Nyoo~ jumpa lagi minna-saan! Gomen ne, saya lagi-lagi telat (banget) dalam mengupdate fic ini. Yah, seperti yang kubilang sebelumnya kemaren aku seminggu UKK dan kini tengah tegang menanti hasilnya (TT_TT)

Sesuai janji, aku segera update setelah selesai UKK. Fic yang lain pun akan segera menyusul, dan kuusahakan tidak lama. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah rela menunggu author lemot ini dengan sabar :')

Nya, selamat membacaa! ^^


Disclaimer : Always masashi Kishimoto

Warning : OOC, AU lemon

Genre : Romance/Friendship/Crime

Pairing : SasuSaku, SasoSaku

Don't like? Don't read

.

.

CHOOSE ME!


CHAPTER 4 : LIKE

"Selamat datang, Sasuke," ucap bos berambut orange dan berpiercing itu. Dia Pein, dan kini laki-laki itu tengah menatap laki-laki berambut raven di depannya.

"Hn," jawabnya datar dan tanpa mempedulikan bos yang menatapnya kesal, Sasuke langsung saja masuk ke markas, "Apa rapat sudah dimulai?" tanya Sasuke lagi sambil melepas jaketnya.

Wajah Pein merengut tak suka, "Belum, kau lama sekali sih. Apa yang kau lakukan?" tanya laki-laki itu. Sasuke mendengus.

"Kau akan mengerti kalau sudah mempunyai istri," jawab Sasuke datar, "Masih mending sekarang aku datang, sebab kalau istriku memilihku untuk menemaninya malam ini, aku tidak akan datang sama sekali," jelas Sasuke dengan nada tanpa dosa.

"Memilih?" tanya Pein bingung, "Maksudnya? Jelas-jelas istrimu pasti akan melayanimu kan? Siapa lagi?"

"Hn, istriku punya dua suami," jawab Sasuke tanpa ekspresi, sebelum Pein berteriak kaget, "...dan itu karena dipaksa," lanjut Sasuke. Pein langsung terdiam.

"Hoooh, kupikir kau baik sekali mau berbagi istri," komentar Pein dengan nada tanpa dosa membuat Sasuke mendelik padanya.

"Sudahlah, cepat! Apa lagi yang mau diincar?" tanya Sasuke yang kini mulai bergabung di ruang tengah markas tersebut.

.

.

.

Paginya..

Sinar sang surya menyinari dengan indahnya. Menembus jendela kamar hingga menyinari seorang wanita yang tengah tertidur dengan lelapnya. Sinarnya itu membuat sang wanita membuka matanya dan bangkit dari tempat tidurnya. Sakura Haruno namanya. Dia kelihatan bingung melihat dirinya yang sudah berpakaian lengkap, padahal dia masih ingat persis kejadian tadi malam. Sakura mendesah pelan dan segera berdiri lalu berjalan keluar kamar. Dia melihat jam, sudah jam 11 pagi rupanya.

"Ng, Sasori sudah pergi. Tapi Sasuke kok belum pulang ya?" tanya Sakura entah pada siapa. Dia menggeleng pelan dan berjalan menuju dapur.

Sakura segera membuka kulkasnya. Mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan untuk sarapan, sekaligus bahan makanan untuk siang nanti. Sampai akhirnya dia menemukan buah berwarna orange agak kemerahan. Tomat.

"Hm, sudah lama tidak memasak makanan kesukaan Sasuke," gumam Sakura. Dia segera mengeluarkan semua tomat dari kulkas dan bersiap untuk mencucinya.

Lalu di kepalanya kembali terbayang saat beberapa hari lalu, dia menanyakan menu makan malam hari pada Sasuke dan Sasori. Tapi akhirnya malah menjadi adu mulut antar dua suami itu, karena Sasuke mau menu dengan tomat sebagai dasar sedangkan Sasori malah ingin makan dengan nasi goreng. Akhirnya pertarungan (?) tersebut dimenangkan oleh Sasori karena polisi muda itu dengan liciknya memborgol tangan Sasuke yang sedang tidur di atas kasur dan mengisolasi mulutnya. Sakura sedikit tertawa geli mengingat kejadian itu, karena jujur saja dia tidak bisa melupakan bayang muka konyol Sasuke yang kesal waktu itu.

Sakura terus memotong-motong tomatnya, hingga dia mendengar suara pintu dibuka.

"Ng? Oh mungkin itu Sasuke," batin Sakura dalam hati. Dia melanjutkan untuk memotong tomat menjadi bagian kecil-kecil. Sampai tiba-tiba kedua tangan kekar memeluknya dari belakang.

"Sasuke?" tanya Sakura saat menyadari kepala Sasuke bersandar di atas bahu mungilnya. Sasuke terlihat mengulum senyum.

"Akhirnya kau masak dengan menu tomat juga ya," bisik Sasuke di telinga Sakura. Gadis itu merasa geli dan tertawa kecil.

"Yeah, mengingat kau selalu kalah dalam menentukan menu makan dari Sasori," jawab Sakura dengan agak terkekeh saat Sasuke mulai mencium leher jenjangnya yang terbuka.

"Aku tidak kalah, tapi mengalah," elak Sasuke sambil menggigit cuping telinga Sakura membuat gadis itu merintih sakit. Kini tangan Sasuke mulai merayap naik dan meremas dua buah dada Sakura membuat gadis itu melenguh.

"Tadi malam, bagaimana dengan Sasori?" tanya Sasuke lagi, dia melirik kissmark dari Sasori yang masih sangat terbekas jelas di leher putih Sakura.

"Ngg ah, ma.. maksud..nya? Ah," rintih Sakura saat Sasuke mulai memilin sesuatu yang menegang di dada Sakura.

Sasuke tidak menjawab, dia melepaskan tangannya kemudian membalik tubuh Sakura hingga menghadapnya. Sasuke mendekati wajah Sakura dan melumat bibirnya. Tangan Sasuke bergerak untuk membuka kancing baju Sakura satu persatu dan membukanya hingga terpampang jelas tubuh bagian atas Sakura. Wow, walau Sasori berniat baik untuk memakaikan baju pada Sakura, sepertinya tetap saja dia lupa memakaikan Sakura pakaian dalam. Sakura melepaskan ciumannya, wajahnya memerah seketika saat menyadari dia sudah telanjang bulat. Lagi.

"Hn, Sasori bisa juga ya," gumam Sasuke menatap tubuh Sakura yang lumayan banyak mendapat kissmark dari Sasori. Sakura juga yang baru menyadari adanya kissmark itu langsung reflek menutupi tubuhnya.

"Sa.. Sasuke, jangan bilang kau juga—"

"Ya, aku juga mau," potong Sasuke cepat dan langsung menggendong Sakura.

Sasuke merebahkan Sakura di atas sofa di ruang tengah apartemen mereka. Sekali lagi, Sasuke melumat bibir Sakura yang akhirnya dilayani juga oleh Sakura. Sembari tangannya meremas kedua buah dada Sakura, Sasuke bertanya dengan bisikan.

"Kemarin, Sasori melakukannya dengan gaya apa?" tanya Sasuke di bisik Sakura.

"Ah ah, a.. aku.. tidak.. ah uh.. mengerti.." jawab Sakura diselingi dengan desahannya. Sasuke menunduk lalu melumat buah dada Sakura dengan ganas. Dia menjilat kemudian memilinnya membuat Sakura memekik tertahan. Di tengah kesibukannya itu, Sasuke juga langsung membuka kancing kemejanya satu persatu hingga sekarang dia bertelanjang dada.

"Kemarin kau sambil tiduran, duduk, menungging, atau ada gaya yang lain?" tanya Sasuke dan menatap mata Sakura dalam-dalam. Sakura tidak bisa berkata jelas, apalagi saat Sasuke bertanya padanya sambil memainkan jarinya di dalam lubang Sakura.

"Ti.. ah.. Tiduran.." jawab Sakura tersendat-sendat. Tubuhnya menggelinjang penuh gairah. Sasuke mengangguk mengerti kemudian tersenyum kecil.

"Baiklah kalau begitu,"

Sasuke lalu berdiri dan duduk di pinggir sofa. Sakura pun tiba-tiba merasa kosong karena Sasuke melepas semua sentuhannya. Sasuke terlihat membuka resleting celananya dan terlihat sudah bendanya yang sudah mengacung berdiri tegak. Bahkan terlihat celana Sasuke kesusahan mengeluarkannya. Spontan Sakura memerah (lagi) melihatnya.

"Pe.. Perasaanku saja atau punya Sasuke lebih besar? Ah, mungkin cuma perasaan," batin Sakura dalam hati. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sasuke terkekeh melihat reaksi Sakura.

"Kenapa? Punyaku lebih besar?" tanya Sasuke. Sakura tersentak.

"Ti.. Tidak, kata siapa?" tanya Sakura balik. Sasuke mendengus dan tertawa kecil lalu dia mengelus rambut pink Sakura.

"Kemarilah,"

Sasuke menuntun Sakura agar mendekat padanya. Lalu dia menundukkan kepala Sakura agar gadis itu mengulum batangnya yang sudah berdiri tegak. Sakura menurutinya, dia menjilat batang tersebut perlahan kemudian memasukkannya pada mulutnya. Sasuke mengerang tertahan saat Sakura hanya mengulum ujungnya, seperti ingin mencoba mempermainkan suaminya tersebut. Tapi itu tak bertahan lama karena reflek Sasuke langsung menekan kepala Sakura hingga akhirnya mau tak mau gadis itu memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya dan sedikit tersedak. Sakura memaju mundurkan kepalanya. Terus begitu hingga tak lama kemudian Sasuke sendiri yang menarik kepala Sakura agar menjauh.

"Hah hah, cukup," engah Sasuke. Lalu Sakura terdiam, menunggu perintah Sasuke berikutnya.

"Duduk di pangkuanku," perintah Sasuke kini. Sakura awalnya terlihat bingung, tapi akhirnya dia mendekati Sasuke.

Sasuke menuntun Sakura duduk di atasnya. Membantu perempuan itu memasukkan benda miliknya yang berdiri tegak ke dalam lubangnya. Sakura melenguh tertahan saat ujung benda Sasuke sudah menyentuh ujung lubangnya, Sasuke menekan tubuh Sakura agar duduk dan membungkus bendanya lebih dalam. Sasuke terus menaik turunkan tubuh Sakura di pangkuannya sampai seluruh bendanya sudah terbungkus sepenuhnya.

Sasuke menarik nafas saat Sakura sudah berhasil membungkus dirinya, terlihat wajah Sakura di depannya memerah, matanya tertutup dan hanya mulutnya yang terbuka mengambil nafas. Setelah menunggu lama, Sasuke menuntun Sakura untuk kembali menaik turunkan tubuhnya di atas pangkuannya. Sasuke terus menuntun hingga lama kelamaan dia melepasnya dan membiarkan Sakura yang sudah terbiasa, reflek melakukannya sendiri. Sementara istrinya sibuk naik turun, Sasuke memajukan wajahnya dan mengulum juga meremas buah dada yang berada di depannya dan sangat menantang.

"Ah ah ah Sa.. Sasukeh.. ah.." desah Sakura, membuat Sasuke tidak bisa berhenti memilin dan mengulum bukit kembar di depannya. Sakura pun yang merasa seperti melayang, mengangkat wajahnya ke atas membuat bukit kembar semakin menantang bagi Sasuke.

Desahan Sakura tak dapat dielakkan lagi, keluar semakin kencang dan cepat. Bukan cuma itu, Sakura bahkan semakin cepat menaik turunkan tubuhnya. Sasuke bisa merasakan Sakura kembali orgasme, dan ini mungkin sudah ketiga kalinya. Lama Sasuke mengulum bukit kembar Sakura, dirasanya tubuhnya bergetar. Sepertinya kali ini dia yang akan klimaks. Dengan sekali gerakan, Sasuke langsung menidurkan Sakura. Dengan cepat, Sasuke memaju mundurkan pinggulnya membuat tubuh Sakura menggelinjang tidak karuan kemudian melingkarkan kedua kakinya di tubuh Sasuke.

"Sssh ah.." Sasuke mendesah setelah sekian lama dia memaju mundurkan tubuhnya, dia klimaks dan akhirnya mengeluarkan cairannya di dalam tubuh Sakura. Sasuke yang sudah terkuras tenaganya langsung menjatuhkan diri di atas Sakura.

"Ngh, Sa.. Sasuke," bisik Sakura pelan. Sasuke memutar kepalanya menghadap wajah istrinya kemudian tersenyum.

"Hn? Apa?" tanya Sasuke. Sakura tidak menjawab, bukan apa-apa melainkan karena lagi-lagi Sasuke bertanya sambil meremas kedua bukit kembarnya.

"Ngggh Sa.. Sasuke.. aku.. harus.. ah menyiapkan.. makan uh malam.." jawab Sakura. Walau dia seperti meminta Sasuke menghentikan aksinya, tapi jari lentiknya yang meremas rambut raven biru tua Sasuke, seperti mengartikan 'lanjutkan' bagi suaminya.

"Ng? Tak usahlah, biar Sasori saja nanti yang masak," ujar Sasuke. Dia melirik jam dinding di depannya, sudah jam 2 siang rupanya. Hm, cukup cepat.

"Ah.. Ta.. Tapi, Saso.. ri pulang.. malam ah.." lagi-lagi jawaban Sakura harus tersendat-sendat karena Sasuke kembali mengulum buah dadanya dengan tidak sabaran.

"Errgh kau ini, sudah kubilang biarkan saja polisi bodoh itu," ketus Sasuke.

"Sasori.. Sasori.. melihatmu menyebut nama itu menyebalkan tahu!" ketus Sasuke dalam hati, lalu dengan kesal dia memundurkan tubuhnya dan mengangkat kaki Sakura dan menaruhnya di samping kedua bahunya. Kemudian Sasuke memajukan kepalanya dan menjilat lubang Sakura yang sudah merah merekah.

"Ah akh Sasss.. Sasukee!" erang Sakura saat lidah Sasuke dengan tenangnya menerobos dan memilin sesuatu yang ada di sana. Membuat tubuhnya bergerak ke sana kemari, tak bisa berhenti walaupun ingin.

Sasuke terus menghisapnya, menjilat kemudian memilinnya. Membiarkan erangan dan desahan Sakura semakin mengeras dan gerakan tubuhnya yang semakin liar. Tapi percuma saja meskipun Sakura ingin melepaskan diri, tetap saja cengkeraman Sasuke yang memegang kedua kakinya lebih kuat. Hingga akhirnya Sakura mengangkat tubuhnya dan mendesah panjang, Sasuke yang mengerti tanda itu semakin mempercepat frekuensi lidahnya.

"Ah ah ah NGGH..!" desah Sakura yang kemudian langsung membanting dirinya di atas sofa setelah berhasil mengeluarkan cairannya yang membasahi wajah Sasuke. Laki-laki itu mendengus menahan tawa dan menaruh kedua kaki Sakura.

"Hn, kau memang manis," gumam Sasuke sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangannya. Sakura terlihat terengah-engah kelelahan, mata emeraldnya sudah mulai meredup. Sasuke mengerti, tak lama lagi istrinya itu akan tertidur lelap. Sasuke mendekati wajah Sakura, dia mencium pipi putihnya.

"Sakura," bisik Sasuke di telinga perempuan itu, "..sebelum kau tidur, ada hal yang ingin kuingatkan," lanjutnya, membuat Sakura melirik kecil pada Sasuke. Tak lama, matanya terpejam dan meskipun begitu Sasuke tahu Sakura masih bisa mendengarnya karena engahan nafasnya.

"Walaupun.. aku dan Sasori adalah suami resmimu.." Sasuke menarik nafasnya, "..tetap saja seorang wanita tidak bisa memiliki dua suami selamanya,"

Tarikan nafas Sakura kembali normal, dia membuka mata emeraldnya berusaha menatap mata onyx Sasuke di depannya, "Pasti nanti akan datang hari dimana kau harus memilih suami resmimu yang sebenarnya," jelas Sasuke. Tatapan matanya sangat serius kali ini.

"Orang tua kita pasti mengerti begitu pula orang tua Sasori," ucap Sasuke.

"Aku.. tidak tahu kapan datangnya hari itu, hanya saja yang kuharapkan saat hari itu datang.." Sasuke memejamkan matanya sesaat, "..kau sudah memilih yang terbaik untukmu,"

Sakura sedikit membelalakkan matanya, "Tapi.. seandainya.. aku belum siap?" tanya Sakura pelan.

"Kau harus siap!" tegas Sasuke, "Berjanjilah padaku, Sakura!" Nada bicaranya sedikit menyimpan amarah, Sakura sedikit terkaget lalu dia menundukkan kepalanya.

"Gomen," gumam Sakura, "aku.. pasti akan memilih," ucap perempuan itu pelan. Walau Sakura berkata begitu, Sasuke bisa melihat wajah Sakura yang ragu dan bimbang, pastilah dia mengerti perasaan istrinya yang takut memilih itu. Dia pasti mengerti perasaan orang yang tidak mau menyakiti perasaan orang lain.

"Bagus," ucap Sasuke sambil berdiri, "sekarang.. istirahatlah," ucapnya lagi yang kini tengah duduk di samping Sakura.

Sasuke mengelus rambut pink Sakura dengan lembut. Terus mengelusnya hingga Sakura tenggelam dalam mimpinya, dan dia kembali tertidur nyenyak. Sasuke melepaskan belaiannya dan melepas jaketnya yang kemudian dia pakaikan pada Sakura yang tengah tertidur. Setelah mengecup dahi lebar Sakura perlahan, Sasuke berdiri dan memasuki kamarnya.

"Jangan sampai salah pilih Sakura. Jika kau memilih Sasori, maka hidupmu akan tenang dengan kebenaran dan kedamaian yang dibawa laki-laki merah itu. Tapi, apabila kau memilihku, maka aku akan membawamu ke dalam lubang kejahatanku dan aku tidak bisa memastikan kebahagiaanmu di sana, pilihan ada di tanganmu.. Sakura.."

.

.

.

.

Malamnya...

"Tadaimaaa!" teriak seorang laki-laki berambut merah dengan wajah baby facenya yang awut-awutan. Terlihat sekali kalau dia kecapekan dengan semua kegiatannya hari ini. Tanpa mempedulikan apapun, laki-laki bernama Sasori itu langsung membanting dirinya di atas sofa di tengah ruangan.

"Hn, kau sudah pulang," ketus suara seorang laki-laki lain. Sasori mengangkat kepalanya malas, benar saja Sasuke tengah mengelap piring di tangannya.

"Ne? Sasuke rupanya, Sakura mana? Padahal aku harap dia yang menyambutku," gerutu Sasori sambil menggulingkan badannya. Sasuke memutar bola matanya bosan sambil menaruh piring yang tadi dia lap ke dalam rak piring.

"Dia sudah tidur daritadi, sepertinya dia kelelahan," jawab Sasuke datar. Sasori tadinya ber'oh' ria saja, namun setelah connect beberapa saat dia langsung membelalakkan matanya.

"EEEHH! Selama aku kerja, kau sudah memainkan Sakura berapa kali, hah?" tanya Sasori menuntut.

Sasuke hanya menyeringai, tidak berniat menjawab pertanyaan Sasori. Jelas saja Sakura sampai kelelahan setengah mati hari ini. Setelah Sakura bangun dari tidurnya, lagi-lagi tanpa ampun Sasuke kembali menyerangnya. Dan untuk yang kedua kalinya bermain, Sakura benar-benar pingsan di tempat. Yeah, Sasuke merasa bersalah sudah membuat Sakura harus melayaninya double hari ini. Tapi setidaknya bagi laki-laki rambut raven itu, ini adalah hari terbaiknya.

"SASUKE?" tanya Sasori lagi sambil menggoyangkan bahu Sasuke yang menguap malas.

"Hoaaah sudahlah itu tidak penting, sudah jam segini aku mau tidur," jawab Sasuke cuek dan melepaskan kedua tangan Sasori di bahunya. Sasori mendengus kesal melihatnya.

"Huh, lalu Sakura tidur di mana?" tanya Sasori ogah-ogahan.

"Di kamarku," jawab Sasuke datar.

"AP-"

"Tenang, aku tidak akan menyerangnya lagi. Aku masih punya hati sebagai laki-laki, asal kau tahu," jawab Sasuke cepat. Sasori menggembungkan bibirnya kesal, membuat author jadi pingin banget nyubit pipinya *plak*

Sasuke sedikit menoleh ke belakang, melirik Sasori yang masih mengutukinya dengan kesal, "Sasori.." panggil Sasuke, membuat laki-laki baby face itu menoleh padanya, "..apa kau menyukai Sakura?"

"Hah? Kenapa tiba-tiba?" tanya Sasori bingung, tapi Sasuke sama sekali tidak berniat menjawabnya. Dia menatap mata merah Sasori dengan mata onyxnya yang tajam, "Tentu saja aku menyukainya, kenapa?" jawab Sasori dengan polos akhirnya.

Sasuke menyipitkan matanya, membuat Sasori mengangkat sebelah alisnya bingung. Sepertinya Sasuke tidak suka mendengarkan jawabannya, tapi.. kenapa?

"Cuma.. suka kan?" tanya Sasuke tiba-tiba, "..tidak lebih, dari itu kan?" tanya Sasuke lagi. Sasori—yang bisa dibilang tidak lebih dewasa dari Sasuke yang setahun lebih muda darinya—hanya bengong tak mengerti.

"Kau ini kenapa Sasuke? Aku bingung tahu," tanya Sasori balik sambil menggaruk rambut merahnya yang tidak gatal dan tertawa polos. Sasuke mendengus kesal.

"Kau tidak berubah Sasori, jangan lupa kalau kita sudah dewasa!" geram Sasuke menahan amarah, "Harusnya kau mengerti apa yang aku ucapkan," lanjutnya lagi. Sasori terdiam melihatnya.

"Cih, kau memang menyebalkan," ketus Sasuke yang kemudian berbalik ke kamarnya. Sasori hanya menatap Sasuke datar.

"Hei Sasuke," panggil Sasori membuat langkah Sasuke terhenti, "kalau kau bertanya seperti itu padaku, berarti kau sudah mengetahui jawabanmu kan?" tanya Sasori sambil menarik nafas.

"Memang, kau menyukai Sakura?" tanya Sasori lagi. Sasuke mendengus dan kembali berjalan ke kamarnya.

"Ya, aku menyukainya sampai-sampai aku kesal kalau melihat dia bersamamu maupun menyebut namamu di depanku, puas?" jawab Sasuke kasar, dan sebelum Sasori membuka mulutnya kembali untuk bertanya—

"Kalau kau tidak mengerti jawabanku, pikir saja sendiri dasar polisi bodoh!"

BRAK

Dan Sasuke membanting pintu kamarnya hingga membuat Sasori terpaku di tempat.

"Dia ini.. kenapa sih?"

To Be Continued


Nyaaa~ sudah selesai lagi. Maaf ya minna, saya memang suka membuat orang penasaran sih hehehe X3 *dibantai massa* Nyoo, sudah ada adegan SasuSaku kan? Yosh, berarti utangku lunaas, wkwk SasoSaku malah gak ada sama sekali ya? XD *ngeloyor –dikejar SasoSaku FC*

Sebelumnya, maaf ya yang sebesar-besarnya untuk pertama, yang tidak suka fic ini ditambahkan genre Crime. Dan bagi yang bertanya kenapa Sasuke masuk Akatsuki, akan coba kujelaskan di next chap kalau sempat. Lalu kedua, untuk lemonnya. Jujur saja, saya memang tidak suka dengan lemon yang terlalu vulgar, blak-blakan, lebay, dan semacamnya. Saya sukanya lemon yang detil dan rapi, baik eksplisit maupun implisit. Karena saya lagi belajar, jadi mohon maaf apabila tidak berkenan di hati ya. Gomen sebesar-besarnya m(_,_)m

Special thanks for :

R-chan, Byakugan girl-chan, Uchiha Cesa, Ella-cHan as NaGi-sAn, Ame chochoSasu a.k.a Rieyuka, Imuri ridan Chara, Utsukushi I – KuroShiro6yh, Azuka Kanahara, Chiho Nanoyuki, Kaze or Wind, angelove, seiichiro raika, Ditachi Uchiha, ayam LoVe jidat, Fuyuzakura-hime, sava kaladze, Intan SasuSaku, Nakamura Kumiko-chan, Aya, RiaNaMiKaZe, FB SwidHya cHaN nHak d'FouRS, Ka Hime Shiseiten, Haruchi Nigiyama, Ryou-REI, Haru-chan Akasuna Hatake, miss hakuba, harunaru chan muach, Fusae 'LeeBumYeHyun' Deguchi, N.P.N-11CC, CoolBoy-Kun, Vlouchi Schiffer, Kuroneko Hime-un, kin chan usagi, Yu Ogawa, DeViL's of kunoiChi, aya-na rifa'i, violetness, Mila Mitsuhiko, diamondlight, Rhaa Yamanaka, Dara-SasuSaku ShikaTema Lovers, Micon, Uchiha Evans, Tsukimori Raisa, TheIceBlossom, Dhevitry Haruno, Fun-Ny Chan, popoChi-moChi, mysticahime, kuroneko hikari-chan, bella shinjunami, widiiw xie kabogoh sasuke, Nakamura Miharu-chan, Uchiha Pratama, Je-Jess, Enda-chan, Hn, PriTycHan, Black Magician Kasumi-chan, Uchiha Sakuya-chan, Misaky Uchiha, Queliet Kuro Shiroyama, Revhieta Bieber, Ryuku S. A .J, Sabrina (FB)

Uchiha Sakuya-chan : Neee gomen kalau aku sering males bales review ehehe, habis suka bingung mau ngomong apa ^^a *plak* tapi anda balik lagi setelah sekian lamanya menghilang ya (?) Aku rinduuu X3 *peluk Sakuya-chan -dhuaaak* thanks for the revieeew XD

Diamondlight : Nyaaa~ gomen sebesar-besarnya! Sebenarnya alasanku menambahkan Crime, hanya untuk menambah sedikit konflik. Sebab kupikir kalau ceritanya terlalu datar jadi nggak enak bacanya, maaf ya.. m(_,_)m dan terima kasih banyak masih mau membaca fic ini. Saya senang sekali, terima kasih. Saya usahakan untuk tidak mengecewakan :)

Fuyuzakura-hime : ne? Selamat ya dah punya account XD *nebar bunga lilin (?) -dhuak* welcome to FFN! Dan terima kasih sudah mau review X3

Dan terima kasih untuk lainnya yang sudah menyempatkan diri untuk membaca fic ini. Tak apa kok walau tidak sempat review, yang penting sudah ada yang mau baca aku sudah cukup senang. Terima kasih minna~ ^^

Oh ya, anggota Akatsukinya yang lebih lengkap ada di next chap yaa! Tenang aja, Tobi pasti ada kok hohoho XD *dhuak* dan untuk threesome, saya coba pikir dulu deh. Habis agak malas bikinnya, karena dah mau bikin threesome SasoSakuIta di fic oneshot gara-gara request seseorang ==' *ngelirik Kuro-chan -plaaaak*

Oke, boleh minta review? :3