CHAPTER FIVE
.
Warn : T+ untuk bahasa dan beberapa scene di chap ini XD
Mulutnya seakan dikunci rapat walau hanya untuk sekedar tertawa dan berbisik. Naruto menundukkan kepala, tidak sanggup menatap wajah Gaara yang memandangnya sambil berkedip. Dia tidak tahu maksudnya itu, entah mengejek atau mengoloknya, dalam konteks yang berbeda artinya tetap sama bagi Naruto.
Menghinanya.
"Well, kuanggap itu sebagai, 'ya' Dobe," ujar Sasuke dan Gaara memberikan senyum tipis.
Itachi yang sempat terabaikan, berkata sembari menunjuk dirinya sendiri, "Lalu bagaimana dengan aniki-mu ini?"
Sasuke melirik sekilas dengan sudut mata, lalu angkat bahu acuh tak acuh, sebenarnya ia tidak masalah jika Itachi ikut nimbrung. "Terserah, lakukan apapun yang kau inginkan," ujarnya membuat Itachi menyeringai senang kemudian pria itu menyambar lengan Naruto. "Tapi tidak sekarang, seharian ini dia bersamaku." hal itu berhasil melelehkan senyuman lebar Itachi, ia membuang muka. Sasuke tersenyum samar.
Kembali melirik arlojinya, Gaara berkata, "Sebelumnya tinggalkan dulu urusan 'budak'. Kembalilah ke gedung olah raga kita harus berlatih. Kuharap kau tidak melupakan turnamen yang tinggal dua hari lagi."
Sasuke menghela napas dan mengangguk mau tidak mau. Dia berdiri dan memungut handuk beserta sebotol minuman isotonik di atas meja lalu melemparkannya pada Naruto. Pemuda pirang terkesiap sehingga nampannya oleng dan jus tomat diatasnya tumpah membasahi kepalanya.
Sasuke tertawa merendahkan sedangkan Gaara mati-matian menahan geramannya dan umpatan marah untuk si raven.
"Idiot. Kau bawakan itu dan ikuti aku. Tidak usah kau cuci kepalamu karena kau tampak lebih 'cantik' dengan hiasan dirambutmu itu." terkekeh setelahnya kemudian ia mengacungkan dagunya kedepan, isyarat agar Gaara ikut dengannya.
Sebelum menyusul Sasuke, pemilik mata jade meremas lembut punggung tangan Naruto sekilas ketika ia melewatinya. Si pirang kaget dan menoleh cepat, tapi Gaara sudah lebih dahulu berjalan didepannya, Naruto hanya sempat melihat punggung tegap pemilik rambut merah itu.
Sementara si pirang masih menerka apa tujuan Gaara, Itachi mengernyit melihat sesuatu yang dilakukan olehnya. Entah apa maksud pemuda jade. Dia curiga bahwa ada yang tidak beres antara Gaara dengan Naruto meski ia tidak punya banyak bukti untuk itu.
Setelah kembali kedunianya, Naruto menyela. Persetan dengan apa yang dilakukan Gaara, ia tidak peduli. Harapannya sudah hilang untuknya.
Ia meraba-raba kepalanya yang lengket dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tumpahan jus tomat itu. Ia mengabaikan apa yang dikatakan Sasuke barusan, Naruto memang budaknya tapi ia tidak akan melakukan semua yang diinginkan si brengsek Sasuke.
Sadar atau tidak, Itachi mengekorinya dengan cengiran lebar yang demikian itu membuatnya tampak menyeramkan di mata Naruto. Pantulan dirinya terlihat dari cermin di atas wastafel. Jaraknya sangat dekat dengan Naruto, bisa dikatakan tubuh mereka nyaris berdempetan jika saja Naruto tidak menekuk siku kirinya ke belakang.
Mengabaikan Itachi yang berada di belakangnya, Naruto mengusap kepala -kalaupun ia meronta usahanya hanya akan menjadi pergerakan kecil di penglihatan Itachi. Membersihkan sisa-sisa yang masih menempel disana. Namun tangan Itachi juga ikut memegangi dan mengusap kepanya, membuat si pirang tidak bisa lagi menahan risinya.
"Jauhkan tanganmu."
Ia terkekeh, "Kau ingin aku yang mana, sayangku? 'Baik' seperti ini atau 'lebih baik' membuatmu mengerang dibawahku?"
Mulai dari sekarang, Naruto harus menjaga jarak dari Itachi, jika lengah bisa saja sewaktu-waktu pria ini berbuat aneh padanya. "Kau 'menginginkan' ku?" ujarnya menantang Itachi dan tidak mempedulikan akibat yang akan terjadi padanya, "Tapi sayang, jika pun aku harus menjadi abnormal. Lebih terhormat aku berkencan dengan si mesum Kakashi-sensei dari pada dengan orang sepertimu."
Itachi menjilat bibirnya, perkataan Naruto menyulut hasrat terpendam dalan dirinya, jika lepas kendali bisa saja Naruto kehilangan sesuatu yang berharga dari dirinya dikamar mandi ini. Pria bermata onyx pun melingkarkan tangannya pada perut Naruto. Si pirang bergeliat protes.
"Biarkan seperti ini, sayangku. Kau membuatku bergairah dengan caramu bicara." ia sedikit main-main dengan meniup tengkuk Naruto hingga pemiliknya merinding. "Aku tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Gaara padamu tadi. Tapi kuingatkan agar jangan membuatnya menjadi gay sepertimu." ujarnya kemudian memberikan kecupan sekilas di leher Naruto membuat si pirang melenguh kecil.
Itachi melepas pelukannya, berbalik badan dan keluar dengan bersiul-siul seolah-seolah tidak pernah terjadi apapun.
Beberapa saat setelahnya, Naruto mengusap kasar leher bekas ciuman Itachi. Berusaha menghilangkannya sebisa mungkin. Menatap bayangan dirinya yang lusuh didepan cermin.
"Itachi brengsek..."
Dari sini, Naruto memperhatikan Gaara dan Sasuke memainkan bola seperti benda itu adalah temannya sendiri. Melakukan lay-up dengan tubuh melayang diudara dan mencetak angka. Hingga beberapa menit seperti itu sampai break-time.
Sasuke memanggil Naruto dengan panggilan kesukaannya. Pemilik rambut pirang menurut dan segera menyeka keringat yang membasahi leher si raven sembari mengomel.
"Aku dengar itu, Dobe." Sasuke mendengus dan menjentik keras dahi Naruto, membuatnya memekik dan mengerucutkan bibirnya.
"Sasuke-sama, anda tidak boleh dekat dengan Naruto. Dia itu sangat tidak higienis."
Suara teriakan itu terdengar dari gadis-gadis yang memegang pom-pom di belakang mereka. Entahlah, mungkin mereka cemburu dengan si pirang yang bisa menyentuh dan dekat-dekat dengan pangeran tampan mereka. Nanti mereka akan meluangkan waktu untuk mencincang seragam Naruto dan menaruh minyak dibawah lokernya agar dia terpeleset.
"Sudah cukup." Sasuke berujar, sembari menepis kasar tangan Naruto, "Ambilkan minumku."
Si pirang hanya mengangguk pasrah. Ia hendak memutar tubuhnya tapi seseorang menabraknya dari belakang membuat tubuh Naruto oleng dan jatuh kearah Sasuke.
Pemuda onyx yang tidak siap menahan berat tubuh Naruto hilang keseimbangan dan jatuh dengan punggung yang mencium lantai keras. Benar-benar menyakitkan ditambah lagi oleh si pirang menindihnya.
"Shit.. Fuck! Punggungku.. Bangsat! Sialan.." umpatnya bertambah-bertambah.
"Menyingkir Do-" begitu membuka mata ucapan Sasuke langsung berhenti. Wajah Naruto begitu dekat. Sebelumnya ia tidak pernah sedekat ini dengan sipapun bahkan seorang gadis. Shappire itu memakunya.
Naruto mengulum bibir tanpa sadar. Ia juga tidak secepatnya beranjak dari atas Sasuke karena sebenarnya ada maksud lain yang tersembunyi juga. Ia ingin Sasuke tersiksa dengan berat tubuhnya. Jadilah Naruto tidak segera menyingkir.
Si raven masih tidak melanjutkan kata-kata, entah apa yang dipirkannya sekarang hingga wajahnya terlihat aneh begitu. Baru kali ini Naruto menyaksikan bagaimana absurdnya wajah Sasuke jika sedang 'bengong'. Biasanya juga hanya wajah seram, marah, licik dan jengkel dan lain sebagainya. Hal itu membuatnya berusaha menahan tawa habis-habisan.
Timbul niat untuk mengerjai, si pirang mendekatkan wajahnya dan terlihat wajah Sasuke berubah hijau seperti orang mau muntah.
Kau pikir aku suka dengan hal menyeramkan ini?
Ia sungguh jijik melakukannya apalagi pada musuh bebuyutannya sendiri, tapi apa boleh buat Naruto tidak punya cara selain memegang bibirnya agar Sasuke -setidaknya- 'takut' padanya. Ia pernah mendengar berita tentang si pemilik mata onyx yang homophobic. Jadi Naruto memutuskan untuk memastikan.
Mata Sasuke mendelik dengan ekspresi yang tak terdeskripsikan, sangat menggelikan dari pandangan Naruto. Barusaja tangannya mengusap pelan bibir si raven, seseorang segera menarik lengan Naruto. Membuatnya sontak menegakkan tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?"
Menoleh ke kirinya, si pirang mendapati pemilik rambut merah bertanya dengan wajah datar. Ia -sedikit- tidak yakin jika ujaran tadi keluar dari mulut Gaara. Untuk apa pemuda itu menanya -sok- perhatian padanya sekarang? Padahal dia sering melihat si pirang dibully sampai memar dan patah tulang tapi saat itu hanya tatapan kosong yang dia dapatkan.
Naruto tidak menjawab, ia hanya memilih menatap ujung sepatunya. Jika berhadapan dengan Gaara ia bahkan tidak sanggup untuk mendengus dan berteriak marah. Pemilik mata jade itu selalu membuatnya luluh dalam sekali pandang. Terlebih ketika dia berjanji untuk menemani 'pangeran perpustakaan'.
Gaara memberi jarak dengan Naruto setelah Sasuke berdiri kepayahan sambil sesekali menyumpah dan meringis. Terasa tulang punggungnya seolah retak dan remuk. Ia melirik galak kearah Naruto yang mencoba mengintip dari balik poninya yang mulai memanjang.
"Fuck! Apa kau tidak menggunakan otak Dobe-mu itu, eh?" Sasuke mendekat dengan wajah sangat marah. "Kau ingin bermain-main denganku?" geramnya rendah seraya mencengkeram rahang Naruto kuat. "Jawab aku!"
Si pirang hanya diam, jika sedang marah seperti ini, Sasuke membuatnya takut dan tidak berkutik atau melawan sama sekali. Ia hanya membiarkan Sasuke yang mempermalukannya di depan umum.
Pemuda jade yang menyaksikan itu, menggeram sejenak untuk kemudian menyingkirkan tangan Sasuke dari rahang Naruto.
"Jangan ikut campur Gaara, ini urusanku." ujar si raven.
Gaara memutar bola mata, "Kau terlalu berlebihan. Lagipula dia tidak sengaja jatuh dan menimpamu."
"Sejak kapan kau mulai menjadi superhero-nya?"
"Ingat Sasuke, sekarang dia juga budak-ku. Kau boleh saja memarahinya, tapi jika hanya kesalahan sekecil ini apa reaksimu tidak berlebihan? Apalagi saat dia tidak sengaja menumpahkan cairan kepakaian-mu. Jujur, saat itu aku berpikir bahwa kau seorang yang hiperbol." Gaara memandang sekeliling mereka yang diisi murid untuk sekedar melihat latihan basket. "Apa kau tidak memikirkan dirimu sendiri? Sumpah sarapahmu bergema di ruangan besar ini. Perhatikan mereka yang melihatmu, bagai kau tidak lebih rendah dari brandalan yang urakan."
Ajaib. Naruto takjub dengan Gaara yang berkata panjang, ia tidak terlalu yakin apakah pemilik rambut merah sedang membelanya atau tidak, tapi ia merasa bahagia. Diam-diam Gaara melingkarkan lengan dipunggunya, telapak tangannya meremat bahu Naruto.
Hangat.
Sasuke mendengus, perkataan Gaara memang ada benarnya, hanya orang rendah tidak punya etika yang mengumpat di depan umum. Si raven tidak ingin dikenal sebagai murid brandalan di sekolahnya. Dan lagi ia masih baru disini. Tapi perkataan itu terlalu menusuk jantungnya, terdengar panas di telinga Sasuke. Apakah si merah ini ingin mempermalukannya juga?
Si raven mendecih, pandangannya diedarkan, mendapati sang sahabat diam-diam tengah menyentuh Naruto. Dan yang demikian itu membuatnya tidak suka.
Ia berdecak dan menarik Naruto ke dekatnya, "Seharian ini dia bersamaku, kalau kau lupa. Jika kau inginkan dia tunggu sampai besok."
Gaara hanya bergumam malas-malasan. Agak kesal ketika Sasuke menjauhkan Naruto darinya. Tapi apa boleh buat memang itu peraturannya.
"Dobe," panggil pemilik mata onyx, kali ini nadanya lebih tenang.
Naruto menjawab, "Y-ya?"
"Belikan aku minuman yang baru. Entah kenapa aku hilang selera untuk yang ini." ujarnya menatap tidak minat minuman yang barusan diambilnya, seraya melirik sekilas kearah Gaara.
Tidakkah kau sadar Sasuke, jika Gaara juga menatap tidak suka kearahmu?
TBC
Hur..hur..hur..
Kay come back, minna~ kangen banget ma fic ini.
Belakangan, kay merasa keganggu banget sama sodaranya spiderman.. Laba-laba yang entah datang dari mana dan tiba-tiba aja udah masuk ke kamar n nyelip di celah kasur. Bukan cuma 1 atau 2 tapi hampir tiga ekor pertiga hari. Keganggu banget pokoknya. Apa karena kay sering bunuh makhluk itu hingga akhirnya mereka balas dendam dan meneror kay?*absurd
Soalnya kay paling jeje dan benci banget sama laba-laba, lebih mending megang tikus yang rada mirip hamster*apanya? dari pada dia... Hiiiyy
Aduh, kok malah ngomongin beginian? Ga penting banget. Tapi yang jelas ini juga penyebab keterlambatan update lho.. Takut ke kamar buat ngetik, kalo diluar ntar ketahuan ma eonni.. *boongitu
Yaudah ini nama minna yang ripiu chap kemarin :
Amura. Pyuu. grandpaGyu. Deana Milk. Yoon745. Celindazifan. Yoon745. Kak Aoi
Maacih cemuanya.. Lup ya guys..hehe..
Cukup dulu segala tetek bengeknya, silahkan kasih saran, kritikan, atau sesuatu yang pakai cabe di kotak ripiu.. Asalkan gunain kalimat yang beretika yops..
See ya next chap..
Kachiaou!
