Tatapannya menjadi kabur, samar-samar ia melihat sang lawan tersenyum sinis. Ia tak dapat menopang tubuhnya lagi.

BRUK!

Tanpa pertahanan tubuh sang juara bertahan ambruk, terlentang begitu saja di arena tinju. Para penonton berteriak histeris. Teriakan kecewa menggema. Memenuhi ruang yang syarat akan kerasnya dunia ini.

"Tamatlah kau perempuan jalang!" Ucap wanita yang menjadi lawannya itu lantang sembari meludah ke arah sang bintang yang sudah tidak berdaya itu.

.

.

Secret

.

.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Pain © ZoJu

Warning: Violence, Sad, Gaje, OOC, AU, Hancur, Typo bertebaran, alur lambat dan sebagainya.

Pair: SasuSaku

.

.

.

"Sakura.., Sakura.., kemarilah…"

"Nii-san…"

"Iya, kemarilah…."

"Nii-san, aku- Tunggu,jangan pergi.."

"Nii-san!"

Clap.

Kelopak matanya membuka lebar. Gadis yang menyandang nama bunga terindah di Jepang itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Bola mata emerald itu bergerak dengan cepat, mencari sosok yang sangat dirindukan. Tak ada siapapun di sana.

"Hufth…" Ia menghela nafas panjang –menyadari bahwa itu hanyalah rutinitas alam bawah sadarnya –mimpi.

.

.

.

Amegakure

06.00

"Aw, sshh…," Gadis itu meringis kesakitan saat berusaha bangun dari tempatnya dibaringkan. Perutnya serasa diikat dengan kencang. Keram dan nyeri menjalar dengan cepat ke seluruh bagian tubuhnya. Dengan susah payah gadis bermahkotakan soft pink itu berusaha bangun.

'Ini…,'

Sakura mengamati sekeliling ruangan yang sekarang di tempatinya. Ruangan dengan lapisan cat berwarna cream teduh, sebuah tiang dengan botol infuse yang menggantung, aroma obat-obatan yang sangat kuat dan pergelangan tangannya…

"Ah, Rumah Sakit?" Gumam gadis itu, bertanya pada dirinya sendiri.

Ia berusaha mengingat-ngingat kejadian sebelumnya, merangkai kembali memori yang sempat terlewati. Dia mengingatnya.

'Aku terjatuh dan kemudian…'

'Tamatlah kau perempuan jalang!'

Kepalanya tertunduk dalam sekali, jelas terdapat penyesalan yang amat sangat. Tidak. Ia tidak seharusnya berada di sini, seharusnya ia memenangkan pertandingan itu –pikirnya.

"Aw..," Gadis itu meringis lagi, kali ini rasa sakit berasal dari pelipisnya. Tangannya terangkat, mencoba menyentuh pelipis yang sepertinya –dibalut sesuatu – namun terhenti saat telinganya merenspon langkah kaki yang kini berhenti tepat di hadapannya.

"Rise..,Rise…, apa yang sebenarnya terjadi?" Suara baritone yang terdengar sedikit serak itu mengagetkan Sakura.

Iris emerald-nya menatap pria yang selalu tanpa ekspresi itu tajam, namun tatapan itu rapuh begitu saja oleh charisma yang dimilikisang pria. Sakura memalingkan wajahnya dari tatapan sang pria. Pria dengan balutan setelan jas karya Armani itu sekilas menyungginkan senyum. Mengambil langkah lebih dekat pada bagian tepi ranjang.

"Kenapa? Kenapa hari ini kau begitu mengecewakan ku?" Tanya pria itu lembut. Namun nada suara berat itu terdengar sarkastis di telinga Sakura.

"Kau tahu, berapa banyak kerugian yang ku alami?" Sekali lagi pria itu bertanya " Yah, tentu kau tahu."

Sakura masih tetap membisu. Pria itu menunduk mendekat pada Sakura, membelai lembut wajah gadis petinjunya. Jemari besar itu menyusuri tiap lekuk wajah Sakura. Wajah yang tadinya lembut, putih tanpa noda kini harus dihiasi ruam biru dan luka yang sudah ditutupi perban.

Sakura menahan rasa sakit setiap kali jemari pria itu bergerak. Dengan kasar ia memalingkan wajahnya menghindari sentuhan dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Akan tetapi pria itu malah menempatkan wajahnya tepat di telinga Sakura.

"Jangan. Jangan kecewakan aku lagi…" Bisik sang pria –seperti sebuah perintah yang harus ditaati.

"Kau tau kan? Apa yang akan terjadi bila ini terulang lagi?" Pertanyaan yang lebih mirip ancaman itu cukup menggertakan hati gadis petinju itu.

Berat sekali baginya untuk menggerakan wajah mungil yang kini tampak menyedihkan. Namun, gadis dengan warna rambut yang amat disukai kebanyakan kaum hawa di bumi ini memaksakan dirinya, menggerakan wajahnya sekali ke atas dan sekali ke bawah –mengangguk mengerti. Yah, dia harus tetap menurut pada pria ini. Untuk satu tujuan yang selalu ingin di realisasikannya, balas dendam.

"Gadis manis." Ucap pria yang memiliki goresan panjang di bawah kedua matanya, licik.

Pria dengan tatapan kelabu itu mengangkat tubunya, kembali pada posisi semula. Mata itu tak sedikit pun lepas dari pandangan gadis di hadapannya. Masih, tak ada emosi yang terbaca dari pria itu.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Aku ingin masuk!"

Keributan terjadi tepat di depan ruang inap yang di tempati Sakura. Dua orang pengawal berusaha menahan seorang pemuda keras kepala biang keributan yang cukup menarik perhatian beberapa orang di koridor Rumah Sakit.

"Tidak, tidak bisa!" Halang salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu masuk.

"Ayolah, aku tidak ingin menyakiti kalian." Bujuk pria itu, namun para pengawal tetap kekeh, tidak memberinya jalan.

"Ah, begitu ya… Baiklah." Kali ini pemuda dengan rambut blondie yang dikuncir itu melunak. Ia berbalik hendak pergi, namun dengan gerakan cepat kembali menerobos para pengawal –tangannya menggengam sebuah alat – entah apa itu.

GREP!

Kedua pengawal itu bekerja dengan baik, dengan cekatan menahan kedua tangan sang pemuda. Tapi apa yang terjadi? Tiba-tiba saja salah satu pengawal berjas itu seperti di sengat sesuatu –beraliaran listrik – tubuhnya sedikit berguncang, cengkramannya pada tangan kiri pemuda itu menjadi luruh.

"Hey, Kenapa kau?" Tanya pengawal satunya panik melihat temannya yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri, terjatuh tepat di kaki sang pemuda.

"Apa yang kau lakukan pada-"

GRET!

"Arrghh!"

Memanfaatkan keadaan yang lengah, pemuda itu menarik dasi sang pengawal sampai tercekik. Melihat pria itu tidak berdaya lagi, dilepaskannya dasi itu dari tangannya.

Dengan cepat pemuda bernama Deidara itu membuka pintu kamar tersebut. Melesat masuk. Deidara berbalik melihat kedua pengawal sembari berkata "Sudah ku peringatkan, aku tak ingin menyakiti kalian. Tapi, mau bagaimana lagi…huh..,"

"Ada apa ini?" Suara datar milik pria dengan ikatan ponytail terdengar lagi.

"Itachi..," Deidara mengucapkan nama itu dengan kesal. Matanya terlihat –seakan berkilat saat melihat pria yang selalu mampu menguasi diri tersebut masih membelakanginya.

Sementara itu, dengan nafas terengah-engah pengawal yang tadinya tercekik tersebut, berusaha mengikuti Deidara sembari melonggarkan dasi yang sempat membuatnya kerepotan. Ia berhasil menarik tangan pemuda blondie itu dengan kasar, namun tak ada perlawanan dari pemuda yang sekilas terlihat feminine itu.

.

.

.

Deidara terperangah saat kornea matanya menangkap sosok gadis yang terduduk di atas ranjang dengan wajah yang sungguh tak ingin di pandangnya. Sakura tertunduk, bersikap seakan tidak peduli dengan kehadiran lelaki yang saat ini menjadi tempatnya bertumpu itu.

"Tuan dia…"

Pria dengan helaian rambut hitam yang dibiarkannya membingkai wajah dingin itu menoleh, melihat siapa yang sudah berani menggangunya. Ia tidak terkejut, saat mendapati pemuda dengan warna rambut kuning cerah itu berdiri tak jauh darinya.

"Lepaskan!" Bentak Deidara pada pengawal itu, namun pengawal itu tak bergeming.

"Lepaskan dia, Kisame," Pinta pria bernama Itachi itu masih dengan sikap khasnya yang tenang.

"Tapi, tuan…"

"Kau tidak dengar yang dikatakanya? Lepaskan!" Jelas Deidara –menarik tangannya dengan kasar sembari memperbaiki kemeja yang melekat pada tubuh atletisnya.

"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Dia masih belum siap untuk pertandingan ini!" Kata-kata yang keluar dari bibir mungil itu terdengar penuh amarah, "Bahkan, ia belum pulih sepenuhnya dari pertandingan sebelumnya. Tapi sekarang kau malah memperparah keadaan," Lanjut Deidara dengan emosi yang meluap-luap.

"Pelankan suara mu Deidara, ini Rumah Sakit," Itachi, pria pemilik iris dark grey itu dengan santai menyuruh Deidara memelankan suaranya. Ia tidak suka dengan keributan.

Memang, raut wajah Itachi selalu terlihat tanpa ekspresi. Namun tatapan pria itu, tajam dan dalam, seperti sedang menyelidiki "Kau sangat mencurigakan, beberapa hari ini aku tidak melihat mu, kemana saja kau?" Tanya Itachi, ada guratan curiga dari tatapan tajamnya.

"Begitukah? Di mana aku berada, kemana pun aku pergi itu sama sekali bukan urusan mu" Jawab Deidara

"Sekarang tolong jelaskan, kenapa Sakura bisa bersama mu? Apakah kau memaksanya? Mengancamnya?"

"Apa yang kau bicarakan?" Itachi menggerakan bibirnya sedikit –entah itu senyum atau bukan– mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan Deidara padanya "Dia datang kepada ku, memohon ingin melanjutkan pertandingan ini," Jelas Itachi " Dan.., tak ada yang bisa kulakukan selain menerimanya dengan senang hati." Lagi, pria itu menjawab tanpa ekspresi.

"Huhh, kau ingin aku percaya? Sakura katakan yang sebenarnya?" Tanya Deidara beralih pada gadis bermata zamrud itu.

Sakura menyisir rambut pink pucat yang terlihat lusuh itu dengan jemarinya. Mengatur kata-kata yang kiranya tepat untuk diucapkan " Aku.., yang menginginkannya," Jawaban singkat yang dilontarkan Sakura membuat Deidara tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Sesaat gumaman tak jelas terlontar dari pria berkuncir itu. Sakura tahu pasti bahwa pria dengan warna rambut secerah bunga matahari itu sedang merutuki dirinya.

Ingin mengatakan sesuatu tapi seakan otak Deidara tak merenspon adanya kosa kata yang bisa diucapkannya, yang bisa dilakukannya saat ini hanya mengacak-acak poni yang menjuntai di keningnya.

Hening…

.

.

.

"Baiklah, bagaimana kalau kubiarkan kalian bercengkrama dulu?" Setelah keheningan yang cukup lama akhirnya Itachi angkat bicara. Pria yang selalu terlihat tenang itu memberi isyarat pada pengawalnya untuk pergi. Sang pengawal menundukan kepalanya –mengiyakan perintah tuannya – dengan cepat membuka pintu sembari memapah rekan kerjanya yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri akibat ulah Deidara.

Perlahan Itachi berjalan melewati Deidara yang masih termenung. Langkah kaki khas sepatu pantofel itu berhenti tepat di depan pintu keluar. Ia menoleh menatap gadis yang masih terduduk di pembaringan dengan ukuran minimalis itu.

"Sakura, kau tahu?" Tanya Itachi, namun dengan cepat Itachi kembali menjawab pertanyaan yang di buatannya sendiri "Kau sangat beruntung, karena kau…berbeda dengan kakak mu. Aku suka itu." Ucap pria itu kemudian.

Kedua alis gadis itu saling bertauatan, seperti ada sesuatu yang menghambat dalam rongga dadanya. Sesak yang ia rasakan. Sungguh, ia tidak suka dengan ucapan itu. Ia mengepalkan kedua tangannya, menekan jemarinya kuat, ingin sekali saat ini ia mendaratkan tinjuan pada wajah pria yang pernah menjadi partner kakaknya. Tapi itu hanyalah keinginan yang harus dipendamnya –yah, tidak untuk saat ini.

"Jagalah Rise ku dengan baik, Deidara." Kata-kata tersebut menjadi pesan terakhir pria bermata abu-abu gelap itu, sebelum ia melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu.

"Huh, lucu sekali." Ujar Deidara tersenyum geli.

.

.

.

Deidara menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia menghembusnya perlahan.

"Baiklah...," Kata ini menjadi kata pertama –membuka kembali percakapan yang sempat lama tertunda – sebelum akhirnya pertanyaan yang memberondong keluar dari mulutnya.

"Apa kau sudah tidak waras? Ingin cepat mati? Aku tahu kau gadis yang sangat kuat, tapi kau…," Deidara berhenti sejenak memperhatikan gadis petinju itu. Dari mata sampai dagu lancip milik gadis bermata zamrud itu. Wajah itu hampir tidak terlihat seperti wajah seorang gadis manis yang dikenalnya.

Perlahan ia mendekat membelai lembut rambut merah muda yang tampak lusuh "Kau sudah melampaui batas kemampuan mu Sakura. Kenapa kau tidak bisa menunggu lebih lama lagi?"

Pelan Sakura menepis tangan kekar itu, mencoba untuk bangun "Berhentilah. Kau terdengar seperti seorang Ibu yang sedang mengomeli anaknya,"

"Ya, aku memang Ibu, Ayah dan kakak untuk mu," Ucap Deidara tegas "itulah peran yang ku jalani saat ini, menjaga mu dengan sebaik mungkin," Tambah Deidara. Pria itu menekankan pada setiap ucapannya –tersirat, pria blondie itu menegaskan bahwa gadis bermata indah itu tidaklah sendirian.

Sakura menatap pria berkuncir itu sendu saat ia menapakan kedua kaki kurusnya di atas marmer yang menjadi tempatnya berpijak, berhasil menopang tubuh mungilnya –ia dapat berdiri dengan baik. Tak dipungkirinya bahwa, perasaan terhina dan rasa kehilangan yang dirasakannya bisa sedikit terobati dengan kehadiran pria ini.

Yah, setelah kepergian kedua orang tuanya, hanya kakak laki-lakinya yang selalu manjaganya. Namun kini ia pun harus menerima kenyataan pahit yang membuat sang kakak tidak bisa berada di sisinya untuk saat ini.

Deidara, pria ini berjanji akan selalu berada di sisinya sampai kakaknya, kembali, kembali menjadi Sasori yang dulu.

.

.

.

"Dasar gadis keras kepala!" Lagi-lagi Deidara kembali dibuat marah oleh Sakura. "Seharusnya kau biarkan tubuhmu beristirahat sejenak," Sakura yang kini berjalan di depan pria itu mengacuhkan omelan Deidara yang sudah tidak jelas lagi untuk di tangkap oleh gendang telinganya.

Kaki mungil itu melangkah dengan cepat tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sepanjang lorong Rumah Sakit yang terus mengikutinya setiap ia melangkah. Tatapan kasihan, takut, hina, ngeri bahkan cibiran sudah seperti makanan sehari-hari bagi gadis berusia delapan belas tahun ini. Kebal, kata yang tepat untuk menggambarkan dirinya.

Sementara itu, Deidara kini tengah sibuk men-deathglare mereka yang terus menatap Sakura sambil berbisik-bisik tak jelas.

"Apa yang kau lihat!" Bentak Deidara tiba-tiba pada seorang lelaki tua yang tengah memandangi Sakura. Lelaki tua yang memegang tongkat itu terlonjak kaget sembari mengelus-elus dadanya –dan sama sekali tak di pedulikan Deidara. Ini merupakan salah satu bentuk perlindungannya terhadap Sakura. Hmmm, aneh.

.

.

.

Sakura menghirup udara segar setelah ia berhasil keluar dari ruangan yang membuat otaknya sempat tak mau beroperasi dengan baik. "Segarnya…" gumam gadis itu yang akhirnya bisa sedikit menyunggingkan senyuman. Rasa sakit pada tubuhnya seperti menghilang.

"Orang-orang itu sungguh membuat ku marah. Senang ya, kau Sakura?" Tanya Deidara berjalan melewati Sakura yang masih menikmati udara segar yang dirindukannya. Sakura mengangguk sekali, yang kemudian mengekori pria itu dari belakang menuju area parkiran.

Tak berapa lama mata emerald itu membulat tak percaya saat iris zamrud-nya mendapati Deidara membukakan pintu mobil dengan warna biru gelap. Mempersilahkannya masuk.

Mobil ber-title Porsche 911 Carrera GTS Cabriolet itu membuat Sakura menjadi curiga. Yah, dari mana pria itu bisa mendapatkan mobil yang hanya bisa dimiliki segelintir orang itu? Pria pirang itu membelinya? Satu jawaban pasti tertulis di otak Sakura. Tidak mungkin.

Berbagai spekulasi terlintas di benak gadis dengan rambut merah muda itu. Dari semua spekulasi akhirnya Sakura mengambil satu kesimpulan yang menurutnya masuk akal.

"Deidara, kau mencurinya di mana?" Pertanyaan to the point yang dilontarkan Sakura membuat pria berambut panjang itu sedikit tersinggung.

"Hey, hey, lihat wajah mu itu, kau terlihat seperti seorang polisi yang menangkap basah tersangkanya," Deidara mengangkat sebelah alisnya tak suka "aku memang penipu yang handal, tapi aku bukan pencuri," bantah Deidara.

"Bukannya itu sama saja," Gumam Sakura.

"Apa kata mu? Ckckck, lihatlah kelakuan mu sekarang. Baru ku tinggalkan empat hari saja kau sudah tidak sopan, panggil aku kakak," Pinta Deidara dengan sikap wibawa yang dibuat-buat.

Sakura terkikik tertahan melihat kelakuan sahabat kakaknya yang kini sudah dianggapnya sebagai keluarga. Ingin sekali ia tertawa lepas namun otot wajahnya tiba-tiba mengencang –menimbulkn rasa sakit– membuat dia mengurungkan niat alami itu.

"Baiklah nii-san," Deidara tersenyum puas mendengarnya, tapi langsung berubah saat tatapan interogasi dari bola mata emerald itu seakan menuntut jawaban yang jujur dari pria blondie tersebut.

"Huft, tenang saja ini bukan mobil curian," Deidara meyakinkan Sakura "masuklah ada yang ingin ku bicarakan. Aku sudah menemukannya, lengkap dengan informasi yang ingin kau ketahui" Mimik dan suara baritone itu kini menjadi serius. Sakura, tatapan interogasi yang pada saat terakhir masih dipertahankannya gadis itu, perlahan memudar.

.

.

.

Debu berterbangan cukup banyak seiring dengan melesatnya open car yang keluar meninggalkan parkiran Rumah Sakit dengan kecepatan force. Sakura menutup matanya membiarkan debu itu berlalu, kemudian membukanya kembali saat mobil mewah itu tengah melaju dengan mulus di jalan raya.

Dibiarkannya hembusan angin yang cukup kancang menerpa wajahnya. Tak dihiraukan rasa sakit yang ditimbulkan angin pagi hari itu pada wajahnya.

"Di-"

"Konohagakure," Potong Deidara cepat "cukup jauh dari Amegakure, tapi tidak sulit bagi ku untuk menemukannya" lanjut Deidara, dilihatnya Sakura yang berada di sebelahnya. Raut wajah gadis itu nampak serius, menuntut informasi yang lebih rinci dari pria yang sedang menyetir itu. Kembali Deidara mengalihkan pandangangannya ke depan.

"Uchiha, nama itu cukup terkenal di Konoha, mereka adalah keluarga yang sangat berada dan..., " Urai Deidara perlahan. Sakura pun masih menyimaknya dalam diam "yang menjadi pertanyaan, mengapa Itachi memilih untuk berada di tempat terpencil ini di bandingkan berada dalam kemewahan sang ayah?" pertanyaan itu ternyata mampu membuat rasa penasaran Sakura semakin terpacu.

"Pengkhianatan," Ucap Deidara tersenyum simpul.

"Apa?" Akhirnya satu pertanyaan keluar dari bibir mungil gadis itu.

"Yah, pengkhianatan. Saat mengetahui bahwa sosok ayah yang sangat dihormatinya telah mengkhianati ibu yang sangat disayanginya, bahkan sang ayah pun telah memiliki seorang anak dari wanita selingkuhannya itu, membuat Itachi yang pada saat itu baru menginjak usia enam belas tahun berubah menjadi pemberontak dan tak terkendalikan."

Deidara mengambil jeda sejenak, kemudian melanjutkan kembali kisah yang rumit itu "Puncaknya terjadi saat ia berumur dua puluh tahun, sang ibu tiba-tiba meninggal dunia. Seseorang mengatakan padaku, pria yang selalu terlihat misterius itu, Itachi. Membunuh ibu kandungnya sendiri,"

"Apa itu masuk akal, dia membunuh ibunya sendiri? Dan bukankah ayahnya-"

"Yang kita bicarakan ini adalah Itachi. Tak ada seorang pun yang dapat mengerti jalan pikirannya," Lagi, Deidara memotong ucapan Sakura."Tapi satu yang ku tahu pasti, ia menghilang setelah itu, meninggalkan benci, dan dendam dari sang adik. Sasuke Uchiha."

Tangan kanannya mengambil selembar foto yang masih terlihat baru dari saku kemejanya. Diberikannya foto yang diambilnya secara diam-diam itu.

Sakura menerima lembaran foto itu, mata emerald-nya tak ingin berkedip menatap dua sosok remaja berseragam, –terlihat seumuran dengannya – namun iris zamrud itu lebih tertarik melihat salah satu remaja yang sangat, sangat mirip dengan pria yang sudah lama ini dikenalnya.

"Sasuke…Uchiha." Gumam Sakura perlahan..

"Tepat sekali, sampai sekarang anak muda itu masih mencari keberadaan Itachi, memberinya sedikit clue dan kita akan menyeretnya masuk dalam lingkaran setan ini," Kembali pria blondie itu angkat bicara "Bukankah ini akan menjadi sangat menarik?" Tanya Deidara pada gadis itu.

"Yah, ini akan menjadi sangat menarik." Balas Sakura

.

.

.

****TBC****

A/N: maav kalau fic abal ini semakin, bertambah gaje, hancur, ngebosanin. Complicated. MAAV #m(_ _)m jika mengecewakan.

Zo ucapkan terima kasih banyak bagi yang telah berkenan R n R fic abal zo pada Chap. sebelumnya

m(_ _)m

Eet gitu: Arigatou n maav kalo fic abal ini ngebuat Eet-san jadi bingung. G kow review-nya berkenan kokh, zo orangnya open mind *halah...,bahasa'na* Intinya zo nerima kritikan dan saran bahkan flame juga boleh, karena itu yang membuat zo menjadi semangad untuk berusaha lebih baik lagi. Iya, beda umurnya sasuhina 7 taon, jadi hina umurnya 25 taon,, hinanya ketuaan yaw? #Di cekik hina… Sasu suka hina? Kasih tau g yaw #Bugh. Ga', sikap sasu memang zo buat seperti itu, lagi pula siapa coba yang g sebel kalo setiap hari disuruh nungguin+nemenin+dengerin gombalan2 g bermutu dari naru tapi narunya g pernah berani bwat nyapa hina. Setiap hari loh…# Di rendem naru

Owiya. Maav, karena itu di tempat yang berbeda, seharusnya zo ngasih keterangan tempat setelah part-nya sasu selesai yaw? #ngejedot-jedotin kepala ke gulingan (0,o') Zo akan berusaha lebih baik lagi! XDD

Lucy Uchino: Aiih,aiih.., zo jadi malu nih, arigatou Lucy-san , nih, zo dah apdet gomen cz' g bisa apdet kilat abizz zo takut ma kilat zeh *?* #Plakk. XDD

Hakuya Cherry Uchiha Blossom: Zalam kenal juga Hakuya-san ...haduh, malu-maluin+sotoy dah zo, *ngumpet di balik sendal jepit* arigatou atas pemberitahuannya XD, akan zo perbaiki.

Drizzle a.k.a Ma-chan: Ma-chan! Arigatou XDD zo akan berusaha sekeras mungkin untuk membuat fic ini tidak ngebosanin. hah..hah..hah...walaupun ini cukup berat wat zo…

Kalow boleh zo minta review-nya lagi dunk…..

R

E

V

I

E

W