CHAPTER SIX


Seharian menjadi budak Sasuke sudah sangat melelahkan. Rasanya lebih baik Naruto mengurus bayi dari pada mengurus si brengsek Sasuke. Pemuda berambut raven itu tidak memberi keringanan sedikitpun untuk Naruto. Setiap kalimat yang diucapkannya harus dipatuhi dan dijalankan, jika tidak Sasuke akan sangat marah. Itu lebih menyeramkan dari pada mendapat nilai C dalam pelajaran matematika.

Naruto menghela napas, merasa hidupnya begitu berat dengan masalah yang datang silih berganti. Ia tidak yakin tahan satu minggu bersama si raven jika satu hari saja bagaikan dipaksa kerja rodi tiga hari. Semoga saja tuhan menampar Uchiha Sasuke agar pemuda itu sadar bahwa menyiksa seseorang yang tidak (terlalu) bersalah merupakan dosa besar.

Demi ayah dan ibunya. Naruto harus bertahan untuk keluarga.

Sebenarnya di jam pulang ini, Naruto ingin segera ke restaurant untuk membantu orang tuanya, tapi tidak. Pemilik rambut pirang singgah sebentar ke perpustakaan sekolah. Ia bahkan tidak tahu tujuannya datang ke tempat itu. Ia hanya ingin -ingin memastikan bahwa Gaara menepati janjinya.

Pemilik rambut merah yang berjanji akan menemaninya bahkan di hari libur. Walaupun sekarang bukan waktu istirahat, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

Dan sekarang Naruto mengakui, Gaara adalah pria sejati. Ia menepati janjinya. Sama seperti pertama kali, meski sekarang mereka tidak berdiri berhadapan melainkan duduk saling memunggungi yang dibatasi dengan rak buku.

"Rekomendasi buku?" tanya Naruto ketika Gaara meminta padanya memberikan buku yang bagus untuk dibaca.

"Ya, karena kejadian Mother goose waktu itu sudah membuatku malu. Aku ingin lebih serius." Gaara menjawab. Menopang dagu dengan punggung tangan sementara sikunya menopang pada lutut yang ditekuk.

"Uph.. Manisnya.."

"Kau tertawa?"

Si pirang menutup mulutnya yang tidak sengaja terkikik karena Gaara. Tidak baik menertawakan orang lain.

"M-maaf.."

Mendengarnya Gaara tersenyum geli, untuk apa meminta maaf, toh tidak ada yang salah. "Tidak apa. Ini pertama kalinya aku mendengarmu tertawa." jeda sesaat sebelum Gaara kembali berujar, "Tidak ada alasan untuk minta maaf, tertawa itu sesuatu yang baik 'kan?"

Naruto mengangguk menyetujui walaupun dia tahu Gaara tidak bisa melihatnya. Gaara adalah pemuda yang dingin, tapi pemilik rambut merah itu mempunyai kata-kata yang lembut.

"Hei.." panggil Gaara, panggilan yang biasa ia gunakan untuk mendapatkan atensi 'Pangeran perpustakaan'. Naruto menjawab dengan bergumam.

"Bacakan saja buku yang kau rekomendasikan. Karena, aku suka suaramu.."

Beberapa detik jantung Naruto berhenti berdetak, dan detik berikutnya berdetak menggila dengan pipi memanas.

Gaara menyukai suaranya? Apa itu benar?

"Apa boleh buku bergambar Andeson?"

Kekehan kecil terdengar dari balik rak dibelakang Naruto, "Buku bergambar? Kau pikir aku ini anak kecil?"

Naruto tidak menjawab pertanyaan Gaara yang dibuat menyindir. Jemarinya bergerak membuka lembaran pertama dari buku berjudul Snow Queen. Membaca paragraf pertama hingga ke lima kemudian berhenti, memberi waktu untuk Gaara menanggapi bacaanya, tapi pemuda itu diam. Sempat Naruto berpikir Gaara sudah pergi jika saja pemuda pirang tidak memastikan dengan mengintip dari sela-sela buku di belakangnnya.

Kembali membaca, Naruto membutuhkan waktu lima belas menit dan selama itu juga Gaara tidak bersuara. Selesainya ia membuka suara pada Gaara,

"A-anou.."

"Kau bilang, kau akan menghilang jika dilihat seseorang 'kan?" Gaara menengadahkan kepala, mata jade miliknya menerawang langit-langit perpustakaan.

Disisi lain suara itu merasuki indra pendengaran Naruto, membuatnya memandang lurus ke depan dengan belah bibir sedikit terbuka, menanti ucapan Gaara selanjutnya.

Pemilik rambut merah kembali berkata dengan suara bass-nya,

"Sama seperti Kai yang mencari Greta yang diculik Ratu Salju. Kupikir aku bisa menemukanmu jika kucari keseluruh isi sekolah."

Naruto meremat buku di dadanya, waktu menyenangkan ini akan berakhir jika Gaara mengetahui identitas Naruto.

"Aku ingin bertemu denganmu, bagaimana caranya supaya kita bisa bertemu?"

Tidak boleh Gaara..

Naruto menjawab, "Ratu Salju memberikan syarat agar Greta bebas,

Kalau Kai bisa mengumpulkan serpihan salju dan membuat tulisan 'keabadian' maka aku akan membebaskanmu...

Kalau bisa melakukan hal yang sama, maka aku tidak akan menghilang walau kita bertemu."

"Tidak mungkin." Gaara protes, suaranya naik satu oktaf. Itu terlalu mustahil untuk dilakukan. Terlebih mereka hidup di dunia nyata bukan negri dongeng.

"Maafkan aku.. Tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa kau lakukan."

Bibirnya menyunggingkan senyum sendu, ia takut jika benar Gaara mengetahui identitasnya. Mereka tidak perlu bertemu karena kata-kata Gaara saja sudah membuatnya bahagia.


"Apa-apaan ini!?" Sasuke menggebrak keras meja kerja ayahnya dengan alis menukik tajam. Sang ayah pun tak kalah geramnya.

"Itu sudah perjanjiannya, Sasuke. Dan kau harus mematuhi perintah ayah."

"Mematuhi apanya? Seorang ayah yang bahkan baru kali ini melihat wajah anaknya dan tidak peduli bagaimana perasaannya harus dipatuhi, huh?" ujarnya, rahang Sasuke mengeras, dadanya benar-benar sesak.

"Fuck.."

Sebuah tamparan keras merambat di pipi kiri Sasuke hingga membuat pemuda raven itu menoleh dengan wajah terkejut. Pelan, tangannya memegang pipinya yang mulai merah dan terasa panas, matanya tidak berkedip dan menatap tidak percaya.

"Beraninya kau mengumpat dihadapanku.." telapak tangan sang ayah terangkat untuk yang kedua kalinya, ingin memberikan tamparan untuk yang kedua. Akan tetapi sang ibu yang semula berdiri di samping ayahnya segera berlari ke hadapan Sasuke. Mengerahkan dirinya untuk dijadikan tameng dan sang kakak menahan tangan sang ayah.

"Lepaskan Itachi, bocah keras kepala ini pantas diberi pelajaran." ayahnya, Uchiha Fugaku. Mendelik sangar pada Sasuke, yang walaupun demikian itu tidak membuat si raven takut.

"Justru karena dia masih bocah, kita tidak boleh terlalu keras padanya. Sebagai orang tua, seharusnya kau tahu itu." ujar Mikoto, seorang wanita yang sangat disayangi oleh Sasuke. Ia menatap nanar pada Fugaku yang sudah bernapas terengah-engah karena emosi yang meluap.

"Salah kita. Terutama karena kau tidak pernah pulang dan menyisihkan waktu untuk Sasuke. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu dan lebih memilih tidur di hotel bersama jalangmu dari pada rumah sendiri," air matanya menggenang, Mikoto terisak kecil dengan hati yang terasa sangat perih.

Mendengar itu, tangan kiri Fugaku terangkat. Wanita itu terlewat berani secara tidak langsung mengatainya bajingan. Lagi, ia hendak melayangkan tamparan, Mikoto menutup mata rapat. Sedangkan Itachi membelalak lebar. Ia tidak bisa menolong karena kedua tangannya memegangi lengan kanan ayahnya.

Keberuntungan untuk Mikoto. Dengan gerak cepat Sasuke, pemuda raven itu menangkap tangan ayahnya.

"Jangan pernah menyakiti ibuku, seujung jari saja kau coba maka kupatahkan tanganmu." geram Sasuke, ia memandang nyalang dengan mata yang mulai penas.

Mikoto kemudian memegang bahu Sasuke meremasnya lembut, "Tenang Sasuke, kau tidak boleh bicara kasar pada ayahmu sendiri, nak." ujarnya dengan nada lembut.

Sasuke menoleh menatap sendu pada ibunya, ia tidak mengerti bagaimana bisa wanita itu masih sempat membela pria bajingan di depannya padahal hatinya mungkin sudah hancur karenanya.

Si raven mengembuskan napas kasar. Ia berbalik dan keluar dari ruang kerja ayahnya tanpa sepatah kata pun. Mikoto memanggil namanya tapi Sasuke mengabaikan.

"Biarkan aku yang bicara padanya." Itachi memberi tatapan meminta pada orang tuanya. Ia sebenarnya sangat tidak suka dengan perlakuan ayahnya pada Sasuke barusan. Namun, apa yang bisa ia lakukan? Fugaku tetap ayahnya walau bajingan sekalipun.

Setelah putra sulungnya keluar, Fugaku memijat pangkal hidungnya. Ia mengakui bahwa ia bukanlah ayah yang bijaksana untuk Itachi dan Sasuke juga suami yang baik untuk Mikoto. Tapi sekarang ia berusaha mencoba, setidaknya sedikit.

Jemarinya meraih undangan pertunangan Sasuke dengan pewaris tunggal Haruno Corporation yang bekerja sama dengan Uchiha Corp.

Haruno Sakura.

Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Sekarang semua tergantung pada Sasuke.


Jiah.. Mungkin dari sini konfliknya mulai agak berat, jadi mulai mikir yang berat juga, so kemungkinan untuk update chap selanjutnya, gak bisa kilat... Gomene minna..dan juga Kay minta maaf karena chap ini ga sepanjang biasanya..#bow

Kay lup ya all..

See ya next chap..

Kachiaou!