Seperti inikah?

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Pain © ZoJu

Warning: OC, Violence, Sad, Gaje, OOC, AU, Hancur, Typo bertebaran dan sebagainya yang aneh-aneh.

Pair: SasuSaku

.

.

Konohagakure

"Sasuke…" Panggil Naruto pelan sekali dan beruntung yang dipanggil bisa mendengar.

"Hn," ciri yang tak akan bisa pernah berubah, seperti itulah respon dari putera bungsu Uchiha saat menjawab panggilan atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban singkat. Perlahan Sasuke menjalankan sepeda yang tampaknya mengalami sedikit kerusakan, mengakibatkan kedua remaja itu harus berjalan kaki.

"Kau…baik-baik saja kan?" Naruto yang berjalan di sisi lain sepeda itu melanjutkan ucapannya.

"Sudah berapa kali kau mengajukan pertanyaan itu?" Sasuke balik bertanya.

Naruto mengangkat kedua tangannya, bocah itu mencoba menghitung dengan kesepuluh jarinya.

Tiga puluh detik, semenit, dua menit…

"Hehehe…aku tidak mengingatnya…" Dan jawaban ini yang akhirnya keluar dari mulut remaja blonde dengan perasaan tak bersalah. Sungguh tidak peka.

"12 kali, dan akupun sudah menjawabnya sebanyak pertanyaan mu. Ternyata kau belum puas setelah berhasil membuat ku terjatuh?" Sindir Sasuke, mengingat kembali kecelakaan sepeda yang dialami mereka pagi ini.

"Apa kau ingin menguji kesabaran ku?" Tutur remaja bermata obsidian itu lagi tanpa menatap sang sahabat yang berjalan tepat di sampingnya.

Naruto tertawa hambar, "Itu tidak disengaja… Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja," jawab Naruto santai sembari memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi. Senyuman innocent yang seperti anak kecil itu membuat Sasuke merasa tertekan, ingin marah namun tidak bisa. Remaja dengan potongan rambut aneh itu pun hanya bisa menghela nafas panjang.

"Naruto, kau itu—"

"Pagarnya…tunggu!" Teriak Naruto tiba-tiba. Dengan cepat bocah pirang itu berlari menuju pagar besi yang mulai digerakkan pejangga sekolah—bergerak horizontal mengikuti alur pagar tersebut. Diikuti dengan beberapa siswa yang juga berlari mengikuti ke arah gerbang pembatas berwarna hitam yang hampir menutup.

"Sasuke, cepatlah!" Pinta Naruto.

Sasuke yang masih terpaku hanya bisa menghela nafas—yah, lagi—melihat kelakuan Naruto yang terbilang unik. Kembali ia mendorong sepeda butut milik sang sahabat.

.

.

Abu-abu, warna awan yang kini berarakan menutupi langit biru―menaungi Konoha, memberi kesan lebih teduh pada sekolah dengan bangunan yang mengusung tema modern ini. Terdapat beberapa pohon dengan daun menjari—memiliki corak merah kecoklatan menyisakan sedikit warna kekuningan pada helaiannya menjadi pemanis bangunan berlantai tiga itu. Beberapa siswa dan siswi berhamburan memasuki kawasan sekolah menengah ke atas tersebut, seperti juga yang dilakukan kedua bocah lelaki yang berhasil masuk dalam lingkungan asri itu—tampak berjalan tergesa-gesa.

"Sepertinya akan turun hujan," gumam Naruto. Manik safir itu mengamati keadaan awan yang sepertinya sedang berlomba-lomba menutupi warna biru langit yang masih tersisa.

"Sepertinya…" Sasuke menjawab asal, yang akhirnya perjalanan singkat itu hanya didomiansi dengan pembicaraan Naruto. Sesekali Sasuke hanya menjawab dengan gumaman andalannya.

Tak terasa langkah kaki kedua remaja itu akhirnya membawa mereka pada barisan kelas di lantai dua.

"Hey, aku yakin kali ini aku yang akan menjadi nomor satu!" Ucap Naruto percaya diri sebelum melangkah memasuki kelasnya—tepat bersebelahan dengan kelas Sasuke. Naruto yang sejak awal selalu menduduki peringkat kedua pada setiap test sekolah, kali ini sudah bertekad bulat untuk melengserkan posisi sang sahabat yang selalu menjadi nomor satu.

"Oh," jawab Sasuke malas-malasan. Biasanya ia akan mengucapkan perkataan sarkastis dengan angkuhnya saat pernyataan yang sama dilontarkan sahabatnya. Tapi tidak kali ini, ia seperti tidak berminat untuk meladeni Naruto. Kembali ia mengatur langkah kakinya dalam diam.

Naruto tertegun sesaat, sekali lagi ia menangkap gelagat aneh yang beberapa hari ini di tunjukan sang Uchiha. Ingin sekali ia mengeluarkan pertanyaan yang sudah menumpuk di kepalanya, namun ia tahu Sasuke tidak akan pernah―mungkin menjawabnya. Pemuda dengan iris sebiru laut itu kemudian memilih berpura-pura memasang wajah kesal, "Kau…masih meremehkan ku? Kali ini kau tak akan terselamatkan—" suara baritone bernada cetus itu harus ditahan saat mata sapphire-nya menangkap sosok tinggi—tegap yang kini berhadapan dengan Sasuke.

Sasuke sedikit mendongak, melihat sosok jangkung yang hanya dua langkah di hadapannya. Wajah itu terlihat tak menyenangkan untuk dipandang.

"Asuma-Sensei…" Naruto menundukan kepalanya, memberi salam.

"Uchiha, kau ikut aku." Suara baritone itu terdengar memerintah―langsung,tanpa basa-basi. Ia kemudian berjalan dahulu melewati Sasuke, namun tak berapa lama Sasuke mengikuti langkah panjang pria berjanggut itu tanpa bertanya. Bahkan hanya sekedar bersuara pun, tidak.

Sikap Sasuke yang seperti itulah selalu menimbulkan tanda tanya besar dari sahabat pirangnya. Bahkan bukan hanya Naruto, tapi nampak juga beberapa murid yang menyembulkan kepala mereka di balik jendela maupun pintu, tak ingin melewatkan moment langkah ini. Kenapa? Karena ini kali pertamanya seorang Uchiha Sasuke di jemput langsung oleh seorang guru yang terkenal dengan julukan super killer-nya―Asuma Sarutobi. Maka sudah di pastikan beberapa pasang mata dari para murid langsung mengarah pada sang Uchiha dengan tatapan tak percaya.

"Sasuke…" Ucap Naruto pelan. Sasuke hanya menatap Naruto sesaat. Walaupun singkat, namun tatapan obsidian itu seakan berkata―tidak ada yang perlu di khawatirkan.

Tak butuh waktu lama, suara yang diusahakan pelan oleh para 'penonton' namun masih tetap terdengar karena saking banyaknya mereka yang bergunjing terdengar sampai telinga sang guru. Alhasil bisikan riuh yang seperti lebah dari murid-murid yang beramai-ramai menyembulkan kepala itu sungguh mengganggu pendengaran Asuma―mengundang kemarahannya.

"Kembali ke tempat kalian masing-masing! Ujian sebentar lagi akan dimulai!" Suara keras dari pria itu mengagetkan para murid yang kemudian terbirit-birit kembali pada tempat mereka semula.

Saling berlari, bertabrakan, saling memerintah dengan pelan, berangsur-angsur kegaduhan itu menghilang. Kembali Asuma menapakan kakinya, langkah demi langkah mulai menjauh. Sasuke yang seperti biasa masih mempertahankan keangkuhannya itu dengan tenang mengikutinya dari belakang.

Sementara itu, Naruto hanya bisa memandang kedua sosok tersebut yang kian menjauh dan akhirnya luput dari pandangan saphhire-nya

"Kekeke…lihatlah, sudah kuduga ini akan terjadi, bocah sombong itu…hahaha…," suara serak dan menyebalkan itu sudah tidak asing lagi di telinga Naruto. Mata sapphire-nya beralih menatap tajam sosok dengan seragam yang sengaja dibiarkan terlihat acak-acakkan—muncul begitu saja entah dari mana.

"Keigo, kau!" Geram Naruto melihat sosok liar itu. Siswa yang sangat terkenal dengan berbagai macam kasus di luar maupun dalam lingkungan sekolah. Banyak yang mengatakan dia adalah salah satu anggota gangster, mafia dan sebagainya yang setidaknya mengandung unsur 'punk'.

Tercatat beberapa kali bocah punk itu sangat suka menggoda dan memancing amarah dari Sasuke dan juga Naruto hanya untuk mencari sensasi, namun beberapa kali itu pula ia gagal dan hanya ditanggapi Sasuke dengan jawaban ketus, 'Aku tidak tertarik mengikuti permainan konyol dari orang bodoh seperti mu.' Seperti itulah jawaban yang diberikan sang Uchiha saat preman sekolah itu berusaha memancing emosinya. Sedangkan Naruto yang sempat beberapa kali terpancing, sering kali berakhir dengan adu mulut.

Dari hanya sekedar mencari sensasi, akhirnya mulai timbul kebencian pada Sasuke. Keangkuhannya, ketidak peduliannya, kepopulerannya membuat Keigo semakin ingin menjatuhkannya.

"Keigo~ kau~" Pemuda dengan rambut cepak itu mengulangi ucapan Naruto dengan suara yang dibuat-buat sembari tertawa nyaring. Tak berapa lama, ia menghentikan tawanya, menatap sosok tan dihadapannya, sedikit menaikan alis tebalnya. "Ah, kau belum tahu ya, bocah pirang?"

"Apa maksud mu?" Tukas Naruto.

"Bocah sombong itu...tidak disangka…tunggu, bukankah kalian sahabat? Ah, bukan, lebih tepatnya kau itu pengikutnya." Sindir preman sekolah bernama Keigo itu, sengaja mengambil jeda. Tangannya bergerak mengambil sebatang rokok dari saku pada blazer hitam dengan lambang Konoha High School. Membiarkan hidung mancungnya menyesap aroma tembakau, kemudian memainkan batangan berkadar nikotin itu pada jemarinya. Menjadi kesenangan tersendiri baginya saat bisa memancing amarah Naruto.

"Kau sungguh tidak mengetahuinya? Tak bisa dipercaya, seorang yang terbilang pendiam, taat, membanggakan dan angkuh itu…bisa melakukan hal konyol seperti itu…"

Naruto sugguh tidak suka melihat tingkah teman sekelas Sasuke itu, "Katakan! Tidak usah berbelit!" Suara Naruto sedikit meninggi, kesal yang ia rasakan sekarang.

"Woow…, take it easy dude," Keigo mengangkat kedua tangannya sedikit mendorong tubuhnya ke belakang, berpura-pura ketakutan. Perlahan ia bergerak mendekat pada Naruto, dan lebih mendekat lagi, "kau tahu…" ucap Keigo, "ternyata…dari awal Uchiha—tidak—mengisi—lembar jawabannya―satu pun, hebat bukan?" Bisik Keigo perlahan.

Naruto mengepalkan kedua jemarinya, "Lelucon apa ini?" Tanya Naruto masih berhusaha mengendalikan dirinya. Otaknya berpikir dengan keras, berusaha memakai logikanya dalam memahami apa yang baru terlontar dari berandalan di hadapannya.

Lagi, berandal itu tertawa nyaring, "Seharusnya kau tanyakan itu pada Uchiha. Atau…mungkinkah itu karena ia terlampau jenius?" Tukas Keigo santai.

"Tutup mulut busuk mu itu!" Bentak Naruto.

"Ckckck, bersabarlah…dan tunggu saja, aku juga akan memainkan sebuah permainan yang tak kalah menegangkan," Keigo menyeringai penuh arti."Kita akan lihat nanti, apa dia masih bisa berucap dengan angkuh?"

.

.

KRIIIING

Suara bel berdering―menggema, menandai ujian akan dimulai. Memecah keheningan yang terjadi pada sebuah ruangan yang ditandai sebagai ruang BP, namun kembali, suasana hening bercampur tegang meliputi ruangan yang tidak terlalu besar tersebut. Pria berjanggut itu terduduk dengan tegap menatap sang Uchiha yang sudah menempatkan diri pada bangku berbahan kayu di hadapannya. Tak sedikitpun ia melepaskan tatapannya dari onyx yang juga memandangnya dengan tatapan stoic. Sengaja ia tidak membiarkan murid laki-laki di hadapanya itu mengikuti test terakhir.

Murid ini, dulunya teladan, murid yang menjadi kebanggaan dengan prestasi yang gemilang. Murid yang sudah mengharumkan nama sekolah. Masih dengan pertanyaan yang setipe. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?

Seorang pria berkacamata berambut perak yang dikuncir tampak mondar-mandir di belakangnya—terlihat gelisah, "Sudah ku duga, bocah ini pasti akan membuat masalah!" Ucap Kabuto yang adalah seorang guru mata pelajaran Kimia itu dengan kesal. Dari awal Kabuto sudah tidak menyukai Sasuke. Baginya, Sasuke hanya murid angkuh yang suka berlagak dingin.

Sementara itu, Asuma belum mau memberikan tanggapan. Ia masih terdiam, memangku tangannya pada meja miliknya.

"Ini akan menjadi gawat, mau di taruh di mana muka kita? Apa yang akan dipikirkan orang di luar sana? Sekolah nomor satu di kota ini tidak mampu mendidik siswanya? Bocah sialan! Sekalipun ayah mu donatur terbesar di sekolah ini, tapi tidak seharusnya—"

"Tenanglah Kabuto," Potong Asuma mencoba menenangkan rekan kerjanya," sekarang kepala sekolah dan wakilnya tidak ada di tempat, jadi usahakanlah untuk tidak menarik benang permasalahan ini, menjadi semakin rumit."

"Tapi— huh…" Guru yang selalu berkutat di laboratorium kimia itu hanya bisa menghela nafasnya. Sedikit menggerutu ia berjalan keluar dari ruangan itu. Dan mungkin sebentar lagi akan muncul kegaduhan dalam laboratoriumnya―melepas setiap kekesalanya pada percobaan mengerikan yang―tidak perlu dibayangkan lagi.

Kini ruangan itu hanya menyisakan kedua sosok yang saling menatap, masih bergelut dalam pemikiran masing-masing. Nampak jelas raut kekecewaan yang dari wajah Asuma dan kekesalan yang terus saja menggelitiknya. Berbeda dengan Sasuke, remaja berambut raven yang kini menjadi terdakwa malah terlihat santai, ia sepertinya sudah mempersiapkan diri untuk ini.

Pluk

Beberapa lembar jawaban yang nampaknya kosong di hempaskan di hadapan Sasuke oleh Asuma.

"Kenapa kau lakukan ini? Apa ada motif di balik semua ini?" Tanya Asuma perlahan.

"Motif?" Sasuke tersenyum kecut," aku hanya merasa bosan." Jawaban singkat di lontarkan pemuda raven itu.

"Bosan?" Asuma mengernyitan keningnya. "Apa kau pikir ini panggung sandiwara? Kau sedang memainkan lelucon? Menyenangkan ya?" Pertanyaan beruntun itu meluncur dari Asuma, ia berusaha menekan suaranya agar tidak meninggi. Ia sungguh tidak habis pikir. "Selama ini―, Kenapa baru sekarang kau keluarkan 'belang' mu?"

Sasuke sedikit mendesah dengan ekspresi yang sulit untuk di tebak. Ia tak berniat menjawab, yang dilakukannya hanya menatap sinis sosok berjanggut di hadapannya. Menikmati setiap perkembangan amarah sang guru.

Pluk!

Lembaran kertas itu kembali dihempaskan Asuma, namun kali ini lembaran-lembaran itu mendarat dengan kasar pada wajah dingin Sasuke―berjatuhan di pangkuannya.

"Tidak perduli kau anak siapa, di luar kau seperti apa, sejenius apa kau, tapi di sini, di hadapan ku kau sama seperti murid yang lainnya."

"Sudah seharusnya seperti itu," jawab Sasuke ketus.

"Kau―, jika bukan karena perintah kepala sekolah mungkin sekarang ini kau sudah berakhir di tangan ku," ucap pria paruh baya itu sarkastis, "ck, kami sudah menghubungi orang tua mu. Masalah ini masih akan di pertimbangkan lagi, entah kau mau mengikuti ujian susulan atau menggunakan cara lain,"

"Begitukah? Huh, ini sungguh tidak menarik." Ujar Sasuke santai.

BRAK!

Kedua tangan besar pria itu beradu dengan meja di hadapannya menghasilkan hentakan yang cukup keras―menggema pada setiap sudut ruangan. Ia bangkit, melangkah keluar dari tempat duduknya. Melonggarkan dasi dengan corak garis yang di lingkarkan pada kerah kemejanya. Amarahnya sudah cukup memuncak.

"Jika ingin menghajar ku, lakukan saja. Bukankah Sensei bilang aku juga sama seperti yang lain?" Kembali Sasuke berujar sinis.

"Sungguh tidak ada sopan-santunnya. Keluarlah!" Pinta Asuma, sebelum ia betul-betul menghajar bocah keras kepala itu.

"Tch," Sasuke hanya berdecak. Ia bangkit dari tempat duduknya, menenteng tas ranselnya―berjalan keluar tanpa pamit.

.

.

Pemuda dengan model rambut spike blonde itu berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang BP setelah memastikan Sasuke tak lagi ada di ruangan itu. Setengah berlari ia membelah barisan murid yang memenuhi koridor. Pikirannya melayang entah kemana, bingung, marah dan kecewa, tepat sekali untuk menggambarkan raut wajahnya saat ini. Ia bahkan tidak bisa mengerjakan soal ujian tadi dengan tenang.

Kemana? Sekarang dia harus mencari pemuda Uchiha itu kemana?

Matanya bergerak liar mencari teman masa kecilnya itu. Setiap sudut sekolah ia datangi, namun tak juga menemukan sosok yang dicarinya. Ia mengepalkan kedua tangannya, dengan kuat menekan jemarinya. Semakin ia menjadi kecewa.

Memilih mengakhiri pencariannya, Naruto berjalan keluar dari kawasan Konoha High School dengan sejumlah pertanyaan masih ber-sliweran di kepalanya. Menyusuri aspal mulus pada tepi jalan, membiarkan beberapa gadis dengan senyum malu-malu menyapanya tanpa ada balasan.

Lambat laun langkah kakinya melewati sebuah taman yang tidak terawat, rumputnya menjulang tinggi, pepohonan begitu rimbun―rimbun dengan daun yang menguning, berjatuhan―berserakan dan menumpuk. Beberepa papan larangan yang seharusnya tertancap dengan baik, terlempar begitu saja, bahkan ada yang sepertinya―sengaja dipatahkan. Langit yang mendung kian menambah kesan suram pada taman tersebut.

Tak jauh dari situ Iris blue ocean itu menangkap benda beroda dua yang sudah tidak asing lagi―terparkir di tepi taman. Jika sepeda butut itu ada di sini, berarti…

Buru-buru ia berjalan memasuki taman itu dan benar saja, ia melihat sosok yang dicarinya. Terduduk di sebuah bangku taman―bangku yang sudah usang. Pemuda raven itu menatap langit mendung, entah apa yang dilakukannya lagi. Merenung―mungkin.

Dengan cepat Naruto menghampiri Sasuke. "Ketemu," kata Naruto mengagetkan remaja raven itu, sontak membuat ia menoleh, tapi tidak seperti biasanya, onyx-nya menangkap guratan amarah dan kecewa yang tersirat di balik tatapan sapphire itu.

Perlahan Naruto mendekati Sasuke, meraih blazer-nya dengan kasar, memaksa Sasuke untuk berdiri dan…

BUGH

Satu tinjuan dengan telak menghantam wajah pucat itu, hantaman yang kuat membuat Sasuke harus tersungkur di atas rumput ilalang yang membentang pada tanah bidang itu. Sasuke mengangkat tangannya menyentuh sudut bibirnya. Tidak berdarah, tapi perlahan mulai timbul memar pada kulit pucatnya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke datar.

"Hufth…" Naruto menghempaskan nafasnya yang sempat tertahan, menatap sinis sahabatnya. "Kau anggap apa aku ini?"

"Apa yang kau bicarakan?" Sasuke berusaha bangkit. Entah ia tidak mengerti atau berpura-pura tidak mengerti.

"Sembilan tahun aku mengenal mu, bukan waktu yang singkat," ujar Naruto, "aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, berharap kau bisa membaginya dengan ku. Tapi kau membuat ku harus berpura-pura tidak tahu, tidak! Aku harus terus berpura-pura seperti orang bodoh di hadapan mu," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Naruto.

Naruto kembali menarik nafasnya, lalu menghembuskannya kembali, "aku bahkan sudah menganggap mu seperti saudara ku sendiri, tapi kau…anggap apa aku ini? Apa kau juga berpikiran sama seperti orang lain? Aku hanya bocah bodoh yang terus mengikuti mu kemana-mana…"

"Baka," Desis Sasuke.

"Itu yang selalu kau katakan, tapi aku rasa kau jauh lebih bodoh dariku. Kenapa kau membiarkan lembar jawaban mu tak terisi? Apa kau ingin menciptakan sensasi? Kekanakan sekali, atau…ini caramu untuk menekan ayah mu?" Pertanyaan terakhir yang dilontarkan Naruto sukses membuat tatapan onyx itu menjadi semakin mengerikan.

"Itu bukan urusan mu," Balas Sasuke ketus.

Prok. Prok. Prok.

Suara tepukan yang dibuat senyaring mungkin terdengar di antara kedua sahabat itu. Sekelompok siswa dengan seragam yang sama kini berdiri tak jauh dari mereka. Terlihat sosok berandalan dengan rambut cepak―berperan sebagai leader. Mulutnya mengeluarkan asap rokok yang perlahan menghilang dibawa hembusan angin. Melemparkan batangan rokok yang sudah menjadi puntungan―menginjaknya. Pemuda itu menyeringai lebar.

"Keigo," desis Naruto.

"Sungguh dramatis, seperti sebuah drama. Akan lebih baik lagi kalau ada penonton di sini, bukan?"

Sasuke bergerak perlahan mengambil ransel yang di letakkannya pada bangku taman. Ia tidak suka meladeni preman ini.

"Kau ingin lari?" Pertanyaan Keigo tak mendapat renspon dari Sasuke.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Naruto pada Keigo.

"Bukankah sudah ku beritahu, bocah pirang…" Keigo beralih menatap Sasuke yang mulai melangkah menjauh, "Itachi," ucap sang berandal cepat dan lantang sembari melihat barisan nama yang tertera pada selembar kartu kecil yang di pegangnya. Sebuah kartu nama.

Kata yang lebih tepatnya adalah sebuah nama yang baru saja dilontarkan Keigo ternyata mampu menghentikan langkah Sasuke. Tak kalah kagetnya, nama yang sudah tidak asing bagi Naruto itu membuat manik safirnya membulat tak percaya. Sudah 7 tahun Naruto tidak mendengar lagi nama itu dan semenjak itu pula nama itu dan orang itu menghilang entah kemana.

"Akan lebih bagus lagi kalau tulisan ini menjadi…'Uchiha Itachi'…" Lanjut Keigo. Terlihat senyum kemenangan yang semakin mengembang dari wajah tirusnya. "Aku tahu di mana dia berada…"

"Kau―, tutup mulut mu!" Naruto yang mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini mulai tergerak. Ia melangkah dengan cepat, ingin memukul wajah menyebalkan itu, namun dihalangi tiga orang siswa yang sedari tadi berdiri di belakang Keigo―bergerak maju.

BUGH

Naruto kembali melayangkan kepalan tangannya, namun kali ini menghantam salah satu dari tiga orang siswa yang menghalangnya. Dua orang lainnya berusaha menahan pemuda blonde itu. Ia menghindari pukulan dari salah satunya, kemudian dengan cepat Naruto melayangkan tendangan, deselingi tinjuan, menghantam tubuh kedua bocah itu tanpa ampun.

BUGH

Namun satu tinjuan dari salah satunya berhasil mengenai wajah tampan si blonde. Naruto meludahkan darah segar.

"Hentikan," Pinta Sasuke masih berusaha tenang, "bukankah aku yang menjadi tujuan mu?" Tanyanya pada Keigo.

Naruto menahan pukulannya, ia melepaskan salah satu teman berandal itu, membiarkannya terjatuh tersungkur. "Sasuke ini tidak benar," Ucap Naruto.

"Akhirnya…" Keigo menyeringai licik. "Bukankah kau menginginkan ini, bocah sombong?" Keigo mengangkat kartu berbentuk persegi panjang itu―seperti memamerkannya.

Sasuke mejamkan matanya sesaat. Darahnya berdesir dengan cepat, ia menggertakan giginya, mengepalkan kedua tangannya. Otot dilehernya nampak begitu kentara. Di mana ia berusaha untuk tidak meledak. Menahan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi, tapi bagaimanapun ia hanyalah remaja biasa yang tak mampu terus menerus menahan gejolak yang kian membara dalam dirinya. Bersamaan dengan itu tetesan kecil berjatuhan dari langit seperti menggelitik permukaan kulitnya. Bukan hujan, hanya gerimis―gerimis kecil.

Ini awal yang tidak diinginkannya.

.

.

Taman tua yang sudah jarang disinggahi orang itu, terlihat sepi dari luar. Tetesan gerimis seperti jarum kecil pun terlihat seperti kabut yang cukup menghalangi pemandangan di dalam sana. Tak akan ada yang mengira di dalamnya ada sekelompok pemuda berseragam.

"Darimana kau mendapatkan ini?" Tanya Sasuke setelah berhasil membuat preman itu babak belur, "Dari mana!" Kali ini Sasuke berteriak. Tangan kirinya menggenggam erat kartu nama itu.

Sekarang pemuda berambut cepak itu tersungkur ketakutan, sungguh kontras. Sementara itu tiga orang lainnya melarikan diri setelah berhasil di taklukan Naruto.

Sasuke mengangkat kakinya, menginjak perut Keigo, memaksanya bicara. Naruto hanya memandangi dalam diam. Ia tak dapat berbuat banyak jika itu menyangkut pria yang selama ini menjadi sumber kebencian Sasuke.

"Aaaaa~" Berandal itu meringis kesakitan, "aku―, pria itu datang…memberikan ku sejumlah uang dan menyuruhku untuk memberikan itu pada mu,"

Sasuke tidak terlihat puas, "Siapa dia?" Semakin kuat ia menekan kakinya.

"Aaw~ aku tidak tahu, sungguh…aku tidak tahu…" Ucap Keigo seperti memohon.

"Sasuke…" Panggil Naruto, "cukup…"

Dengan berat Sasuke mengangkat kakinya, melepaskan Keigo. Iris onyx menatap tajam sang berandal yang terkapar dengan beberapa luka yang menghiasi wajahnya. Ia berbalik, tangannya masih menggenggam kartu persegi panjang itu―erat. Menjaga agar tetesan gerimis tak membasahi benda itu. Karena walaupun hanya selembar kartu, tapi itu yang akan menjadi petunjuk berarti untuknya. Yah, sebuah titik terang akan pencariannya selama ini.

Perlahan Keigo berusaha bangkit, tanpa disadari Sasuke. Pemuda berambut cepak itu mengambil sebilah pisau lipat yang disembunyikannya. Mata cokelatnya berkilat tajam.

Cklek

Pisau itu terbuka sempurna.

"Sasuke!" Teriak Naruto saat menyadari gelagat aneh Keigo.

BREEET

Sabetan dari benda tajam itu dengan cepat mengoyak blazer dan kemeja yang dikenakan pemuda pirang yang berhasil merangkul sahabatnya itu dari belakang, memberi goresan yang cukup dalam pada pundak Naruto. Cairan merah dan kental itu merembes keluar dari seragamnya, perlahan semakin banyak. Bau anyir menguar bercampur dengan butiran gerimis.

"Naruto…BAKA."

Sasuke melepas rangkulan sahabatnya. Naruto sedikit meringis, tertahan.

"Sasuke…jangan…" ucap Naruto disela rasa sakit yang kian merasuk, namun itu adalah usaha yang sia-sia. Tubuhnya saat ini tak kuat menahan Sasuke.

Cepat Sasuke menangkap Keigo yang berusaha melarikan diri, memelintir tangan Keigo, dengan cepat merebut pisau berukuran sedang itu. Ia menendang Keigo hingga kembali tersungkur. Dadanya naik turun seirama dengan nafasnya yang menderu. Ada sedikit senyum yang terukir dari wajah pucatnya. Senyuman kebebasan yang mengerikan―kebebasan akan amarahnya.

Sebuah bom waktu baru saja diledakan. Amarah yang tak dapat dibendung lagi. Ia menghunuskan benda tajam itu, namun dengan sigap Keigo menahan tangan kekar Sasuke, setengah mati Keigo menahan pisau yang tinggal beberapa senti dari wajahnya.

"Kau ingin bermain dengan ku, huh?" Geram Sasuke terus menekan tangannya. Mata onyx itu seakan menyalak―mengerikan.

"Sasuke hentikan…" Naruto berucap lirih sembari mendekati Sasuke, mencengkram pundak pemuda raven itu. Sasuke baru menyadarinya―seper-sekian detik kemudian, saat dirasakannya cengkraman pada pundaknya semakin mengencang. Ia seperti tersadar kembali. Tekanannnya menjadi luruh, begitu pula tatapannya―obsidian itu menatap sosok tersungkur yang menggigil―amat sangat ketakutan di bawahnya.

Apa yang dilakukannya?

Sekuat tenaga Keigo mendorong tubuh itu menjauh darinya, berlari sekuat tenaga menghindari Sasuke sesegera mungkin. Meninggalkan taman tua itu tanpa berani menoleh. Sepertinya berandalan itu baru saja mendapat pelajaran yang sangat berarti.

Keheningan pun terjadi…

Sekalipun darah terus mengucur dari pundaknya, pening mulai menyergap kepalanya, pemuda pirang itu berusaha tetap mempertahankan kesadarannya. Naruto tak mampu berkata lagi, ia hanya bisa menatap miris sahabatnya―yang terduduk kaku. Ia tidak pernah ingin melihat ini.

Hal yang sama pun dilakukan Sasuke. Terdiam, mata obsidian itu menatap kosong. Tangan kanannya yang masih menggenggam pisau lipat itu bergetar kuat. Wajah pucatnya semakin memutih. Mulutnya serasa kelu.

Tak bisa dipercaya. Sasuke, pemuda itu sungguh tidak percaya…

Apa yang baru saja dilakukannya?

Apa yang akan dilakukannya dengan benda tajam itu?

Mengerikan…

Seperti inikah dirinya?

~~TBC~~

Fiiuu~h Akhirnya chap. 3 selesai setelah sekian lama berkutat dengan kegiatan yang melelahkan. Chap ini selesai dengan sangat mengecewakan...Huu~h #Apa ini? #ngelirik ke atas. Tapi setelah ini Sasuke udah bisa dipertemukan ama Sakura deh…hmmm~ mungkin…#Dikeroyok.

Maav lagi, fic ini semakin menjadi-jadi ngaconya.…#author lagi kacau zeh...Fic yang semakin Gajeness, maav m(_ _)m. Eits, Keigo itu OC loh…pernah muncul di chap. 1 awalnya tapi cuma bentar doank...

Maya : Sungguh? Fic abal ini seru…? Arigatou Maya-san ^_^…padahal zo pikir fic ini ngebosanin banget…hahahaha…maklum, masih harus banyak belajar…

R n R plizzzz…

Kritikan, saran, flame zo terima dengan senang hati…