Yoo minnaa! Saya kangen fic ini~ X3 #pelukpelukSasukeSasoriSakura #dilempar
Okee, makasih banyak yang udah sabar nungguin fic ini. Just happy reading! (=w=)v
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, alur kecepetan, lemon, typo?
Genre : Romance/Friendship/Crime/Angst
Pairing : SasuSaku, SasoSaku
.
.
CHOOSE ME!
CHAPTER 6 : BRAVE
"Bu-Bunuh?" tanya pemuda yang memakai topeng, mengulang perkataan seorang anggota baru mereka. Dia bergidik ngeri melihat papan tembakan yang bolong tepat di tengah karena baru saja terkena peluru yang meluncur.
"Ya, telingamu tidak bermasalah kan Tobi?" tanya pemuda raven yang tadi menembakkan peluru tersebut. Dia kembali melihat-lihat pistol kecilnya, "aku paling tidak suka permainan lari dan sembunyi, lebih seru permainan membunuh dan dibunuh, pemenangnya langsung terlihat," ujar Sasuke—nama pemuda itu, dia menyeringai licik.
"Lagipula.." Sasuke menatap semua anggota yang ada di situ. Dia mendengus pelan, "..kalau melakukan ini, aku menang karena dua lalat akan mati dalam satu tepukan," ucapnya dan terkekeh pelan membuat yang lain sedikit merinding ngeri melihat si anggota baru yang sepertinya jauh lebih kejam dari Yakuza sekalipun.
"Apa maksudmu Sasuke?" tanya Pein, sang pemimpin organisasi.
Sasuke memutar bola matanya, "Ada polisi konyol yang ingin kubunuh," dia mengangkat kakinya ke atas meja, "dia sudah menggangguku sejak SMA bahkan sampai sekarang. Aku sudah muak untuk bersabar dengannya," dengus Sasuke, lalu dia membuang ludah di sepatu Hidan yang ada di dekatnya, membuat laki-laki berambut disisir ke belakang itu menggerutu kesal.
"Tapi—"
BRAAAK
"ANGKAT TANGAN!" teriakan yang berasal lebih dari satu orang itu menggema dari belakang Sasuke. Sepuluh orang yang ada di sana kaget dan spontan berbalik, tak terkecuali Sasuke.
"Cih,"
Yang lain langsung mengambil pistol mereka, terjadi perang tembak-tembakan di dalam gedung industri itu. Berbeda dengan Sasuke yang langsung menunduk dan memakai topeng untuk menutupi wajahnya. Karena—ah benar dugaan Sasuke, saat dia mengangkat kepalanya yang tertutupi topeng, seorang polisi berambut merah dan berwajah baby face mengarahkan pistol tepat di depan wajahnya. Mata onyx Sasuke mendelik dan bertatapan tajam dengan mata Hazel di depannya.
"Jangan bergerak!" perintah si rambut merah itu. Sasuke terdiam sesaat sebelum akhirnya dia mengambil pistol di kantong kakinya yang tertutupi celana, tapi sayangnya terlihat oleh Sasori—si polisi tersebut.
Dor
"Ukh,"
"KUBILANG JANGAN BERGERAK!" teriak Sasori marah dan mengambil borgol di kantong celananya. Sasuke yang tak peduli lagi walau lengan kirinya terluka, segera berlari nekat menerobos polisi muda itu.
Sasori sedikit terkejut dengan aksi si mafia tersebut. Tanpa menunggu perintah apapun, Sasori mengejarnya keluar dari gedung sementara teman-temannya yang lain masih adu tembak dengan para mafia yang lain. Di luar gedung adalah hutan yang tidak terlalu lebat. Berkali-kali Sasori dan Sasuke harus melompati dahan-dahan kering atau lubang yang entah kenapa ada di sana. Nasib baik sepertinya tidak berpihak pada Sasuke, di ujung jalan ternyata ada tebing yang menghalangi. Seandainya lengan kiri Sasuke tak terluka, dia bisa saja memanjat tebing yang tak terlalu curam itu.
Di saat Sasuke berpikir keras harus apa yang dilakukannya, dia mendengar suara pistol yang diisi pelurunya. Sasuke menoleh dan menatap Sasori yang kelelahan karena mengejarnya, sama seperti dirinya, "Hah hah menyerahlah," perintah Sasori lagi. Keringat mengalir di pelipisnya.
Sasuke benar-benar kesal, bahkan dia hampir lupa kedudukannya sekarang, tanpa sadar dia mengucapkan, "Dasar bodoh," teringat, Sasuke menutup mulut dengan tangannya memperhatikan Sasori yang nampak terkejut.
"Suara itu.. Kau.." tanpa memberi kesempatan pada Sasori untuk melanjutkan ucapannya, Sasuke melempar batu di belakangnya dan tepat hampir mengenai kepala Sasori seandainya saja laki-laki berambut merah itu tidak mempunyai reflek gerakan yang bagus.
Di saat menghindar itulah, secepat kilat Sasuke melewati Sasori. Sempat ketika Sasuke tepat berada di samping Sasori yang tengah mengembalikan keseimbangannya, mata mereka bertemu. Onyx menantang Hazel. Sasori tertegun sesaat menatap mata di balik topeng tersebut, bahkan saking kagetnya dia terpaku menatap punggung yang semakin jauh ke depan, berlari dan menghilang di balik semak belukar. Insting polisi yang harus menangkap penjahat apapun yang terjadi, hilang begitu saja dari Sasori.
Sasori menutup matanya, "Suara.. dan mata itu.." gumamnya. Tangannya terangkat untuk menyentuh kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
"Ini tidak mungkin,"
.
.
Sasuke berjalan terhuyung menuju apartemennya. Cukup menderita memang, dari dikejar Sasori tadi, dia mengeluarkan pisau dan menaiki taksi. Setelah menawan sang supir agar tidak bertanya macam-macam, akhirnya dia diantarkan juga menuju apartemen tempat tinggalnya sekarang. Begitu sampai di sana, yah dia sudah memperkirakan apa reaksi Sakura terutama melihat darah mengalir dari lengan kirinya bahkan sampai menetes pada karpet di bawahnya.
"Sasuke? Hei, kenapa bisa begini?" tanya Sakura panik dan memegang lengan Sasuke begitu mereka udah masuk ke dalam. Dengan pelan-pelan Sakura membukanya, "kau ditembak? Kenapa bisa?" tanya Sakura begitu melihat pusat luka Sasuke yang membentuk seperti lubang dan keyakinan Sakura semakin bertambah saat melihat peluru masih bersarang di dalamnya.
Bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, saat ini Sakura juga menjabat sebagai dokter di rumah sakit pusat Konoha. Kemampuannya tak diragukan ditambah dengan keramahannya, baru beberapa minggu saja Sakura sudah mempunyai pelanggan tetap. Meski Sakura bertanya, Sasuke tidak menjawab dan tidak berniat. Masih sabar menunggu akhirya setelah menghela nafas, Sakura masuk ke dalam kamarnya dan mengambil semacam kotak P3K.
Sakura mendudukkan dirinya di samping Sasuke, memegang hati-hati luka yang menganga itu, "Tahan ya," ucap Sakura dan sesaat kemudian Sasuke meringis kesakitan dan mencengkram sofa di bawahnya. Dengan pinset yang cukup besar, Sakura berusaha mengambil peluru yang bersarang itu. Dan.. berhasil, Sasuke terengah sambil menatap peluru yang berada di jepitan pinset Sakura.
Sakura tidak membuangnya tapi menaruh peluru itu pada piring di sampingnya, keduanya masih terdiam saat Sakura mulai membersihkan lalu memperban luka Sasuke hingga akhirnya sang istri memulai pembicaraan, "Setelah ini aku meminta penjelasan lengkap darimu Sasuke," sang suami terdiam, "kenapa kepala perusahaan biasa sepertimu bisa tertembak begini? Kalau Sasori aku masih bisa maklum tapi kalau kau—"
"Tidak ada urusannya denganmu," potong Sasuke cepat sambil menarik tangannya yang sudah selesai diperban Sakura, dia menatap istrinya tajam membuat Sakura tertegun.
"A-Apa maksudmu? Aku kan i-istri—"
"Kau belum sepenuhnya menjadi istriku," Sasuke memberi jeda sesaat, "setengah dari dirimu masih dimiliki Sasori, karena itu kalau kau memang segitu inginnya aku bercerita banyak atau lebih terbuka, pilih aku jadi suamimu, ceraikan Sasori, dan masalah selesai," terang Sasuke dengan nada agak membentak dan dingin membuat Sakura terdiam seribu bahasa. Jelas saja, Sasuke tidak pernah marah seperti ini sebelumnya. Memang dia dingin, tapi itu memang ciri khasnya dan ini terlalu tiba-tiba.
Sakura tengah menunduk saat seseorang membuka pintu apartemen mereka, "Tadaima," ucap orang yang membuka pintu apartemen itu. Sasori, dia terdiam sesaat begitu melihat Sasuke dan Sakura yang terlihat menegang.
"Kalian kenapa?" tanya Sasori, lalu dia melirik Sasuke. Lebih tepatnya perban yang menutupi lengan kiri Sasuke, "terluka? Karena apa?" tanya Sasori dingin. Sakura sedikit kaget mendengar nada bicara Sasori yang biasanya ceria itu menjadi dingin, dia mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke juga Sasori yang tengah saling menatap dengan tatapan membunuh.
Begini, sebenarnya tatapan saling membunuh antara Sasuke dan Sasori sudah biasa bagi Sakura. Tapi kali ini beda, benar-benar dingin. Dan lagi, deathglare yang biasanya, tidak akan setegang ini dan malah terkesan bercanda. Sakura yakin, walau dua suaminya ini sering bertengkar satu sama lain, dia merasa masih ada ikatan persahabatan erat antar keduanya. Karena, Sakura selalu merasa hangat di antara mereka. Alasan simple memang, tapi itu sangat berarti bagi Sakura. Kalau tidak, kenapa Sakura bisa nyaman berada di antara mereka selama bertahun-tahun sejak SMA?
"Sakura," panggilan Sasori membuyarkan lamunannya, Sakura menatap Sasori yang tersenyum lembut kepadanya, "sudah malam, lebih baik kau tidur duluan. Katamu besok ada janji dengan pasien pagi-pagi kan?" tanya Sasori. Sakura menatap Sasori sesaat lalu mengangguk ragu.
Sakura tahu dan mengerti kalau Sasori mengatakan itu hanya sekedar mengusirnya supaya dia tidak terlibat. Terlibat apa? Sakura juga tidak tahu, yang pasti jelas sekali Sasori tidak ingin dia mengetahuinya demi dia juga. Sakura menurut dan masuk ke dalam kamarnya dengan harapan dua suaminya di luar kamar kembali damai seperti biasa. Perasaannya sangat tidak tenang.
.
"Ada apa Sasori?" tanya Sasuke setelah lama diam dan menunggu Sasori tak kunjung bicara, "tak biasanya kau mengusir Sakura seperti itu," tanya Sasuke dingin dan duduk menyandar pada sofa di belakangnya. Menatap kosong acara pada TV di depannya.
Sasori mulai geram dan dengan spontan dia mencengkram lengan Sasuke yang dibalut perban membuat Sasuke mengerang dan menyingkir paksa tangan Sasori, "Luka itu, kau dapat dari mana?" tanya Sasori penuh selidik.
Sasuke tidak menjawab, "JAWAB AKU SASUKE!" teriak Sasori marah, dia berusaha menarik nafas mengendalikan amarahnya agar jangan sampai menghajar laki-laki di depannya, "kau.. apakah.." Sasori menggigit bibir bawahnya, tidak ingin mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
"Apa?" tanya Sasuke dingin, "Tanpa perlu kujawab, aku yakin kau sudah tahu," mendengar jawaban Sasuke, membuat amarah yang sedari tadi ditahan si laki-laki berambut merah itu meledak.
Sasori menarik kerah kemeja Sasuke "Kau! KENAPA KAU MENGKHIANATI KAMI? APA MAKSUDMU?" teriak Sasori, mata hazelnya menatap tajam sang onyx. Dan lagi-lagi, Sasuke hanya diam.
"Aku tidak mengkhianati siapapun," jawab Sasuke datar, membuat Sasori tambah mendelik, "kau bukan siapa-siapaku, Sakura juga hanya istri setengah, kalau dia sudah memilih maka selesai sudah hubungan salah satu di antara kita bertiga," lanjut Sasuke tanpa sedikit pun mengubah ekspresinya.
"Lalu? Itu kan kalau Sakura memilihku, kalau dia memilihmu bagaimana, hah?" tanya Sasori dengan sedikit agak membentak. Sasuke mendengus.
"Peduli setan, itu berarti dia yang bodoh,"
BHUAG
Habis sudah kesabaran Sasori, laki-laki berambut merah itu menonjok keras wajah Sasuke hingga sang pemuda raven tersebut terhuyung mundur. Sasuke jatuh di atas karpet. Dia mengelap darah yang muncul di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Mata onyxnya menatap tajam Sasori yang benar-benar diselimuti api kemarahan sekarang.
"Sekarang," Sasuke membuka mulutnya, "kau akan melaporkanku pada polisi yang lain?" tanya Sasuke dingin.
Sasori terdiam sesaat, "Sebagai polisi, aku harus menegakkan keadilan yang sebenarnya. Tidak peduli siapapun pelakunya, asal dia melakukan kejahatan maka dia harus mendapat hukumannya, begitu pula kau Sasuke," jelas Sasori panjang lebar.
"Kesimpulannya, kau akan melaporkanku bukan?" tanya Sasuke lagi. Dia bosan, entah apa rencana di balik semua ini. Sasori yakin benar, ada yang ingin dilakukan Sasuke.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Sasori balik. Mata hazelnya terlihat sedih, tak biasanya laki-laki ceria itu memperlihatkan ekspresinya yang seperti itu.
Sasuke menggeleng, "Tidak, hanya untuk kepuasan pribadi," gumam Sasuke, "aku berbeda denganmu, aku bukan orang yang dengan gampangnya bicara omong kosong seperti 'aku pasti akan menegakkan keadilan' atau 'aku akan menuruti semua aturan' dan sebagainya," Sasuke menatap Sasori. Dia menyeringai.
"Intinya, aku tidak mau disamakan denganmu Sasori. Karena itu, kalau kau menegakkan keadilan, maka akulah yang akan menghancurkan keadilan itu. Kalau kau melindungi, maka akulah yang membunuh, kita akan terus berbeda sampai nanti, ini adalah ajakan perang dariku untukmu Sasori.."
"Sampai saat Sakura memilih di antara kita, maka dialah pemenangnya,"
Sasori tertegun mendengar penuturan Sasuke, sungguh dia tak pernah menyangka mantan adik kelasnya bisa se-kejam itu. Atau mungkin lebih tepatnya tidak pernah menyangka kalau Sasuke begitu membencinya.
"Sasuke," panggilan Sasori membuat Sasuke mendongak, "ah tidak, sudah malam. Kita bicarakan besok saja," ungkap Sasori yang tiba-tiba berubah tenang. Sasuke tidak tahu, bahwa saat ini sang senpai tengah menahan rasa sakit yang luar biasa di hatinya. Sasori tidak bisa bohong, dia benar-benar menganggap Sasuke adalah salah satu puzzle penting dalam kehidupannya.
Jika potongan puzzle itu tidak ada, maka permainan bernama kehidupan itu akan terus menggantung menyakitkan sampai akhir.
Sasuke terdiam dan menundukkan kepalanya sementara Sasori berjalan melewatinya. Mereka saling membelakangi satu sama lain, Sasuke yang belum bergerak dari posisinya dan Sasori yang saat ini tengah berjalan menuju kamarnya. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saat ini mereka terfokus pada seseorang, seseorang yang harusnya tidak terlibat masalah ini. Dia hanya korban.
"Hei," panggilan Sasuke membuat langkah Sasori terhenti, "mau kuberi tahu salah satu alasan kenapa aku bergabung dengan mafia?" tanya Sasuke tanpa menoleh sedikitpun. Sasori tidak menjawab, tapi Sasuke tahu dan merasakan bahwa si pemuda baby face itu masih ada di belakangnya.
Jawaban berikutnya membuat mata hazel Sasori setengah melotot.
"Aku melakukan ini semua, demi Sakura,"
.
To Be Continued
Yosh! Maaf kalau mengecewakan karena tidak ada lemon, tapi tenang saja next chap pasti ada kok, tunggu ya :)
Alasan Sasuke masuk mafia akan dijelaskan secara detil (kalau bisa) di next chap hohoho.
Haha special thanks for :
Fuyuzakura-hime, miss hakuba, Mila Mitsuhiko, Ka Hime Shiseiten, Shinichi SasuSaku, Arzhetty, KuroShiro6yh, Imuri ridan Chara, Haruchi Nigiyama, Misa UchiHatake, Lavender Hime-chan, Kuroneko Hime-un, moonmu3, Fujita-Ryou, me, Fun-Ny Chan, Shard Vlocasters, Michiru No Akasuna, Chima Chigoy Hatake, DragoNite Usui, harunaru chan muach, widiiew xie kabogoh sasuke, Ame D' Jigoku kara no cho, Azuka Kanahara, MagnaEvil, Vipris, Micon, aster a daimonia eukaristia al, Aichiruchan, Dhevitry Haruno, aya-na rifa'i, sava kaladze, Oline Takarai, kafuyamei vanessa-hime, Chousamori Aozora, Peaphro, Delasachi luphL, Hika Midori Chan, nissa-chan, Katsuya Fujiwara, kemmy yagami, rizkauchiha29, Ryuuka-Ryuu Anegakatto
Dan untuk yang lainnya juga, terima kasih :D
Hmm, sebenarnya aku agak ragu mengatakan ini. Tapi ternyata risih juga kalau ada yang 'meniru' fic buatan kita sendiri. Yah kecuali jika yang 'meniru' itu meminta izin pada pembuat fic yang bersangkutan. Baru-baru ini juga ada lagi sih, aku tidak perlu mengatakan siapa yang kumaksud itu, biar sadar sendiri wkwkwk. Mengingat beberapa ficku sudah banyak yang ditiru juga. Bukan apa-apa, justru aku kasihan sama yang niru ficku itu, udah gak ada ide lagi bukan? Sampai niru karya orang? Malu dong~ LOL :P
Ah sudahlah, mind to review? :)
