Fuh, balik lagi deh. Maaf telat (bangeeet) untuk update fic ini. Padahal niatnya mau diupdate cepet, tapi ternyata gak bisa hhh (-,-)a Dan lagi sekarang aku sedang terserang penyakit parah bernama 'males ngetik di depan komputer kelamaan' *penyakit apaan tuh? -plaaak*
Yah, pokoknya gara-gara penyakit berbahaya yang aku yakin sewaktu-waktu pasti bisa saja menyerang author lain ini, *sotoy -bhuuug* aku jadi males begadang di depan komputer. Sehingga isi liburanku yang biasanya diisi dengan mengetik di depan komputer yang bisa saja seharian penuh, kini hanya tidur, tidur, dan tidur *dasar kebo! –dilempar ke sawah*
Yup, selesai dulu curcolnya (?) silahkan membacaaa~!
Disclaimer : Always Masashi Kishimoto..
Warning : OOC, OC, AU (lemon in the next chap)
Genre : Romance/Friendship
Pairing : SasuSaku, SasoSaku
Don't like? Don't be a fool flamer, just get outta here!
CHOOSE ME!
CHAPTER 2 : MARRIED
"Apa? Apa-apaan? Apa maksud kaasan sih!?" tanya seorang gadis berambut pink dengan cepat sambil mengguncang tubuh seorang wanita berambut pink tua sepunggung di depannya. Wanita itu seperti berusaha menahan tubuhnya yang tak bisa berhenti berguncang.
"Sa.. Sakura, tenanglah dulu.." gumam wanita berambut pink tua itu. Tapi gadis muda bernama Sakura Haruno itu tidak mau berhenti, dia masih menatap wanita di depannya yang tak lain adalah ibunya sendiri.
"Mana bisa tenang setelah mendengar kabar harus menikah dengan dua laki-laki!?" geram Sakura, lalu dia menunjuk pada kedua laki-laki di belakangnya, "APA LAGI DUA LAKI-LAKI ITU MEREKAAA!?" teriak Sakura frustasi akhirnya. Sedangkan kedua laki-laki yang ditunjuknya langsung mendelik pada gadis di depan mereka itu.
"Kau pikir aku mau!?" gumam kedua laki-laki itu bersamaan. Sakura menoleh dan memberi death glare mematikan. Lalu wanita yang bernama Reiya Haruno itu akhirnya berhasil melepaskan diri dari rangkulan anaknya.
"Aku bilang, Sakura kau harus tenang dulu," gumam Reiya sambil menatap kedua mata emerald anaknya dalam-dalam. Sakura akhirnya tenang kembali setelah diajak ibunya itu menarik nafas panjang.
"Sakura, kita bicara di dalam saja. Permisi sebentar.." gumam Reiya sambil menarik Sakura ke dalam kamar setelah menunduk sedikit pada kedua orang tua yang lain.
Di dalam kamar..
Reiya segera mengunci kamarnya. Lalu dia segera berbalik pada Sakura dan memegang kedua bahu gadis itu erat-erat.
"Kaasan?"
"Maafkan aku Sakura, kaasan benar-benar minta maaf," gumam Reiya sambil memeluk gadis berambut pink cerah itu. Tentu saja Sakura dibuat bingung olehnya. Setelah itu Sakura merasakan bahunya sedikit basah, pertanda ibunya sedang menangis menumpahkan air mata.
"Kaasan? Kaasan kenapa?"
"Kaasan punya hutang," gumam Reiya tiba-tiba.
"Eh?"
"Bukan cuma itu, tousan.. tousan juga punya hutang..." gumam Reiya. Sakura terbelalak kaget, dan lagi ibunya yang masih memeluknya kini bergetar hebat.
"Kaasan dan tousan tidak pernah menyangka sebelumnya, kami saling menumpuk hutang tanpa mengetahui satu sama lain. Tousanmu meminjam uang dari ayah Sasuke, begitu pula aku yang meminjam uang pada ayah Sasori," keluh Reiya, dia memeluk Sakura semakin kencang.
"Tapi, lalu kenapa kaasan-"
"Pada akhirnya kami berdua jatuh bersamaan," potong Reiya, "Aku dan Kaito sama-sama tidak bisa membayar hutang kami, tidak ada pilihan lain selain membuat perjanjian..." jelas Reiya. Sakura terdiam.
"Aku dan ayah Sasori membuat perjanjian untuk menjodohkan kamu dengan Sasori, maka dia akan menganggap hutang itu tidak ada. Tapi aku tidak pernah tahu, kalau Kaito juga membuat perjanjian dengan ayah Sasuke, untuk menjodohkanmu dengan Sasuke," lanjut wanita yang sudah berumur itu. Sakura tersentak.
"Jadi.. maksud kaasan.. kaasan tidak tahu kalau aku akan dijodohkan dengan Sasuke? Kaasan hanya tahu aku dijodohkan dengan Sasori?" tanya Sakura. Reiya mengangguk pelan sambil mengangkat kepalanya dari bahu Sakura. Terlihat air matanya mengalir deras di pipinya.
"Jadi tousan juga begitu? Tousan hanya tahu aku akan dijodohkan dengan Sasuke, tapi tidak dengan Sasori?" tanya Sakura lagi. Reiya hanya mengangguk lagi.
"La.. Lalu sekarang bagaimana? Aku.. Aku benar-benar harus menikah dengan dua laki-laki itu?" tanya Sakura tegang.
"Itu.. terserah padamu, kalau kau tidak mau tidak apa. Tapi setidaknya pilih salah satu untuk meringankan beban kaasan dan tousan, ya?" pinta Reiya dengan nada memohon. Sakura menelan ludah melihat tatapan ibunya yang snagat berharap padanya, juga teringat kata-kata Sasori sebelumnya...
"Nggak mungkin..!! Cepat atau lambat kau pasti di suruh memilih, karena nggak mungkin kalau kamu punya dua suami kan? Apalagi ini hasil dari perjodohan. Aku yakin orang tuamu pasti akan menuntutmu untuk memilih, kalau dia sangat ingin kau menikah sekarang,"
"Tapi.. kenapa sekarang sih?" gumam Sakura pada dirinya sendiri. Dia memainkan jarinya nampak berpikir keras. Sesekali melirik wajah ibunya. Hanya ada dua pilihan...
Pertama, memilih salah satu dari mereka. Tapi itu bisa saja membuat hubungan pertemanan salah satu orang tuanya terputus. Dan beban tidak akan berkurang, karena harus tetap membayar hutang.
Kedua, menikah dengan keduanya. Tapi.. yang benar saja? Itu artinya dia harus melayani dua laki-laki sekaligus kan? Uh, mati aja deh! Tapi dengan begitu, beban kedua orang tuanya akan berkurang.
Jadi? Pilih kebahagiaan semua atau kebahagiaan sendiri?
Sakura melipat tangannya dan menghela nafas panjang. Dia melakukannya berkali-kali, sampai kepalanya terasa sedikit lega. Lalu Sakura sedikit memijat kepalanya perlahan. Lalu dia duduk di tepi kasurnya dan melipat kakinya. Reiya menatapnya penuh harap, mengharapkan jawaban yang memuaskan dan terbaik untuk anaknya. Setelah itu Sakura menarik nafas..
"Hhh, baiklah.. aku akan menikah dengan Sasori dan Sasuke," keluh Sakura sambil memegang kepalanya. Reiya tersenyum lebar, memang sejujurnya itulah jawaban yang diinginkannya. Biar begitu, dia tetap memikirkan Sakura...
"Be.. Benarkah? Tapi Sakura.."
"Tak apa, toh yang penting beban keluarga kita berkurang kan? Bagiku itu lebih dari segalanya, aku egois kalau hanya memikirkan nasib diriku sendiri kaasan," jelas Sakura sambil tersenyum pahit. Reiya tersenyum dan dengan bangga memeluk anak gadis semata wayangnya itu.
"Arigato Sakura, arigato... arigaito gozaimasu.." gumam Reiya di tengah isakannya. Sakura membalas pelukan kaasannya itu, dia tersenyum sedih.
"Maafkan kaasan yang sudah seenaknya ini. Sakura, kaasan pasti akan melakukan sesuatu," gumam Reiya. Sakura menggeleng.
"Tidak perlu repot, ngg kaasan bagaimana kalau kita keluar? Sepertinya mereka semua sudah capek menunggu," jelas Sakura. Reiya mengangguk lalu segera mengambil sapu tangan miliknya dan mengusapkannya pada air matanya.
Sakura tersenyum dan membantu kaasannya itu membersihkan air mata sampai mengering. Setelah mulai mengering, Sakura mencium pipi kaasannya itu. Mereka berpelukan sekali lagi sebelum akhirnya mereka membuka pintu kamar. Di luar terlihat laki-laki muda berwajah baby face dan berambut merah juga laki-laki berambut biru donker seperti pantat ayam menoleh melihat ke arah mereka. Sakura tersenyum pada tousannya dan kedua orang tuanya yang lain. Lalu...
"Kami sudah siap..."
Di hari pernikahan...
Terlihat sebuah gedung besar yang kelihatan sangat mewah dan tinggi besar menjulang. Di tempat itulah pasangan baru akan mulai menikah, menerima sebutan baru sebagai suami dan istri. Di salah satu kamar, yang tak lain adalah kamar pengantin wanita. Di sanalah seorang gadis cantik berambut pink sedang didandani dengan detil, sehingga terlihat jelas sudah wajah cantik miliknya. Gadis bernama Sakura itu terdiam menatap dirinya sendiri di pantulan kaca depannya. Dia mendesahkan nafasnya pelan, dan mencoba tersenyum.
"Kau cantik sekali," puji salah satu perias dirinya sambil tersenyum. Sakura menatap bola mata hitam itu sesaat dan tersenyum membalasnya.
"Terima kasih," jawab Sakura. Lalu dia berdiri dari tempat duduknya. Berputar untuk melihat gaun pengantin putih yang dipakainya.
"Err, tidak aneh kan? Aku tidak biasa memakai gaun seperti ini," tanya Sakura. Perias berambut hitam pendek itu tertawa.
"Aneh? Tentu saja tidak! Kau semakin bertambah cantik, Shizune ini jamin," gumam perias yang tak lain bernama Shizune itu dengan yakin. Sakura tersipu malu, wajahnya memerah.
"Oh ya, bagaimana kalau sekarang keluar dulu? Pasti para pengantin prianya sangat suka melihat anda," gumam Shizune sambil tersenyum polos.
Sakura mendengus pelan mendengar kata 'para pengantin pria'. Padahal kalau pengantin normal itu, biasanya paling ngomong 'pengantin pria' kan? Tahu sebabnya kenapa bisa begitu? Oh, tentu saja karena pengantin prianya bukan 'seorang' tapi, 'dua orang'. Bangga? Entahlah, itu membingungkan. Karena jujur saja Sakura belum pernah merasakan apa itu namanya cinta.
Sakura membuka pintu ruangannya dan tertegun melihat dua laki-laki yang sedang bersandar di tembok samping pintunya. Sakura menelan ludah melihat Sasori dan Sasuke yang sudah memakai jas hitam untuk pengantin pria. Begitu pula dua laki-laki itu, mereka nampak tertegun dan melihat Sakura dari bawah ke atas bersamaan. Tentu saja Sakura blushing dilihat seperti itu.
"A.. Apa sih lihat-lihat?" ketus Sakura sambil membuang muka. Sasuke mendengus dan ikut membuang muka. Sedangkan Sasori mengangkat sebelah alisnya.
"Dasar ge er, emang kau kira aku berpikir apa?" tanya Sasori sambil menyeringai. Sakura mengangkat sebelah alisnya.
"Aku berpikir, 'kayaknya cewek ini boleh juga, biasanya tipe seperti ini lumayan ganas di ranjang' begituuu," jawab Sasori polos sambil tertawa puas. Spontan Sakura membelalakkan matanya, sedangkan Sasuke langsung menutup err.. hidungnya?
"Ku.. Kurang ajar kau!! Kau pikir aku mau apa sama kamu? Hiaaaa," geram Sakura, dia berusaha menagngkat gaunnya dan menendang Sasori. Tapi dengan mudah Sasori menghindar dan tertawa meremehkan.
"Hahahaa, perlawananmu cuma segitu? Kalau begini sih, kami bisa mengalahkanmu dengan mudah. Jangan pernah melupakan hukum alam bahwa cowok lebih kuat dari cewek yaa," jelas Sasori dengan sombongnya, lalu dia menyikut lengan Sasuke, "Hoi, iya kan Sasuke?" tanya Sasori.
"A.. Apa?" tanya Sasuke balik, tangannya masih menutup hidungnya. Sasori dan Sakura menatapnya heran.
"Kenapa kau?" tanya Sasori. Sasuke menggeleng cepat tanpa melepaskan tangannya.
"Aku.. tidak apa-apa, aku mau ke kamar mandi dulu," gumam Sasuke, tapi tangannya dipegang Sasori. Dengan paksa, Sasori membuka tangan Sasuke hingga terlihat jelas hidung Sasuke yang mengeluarkan darah mengalir.
"Sa.. Sasuke? Kau mimisan? Kenapa?" tanya Sakura sambil mendekati Sasuke dan memegang pipi laki-laki itu. Sasori terkikik menahan tawa.
"He.. hehe, jangan-jangan kau mimisan karena membayangkan Sakura di atas ranjang ya?" tuduh Sasori. Sasuke tersentak, dan darahnya kembali mengalir hingga dia memalingkan muka. Sedangkan Sakura sweatdrop melihat dua laki-laki di depannya.
"Kalian.. benar-benar berbahaya..." gumam Sakura dengan penekanan di setiap katanya. Dalam sekejap, tubuhnya merinding seketika. Lalu...
"Dengan ini, pernikahan akan dimulai..."
"Eh? Hei? Acaranya sudah mau di mulai," gumam Sasori agak panik mendengar suara mic dari tengah ruangan. Sakura mengangguk dan mengeluarkan sapu tangan putih miliknya dan memberikannya pada Sasuke.
"Ini.. cepat seka darahmu dengan ini," gumam Sakura. Kemudian setelah Sasuke menerima sapu tangan miliknya, Sakura segera berlari menyusul Sasori yang sudah berlari di depan. Sasuke terdiam melihat sapu tangan putih di tangannya, kemudian menatap punggung Sakura yang semakin menjauh.
Entah apa yang dipikirkannya...
Lama sudah perkawinan itu berlangsung. Sakura merasa tegang setengah mati melihat pandangan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana tidak? Siapa sih orang yang gak heran melihat pernikahan seorang pengantin wanita yang diapit dua pengantin pria di kanan kirinya? Sesekali Sakura merasa wajahnya pucat pasi, merasakan pandangan menusuk itu. Bahkan walaupun ruangan diberi AC, rasanya tetap terasa panas dan Sakura pun mengeluarkan keringat di pelipisnya. Belum lagi, Ino yang langsung datang menghampirinya dan berteriak-teriak histeris hingga semua pandangan tertuju padanya.
"JIDAT LEBAR!! KAU INI KAWIN GAK BILANG-BILANG YAAA!? DASAR!!" teriak Ino sambil berkali-kali mencubit pipi Sakura dan menyuntrung jidat lebar gadis pink itu. Membuat Sasuke dan Sasori tertegun bingung melihatnya.
"I.. Ino, hentikan! Sakit tahu!" gumam Sakura sambil memegang kedua tangan Ino. Sedangkan gadis berambut pirang itu tertawa cengengesan.
"Aduh aduh, maaf deh. Ehehe, gak nyangka teman sederhanaku ini menjadi istri dua cowok pentolan di sekolah kita hihihi," cibir Ino sambil tertawa geli, dan berhenti seketika setelah Sakura menginjak kakinya dengan high heels yang dipakainya.
"AAAWW!! Sakit tahu, dasar jidat lebar!!" teriak Ino. Sakura menghela nafas berkali-kali melihat sahabatnya yang satu ini.
"Makanya, diam Ino gendut! Jangan kira kau pikir aku senang harus menikah dengan dua laki-laki ya!!" bantah Sakura. Ino tertawa kecil dan mengangguk.
"Oke oke, terserah deh hehe. Pokoknya aku ucapin selamat sekaligus hati-hati ya, soalnya kamu bakal melayani dua laki-laki wahahaha," tawa Ino sumringah. Sakura mendengus kesal melihatnya.
Beberapa saat kemudian Ino pun pulang. Pernikahan yang terasa singkat ini sudah selesai, para tamu satu persatu mulai pulang ke tempat masing-masing. Sakura, Sasori, dan Sasuke segera masuk ke kamar mereka. Sakura duduk di tepi ranjang, Sasuke menyandar pada tembok di sebelah pintunya, Sasori tidur-tiduran di kasurnya. Mereka menghela nafas panjang bersamaan.
"Huaaah, ternyata rasanya kawin itu begini ya?" tanya Sasori entah pada siapa sambil menguap lebar. Sasuke mendengus mendengarnya.
"Norak," gumam Sasuke singkat, padat, dan jelas. Membuat Sasori mendelik padanya.
"Kau..! Akh, sudahlah! Aku sedang tidak mau berurusan denganmu!" gumam Sasori yang sempat bangkit lalu kembali tiduran. Sakura menggelengkan kepala melihatnya.
"Kalian, tidak bisa akur ya?" tanya Sakura yang terdengar kewalahan.
"HAH!? Akur? Sama dia? Mati aja!!" teriak mereka bersamaan. Sakura mendesah pelan, lalu mulai tidur di kasurnya.
"Ngg, bisakah kalian keluar? Aku mau tidur, capek sekali rasanya," pinta Sakura, perlahan tapi pasti matanya mengedip-ngedip tanda sebentar lagi akan tenggelam dalam mimpi. Tapi sebelum Sakura sempat tertidur lelap, dia tertegun melihat Sasori dan Sasuke. Sasori sudah tertidur duluan di sampingnya, dengan mulut terbuka. Sedangkan Sasuke juga tidur, hanya saja dia di bawah dengan posisi duduk selonjor dan menyandar pada tembok belakangnya. Semuanya kelelahan.
Sakura mendengus pelan, tapi dia tidak ambil pusing. Dia sudah sangat lelah, akhirnya perlahan tapi pasti dia pun ikut tertidur.
Tiga hari kemudian...
"Nah, sekarang inilah apartemen sementara kalian tinggal," gumam Kaito pada tiga muda mudi di belakangnya. Sekarang mereka berada di sebuah apartemen tingkat atas di Konoha. Sasori dan Sasuke tampak memutar bola mata bosan, sedangkan Sakura terkagum-kagum melihatnya.
"Woow, luasnyaaaa!" gumam Sakura terkagum dengan polos. Sasuke mendengus kecil dan menyeringai.
"Ternyata kalian berdua sama noraknya," ketus Sasuke. Sasori memberinya hadiah death glare.
"Sekarang masuklah, oh ya aku ada perlu. Jadi, sekarang aku pergi dulu ya," gumam Kaito dan segera berlalu.
Pintu apartemen ditutup oleh Sasuke. Sedangkan Sasori duduk di sofa dan Sakura masih asyik melihat-lihat sekelilingnya. Sakura berhenti, ketika menyadari di apartemen itu hanya ada dua kamar. Sakura terlihat berpikir, tak lama kemudian sepertinya dia menyerah. Dia memutuskan untuk bergabung ke ruang tengah bersama Sasuke dan Sasori yang mulai menonton Tv.
"Hei, kalian sudah tahu? Kamarnya hanya ada dua lho," gumam Sakura memulai pembicaraan sambil meminum jusnya.
"Lalu kenapa?" tanya Sasori yang mulai menanggapi Sakura, sedangkan Sasuke memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik saja.
"Kita tidurnya gimana dong? Apa kalian tidur berdua, terus aku tidur sendiri?" tanya Sakura polos. Seketika Sasuke dan Sasori terbelalak.
"TIDAK!!" teriak mereka bersamaan. "Kau gila!? Mana mungkin kami tidur bersama!? Hei, kami ini cowok tahu!! Nggak normal kalau cowok dewasa tidur bersama!!" jelas Sasori tegas. Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Lha terus? Aku tidur di sofa gitu?" tanya Sakura lagi.
"Jangan! Kalau ketahuan kau tidur di sofa sedangkan kami tidur di kamar masing-masing, kami bakal habis dibunuh oleh orang tua kami, bahkan mungkin orang tuamu!" jawab Sasuke cepat. Sakura mengangguk mengerti. Dan beberapa saat kemudian, mereka terdiam.
"Lagipula kau kan bisa tidur di kamar, dengan salah satu dari kami," gumam Sasuke enteng. Seketika juga wajah Sakura langsung memerah.
"Hah? Maksudmu? Aku harus tidur dengan salah satu dari kalian?" tanya Sakura tegang. Sasuke dan Sasori mengangguk enteng.
"Oh ya, biar adil! Gimana kalau setiap hari kau pindah tempat? Jadi, misalnya hari ini kau tidur dengan Sasuke, maka besok kau tidur denganku," usul Sasori dengan wajah santai. Sakura sweatdrop melihatnya.
"Ka.. Kalau cuma tidur bareng sih, aku nggak apa. Tapi.. nggak ngapa-ngapain kan?" tanya Sakura sambil tersenyum canggung. Sasuke mengangkat bahu.
"Itu tergantung. Jidat lebar, kau tidak tahu ya bagaimana cowok sebenarnya?" tanya Sasuke enteng. Sakura menggeleng pelan. Lalu Sasuke menatap Sasori dengan tatapan 'kau-saja-yang-jelaskan'.
"Hemm, katanya sih. Nafsu cowok itu bisa datang kapan saja, bahkan bisa jadi pada saat yang tidak diinginkan," gumam Sasori. Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Kesimpulannya, aku dan Sasuke tidak bisa jamin seratus persen kalau kami nggak bakal ngapa-ngapain kamu saat kita tidur bareng," lanjutnya lagi. Sakura tersentak.
"A.. Aa, kalau gitu mending aku tidur di so-"
"Em em, tidak bisa begitu Sakura-chan~" potong suara wanita tiba-tiba. Sakura dan kedua suaminya itu tersentak dan langsung menoleh. Mendapati seorang wanita berambut biru tua, dan mirip dengan Sasuke. Dia datang bersama seorang laki-laki tua yang sepertinya suaminya.
"Kaa.. Kaasan?" tanya Sasuke. Wanita yang bernama asli Mikoto Uchiha itu tersenyum tanpa dosa. Padahal sudah masuk ke apartemen orang tanpa minta izin dulu.
"Sakuraaa, kau tidak boleh tidur di sofa. Lebih tepatnya, TIDAK BISA!" tegas Mikoto. Sakura mengangkat alisnya bingung.
"Ke.. Kenapa tidak bisa?" tanya Sakura. Kali ini firasatnya lebih buruk dari sebelumnya.
"Kenapa? Kami mengharapkan cucu darimu Sakura-chan. Bukan cuma itu, tadi orang tua Sasori juga pesan pada kami. Mereka juga mengharapkannya, jadi yaah bisa dibilang kami semua mengharapkanmu bekerja dua kali lipat, untuk Sasuke dan Sasori. Yaa?" tanya Mikoto dengan wajah santai tanpa dosa, sedangkan Fugaku hanya senyam senyum tidak jelas di belakangnya.
Sakura yang sepertinya masih loading, terdiam seratus persen. Sedangkan Sasuke menatap orang tuanya tidak percaya, dan Sasori tidak bisa menutup mulutnya yang sedari tadi menganga. Kedua laki-laki ini tidak pernah menyangka orang tuanya akan sekejam itu pada menantu mereka. Well, memang sebenarnya mereka tidak tahu siapa yang harus disalahkan. Salahkan orang tua mereka yang segitu inginnya punya cucu, lalu salahkan orang tua Sakura yang punya hutang pada orang tua mereka. Jadi? Mau menyalahkan yang mana?
Akhirnya Sakura berhasil connect juga setelah sekian lamanya terdiam. Baiklah, sekarang pikirkan apa yang harus dipikirkan. Konsentrasi, konsentrasi, bagaimana sebaiknya? Melayani dua laki-laki sekaligus? GILA..!!
"EEEEHH....!?"
To Be Continued
Huwooo, akhirnya selesai juga..!! XD
Hehehe, saya tidak menyangka fic ini ternyata laris juga. Padahal saya malas-malasan ngetiknya karena masih ada sedikit virus-virus 'penyakit' nempel di tubuh, wkwkwkwk XD *dirajam*
Oh ya, sebelumnya aku mau ngasih tahu aja. Pairing akhir fic ini ditentukan oleh vote, jadi aku akan memilih pairing yang paling banyak di vote oleh readers. Emm, dan mungkin aku akan memasang votenya di profil, jadi vote lewat sana sampai akhir cerita yaaa. Tapi bisa juga vote lewat review bagi yang gak punya account, vote dihitung tiap satu review per chapter (^^) Lalu satu hal yang kutekankan, di fic ini ADA LEMON SASUSAKU DAN SASOSAKU. Wkwkwk, jadi jangan khawatir~ (^O^)b *dilempar sandal rame-rame*
Special thanks for :
Micon, Namizuka min-min, Hyouru, S-Dragon a.k.a Misa UchiHatake, "Black Rose" Cyne_chan, Ka Hime Shiseiten, Je_jess, Kyoro, Uchiha Cesa, :DD, Risle-coe, Usagi Tomei, atsuchan, selenavella, Imuri Ridan Chara, Nakamura Kumiko-chan, Aya, Rhaa Yamanaka, Intan SasuSaku, princess mikaia, Fujimoto Izumi, Haruchi Nigiyama, KuroShiro6yh, konanlovers_chan, Faatin-hime, harunaru chan muach, Kuroneko Hime-un, kuroneko hikari-chan, Mila Rikudo Sakura, Dark Sky-Yumaeda Kasumi, Shinrei Azuranica, Ryuku S. A. J, Ame-chocoSasu, Kaze-chan, Nakamura Miharu-chan, icha beside door, Sora Chand, LV 313108, -MariaVivine-UchiMasu-, Sasusaku_forever, Udah hapal, nur, Iseng, Enda-chan, Asuka Hitsugaya, Uchiha Akasuna Sakura, Revhita Haruno, Mayuura, Regita love SasuSaku, Uchiha Sakuya-chan, Toto Toilet, Tsukimori Raisa
Oh ya, sebelumnya aku minta maaf ya. Ngg, aku nerima request fic dari FB dan PM. Jadi emm, gak begitu merhatiin request dari review (=,=)v *plaaaak* Apabila ada yang mau request, cukup PM ke aku, atau add FB dan twitterku. Insya Allah, aku bisa membuat request fic dari anda apabila ada waktu (^^)
Terima kasih sudah membaca fic nista ini, silahkan review lagi?? X3 *ditendang sampai ke pelukan Kabuto (?)*
