelumnya masih terangkai rapi dan indah itu. Ia juga tahu, siapa yang telah memberikan mahkota manis yang dibuat dari bahan alam ini… khusus untuknya.
TOK! TOK! TOK!
Ia menoleh kearah daun pintu, yang menimbulkan suara ketukan dari seseo-rang dibalik daun pintu ruang pasiennya. Dengan cekatan, ia sembunyikan mahkota ranting itu di dalam laci mejanya. "Masuklah."
Seorang wanita lajang masuk dengan anggunnya dan sebuah amplop ber-warna putih gading dalam genggaman tangan kirinya. Ia tersenyum tipis kepada Sakura, kemudian memberikan amplop putih itu kepadanya. "Ini hasil dari pemeriksaan sempel darahnya, kau bisa lihat keadaanmu disini. Aku belum sempat membacanya sih, kuharap kau memberitahu keadaanmu bila aku kembali kesini malam nanti."
Sakura tersenyum sambil menerima amplop putih itu, lalu mengangguk pelan. "Arigatou, Dokter," kata Sakura sopan. Wanita berambut hitam pendek itu mengangguk, lalu segera keluar dari ruang pasien tersebut. Kelihatannya, ia memang seorang wanita lajang yang begitu sibuk.
Blam.
Sakura menelan ludah, ketika memandangi amplop berwarna putih gading dalam genggaman tangannya saat ini. Perasaannya terasa kurang enak begitu ia melihat amplop itu, apalagi saat akan membukanya. Sakura mengembuskan napas rileks, kemudian membuka amplop penting itu.
Sakura Haruno. Positif. Leukemia.
Sakura terdiam, membaca isi dari laporan keadaannya itu. Dalam sedetik, perasaan dan fikirnya mulai kosong, dan mulai memahami keadaan yang ada.
"Aku… leukemia?" tanya Sakura tak percaya.
Berulang kali ia pejamkan mata dan kembali membaca hasil keadaannya. Tapi, ini sungguhan. Ia positif mengidap penyakit leukemia.
Sakura menghela napas panjang, kemudian memasukkan kembali kertas laporan itu ke dalam amplopnya semula. Ia menaruh amplop putih itu di dalam laci mejanya, memohon agar tak ada satupun orang yang dapat membaca isi dari laporan tersebut. Jika kalian lihat dengan teliti, sama sekali tak ada ekspresi kecewa atau sedih dari wajah cantik Sakura. Bahkan, ia terlihat santai dan menganggap penyakit yang diidapnya hanyalah suatu penghalang kecil dalam kehidupannya.
Untuknya, penyakit bukanlah penghalang kehidupannya saat ini. Kau mau tahu penghalang kehidupannya saat ini?
Cinta. Itu saja.
=3=
Hari semakin terang ketika seorang wanita masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan poster kesehatan, dan langsung duduk diatas sebuah kursi putar kepunyaannya. Ia memegang kepalanya pusing, lalu menatap puluhan berkas yang masih harus ia tanda tangani dan ia urus secara teliti. "Huh, dia mana sih? Harusnya sudah datang dari tadi!"
TOK! TOK! TOK!
Wanita lajang itu tersenyum, ketika mendengar suara ketukan pintu yang terdengar sopan dan hati-hati itu. Bingo!
Wanita bergelar dokter itu bangkit dari kursi putarnya dan membuka pintu ruang kerjanya. Tampak, seorang lelaki yang sudah siap dengan jaket dokter berwarna putih dan tas jinjing berwarna hitam dalam genggaman tangan kirinya. "Maaf aku terlambat, masih bisakah aku dapat kesempatan?"
"Pasti. Masuklah."
Wanita itu mengajak pemuda dari keluarga terpandang itu untuk duduk santai diatas sebuah kursi tamu, dan mempersilakannya membuka sebuah map yang dibuatnya khusus untuk sang pemuda yang masih pemula dalam hal kedokteran itu.
"Itulah jadwal kegiatan yang perlu kau lakukan selama aku pergi ke Singa-pura. Hanya tiga pasien yang perlu kau awasi disini. Ada Kiba Inuzuka, Naruto Uzumaki, dan satu lagi…"
"… Sakura Haruno."
=3=
Wush~
Semilir angin sore membuat helaian biru tua sang pemuda tergerai dan sesekali mengganggu pemandangannya. Ia terlihat begitu tekun mewarnai sebuah gambar yang memang mengingatkannya pada seseorang. Gambar seorang gadis bersurai merah muda yang tengah tersenyum manis dengan lekukan wajah yang cantik dan paduan warna merah muda yang menarik. Keahlian yang perlu diberi nilai A+.
Lelaki itu terkejut, ketika pundaknya secara sengaja ditepuk oleh seseorang. Lantas, ia berbalik dan menatap siapa sosok yang sudah mengganggu aktivitas penguras waktu tidurnya itu. Hanabi.
"Oh, ada apa?" tanya Sasuke datar, sambil terus memandangi gambar itu dan mewarnainya dengan amat tekun. Hanabi ikut memandangnya, dengan mata berbinar-binar. "Sasuke-nii, kenapa tadi nggak makan siang? Padahal, tadi Niisan juga belum sarapan," kata Hanabi kuatir, sambil menatap kan-tung mata yang sudah terbentuk dibawah bola mata onyx Sasuke.
Sasuke menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudian menatap lavender pucat milik Hanabi. Hangat dan… penuh perasaan.
"Nanti saja," balas Sasuke singkat, lalu kembali menekuni gambar yang sudah dibuatnya sejak kemarin itu. Entah sadar atau tidak, ia habiskan satu malam untuk membuat sebuah gambar yang menarik dan cukup sempurna seperti sekarang ini.
Sebenarnya, mau saja Sasuke mengikuti ucapan Hanabi yang terdengar cemas itu. Akan tetapi, ia tak mau gambar yang sudah dibuatnya berjam-jam itu dilalaikan dan sampai ia lupakan hanya untuk makan siang.
"Hanabi mengerti, Niisan mau membuat Neechan tersenyum. Tapi, kayak-nya nggak usah sampai membuat Niisan capek sendiri."
"Kau diam saja, aku bisa jaga diri kok."
Hanabi terdiam mendengar ucapan tak peduli Sasuke. Mengetahui Sasuke yang tak mau mendengar nasihatnya, Hanabi memilih bangkit dan berlari memasuki panti asuhan. Ia memang kurang suka berada cukup lama dengan orang yang tak mau memperhatikannya. Maklumi saja, hatinya sangat sensitif dan mudah tersentuh.
Drrt… Drrt…
Sasuke menghela napas panjang. Tadi Hanabi, sekarang siapa lagi yang akan mengganggunya?
Sasuke mengambil ponselnya, dan menatap siapa yang meneleponnya saat ini. Ia terdiam, melihat kata-kata yang sama seperti panggilan masuk sebe-lumnya.
Ryo Mitarashi. Incoming call.
Sasuke menekan tombol bergambar telepon berwarna hijau, dan mendekat-kan ponselnya ke telinganya dengan hati-hati. Ia tahu, ia harus siap dengan semua ini. Ya, ia tak bisa menghindar lagi. Ia tak boleh takut.
"Well, hallo disana, ada orangkah?"
"Kenapa meneleponku?"
"Kenapa? HAH! Jangan bodoh, aku mau menagih hutang taruhan balapan yang sempat kau setujui itu! Mana hutangmu? Aku menagihnya!"
"Aku tak punya uang saat ini."
"APA? TAK PUNYA UANG? Hei, margamu Uchiha, ingat? Marga Uchiha adalah marga tersukses di Konoha yang memiliki banyak uang!"
"Tapi aku tak bersama keluargaku saat ini, jadi artinya aku tak punya uang."
"Aku bukanlah orang yang sabar menunggu, JADI JANGAN MAIN-MAIN DAN SERAHKAN HUTANGMU SEKARANG JUGA!"
"Akan kuserahkan bila aku punya uang."
"Khukhukhu. Eh, mau tahu sesuatu tidak? Aku tahu kau ada dimana seka-rang lho. Di teras sebuah panti asuhan, kan?"
DHEG!
Sasuke kaget, mendengar ucapan penuh keyakinan dari orang bernama Ryo itu. Hatinya berdegup tak karuan, bahkan jantungnya serasa ingin copot mendengar pengakuan kuat dari Ryo. Apa? Ia sudah tahu lokasi Sasuke sekarang? Darimana? Dimana ia mengetahuinya?
Sasuke menaruh gambarnya, dan seketika bangkit mencari pandangan meneliti dari siapapun yang ditatapnya. Tatapannya berhenti ketika ia memandang seorang lelaki yang tampak menyeringai sambil memandang wajahnya.
"Jadi… bagaimana? Berubah pikiran?"
"Tolong, tunggu sampai aku bisa menghasilkan uang."
"Aku tak bisa menunggu, Sasuke!"
Trek!
Sasuke menekan tombol bergambar telepon berwarna merah, kemudian memandang kembali sosok yang sedang terkejut itu dari kejauhan. Ryo kaget, kemudian memandang Sasuke murka. Tak lama kemudian, ia memberi salam terakhir sebelum ia menghilang dari pandangan Sasuke, yaitu salam jari tengah.
Sasuke menghela napas melihat kepergian Ryo itu. Ia mengambil gambar yang tadi sempat ditekuninya itu, kemudian berlari memasuki panti asuhan.
BLAM!
Bunyi pintu tertutup amat kencang, menandakan bahwa ia benar-benar murka dengan keadaan yang terjadi.
Kenapa saat ia sudah merasa nyaman, Tuhan kembali menggantungkan posisinya?
Ia gundah.
Bingung.
Dan tersiksa.
=3=
Pagi berlanjut siang, siang berlanjut sore, sore berlanjut malam. Malam yang begitu kelam, menemani bintang untuk terus menyinari bumi meski-pun hanya menghasilkan sinar yang tak seberapa dibandingkan matahari. Untuk sementara, pemandangan yang cukup indah itu membuat gadis bersurai merah muda yang masih terjaga dari tidurnya itu merasa cukup nyaman dan merasa tak sendiri.
Ia menatap daun pintu, ketika mendengar suara ketukan kembali terdengar. "Oyasumi, masuklah."
Dari balik daun pintu, muncul seorang lelaki berjas putih dengan senyum khasnya memandang sang gadis. Gadis itu balas tersenyum tipis, kemudian mempersilakan sang calon dokter memasuki ruangan dan memeriksa keada-annya.
"Ehm, maaf," kata Sakura menyapa. "Ya?" balas sang dokter sambil duduk di samping Sakura dengan sopan.
"Biasanya yang datang kesini Dokter Shizune, kenapa jadi kau?" tanya Sakura bingung sambil menatap pemuda itu heran. Pemuda berlavender pucat itu tersenyum kecil, kemudian memandang emerald jernih milik Sakura.
"Kenalkan, aku Neji, dokter baru yang akan menggantikan Shizune selama ia bertugas di Singapura. Kuharap, kau bersedia."
Sakura terperangah dengan kesopanan dan rasa terhormat dari lelaki itu. Sakura pun mengangguk kecil, dan mempersilakan pemuda itu untuk duduk kembali. "Iya ya, aku bersedia."
#Author merasa seperti melihat acara janji pernikahan di gereja… =A=
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu? Shizune bilang, ia sudah memberikan laporan kondisi kesehatanmu tadi siang," kata Neji sambil menatap Sakura lekat. Sakura terhenyak.
"A-ano… itu…" jawab Sakura terbata-bata. "Aku hanya kecapekan, apa boleh aku pulang besok?"
Lelaki bermarga Hyuuga itu berpikir sebentar, kemudian mengangguk sambil tetap tersenyum ramah. "Kau Sakura kan? Sudah dibesuk orang tuamu?" tanya lelaki itu sambil sesekali membaca isi map yang dibawanya.
Sakura menggeleng pelan. "Orang tuaku sudah meninggal Dok, aku diurus Nenekku," kata Sakura berbohong.
"Panggil saja Neji, jangan dok."
"Oh, baiklah. Kenapa?"
"Kalau dipanggil dok… serasa seperti termasuk anggota hewan."
"Ahaha… kau bisa saja."
Sakura tertawa mendengar lelucon yang cukup garing dari Neji. Tak apalah, berpura-pura tertawa, paling tidak bercanda sedikit membuat rasa sakit di batin maupun fisiknya sedikit demi sedikit terobati.
Setelah bercakap sebentar bersama Sakura, Neji pun bergegas pamit untuk segera pulang.
"Arigatou, Neji," kata Sakura pelan sambil menatap kepergian Neji dari daun pintu. "Doitta-ne, Sakura," balas Neji tanpa menoleh sambil menutup pintu ruang pasien Sakura.
=3=
Pagi yang cukup cerah, menyinari Konoha yang kemarin malam sempat mencekam dan kurang bergairah itu.
Gadis itu kini sudah tak berbaring lagi, melainkan sudah duduk rapi dengan wajah sumringah dan senyum riang. Pakaian yang dikenakannya bukan pakaian berwarna biru steril lagi, melainkan kaus putih bersih dan jaket hijau muda serta celana jins cokelat selutut. Dan hati mungilnya itu kini sudah tidak berasa sakit lagi, melainkan senang dan bahagia.
Ia akan keluar dari rumah sakit, dan tinggal kembali di panti asuhan.
"Kau terlihat sangat bahagia, Sakura-chan," kata Nenek Chiyo sambil menatap teduh senyum yang tak urung terhias di wajah gadis belia itu. Sakura menatap Nenek Chiyo, kemudian tertawa kecil. "Entah kenapa, pulang dari rumah sakit serasa jadi kebebasan buatku."
Tenten yang ikut menjemput Sakura sepulang dari rumah sakit, hanya menatapnya malas kemudian menoleh kembali kearah jendela taksi.
"Tenten-chan," panggil Sakura riang. Tenten menatap Sakura, kemudian berdeham sebentar. "Apa?" tanyanya sinis, membuat Sakura agak takut berbicara bersama Tenten. "Um… malam ini aku tidur bersamamu ya? Sudah lama kita tidak tidur bareng."
Tenten menatap Sakura sekilas, kemudian menggeleng kecil. "Tidak."
Mendengar jawaban enggan dari mulut Tenten, Nenek Chiyo langsung menengahi mereka. "Ten, jangan berlaku cuek pada sahabatmu. Kenapa kalian seperti musuh, sih?"
"Siapa yang musuh? Kita baik-baik saja kok," kata Tenten bohong.
"Kalau begitu, turuti kemauan Sakura," kata Nenek Chiyo memohon. Tenten menghela napas panjang, kemudian menatap Sakura sebal.
"Iya, ya."
Huh, sebelum Sasuke baik lagi padaku…
… jangan harap kubisa berikan sikap baik padamu.
TOK! TOK! TOK!
Sambil menunggu pintu terbuka, Tenten menatap Sakura dari ujung kaki sampai ubun-ubun. Sakura terlihat berbeda. Walaupun wajahnya bersinar cerah, entah kenapa Tenten merasakan ada kebohongan dibalik senyum manis gadis emerald hijau itu. Sepertinya… Sakura menyembunyikan sesuatu.
"Iya, selamat da-"
Ucapan Sasuke terputus, ketika iris obsidiannya tanpa sengaja menangkap pandangan cantik seorang gadis yang sempat menjadi subjek gambarnya.
"… tang."
Nenek Chiyo mengangguk senang kepada Sasuke, kemudian berlalu masuk menuju panti asuhan. Begitu pula Sakura dan Tenten. Dengan sengaja, Sasuke mencegat Sakura masuk ke dalam panti.
"Ada apa sih?" tanya Sakura jengah, akan sikap Sasuke yang menahannya semena-mena itu.
"Tunggulah dulu di ruang keluarga, aku mau memberimu sesuatu," kata Sasuke pada Sakura, yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Sakura.
Sakura pun melangkah kecil menuju kamar dimana adik-adik kecilnya bermain dan tidur-tiduran di siang hari. Ia tersenyum senang, melihat kedelapan belas adik kecilnya tertidur dengan dengkuran halus, dan sebagian dari mereka mendengkur cukup keras.
Ia teringat akan pesan Sasuke barusan, kemudian meluncur menuju ruang keluarga.
Ketika ia sampai di ruang keluarga, ia melihat Tenten yang sedang duduk sambil menonton televisi malas. Langsung, ia ambil alih posisi di samping Tenten. Tenten yang tahu rivalnya duduk tepat di sampingnya, hanya bisa menggeser duduknya cepat dan memberi banyak jarak antaranya dengan Sakura. "Jangan dekat-dekat denganku!"
Sakura terdiam mendengar seruan kesal Tenten, kemudian memilih menikmati acara televisi daripada mementingkan kekesalan Tenten akibat-nya.
"Tenten-chan."
"Apa sih? Dari tadi manggil mulu."
"Gomen, tapi aku mau bertanya sesuatu."
"Iya, apa?"
"Sebenarnya, kenapa sih kau nggak bisa bersahabat lagi seperti dulu?"
Tenten kaku, entah kenapa seluruh tubuhnya bergetar begitu ia mendengar pertanyaan penuh kepolosan dari Sakura. Ia menoleh kearah Sakura, kemudian menghela napas sejenak. "Sebenarnya… aku memang merasa kurang nyaman dengan hubungan yang amat renggang begini."
Sakura tersenyum sumringah, mendengar ucapan jujur dari mulut Tenten. Langsung, ia menatap penasaran akan ucapan selanjutnya yang akan disampaikan Tenten.
"Tapi… aku punya satu syarat, agar kita bisa bersahabat karib lagi…"
"Hah? Apa itu? Pasti kupenuhi!"
"Janji?"
"Iya!"
"Kumohon, jangan dekati Sasuke lagi."
Sakura terdiam, mendengar ucapan memohon dari bibir manis Tenten. Tenten menatapnya kaku, seolah ia mengucapkannya dengan rasa takut walaupun ia memang seorang gadis pemberani. Sakura membuang muka dari hadapan Tenten sejenak, kemudian kembali menatap Tenten.
"Kalau hanya itu sih, aku pasti sanggup," kata Sakura dengan senyuman penuh bohong pada Tenten.
Tenten terkejut, ia segera mendekati Sakura. "Ka-kau yakin?" tanya Tenten penasaran, yang dibalas dengan anggukkan super yakin khasnya Sakura.
Gantian, sekarang Tenten yang tersenyum sumringah. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan jari kelingkingnya kearah Sakura. Sakura mengerti. Tenten ingin diberi salam persahabatan. Tanpa sungkan, Sakura menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Tenten. Tampak, wajah kedua gadis itu benar-benar ceria seperti sedia kala.
Maaf… tapi hanya berbohonglah satu cara agar persahabatan kita kembali…
TBC :D
.
.
.
Hyak, sebenarnya saya itu lagi males bikin fanfic, ini karena disuruh sama abang saya XO jadi hasilnya jeleeeek banget! DX
Last… do you wanna to review? X3
