Tittle: Strom of Love
Author: Bluedevil9293.
Chap: Epilog.
Rated: T.
Main Cast:
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Tan Hangeng
Kim Heechul
Choi Siwon
Kim Kibum
Genre: Romance, Angst.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boy Lover, Boy x Boy. Don't Like Don't Read.
Note: Dean Udah Bilang nggak suka nggak usah baca, jadi dean ga terima flame atau comment yang membetekan. Kalau ga suka ceritanya, ga suka pairnya, ga suka authornya atau apa lah itu mending jangan baca dari pada kamu dean sumpahin, mau? Yang ga comment Dean do'ain gagal… terserah mau gagal apa aja.
Disclaimer: This story pure make me.
*** Strom of Love ***
Kibum Pov…
Lima tahun berlalu setelah malapetaka terbesar dalam hidupku itu terjadi, perlahan semua mulai membaik walau kenangan masa lalu tak akan pernah lepas dari ingatan kami, membayang-banyangi kami di setiap mimpi malam, membuat kami takut, membuat kami menangis dengan sendirinya. Tapi semua yang sudah terjadi biarlah terjadi dan menjadi kenangan pahit masa lalu saja. Aku yang saat itu hancur pun mulai kembali meniti hidupku dari awal hingga akhirnya aku bisa berdiri dengan tegak disini tanpa bayang-banyang masa lalu yang menakutkan yang terus menghantuiku selama dua tahun pertama. Kini senyuman manis dan hangat bisa kembali ku rekahkan dibibir kecilku.
Tapi walau pun begitu aku tetap masih belum bisa melupakan semua kejadian di masa lalu itu, walau pun kini rasa sakitnya sudah tak terasa lagi tapi kenangan itu tetap terekam jelas di ingatanku. Kejadian saat aku di permainkan oleh namja yang ku suka, kejadian dia mana aku terus di terror hingga aku tak sanggup lagi memandang dunia dan kejadian penusukan berdarah di rumah sakit kala itu. Setelah kejadian penusukan yang dilakukan Hangeng hyung saat itu semua berakhir dan dimulailah babak hidup kami yang baru.
Hangeng hyung, namja yang merupakan kekasih hyung keduaku Heechul hyung dan juga pelaku penusukan lima tahun yang lalu, setelah kejadian itu Hangeng hyung membawa lari Heechul hyung entah kemana sampai akhirnya setahun kemudian akhirnya aku dan Jaejoong hyung mengetahui di mana keberadaan mereka. Hangeng hyung membawa Heechul hyung keluar dari korea dan menetap di New York. Kami mengetahui hal itu pun saat Heechul hyung mengirimi sebuah surat bersama selembar foto, foto yang di dalamnya terdapat gambar dirinya dan Hangeng hyung yang tampak bahagia bersama sesosok bayi mungil yang mungkin umurnya baru tujuh atau delapan bulan. Bayi itu sangat mirip dengan keduanya, dan memang benar kalau bayi itu anak keduanya. Aku dan Jaejoong hyung sempat kaget saat mengetahui hal itu, ternyata saat Hangeng hyung membawa Heechul hyung kabur dalam keadaan hyung cantikku itu tengah berbadan dua. Untung saja Hangeng hyung tak berbuat kasar padanya, dan aku pun yakin dia tak akan pernah bisa mengasari Heechul hyung karena cintanya yang begitu besar pada hyungku, seperti cintaku pada namja itu.
Dalam surat yang dikirimi Heechul hyung, Heechul hyung meminta dengan sangat padaku dan juga Jaejoong hyung agar menutup gugatan kami pada kepolisian atas kekasihnya yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya itu, Heechul tak mau terus hidup dalam pelarian karena status suaminya yang buronan kepolisian karena itulah ia meminta kami berdua menutup gugatan kami pada Hangeng hyung. Setelah mempertimbangkan semua dengan matang akhirnya aku dan Jaejoong menghapus gugatan kami demi Heechul hyung dan juga demi bayinya yang tidak berdosa itu, sungguh kasihan bayi itu kalau sampai ia tahu ayahnya seorang buronan kepolisian.
Yunho hyung, salah satu namja yang juga membuat hidupku hancur selain Hangeng hyung, namja yang juga murupakan kekasih dari hyung pertamaku, Jaejoong hyung, dan juga ayah dari kedua keponakan kembarku, namja yang terkena tusukan Hangeng hyung lima tahun yang lalu. Tusukan Hangeng hyung tepat mengenai jantungnya mengakibatkan ia kekurangan banyak darah hingga akhirnya meninggal dunia. Di saat Yunho hyung meninggal aku tak tahu apa aku harus merasa bahagia saat itu atau merasa sedih. Ya, aku tertawa dalam tangisanku di hari pemakamannya. Aku tertawa karena satu orang yang sudah membuat hidupku hancur malah menghancurkan dirinya sendiri, rasanya aku begitu senang saat itu karena tanpa harus turun tangan rasa sakitku sudah terbalaskan oleh kematiannya. Tapi aku juga menangis di saat yang bersamaan ketika aku melihat betapa rapuhnya Jaejoong hyung saat itu.
Jaejoong hyung tak berhenti menangis di setiap kali ia mengingat Yunho hyung dari saat dokter mengabarkan berita duka itu sampai beberapa minggu setelahnya hingga membuatnya terus drop dan harus bolak-balik masuk rumah sakit, dan di saat itu lah aku tahu kalau ternyata Jaejoong hyung tengah mengandung anak Yunho hyung, oh Tuhan cobaan apa lagi yang akan kau berikan pada kami setelah ini. Aku yang saat itu tengah dalam keadaan hancur pun tak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya selain hanya menatapnya dari jauh saja. Jaejoong hyung mulai meninggalkan kenangan pahit, berhenti menangis dan kembali menjadi Jaejoong hyungku yang dulu saat kandungannya berusia hampir empat bulan. Saat itu kondisinya sangat buruk dan semakin buruk dengan kesedihanya itu hingga mempengaruhi kandungannya. Berulang kali ia masuk rumah sakit, berulang kali ia mengalami pendarahan hebat yang hampir membuatnya kehilangan satu-satunya titipan Yunho hyung untuk yang terakhir kalinya. Bahkan dokter sudah menyarankan agar Jaejoong hyung mengugurkan kandungannya saja mengingat kondisinya yang terlalu parah, tapi ia tak mau dan karena itulah Jaejoong hyung mulai kembali bangkit, demi anaknya yang sudah Yunho titipkan di dalam tubuhnya.
Siwon hyung, namja yang sudah berhasil mencuri hatiku sejak pertama kali kami bertemu di hari penerimaan siswa baru dan juga namja yang sudah menghancurkan hidupku dengan perbuatan kejinya padaku bersama kedua saudara sepupunya itu. Setelah kejadian penusukan yang Hangeng hyung lakukan padanya dan juga Yunho hyung, Siwon mendapatkan satu tusukan pada ulu hatinya hingga membuat ia harus menerima perawatan intensif selama hampir dua minggu di rumah sakit.
Setelah kejadian itu, Jaejoong hyung melaporkan Siwon hyung pada kepolisian hingga akhirnya ia harus mendekam di tahanan. Jaejoong hyung sebenarnya kurang puas dengan hukuman yang hakim berikan pada Siwon hyung karena namja tampan tadi hanya mendapat hukuman penjarra selama lima tahun saja dan juga denda uang yang tak terlalu besar. Siwon hyung masih keturunan orang kaya jadi mudah bagi dia untuk memainkan keadilan seperti itu dan itulah yang membuat Jaejoong hyung kurang puas. Tapi untukku setidaknya itu sudah lebih dari cukup karena dia masih menerima hukuman tidak seperti Hangeng hyung yang terus menjadi buronan kepolisian selama lima tahun ini.
Lima tahun sudah berlalu dan yang sudah terjadi biarlah menjadi kenangan saja, aku ingin memulai semua kehidupanku yang hacur dari awal. Dan kalau boleh jujur selama lima tahun ini aku masih terus mencintai dia, Siwon hyung, terlepas dari semua kesalahannya di masa lalu. Karena itulah disini aku berada kini, di depan sebuah kantor polisi terkenal di Seoul, menunggu dengan sabar sosok namja yang akan keluar dari dalam sana cepat atau lambat karena hari ini hari kebebasan Siwon hyung setelah lima tahun mendekam di dalam jeruji tahanan.
_o0o_
Choi Siwon, namja yang sudah lima tahun berada di dalam sel tahanan karena semua kesalahannya di masalalu, tampak mulai berjalan keluar dari sebuah kantor polisi yang menjadi tempat ia di tahan selama ini. Ia tahu tak aka nada yang bisa menyambutnya keluar dari tahanan karena kini ia hanyalah anak yatim piatu dengan begitu banyak dosa dan kesalahan di masa lalu, kalau dulu ia masih memiliki Yunho dan Hangeng yang menjadi saudara terdekatnya tapi kini ia benar-benar sendiri, Yunho meninggal lima tahun yang lalu dan secara tak langsung ialah penyebab dari kematian sepupunya tadi lalu Hangeng yang ia yakini pasti sangat membencinya sampai detik ini. Siwon benar-benar merasa kesepian lima tahun ini apa lagi selama di dalam tahanan tak ada satu pun orang yang pernah mengunjunginya, jadi ia yakin saat ia keluar pun tak akan ada orang yang perduli pada dirinya lagi.
Tapi ternyata pemikirannya tadi salah saat ia benar-benar sudah berada di luar kantor polisi langkah kakinya pun terhenti saat melihat sosok kecil namja cantik itu yang tengah berdiri di pinggir jalan sana sambil menatap kearahnya. Entahlah bagaimana perasaan Siwon saat ini, terharu, sedih, sakit, bahagia, senang semua bercampur menjadi satu membuat ia tak tahu lagi perasaan mana yang lebih dominan ia rasakan saat ini. Siwon tahu pasti siapa sosok namja cantik tadi yang sudah lima tahun ia tak pernah lagi ia lihat atau pun ia dengar kabarnya. Sosok itu yang tak lain adalah Kim Kibum, hoobae-nya lima tahun yang lalu dan juga namja yang sudah ia hancurkan masa depannya.
Perlahan Siwon berjalan mendekati Kibum dengan perasaan ragu, ia takut kalau ia mendekati namja cantik tadi yang ada malahan namja cantik itu malah pergi meninggalkannya, ia sadar dengan kesalahan dan kebodohan yang ia lakukan lima tahun yang lalu, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi langkahnya menjadi pasti saat ia juga melihat Kibum berjalan mendekatinya dengan wajah datarnya, rasa takut itu masih sedikit ada, ia takut Kibum masih membencinya sampai detik ini dan membuat rasa bersalahnya semakin besar.
"Ki-Kibum." Ucap Siwon ragu saat jarak di antara keduanya tinggal tiga langkah lagi, Kibum tersenyum sebagai balasan, senyuman manis yang sudah tak pernah ia lihat lagi dan juga senyuman yang membuat dadanya bergetar.
"Akhirnya hyung keluar juga dari dalam sana." Ucap Kibum membuat Siwon terdiam terpana dengan berjuta pertanyaan berputar-putar di dalam otaknya. Perlahan setitik air mata menetes dari mata Siwon melihat senyuman tulus di bibir Kibum yang pernah ia rengut dulu.
"Nde, lama tak melihatmu Kibum." Ucap Siwon bahagia sambil menyeka air matanya yang entah kenapa semakin deras mengalir seolah-olah tak akan bisa berhenti mengalir lagi.
"Kau tampak sehat hyung walau sedikit kurusan dan… tidak terawat." Ucap Kibum santai dengan senyuman manis di bibirnya. Siwon terdiam, ia benar-benar binggung harus berkata apa lagi. Perasaan takutnya tadi kini sudah berubah menjadi sebuah rasa bahagia yang begitu besar.
"Kibum." Panggil Siwon dengan nada seraknya.
"Nde?" Balas Kibum heran.
"Aku mohon maafkan aku, aku tahu dosaku padamu sudah telalu besar dan aku tak layak untuk mendapatkan kata maaf lagi darimu, tapi aku sangat mengharapkan kata maaf itu darimu." Ucap Siwon sambil berlutut di depan Kibum membuat namja cantik tadi kaget dan menutup mulutnya.
"Bangunlah hyung, malu di lihat orang." Ucap Kibum sambil melirik kearah orang-orang di skeitarnya yang menatap heran pada keduanya.
"Aniya, aku akan terus begini sampai kau benar-benar memaafkanku." Kekeh Siwon, Kibum menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Siwon dan berlutut di depan namja tampan tadi sekedar untuk menyamakan tinggi keduanya. Kibum merengkuh wajah Siwon dengan keduanya tangan kecilnya dan menghapus air mata yang masih terus menetes.
"Aku sudah memaafkanmu hyung." Jawab Kibum tulus membuat air mata Siwon kembali mengalir deras. Tampak lemah memang, tapi Siwon benar-benar tak bisa menahan rasa bahagianya lagi.
"Gomawo Kibum, gomawo."Ucap Siwon sambil meraih tangan Kibum dan mengecupnya berkali-kali membuat Kibum terkekeh pelan melihat tingkah kekanak-kanakan Siwon tadi.
"Nde, hyung, sudah jangan begini malu di lihat orang-orang." Ucap Kibum sambil membawa tubuh Siwon berdiri lalu tersenyum manis pada namja tampan tadi membuat jantung Siwon berdetak kencang.
"Kibum." Panggil Siwon.
"Nde?" Jawab Kibum heran.
"Maukah… maukah… kau memulai semuanya dari awal denganku?" Tanya Siwon membuat Kibum terkejut, Siwon yang melihat keterkejutan Kibum langusng menundukan kepalanya. Ia yakin pasti Kibum akan melolaknya mana mau Kibum memulai semua dari awal dengan namja yang sudah menghancurkan hidupnya. Seharusnya kau sadar diri Siwon, kau pikir siapa kamu itu? Hanya namja yang penuh dengan dosa tahu.
"Nde, hyung aku mau." Jawab Kibum yang gentian membuat Siwon terkejut. Siwon pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Kibum tajam mencoba mencari kebohongan dari mata namja cantik tadi.
"Benarkah kamu… Mau?" Tanya Siwon ragu mencoba memastikan, Kibum menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis membuat dada Siwon semakin berdesir senang.
"Kau mau pulangkan hyung, kajja aku antar?" Ajak Kibum yang sudah melangkahkan kakinya di depan Siwon. Siwon pun segera menyusul dan mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Kibum, perlahan dengan sedikit ragu ia mencoba meraih tangan kiri Kibum untuk ia gengam. Kibum tak menunjukan tanda-tanda berontak saat tangan kecil Kibum berada di dalam gengamannya dan hal itu membuat ia terlonjak bahagia.
_o0o_
"Hoek… Hoek… Hoek…" Dari dalam sebuah kamar mandi yang ada di sebuah bangunan apartemen yang tak bisa di bilang sederhana di tengah-tengah padatnya kota New York terdengan sebuah suara aneh seperti orang yang sedang muntah dan memang benar di dalam kamar mandi tadi tengah berada seorang namja cantik yang sedang sibuk membuang isi di dalam perutnya yang sudah kosong hingga hanya cairan putih saja yang berhasil ia keluarkan. Setelah membasuh bibirnya namja cantik tadi pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Kakinya terus berjalan membawa ia menuju sebuah ruang makan di samping dapur apartementnya.
"Habis muntah lagi nde?" Tanya sesosok namja tampan pada namja cantik tadi yang tak lain adalah Hangeng dan Heechul. Heechul menganggukan kepalanya pelan seraya mendudukan tubuhnya di salah satu kursi kayu yang melingkari meja makan. "Kau ingin sesuatu?" Tanya Hangeng pada sang isteri.
"Aniya, perutku tak enak rasanya gege." Balas Heechul manja.
"Cobalah untuk makan walau Cuma sedikit." Rayu Hangeng pada Heechul yang saat ini tengah mengandung anak kedua mereka, kandungan Heechul baru memasuki bulan pertama hingga membuat namja cantik tadi masih sering terkena morning sickness.
"Aku tak mau makan kalau nantinya akan ku buang lagi bukankah itu percuma saja." Balas Heechul muram.
"Cobalah makan ini walau Cuma sedikit." Ucap Hangeng sambil memberikan beberapa potong buah pada Heechul, Heechul Cuma menganggukan kepalanya dan mulai memakan buah-buahan tadi. "Makanlah, aku mau ke kamar dulu melihat Hee Kyung sudah bangun atau belum." Ucap Hangeng yang langsung beranjak pergi meninggalkan Heechul. Tak lama namja tampan berparas China tadi kembali menemui sang isteri dengan seorang anak laki-laki berusia empat tahun di dalam gendongannya.
"Mau umma." Ucap Hee Kyung, anak yang Hangeng gendong, sambil merentangkan tangannya pada Heechul. Heechul pun segera mengambil Hee Kyung dari suaminya.
"Pagi Baby." Ucap Heechul sambil mengecupi wajah anaknya bertubi-tubi.
"Umma bau." Ucap namja kecil tadi membuat Hangeng tertawa kecil dan Heechul yang langsung mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang tengah ngambek.
"Kamu juga bau baby." Ucap Heechul sambil mengelitiki pinggang anaknya.
"Sudah Chullie jangan di kelitiki terus, nanti dia nangis." Ucap Hangeng pada Heechul yang langsung menghentikan aksinya tadi.
"Umma, mau susu." Ucap Hee Kyung sambil menepuk-nepuk dada Heechul.
"Ycak! Kau ini sudah besar baby dan bahkan hari ini hari pertamamu masuk ke taman kanan-kanan." Protes Heechul pada anaknya yang malah merengut lucu.
"Mau susu." Rengek Hee Kyung.
"Arra… Arra… Arra… Poppo umma dulu." Pinta Heechul sambil menunju bibirnya yang tentu saja langsung di kecup oleh anak laki-lakinya tadi.
"Susu umma." Rengek Hee Kyung lagi.
"Aish… Arra…" Ucap Heechul yang langsung menyingkap bajunya dan memberikan nipple kirinya pada sang anak yang tampak senang menghisapi nipplenya tadi. Tak jauh berbeda dengan sang suami, batin Heechul.
"Setelah adikmu lahir kau tak boleh menyusu pada umma lagi ya." Ucap Hangeng sambil mengusap kepala anaknya pelan. Hee Kyung melepas nipple Heechul sesaat untuk menjulurkan lidahnya pada Hangeng membuat Heechul tertawa pelan dan Hangeng yang berdecak kesal.
"Dia sama saja denganmu tahu." Ucap Heechul pada Hangeng yang langsung mendapat kecupan manis di bibirnya. "Nakal." Heechul memukul lengan Hangeng pelan dengan wajah yang memerah malu.
"Kau itu manis, jadi jangan lahakan kami kau menyukaimu." Bisik Hangeng di telinga Heechul membuat namja cantik tadi tersipu malu apa lagi saat Hangeng kembali mengecup bibirnya sebelum akhirnya namja tampan tadi menghilang di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga.
_o0o_
"Aku datang lagi Yunnie." Ucap seorang namja cantik yang tak lain adalah Jaejoong sambil meletakkan sebuket lili putih di atas batu nisan Yunho, namja yang sudah memberinya dua malaikan kecil yang sangat tampan seperti duplikan dari namja yang di cintainya tadi, setelah meletakkan buket bunga tadi Jaejoong tampak mulai berdoa di depan makan Yunho.
"Tak terasa lima tahun berlalu Yunnie, Youngmin dan Kwangmin kini tubuh dengan sehat kau tahu? Andai kau juga ada di sini menyaksikan mereka berdua tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan pintar sepertimu." Ucap Jaejoong dengan air mata yang mulai mentes deras.
"Aku mencintaimu Yunnie, aku ingin bersamamu dimana pun kau berada kini. Tapi aku sadar untuk saat ini kita masih belum bisa bersatu karena Youngmin dan Kwangmin masih membutuhkan aku ada di sini mereka, bisakah… bisakah kau bersabar menungguku sampai saat itu tiba Yunnie? Aku berjanji tak akan ada yang lain selain dirimu." Ucap Jaejoong sambil menundukan wajahnya membua tetesan krystal cair tadi menetes membasahi permukaan nisan Yunho yang tertampang wajah namja tampan tadi di sana. Perlahan Jaejoong menghapus air matanya yang masih mengalir tadi dengan kedua ibu jarinya.
"Kau tahu Yunnie, dia keluar dari tahanan hari ini. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku masih membencinya. Karena dia kita terpisahkan, karena dia anak-anakku tak memiliki appa lagi." Jaejoong terdiam sesaat masih dengan isakannya. "Tapi aku tak bisa terus begini Yunnie, Kibum… Kibum masih menyukai namja itu. Apa yang harus ku lakukan? Beritahu aku Yunnie, aku bingung." Ucap Jaejoong yang kembali terisak kencang.
"Umma, masih lamakah?" Tanya sesosok namja kecil yang usianya masih empat tahun. Jaejoong yang menyadari keberadaan sang anak pertamanya, Youngmin, pun langsung menghapus air matanya dan menatap kearah anaknya tadi.
"Sebentar lagi sayang? Diama Kwangmin?" Tanya Jaejoong pada sang anak.
"Bermain di sebalah sana." Jawab Youngmin sambil menunjuk kearah tempat dimana mobil mereka terparkir.
"Kemarilah, beri salam pada appa-mu." Ucap Jaejoong, Youngmin pun beranjak medekati ummanya tadi.
"Annyoung appa, aku dan umma datang lagi tapi anak bodoh satu itu entah dimana sekarang dia malah asik bermain sendirian." Ucap Youngmin pada makan Yunho membuat Jaejoong tersenyum kecil melihat tingkah anaknya tadi.
"Umma." Teriak seorang namja kecil sambil berlari mendekati Jaejoong dan Youngmin.
"Paboya, jangan berteriak seperti itu." Ucap Youngmin sambil memukul kepala Kwangmin pelan membuat namja yang lebih muda lima belas menit darinya tadi medengus kesal mirip sekali dengan Yunho, pikir Jaejong dalam hati.
"Sakit hyung." Ucap Kwangmin sambil mengelus kepalanya yang tadi di pukul oleh sang hyung.
"Sudah, sudah jangan bertengkar di depan appa, tak baik. Sebaiknya sekarang kita berdoa untuk appa sebelum kembali, umma harus kekantor siang ini." Ucap Jaejoong pada kedua anaknya yang menganggukan kepala mereka pelan. Ketiganya pun tampak mulai berdoa lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan makam Yunho.
"Umma.' Panggil kawangmin saat ketiganya menuruni tangga-tangga yang ada di daerah pemakaman tadi.
"Nde, waeyo?" Tanya Jaejoong yang berjalan diapit oleh kedua anaknya tadi.
"Tadi aku bertemu seseorang yang sangat… tampan. Dia bilang kalau umma cantik dan aku serta Youngmin hyung lucu. Lalu orang itu juga mengatakan kalau umma jangan bersedih lagi, kalau umma bersedih nanti ada orang yang menunggu umma dengan sedih pula." Ucap Kwangmin membuat Jaejoong terdiam.
"Baboya, kenapa kau bicara pada orang aneh begitu sih." Ucap Youngmin sambil memukul kepala sang adik lagi.
"Yack! Hyung suka sekali sih memukul kepalaku." Protes Kwangmin hingga terjadi adu mulut diantara keduanya. Jaejoong masih terdiam sambil menatap kearah makan Yunho lalu tersenyum manis.
"Saranghae Yunnie." Ucap Jaejoong sebelum akhirnya menenangkan kedua anaknya yang tengah bertengkar tadi tanpa mengetahui ada sesosok namja yang tengah tersenyum manis padanya sambil berbisik lirih.
"Nado saranghae Jae."
*** Fin ***
