CHAPTER SEVEN
Malam itu, dimana Sasuke terbangun karena rasa haus yang membakar kerongkongannya, membuatnya harus repot membuka mata dan berjalan ke dapur untuk mengambil air dingin di lemari es lalu meneguknya.
Jam menunjukkan pukul satu, dia teringat kembali tentang Itachi yang datang ke kamarnya dan mengajaknya bicara mengenai rencana ayahnya. Itachi mengatakan padanya bahwa 'itu' hanya sebuah ikatan untuk mempererat hubungan Uchiha dan Haruno Corp, bukan tanda berakhirnya dunia. Dan lagi calon tunangan Sasuke adalah wanita yang cantik.
Tetapi si raven tetap menolak, peduli setan dengan perusahaan dan pekerjaan ayahnya, Sasuke pun tidak ingin tahu tentang calon tunangannya yang dibilang secantik Paris Hilton sekalipun. Sekarang dia hanya ingin menikmati hidupnya, bersekolah, bersenang-senang dan... Menjahili Naruto. Demi apapun umurnya saja baru tujuh belas tahun dan perjodohan itu adalah hal terakhir yang akan Sasuke pikirkan dalam alokasi hidupnya.
Dia menghela napas, di dalam hatinya Sasuke bingung. Kenapa tidak Itachi saja yang dijodohkan dengan Sakura. Dia adalah sulung Uchiha yang akan mewarisi perusahaan ayahnya. Umur Itachi juga lebih pantas darinya. Shit! Sasuke mengumpat, dunia memang tidak adil.
Itachi berulang kali berubah posisi tidurnya dari terlentang hingga tengkurap dan terakhir menaikkan kakinya ke kepala ranjang. Sesekali ia akan terkekeh menatap ponsel di tangannya. Ia membuka sebuah situs dan mencari data tetang seorang Uzumaki Naruto.
Beberapa foto yang di lihatnya berhasil melebarkan senyum Itachi. Entah setan mana yang membuat hatinya begitu senang , sungguh ajaib, padahal tadi mood nya benar-benar down setelah membujuk Sasuke. Itachi merasa menjadi kakak yang tidak berguna karena tidak bisa mengendalikan adiknya sendiri. Sasuke itu sangatlah keras kepala. Ia hanya bisa berharap suatu saat nanti Sasuke merubah pikirannya.
Itachi kembali memandang layar ponsel, lebih tepatnya pada foto yang ditampilkan disana. Naruto tengah tersenyum lebar ke arah kamera dengan mata shappire yang bersinar. Foto selanjutnya memperlihatkan si pirang yang cemberut dengan pipi memerah ketika salah seorang temannya yang berpakaian junior school memakaikan headband berbentuk telinga kelinci di kepalanya. Terlihat sangat manis. Itachi nematapnya lekat dan mendapati pipinya menyebarkan rona merah tipis secepat kilat. Sontak ia membelalak dan melemparkan ponselnya sembarangan. Beruntung benda mahal itu tidak jatuh kelantai melainkan di atas kasurnya yang empuk.
Itachi tidak yakin dengan perasaanya. Dia memang suka menggoda Naruto, setiap kali menatap wajah pemuda yang bisa dikategorikan cantik itu, Itachi sedikitnya berdebar-debar. Ia ingin mencicipi bibir plum Naruto dan merasakan halusnya kulit si pirang. Mengecupi setiap inchi wajahnya... Oh man! Memikirkannya saja membuat 'sesuatu' yang berada dibawah sana berkedut tidak nyaman. God job! Itachi mengerang dan rasanya ingin menjambaki rambut author karena telah memberikan penggambaran dirinya yang terlalu Ooc dan terkesan mesum kuadrat, seperti seme yang sudah lama tidak diberi asupan nutrisi oleh ukenya. Jangan bilang jika dia mulai suka pada Naruto karena keseringan menjahili bocah itu.
Gaara berdiam diri di kamarnya duduk di kursi belajar seraya memutar-mutar pulpen di tangannya, terlihat tidak bersemangat. Pikirannya melayang entah kemana satunya-satunya yang menjadi objek lamunan Gaara adalah si pirang bermata se biru laut 'seine'. Bahkan sulitnya PR logaritma yang akan dikerjakan Gaara tidak sesulit memikirkan bagaimana caranya pangeran perpustakaannya mau menemuinya.
Siang tadi Gaara kembali ke perpustakaan dan berbicara pada sang pangeran perpustakaan -atau lebih tepatnya Naruto, dan mendapati dirinya kesal karena Naruto selalu mencari alasan tidak logis agar mereka tidak bisa bertemu. Sebenarnya Gaara bisa memergoki Naruto diam-diam. Tetapi tidak dia lakukan karena nantinya Naruto pasti takut dan menjauh darinya. Ia membuang napas dan menyender pada punggung kursi. Pemilik rambut semerah bata memejamkan kelopak mata. Gaara mencoba mencari akal agar Naruto mau menemuinya sebagai Naruto Uzumaki bukan pangeran perpustakaan atau budak.
"Mengumpulkan serpihan salju dan membuat tulisan keabadian...," Gaara kembali mengingat-ingat ucapan Naruto. Sejenak keningnya berkerut kemudian menoleh cepat keluar jendela kaca di sampingnya.
Salju mulai turun malam ini, dan serpihannya bergguran pada ranting pohon yang perlahan tapi pasti mulai memutih... Tunggu dulu!
Salju?
Serpihan?
Ah! Akhirnya, dengan bersabar sedikit Gaara bisa mengatasi masalahnya, ia tersenyum penuh arti. Tidak sabar menunggu malam ini berlali dan menjalankan rencana di hari esok.
Yeah, Gaara mendapatkan ide..
Untuk mengungkap..
Identitas pangeran perpustakaan!
Untuk pertama kalinya Naruto bangun lebih cepat dan Meyempatkan waktu untuk membantu orang tuanya menyiapkan resto. Meski orang tuanya sudah melarang Naruto dan menyuruh si pirang dirumah saja untu bersiap-siap pergi sekolah namun Naruto yang dasarnya memang keras kepala tetap menolong mereka dengan cengiran manisnya. Minato dan Kushina hanya bisa tersenyum pasrah.
Sudah menjadi kebiasaan bagi Naruto meng 'gowes' sepeda untuk pergi ke sekolah. Mengayuhnya dengan kecepatan sedang diantara pepohonan yang sudah tidak berdaun dan sebagian besar ditutupi oleh salju. Syal yang digunakannya melayang dihembus angin. Ini adalah musim dingin di bulan Desember dan tadi malam benda berwana putih lembut yang dinamakan dengan salju turun dengan indahnya. Naruto sangat senang ketika mengingat masa kecilnya yang dihabiskan dengan membuat Mr. Snowdoll setiap musim dingin di halaman rumah.
Sangat menyenangkan hingga Naruto tidak sadar jika sepeda yang dia kendarai mendekati trotoar dan membentur dindingnya. Si pirang merasakan tubuhnya oleng dan seketika rasa sakit menjalar ke lututnya. Sial! Pasti lututnya berdarah. Ia yang tidak ingin terlambat, mencoba berdiri dan menegakkan sepedanya dengan payah. Ketika matanya memandang ke bawah ia melihat rantai sepeda yang sudah putus, "Oh Tuhan.. Jangan lagi..," alisnya bertaut lemah dan bahunya mendadak turun.
Naruto menghela nafas, ini sudah resiko ia rela menempuh satu kilometer lagi dengan berjalan kaki. Lebih baik terlambat dari pada membolos, bukan?
Tidak lama Naruto berjalan, sebuah mobil mengejutkannya dengan bunyi klakson panjang. Rasanya Naruto ingin mengutuk si pengemudi -siapapun itu menjadi siluman ayam sebab membuat jantungnya hampir copot. Ia menoleh dan kaca mobil itu turun. Naruto memicing menatap seseorang yang dikenalnya sebagai pemuda congkak dengan gaya rambut aneh. Uchiha Sasuke.
"Masuk!"
Sesaat Naruto mengerjap bingung apakah Sasuke bicara padanya atau seseorang di belakangnya? Naruto berbalik dan tidak mendapati siapapun. Ia kembali melihat pada Sasuke sembari menunjuk dirinya dengan telunjuk seolah megatakan, "Me?" dan Sasuke terlihat memutar bola mata serta dengan ogah-ogahan mengangguk. Bagus! Apakah ini sebuah keberuntungan anak yang patuh pada orang tua? Ataukah kesialan karena orang yang memberinya tumpangan gratis adalah si brengsek Sasuke?
"Kau ingin berdiri di sana sampai beku atau masuk, Dobe?" Sasuke mulai jengah, sekali lagi ia memutar bola mata karena tingkah Naruto yang lamban sekali merespon. Ditambah suasana hatinya yang hari ini sedang tidak bersahabat, membuatnya berdecak samar.
"Mm..b-bagaimana dengan sepedaku?" Naruto terlihat ragu.
"Tinggalkan saja. Akan kuminta seseorang membawanya ke bengkel nanti."
Masih dalam keterkejutannya, Naruto membuka sedikit belah bibirnya yang cerry seperti minta dicium oleh seme manapun yang melihatnya. Apakah ini mimpi? Sejak kapan Sasuke berubah sebaik ini? Dan apakah yang membuat Sasuke begitu kind heart hingga mau mengirim sepedanya ke bengkel? Naruto curiga benar tidakkah pemuda yang sedang bicara dengannya adalah Sasuke bastard atau malaikat yang meminum ramuan perubah bentuk. Great, sepertinya Naruto berdelusi terlalu jauh. Ia dengan sedikit kepercayaan mengangguk kemudian membuka pintu belakang supercar Sasuke, tetapi berhenti ketika sang empunya mobil kembali berkata.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di belakang?" bungsu Uchiha menaikkan alisnya dan memberikan isyarat mata agar Naruto duduk di samping kursi kemudi.
Naruto tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia mengangguk seakan tahu maksud Sasuke. Ia dengan kikuk membuka pintu mobil dan duduk di samping pemuda raven sembari memasang seatbelt. Sedangkan Sasuke memperhatikannya dalam diam. Mendapati Naruto sudah siap, kemudian Sasuke menekan pedal gas dan mobilnya melaju ringan di jalan aspal yang sedikit di tutupi salju. Ia tidak membuka suara atau menanyakan kabar Naruto sama sekali, tentu saja itu tidak perlu karena si pirang tampak baik-baik saja. Sementara itu Naruto dilingkupi perasaan canggung. Entah bagaimana caranya ia berterima kasih pada Sasuke, lidahnya terasa kelu untuk bicara.
Tidak sampai lima menit sang Uchiha mengemudikan supercarnya, ia sudah menepi ke pinggir jalan, untung saja daerah ini sepi karena jika ramai akan terjadi kemacetan mendadak akibat ulah si bungsu Uchiha ini. Naruto yang semula menatap keluar jendela yang berembun mengalihkan perhatiannya pada Sasuke dan memandang pemuda pemilik mata onyx bingung. Kenapa Sasuke menghentikan mobilnya? Bukankah jika seperti mereka akan terlambat? Berbeda dengan Sasuke yang hanya memasang ekspresi datar. Dia malah melepas sabuk pengamannya merebahkan di ke arah Naruto, menjadikan paha Naruto sebagai bantal.
Kontan perlakuan Sasuke membuat si pirang kaget bukan main, bola mata Naruto terlihat ingin keluar saking lebarnya ia membelalak. "Mm.. S-s-sasu-" Naruto menggigit bibir dan menggerakkan pahanya tidak nyaman. Sasuke berdecak karena merasa terganggu.
"Biarkan seperti ini. Kau budakku Dobe, jadi aku bisa melakukan apapun yang ku mau padamu," ujar Sasuke, memotong ucapan Naruto. Ia tidak suka jika Naruto selalu protes padanya. Bukan maunya juga sebenarnya, hanya saja kepalanya terasa pusing dan sandaran sofa supercarnya tidak terlalu nyaman oleh karena itu ia memilih paha Naruto. Membuang rasa tinggi hatinya di depan pemuda pirang dengan tidur berbantalkan paha budaknya sendiri. Bagi homopobic hal seperti ini pasti sangat menjijikan tapi nyatanya Sasuke nyaman-nyaman saja. Tapi ingat, ini hanya berlaku untuk Naruto. Jika pria lain pasti Sasuke sudah masuk rumah sakit dan menginap disana selama tujuh hari karena pingsan dengan mulut berbusa. Homopobicnya akan kumat.
Naruto menggerakkan bola matanya liar, sesekali mengulum bibirnya karena gelenyar aneh yang tanpa tahu diri menggerogoti dadanya, jantungnya memompa lebih cepat daripada biasanya. Ingin rasanya Naruto berteriak, "menyingkir dari pahaku!" tetapi semua kata tersangkut di tenggorokannya. Mulut Naruto kaku untuk bicara, "T-tapi kemarin kau bilang, hari ini aku menjadi budak Gaara-"
"Tsk, tidak bisakah kau tidak membahas Gaara jika sedang bersamaku? Hm?" erang Sasuke, ia menggerakkan pipinya seperti anak kucing mencari kenyamanan seraya memejamkan mata. Tidak disangka paha si Dobe lebih empuk dari paha gadis manapun yang pernah bersamanya. Dengan tidak tahu malunya, Sasuke menggerakkan tangannya untuk meremat paha Naruto hingga si empunya memekik kaget. Naruto hanya bisa pasrah dengan tingkah Sasuke, mau dilarang bagaimanapun dia tidak menggubrisnya.
Terlepas dari rasa kesalnya, sikap aneh Sasuke hari ini membuat Naruto penasaran. Bertanya sendiri di dalam hati tentang masalah apa yang dihadapi oleh Sasuke hingga membuatnya bersikap tidak biasa. Naruto mengerutkan alis saat mendengar dengkuran halus dari bawahnya. Sasuke tidur. Naruto terperangah dan berpikir mungkin Sasuke tidak tidur semalaman hingga mengantuk di siang hari.
"Naruto, gara-gara kau penguin madagascar-ku kabur dari kebun binatang..dan gara-gara kau juga mc. Queen-ku tidak bisa balapan di california.. "
Ajaib! Seorang Uchiha yang cool seperti Sasuke bisa mengigau sangat-tidak-jelas dalam tidurnya. Mata shappire Naruto memandang wajah Sasuke, rahang tegasnya dan pipi yang seputih porselen sedikit merah. Naruto menempelkan telapak tangannya di kening Sasuke -refleks dari rasa ingin tahunya, dan merasakan panas yang membakar kulit disana. Sekarang Naruto sadar. Pantas saja pemuda Uchiha ini bersikap absurd, si bungsu sakit dan panasnya sangat tinggi.
"Dahimu panas Teme, apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit?" meski ia membenci sasuke karena pemuda Uchiha senang sekali membuatnya kepayahan, tetapi Naruto tidak bisa menyembunyikan kecemasan diwajahnya. Ia menarik kembali tangannya dari dahi Sasuke dan Sasuke menahan tangannya agar tetap berada di dahinya. "Tidak perlu. Dibiarkan nanti juga sembuh sendiri-"
"Tapi kau sakit Teme! Ak-"
"Diam Naruto, aku hanya butuh pahamu 15 menit dan setelah itu berteriaklah sekeras yang kau mau." ia membuka mata sayu, suara baritone Sasuke yang berubah tegas berhasil membungkam Naruto. Ia mengunci rapat mulutnya dan memandang Sasuke dengan alis menukik tajam. Naruto tidak ta hu apakah ini perasaanya saja atau memang benar ada kekalutan yang tersirat dimata Sasuke ketika Naruto menatapnya intens? Adakah sesuatu yang disembunyikan si raven?
"B-baiklah, a-aku akan diam. Tapi..bisakah kau melepaskan tanganku?" ujar Naruto dengan pipi merona, tidak bisa dipungkiri bahwa ini juga membuatnya malu.
Sasuke kembali berdecak, Naruto memang tidak bisa diajak kompromi, sedikit banyak itu membuatnya jengah. Tetapi Sasuke tidak menuruti permintaan Naruto, ia malah semakin mengeratkan genggamannya. Sasuke terlalu lelah untuk berdebat, kali ini lebih baik dia mengalah dan memerintah sedikit lembut pada Naruto.
"Kumohon Naruto, jangan bicara lagi dan biarkan dia tetap di dahiku. Tanganmu dingin, aku membutuhkannya," rasanya Sasuke ingin membenturkan kepalanya ke tiang listrik terdekat karena memohon bukanlah hal yang patut diucapkan seorang Uchiha, apalagi Sasuke yang angkuhnya melebihi tinggi tiang bendera yang ada di istana negara. Tapi apa boleh jadi, toh, ini untuk kebaikannya juga dan tidak seorangpun yang mendengarnya selain Naruto. Jadi tidak masalah.
Naruto membuka tutup mulutnya seperti ikan yang terlempar ke daratan. Tidak di kira sang bungsu Uchiha akan memohon selunak itu padanya walau masih terselip -sedikit- nada bossy disana. Ia kehilangan bahasa untuk menjawab ucapkan Sasuke. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna ujaran itu hingga akhirnya kepala pirang mengangguk patuh. Naruto nyaris berlari ke klinik paling dekat untuk memeriksa mata sesaat setelah melihat senyum tipis Sasuke. Ia tidak yakin si raven baik seratus persen.
Jam kecil di dashboard menunjukkan pukul 07.55 yang artinya lima menit lagi bel masuk akan dibunyikan dan gerbang sekolah akan ditutup. Naruto menghela nafas sembari menunggu tidur Sasuke yang kelihatannya nyenyak sekali. Naruto memperhatikannya, jika sedang tidur wajah Sasuke terlihat polos. Ia terkikik pelan. Jika difoto pasti ini akan menjadi kabar yang menggemparkan seluruh murid Konoha. Tapi Naruto tidak berniat sama sekali, jika hal tersebut ia lakukan maka juga berdampak buruk baginya. Tahu sendiri jika Sasuke marah bagaimana, kejamnya bahkan mengalahkan seekor monster Godzilla.
Diam menyelimuti hingga membuat Naruto menguap karena bosan menunggu. Ia ikut mengantuk, tergoda dengan kenyaman interior mobil Sasuke. Ia mengabaikan rasa pegal dipaha dan perih di lututnya yang bergesekan dengan celana. Matanya mulai terpejam. Suhu di dalam mobil berbanding terbalik dengan suhu diluar sana yang sedingin kutub dan bisa membuat siapapun membeku jika tidak memakai alat penghangat tubuh.
Naruto merasa nyaman begitu juga dengan Sasuke yang sudah melayang ke alam mimpi lebih dahulu. Udara dingin semakin merasuki tulang punggung dan salju turun bertambah rapat. Kaca mobil mengabut karena embun dan keadaan sekitar mulai memutih. Sasuke dan Naruto tidur dengan dengkur halus seperti bayi kucing.
Bagi yang siapapun yang tengah membaca maafkan kay dan tolong jangan skip ini.. Karena ini sangat penting..
A/N : Don't kill me...Kay minta maaf karena udah hibernasi sebulan dan menelantarkan fic ini..dan..dan..
Kay sedih karena beberapa dari author Sasunaru yang daebak diluar sana menghapus ficnya. Please kasih tahu alasan kalian kenapa ngelakuin hal yang nyesek kayak gitu... Seenggaknya jika kalian emang ingin pergi, tolong... tinggalkan sedikit jejak..
Jangan membunuh semuanya tanpa sisa...
Kay yakin kalian pasti sulit berpikir berhari2 untuk menentukan keputusan berat itu.. segala masa lalu yang kalian lalui bersama OTP ini pasti sulit untuk dilupakan.
Sebagian besar para author mungkin sudah dewasa dan berkeluarga. Tapi bagi kami yang bocah dan masih terlalu bodoh untuk menetukan pilihan, yang tetap bertahan 'disini' sangat sulit untuk menjauh dari Sasunaru..
Kay pernah mencoba untuk menjauh dari OTP kita ini, dan mencari OTP lain sebagai pelarian dan bahkan mencoba menyukai pair straight tapi hal semacam itu malah semakin menggores luka sebelumnya... Perih.. Ya know, semakin jauh kay dari sasunaru semakin banyak godaan untuk dekat kembali, yeah mungkin dasarnya kay sendiri yang gak tahan godaan.. kay ngerasain kalau mereka (Sasunaru) hidup dan tumbuh bersama kay. Minna boleh bilang jika kay ini bocah gila yang obsesif tapi sumpah! Kay memang merasakan kalau sasunaru udah jadi keluarga dan bagian terpenting dari hidup sejak dua tahun terakhir.
Intinya sekarang kay pengen bilang, "Terkadang masa lalu memang pantas untuk dilupakan tapi tanpa adanya masa lalu masa sekarang yang sedang kau lalui dan masa depan yang akan kau hadapi tidak akan pernah ada!"
Kalian mungkin bisa melupakan Sasunaru, tapi kalian akan sadar cepat atau lambat suatu hari nanti kalian akan ingat kembali jika sasunaru adalah something yang sangat berharga dan menjadi part of important dalam hidup kalian.. Jika bisa, dewasa nanti kay ingin membuat mesin waktu dan kembali ke tahun 2007 dimana masih ada keluarga yang hangat dan sasunaru bersemarak. Hmmm.. Impian yang sungguh mustahil eh? Haaahh..
And hell yeah.. Pada akhirnya tergantung keputusan minna masing-masing sih.. Disini kay gak berniat memprovokasi pihak manapun.. Toh gak ada juga untungnya..setiap orang berhak menetukan pilihannya. Dan...
Lewat rangkaian kata yang sangat jelek ini karena dasarnya kay yang bodoh gak bisa merangkai kata-kata indah, sedikitnya kay lega udah bisa menggambarkan apa yang kay rasakan..
Kay gak sanggup lagi ngetik karena air mata udah menggenang dan ingus udah meler kayak gini.. Jadi see ya next chap, minna. (Maaf kalo terlalu panjang.. )
Naruto tidak pernah lebih senang dari ini bahkan ketika dia diberikan permen kapas dan semangkok ramen ukuran jumbo rasa rendang. Yatta! Ia terbebas dari omelan dan detensi para sensei-nya walaupun sudah terlambat hampir setengah jam. Tadi ketika ia sampai di gerbang, sang penjaga sekolah membukakan gerbang lebar-lebar untuknya. Ia merasa beruntung karena hari ini bertemu Sasuke dan err..menyewakan paha untuknya (walau tidak dibayar).
Tapi bagaimanapun juga, si pirang tidak bisa menutupi perasaan aneh dan khawatir mendapati sikap Sasuke yang begitu berbeda. Demi apapun, Naruto lebih menyukai Sasuke yang brengsek berkali-kali lipat dari pada Sasuke yang ditemuinya pagi tadi. Pemuda raven itu terlihat seperti memikul beban yang beratnya berton-ton di punggung. Naruto tahu itu hanya dari pandangan. Terlebih dari itu mata obsidian Sasuke tampak kosong dan kehilangan cahaya. Senyum Sasuke yang biasanya adalah seringai iblis sekarang menjadi lengkungan kebawah. Tidak terlihat adanya raut senang di wajah Sasuke walaupun ia sedang bersama Naruto dan bisa menjahilinya sesuka hatinya. Naruto merasa gelisah sampai ia berpikir jika ia terlalu berlebihan memikirkan Sasuke. untuk apa dirinya mencemaskan Si brengsek sejauh itu? sedangkan dia saja belum tentu dipikirkan orang yang bersangkutan.
yap! tidak perlu memikirkan Sasuke. Si Teme pasti hanya kelelahan biasa dan -agh!
"Kenapa dia tidak mau minggat dari kepala ku?" salahkan author idiot ini yang tidak bisa membuat hidup Naruto tenang sehari saja, ingatkan Naruto untuk memberinya timpukan ramen kadaluarsa dan tomat busuk nanti.
Satu helaan napas ditarik. Naruto mengusap dada untuk menahan gelenyar aneh di dalam dirinya. Dan saat kakinya melangkah, seseorang menarik lengan Naruto. Menyeretnya ke suatu tempat. Si pirang kaget saat menyadari siapa yang menarik pergelangan tangannya. Adalah seorang pemuda yang membuat Naruto luluh. Seseorang yang diam-diam dikagumi Naruto sejak pertemuan pertama. Pemuda berambut merah dengan iris jade.
"G-Gaara! Kau mau membawaku kemana?"
Yang ditanya tidak menjawab, malah menoleh pada Naruto dan menyunggingkan senyum miring. Gaara itu sangat keren di mata Naruto hingga membuatnya merona seperti sekarang. Sumpah, jika si pirang ini wanita pasti ia sudah merah padam dan memekik kegirangan. Dan please.. tidak adakah ide lain untuk mendeskripsikan reaksi Naruto selain membandingkannya dengan para gadis?
TBC
