Akhirnya setelah keyboard komputer bejatku rusak dan aku harus menunggu sekian lama ayah yang membawa laptop ke luar kota, aku bisa juga menulis fic! Huwaaaa, daddy I LOVE YOU..! XD *bawa bawa spanduk foto ayah*
Hahaha maaf telat update (lagi) harusnya aku update cepet, tapi setelah tragedi mengerikan (?) di atas, saya harus bersabar menunggu (TT,TT)
Yup, selamat membacaa! :D
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : OOC, AU, slight lemon
Pairing : SasoSaku, SasuSaku
Genre : Romance/Friendship/Crime
Don't like? Don't read
.
.
CHOOSE ME!
CHAPTER 5 : KILL
"Ngg," desah suara seorang gadis berambut pink. Tubuhnya yang mungil menggeliat di atas kasur, saat dirasakannya cahaya mentari menerpa wajahnya. Dengan malas dan keberatan, dia membuka kelopak matanya, memperlihatkan kedua bola mata emerald yang indah itu. Gadis itu memiringkan tubuhnya untuk melihat siapa yang membuka gorden jendela dan seenaknya membiarkan cahaya mentari menerobos masuk.
"Sasuke," gumamnya melihat siapa yang berdiri di dekat jendela. Laki-laki emo yang tadi dipanggil Sasuke itu menoleh ke arahnya.
"Hn, ohayou," balas Sasuke tenang, "sebelahmu belum bangun?" tanya Sasuke sambil menyipitkan matanya. Sakura memiringkan kepalanya bingung lalu melihat ke samping kanannya yang berlawanan dan tersentak kaget menyadari ada seseorang tidur di sana.
"Sa… Sasori?" tanya Sakura kaget melihat laki-laki berambut merah yang masih asyik dengan mimpinya. Bukannya bangun, dia malah menggeliyat dan menenggelamkan kepalanya di balik bantal.
Dengan kesal Sasuke berjalan ke arah laki-laki itu, "Dasar bodoh, sudah seenaknya datang tengah malam buat numpang tidur di sini, masih belum bangun juga," ucap Sasuke sambil menggertakan giginya kesal. Sakura yang mulai merasakan aura berbahaya dari suaminya yang satu itu, langsung bergerak untuk menghalanginya namun terlambat…
"BANGUN! DASAR KEBO!"
BRUAK
Dan Sasori pun sukses terguling jatuh ke bawah berkat tendangan Sasuke.
"Aduuuh sakit! Apa-apaan kau Sasuke?" rintih Sasori yang tengah memegangi punggungnya yang menubruk lantai. Sedangkan Sakura? Kini tengah menggigit bibir bawahnya untuk menahan tawa. Sasuke hanya mengangkat kedua alisnya dan kembali pada sosok dinginnya.
"Aku? Aku hanya membangunkan seekor kebo, apa itu salah?" jawab Sasuke santai dengan nada emo. Sasori mendengus kesal dan segera bangkit dari tempat jatuhnya. Sementara Sasuke berbalik dan mengambil handuk menuju kamar mandi.
"Sakura, tolong siapkan sarapan. Kami mau berangkat kerja," pinta Sasuke tanpa berbalik dan terus berjalan membuat Sasori tambah kesal saja. Sakura hanya mengangguk cepat dan segera berlari ke dapur. Sasori mendengus kesal lagi dan akhirnya dia masuk ke dalam kamar mandi satunya.
.
.
.
"Yup, masakan sudah siap!" seru Sakura dengan ceria dan langsung membawakan dua piring berisi sandwich untuk dua suaminya yang kini baru selesai berpakaian dan duduk di tempatnya masing-masing.
"Ceria sekali hari ini Sakura-chan~" goda Sasori sambil terkekeh. Sakura menjawabnya dengan tertawa kecil dan baru berhenti setelah Sasuke berdehem.
"Ehem! Sakura, kenapa tidak ada tomatnya?" tanya Sasuke setelah melihat isi sandwichnya hari ini.
Sakura menggaruk pipinya pelan, "Anu… tomatnya habis dan kita belum belanja, jadi maaf Sasuke," jawab Sakura sambil menjulurkan lidahnya dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sasuke mendesah pelan dan mulai menggigit sandwichnya.
"Begitu, bagaimana kalau sekarang kau ikut aku hari ini? Biar kuturunkan kau di supermarket dan belanja di sana, tenang saja nanti uangnya kukasih," jelas Sasuke panjang lebar sambil tetap menikmati sandwichnya. Sementara Sasori menatap Sasuke tak suka.
"Eh? Kenapa harus ikut kau sih? Sama aku saja Sakura-chan!" ujar Sasori yang langsung menatap Sakura dengan puppy eyes mautnya. Sasuke hanya menatap laki-laki itu datar.
"Hem? Jangan lupa dengan mobilmu yang sedang bermalam di bengkel dari dua hari yang lalu," perkataan Sasuke dengan telak menusuk jantung Sasori membuat laki-laki merah itu diam seribu bahasa. Dengan senyum yang dibuat-buat, Sasori menoleh dan menatap Sasuke.
"Hehe iya ya," ucap Sasori dengan nada tanpa dosa, Sasuke memutar bola matanya bosan dan kembali menggigit sandwichnya, "kalau gitu, aku boleh ikut kamu kan?" tanya Sasori lagi membuat Sasuke mendengus pelan.
"Hn, terserahlah," jawab Sasuke cuek. Sasori berteriak senang namun itu tidak bertahan lama setelah Sakura menepuk bahunya dan tersenyum mengerikan…
"Sekarang, kau sudah bisa mulai makan kan Sasori?" memang, senyum Sakura sangat berharga untuk Sasori dan Sasuke. Namun, untuk senyuman kali ini mungkin lebih baik Sasori menurut saja. Karena di saat tertentu, Sasori bisa jauh lebih takut dengan Sakura ketimbang Sasuke.
Sasuke yang melihat Sasori dan Sakura itu hanya tersenyum dan tertawa kecil. Laki-laki berambut raven itu kembali memakan sandwichnya. Sementara Sakura tengah mengomeli Sasori yang kini takut-takut menggigit sandwichnya, Sasuke merasakan Hpnya bergetar di sakunya. Matanya menyipit begitu melihat sms yang dibukanya.
From : Pein
Kita harus bertemu sekitar jam 2 siang. Ada keadaan gawat.
Sasuke menutup sms tersebut tanpa berniat untuk membalasnya. Dia menatap Sakura yang kini tengah berjalan ke arahnya, sepertinya dia baru selesai mengganti bajunya setelah mengomeli Sasori. Meskipun hanya memakai kaos t-shirt berwarna biru dan rok pendek berwarna merah, Sakura tetap terlihat cantik. Sasuke tersenyum simpul, mata onyxnya masih memperhatikan Sakura yang kini menguncir kuda rambut pinknya yang panjang.
"Kau cantik hari ini Sakura-chan," puji Sasori sambil terkekeh. Sasuke menatap Sasori sedikit kesal, namun akhirnya dia membiarkannya saja.
Wajah Sakura mengeluarkan semburat merah, "Te.. Terima kasih," jawabnya. Mata hijau emeraldnya sedikit melirik Sasuke, berharap suami yang satu itu juga mengucapkan hal yang sama.
Sasuke hanya mengangkat sebelah alisnya, "Apa?" meski begitu, dia tetap tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Ayo kita berangkat," lanjut Sasuke lagi sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan dan berbalik menuju pintu.
Sakura mendesah pelan, entah kenapa dia sedikit kecewa dengan penuturan Sasuke. Namun rasa kecewa itu berubah menjadi malu saat Sasori menepuk punggungnya dan berkata dengan santainya, "Beuh, dasar tidak bisa jujur. Kau tahu? Aku yakin tadi Sasuke juga pasti ingin mengatakan hal yang sama denganku hahaha," tawa Sasori dengan sumringah.
Sakura dan Sasori berjalan bersama sementara Sasuke berjalan dengan tegapnya di depan mereka. Meski Sasori terus saja mengoceh dan Sakura menanggapinya dengan tawa, tetap saja tidak mengganggu Sasuke yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia memikirkan kira-kira apa masalah gawat yang dimaksud Pein, apa Akatsuki ketahuan? Atau bagaimana? Apa ada hubungannya dengan polisi? Kalau begitu, bukan tidak mungkin Sasuke akan berurusan dengan Sasori. Dan jika itu terjadi, apa Sakura harus mengetahuinya?
Mereka bertiga kini sampai di tempat parkir, "Kenapa kau ikutan masuk? Aku membuka pintu ini untuk Sakura," ketus Sasuke melihat Sasori dengan seenak udelnya masuk ke kursi belakang saat Sasuke tengah membuka pintu untuk Sakura masuk.
"Sudahlah, tidak apa kan? Kau bisa konsentrasi menyetir di depan, tidak usah pedulikan kami di belakang," jawab Sasori sambil mengedipkan sebelah matanya. Sasuke merasa ada arti di balik kedipan mata Sasori itu, namun dia tidak mau ambil pusing dan segera menutup pintu mobilnya.
Di jalan, Sasuke merasa bad mood setengah mati. Bagaimana tidak? Setiap dia melirik kaca spion, pasti Sasori tengah asyik bercanda ria dengan Sakura. Dan yang membuatnya tambah kesal, Sakura menanggapi pertindakan konyol Sasori hingga dia tertawa dan wajahnya mengeluarkan semburat merah. Dengan kesal, Sasuke langsung memasang radio dengan volume keras membuat Sakura dan Sasori tersentak kaget. Sakura memang bingung menatap tindakan Sasuke, namun Sasori mengerti. Dengan senyum mencurigakan, Sasori mencondongkan badannya ke depan dan mematikan radio yang dipasang Sasuke, membuat laki-laki raven tersebut mengernyitkan alisnya kesal.
"Berani sekali kau—"
"Ssst! Sasuke, siaran radio jam segini sih jelek semua. Kau tahu? Ada yang lebih baik dari itu, benar kan Sakura?" tanya Sasori yang langsung tersenyum pada Sakura di belakangnya membuat Sakura tambah bingung. Sementara Sasuke masih mengonsentrasikan dirinya untuk menyetir.
Tanpa disadari Sasuke maupun Sakura, Sasori menyeringai licik. Dengan perlahan tapi pasti, tangannya bergerak untuk membelai paha Sakura. Awalnya gadis berambut pink itu tidak ambil pusing karena dibelai seperti itu sudah biasa oleh dirinya bersama Sasori maupun Sasuke. Tapi, yang tidak dia sangka adalah saat jari Sasori membuka roknya dan menyelip ke balik celana dalamnya. Sasori semakin menyeringai lebar melihat wajah Sakura yang berubah warna.
"Mainkan musiknya, Sakura!" ujar Sasori yang melihat Sakura tengah menggigit bibir bawahnya, menahan segala rasa yang ada. Sasuke mengangkat alisnya bingung.
"Ngghh, Sa… Sasori uuh.." desah Sakura yang tidak bisa menahan dirinya lagi. Sasuke tersentak kaget, dia langsung menatap Sasori yang kini tengah menyeringai di depannya.
"Sasori! Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke dengan nada menuntut. Sasori hanya terkekeh pelan melihat reaksi Sasuke yang panik.
"Nah gitu dong, bosen tahu ngelihat wajah sok dinginmu itu hehe," gumam Sasori, "tenang saja, kau jalan saja Sasuke," jawab Sasori lagi sebelum dia kembali menyandarkan dirinya di kursi belakang.
Sementara itu, tangan Sasori terus saja bekerja di balik celana dalam Sakura. Sesekali tangan Sakura sendiri berusaha menahan tangan Sasori berbuat lebih jauh dan sebelah tangannya mencengkram kerah baju Sasori dengan kuat. Sasori hanya terkekeh pelan melihat reaksi Sakura sementara Sasuke yang melirik di kaca spion mulai menelan ludah, melihat wajah Sakura yang memerah dan tanpa pertahanan. Sasuke menggelengkan kepalanya dan terus berkonsentrasi pada jalan di depannya.
Merasa semakin basah, akhirnya Sasori mulai memasukkan satu jarinya. Dia memutar-mutarkan jarinya tersebut di dalam lorong Sakura membuat gadis itu mau tak mau mendesah semakin kencang. Lalu satu jari lagi dia masukkan, hingga dua jari sudah masuk ke dalam lorong tersebut. Sakura menggigit bibir bawahnya supaya tidak mendesah semakin keras. Namun percuma, karena dengan dua jari itulah Sasori kembali memutar-mutarnya. Sasori mengluar masukkan dua jarinya tersebut, terus menekan titik yang paling dalam. Titik yang membuat Sakura mendesah semakin kencang dan membuat wajah Sasuke bertambah merah. Sasori memilin biji kacang yang ditemukannya.
"Ah oh.. Sasori.. aaaah!" Sakura mendesah semakin kencang ketika cairan menyembur keluar dari liangnya membasahi jari Sasori. Laki-laki rambut merah itu tersenyum puas dan menarik jarinya.
Dengan senyum kemenangan, Sasori menjilat jarinya yang dipenuhi cairan Sakura dan menunjukkannya pada Sasuke yang melirik di kaca spion, "Kenapa lihat-lihat Sasuke? Mau?" tawar Sasori dengan nada yang dibuat-buat. Sasuke mendecih kesal, tangannya semakin menggenggam erat setir yang dipegangnya, tak bisa dia pungkiri kalau kali ini Sasuke benar-benar terangsang apalagi saat Sasori mengatakan, "manis lho,"
Sasuke menggertakan giginya kesal, wajahnya berkeringat dan memerah. Sasuke menarik nafas, "Hentikan…" gumamnya pelan, lalu dia membuang nafas. Sasori yang mendengar itu tersenyum sementara tangannya masih asyik merangsang Sakura.
"Berhenti? Nggak bisa, tapi kalau mau suaranya akan kupelankan," balas Sasori. Dengan sigap, dia menarik kepala Sakura dan melumat bibirnya.
Sasuke kembali melirik di kaca spion, memperhatikan Sasori dan Sakura yang kini tengah bertarung lidah. Sampai-sampai lidah Sasori terlihat sangat mengamuk di mulut Sakura membuat gadis itu mengerang. Saling bertukar saliva hingga ada sedikit yang menetes di antara kedua bibir mereka yang saling berpagutan. Ingin rasanya Sasuke berhenti sekarang, menendang Sasori, dan menggantikan posisinya.
"Nggh, hmph.." erang Sakura di tengah lumatan Sasori. Bukan cuma itu, tangan sebelah Sasori yang nganggur digunakannya untuk meremas bulatan dada Sakura di balik baju t-shirtnya. Sakura menggeliyat, membuat mobil mereka sedikit bergoyang karena ulah dua anak manusia di kursi belakang. Tidak tahan lagi, Sasuke langsung memarkirkan mobilnya asal di pinggir jalan dengan kasar membuat Sasori melepaskan ciuman ganasnya. Laki-laki berambut merah itu tersenyum meremehkan melihat Sasuke yang kini bernafas lega dan menjatuhkan kepalanya di atas setir.
"Kenapa Sasuke?" tanya Sasori, dia mencondongkan badannya ke depan untuk kembali melihat Sasuke. Dia terkekeh pelan, karena sesuai dugaannya milik Sasuke kini tengah berdiri sehingga membuat celana laki-laki rambut raven itu terlihat ketat karena sesuatu menyembul.
"Sialan kau Sasori," desis Sasuke, dia melirik Sasori dengan death glare dari mata onyxnya. Sasori hanya tertawa menanggapinya.
"Hahahahaha, sumpah kau lucu sekali hari ini Sasuke!" tawa Sasori puas. Hari ini sepertinya memang hari kemenangannya, "hm? Ah aku turun dari sini aja, tinggal dua blok lagi aku akan sampai ke kantorku. Terima kasih tumpangannya Sasuke!" Sasori pun mengacak-acak rambut pantat ayam Sasuke, namun kali ini dibiarkan saja laki-laki berambut merah itu oleh Sasuke.
"Sudah ya Sakura, jaa!" ucap Sasori, dia mendaratkan ciuman sesaat pada bibir Sakura, dan dengan ceria Sasori keluar dari mobil Sasuke dan berlalu.
"Sa… Sasuke," panggil Sakura pelan, Sasuke hanya menoleh sedikit "ma… maaf ya, aku tidak bisa menahan diriku," gumam Sakura takut-takut. Sasuke menarik nafas pelan, dan langsung membanting setir.
"Tak apa, tak usah dipikirkan," jawab Sasuke saat mereka mulai berjalan menjauhi kantor Sasori. Sakura bernafas lega, lalu mulai merapikan bajunya melihat supermarket yang akan ditujunya sudah di depan mata.
Namun, Sakura tertegun bingung saat Sasuke tidak juga berhenti malah terus berjalan semakin jauh. Padahal Sakura sudah memperingatkan Sasuke, tapi tetap saja Sasuke tidak bergeming. Sakura mulai gugup, jangan-jangan Sasuke benar-benar marah padanya? Setelah semakin jauh, akhirnya Sakura memberanikan diri untuk bertanya pada Sasuke.
"Err Sasuke?" panggil Sakura. Sasuke melirik di kaca spion, "bukankah aku disuruh kau untuk belanja? Supermarketnya sudah lewat lho," ucap Sakura polos. Sasuke hanya mendengus menahan tawa.
"Nanti saja," jawaban Sasuke membuat Sakura bingung, "kau harus tanggung jawab, gara-gara kau adikku jadi berdiri begini. Kata maaf saja tidak cukup membuat adikku normal kembali tahu!" Sasuke memperjelas.
"Eeeh? Jadi aku harus bagaimana?" tanya Sakura gugup, jujur saja. Dia tidak mengerti arti kata 'adik' yang dimaksud Sasuke. Laki-laki berambut raven itu hanya menyeringai puas.
"Kita cari tempat yang pas," Sakura mengangkat sebelah alisnya, sementara Sasuke menyeringai semakin lebar, "lalu kau temani aku sampai adikku normal kembali,"
.
.
.
Kantor polisi…
"Ohayou semuaa!" seru Sasori keras-keras membuat yang lain menoleh ke arahnya.
"Sasori! Kau lama sekali sih?" tanya seorang laki-laki berambut coklat jabrik, "kita ada laporan baru tahu," gerutunya lagi. Sasori hanya terkekeh pelan.
"Heheh maaf maaf Kankurou," jawab Sasori santai. Kankurou memutar bola matanya bosan. Lalu memberikan salah satu kertas file pada Sasori.
"Nih, laporan dari detektif untuk atasan," gumam Kankurou, "akhirnya kita menemukan tempat tinggal salah satu dari kawanan mafia bernama Akatsuki," jelas Kankurou sambil melihat-lihat kertas file yang lain. Sasori masih mengamati kertas yang diberikan Kankurou padanya.
"He? Ada yang tinggal di Konoha juga rupanya? Padahal kudengar Akatsuki jarang beroperasi di Konoha," gumam Sasori sambil bersungut-sungut. Kankurou terkekeh pelan.
"Yeah kau benar, bahkan katanya markas pusatnya pun di Konoha ini," jawab Kankurou. Sasori mengangguk-angguk.
"Jadi, kapan kita mulai menyelidiki Akatsuki di Konoha?" tanya Sasori dan sekarang menatap Kankurou di depannya. Kankurou hanya tersenyum mengejek.
"Nanti malam atau besok malam, siapkan dirimu Sasori!"
.
.
.
Markas Akatsuki…
"Dan sekali lagi, bocah itu terlambat. Menyebalkan uuun!" gusar seorang yang berambut kuning panjang itu di antara kawanan lainnya. Dia menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Uh, Deidara-senpai berisik banget sih! Sasuke pasti datang kok!" balas satunya lagi yang memakai topeng seperti lollipop dan hanya memperlihatkan mata sebelah kirinya. Laki-laki bernama Deidara itu hanya mendelik kesal.
"Kau diam saja, dasar Tobi jelek!" ucap Deidara sarkastik.
"Tobi nggak jelek! Tobi anak baik!"
"Nggak,"
"Ya!"
"Nggak,"
"YAAA!"
"Woi berisik!" geram Pein akhirnya sambil melempar buku pada Deidara dan Tobi yang asyik berantem di tengah ruangan. Deidara mendengus kesal, sedangkan Tobi melempar buku itu entah kemana.
"Lama sekali si Sasuke, aku belum berdoa lagi nih," gerutu salah satu dari mereka yang berambut perak kelimis dan disisir ke belakang. Dengan kesal, dia kembali menyisir rambutnya ke belakang.
"Tenang saja, Sasuke pasti datang," ucap seorang perempuan di antara mereka, memang dia yang paling sabar di antara kawanan itu. Sabar dalam segala hal termasuk membunuh (?)
KRIET
"Sasuke, akhirnya kau datang juga," gumam Orochimaru yang baru saja keluar dari kamar mandinya dan menatap Sasuke yang entah kenapa sangat berantakan hari ini.
"Apa yang kau lakukan Sasuke? Kenapa berantakan begitu?" tanya Kabuto yang tengah membaca buku—entah apa itu—dan bingung melihat rambut Sasuke yang berantakan, jas terbuka, kemeja kusut dengan tiga kancing terbuka memperlihatkan sedikit dadanya yang bidang, dan wajahnya yang terlihat sedikit kelelahan.
Sasuke mendengus kesal, "Hn, menurutmu bagaimana?" tanya Sasuke balik dan sedikit melebarkan bagian kemejanya yang terbuka, memperlihatkan bekas pagutan yang memerah di sekitar dada dan lehernya. Kabuto ber'oh' ria dan tanpa perlu bertanya lagi, dia kembali berkutat dengan bukunya.
Dengan malas, Sasuke berjalan menuju meja besar di tengahnya. Menatap pein dengan tatapan 'bisa-cepat-selesaikan?' namun Pein malah menyeringai mesum dan berbisik di telinga Sasuke.
"Sepertinya istrimu hebat ya Sasuke," bisik Pein. Sasuke hanya mendengus pelan.
"Huh sudahlah, tadi kau sms padaku bilang ada sesuatu yang gawat. Ada apa?" tanya Sasuke. Pein mengangguk dan mulai menjelaskannya saat yang lain sudah ikut berkumpul.
"Seperti yang kita tahu, selama ini kita sengaja beroperasi di luar Konoha untuk jaga-jaga agar markas kita tidak ketahuan oleh pihak kepolisian," Pein memulai penjelasan, sementara yang lain kini kembali tenang dan menatap bos di depan mereka tersebut.
"Namun, kini keadaan bertambah gawat karena berdasarkan pengamatan Kisame yang paling ahli membaca gerakan polisi di antara kita semua, polisi sudah mulai bergerak karena mengetahui markas kita yang berada di Konoha ini," jelas pein lagi. Yang lain saling bertatapan dengan tatapan 'kok-bisa?'
"Kenapa bisa begitu? Bukankah selama ini kita selalu bekerja dengan bersih, un?" tanya Deidara lagi. Pein kembali membuka bukunya dan mengernyitkan alisnya.
"Menurut Kisame, saat terakhir kita menyerang di Oto, suara dua dari kita ada yang terekam di hp korban yang kita bunuh," jelas Pein, lalu dia mengambil kaset perekam di sampingnya, "Kisame berhasil merebut salah satu kaset yang berisi rekaman tersebut, dan mari kita dengar, siapa yang sudah dengan bodohnya memberikan bukti pada kepolisian," dengan nada sarkastik dan tajam, Pein menyalakan kaset tersebut.
"Ah dasar senpai! Ya sudah, aku kan anak baik. Aku pulang duluan ke Konoha deh!"
"Darah orang ini merepotkan. Saya juga ikut ke Konoha, mau ganti baju lalu berdoa,"
Sudah bisa ditebak?
"Tobi dan Hidan, ini suara kalian tahu!" geram Kakuzu. Konan yang langsung merasakan aura membunuh langsung memegang pundak Kakuzu.
"Sudah sudah,"
"Hiaaaaa! Maafkan Tobi, senpaaai!" teriak Tobi histeris. Hidan hanya bersiul, berusaha santai namun keringat mengalir di pelipisnya karena Kakuzu, partnernya waktu itu kini tengah bersiap ingin membunuhnya.
"Sial, kelalaian seperti ini harusnya tak bisa dimaafkan Pein!" bentak Orochimaru, membuat Tobi semakin gemetar ketakutan dan spontan kouhai yang satu itu langsung bersembunyi di balik Deidara yang menggerutu kesal.
Suasana semakin ribut dan keruh saja, saling menyalahkan satu sama lain. Teriakan saling menuduh bergema di gedung kosong tersebut. Sasuke yang pada dasarnya memang tidak suka tempat ramai, spontan menendang meja. Dan binggo! Semua langsung terdiam.
"Bisakah kalian sedikit lebih tenang dan dewasa, hah?" tanya Sasuke dengan nada sarkastik. Mata onyxnya menatap tajam semua yang ada di situ, Pein, Konan, Kakuzu, Tobi, Orochimaru, Deidara, Kabuto, Hidan, sedangkan Kisame tidak ada karena suatu urusan.
"Sekarang, kita harus bagaimana? Cepat atau lambat pasti polisi akan menyadari kita," tanya Kabuto sambil menatap yang lainnya. Satu satu ditatapnya namun tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya, sampai akhirnya pandangannya berhenti menatap Sasuke yang kini tengah asyik merakit pistol kecilnya.
"Bagaimana dengan kau Sasuke? Ada ide tidak?" tanya Kabuto dengan nada tak suka. Sasuke hanya melirik sebentar lalu menghela nafas sesaat.
"Kenapa kalian repot-repot begitu sih?" tanya Sasuke balik membuat yang lain tertegun bingung menatapnya. Sasuke kembali terdiam sementara pistolnya sudah selesai di rakit.
"Maksudmu apa Sasuke?" tanya Hidan. Sasuke hanya mengangkat alisnya, lalu memasukkan peluru ke dalam pistol kecilnya hingga menimbulkan bunyi 'crek'. Sekarang Sasuke mengarahkan moncong pistol itu pada papan sasaran di depannya, siap menarik pelatuk. Dia tersenyum. Senyum licik.
"Kita bunuh saja semua yang menghalangi kita,"
DOR
To Be Continued
Hemm, perasaan saya saja atau di sini Sasuke semakin jahat ya? Jadi inget manga yang aslinya (TT,TT) *nangis di pojokan (?)* maaf ya, lemon SasuSakunya sengaja kulewatin dan lemon SasoSakunya memang cuma slight hehe *dibakar*
Yup, special thanks for :
RiaNamikaze, Mila Mitsuhiko, Yuuki SS Amane, No Name, Imuri Ridan Chara, FB SwidHya cHan nHak d'FouRS, Ka Hime Shiseiten, MozzaMozzi, popoChi-moChi, Uchiha Sakuya-chan, Ame chochoSasu, Shard VLocasters, miss hakuba, Byakugan girl-chan, harunaru chan muach, Yukie, Fuyuzakura-Hime, chiu-chi Hatake, Ella-cHan as NaGi-sAn, Micon, Kuroneko Hime-un, Misa UchiHatake, akasuna hataruno teng tong, DeviL's of KunoiChi, Kurosaki Kuchiki, Fun-Ny Chan, Chiho Nanoyuki, Fusae Deguchi EvilMagnaeKyu, aya-na rifa'i, Utsukushii - KuroShiro6yh, Veisa Kazu, kuroneko hikari-chan, Rhaa Yamanaka, widiiw xie kabogoh sasuke, kin chan usagi, Dhevitry Haruno, Peaphro, Haruchi Nigiyama, aoichan, Deidara-GothicLolita, Misaky Uchiha, nii-san, sava kaladze, Smiley, Je-jess, Enda-chan, ai hime, mysticahime, cassiopeia nishijima suzume, Fujita-Ryou, Vipris, MichiMazu, aahh, elena-chan, Hika Midori chan, Ryukawa-Alisa-chan, cherryblossom0406, ridho
Maaf kali ini aku gak bisa bales review, soalnya tadi aku lihat buru-buru siapa yang ngereview jadi gak sempet lihat apa isi reviewnya. Maaf yaa… m(_,_)m
Tapi aku berterima kasih banget untuk semua yang mereview maupun silent reader, berkat kalian aku bisa membuat fic sampai sini. Terima kasih ya hehe, walau gak nyangka juga di chapter 4 fic ini bisa sampai 200an lebih reviewnya. ARIGATO GOZAIMASU! XD *ojigi*
Mengenai chara death, di Akatsuki nanti memang akan ada yang mati, tapi masih aku pikirin siapa. Kalau antara Sasori dan Sasuke, aku pikir dulu hoho ^^a *kabur sebelum dihajar lagi* oh ya ending pairingnya, saya masih belum tahu. Nunggu perkembangan cerita aja wehehee *plak plak*
Boleh minta review? X3
