CHAPTER 2
(13.499 words)
Sepanjang perjalanan, Jongin dan Kyungsoo tidak bersuara. Kyungsoo tentu bisa tenang karena saat ini wanita itu tertidur pulas di kursinya. Jongin tentu tak ingin mengusik istirahat atasannya itu.
Mereka hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di kediaman keluarga Do. Tadi Jongin sudah menelepon Tuan Do, mengatakan bahwa ia akan mengantar Kyungsoo pulang. Maka tak heran jika saat ini Tuan dan Nyonya Do sudah berdiri di teras rumah, menyambut kepulangan putri tunggal mereka.
Begitu mobil yang dikendarai oleh Jongin memasuki halaman rumah yang luas, Tuan dan Nyonya Do langsung berlari kecil menuruni anak tangga dan mendekati mobil Jongin yang kini sudah berhenti.
Jongin keluar dari mobil dan langsung mendapat pertanyaan dari Tuan Do. "Bagaimana keadaan Kyungsoo?"
Jongin menjawab setelah membungkuk singkat, "Sajangnim baik-baik saja, Tuan. Hanya saja, beliau mabuk, dan sekarang tertidur."
Tuan dan Nyonya Do menghela nafas lega walaupun raut cemas masih sedikit menghiasi wajah keriput mereka.
"Asisten Kim..." tiba-tiba Tuan Do menepuk bahu kiri Jongin, membuat tubuh Jongin sedikit berjengit kaget. "Tolong bawa Kyungsoo ke kamar, ya? Aku sudah terlalu tua untuk mengangkat tubuh anak itu."
Jongin sebenarnya ingin menolak. Ingin berkata bahwa Tuan Do bisa saja meminta satpam rumah ini untuk mengangkat Kyungsoo. Tapi ia tak berani membantah. Bagaimanapun juga, keluarga Do adalah bosnya. Mungkin Tuan Do tidak ingin anak kesayangannya disentuh oleh sembarangan orang.
Pada akhirnya pemuda bertubuh tegap itu mengangguk kecil, lalu berlari memutar untuk membuka pintu mobil di samping Kyungsoo, dan secara perlahan membopong tubuh Kyungsoo keluar dari mobil. Tidak terlalu buruk. Toh tubuh Kyungsoo ternyata ringan, pikirnya.
Tuan Do memimpin langkah memasuki rumah, sedangkan Jongin dan Nyonya Do mengikuti dari belakang. Arah langkah kaki mereka menuju ke lantai dua rumah, menaiki satu per satu tangga dengan hati-hati, apalagi saat ini Jongin sedang membopong Kyungsoo.
Mereka akhirnya sampai di depan kamar Kyungsoo, Tuan Do membuka pintu kamar Kyungsoo dan Jongin segera melewati pintu itu, memasuki kamar Kyungsoo dan segera membaringkan Kyungsoo di atas ranjangnya.
Sejenak Jongin merenggangkan punggungnya sembari meneliti kamar Kyungsoo diam-diam. Kamar bernuansa abu-abu itu tampak suram dan kosong, seperti berusaha mewakili diri Kyungsoo yang juga suram dan kosong.
"Kita bicara di luar, Asisten Kim."
Perkataan Tuan Do mengusik lamunan Jongin. Ia kembali ke alam sadarnya dan mendapati Nyonya Do sedang menyelimuti tubuh Kyungsoo.
Jongin akhirnya hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar kamar itu, mengekori Tuan Do yang berjalan di depannya.
Begitu mereka sampai di depan kamar Kyungsoo, Tuan Do bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Jongin tahu ia akan diinterogasi seperti ini. Kejadian yang menimpa Kyungsoo sudah pasti menimbulkan tanda tanya di benak orang tua Kyungsoo. Mungkin selama ini mereka tidak pernah melihat Kyungsoo seperti itu.
"Tentang hal itu..." sejenak Jongin menggantung ucapannya, sedikit ragu sebenarnya. "Sebaiknya Anda bertanya langsung pada Sajangnim, Tuan. Saya tidak berhak bercerita karena ini masalah pribadi Sajangnim."
Ada raut takut saat Jongin mengatakan hal itu. Ia baru saja menolak untuk menjawab pertanyaan sang tuan besar, dan bisa saja itu menyinggung perasaannya.
Tapi di luar dugaan, Tuan Do justru tersenyum kecil padanya. "Kau benar, besok aku akan bertanya padanya. Terimakasih sudah bersedia mencari Kyungsoo dan mengantarnya pulang. Kau bisa pulang sekarang."
Jongin mengangguk sopan. Tapi sebelum ia beranjak dari tempat itu, ia mengucapkan satu hal yang sejak tadi ingin ia ucapkan, "Tuan Do, jika besok pagi Sajangnim bangun dan bertanya tentang apa yang terjadi hari ini, tolong jangan sebut nama saya dalam penjelasan Tuan Do."
Permintaan Jongin itu menghadirkan raut tak mengerti di wajah Tuan Do.
"Kondisi Sajangnim saat mabuk tidak dapat dikatakan baik. Beliau terlihat rapuh dan hancur. Saya yakin, beliau akan merasa lebih baik jika mengira bahwa kondisi buruknya itu tidak dilihat oleh orang yang dikenalnya."
Tambahan penjelasan dari Jongin akhirnya mampu memberikan pemahaman bagi Tuan Do. Kepala keluarga Do itu akhirnya bisa tersenyum, lalu sekali lagi menepuk bahu kiri Jongin. "Aku mengerti, Asisten Kim. Besok aku akan mengatakan bahwa ia pulang dengan taksi jika ia bertanya. Sekali lagi terimakasih. Sekarang pulanglah, bawa saja mobil kantor ke rumahmu. Kau bisa mengembalikannya besok pagi sekalian berangkat ke kantor."
Sebenarnya Jongin merasa tidak enak jika harus meminjam mobil kantor. Tapi senyum penuh wibawa Tuan Do membuat perasaannya lebih tenang, dan rasa tidak enak itu lenyap seketika. Jadilah akhirnya Jongin mengangguk dan berpamitan. Pemuda itu lantas berjalan menuruni tangga menuju pintu utama rumah Keluarga Do. Tuan Do masih terus tersenyum memandangi kepergian mantan asistennya tersebut.
Pagi itu, Jongin mendudukkan tubuhnya di kursi dengan perasaan berdebar. Ia gugup karena harus bertemu dengan Kyungsoo lagi hari ini. Andai ia memiliki tombol skip yang bisa ia gunakan untuk melompati hari ini dan hari langsung berganti menjadi esok hari. Tapi sayangnya, tombol skip itu tak pernah eksis dalam hidupnya.
Sebenarnya ia ragu jika Kyungsoo akan melupakan segalanya. Maksudnya, ia tak yakin Kyungsoo tak mengingat semua hal pada saat ia mabuk. Bisa saja ia ingat semuanya, termasuk mengingat pelukan Jongin dan juga kata-kata yang diucapkan Jongin dengan bahasa non formal. Jongin bisa langsung dipecat jika Kyungsoo ingat semuanya dan merasa marah. Tiba-tiba Jongin menyesali semuanya. Seharusnya ia tak bersikap lancang seperti itu. Meskipun Kyungsoo membutuhkan tempat sandaran, namun bukan ia yang dibutuhkan oleh Kyungsoo. Ia hanya seorang pegawai rendahan yang sering berbuat salah. Ia tidak pantas bersikap seperti itu pada atasannya itu. Ia sama sekali tak punya hak. Ingin sekali Jongin mengacak-acak rambutnya karena rasa kesalnya itu, tapi ia hanya akan jadi bulan-bulanan Kyungsoo jika rambutnya berantakan. Akhirnya ia hanya bisa menangis diam-diam di dalam hatinya. Menyesali semua kebodohannya kemarin.
Tapi rupanya ia tak memiliki banyak waktu untuk meratapi nasibnya, karena Kyungsoo ternyata sudah tiba di kantor dan kini sedang berjalan mendekati meja Jongin dan Baekhyun. Penampilan wanita itu sempurna seperti biasa. Sama sekali tak memperlihatkan tanda-tanda bahwa kemarin wanita itu mabuk berat dan juga menangis histeris. Benar-benar kamuflase yang luar biasa.
Jongin dan Baekhyun sama-sama bangkit dari kursinya dan memberi hormat pada Kyungsoo saat wanita itu berdiri di depan meja mereka.
Kyungsoo menoleh ke arah Baekhyun dan berkata, "Aku sudah membaca e-mail darimu tadi pagi, Sekretaris Byun. Kenapa Wu Insurance Corporation tiba-tiba memindahkan tempat pertemuan kita?"
Baekhyun membenarkan posisi berdirinya dan menjawab, "Begini, Sajangnim, Tuan Wu baru saja menikah dua hari lalu. Beliau dan istrinya memutuskan untuk sekalian berbulan madu saat mengunjungi Korea, jadi mereka ingin memindah tempat pertemuan menjadi di Chuncheon, kota yang tidak terlalu jauh dari Seoul, tapi mungkin lebih cocok untuk berbulan madu."
Kyungsoo menghela nafas. Rencana kerjasama dengan Wu Insurance Corporation—sebuah perusahaan asuransi asal China—merupakan rencana yang besar. Perusahaan akan mendapat keuntungan jika rencana kerjasama itu menemukan titik terang. Kerjasamanya sebenarnya lebih difokuskan pada development perusahaan secara internal, tapi tetap saja itu merupakan sebuah langkah besar. Perusahaan itu adalah perusahaan asuransi terbesar di China, dan dengan adanya kerjasama, maka dimungkinkan kondisi perusahaan yang dirintis oleh ayahnya juga akan semakin baik.
Pertemuan untuk membahas kerjasama itu semula akan dilaksanakan di Seoul esok hari. Jongin bahkan sudah mem-booking beberapa kamar di hotel bintang 5 untuk pertemuan itu. Tapi tiba-tiba saja pihak Wu memutuskan untuk mengubah tempat pertemuan karena ingin berbulan madu. Sungguh mengesalkan.
Tapi sebenarnya perpindahan tempat ke Chuncheon tidak terlalu buruk mengingat jarak dari Seoul ke Chuncheon tidak terlalu jauh. Lain soal jika tiba-tiba CEO Wu memutuskan untuk berbulan madu di Jeju. Mungkin Kyungsoo akan memilih untuk membatalkan pertemuan itu daripada harus susah-susah memindah tempat pertemuan ke pulau yang jauh dari Seoul itu.
"Baiklah, Sekretaris Byun. Segera kirim email pada mereka, katakan kalau kita menyetujui permintaan mereka untuk memindah tempat pertemuan ke Chuncheon. Lalu jangan lupa untuk mengubah proposal yang sudah diajukan ke Divisi Keuangan. Atur kembali rencana anggaran dan serahkan ke Divisi Keuangan hari ini juga."
Baekhyun mengangguk paham, dan Kyungsoo kemudian mengalihkan pandangan pada Jongin yang sedari tadi berdiri tanpa sepatah katapun.
"Tugas untukmu, Asisten Kim. Batalkan booking hotel di Seoul yang seharusnya akan kita gunakan besok, dan selanjutnya booking lima kamar di salah satu hotel bintang 5 di Chuncheon, dan—"
"Maaf menyela, Sajangnim."
Kyungsoo melotot ganas ke arah Baekhyun karena sekretarisnya itu berani menyela perkataannya. "Ada apa?" tanyanya.
Baekhyun menelan ludah gugup. "Begini, Sajangnim. Tuan Wu sudah memesan satu kamar untuk ia dan istrinya, dan juga satu kamar lagi untuk sekretarisnya di Chuncheon Tourist Hotel. Mencari hotel bagus di Chuncheon memang sulit jadi mereka memilih yang seadanya saja. Kita tidak perlu memesankan untuk mereka, Sajangnim."
Kyungsoo mengangkat sebelah alisnya. Oke, pihak Wu ternyata sudah memesan untuk diri mereka sendiri dan tidak memikirkan pihaknya. Tapi terserah sajalah, toh pihak Wu sejauh ini juga tidak terlalu menuntut banyak hal. Buktinya mereka mau memilih hotel biasa yang tidak megah.
Kyungsoo tampaknya tak mau ambil pusing mengenai semua itu. Wanita itu kembali beralih pada Jongin.
"Kalau begitu, booking 3 kamar saja untuk dua hari di hotel itu. Sesuai rencana awal, yang akan pergi ke pertemuan itu adalah aku, Sekretaris Byun, dan juga kau, Asisten Kim. Kita juga akan tetap menggunakan van kantor karena aku tidak suka naik kereta. Karena jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan mobil, hubungi satu sopir kantor dan minta ia untuk mengantar kita besok."
Jongin mengangguk kaku. Kyungsoo bersikap seperti biasa, angkuh dan acuh. Ia kini bisa bernafas lega karena sepertinya Kyungsoo tidak mengingat peristiwa semalam. Ia tidak tahu apakah Kyungsoo menceritakan semuanya pada ayahnya. Semoga saja Kyungsoo mau terbuka, karena ia tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Setelah selesai memberi instruksi pada dua anak buahnya, Kyungsoo langsung beranjak memasuki ruangannya. Meninggalkan Baekhyun dan Jongin yang langsung terduduk lesu.
"Menyebalkan sekali, kita harus mengubah semua rencana yang sudah kita buat," Baekhyun mengeluh lemas, tapi tangannya dengan gesit langsung berkutat dengan komputernya.
Jongin juga sama. Pria itu langsung fokus pada layar komputernya. Tangannya secara aktif mengetik ini dan itu. Pertama-tama, ia harus membatalkan booking hotel yang di Seoul, kemudian memesan tiga kamar di Chuncheon Tourist Hotel. Bukan tugas yang sulit.
Kyungsoo melangkah pelan mendekati meja kerjanya. Ia meletakkan tas mahalnya di atas meja, kemudian memutari meja dan duduk di kursi kerjanya yang agung.
Kepala wanita itu sebenarnya masih terasa pusing. Ia terbangun di kamarnya dan menemukan segelas air putih dan sebutir aspirin di atas nakasnya. Ia tak bisa mengingat apa yang terjadi kemarin. Yang ia ingat hanyalah, ia minum berbotol-botol soju karena merasa tersakiti oleh Sehun.
Ngomong-ngomong tentang Sehun, matanya tiba-tiba mendapati undangan laknat yang kemarin diberikan oleh Sehun di atas mejanya. Seingatnya, kemarin ia membanting undangan itu hingga undangan tak berdosa itu tergeletak di lantai. Jadi kenapa sekarang undangan itu berada di atas mejanya? Ah, mungkin cleaning service yang meletakkannya di sana, pikirnya.
Dengan ragu ia mengambil undangan pernikahan itu. Dadanya masih sesak karena undangan itu, jadi lebih baik ia membuang undangan itu ke tempat sampah.
Akhirnya Kyungsoo beranjak menuju sebuah tempat sampah di samping rak buku, baru saja tangannya akan menjatuhkan undangan itu ke tempat sampah, tapi ia urungkan karena telinganya menangkap suara ketukan pintu. Ia bisa melihat sosok asistennya berjalan ragu mendekati mejanya. Terpaksa Kyungsoo kembali ke kursinya, dengan tangannya masih menggenggam undangan dari Sehun.
"Ada apa?" pertanyaan itu akhirnya terlantun dari bibir tebal Kyungsoo.
"Maaf mengganggu, Sajangnim. Di Chuncheon Tourist Hotel ternyata hanya ada dua kamar kosong yang bisa kita booking untuk besok—hotel itu hanya memiliki 52 kamar saja. Satu executive suite dan satu standard double room bisa kita pesan. Apakah kita perlu memesan satu kamar lain di hotel lain?"
"Besok weekend, dan kemungkinan hotel-hotel lain juga sudah penuh. Tidak masalah, aku bisa sekamar dengan Sekretaris Byun."
Jongin membulatkan mata. Jadi, atasannya itu harus berbagi kamar dengan orang lain, sementara ia mendapatkan satu kamar penuh untuk dirinya sendiri. Ia jadi merasa tidak enak.
"Tidak perlu merasa tidak enak. Ini urusan pekerjaan, jadi kesampingkan perasaan pribadimu." Kyungsoo seperti bisa membaca perasaan Jongin. "Satu lagi, pastikan bahwa di hotel itu terdapat tempat yang bisa kita gunakan untuk pertemuan."
Jongin akhirnya mengesampingkan perasaannya dan menimpali, "Ya, Sajangnim. Hotel itu juga menyediakan fasilitas meeting yang bisa kita gunakan saat pertemuan. Sepertinya pihak Wu sudah memikirkan tentang hal itu."
Kyungsoo mengangguk. "Segera booking kamarnya sebelum orang lain mengambilnya."
Kali ini Jongin yang mengangguk. Pria bertubuh tinggi itu lantas membungkuk sekali kemudian berjalan keluar meninggalkan ruangan Kyungsoo.
Sepeninggal Jongin, Kyungsoo baru menyadari sesuatu. Ia baru ingat bahwa kemarin Jongin berada di ruangannya saat Sehun datang. Ia ingat bahwa ia memberikan tugas pada pria itu sebelum Sehun datang. Wanita itu sejenak mengalihkan pandangan ke arah sofa di ruangannya, dan sekarang sofa itu sudah kembali rapi, tidak ada kertas-kertas yang berserakan seperti kemarin. Berarti Jongin sudah menyelesaikan tugasnya.
Tapi sebenarnya bukan itu poinnya. Jongin kemarin ada di sini saat Sehun datang. Itu artinya... Jongin tahu semuanya.
Musim Semi... Saat dimana daun-daun tumbuh dengan subur, bunga-bunga juga bermekaran dengan indahnya...
Kyungsoo selalu menyukai Musim Semi. Mungkin hatinya memang sedingin es di Musim Dingin, kepalanya sepanas sengatan matahari di Musim Panas, dan jiwanya berguguran layaknya daun di Musim Gugur. Tapi sungguh, Musim Semi tetap terlihat sangat indah bagi Kyungsoo.
Kyungsoo sebenarnya memiliki harapan. Layaknya salju Musim Dingin yang mencair di Musim Semi, tergantikan dengan indahnya pohon-pohon yang mulai bersemi lagi dan berbunga dengan cantiknya. Kyungsoo juga ingin seperti itu. Ia ingin hatinya yang beku suatu saat nanti bisa mencair, digantikan oleh bunga-bunga yang tumbuh di hati itu.
Tapi kapan semua itu akan terjadi? Kapan hati Kyungsoo bersemi dan terlihat indah jika dilihat oleh orang lain? Apakah selamanya orang lain akan melihatnya sebagai sebuah noda yang tidak menarik? Apakah selamanya orang-orang akan menjauhinya?
Kyungsoo sebenarnya ingin berubah. Ia ingin mengeliminasi kekakuan di wajahnya. Menggantinya dengan sebuah kelenturan yang menghadirkan senyum maupun ekspresi lain yang disukai oleh orang lain.
Tapi Kyungsoo tak tahu bagaimana cara melakukannya. Ayahnya tak sekalipun mengajarinya bagaimana cara tersenyum tulus, jadi ia tak pernah bisa melakukannya dengan benar. Ia tak mengerti kenapa cara tersenyum luput dari buku petunjuk cara mendidik anak milik ayahnya.
Kyungsoo menghela nafas lelah, menyebabkan kaca jendela mobil di sampingnya menjadi berembun karena nafas hangatnya. Saat ini ia sedang berada di dalam mobil van yang melaju dari Seoul menuju Chuncheon. Kyungsoo tahu bahwa jarak dari Seoul ke Chuncheon kira-kira 75 km, tapi ia tak tahu travel time dari Seoul ke Chuncheon. Ia belum pernah sekalipun mengunjungi kota indah itu. Mungkin saja mereka membutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk sampai di Chuncheon. Apalagi jalanan siang ini terlihat ramai karena ini Hari Sabtu.
Kyungsoo duduk di baris kedua mobil van bersama Baekhyun, sementara Jongin duduk di depan bersama sopir. Suasana mobil itu sangat sepi, tidak ada satupun orang yang berani bicara karena sang bos juga tak sedikitpun bersuara. Bahkan Baekhyun yang biasanya sangat cerewet pun memilih diam. Ia hanya menyibukkan diri dengan ponselnya, mungkin sedang berbalas pesan dengan Chanyeol.
Kyungsoo sendiri tak masalah dengan suasana sunyi itu karena ia memang terbiasa dengan sepi. Sunyi dan sepi adalah kawan karibnya, jadi ia tidak merasa keberatan.
Tiba-tiba Kyungsoo merasakan ada hal aneh dengan mobil yang ia naiki. Terdapat beberapa goncangan yang terasa seperti saat ia naik pesawat dan melewati satu gumpalan awan yang tebal.
Dengan penuh kehati-hatian, sang sopir akhirnya menepikan mobilnya ke bahu jalan setelah sebelumnya menyalakan lampu sign.
"Sepertinya ban mobil ini bocor, Sajangnim."
Kyungsoo menghela nafas. Perjalanannya harus tertunda karena ban bocor.
"Jangan khawatir, Sajangnim. Di bagasi ada ban serep, jadi saya bisa menggantinya dengan segera."
"Jangan, Paman. Biar saya saja yang mengganti bannya. Paman istirahat saja."
Tiba-tiba Jongin menawarkan diri untuk mengganti ban. Mungkin pemuda itu tak sampai hati untuk membiarkan sopir mereka yang sudah cukup tua itu untuk mengganti ban.
Sang sopir sebenarnya merasa keberatan, tapi karena Jongin terus memaksa, akhirnya ia menyerah. Ia membiarkan Jongin keluar dari mobil, membuka bagasi, dan mengambil ban serep. Setelahnya Jongin mulai bekerja melepas ban yang bocor. Ternyata ban yang bocor adalah ban belakang sebelah kiri. Pantas saja Kyungsoo merasakan goncangan keras karena kebetulan ia duduk di belakang sebelah kiri.
Dari kaca jendela mobil, Kyungsoo mengamati pergerakan Jongin yang berkutat dengan berbagai peralatan yang tidak ia ketahui namanya. Kaca mobil itu gelap sehingga dari luar tidak terlihat jika ia sedang mengamati Jongin.
Sebenarnya ia hanya sekedar mengamati saja daripada ia tak melakukan apapun. Ia tak memiliki niat apapun.
Mungkin tak sampai limabelas menit sampai akhirnya Jongin kembali berdiri sambil menenteng ban yang baru saja ia ganti di tangan kiri. Lelaki itu secara refleks mengusap dahinya yang berkeringat dengan tangan kanan, tapi menyadari bahwa tangannya itu kotor karena oli.
Setelah memastikan ban sudah terpasang dengan baik, Jongin akhirnya mengembalikan ban yang baru saja ia ganti ke dalam bagasi, lalu ia kembali masuk ke dalam mobil.
"Sudah selesai, Paman. Kita bisa melanjutkan perjalanan."
Sang sopir mengangguk dan segera menghidupkan mesin mobil kembali. Mobil itu akhirnya kembali melaju.
Kyungsoo sebenarnya ingin tidur saja, tapi suara tawa Baekhyun cukup mengganggunya. Ia melirik ke samping, dan ternyata Baekhyun sedang menertawakan Jongin.
"Wajahmu terlihat seperti badut, Jongin!"
Jongin mengernyit tak terima, tapi ia segera mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian menggunakan layar ponsel itu untuk bercermin. Ia mengerti sekarang. Wajahnya kotor karena oli. Ia menoleh pada Baekhyun dan bertanya, "Kau punya tisu?"
Baekhyun berhenti tertawa, kemudian mulai mencari tisu di dalam tas tangannya. Tapi raut wajahnya terlihat kecewa dan berkata, "Aku lupa tidak membawa tisu."
Jongin tampak kecewa sejenak, tapi kemudian ia mengangkat bahu. Tak masalah, nanti ia bisa cuci muka saat sampai di hotel. Lelaki itu sama sekali tak menyangka jika Kyungsoo tiba-tiba saja menyodorkan satu pack tisu ke arahnya.
"Gunakan ini," ucap wanita itu dengan nada datar. Dengan ragu Jongin meraih tisu itu, dan Kyungsoo menambahkan, "Kau bisa melepas jasmu. Aku tahu kau kepanasan."
Oh, Jongin baru sadar bahwa sedari tadi ia masih memakai jas. Bahkan ia tadi mengganti ban dengan setelan jas komplit. Tentu ia tak mau ambil risiko dengan melepas jasnya tadi. Ia takut kena marah, walaupun sebenarnya ia kepanasan. Meskipun ini Musim Semi, tapi pekerjaan yang ia lakukan tadi cukup memeras keringat. Apalagi Jongin memang termasuk orang yang sangat mudah berkeringat.
Tapi kali ini Jongin mendapat lampu hijau, Kyungsoo mengizinkannya untuk menanggalkan jas yang kini kotor dan sedikit lecek. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pemuda tinggi itu langsung saja melepas jas hitamnya dan tersenyum lebar. Rasanya segar sekali setelah benda hitam itu terlepas dari tubuhnya. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya Jongin berada dalam balutan benda sialan itu sejak tadi.
Melihat ekspresi Jongin yang terbilang lucu, tanpa sadar Kyungsoo tersenyum kecil. Sebuah senyum yang sebelumnya tak pernah terlihat di wajah ayu wanita itu. Sayangnya senyuman itu luput dari penglihatan orang-orang yang ada di mobil itu.
Mereka sampai di hotel saat hari sudah cukup sore. Jalanan tadi benar-benar macet, jadi mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai di Chuncheon.
Sesampainya di hotel, mereka disambut oleh pihak Wu Insurance Corporation yang ternyata sudah lebih dulu check in. Wu Yifan—CEO sekaligus pemilik perusahaan Wu—mengatakan bahwa mereka sudah tiba sejak siang tadi.
Kyungsoo meminta maaf atas keterlambatan rombongannya. Seharusnya mereka memulai pertemuan hari ini, lebih tepatnya sore ini. Tapi karena satu dan lain hal, mereka justru datang terlambat.
Tapi rupanya Yifan tidak mempermasalahkan hal itu. Wajah lelaki itu memang dingin bak pangeran es, tapi ternyata ia sangat ramah. Ia justru mengusulkan supaya pertemuan mereka dilakukan esok hari saja karena pasti semuanya sudah lelah sekarang. Kyungsoo pun hanya bisa menerima keputusan itu dan mengucapkan terimakasih.
Akhirnya rombongan Kyungsoo bisa beristirahat setelah melalui perjalanan panjang. Sopir yang mengantar mereka juga sudah kembali ke Seoul dan akan menjemput mereka besok sore.
Jongin menuju ke meja resepsionis untuk check in, dan ia kembali menemui Baekhyun dan Kyungsoo sambil membawa dua kartu kunci di tangannya.
"Sajangnim, jika Anda keberatan, saya bisa mencari penginapan lain dan Anda bisa menempati kamar Anda sendirian."
Ah, rupanya Jongin masih merasa tidak enak dengan pembagian kamar mereka. Hal itu membuat Kyungsoo merasa dongkol. Wanita itu melipat tangannya di depan dada dan menatap Jongin tajam. "Kau masih mempermasalahkan hal itu?" tanyanya. "Kalau kau masih terus membahas hal itu, lebih baik kau sekarang pulang ke Seoul dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"
Jongin dibuat gelagapan karena ucapan Kyungsoo. Dengan cepat pemuda itu membungkukkan badannya dan meminta maaf.
Kyungsoo hanya mendengus kecil dan segera merebut satu kunci executive suite dari tangan Jongin. Ia sudah lelah, tapi asistennya itu masih saja mempermasalahkan hal kecil. Rasanya ia ingin menenggelamkan Jongin di kolam renang hotel.
Baekhyun memperhatikan kamar yang akan ditempatinya malam ini dengan pandangan kagum. Seumur-umur ia belum pernah berada di dalam executive suite sebuah hotel, dan kali ini ia berada di dalamnya untuk kali pertama.
Mungkin Chuncheon Tourist Hotel memang bukan hotel bintang 5 yang terkenal dengan kemegahannya, namun executive suite yang dimiliki oleh hotel tersebut tetap mampu membuat Baekhyun menganga.
Kamar hotel yang didominasi oleh warna cream itu sangat mewah dan berkelas. Jauh berbeda dari kamar-kamar hotel yang sebelumnya pernah ia tempati. Ini bukan perjalanan bisnis pertamanya, tapi sebelum-sebelumnya ia tak pernah mendapatkan executive suite hotel untuk menginap. Jenis kamar itu tentu hanya diperuntukkan bagi para atasan perusahaan.
Baekhyun beruntung karena Kyungsoo bersedia berbagi kamar dengannya.
Tapi, benarkah itu sebuah keberuntungan? Atau justru malah sebuah kesialan? Baekhyun seperti mati kutu saat berdekatan dengan Kyungsoo. Saat di mobil tadi saja mereka hanya saling diam, padahal di mobil itu ada empat orang yang harusnya bisa meramaikan suasana. Lalu apa yang harus Baekhyun lakukan jika ia hanya berdua saja di dalam kamar mewah nan luas ini? Status Baekhyun sebagai happy virus mungkin patut dipertanyakan jika sudah menyangkut Kyungsoo.
Baekhyun bahkan masih belum bergerak dari tempat berdirinya di samping pintu. Ia berpura-pura mengamati ruangan itu padahal ia hanya ingin menghindari Kyungsoo. Ia mengamati satu set sofa empuk nan besar yang ada di sana, juga televisi layar datar berukuran jumbo yang mendampingi sofa itu di living room yang terpisah dengan kamar utama. Baekhyun bahkan juga mengamati AC dan komputer yang ada di ruangan itu.
"Apa kau akan terus berdiri di sana?"
Pertanyaan Kyungsoo membuat Baekhyun menelan ludah gugup. "Ma-maaf..." sangat jarang wanita itu tergagap begitu.
"Kalau kau ingin mandi, mandi saja. Kalau kau ingin istirahat, kau bisa berbaring di manapun kau mau," kembali Kyungsoo bicara. Wanita itu sejak tadi duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya. Entah apa yang ia lakukan. Apakah ia membuka media sosial? Tapi itu sedikit janggal. Mana mungkin makhluk anti sosial seperti Kyungsoo memiliki media sosial, pikir Baekhyun.
"Saya ingin mandi saja, Sajangnim."
Baekhyun akhirnya memilih untuk melarikan diri dengan berendam di bathub. Mungkin itu bisa membuatnya merasa lebih rileks.
Kyungsoo hanya mengangkat bahu sebagai tanggapan. Merasa tak penting untuk memberikan tanggapan verbal.
Keesokan harinya, setelah sarapan bersama di Chienrong Restaurant yang ada di hotel, perwakilan dari dua perusahaan sudah bersiap melakukan pertemuan formal yang kemarin sempat tertunda. Mereka menggunakan layanan ruang meeting yang ada di hotel tempat mereka menginap. Ruangan itu tak bisa dikatakan besar, tapi tidak menyesakkan karena yang akan mengikuti pertemuan hanyalah enam orang saja.
Sebenarnya tadi Kyungsoo sudah menawarkan untuk melaksanakan pertemuan di restoran lain di luar hotel supaya berganti suasana, tapi dengan sopan pihak Wu menolak. Yifan berdalih bahwa ia ingin menyimpan energinya sebelum agenda bulan madunya dengan istrinya dimulai. Entah apa maksud dari perkataan itu.
Akhirnya mereka sepakat untuk tetap rapat di hotel dengan meminjam ruang meeting yang ada di sana. Jongin yang tadi menghubungi pihak hotel guna meminta izin untuk menggunakan ruang tersebut. Dan untungnya, pihak hotel memberikannya izin tanpa syarat karena memang ruangan tersebut sedang tidak digunakan oleh tamu lain.
Saat ini mereka semua sudah duduk di kedua sisi meja, saling berhadapan. Kyungsoo duduk diapit oleh Jongin dan Baekhyun, sedangkan di hadapannya Yifan duduk diapit oleh istri dan sekretarisnya.
Jongin pikir, mereka akan langsung membahas hal-hal yang serius tentang kerjasama mereka, tapi ternyata ia salah. Yifan justru mengawali pertemuan mereka dengan membicarakan hal-hal yang tidak penting (dalam Bahasa Inggris tentunya karena Yifan tak bisa berbahasa Korea).
"Saya sebenarnya ingin mengundang Anda dan ayah Anda pada pernikahan saya tempo hari, Nona Do. Tapi saya urungkan karena saya tahu Seoul Insurance Corporation sedang berada dalam masa transisi kepemimpinan saat itu."
Itu informasi yang tidak penting, dan Jongin yakin Kyungsoo pasti berpendapat sama. Tapi ia bisa melihat Kyungsoo menunjukkan ekspresi biasa. Ekspresi profesional yang selama ini melekat pada dirinya.
"Tidak masalah, Tuan Wu. Saya bisa memahami hal itu."
Yifan tampaknya masih belum berniat untuk memulai pertemuan resmi mereka. Ia kini justru merangkul bahu istrinya dengan mesra dan tersenyum lebar pada Kyungsoo.
"Zitao sangat ingin berbulan madu di sini, jadi terpaksa saya memindah tempat pertemuan kita. Saya juga minta maaf untuk hal itu, Nona Do."
Kyungsoo menampilkan senyum profesional, dan Jongin juga menampilkan senyum yang sama. Dulu Baekhyun pernah mengajarinya untuk tersenyum secara profesional. Sebuah jenis senyuman yang sering digunakan dalam suasana seperti ini.
Jongin bisa mendengar saat Kyungsoo kembali mengatakan 'Tidak masalah', padahal Jongin tahu dengan pasti bahwa Kyungsoo sempat merasa kesal karena permintaan perpindahan tempat yang sangat mendadak.
"Ngomong-ngomong, Nona Do," suara Yifan kembali terdengar. "Apa Anda sudah memiliki kekasih dan berniat untuk segera menikah? Jika iya, saya harap Anda bersedia mengundang saya."
Dan seketika Jongin merasakan aura mencekam di sekitarnya. Ia melirik Kyungsoo dan mendapati wanita itu masih mempertahankan senyuman yang sama, tatapan matanya juga tetap datar seperti biasa. Tapi bedanya, satu tangannya yang tersimpan di atas meja kini terkepal erat. Yifan telah mengangkat topik yang salah. Kyungsoo tentu sangat sensitif mengenai hal itu. Wanita itu baru saja mengalami sebuah kisah tragis dimana pria yang ia cintai datang padanya hanya untuk menyerahkan undangan pernikahan, dan sekarang tiba-tiba Yifan mengangkat topik tentang kekasih yang eksistensinya perlu dipertanyakan.
Jongin merasa iba pada Kyungsoo. Ada bagian dalam dirinya yang mendorongnya untuk menggenggam tangan Kyungsoo yang terkepal, tapi ia tekan jauh-jauh dorongan itu karena ia tak mau kembali melakukan kesalahan. Ia tak mau lagi-lagi berbuat lancang seperti apa yang ia lakukan tempo hari. Sudah untung ia tidak dipecat karena perbuatannya itu.
Menyadari bahwa Kyungsoo terlalu lama diam, Jongin akhirnya mengambil alih pembicaraan, "Maaf menyela, Tuan Wu. Tapi sepertinya kita harus segera memulai pembicaraan serius kita karena hari sudah mulai siang."
Dan untungnya Yifan langsung menyetujui usulannya itu. Yifan juga tidak terlihat curiga melihat Kyungsoo yang tadi sempat mematung lama. Pria bertubuh jangkung dengan rambut pirangnya itu sepertinya sangat tidak peka.
Orang-orang itu akhirnya memulai pembicaraan penting mereka yang menjurus pada rencana kerjasama antar dua perusahaan beda negara itu.
Sopir kantor yang seharusnya menjemput mereka di Chuncheon ternyata terlambat. Seharusnya jam 6 petang sopir tersebut sudah tiba, tapi ternyata mobil yang dikendarai oleh sopir tersebut bermasalah saat di jalan sehingga harus mampir ke bengkel terlebih dahulu. Sepertinya mobil itu memang terlalu banyak masalah. Kemarin ban bocor, dan hari ini giliran mesinnya yang bermasalah.
Saat ini sudah jam setengah tujuh petang, tapi sopir itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Tadi sopir itu menghubungi Jongin dan berkata bahwa mungkin baru bisa sampai hotel di atas jam 7 malam.
Kyungsoo, Jongin, dan Baekhyun sudah check out dari kamar mereka dan sekarang terlantar di restoran hotel. Kyungsoo bisa bernafas lega karena pertemuan mereka dengan perwakilan Perusahaan Wu berjalan lancar, dan keputusan akhirnya juga melegakan. Mereka sepakat untuk melakukan kerjasama.
Semua berjalan lancar walaupun rapat tadi pagi berjalan sangat lama. Mungkin mereka menghabiskan waktu sampai 7 jam untuk membahas tentang banyak hal, termasuk hal-hal non sense yang dibicarakan oleh CEO Wu. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti kenapa orang seperti Yifan bisa menjadi CEO yang sukses. Orang itu sepertinya terlalu banyak main-main, terlalu banyak tertawa, terlalu berbeda dengan orang-orang penting lainnya yang Kyungsoo temui. CEO Wu itu terlalu... Absurd. Entah apa yang menjadikan istrinya mau menikahi pria itu. Padahal menurut Kyungsoo, istrinya kalem dan lembut, sangat berbeda dengan Yifan.
Saat ini Baekhyun dan Jongin mengobrol tidak jelas. Mereka bertiga berada di meja yang sama, namun Kyungsoo memilih untuk diam sambil memainkan sedotan di dalam gelasnya yang sudah hampir kosong.
Jongin dan Baekhyun sepertinya tak lagi sungkan untuk mengobrol di depan Kyungsoo. Dari pada mati bosan, memang lebih baik mengobrol seperti itu.
Tapi sayangnya Kyungsoo bukan tipe orang yang doyan mengobrol ataupun menggosip. Ia terbiasa berdiam diri, mengisolasi dirinya dari dunia luar. Kalaupun bicara, biasanya ia hanya bicara pada orang-orang penting karena tuntutan profesionalitas semata.
Sebenarnya ia merasa kesal karena seakan ia diabaikan. Seakan ia tak dianggap di tempat itu. Tapi ia tahu bahwa itu semua bukan salah Baekhyun maupun Jongin. Itu adalah salahnya sendiri karena tidak mau membuka dirinya pada orang lain. Ia terlalu kaku, terlalu tertutup. Ia bahkan tak bisa memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Baekhyun dan Jongin meskipun ia bisa mendengar percakapan mereka. Sekretaris dan asistennya itu sepertinya sangat akrab dan tak ada tanda-tanda akan kehabisan topik obrolan.
Kyungsoo menghela nafas keras sehingga menyita atensi Jongin dan Baekhyun. Dua orang itu takut-takut menatap Kyungsoo.
"A-apa kami mengganggu Anda, Sajangnim?" Baekhyun yang memberanikan diri bertanya.
Bukannya langsung menjawab, Kyungsoo malah berdiri di tempatnya. "Aku akan jalan-jalan sebentar. Tolong jaga barang-barangku di sini. Kalian lanjut mengobrol saja." Akhirnya wanita itu memutuskan untuk pergi daripada terus-terusan menjadi obat nyamuk.
Kyungsoo bahkan tak peduli pada Baekhyun dan Jongin yang saat ini menatapnya heran. Ia hanya butuh mencari udara segar sebelum kembali ke Seoul. Wilayah di sekitar hotel tidak begitu ramai, jadi ia merasa nyaman berjalan-jalan sendirian di sana.
Tadi Kyungsoo sempat browsing mengenai tempat-tempat wisata yang berada di sekitar hotel tempatnya menginap, dan ternyata Myeongdong Street hanya berjarak 451 meter dari hotel itu. Mungkin hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di tempat tersebut.
Dan benar saja, setelah kurang lebih lima menit melangkah Kyungsoo mulai merasakan keramaian di Myeongdong Street. Awalnya ia pikir Myeongdong Street yang ada di Chuncheon ini tak akan jauh berbeda dengan Myeongdong yang ada di Seoul, tapi rupanya ia salah. Dua tempat itu memiliki kelas yang berbeda—Myeongdong di Seoul tentu lebih berkelas.
Tapi Kyungsoo juga tidak mempermasalahkan hal itu. Toh ia hanya ingin berjalan-jalan dan tidak ingin berbelanja. Oh, bagaimana ia bisa belanja jika ia tidak membawa dompet? Jangankan dompet, ponsel pun ia tinggalkan di dalam tas tangannya. Sepertinya tidak masalah, ia hanya akan berjalan-jalan sebentar dan setelahnya akan kembali lagi ke hotel.
Malam itu Myeongdong Street cukup ramai karena Hari Minggu. Banyak wajah asing berlalu lalang di sekitar Kyungsoo. Sekedar berjalan atau juga mampir ke toko-toko yang ada di sana. Melihat barang-barang yang dipajang sembari membawa makanan kecil di tangan mereka.
Kyungsoo juga sesekali melakukan hal yang sama. Gadis bermarga Do itu sesekali ia berhenti di depan sebuah toko untuk melihat-lihat, kemudian berjalan lagi menuruti keinginan langkah kakinya.
Dan tanpa sadar, Kyungsoo kehilangan arah. Ia... Tersesat.
Jongin memang memiliki kebiasaan-kebiasaan aneh sesuai dengan suasana hatinya. Saat ia sedih, nafsu makannya akan bertambah drastis sehingga dalam sehari ia bisa makan sebanyak tujuh kali. Saat ia gugup, ia akan bicara dengan terbata, keluar keringat berlebih di dahinya, atau juga tanpa sadar ia menggigit kuku jarinya. Saat ia khawatir, ia kan menggoyangkan kakinya secara random dan tidak akan berhenti sebelum ia melakukan sesuatu untuk menghilangkan perasaan khawatirnya itu.
Dan saat ini, Jongin sedang melakukan kebiasaannya itu. Kakinya yang berada di bawah meja terus bergoyang hingga meja yang ada di atasnya juga ikut bergoyang kecil.
Ia sebenarnya enggan jika harus mengakui bahwa dirinya sedang merasa khawatir. Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan? Semuanya berjalan lancar hari ini. Pertemuan dengan perwakilan Perusahaan Wu menghasilkan keputusan yang mereka harapkan. Lalu apa yang perlu dikhawatirkan?
Tapi meskipun Jongin enggan mengakui, pergerakan kakinya di bawah meja itu mampu membuktikan segalanya. Menebas habis semua bantahan yang dilontarkan hati Jongin.
Baekhyun menyadari kegelisahan Jongin. Gadis mungil itu tahu Jongin luar dalam, termasuk kebiasaan-kebiasaan anehnya.
"Tenanglah, Jongin. Sajangnim pasti akan kembali sebentar lagi."
Kenapa tiba-tiba Baekhyun membicarakan Kyungsoo? Apa Jongin sedang mengkhawatirkan Kyungsoo?
Walaupun Jongin enggan mengakuinya, tapi itulah faktanya.
"Ini sudah jam 8 malam. Berarti sudah lebih dari satu jam Sajangnim pergi."
Benar, Kyungsoo sudah lama pergi meninggalkan hotel dan hingga kini belum kembali. Sopir mereka saja sudah sejak tadi tiba dan kini sedang duduk bersama mereka.
Baekhyun tadi sudah berusaha menelepon Kyungsoo. Tapi bukannya mendapat jawaban, mereka justru menemukan ponsel Kyungsoo ada di dalam tas tangannya. Kyungsoo tidak membawa ponselnya.
Apa Kyungsoo tersesat? Seharusnya wanita itu membawa ponselnya sehingga bisa menggunakan aplikasi maps untuk kembali ke hotel. Tapi sayangnya ponselnya tidak dibawa.
Apa Kyungsoo diculik? Hal itulah yang sejak tadi dikhawatirkan oleh Jongin. Kyungsoo itu orang kaya. Dari penampilannya saja, orang akan langsung tahu bahwa wanita itu punya banyak harta. Jadi, bukan tidak mungkin wanita itu menjadi korban penculikan.
Jongin benar-benar tak tahan lagi. Ia akhirnya berdiri dari kursinya. "Ayo kita cari Sajangnim. Biar Paman yang menjaga barang-barang kita di sini."
"Kita mau mencarinya kemana, Jongin?" walaupun malas, tapi Baekhyun akhirnya ikut berdiri.
"Tempat yang paling dekat dengan hotel ini adalah Myeongdong Street. Kita sebaiknya mencoba mencari di sana dulu."
Baekhyun pun akhirnya menyetujui usulan Jongin. Mereka mulai berjalan meninggalkan hotel untuk mencari Kyungsoo.
Kyungsoo semakin panik saat jalanan bertambah ramai. Malam semakin larut, tapi kenapa jalanan justru semakin ramai? Semakin banyak orang yang tak dikenalnya berlalu-lalang di jalanan Myeongdong. Baik pribumi maupun turis, tak ada satupun yang dikenal oleh si gadis Do.
Kyungsoo seharusnya bertanya pada orang sekitar tentang letak hotel tempatnya menginap, tapi hal itu tak terlintas sedikitpun di kepalanya. Ia memilih untuk terus berjalan, berusaha mengingat jalan mana yang tadi ia lewati dari hotel.
Langkah kaki Kyungsoo semakin cepat bergerak. Jujur, saat ini ia takut karena ia sama sekali tak mengenal Chuncheon. Ia baru pertama kali mengunjungi tempat itu, tapi sekarang ia harus tersesat dan tak tahu arah. Apa yang harus ia lakukan?
Langkah kaki Kyungsoo kini berubah menjadi berlari. Ia mencoba menembus kerumunan manusia di tempat itu, mencoba mencari jalan keluar dari labirin yang memerangkapnya.
Karena terlalu panik, Kyungsoo jadi bertabrakan dengan seseorang, dan seketika ia merasakan panas yang tak tertahankan di lengan kanannya.
"KAU TAK PUNYA MATA YA?!" secara refleks Kyungsoo membentak orang yang bertabrakan dengannya. Suaranya sangat keras sampai-sampai atensi orang-orang di sekitarnya beralih padanya. Suara bisik-bisik dari orang sekitar tak bisa terelakkan.
Kyungsoo masih dikuasai emosi, tapi sejurus kemudian matanya menangkap sebuah pemandangan ganjil. Orang yang menabraknya itu tidak menatapnya secara langsung, dan di tangan kanannya bertengger sebuah tongkat sementara tangan kirinya menggenggam satu cup americano panas yang sebagian isinya tumpah ke lengan Kyungsoo.
Kyungsoo baru sadar, lelaki tua di depannya itu... Buta?
Lidah Kyungsoo mendadak kelu. Ia ingin meminta maaf, tapi ia bukan orang yang terbiasa melafalkan kata maaf. Padahal kalau dipikir-pikir, insiden tadi sebenarnya salahnya sendiri. Ia berlari tanpa memperhatikan jalanan sehingga menabrak lelaki tua yang malang itu.
Kyungsoo panik, apalagi orang-orang di sekitarnya mulai memberinya sumpah serapah karena ia baru saja menghina orang yang memiliki kekurangan. Kyungsoo takut, badannya mulai bergetar tak terkendali.
"Maafkan teman saya, Tuan."
Sebuah suara yang familiar di telinganya mengusik lamunan Kyungsoo. Ia menoleh ke kanan, dan mendapati sosok Jongin sedang membungkuk sopan kepada lelaki tua yang tadi ia tabrak.
Jongin? Kenapa pria itu tiba-tiba muncul di sampingnya?
"Tidak apa-apa, Nak. Temanmu mungkin sedang buru-buru hingga tidak sengaja menabrakku," lelaki tua yang tadi ditabrak oleh Kyungsoo menimpali sembari tersenyum.
Tersenyum? Kenapa lelaki itu tersenyum?
Atensi Kyungsoo kembali teralihkan ketika Jongin mendadak berlari menjauh darinya. Apa Jongin berniat meninggalkannya sendirian? Apa ia tak bersedia membantu dirinya yang sedang kesusahan?
Kyungsoo merasa sedih sekaligus kesal. Rasa kecewa menyeruak di hatinya. Apa ia terlalu buruk sampai-sampai tak ada yang peduli padanya?
Tapi sepertinya Kyungsoo salah. Beberapa menit kemudian, ia melihat sosok Jongin kembali berlari ke arahnya sambil membawa sesuatu di tangan kanannya.
"Ini pengganti americano yang tadi tumpah saat Tuan bertabrakan dengan teman saya," Jongin bertutur lembut seraya menyerahkan americano yang baru saja ia beli kepada si lelaki tua dan mengambil alih cup americano yang sudah setengah kosong dari tangan lelaki tua itu.
Kyungsoo tercengang. Jadi, Jongin tadi pergi darinya untuk membeli satu cup americano untuk menggantikan americano yang tadi tumpah? Astaga, Kyungsoo bahkan sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Si lelaki tua yang tadi menjadi korban penabrakan mengucapkan terimakasih, kemudian membungkuk sekali dan pergi dari tempat itu. Meninggalkan Kyungsoo yang masih dalam kondisi blank.
"Sajangnim, Anda baik-baik saja?"
Pertanyaan Jongin akhirnya mampu menyadarkan Kyungsoo. Wanita itu mengangguk kecil sebagai jawaban.
Jongin tersenyum, tapi kemudian pandangannya terfokus pada lengan kemeja putih Kyungsoo yang kini warnanya berubah hitam. "Sajangnim terluka. Kita sebaiknya segera kembali ke hotel dan biarkan Baekhyun mengobati luka Anda. Ah, tunggu sebentar. Saya harus mengirim pesan pada Baekhyun karena saya sudah menemukan Anda. Tadi kami sengaja berpisah untuk mencari Anda."
Kyungsoo tidak memberi respon apapun. Ia terus menatap Jongin dengan tatapan kosong saat pria itu mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Baekhyun.
"Sudah, Sajangnim." Jongin kembali memasukkan ponselnya ke saku celana. "Ayo kita kembali ke hotel," ajaknya.
Tapi Kyungsoo belum bergeming. Wanita itu masih belum sadar sepenuhnya, jadilah Jongin berinisiatif untuk menggenggam tangan Kyungsoo dan membimbing wanita itu berjalan di sampingnya.
Kyungsoo terkejut, tapi ia tidak melepas genggaman Jongin. Wanita itu pasrah membiarkan tangan kecilnya digenggam oleh Jongin. Lagipula, genggaman tangan itu terasa... Hangat.
"Asisten Kim..." Kyungsoo akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi ia terdiam. Jongin meresponnya dengan gumaman kecil, dan Kyungsoo meneruskan, "Kenapa lelaki tua tadi tersenyum padahal aku sudah memakinya?"
Jongin sepertinya terkejut mendengar pertanyaan Kyungsoo. Lelaki itu menoleh dan mendapati Kyungsoo tetap menatap ke depan dengan tatapan hampa.
Jongin selanjutnya kembali menatap ke depan dan menghela nafas. "Ia sudah terbiasa, Sajangnim," jawabnya. "Ia sudah terbiasa mendapat makian dan hujatan karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Kebiasaan itu menuntutnya untuk membangun perisai hati yang kokoh supaya tidak mudah terluka."
Kyungsoo diam mendengarkan. Sebenarnya ia tak sepenuhnya mengerti, tapi sedikit-sedikit ia mencoba mencerna penjelasan Jongin.
"Tapi, Sajangnim..." Tiba-tiba suara Jongin kembali terdengar. "Meskipun orang-orang seperti mereka sudah membangun perisai hati, tapi bukan berarti mereka tidak merasa sedih ketika dihina seperti itu. Mereka merasa sedih, tapi menyembunyikan semuanya dengan baik."
Dua orang itu masih berjalan sambil bergandengan tangan. Mungkin tak lama lagi mereka akan sampai di hotel.
"Ibu saya selalu berpesan pada saya untuk berhati-hati dalam berucap, karena bisa saja ucapan saya menyakiti perasaan orang lain. Mungkin bagi kita biasa saja, tapi bagi orang lain, mungkin itu menusuk perasaannya."
Kyungsoo masih diam. Ucapan Jongin seolah menyindirnya, tapi anehnya, ia tidak merasa tersinggung ataupun kesal. Tanpa sadar Kyungsoo justru tersenyum kecil—sangat tipis. "Ibumu adalah orang yang baik," akhirnya Kyungsoo menimpali.
Jongin sontak menoleh pada Kyungsoo dan tersenyum lebar. "Tentu saja. Ibu saya adalah ibu terbaik di dunia."
Kyungsoo akhirnya menoleh ke arah Jongin dengan masih mempertahankan senyuman tipis yang mungkin tidak bisa dilihat oleh Jongin.
Kyungsoo pikir, Jongin juga orang yang sangat baik. Lelaki itu juga sangat tampan, apalagi saat helaian rambutnya diterbangkan oleh angin seperti saat ini. Kenapa ia baru menyadarinya?
Merasa aneh dengan pemikirannya sendiri, Kyungsoo akhirnya kembali menatap ke depan, tapi secara tidak sadar ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Jongin.
Baekhyun menunggu dengan tidak sabaran di depan hotel. Tadi Jongin mengirim pesan padanya, mengatakan ia sudah berhasil menemukan Kyungsoo. Jadilah ia memutuskan untuk kembali ke hotel dan menunggu mereka berdua di sana.
Tapi sampai saat ini dua makhluk berbeda jenis kelamin itu belum juga kembali ke hotel. Ia baru saja akan menelepon Jongin, tapi matanya menangkap siluet dua manusia yang dikenalnya. Dua manusia yang sedang berjalan ke arahnya itu tentu saja Jongin dan Kyungsoo.
Segera saja wanita bermarga Byun itu mendekati mereka. Setelah sampai di depan mereka, Baekhyun baru sadar kalau ternyata Jongin dan Kyungsoo bergandengan tangan. Ingin rasanya ia menggoda Jongin karena hal itu, tapi tampaknya ini bukan waktu yang tepat. Ia melihat wajah atasannya pucat pasi, sebuah indikasi bahwa atasannya sedang dalam kondisi buruk.
"Apa Sajangnim baik-baik saja?" tanyanya.
"Lengan Sajangnim terkena americano panas tadi. Bisa kau mengobatinya di mobil? Aku akan coba bertanya pada pihak hotel apakah mereka punya obat luka bakar."
Baekhyun baru akan mengangguk, tapi Kyungsoo menyela. "Kita tunda kepulangan kita ke Seoul. Ini sudah malam, kalian pasti sudah lelah. Pesan dua kamar lagi saja, sopir kita juga harus menginap malam ini."
Jongin langsung mengangguk dan seketika melepas genggaman tangan Kyungsoo, lalu berlari masuk ke dalam hotel untuk kembali memesan kamar.
Kini giliran Baekhyun yang menuntun Kyungsoo untuk berjalan memasuki hotel. Mereka menunggu Jongin yang sedang bicara pada resepsionis. Tak lama kemudian lelaki itu berlari mendekati mereka dengan sebuah kunci di tangannya.
"Maaf, Sajangnim. Hanya ada satu kamar kosong untuk sekarang." Baekhyun dan Kyungsoo sama-sama kecewa mendengar perkataan Jongin. "Tapi jangan khawatir, Sajangnim. Anda dan Sekretaris Byun bisa memakai kamar ini, dan saya akan tidur di mobil bersama sopir."
"Kau bercanda, Jongin? Bagaimana bisa kau tidur di mobil?"
"Sekretaris Byun benar. Kau tidak mungkin tidur di mobil. Sebaiknya cari kamar di hotel lain yang ada di dekat sini saja."
"Tidak apa-apa, Sajangnim. Lagipula ini hanya untuk satu malam, jadi tidak masalah jika harus tidur di mobil."
Kyungsoo ingin memprotes, tapi Jongin lebih dulu bicara pada Baekhyun, "Ajak Sajangnim ke kamar. Nanti akan ada staf hotel yang mengantarkan obat luka bakar ke kamar kalian. Tolong kau obati luka Sajangnim, oke?" Baekhyun mengacungkan jempolnya pada Jongin, dan pemuda itu beralih pada Kyungsoo, "Selamat beristirahat, Sajangnim." Setelah membungkuk satu kali, Jongin bergegas meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo.
Kyungsoo masih memandang punggung Jongin yang menjauh, tapi tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya didorong lembut oleh Baekhyun untuk segera berjalan ke kamar.
Kyungsoo bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih pada Jongin.
Baekhyun sebenarnya bukan tipe wanita yang telaten. Ia memang tipe pegawai teladan, tapi untuk urusan di luar kantor, ia benar-benar bukan ahlinya.
Wanita itu tidak bisa memasak, tidak terbiasa bersih-bersih rumah, dan juga tidak bisa mengobati orang yang terluka. Tapi malam ini, ia mendapat tugas untuk mengobati luka atasannya. Salah sedikit, pekerjaannya dipertaruhkan.
Saat ini Baekhyun dan Kyungsoo sudah berada di kamar mereka, satu executive suite yang tadi berhasil dipesan oleh Jongin. Dengan hati-hati Baekhyun mengoleskan obat luka bakar ke lengan Kyungsoo. Ia melakukannya setelah ia membaca petunjuk pemakaian obat dengan seksama.
Sensasi dingin dan perih akibat obat yang dioleskan di atas lukanya membuat Kyungsoo sesekali meringis, tapi ia tidak memprotes. Dengan pasrah ia membiarkan Baekhyun mengobati lukanya.
"Sekretaris Byun..." suara Kyungsoo akhirnya memecah keheningan. "Apa kau sudah lama mengenal Asisten Kim?"
Tanpa sadar Baekhyun menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi mengoleskan obat luka bakar di lengan Kyungsoo. Ia kaget karena tiba-tiba Kyungsoo menanyakan tentang Jongin.
"Sudah 2 tahun, Sajangnim. Saya mengenal Asisten Kim sejak ia mulai bekerja di perusahaan 2 tahun lalu." Kini tangan Baekhyun sudah kembali bergerak mengoleskan obat.
"Apa sejak dulu ia memang seperti itu? Kikuk, ceroboh, dan sedikit... berantakan?"
Baekhyun refleks meloloskan tawa nyaring karena pertanyaan Kyungsoo. Tapi selanjutnya ia sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan dan segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Maaf, Sajangnim," cicitnya. "Ehm… Asisten Kim sejak dulu memang seperti itu. Ia tidak berubah sejak 2 tahun lalu. Sifat buruknya itu sangat fatal. Mungkin hal itu yang menyebabkan ia tak kunjung memiliki kekasih."
"Jongin tidak punya kekasih?" Kali ini Kyungsoo yang kelepasan. Wanita itu berdeham dan mengoreksi ucapannya, "Maksudku, Asisten Kim tidak punya kekasih?"
Sebisa mungkin Baekhyun menahan tawanya. Ia yakin pasti telah terjadi sesuatu antara atasannya dengan Jongin. Ia akan mencoba untuk bermain-main sedikit.
"Sebenarnya saya tidak yakin dengan hal itu, Sajangnim. Asisten Kim selalu menghindar jika ada yang bertanya tentang kekasih. Tapi setahu saya, ia punya beberapa mantan kekasih."
"Oh ya? Seperti apa mantan kekasih Asisten Kim?"
"Mereka sangat cantik. Tubuhnya tinggi seperti model, rambutnya panjang, seksi, dan yah... Nyaris sempurna menurut saya."
Baekhyun semakin kesulitan menahan tawa ketika ia mendapati perubahan minor di wajah Kyungsoo. Alis Kyungsoo sedikit berkerut. Jika tidak terlalu diperhatikan, pasti tidak ada yang menyadari perubahan itu. Tapi ini Baekhyun. Ia terlalu peka pada perubahan ekspresi meskipun hanya kecil.
Kapan lagi kau bisa mengerjai atasanmu?
Setelah satu malam melelahkan yang penuh cerita, hari akhirnya berganti pagi. Kyungsoo dan Baekhyun berjalan bersama menuju lobby lounge. Di sana terdapat breakfast buffet yang menyajikan berbagai hidangan untuk santap pagi.
Dua wanita cantik itu dalam diam mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk yang mereka inginkan. Kyungsoo kembali menjadi sosok yang pendiam, mungkin karena ulah Baekhyun semalam. Entahlah.
Yang jelas Baekhyun tidak merasa bersalah sedikitpun. Ia dengan bahagia mencomot lauk yang ia inginkan, walaupun ia membatasi pilihannya karena ia sedang diet.
Setelah piring mereka terisi penuh, akhirnya mereka berjalan menuju sebuah meja di dekat jendela. Dua wanita cantik itu meletakkan piring mereka di atas meja. Baekhyun langsung duduk, tapi Kyungsoo masih berdiri.
"Aku akan memanggil Asisten Kim dan Sopir Kwon untuk sarapan. Kau makan duluan saja."
Baekhyun tak mau ambil pusing dan langsung mengangguk, membiarkan Kyungsoo berjalan menjauhinya.
Kyungsoo berjalan menuju halaman parkir, mencari mobil van hitam milik perusahaannya. Begitu ia menemukan mobil yang dicari, ia langsung berjalan mendekatinya.
Kaca mobil itu berwarna hitam sehingga ia tak dapat melihat ke dalam. Ia mencoba mengintip dari kaca bagian samping depan, tapi ia tetap tak bisa melihat apapun. Ia lalu beralih ke kaca belakang, tapi hasilnya nihil. Padahal wajahnya sampai hampir menempel di kaca, tapi bagian dalam mobil tetap tak terlihat. Wanita itu justru terkejut setengah mati karena kaca mobil itu turun dengan perlahan. Perlahan-lahan memunculkan wajah Jongin yang super konyol dengan senyum lebar di wajahnya.
Oh, Jongin pasti sejak tadi melihatnya dari dalam mobil, dan pasti ia menertawakan tingkah Kyungsoo yang seperti maling mobil. Oke, ia baru saja melakukan tindakan bodoh yang sangat memalukan.
Tapi ini adalah Kyungsoo, cepat-cepat wanita itu mengganti ekspresinya menjadi datar lagi, lalu berdeham kecil. "Mana Sopir Kwon? Kita harus segera sarapan sebelum kembali ke Seoul."
"Sopir Kwon sedang mandi di toilet hotel. Mungkin sebentar lagi ia kembali."
Kyungsoo meneliti penampilan Jongin dengan seksama. "Kau juga sudah mandi?"
Jongin mengangguk. "Sudah sejak satu jam lalu, Sajangnim."
"Berarti sejak tadi kau juga sudah bangun?" lagi-lagi Jongin mengangguk. "Tapi kenapa kau tidak langsung keluar dari mobil saat aku berada di dekat mobil ini?"
Jongin tersenyum jenaka sebelum menjawab, "Kalau saya langsung keluar, maka saya akan melewatkan ekspresi Sajangnim yang lucu saat mengintip melalui kaca mobil."
Lagi-lagi Kyungsoo dipermalukan. Pipi putih wanita itu perlahan berubah warna menjadi merah muda, hal yang selama ini tak pernah terjadi. Dengan kesal, wanita itu pergi meninggalkan Jongin yang langsung tertawa keras.
Perjalanan mereka di Hari Senin ini relatif lancar daripada perjalan mereka Sabtu lalu. Mereka tidak terjebak macet sehingga bisa sampai di Seoul sebelum jam makan siang.
"Kalian tidak usah bekerja hari ini."
Ucapan Kyungsoo itu membuat Baekhyun dan Jongin sontak menatap wanita itu dengan tatapan horror. Mereka baru saja memasuki wilayah Seoul dan mobil masih terus melaju, tapi ucapan Kyungsoo tadi seolah menjadi petir di siang bolong.
"Ma-maksud Anda, kami dipecat, Sajangnim?" tanya Baekhyun. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah ia dipecat karena ulahnya tadi malam? Ya ampun, seharusnya ia tidak melakukan perbuatan seperti itu. Ia tahu bahwa Kyungsoo sangat sensitif dan emosional, tapi tetap saja ia nekat melakukannya.
Jongin juga menyesal di dalam hatinya. Mungkin saja Kyungsoo memecatnya karena perbuatannya tadi pagi. Kyungsoo pasti merasa dipermalukan karena ulahnya tadi pagi. Mungkin Kyungsoo benar-benar kesal, apalagi ia sudah sering berbuat salah.
Tapi di luar dugaan, Kyungsoo justru mendengus keras. "Apa hal yang ada di otak kalian hanyalah tentang pemecatan?" tanyanya. "Pertemuan kita dengan perwakilan Perusahaan Wu berjalan lancar, dan itu semua juga berkat kerja keras kalian. Jadi, aku memberikan kalian libur hari ini. Manfaatkan untuk beristirahat dan kembalilah bekerja besok."
Baekhyun dan Jongin sama-sama melongo. Dalam hati mereka bersyukur karena ternyata pekerjaan mereka masih aman.
"Tapi, Sajangnim. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini." Meskipun sebenarnya senang, tapi Baekhyun ingat bahwa ada beberapa tugas yang menunggu untuk ia selesaikan hari ini.
"Aku akan menghandle semuanya. Kau tidak perlu khawatir." Melihat Baekhyun yang akhirnya mengangguk, Kyungsoo kemudian bertanya, "Jadi, kita akan pergi ke rumah siapa dulu sekarang?"
"Apa maksud Anda, Sajangnim?" kali ini Jongin yang bertanya.
Kyungsoo menghela nafas. "Aku harus mengantarkan siapa dulu? Kau atau Sekretaris Byun?"
Jongin dan Baekhyun saling pandang dengan tatapan bingung. Hari ini Kyungsoo sangat membingungkan.
"Sepertinya kita ke rumah saya dulu, Sajangnim. Rumah saya tidak jauh dari sini," akhirnya Baekhyun yang menjawab karena Kyungsoo sejak tadi menunggu jawaban.
Jawaban Baekhyun itu mendapat anggukan dari Kyungsoo, dan ia meminta Baekhyun untuk mengarahkan Sopir Kwon ke jalan menuju rumahnya.
Beberapa menit terlewati, dan mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Baekhyun.
"Terimakasih, Sajangnim. Sampai jumpa besok." Baekhyun membungkuk singkat, kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil. Saat sudah berada di luar mobil, wanita itu kembali membungkuk sampai mobil itu kembali berjalan.
Saat ini hanya tersisa tiga orang yang berada di dalam mobil. Suasananya menjadi semakin sepi sekarang. Baru saja Kyungsoo memerintahkan Jongin untuk menunjukkan arah ke rumahnya, dan lelaki itu mematuhinya.
Kira-kira limabelas menit kemudian, mereka tiba di depan rumah sederhana Keluarga Kim. Mobil sudah berhenti, tapi Jongin tak kunjung keluar dari mobil.
"Apakah hari ini Anda juga libur, Sajangnim?" Lelaki itu bertanya.
"Aku akan tetap bekerja. Tidak mungkin seorang atasan libur saat bawahannya bekerja."
"Berarti saya juga tidak akan libur, Sajangnim."
"Kenapa memangnya?"
"Karena saya harus membantu Anda jika Anda memerlukan sesuatu."
Kyungsoo terdiam. Ia baru tahu kalau asistennya itu ternyata keras kepala.
"Keputusanku sudah final, Asisten Kim. Cepat turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumahmu, dan... sampaikan salamku pada ibumu."
Kali ini Jongin yang terdiam dengan mata membola. Ia tidak percaya pada apa yang ia dengar. Kenapa Kyungsoo menitipkan salam pada ibunya? Memangnya Kyungsoo mengenal ibunya.
"Sudah cukup basa-basinya, Asisten Kim. Turun dari mobil sekarang juga!"
Biasanya Jongin takut jika Kyungsoo sudah mulai menaikkan nada bicaranya, tapi kali ini lain. Lelaki itu justru tersenyum lebar sambil mengangkat kepalan tangannya ke depan, sejajar dengan wajahnya. "Fighting, Sajangnim!" Dan lelaki itu langsung meluncur turun dari mobil dan langsung berlari memasuki rumahnya.
Kyungsoo untuk beberapa saat masih terbengong karena ulah Jongin, tapi sejurus kemudian ia tersenyum. Senyuman yang lebih lebar dan lebih manis dari yang kemarin.
"Fighting, Do Kyungsoo!"
Semua hal di dunia bisa saja berubah. Tidak ada hal yang abadi, semua dinamis, tidak statis.
Layaknya musim yang terus mengalami pergantian. Mulai dari Musim Dingin, lalu berubah menjadi Musim Semi, berganti menjadi Musim Panas, kemudian menjadi Musim Gugur, dan kembali ke Musim Dingin. Bagaikan sebuah siklus, musim-musim terus berganti di berbagai belahan bumi.
Semuanya bisa saja berubah. Seperti bulan yang juga memiliki fasenya sendiri. Semua orang tahu bahwa bentuk bulan tidaklah tetap. Kadang berbentuk lingkaran penuh yang disebut dengan purnama, lalu bisa juga menjadi bentuk setengah lingkaran, bahkan bisa berubah menjadi seperti sabit.
Tidak ada yang abadi, sama halnya dengan kehidupan manusia. Mungkin manusia terlalu bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, hingga akhirnya memilih untuk keluar dari zona aman, menjemput sebuah perubahan. Atau bisa juga manusia mencari perubahan ke arah yang lebih baik, karena semua hal di masa lalu dianggap kurang baik.
Meskipun perubahannya hanya kecil, namun beberapa manusia yang memiliki kepekaan tinggi tetap bisa menyadari eksistensi dari perubahan tersebut.
Seperti seorang Byun Baekhyun di sini.
"Aku yakin Sajangnim sudah berubah sekarang." Sang ratu gosip mulai beraksi.
"Berubah apanya, sayangku? Tadi pagi ia datang ke divisiku dan marah-marah saat melihat aku dan teman-temanku menggosip." Itu Chanyeol yang menimpali.
Jongin berada di depan mereka, seperti biasa. Mereka baru saja sampai di kedai untuk makan siang, tapi sepasang kekasih itu sudah ribut. Bahkan mereka belum sempat memesan makanan.
"Itu karena kau dan teman-temanmu memang melakukan kesalahan, bodoh!"
"Siapa yang kau sebut bodoh? Aku ini lulusan terbaik di jurusanku dengan IPK 3,90. Mana mungkin aku ini pantas disebut bodoh?"
Jongin geleng-geleng kepala melihat sepasang idiot itu.
"Jongin!" Dan suara cempreng Baekhyun semakin membuat kepalanya berkedut. "Kenapa kau hanya diam? Aku benar, 'kan? Chanyeol ini bodoh, 'kan? Sajangnim benar-benar telah berubah, 'kan?"
Pemuda yang ditanyai hanya bisa menghela nafas. "Aku tidak tahu. Aku tidak berhak menilai seseorang seperti itu."
Baekhyun mencibir. "Kau selalu bertingkah seperti orang baik, Jongin."
"Aku memang baik. Kau tidak tahu itu ya?"
Giliran Chanyeol yang geleng-geleng kepala. "Jadi sekarang giliran aku yang diabaikan? Setelah menyebutku bodoh, sekarang aku diabaikan, hm?"
"Itu karena kau tidak sependapat denganku, Park!"
"Memangnya kenapa kalau tidak sependapat, huh? Apa pasangan kekasih harus selalu sependapat?"
"Oh! Itu Do Sajangnim!"
Dan langsung hening. Baekhyun dan Chanyeol menatap Jongin dengan tatapan bosan.
"Tidak perlu berbohong untuk menutup mulut kami, orang baik."
"Memangnya siapa yang berbohong, Byun Baekhyun? Kau lihat sendiri saja di belakangmu."
Dan ternyata benar. Sang CEO sedang berdiri angkuh beberapa meter di belakang Baekhyun. Baekhyun mengangguk sopan pada Kyungsoo, kemudian kembali menoleh ke arah Jongin dan berbisik, "Sejak kapan ia ada di sana?"
Jongin mengangkat bahu acuh. "Sejak tadi."
Baekhyun menyumpahi Jongin berkali-kali, tapi kegiatannya itu terhenti saat menyadari bahwa Kyungsoo sudah berdiri di samping meja mereka.
"Se-selamat siang, Sajangnim." Chanyeol yang biasanya penuh percaya diri tiba-tiba mati kutu saat berhadapan dengan Kyungsoo.
"Kalian di sini untuk menggosip atau untuk makan siang?"
"Mereka berdua memang seperti itu, Sajangnim," Jongin memprovokasi. "Ngomong-ngomong, apa Anda ingin makan siang juga? Kenapa tidak menyuruh saya membelikan makanan saja daripada Anda harus susah-susah jalan kaki ke sini?"
Sebelum menjawab pertanyaan Jongin, wanita itu terlebih dulu mendudukkan tubuhnya di kursi kosong yang ada di sebelah Jongin. Membuat tiga pasang mata lainnya di tempat itu terbelalak.
"Memangnya kenapa kalau aku berjalan kaki ke sini? Apa itu jadi masalah untukmu, Asisten Kim?"
Jongin pun jadi mati kutu karena pertanyaan itu, membuat Baekhyun dan Chanyeol terpaksa menahan tawa mereka.
"Seseorang pernah berkata padaku bahwa aku tidak boleh melewatkan makan siang supaya aku tidak sakit, jadi sekarang aku menuruti perkataan itu. Apa itu salah?"
Jongin menelan ludah dan menggeleng. Memangnya siapa seseorang yang pernah berkata seperti itu pada Kyungsoo dan membuat wanita itu mau menurutinya? Oh, pasti seseorang itu spesial bagi Kyungsoo, pikir Jongin.
Baekhyun baru saja keluar dari ruangan Kyungsoo dengan setumpuk berkas di tangannya, entah berkas apa itu.
"Jongin, tolong buatkan kopi untuk Sajangnim, ya? Aku harus mengurus berkas-berkas ini."
Jongin mengangkat kepalanya, meninggalkan pekerjaannya yang masih setengah jalan. "Kenapa harus aku?" tanyanya.
Baekhyun sudah kembali duduk di kursinya dan mulai menata satu per satu berkas yang ia bawa. "Karena kau adalah orang yang paling tidak sibuk di lantai ini, Jongin," ia menjawab dengan malas. "Jadi tolong kau segera pergi ke pantry dan buatkan kopi hitam tanpa gula, oke?"
"Tanpa gula? Kenapa harus tanpa gula? Kalau hidup kita sudah pahit, bukankah seharusnya kita mengonsumsi makanan dan minuman yang manis-manis?"
"Jangan cerewet, Jongin! Sebaiknya cepat kau kerjakan!"
Dan saat Baekhyun sudah membentak seperti itu, Jongin tak ada pilihan lain selain langsung lari ke pantry.
Kyungsoo butuh kopi, benar-benar butuh kopi. Sejak pulang dari Chuncheon, ia jadi susah tidur di malam hari sehingga ia sering merasa ngantuk saat sore begini. Entah kenapa, pikirannya terasa penuh oleh sesuatu. Padahal perjalanan ke Chuncheon itu sudah beberapa hari yang lalu, tapi entah mengapa semua itu masih membekas di hati dan pikiran Kyungsoo.
Ya ampun, ia bahkan mulai berpuisi sekarang.
Suara ketukan di pintunya membuat Kyungsoo mendongak. Ia pikir, Baekhyun yang memasuki ruangan itu karena tadi ia meminta sekretarisnya itu untuk membuatkannya kopi. Ia tidak menyangka jika Jongin lah yang masuk ke ruangannya dengan cangkir kopi di tangan.
Sosok tampan itu berjalan mendekati meja Kyungsoo, kemudian meletakkan cangkir kopi yang ia bawa ke atas meja itu. "Ini kopi Anda, Sajangnim."
Kyungsoo menepikan laptopnya kemudian meraih kopi yang tadi dibawa Jongin. "Kenapa kau yang membuatkanku kopi? Tadi aku menyuruh Sekretaris Byun untuk melakukannya."
"Sekretaris Byun sedang mengerjakan tugas dari Anda, jadi saya yang menggantikan tugas untuk membuat kopi."
"Tapi bukannya kau juga memiliki tugas sendiri?"
"Iya, Sajangnim, setelah ini saya akan melanjutkan pekerjaan saya."
Kyungsoo mengangguk. Cangkir di tangannya ia angkat, lalu bibirnya mulai menyeruput cairan pekat berwarna hitam itu. Tapi Kyungsoo seketika mengernyit begitu cairan kafein itu menyentuh lidahnya. "Kenapa ini manis?" tanyanya sembari kembali meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja.
"Saya sengaja menambahkan gula ke dalam kopi itu. Mengonsumsi makanan atau minuman manis bisa memperbaiki mood Anda, Sajangnim."
Kyungsoo menghela nafas keras. Apa Baekhyun tidak berpesan pada Jongin untuk tidak memasukkan gula ke dalam kopinya?
"Aku minum kopi bukan untuk memperbaiki mood, Asisten Kim."
Jongin tersenyum. "Anda lelah, Sajangnim?"
"Aku mengantuk. Aku butuh kopi pahit."
"Jika Anda mengantuk, hal yang Anda butuhkan bukanlah kopi, Sajangnim. Anda butuh tidur."
"Kenapa kau mengaturku, huh?" Kyungsoo bertanya sinis, tapi hal itu tidak menyurutkan nyali Jongin.
"Sebentar lagi jam kerja berakhir, Sajangnim. Lebih baik Anda pulang dan beristirahat." Kyungsoo baru akan memprotes, tapi Jongin melanjutkan, "Saya tidak mengusir Anda, Sajangnim."
"Kau jadi berani melawanku ya sejak kepulangan kita dari Chuncheon?"
Jongin gelagapan mendengar pertanyaan Kyungsoo. "Bu-bukan seperti itu, Sajangnim."
"Sudahlah, cepat keluar dan selesaikan pekerjaanmu. Aku akan pulang ketika jam kantor berakhir."
Jongin akhirnya mengangguk, kemudian berbalik. Tapi sebelum ia melangkah meninggalkan ruangan Kyungsoo, ia kembali menoleh ke belakang dan berkata, "Sajangnim, tidurlah yang nyenyak malam ini."
Dan perkataan itu seolah menjadi mantra bagi Kyungsoo. Malam harinya Kyungsoo tidur dengan nyenyak.
Kyungsoo turun dari mobilnya dengan perasaan campur aduk pagi itu. Biasanya perasaannya selalu jelas. Senang, sedih, marah... Semuanya terpilah dengan jelas. Tapi pagi ini, ada terlalu banyak hal yang berkecamuk di kepalanya sehingga ia bingung pada perasaannya sendiri.
Wanita cantik itu melangkah memasuki lobi kantor dengan angkuh seperti biasa. Ekspresi wajahnya juga datar seperti biasa. Menutupi rasa bingung yang melanda hati dan pikirannya.
Pagi tadi ayahnya mengatakan sesuatu yang tidak ia suka.
"Kyungsoo, nanti malam ayah akan mengundang seorang pria untuk makan malam di sini. Ini bukan perjodohan, Kyungsoo. Hanya perkenalan. Kau tetap berhak memilih. Kalau kau tidak suka, kau bisa menolak."
Kyungsoo tidak percaya bahwa ia masih bisa menolak ketika ayahnya sudah menjatuhkan pilihan. Bukankah ayahnya itu adalah seorang diktator yang perintahnya bagaikan sabda Tuhan?
Akhirnya Kyungsoo berada di dalam elevator yang akan membawanya sampai di lantai 35. Hatinya masih kesal dengan keputusan ayahnya. Usianya baru 26 tahun, dan itu bukan usia yang terlalu tua sampai-sampai orang tuanya harus mencarikan pria lajang untuknya.
Pintu elevator akhirnya terbuka di lantai 35, dan Kyungsoo kembali melangkah dengan angkuh. Dahinya berkerut bingung ketika hanya mendapati seorang Byun Baekhyun membungkuk padanya di depan ruang kerjanya.
"Dimana Asisten Kim?"
Iya, biasanya Jongin selalu ada bersama Baekhyun dan membungkuk bersamaan dengan wanita itu, tapi pagi ini lelaki tinggi itu tidak ada.
Baekhyun sejenak meragu. Wanita itu menggigit bibir tipisnya sebelum menjawab, "Sepertinya Asisten Kim sedikit terlambat hari ini. Di luar hujan deras, jadi mungkin ia sedang berteduh di suatu tempat setelah turun dari bus."
Kyungsoo menghela nafas. Ia sama sekali tak menyukai keterlambatan, dan jelas nanti ia harus membicarakan hal itu dengan sang asisten. Walaupun asistennya itu memiliki arti yang sedikit berbeda untuknya, tapi ia tetap harus bersikap profesional.
Hujan masih cukup deras, tapi Jongin nekat keluar dari tempatnya berteduh karena ia tahu bahwa ia sudah terlambat masuk kantor. Ia tak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena air langit yang turun dengan lebatnya.
Jarak dari tempatnya ke kantor mungkin tinggal 200 meter, tapi setelan jasnya sudah terlanjur basah kuyup. Salahkan saja Jongin yang mengabaikan informasi prakiraan cuaca di TV pagi ini dan nekat tidak membawa payung.
Jongin akhirnya sampai di lobi kantor, dan orang-orang di tempat itu langsung memandanginya dengan aneh. Tentu saja aneh, Jongin masuk kantor dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Pemuda itu masuk ke elevator dan membiarkan benda itu mengantarnya sampai ke lantai 35. Begitu sudah sampai di lantai tujuan, Jongin segera keluar dan berlari menuju ruangannya.
"Astaga, Kim Jongin!" Baekhyun langsung memekik heboh dari balik mejanya begitu melihat wujud Jongin.
"Diamlah, aku sudah terlambat." Memilih untuk mengabaikan Baekhyun, Jongin dengan cepat mengetuk pintu ruangan Kyungsoo, kemudian membukanya dengan segera.
Ia bisa melihat mata Kyungsoo melebar begitu ia berada di ruangan atasannya itu.
"Apa yang kau—"
"Maafkan saya, Sajangnim. Di luar hujan deras dan saya tidak membawa payung. Saya terlambat karena tadi saya sempat berteduh setelah turun dari bus. Saya kira hujannya akan segera reda, tapi sampai sekarang tidak kunjung reda."
Kyungsoo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wanita itu dengan segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju sebuah ruangan kecil yang berada di pojokan.
Jongin menundukkan kepalanya. Sepertinya nasibnya berakhir sampai di sini. Ia akan dipecat. Pasti dipecat.
Tapi kepala Jongin yang tertunduk itu seketika terangkat saat ia merasakan usapan lembut di kepalanya. Ia mendongak dan mendapati wajah Kyungsoo berada tepat di depannya. Wanita itu sedang mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk.
"Kembalilah menunduk supaya aku bisa lebih mudah mengeringkan rambutmu," titah Kyungsoo.
Jongin pun hanya bisa menurut. Ia menundukkan kepalanya dan membiarkan Kyungsoo mengeringkan rambutnya.
"Kenapa kau nekat menembus hujan, huh? Seharusnya kau menunggu sampai hujan reda."
"Saya akan semakin terlambat kalau harus menunggu sampai hujan reda, Sajangnim."
"Lebih baik kau terlambat daripada kau harus basah kuyup begini, bodoh!"
Kyungsoo menyudahi pekerjaannya di kepala Jongin dan menatap pria itu dengan penuh emosi. Jongin kini sudah kembali menatap Kyungsoo dan ia kaget karena Kyungsoo tiba-tiba membentaknya.
"Sajangnim..."
Kyungsoo berusaha mengontrol emosinya. Ia memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Setelahnya ia kembali membuka matanya dan menatap Jongin lagi.
Ia melempar handuk basahnya ke atas sofa, lalu meraih handuk kering yang tadi ia sampirkan di bahunya. Ia gunakan handuk itu untuk mengusap wajah Jongin yang basah karena air hujan. Jongin membeku dibuatnya.
"Kau membuatku khawatir..."
Jongin semakin membeku.
"Lain kali jangan seperti ini lagi. Kau yang menyuruhku untuk menjaga kesehatanku, tapi kau sendiri tak mempedulikan kesehatanmu."
Jongin masih membeku sambil terus menatap Kyungsoo dengan mata membulat. Suara Kyungsoo tetap dingin seperti biasa, tapi rangkaian kalimat yang diucapkannya benar-benar membuatnya tertegun.
Kyungsoo kembali melempar handuknya yang sudah basah ke sofa, dan ia memberanikan diri untuk menangkup wajah Jongin dengan tangannya. "Kau berjanji tidak akan membuatku khawatir lagi?" bisiknya lirih.
Jongin benar-benar tak percaya pada apa yang sedang dialaminya. Di depannya, Kyungsoo sedang menatapnya dengan ekspresi sedih, ekspresi yang dulu pernah ia tunjukkan saat sedang mabuk.
Bagaikan terhipnotis, Jongin menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Kyungsoo menjauhkan tangannya dari wajah Jongin dan berdeham canggung. Wanita berambut sebahu itu sepertinya baru sadar bahwa ia telah melakukan sesuatu yang tak lazim. Entah apa yang membuatnya melakukan hal itu. Itu benar-benar di luar kendali.
"Tunggu sebentar." Suara Kyungsoo kembali membuat Jongin tersadar. Wanita itu menjauh dari Jongin dan mengambil ponselnya. Mencari sebuah kontak, menekan tombol dial, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinga kanannya. Berbicara pada seseorang dan Jongin tak bisa mendengar pembicaraan itu karena ia masih berusaha menetralkan perasaan anehnya.
Tak lama kemudian, Kyungsoo menutup teleponnya dan kembali mendekatinya. "Lepas jasmu. Kau tidak ingin masuk angin, 'kan?"
Jongin mengangguk kaku. Dan tanpa harus menunggu diperintah dua kali, lelaki itu melepas jas abu-abunya. Menyampirkan kain itu di lengan kirinya.
Menit demi menit berlalu dan tak ada pembicaraan lagi. Kyungsoo sudah kembali duduk di kursinya, tapi ia tak melakukan apapun selain mengetukkan ujung jari telunjuknya di atas meja dan matanya terus menatap pintu ruangannya. Sepertinya sedang menunggu seseorang.
Jongin juga masih di sana, berdiri kaku dengan tubuhnya yang masih basah kuyup.
Tak berselang lama, pintu ruangan Kyungsoo diketuk dari luar, dan seorang pria berjas rapi memasuki ruangan.
"Ini jasnya, Sajangnim," ucap pria itu sambil meletakkan setelah jas panjang berbungkus plastik ke atas meja Kyungsoo.
"Oke, kau boleh pergi," balas Kyungsoo.
Lelaki berjas yang memiliki tubuh tinggi itu kemudian membungkuk sopan dan beranjak pergi dari ruangan. Lelaki itu adalah salah satu bodyguard Kyungsoo.
Kyungsoo akhirnya bangkit dari kursinya dan meraih jas berwarna coklat tua yang tadi dibawakan oleh pengawalnya. Ia menyodorkan jas itu pada Jongin. "Ganti setelanmu dengan ini. Kau bisa sakit kalau memakai pakaian yang basah seperti itu seharian."
Jongin masih merasa ragu. Tentu saja ia ragu. Ia sedang mencoba menaksir harga jas baru yang ada di tangan Kyungsoo. Bahannya halus dan tidak kaku seperti jas yang biasa ia pakai. Pasti harganya mahal. Mungkin dua atau tiga kali lipat dari harga jasnya sendiri.
"Asisten Kim, kau mendengarku?"
Mata Jongin mengedip polos, kemudian mengangguk. Tatapan Kyungsoo padanya sangat intens, dan ia tak tahan lagi. Ia selanjutnya mengambil alih jas yang disodorkan Kyungsoo kemudian mengalihkan pandangan dari Kyungsoo.
Kyungsoo hanya mengangkat bahu dan kembali berbalik menuju mejanya. "Kau bisa berganti pakaian di kamar mandi pribadiku," ucapnya acuh sembari menunjuk satu ruangan kecil di pojokan. Ruangan tempatnya mengambil handuk tadi.
Jongin sebenarnya enggan, tapi mungkin berganti di ruangan ini lebih baik daripada berganti di toilet yang ada di luar. Para pegawai lain pasti heran melihatnya menenteng setelan jas baru nan mahal dan kemudian jas itu ia pakai. Bagaikan itik buruk rupa yang berganti wujud menjadi angsa menawan.
Jadilah akhirnya Jongin mengangguk dan memasuki kamar mandi pribadi Kyungsoo, meninggalkan Kyungsoo yang menghela nafas lelah. "Dasar ceroboh. Bagaimana bisa ia menembus hujan seperti itu?" bisiknya pada diri sendiri sembari memandang ke luar. Ternyata hujan masih turun dengan derasnya.
Kyungsoo tidak tahu mengapa Jongin meminta izin untuk pulang lebih awal sore tadi. Satu jam sebelum jam kerja berakhir, pemuda tampan itu mengetuk ruangannya dan dengan takut-takut meminta izin untuk pulang lebih dulu.
Kyungsoo menanyakan alasannya, tapi Jongin bungkam. Butuh beberapa menit bagi Kyungsoo untuk berpikir sampai akhirnya lampu hijau ia nyalakan untuk Jongin. Alasannya adalah karena ia menduga bahwa Jongin tidak enak badan. Pemuda itu tampak sedikit pucat, dan beberapa kali juga terlihat bersin-bersin. Barangkali Jongin terserang flu karena kehujanan pagi tadi.
Sebenarnya Kyungsoo mengkhawatirkan kondisi asistennya itu. Ia ingin sekali menelepon dan menanyakan kabarnya, tapi ia gengsi. Ia tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang agresif. Ia masih memiliki harga diri.
Saat ini ia sedang ada di dalam kamarnya. Sebentar lagi ibunya pasti menyuruhnya untuk segera turun. Mereka akan makan malam bersama dengan seorang pria yang diundang oleh ayahnya.
Sungguh, Kyungsoo benar-benar sedang tidak ingin menemui pria manapun saat ini. Ia masih membutuhkan waktu untuk menata hatinya. Ia sudah bertekad untuk membuka hatinya, tapi ia ingin menemukan sendiri pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Hatinya mengarah pada Jongin, tapi ia sendiri sebenarnya masih belum yakin.
Dan malam ini Kyungsoo malah harus bertemu dengan pria lain yang mungkin tak akan cocok untuknya. Ia tahu selera ayahnya; seorang pria pengusaha yang kaya raya, berpendidikan tinggi, dan berwibawa. Jongin tentu tak masuk dalam kriteria itu.
Kyungsoo sudah mengambil keputusan, ia akan mengatakan pada ayahnya bahwa ia menolak semua rencana ayahnya terkait dengan perjodohan. Ia akan bicara pada ayahnya saat nanti ia sudah ada di meja makan. Dengan tekat itulah Kyungsoo segera beranjak dari kamarnya. Ayahnya berpesan padanya untuk berpakaian rapi, dan ia menurutinya. Ia memakai gaun selutut berwarna peach yang anggun dan elegan.
Saat ia sampai di meja makan, ia melihat ayah dan ibunya sudah menunggunya di sana, sedangkan beberapa pelayan masih sibuk menata aneka ragam makanan mahal. Para palayan itu juga memastikan agar meja makan terlihat rapi. Kyungsoo semakin yakin jika tamu undangan ayahnya adalah orang yang super penting.
"Hai, sayang. Ibu baru saja akan naik untuk memanggilmu." Ibu Kyungsoo adalah orang yang pertama kali menyadari kehadirannya. Wanita paruh baya itu tersenyum, jadi mau tak mau Kyungsoo juga membalas senyum itu walaupun sedikit kikuk.
Kyungsoo mengambil tempat di depan ibunya, sedangkan ayahnya menempati bagian ujung meja yang dikhususkan untuk sang kepala keluarga.
"Ayah senang karena kau tidak melarikan diri, Kyungsoo."
Kyungsoo menanggapi ucapan ayahnya itu dengan ekspresi datar. "Ayah, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu pada Ayah."
"Nanti saja, Kyungsoo. Kita bicarakan setelah acara malam ini selesai."
"Tapi, Ayah—"
Bantahan Kyungsoo tiba-tiba terputus karena suara bel yang cukup nyaring terdengar di Kediaman Keluarga Do. Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk bicara karena ayah dan ibunya dengan terburu-buru berdiri dari kursi mereka dan berjalan menuju pintu depan. Memangnya sepenting apa tamunya sampai-sampai ayah dan ibunya tergopoh untuk menyambutnya seperti itu?
Kyungsoo sendiri tetap tak bergerak dari posisinya. Ia merasa tidak berkepentingan untuk menyambut tamu itu. Tak berselang lama, suara langkah kaki terdengar mendekati meja makan, tapi hal itu juga tidak membuat Kyungsoo membalik badannya dan menyambut tamu yang datang.
"Do Kyungsoo..." suara ayahnya terdengar bersamaan dengan terhentinya suara langkah kaki di dekat meja makan. "Kau harus memberi salam pada tamu kita. Kemarilah."
Kyungsoo menghela nafas, mau tak mau ia harus menurut. Dengan malas, wanita itu akhirnya berdiri dan membalik badannya. Ia masih enggan menatap tamunya dan justru sedikit menunduk, menatap ke arah sepatu pantofel yang dikenakan oleh tamu istimewa kedua orang tuanya.
"Kyungsoo, bersikaplah sopan pada tamu kita."
Suara berat ayahnya membuat Kyungsoo mau tak mau mulai mengangkat pandangannya semakin ke atas. Melewati sepasang kaki jenjang yang terbalut celana bahan berwarna coklat tua, terus naik sampai ke tubuh sang pria yang ditutupi oleh kemeja putih dan di bagian luar tertutup oleh jas yang warnanya senada dengan celana bahannya, dan akhirnya mata bulat Kyungsoo menangkap wajah sang pria yang menjadi tamu keluarganya malam ini. Saat itulah sepasang netra bulat itu semakin melebar.
"Asisten... Kim?" gadis itu bertanya ragu, takut-takut jika sosok di hadapannya hanyalah bagian dari halusinasinya semata. Apa ia terlalu memikirkan lelaki itu sampai jadi terbayang-bayang begini?
Karena tak mendapat jawaban, sang CEO muda mengalihkan pandangan ke arah ayahnya, bibirnya sudah sedikit membuka ingin bersuara, tapi suara ayahnya sudah lebih dulu menginterupsi. "Kita makan malam dulu," tuturnya. Lelaki yang usianya sudah lewat dari setengah abad itu kemudian menatap tamunya. "Silahkan duduk, Asisten Kim."
Benar, ternyata memang dia, pikir Kyungsoo. Sejuta kalimat tanya berhamburan di kepala Kyungsoo, tapi untuk saat ini ia tak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah ayahnya. Gadis itu kembali duduk di kursinya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat bahwa sosok Asisten Kim mengambil posisi duduk di sebelahnya, sesuai intruksi nonverbal yang sebelumnya diberikan oleh sang ayah.
Nanti, Kyungsoo akan menanyakan semuanya nanti.
Siang tadi, Kim Jongin dikejutkan oleh sebuah telepon masuk dari mantan atasannya. Iya, telepon masuk dari Tuan Do. Tanpa basa-basi, lelaki yang merupakan founder dari perusahaan tempatnya bekerja itu mengundang dirinya untuk menghadiri acara makan malam di rumahnya, hari ini juga.
Jongin kaget bukan main. Ada angin apa Tuan Do tiba-tiba mengundangnya untuk makan malam? Terlebih, lelaki yang rambutnya sudah didominasi oleh warna putih itu memintanya untuk datang dengan penampilan terbaik, bahkan memintanya untuk izin pulang kantor lebih awal. Kenapa memangnya? Apa acaranya sangat penting?
Si pemuda polos berpikir bahwa mungkin saja ia akan ditawari kenaikan jabatan, mengingat belakangan ini kinerjanya lumayan baik. Ia bukannya haus kekuasaan, tapi yang namanya berharap tidak ada salahnya, bukan? Itulah yang menjadi alasan kenapa ia memutuskan untuk menerima undangan sang mantan CEO. Bahkan ia memberanikan diri untuk minta izin pada seorang Do Kyungsoo supaya bisa pulang lebih awal. Mood Kyungsoo sepertinya sedang baik karena wanita berkulit putih itu bersedia memberinya izin.
Jongin memilih untuk mengabaikan pertanyaan Baekhyun, dan mengambil opsi untuk segera pulang. Niatnya sih, ia ingin langsung ke binatu untuk mencuci jas baru yang pagi tadi dihadiahkan oleh Kyungsoo kepadanya. Ia pikir, itu adalah jas terbaik yang ia punya.
Putra bungsu Keluarga Kim itu beruntung lantaran setelan jasnya bisa kering dengan cepat dengan alat pengering di binatu. Jadilah ia bisa mengenakan setelan mahal itu malam ini. Ia bisa tampil rapi dan menawan di hadapan sang mantan CEO. Apalagi ditambah dengan tatanan rambutnya yang lain dari biasanya—malam ini ia menggunakan pomade pemberian kakak iparnya.
Tapi sampai saat ini, Jongin masih belum mendapat jawaban, apa tujuan Tuan Do mengundangnya?
Empat orang itu sudah berpindah dari ruang makan ke ruang keluarga. Mereka sudah menyelesaikan acara makan malam ala table manner. Untung saja Baekhyun pernah mengajarkan gaya makan ala bangsawan itu padanya.
"Karena kita sudah selesai makan malam, sekarang kita bisa mengobrol. Aku tahu kalian bingung dengan acara malam ini, 'kan?" Tuan Do mengawali obrolan. Di akhir kalimatnya ia sempatkan untuk menatap Jongin dan Kyungsoo bergantian, membuat Jongin semakin gugup. Ia bahkan tak bisa sedikit saja melemaskan punggungnya dan bersantai di atas sofa mewah yang saat ini tengah ia duduki. Ia terlalu bingung. Kenapa Kyungsoo juga tidak tahu mengenai rencana ayahnya?
"Iya, Ayah. Aku tidak mengerti, kenapa Asisten Kim ada di sini?"
Tuan Do tersenyum tipis mendengar pertanyaan putrinya. "Seperti biasa, kau memang tidak sabaran, Do Kyungsoo," tuturnya. "Bukankah aku sudah bilang, aku ingin kau berkenalan dengan seseorang, dan orang itu adalah Kim Jongin."
Samar-samar Jongin melihat alis Kyungsoo berkerut. Benar, ia bukan satu-satunya orang yang clueless di ruangan itu.
"Berkenalan dengan Asisten Kim? Ayah bercanda, ya? Kami sudah saling kenal. Ia adalah bawahanku saat di kantor."
Kembali Tuan Do tersenyum, tapi kali ini senyumnya lebih lebar. "Iya, kenal saat di kantor. Tapi bagaimana saat di luar kantor?" pertanyaan sang kepala keluarga membuat alis Kyungsoo semakin berkerut. "Begini, Kyungsoo. Ayah ingin kau lebih mengenal Jongin. Mengenal Jongin sebagai seorang pria, bukan sebagai bawahanmu."
Kyungsoo tak menimpali. Gadis itu berpikir keras. Ayahnya memang cukup to the point, tapi maksud dari semua ini masih belum bisa ia mengerti. Kenapa ia harus mengenal Jongin sebagai seorang pria?
"Ayah tidak akan memaksamu, Kyungsoo. Sungguh. Tapi, tolong berikan Ayah kesempatan. Kalian berdua bisa mengobrol di luar, dan keputusan akhir berada di tanganmu."
Jongin masih melirik Kyungsoo. Melihat bagaimana ekspresi gadis itu yang tidak datar seperti biasanya. Terlihat sekali bahwa Kyungsoo adalah korban di sini—sama seperti dirinya.
Jongin sendiri sekarang mulai bisa menebak kemana jalan pikiran Tuan Do berujung. Ia lulusan Jurusan Bahasa dan Sastra Korea, ia paham makna ucapan Tuan Do tadi. Dan ia yakin, Kyungsoo juga memahaminya. Hal itu ia yakini setelah melihat Kyungsoo dengan gerak lambat menoleh ke arahnya, menatap matanya dengan tatapan ragu. Sebuah tatapan yang sangat jarang singgah di mata atasannya itu.
Cukup lama ruangan itu hampa suara, tapi akhirnya suara helaan nafas Kyungsoo terdengar, diikuti oleh sebuah keputusan yang terlantun dari bibir ranumnya. "Baiklah, Ayah."
Kediaman Keluarga Do tertata dengan begitu apik. Tak hanya interiornya, tapi eksteriornya juga ditata dengan menawan. Hal itu tidak mengherankan lantaran Keluarga Do melibatkan arsitek terkenal saat proses pembangunan rumah megah itu.
Kediaman Keluarga Do dikelilingi oleh halaman yang luas. Jika tanah di halaman depan secara keseluruhan tertutup oleh paving block, maka hal itu tak berlaku di halaman belakang yang tertutup oleh rumput hijau yang sangat indah.
Halaman belakang rumah mewah itu layak disebut sebagai taman. Dengan bunga-bunga bermekaran, sebuah kolam ikan yang cukup luas, dan sebuah gazebo yang sengaja dibangun mengapung di tengah kolam ikan tersebut.
Dan di tempat itulah mereka sekarang, berdiri dengan canggung di gazebo yang dinaungi cahaya temaram. Iya, Jongin dan Kyungsoo berada di sana sejak beberapa menit silam.
"Bagaimana menurutmu?" suara Kyungsoo memecah keheningan malam. Mata bundar gadis itu tidak menatap ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya, melainkan menatap gambaran bulan purnama yang dipantulkan oleh kolam ikan di bawahnya.
Jongin menoleh sedikit ke arah Kyungsoo, ada kebingungan di mata pemuda itu. "Maaf, Sajangnim. Saya tidak mengerti maksud pertanyaan Anda."
Kyungsoo menghela nafas sebelum membalas perkataan Jongin, "Aku juga tidak mengerti," matanya sedikit melirik pada pemuda yang lebih tinggi. "Kenapa ayahku memilihmu?" lanjutnya.
Kali ini Jongin memutar tubuhnya menghadap Kyungsoo. "Maaf?" tanyanya.
Kyungsoo melakukan hal yang sama, gadis itu menghadapkan tubuh mungilnya ke arah Jongin, lalu menyilangkan tangannya di depan dada. Matanya menelisik pada tubuh Jongin dari bawah ke atas; menilai. "Penampilanmu biasa saja, kau juga bukan pegawai teladan. Jadi, kenapa ayahku memilihmu untukku?"
Seketika Jongin merasa ciut. Ah, benar. Kenapa Tuan Do memilih dirinya yang hanya merupakan orang biasa? Tentu ia tidak bodoh, ia tahu bahwa pria bertangan dingin itu berniat untuk menjodohkan Kyungsoo dengan dirinya. Mungkin Tuan Do menolak untuk menyebut ini sebagai perjodohan, tapi Jongin paham maksud di balik kata perkenalan yang dipilih oleh mantan atasannya itu.
Ia cukup tahu diri sebenarnya. Ia ingin kabur karena ia merasa tak pantas—sangat tak pantas. Tapi keinginannya itu ia urungkan karena ternyata Kyungsoo mau memberinya kesempatan. Iya, kesempatan untuk berkenalan, dan mungkin tidak akan lebih dari itu.
"Saya juga tidak tahu apa alasan beliau, Sajangnim," akhirnya Jongin mampu menemukan suaranya.
Kyungsoo sedikit menyeringai. "Sudah kuduga," ucapnya. Ia kembali mengarahkan tubuhnya ke arah kolam ikan; kembali menatap sang rembulan yang bundar sempurna. "Sekarang, coba kau deskripsikan diriku dengan lima kata. Apapun kata yang kau pilih, aku tidak akan memecatmu. Jadi, jangan sungkan."
Jongin semakin kikuk di atas pijakannya. Kyungsoo seperti menodongkan sebilah pisau di depan lehernya, memaksanya untuk bergerak maju mendekati pisau itu. Gadis itu berkata bahwa ia tak akan melukainya, tapi ia tahu bahwa pada akhirnya pisau itu akan menyayat lehernya; ia akan dipecat jika 100% mengemukakan apa yang ia pikirkan tentang atasannya itu.
Menit demi menit terlewati, tapi Jongin tak kunjung menemukan lima kata yang dinantikan oleh atasannya. Hal itu membuat Kyungsoo jengah. Gadis itu menoleh pada Jongin, menatap pemuda berbadan tegap itu dengan tatapan penuh intimidasi.
Dan itu semakin membuat Jongin merasa gugup. Pemuda itu berdeham sejenak, lalu berusaha merangkai kata. "Kata pertama, hebat; kata kedua, pintar; kata ketiga, tegas; kata keempat, disiplin; dan kata kelima—"
"Berhentilah menjilat. Bukankah sudah kubilang untuk—"
"Rapuh."
Keheningan kembali melanda setelah Jongin mengungkapkan kata kelima untuk mendeskripsikan seorang Do Kyungsoo. Bibir merah gadis itu masih sedikit terbuka karena sebelumnya ucapannya terpotong oleh Jongin.
Kyungsoo menatap Jongin tak percaya. Kata terakhir Jongin seolah menohok hatinya yang paling dalam. Kata itu mendeskripsikan sisi lain dirinya yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
"Kenapa kau menyebutku rapuh?" dengan lirih Kyungsoo bertanya.
Kini Jongin merasa tersudut. Kenapa ia berkata sejujur itu?
"Maaf, Sajangnim."
"Aku tidak memintamu untuk mengucapkan kata maaf. Aku menanyakan alasanmu menyebutku rapuh."
Rasanya Jongin ingin menenggelamkan dirinya ke dalam kolam ikan untuk menghindari pertanyaan itu.
Di sisi lain, Kyungsoo masih dengan sabar menunggu jawaban Jongin. Wajahnya yang biasanya flat itu sekarang terlihat penasaran.
"Ibu saya pernah berkata bahwa di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar kuat. Yang ada adalah orang yang berpura-pura kuat untuk menutupi kerapuhannya."
Kyungsoo terdiam. Matanya yang masih menatap Jongin kini mulai menunjukkan rona sendu, tidak kosong dan dingin seperti biasanya. "Kau menuduhku berpura-pura kuat?" bisiknya lirih.
"Bukan begitu, Sajangnim," Jongin yang merasa tidak enak cepat-cepat membantah. "Saya percaya bahwa Anda adalah wanita yang kuat, tapi terkadang Anda menggunakan image itu untuk menutupi sisi rapuh Anda. Anda tidak ingin orang lain melihat sisi itu."
Kembali Kyungsoo membisu, tapi kini kepalanya tertunduk, memilih menatap sepasang sepatu hak tinggi yang ia kenakan.
Beberapa menit berlalu, hingga akhirnya gadis manis itu menghela nafas, kemudian kembali mendongak. "Kau menganggapku rapuh karena kau melihat kondisiku saat aku bicara dengan Sehun?"
Kini Jongin melebarkan matanya. "Sajangnim..."
"Tidak apa-apa, aku memang terlihat menyedihkan saat itu. Tanpa sengaja aku melepas topengku saat itu, jadi kau bisa melihat diriku yang sebenarnya. Kau pasti mengasihaniku, 'kan?"
Menyedihkan. Jongin melihat bahwa Kyungsoo sekarang sangatlah menyedihkan. Mata besar yang biasanya mengintimidasi itu kini berkaca-kaca. Membuat Jongin bisa menerawang lebih jauh melihat perasaan Kyungsoo melalui liquid bening di mata atasannya itu.
Jongin menggeleng pelan, kemudian ia memberanikan diri untuk memegang dua bahu Kyungsoo yang mulai bergetar. "Saya tidak mengasihani Anda, Sajangnim. Saya peduli pada Anda," ujarnya seraya menatap lurus-lurus dua bola mata Kyungsoo.
Dan saat itulah air mata Kyungsoo menetes. Runtuh sudah benteng kokoh yang selama ini dibangun oleh gadis itu. Di depannya berdiri seorang laki-laki yang peduli padanya. Dari sorot matanya, ia tahu bahwa lelaki itu tulus padanya.
"Boleh aku memelukmu?"
Pertanyaan lirih Kyungsoo membuat mata Jongin kembali melebar, dan saat itu ia baru sadar bahwa dua tangannya masih bertengger di bahu sempit Kyungsoo. Dengan canggung si pemuda Kim menurunkan dua tangannya.
"Tidak boleh ya?"
Kembali mata Jongin melebar. "Sa-sajangnim serius?" tanyanya. Mata itu lalu menangkap Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, Jongin seperti tersihir hingga ia ikut mengangguk.
Tak perlu menunggu lama sampai Jongin merasakan tubuhnya didekap hangat oleh sosok cantik di depannya. Tubuh tegap Jongin mendadak kaku. Hawa dingin yang sebelumnya melingkupi kini digantikan oleh kehangatan. Tapi ia tetap bingung, haruskah ia membalas pelukan itu? Ia tak dapat memutuskan sehingga dua tangannya tetap menggantung di sisi tubuhnya.
"Kyungsoo." Sang CEO tiba-tiba berbisik lembut sembari tubuh mungil itu masih memeluk Jongin dengan cukup erat. Ucapan Kyungsoo itu tak langsung dimengerti oleh Jongin, jadi gadis itu secara perlahan melepas pelukannya. "Panggil aku Kyungsoo saat kita tidak sedang di kantor," terangnya, menjawab kebingungan Jongin yang belum sempat disuarakan.
Jongin tercekat. Ia tak menyangka atasannya yang terkenal temperamental dan dingin itu tiba-tiba bicara padanya dengan sangat lembut, disertai dengan sorot mata yang hangat.
"Sa-sajangnim..."
"Kau tidak mendengarku, ya? Jangan memanggilku seperti itu kalau kita tidak sedang di kantor. Dan berhentilah bersikap formal. Kita seumuran, 'kan?"
Jongin mengangguk kaku, masih merasa asing dengan sosok di depannya. Sosok yang hampir membuatnya mati tercekik dasi saat pertemuan pertama mereka, sosok yang memarahinya gara-gara ia tidak menata buku di rak dengan baik, dan sosok yang mengamuk saat mewawancarai seorang pencari kerja. Apa yang ada di depannya sekarang adalah sosok yang sama?
"Ke-kenapa?" Jongin akhirnya bertanya. "Kenapa Anda jadi seperti ini, Sajangnim? Apa maksud Anda?"
Do Kyungsoo menghembuskan nafasnya kasar. "Aku tidak menyangka bahwa aku akan mengatakan hal ini, tapi... Kau berhasil mencairkan hatiku yang beku. Sikapmu yang apa adanya, perhatianmu, semua yang kau lakukan padaku membuatku sadar bahwa aku telah jatuh. Kim Jongin, kau mau menerimaku?"
Lagi, lagi, dan lagi, seorang Do Kyungsoo memberikan kejutan untuk Jongin. Pelukan, perkataan yang lembut, dan baru saja gadis itu menyatakan perasaannya? Semua terlalu cepat dan membuat kepala Jongin pening. Pria itu secara tidak sadar membawa kakinya untuk mundur satu langkah menjauhi Kyungsoo.
Hal itu membuat Kyungsoo menatapnya kecewa. "Kau... Ingin pergi ya?" jelas sekali terselip rasa takut dalam pertanyaan itu. Si gadis takut dirinya akan kembali ditinggalkan setelah mengungkapkan perasaannya. Sebuah pengalaman pahit yang tak ingin terulang kembali.
Sadar akan kesalahannya, Jongin kembali melangkah ke depan mendekati Kyungsoo. "Sa-sajangnim..."
Namun kali ini justru Kyungsoo yang mundur. "Tidak apa-apa. Kalau memang tidak mau, kau bisa menolak. Jangan merasa kasihan padaku."
Kalimat itu seperti sebilah pedang yang menusuk hati Jongin. Tidak, ia tidak bermaksud menyakiti Kyungsoo seperti itu. Hanya saja...
"Aku masih ragu, Kyungsoo."
Ya, Jongin akhirnya menanggalkan segala formalitas dan memutuskan untuk menuruti permintaan Kyungsoo; bersikap informal saat di luar kantor.
"Ini... Ini terlalu cepat untukku. Tadinya aku bahkan tidak tahu alasan ayahmu mengundangku makan malam di sini. Aku tidak menolakmu, tapi... Beri aku waktu."
"Memberimu waktu untuk mengambil keputusan?"
"Tidak. Beri aku waktu untuk meyakinkan diri bahwa aku juga merasakan hal yang sama."
Kali ini Kyungsoo yang terkejut karena pernyataan Jongin. Jadi... Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan kali ini? Jongin berbeda dengan Sehun? Pemuda itu tidak memilih pergi? Hatinya perlahan menghangat. Sebuah senyuman berbentuk hati tersungging di bibir ranumnya. Satu senyuman yang menular pada Jongin.
"Terimakasih, Jongin."
Jongin menggeleng. Dengan lembut ia menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya. "Tidak, terimakasih, Kyungsoo."
"Ia seperti bongkahan es; dingin, kaku, angkuh.
Haruskah aku menjadi api untuk bisa mencairkan es itu?
Tidak
Aku tidak perlu menjadi api karena mungkin api justru akan membuatnya terbakar.
Aku hanya perlu menjadi waktu. Waktu yang terus berjalan dengan sabar sampai pada akhirnya es itu mencair.
Tidak ada bongkah es yang abadi. Seiring berjalannya waktu, bongkah es itu akan mencair dengan sendirinya.
Jadi, biarkan aku menjadi waktu yang selalu mendampingimu sampai kau berubah."
—Kim Jongin
END
Glad's note:
Halo, semuanya~ maaf sekali atas keterlambatan update FF ini. Kemarin ada urusan mendadak jadi belum sempet update walaupun ini udah siap posting. Maaf banget ya kalau FF ini tidak memuaskan, dan endingnya juga cuma kayak gini aja. Sengaja sih, siapa tau ada yang berminat melanjutkan FF ini atau setidaknya memberikan sequel hahaha.
Terimakasih buat yang udah ninggalin review, nanti aku bales satu-satu deh reviewnya di PM. Terimakasih juga karena ternyata masih ada yang mengingat diriku /terharu/
Sebenernya aku masih ada stok satu FF lagi yang belum aku publish tapi udah aku tulis sejak awal tahun lalu. Tapi aku ragu, apa masih ada orang yg mau baca FF KaiSoo sekarang ini? FF yang aku tulis sih GS dan School Life gitu. Apakah ada yang masih mau baca? Kalau ada sih, bakal aku publish dalam waktu dekat.
Okay~ sekian saja untuk hari ini. Abis ini aku bales review kalian semua. See you again, someday~
