Chapter 3
.
.
.
Dua hari setelah kejadian pembully-annya di sekolah, Naruto menutup dirinya. Dia tidak pernah lagi singgah ke kafetaria di jam istirahat atau sekedar mengoceh dengan teman sekelasnya tentang bagaimana penjaga sekolah yang tersandung tali sepatunya sendiri ketika mengejar murid-murid yang hendak membolos saat jam pelajaran.
Naruto memilih untuk menenggelamkan dirinya di antara tumpukan buku di perpustakaan. Dia bukanlah orang yang gemar membaca tapi Naruto datang ke tempat ini untuk menyelamatkan dirinya dari pengejaran murid-murid (tentunya yang dipimpin oleh Itachi) tepat saat bel istirahat berbunyi. Naruto akan meladeni mereka jika kumpulan orang itu minta tanda tangan atau foto bersama. Tapi kenyataan berbalik. Mereka seakan ingin mengakhiri hidup Naruto menggunakan tongkat baseball, raket tenis, dan tongkat lempar lembing yang runcing di tangan yang siap untuk dihujamkan padanya.
Beruntung. Naruto sangat beruntung mempunyai kecepatan lari yang lumayan hingga dirinya terhindar dari siksaan bagai di neraka itu.
Perpustakaan adalah tempat yang paling tenang diantara ruangan lain di seluruh sisi sekolah.
Dan di sinilah ia, diantara rak buku yang berjejer Naruto melangkah ringan. Menatap salah satu sudut ruangan yang di isi oleh empat orang. Mereka hanya siswa kutu buku yang menghabiskan separuh hidupnya dengan buku di bawah hidung mereka. Bisa dibayangkan jika otak itu di isi oleh ribuan kata setiap harinya. Tapi itu tidak penting baginya, sekarang ini dia hanya ingin murid-murid yang mengejarnya tadi tidak menemukannya di tempat ini. Cukup itu saja
, tidak lebih.
Well, sekarang dia harus membaca setidaknya satu buku, dari pada mati bosan di tempat sunyi ini.
Beberapa saat setelah tangan Naruto meraih buku di rak paling tinggi, dia dikagetkan dengan pendengarannya sendiri. Dia pikir sudah cukup dengan empat orang kutu buku di sekolah ini. Tidak perlu menambah lagi, tapi siapa yang datang ke tempat ini selain mereka dan pustakawan?
Mata biru Naruto membulat seketika menemukan siluet seseorang di balik rak yang sama dengannya. Dia mengintip diantara celah buku: Rambut merah, tubuh tinggi dan kulit yang putih serta mata jade. Bukankah itu Gaara?... Tapi sedang apa dia di sini?
Sejak Gaara menyelamatkannya tempo hari, mereka tidak pernah lagi berinteraksi walaupun berada dalam kelas yang sama. Setiap kali Naruto hendak mendekatinya, Gaara melenggang pergi. Naruto sadar jika mereka memang tidak pantas untuk menjadi teman. Gaara akan selalu di dekat orang-orang yang se-level dengannya. Dan Naruto, dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya anak yang menumpang nama atas kekayaan neneknya yang bahkan tidak seorangpun tahu akan hal itu.
Walau hanya sekali, Naruto ingin menyapa. Tapi dia berpikir mungkin saja Gaara akan memberitahukan keberadaannya pada Itachi dan "anak buahnya" mengingat mereka adalah teman akrab. Dan mungkin juga Gaara mempunyai maksud tertentu setelah menyelamatkannya dua hari yang lalu. Naruto tidak akan pernah tahu bagaimana jalan pikiran seseorang.
"Seharusnya buku Mother Goose ada di bagian rak binatang."
Naruto mengerjap-ngerjapkan bulu matanya bingung. Setahunya Mother Goose adalah buku dongeng anak-anak. Untuk apa seorang pemuda sempurna seperti Gaara mencari benda itu? Sangat tidak mungkin jika dia penggemar dongeng sebelum tidur.
"Uph, Gaara... Seharusnya buku Mongoose. Karena tidur di jam pelajaran, dia jadi salah dengar," gumam Naruto. Terkikik geli seraya menutup mulutnya mendapati Gaara yang salah menyebutkan nama buku yang di rekomendasikan oleh guru Asuma untuk dibaca dan dipahami.
Di sisi lain gerakan Gaara berhenti tiba-tiba. Suara kikikan kecil dibalik rak di sampingnya membuatnya penasaran. Sedikit berharap seseorang itu bisa membantunya untuk menemukan benda yang dia cari. Gaara melangkahkan kaki, mendekat pada seseorang di balik rak untuk menyapa.
Mendengar keletuk sepatu datang ke arahnya, kikikan Naruto berhenti, jantungnya memompa cepat. Rasanya seperti pengalaman pertama naik roller coaster. Menegangkan.
Dia lalu menggeleng kuat, Naruto tidak siap bertemu salah satu teman Si Itachi itu di perpustakaan. Dia tidak ingin mencari keributan dan di ikat lagi di tiang dengan cuaca yang panas. Tidak ingin dikeroyok sampai memar dan berdarah, tidak suka dijadikan sebagai adonan kue, dan yang paling tidak mau harus menemukan kepalanya di celupkan ke dalam toilet.
"Mo-mother Goose ada di rak buku bahasa inggris!"
Fuck mounth!
Mulut bodoh, di saat seperti ini sifat ceroboh mengambil alih dirinya. Naruto menutup mata rapat-rapat hingga dia tidak lagi mendengar suara keletuk sepatu. Hanya sebuah kesunyian sesaat yang diwarnai oleh debaran jantungnya sendiri sampai Naruto mendengar kata-kata yang tidak pernah dikiranya akan diucapkan seorang pemuda jade.
"Terima kasih sudah diberi tahu."
Mereka berdiri berhadapan dibatasi oleh rak buku yang tingginya mencakar langit-langit. Naruto masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Gaara mungkin tidak menyadari keberadaannya. Apa dia tidak mengenali suara Naruto? Entah kenapa sedikit banyak itu membuatnya kecewa.
"Hei, keluarlah, kemari..." ujar Gaara nadanya terdengar lembut.
Naruto menggigit bibir, "Aku tidak bisa menemuimu."
Gaara mengabaikan ucapannya dengan melangkah, tapi sebuah permohonan lirih menghentikannya.
"Kumohon jangan kemari, kau tidak boleh ke sini..."
"Kenapa?"
"Ka-karena aku pangeran perpustakaan. Jika dilihat aku akan menghilang!"
Benar-benar alasan yang tidak masuk akal. Bahkan seorang bocah sekolah dasar pun tahu kalau perkataanya itu hanya mengada-ada. Naruto mengutuk kebodohannya yang tidak kira-kira. Tapi terlepas dari itu ia juga merasa senang karena bisa bicara dengan Gaara, walaupun pemuda jade itu tidak menyadari keberadaanya.
"Jadi, aku tidak boleh menemuimu?"
Gaara percaya. Naruto tidak menyangka pemuda jade itu percaya dengan kebohongannya.
"I-iya," jawabnya sedikit kikuk.
"Oh, begitu."
Setelahnya Gaara bertanya banyak hal padanya. Seorang pangeran perpustakaan tentu saja mengetahui banyak hal karena dia sering membaca. Gaara bertanya dan Naruto menjawab seadanya, walaupun dia tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Tapi satu hal yang dia ketahui, kedekatannya dengan Gaara kali ini membuatnya nyaman. Pemuda jade itu tidak menggunakan bahasa dan kata-kata yang menyebalkan seperti pada insiden dua hari yang lalu. Naruto tahu bahwa di harus menarik kata-kata dan pendapat tidak baik-nya tentang Gaara.
Beberapa menit setelah mereka bicara panjang lebar, waktu istirahat habis. Gaara terdiam sejenak, dia masih ingin di sini dan bertukar cerita dengan kenalan yang membuatnya merasa nyaman. Dia ingin mengulur waktu jadi Gaara tetap diam menantikan seseorang di balik rak berbicara satu kalimat lagi. Tapi dia tidak mendengar apapun.
"Hei.. aku akan ke kelas," ujarnya. "Tapi aku akan kemari lagi di jam yang sama. Kau pasti kesepian karena tidak pernah bertemu dengan siapapun seumur hidupmu. Jadi aku akan kemari setiap hari untuk menemanimu bahkan di hari libur."
Naruto terkejut mendegar ucapan Gaara. Itu serentetan kalimat yang membuatnya bahagia hingga tanpa sadar satu bulir air matanya jatuh menuruni pipinya. Apa mereka akan menjadi teman setelah ini? Gaara begitu peduli dengan orang yang bahkan belum lama dia kenal.
Naruto tersenyum dan berguman "terima kasih, Gaara" setelah memastikan langkah kaki pemuda jade itu sudah cukup jauh darinya.
-Enmyti-
Jam pulang adalah waktu yang sangat dinatikan oleh murid-murid. Mereka akan keluar dari dalam gedung sekolah seperti tumpahan serangga. Sebenarnya itu adalah pendapat Sasuke. Dan dia juga tidak mempermasalahkannya, hanya saja sebagian dari mereka cukup mengganggu dan selalu menempel padanya seperti ulat bulu. Mereka berisik dan selalu berteriak centil dan bersikap sok baik demi merebut perhatiannya. Dan dalam sekejap dia menjadi pusat perhatian. Sasuke benci itu, tapi dia tidak dapat menyingkirkan mereka. Bagaimana pun itu hanya kumpulan penggemarnya yang mengharuskan Sasuke bersikap tidak kasar supaya pandangan mereka tidak buruk terhadapnya.
Dibelakangnya ada Itachi dan Gaara yang juga terlibat dalam masalah yang sama. Yang perlu kau ketahui adalah mereka bukanlah gank atau kelompok yang menguasai sekolah. Atau preman yang ditakuti karena kekuatannya. Itachi, Sasuke, dan juga Gaara adalah teman sejak kecil. Itachi kakaknya yang selalu ada ketika Sasuke membutuhkan dan Gaara sahabat sejatinya yang sudah dianggap sebagai saudara kandung sendiri.
Tapi melihat mereka yang selalu bersama sejak Sasuke pindah ke sekolah ini walau ketiganya berbeda kelas, murid-murid lain beranggapan jika mereka mendirikan sebuah gank. Ketampanan mereka sangat di kenal terlebih kekayaan yang mereka miliki. Banyak murid laki-laki yang minta untuk direkrut. Tapi Sasuke menolaknya mentah-mentah dengan mengatakan bahwa "aku bukan ketuanya dan kami tidak mendirikan gank" namun masih banyak murid yang keras kepala dan memohon-mohon hingga bersujud di kakinya. Sampai Sasuke akhirnya mengabaikan mereka karena tahu jika sudah lelah mereka akan menyerah.
"Kyaa~ Sasuke-sama tampan sekali..."
"Itachi-sama~ jadilah kekasihku..."
"Kyaa~ Gaara-sama memang keren..."
Terlepas dari hiruk pikuk di sekitarnya, Sasuke mengedarkan pandangan ke sisi lain. Tidak jauh, dia mendapati seorang pemuda pirang keluar dari dalam gedung dengan langkah yang tergesa-gesa. Mengacuhkan keadaan sekelilingnya sebagaimana keadaan itu mengacuhkan dirinya. Hingga punggungnya yang sempit itu menjauh. Pandangan Sasuke melihat sosok itu semakin mengecil dan perlahan-lahan menghilang.
Dia berpikir tentang Naruto, selama dua hari berturut-turut Itachi dan seluruh murid KAI mengejarnya seperti kelinci buruan. Tapi mereka tidak berhasil menangkapnya karena pemuda pirang itu bersembunyi entah dimana. Itachi yang mengatakan itu padanya. Sasuke sendiri tidak ambil bagian dalam pengejaran Naruto karena dia tahu tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga. Serahkan bagian itu pada Itachi dan Sasuke yang akan membuat Naruto menjadi bonekanya. Mereka sudah membuat kesepakatan untuk itu.
Tapi berbeda dengan Gaara, dia tampak tidak tertarik sama sekali dan cenderung tidak peduli dengan bussiness Sasuke dan Itachi. Dia mengatakan itu adalah hal yang tidak menguntungkan dan tidak ada gunanya jadi Pemuda berambut merah itu memilih diam dan tenggelam dalam urusannya sendiri. Juga terkadang memisahkan diri dari Itachi dan Sasuke seperti ingin pergi ke perpustakaan untuk mencari sebuah buku di jam istirahat tadi hingga kembali ke ruang osis saat jam masuk dan pergi sendirian ke suatu tempat di sudut lain sekolah karena ingin menenangkan pikiran. Sasuke mungkin tidak tahu jika salah satunya adalah kebiasaan seorang Gaara.
-Enmyti-
Ini adalah sabtu malam dimana Itachi mengajaknya untuk pergi ke perlombaan jalanan bersama Gaara di distrik Shinjuku. Itachi sangat menyukai otomotif dan pria itu sempat berpikir untuk ikut serta berlomba dan memberikan mobil kesayangannya sebagai taruhan. Sasuke membiarkan kakaknya bermain-main karena kali ini dia juga tertarik dengan apa yang dipikirkan Itachi.
Mereka berlomba sebagai tim. Gaara juga ikut serta. Jangan tanya tentang taruhan apa yang diberikan Gaara, pemuda merah itu bahkan berani memberikan seluruh koleksi mobil supernya jika dia kalah. Gaara benar-benar menggila jika sudah berhubungan dengan trek dan balapan.
Dan mereka menang berkat Sasuke yang mahir dan mengetahui bagaimana cara menikung yang keren. Jika berhubungan dengan drifting Sasuke adalah rajanya. Dia dijuluki sebagai DK (Drift king) di seluruh trek balap. Terima kasih pada salah seorang temannya di Moskow yang juga keturunan Jepang telah mengajarkan Sasuke bagaimana caranya menari dan berputar di aspal dengan decitan ban yang melengking.
Dia bersandar di badan Henessey venom GT-nya sembari melihat Itachi yang datang dengan cengiran lebar dan Gaara dengan senyum miring. Kemenangan malam ini adalah suatu euphoria bagi mereka. Sasuke tidak akan pernah melupakan bagaimana wajah masam orang-orang yang sudah dikalahkannya. Itu adalah suatu hiburan tersendiri bagi Sasuke.
"Apa kalian lapar?" tanya Itachi. Dia sudah berada dibalik kemudi mobilnya.
Sasuke menyeringai, sepertinya Itachi akan mentraktir mereka. Lalu dia melirik Gaara yang menatapnya balik dan kembali pada itachi. Tatapan matanya seakan mengatakan "ya, kami lapar."
Lalu Itachi mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya. Dia berkendara di depan Sasuke dan Gaara seperti seorang pemimpin. Membelah jalanan malam dengan kecepatan 120 km\jam dengan goncangan pada bumper. Menyelip diatara celah keramaian kendaraan di jalanan pusat kota dengan kecepatan seperti komet.
Itachi menginjak pedal gas lebih keras dan melihat bagaimana Sasuke dan Gaara menjadi bayanganya di belakang. Dia tersenyum karena tadi itu kali pertama ia mengajak Sasuke ke trek dan adiknya menunjukan bagaimana kemampuannya yang menawan. Tidak percuma Sasuke tinggal di Moskow selama 2 tahun dan meninggalkan Itachi di rumah kosong. Baginya itu adalah sebuah kebanggaan seorang kakak.
Kemudian dia memutar stir. Menepikan mobilnya yang juga di ikuti oleh Sasuke dan Gaara. Mereka berhenti di depan sebuah restaurant kecil pinggir jalan. Di jam malam seperti ini tempat itu masih terlihat ramai pengunjung. Banyaknya pelanggan yang berdatangan membuat tempat ini buka lebih lama dari yang seharusnya.
"Kupikir kau akan membawaku ke Bar." ujar Sasuke sarkastik.
Itachi mendengus dan mengacak kasar rambut Sasuke, "Kau belum cukup umur untuk kesana."
"Hentikan itu! aku bukan bocah lagi, baka Itachi." Sasuke menepis keras tangan Itachi dan menggeram pada sang kakak yang memperlakukannya seperti anak bayi. Sasuke sangat tidak suka itu. Sangat memalukan jika dilihat orang-orang.
"Ya sudah. Kalian lapar bukan? ayo masuk." Itachi terkekeh lalu melangkah mendahului dua orang di belakangnya.
Ketika mereka sudah berada di dalam. Pandangan Sasuke menangkapinterior bernuansa orange dan kuning. Mengingatkannya pada seseorang yang berisik dan sok kuat. Rambut blonde dan mata biru yang cerah seperti langit di musim panas. Seorang pemuda dengan wajah seperti perempuan yang terkadang masuk ke pikiran Sasuke tanpa diminta.
Itachi memanggil seorang pelayan dan bertanya pada kedua adiknya tentang menu apa yang akan mereka pesan. Dan Sasuke mengatakan dia ingin Sirloin steak dan jus tomat. Sedangkan Gaara memesan Roast rib of beef dan tea. Jika Itachi, ia hanya ingin secangkir kopi dengan sedikit gula. Lalu mereka menunggu selama lima belas menit.
"Silahkan tuan pesanan... UKH!
Berani taruhan jika dunia ini seperti sarang semut membosankan yang sempit dan kecil dimana kau hanya akan berputar-putar di dalamnya? Sasuke akan membayar lebih dan membolehkan kau memotong kepalanya jika tebakannya salah. Entah ini kebetulan yang baik atau buruk mendapati si dobe yang di cari-cari berada tepat di hadapannya. (lagi-lagi) Menumpahkan cairan ke pakaiannya seakan Sasuke itu adalah tempat pembuangan limbah.
"Grr.. Uzumaki.."
Deja vu
Itu adalah sebuah perasaan seperti merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu
Dan itu terjadi pada Uchiha dan Uzumaki satu ini. Sama saat pertama kali, Kepala pirang terangkat setelah mengucapkan berkali-kali kata maaf dan mata biru itu membelalak dengan wajah shock
"Kau.. Uchiha-"
"Sasuke."
Seperti tidak ingin hal memalukan pada waktu itu terulang kembali, Sasuke memotong ucapan si rambut pirang. Dia berdiri dari duduknya. Dengan gerakan cepat Sasuke sudah berdiri di sampingnya. Membisikan sesuatu yang membuat tubuh si pirang menegang. Lalu segera berjalan keluar setelah memberikan tatapan isyarat pada Itachi dan Gaara. Selera makannya sudah hilang dan Sasuke berjanji tidak akan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi.
Itachi berdecak. Sepertinya Kali ini Sasuke benar-benar marah pada si pirang. Pembully-an yang diberikan Sasuke mungkin lebih mengerikan dari pada apa yang diberikan oleh Itachi. Dia sedikit khawatir dengan keselamatan si bocah Uzumaki.
"Berhati-hatilah honey..." ujar Itachi di telinga Naruto. dia mungkin menyadari ada sedikit nada lembut dan tulus disana.
Gaara menatapnya dengan pandangan kosong. Rasanya Naruto ingin menangis karena pemuda merah itu segera mengalihkan pandangan mereka. Hanya dia satu-satunya orang yang mungkin bisa Naruto anggap teman. Dan sekarang harapannya hilang. Gaara sama sekali tidak peduli padanya.
Beberapa orang pernah bilang padanya bahwa dengan bersabar semuanya akan terasa lebih baik. Ikuti saja jalan kehidupan yang terus mengalir. Jangan pernah menoleh kebelakang.
Dan Naruto menoleh ke belakang menatap punggung seseorang yang bisa saja menghancurkan hidupnya. Berpikir jika yang dikatakan orang-orang padanya adalah omong kosong yang memuakkan. Dia tidak bisa bersabar jika masalah yang di hadapinya berhubungan dengan orang-orang yang dia sayangi.
"Besok, temui aku di ruanganku. Jika tidak, kupastikan tempat kotor ini akan tutup dalam waktu dua puluh empat jam. Ingat itu... Na-ru-to."
-TBC-
Berhubung sekarang Kay lagi males balas ripiu sedirian jadi kay nyuruh para chara buat nemenin...
Sasuke : emang lu siapa nyuruh2 gue?
Kay : teganya elu ayah... Gue ini anakmu tau (nangis di pelukan Naru)
S : (kasih tatapan membunuh) kamu bukan anakku tapi anak yang tertukar.
K : (nadah tangan ke langit) tuhaaaan... Katakanlah ini tidak benar, sebenarnya aku ini anak siapa a a a...?
Krik, krik, krik...
SasuNaru : (sweatdropped)
K : ekhem! (Cool mode : on) oke, balesan ripiu pertama, Akino Aoi ; jadi umurmu (*)8 ya kak aoi? Heee..Boleh Kay manggil gitu? Iya, ultah kita beda 1 bulan. Oke lanjut ke jawaban pertanyaannya.
Beda umur Itachi dan Sasuke itu dua tahun, sekarang Itachi kelas tiga. Kalau soal rubah tsundere itu tergantung alur, apakah dia dibutuhkan ato gak. Dan juga, makasih dukungannya ^ ^
Emmm, Hoi, Gar! (Sorakin Gaara yang lagi duduk dibawah pohon kedondong sambil godain Naru) lu dibilang manis ma kak aoi nih!
Gaara : (balas tereak) bilang makasih trus mintain duitnya, coz kalau ada orang yang muji gue harus bayar.
K : dengerlu ngomong gitu, gue jadi keinget salah satu rentenir dalam suatu organisasi deh...
Naruto : oke, lanjut yang kedua : Hanazawa Kay ; makasih pujiannya hanazawa (kedipin sebelah mata dan kasih sun\cium jauh)
KayGaaSasu : (pingsan kehabisan darah)
N : kalian kenapa?(polos)
Kay : (sadar) ukh.. Gak papa, y-yang ketiga : Classical Violin ; ini udah lanjut makasih udah mo nunggu fic abal ini^ ^
S : (mencet hidung) s-selanjutnya : Kyuunauzunami ; kamu mirip dengan anak nakal ini... Tapi kalo harem uke Naru (ngasah golok)
K : (ngerebut golok Sasu) makasih dukungannya Kyuu^ ^
S : (ngerebut goloknya lagi lalu nguber2 Kay)
K : huwaaa... Bapak tolongin aku... Wadaw! (Nyungsep ke kali)
N : Kay, kamu gak papa?
K : i-iya, hacooooh! Uhuk2 tapi, kayaknya aku demam deh.
S : paan? Lu kan cuma nyungsep bukan berenang..
K : (ngacungin jari tengah kaki kiri ke sasu)
S : what da hell are you doing!?
N : udah2 kapan nih kelarnya kalau kalian berantem mulu?
K : huh, iya..iya. Sekarang Aka-Chan : yang kamu bilang emang benar, tapi aku kurang sreg sama Neji. Soalnya rambutnya panjang, lurus dan lebat kayak syahroni gitu. Bukan ice prince lagi tapi ice pincess, wkwk..
Disini anggap aja Itachi itu 2 taun lebih tua dari
Sasuke, gak papa kan? Toh di fic lain ada yang jadiin Itachi sebagai adik Sasuke. So it's not a big problem, budy..soalnya aku mau bikin konflik antara adik dengan kakak nantinya.
G : (baru sadar dari pingsan) Guest : ini udah lanjut, Granpagyu : iya aku emang modus, emang kenapa? (nantangin granpagyu)
K : (jitak pala Gaa) sok2an lu Gar.. Final pairnya ya.. Maunya sih SasuNaru tapi kasian juga Gaara yang udah suka ke Naru duluan.. Benar2 dilema tapi kay janji bakal berusaha buat ending yang gak mengecewakan nantinya^ ^
Itachi : (tiba-tiba muncul dibelakang kay) kalian gak ngajak2 gue... Siniin! (Ngerebut hpnya kay) biar gue yang bales.. Lululala04 : ini sudah lanjut, makasih sudah mau nunggu cerita author seden* ini.
K : fiuhh.. kelar deh..
I : apaan, gue baru bales 1 ripiu..
K : lha? Lu emang mau berapa?
I : seratus.
K : ripiu gue gak sampe sebanyak itu.. Kalau lu mao, pergi sana, minta ripiunya..(nendang punggung Ita)
I : fu*k! Kasar amat lu kayak preman aja..
.
Sebelumnya kay minta maaf dulu buat chap kemarin yang super duper banyak misstypo nya dan itu sangat menggangu kenyamanan minna waktu baca.. Tapi udah kay perbaiki kok. Jadi tenang aja..
Tapi kalo untuk chap ini, Kay gak bilang kalogak banyak typonya... soalnya ngeditnya cuma sekali.. hehe..
Sekarang minta ripiunya lagi buat mood booster. 1 atau 2 buah ripiu pun gak papa.. Itu udah cukup untuk mengembalikan semangat kay. Toh, kay bikin fic ini cuma untuk kebahagiaan para penyuka harem uke naru dan jika mereka bahagia maka itu sebuah kesenangan bagi kay. Jadi bukan minta ripiu sebanyak-banyaknya biar dikira author hebat... Cita-cita kay itu bukan jadi penulis tapi photografer yang bisa keliling dunia.. Hehe..so, Akhir kata... See ya next chap!
(warn: bold dan italic-nya gak bisa dipakai)
Kachiao!
