Osh! Ketemu lagi! Sebenarnya idenya udah kepikir kemaren-kemaren. Cuma nunggu mood untuk buat lemonnya itu yang susah, sebab akhir-akhir ini gak niat alias males bikin lemon, lagipula aku ada rencana berhenti -,-

Yup sudah dulu curcolnya, selamat membaca! XD


Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : Lime, eksplisit, slight threesome, slight bloody, OOC, AU, misstypo?

Genre : Romance/Friendship/Crime

Pairing : SasuSaku, SasoSaku

.

.

CHOOSE ME!


CHAPTER 7 : THE REASON

Keadaan bertambah tegang saja. Kedua dari mereka tidak ada yang mau duluan untuk memulai pembicaraan. Hazel menantang Onyx. Entah mana yang menang. Keduanya sama-sama kuat, keras kepala, menantang dan berbahaya. Tentu saja pernyataan laki-laki pemilik mata berwarna onyx itu sama sekali tidak memuaskan laki-laki yang memiliki mata Hazel. Lama kemudian akhirnya sang pemilik hazel menghela nafas, dia mengalah. Setidaknya untuk berada di situasi seperti ini, memang harus ada yang dewasa dan dapat mencairkan suasana. Bukan begitu?

Hazel kembali menatap onyx, "Demi Sakura katamu?" tanyanya sinis. Jelas sekali dia ingin mengejek atau bahkan menertawakan pernyataan yang baru saja tadi keluar dari bibir pemilik mata onyx, "Kau sudah gila. Memang kau pikir Sakura akan bahagia jika kau menjadi mafia? Hah?"

"Kau yang tidak tahu apa-apa, tidak usah sok menghakimiku." Jawab sang onyx cepat. Uchiha Sasuke—pemuda berambut seperti raven dan berwarna biru donker itu menyipitkan bola mata onyxnya, "laki-laki manja sepertimu lebih baik kembali ke kamar dan tidur!"

"Tidak sampai kau menjelaskan alasanmu yang tidak logis itu," Akasuna no Sasori menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "kau harusnya berterima kasih padaku yang masih mau mendengarkan alasanmu," sindirnya dengan nada sinis. Sementara Sasuke malah memutar bola matanya bosan.

"Terserah, aku mau tidur," pemuda raven tersebut berdiri. Sambil memegang lengan kirinya yang berdarah, dia berjalan terhuyung menuju kamarnya. Sebenarnya Sasori tidak puas dengan hal ini, tapi tetap saja dia tidak tega melihat mantan adik kelasnya itu kini sedang menahan rasa sakit. Kalau boleh jujur, Sasori tidak mau melaporkan Sasuke pada polisi lainnya.

Tapi apa mau dikata, Sasori sudah terlanjur mengucapkan kata-kata sebagai polisi sejati. Dan polisi sejati, akan menangkap pelaku penjahat—tak peduli siapapun itu.

Polisi sejati harus membuang perasaannya.

Sementara di hati Sasori kini terjadi perdebatan sengit, Sasuke pun sama. Bedanya dia hanya kembali teringat pada masa lalunya. Masa di mana dia baru diajak menjadi mafia, alasan mengapa masuk organisasi tersebut. Berputar cepat bagai gasing yang tidak akan pernah berhenti di kepalanya.

.

Sasuke's Flashback

Setahun yang lalu

GLEGAAR

Suara petir menggelegar di kawasan Konoha saat ini. Banyak orang yang kaget mendengar suara petir yang tiba-tiba seperti itu. Sebenarnya sudah biasa, mengingat dari kemarin Konoha sudah tersiram air hujan selama dua hari berturut-turut dan petir-petir terkadang saling menyahut. Yang pasti berkat cuaca yang terus menerus seperti ini, mengakibatkan banyak orang lebih memilih beraktivitas di dalam rumah atau apartemen mereka. Tak terkecuali dengan Sakura dan kedua suaminya.

Saat ini mereka bertiga sedang menonton TV di ruang tengah. Sasori, Sakura, Sasuke duduk berurutan dari kiri ke kanan sofa. Sasuke yang memegang kendali atas remote TV, sedari tadi dia mengganti channel namun tidak ada acara yang menarik bagi mereka bertiga. Terus dan terus berganti channel hingga Sakura menguap lebar karena bosan.

"Kalau menguap, mulutnya ditutup Sakura-chan," ucap Sasori sambil tersenyum dan menutup mulut Sakura yang terbuka, "nggak baik buat perempuan manis lho," gombal Sasori, membuat wajah Sakura memerah dan di ujung, Sasuke mendengus kesal.

"Gomen," balas Sakura dengan wajah memerah karena malu. Sasori tersenyum melihat wajah Sakura yang blushing itu. Manis sekali, sampai-sampai rasanya Sasori ingin melahapnya sampai habis.

"Nyuuu kau sangat menggemaskan Sakura-chaaaan~!" ucapnya lalu dia memeluk Sakura dengan kencang hingga membuat seorang pemuda raven mendelik tajam melihatnya. Sementara itu Sasori menurunkan kepalanya, hingga nafasnya dapat menggelitik tengkuk Sakura, "kau sangat manis, rasanya aku ingin 'memakan'mu sampai habis,"

Seringai muncul dari bibir tipis dan hangat milik Sasori. Awalnya Sasuke memang tidak peduli, bodo amat lha apa yang mau di lakukan si baka merah itu. Namun mendengar Sasori mengatakan 'memakan' membuat Sasuke spontan menoleh. Benar firasat buruknya, tanpa perlu bicara—cukup Sasuke melihat seringai Sasori, maka dia sudah mengerti apa rencana saingan terbesarnya itu.

"Makan? Oh, kau lapar ya? Sebentar, aku buatkan makan malam dulu," ucap Sakura apa adanya sambil menyingkirkan kepala Sasori dari lehernya. Sasuke hanya memutar bola matanya bosan sementara Sasori mengerucutkan bibirnya. Heran, kepolosan istri mereka yang satu ini sepertinya memang tidak bisa hilang dari dulu.

Sakura beranjak dari sofanya, namun sebelum dia berjalan menjauh tangan kanannya sudah lebih dulu digenggam Sasori, "Aku memang lapar Sakura-chan, tapi aku maunya kau," pinta Sasori dengan mata puppy eyes yang dibuat selucu mungkin.

Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung, sementara kini dia merasakan seseorang menggenggam tangan kirinya—Sasuke, "Hn kebetulan, aku juga lapar," beda dengan Sasori yang masih berusaha menahan seringai mesumnya, Sasuke dengan santai menunjukkan seringainya tanpa beban. Seringai mesum yang seksi.

Sasori menatap Sasuke sebal dengan tatapan 'ngapain-sih-kau-ikut-ikutan-segala?' dan dibalas Sasuke dengan tatapan 'terserah aku lha, kau menjauh saja sana!' akhirnya di balik punggung Sakura terjadi perang antar komunikasi mata—tidak penting. Sementara itu, Sakura melepas genggaman kedua suaminya yang semakin lama semakin kuat, dia berbalik menatap mereka yang memasang tampang se-innocent mungkin, "Kalian tunggu saja, aku pasti akan membuatkan malam malam yang terbaik!" ucap Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.

Bah, dia masih belum mengerti juga.

Sasori yang gusar akhirnya menarik tangan Sakura, memaksa gadis itu untuk kembali duduk tenang di antara dia dan Sasuke, "Kami tidak mau makan malam yang seperti itu! Iya kan Sasuke?" tanya Sasori, Sasuke mengangguk mantap, "Ya, membosankan," gumam si pemuda raven.

"Lalu kalian mau makan apa? Menu hari ini beda dari biasanya kok, ada sushi, sashimi, u—"

Sasuke menutup mulut Sakura dengan tangan kekarnya membuat dua iris hijau emerald melihat ke arahnya, "Sayangnya makanan seperti itu terlalu biasa untuk kami," bisik Sasuke dengan sangat sensual di telinga kiri Sakura membuat gadis itu sedikit bergidik. Apalagi saat Sasuke mulai menjulurkan lidahnya dan menjilat perlahan cuping telinga gadis itu membuat deru nafas Sakura semakin cepat.

Menyadari itu, Sasori merengut kesal. Dia sedikit mendorong wajah Sasuke dengan tangannya, hingga kini dia yang berhadapan dengan Sakura, "Kita mulai ya, kalau terlalu lama kami bisa kelaparan," ucap pemuda bermata hazel itu sambil mengacak rambut soft pink istrinya.

Dua bola mata berwarna hijau emerald yang indah itu membulat tatkala Sasori merapatkan bibir mereka berdua. Untuk tahap awal, Sasori cukup ganas karena dia memiringkan kepalanya ditambah dengan gerakan menekan yang membuat Sakura mengerang. Sasori menjilat-jilat bibir tipis ranum yang ada di hadapannya. Meminta izin untuk masuk, menerima dirinya bermain di dalam mulut sang istri. Awalnya Sakura tidak mengizinkan, dia tidak mau lebih atau bisa dibilang takut. Sampai tiba-tiba Sakura mendesah hingga mulutnya terbuka dan akhirnya dengan paksa Sasori langsung menerobos masuk. Cukup dengan beberapa tarian lidah, Sakura sudah tunduk padanya hingga seisi mulut Sakura berhasil dijajah olehnya.

Namun tentu saja Sasori heran kenapa Sakura yang sedari tadi mati-matian bertahan, tiba-tiba mendesah begitu saja dan membuka mulut untuknya. Padahal Sasori yakin sekali tangannya tidak melakukan aktivitas apapun selain membantu untuk menekan kepala Sakura pada ciumannya. Sasori melirik ke bawah—ah benar dugaannya, Sasuke mengambil alih bagian bawah atau titik-titik yang paling sensitif di tubuh istri mereka.

Kali ini saja, Sasuke memilih untuk mengalah dari Sasori dan duduk di bawah Sakura. Dia membuka kaki jenjang gadis itu agar dia bisa menyelinap di tengahnya. Sasuke melirik atasnya, dia menyeringai melihat Sasori yang susah payah meminta izin agar Sakura mau menerima keberadaan lidahnya. Sasuke menyangga tubuhnya pada dua kaki yang dilipat di bawahnya, mengangkat kaos Sakura perlahan, awalnya dia menjilat di dalam pusar Sakura dengan gerakan berputar. Melihat Sakura masih berusaha bertahan, akhirnya Sasuke menggerakkan kepalanya ke atas, menjilat sampai basah setiap lekuk perut Sakura yang langsing itu, hingga kini Sasuke sampai di bawah dada Sakura yang tertutupi bra.

Dengan kepalanya, Sasuke mendorong bra itu ke atas hingga Sakura menggeliat geli karena rambut Sasuke yang bergesekan di antara dua bukit kembarnya. Sampai akhirnya Sasuke mengeluarkan lidahnya dan menjilat ujung bukit yang sudah memerah, "A-Aah—Hmph!" akhirnya berkat Sasuke, Sasori dapat memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sakura. Sementara Sasori sibuk menjajah mulut Sakura, dia melirik Sasuke yang menatapnya seperti berkata, 'Berterima kasihlah padaku,' dan Sasuke kembali pada kegiatannya untuk menghisap, menjilat, dan sesekali menggigit buah dada istrinya.

Sasori mendengus perlahan, dia kembali pada kegiatannya menjelajah mulut Sakura. Sementara Sasuke juga tetap pada kegiatannya merangsang di dada Sakura. Kemudian saat Sasuke berpindah memanja buah dada Sakura yang kiri dengan mulutnya, tangan kanan Sasori bergerak untuk meremas buah dada yang kanan. Akhirnya tangan kiri Sasuke yang mengalah, menyelip ke balik rok Sakura. Mengelus kedua paha di dalamnya dan menyelip masuk ke dalam sesuatu di antara pangkal pahanya membuat Sakura menggerakkan kakinya.

"Ngh, ah aaah," Sasori melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas dan sekarang dia bisa melihat Sakura mendesah dan mendongakkan kepalanya ke atas akibat serangan Sasuke di bawah. Tapi, hei gila saja! Masa' Sakura harus melayani mereka berdua sekaligus?

Hahhh, akhirnya Sasori memilih untuk mengalah. Tapi sebelum itu, dia menundukkan kepalanya ke dalam leher Sakura dan menggigitnya memberi tanda di leher sebelah kanan. Pasalnya, Sakura merasakan dua gigitan di lehernya. Saat dia melirik kanan, memang Sasori yang menggigit namun dia tidak menyangka Sasuke yang sepertinya tadi sibuk dengan buah dadanya kini tengah menggigit lehernya yang sebelah kiri. Sehingga di leher Sakura kini ada dua gigitan dengan pemilik yang berbeda. Setelah memberi gigitan itu, Sasuke langsung berdiri dari sofanya dan meninggalkan mereka berdua yang menatapnya kebingungan.

"Aku baru ingat ada urusan, aku pergi dulu," ucap Sasuke sambil terus berjalan tanpa berbalik—menuju ke kamarnya. Hingga Sasori dan Sakura hanya bisa melihat punggung laki-laki itu.

Begitu Sasuke keluar dari kamarnya dan sudah memakai jaket hitam, Sakura langsung berdiri dan menatap Sasuke—yang entah kenapa setiap melihatnya pergi, Sakura selalu merasakan firasat buruk, "Kau mau ke mana Sasuke? Masih hujan, belum lagi ada petir menggelegar dimana-mana, lebih baik tidak usah atau tunggu hujan reda dulu," cegah Sakura dengan nada khawatir. Sasori hanya terdiam melihat reaksi Sakura yang seperti itu.

Sasuke pun sama, dia hanya menatap kedua iris emerald hijau itu tanpa bereaksi apapun sebelum akhirnya dia menghela nafas dan menepuk-nepuk kepala istrinya saat ini, "Tidak bisa, ini benar-benar penting," jawabnya dengan nada yang sangat pelan, "lebih baik sekarang kau siapkan makan malam," lanjutnya. Tadinya Sakura ingin membantah lagi, tapi Sasuke sudah terlanjur berjalan melewatinya, menuju pintu keluar.

Sasori mengekori Sasuke berjalan hingga pemuda raven itu keluar dari pintu dan hilang dari sudut matanya. Setelah itu bola mata Hazelnya berputar berbalik menatap gadis berambut soft pink yang tengah menunduk sedih. Dia berdiri dan mendekati Sakura, menepuk-nepuk kepalanya—seperti yang Sasuke lakukan tadi. Saat Sakura mendongak untuk menatapnya, Sasori tersenyum cerah.

"Tenang, Sasuke akan baik-baik saja. Bagaimana kalau sekarang kau siapkan makan malam seperti yang diminta Sasuke tadi? Agar nanti saat si pantat ayam itu pulang, dia bisa langsung makan, oke?" jelas Sasori dan dia pun mengedipkan sebelah matanya. Sakura terdiam lalu tersenyum kecil, perlahan dia mengangguk dan meninggalkan Sasori menuju dapur.

Sasori hanya diam menatap punggung Sakura yang kini berada di dapur dan tengah menyiapkan bahan-bahan makanan malam ini. Setelah itu Sasori memutar tubuhnya, mengalihkan pandangannya pada hujan lebat yang terus mengguyur Konoha akhir-akhir ini dari balik jendela besarnya. Sasori mendekati jendelanya perlahan, menatap hujan yang sangat deras itu. Dia bisa melihat di bawah, mobil Sasuke yang berwarna biru tua—walau lebih terlihat hitam—keluar dari basement apartemen ini. Sebenarnya dari dulu dia selalu memikirkan kemana Sasuke pergi. Mantan adik kelasnya itu tak pernah sekalipun memberi tahu kemana dia pergi, apa urusannya dan sebagainya.

Ah Sasuke terlalu tertutup pada kami. Bisik si pemuda berambut merah itu dalam hati. Sasori menyentuh jendela besar yang bening itu dengan tangannya. Se-misterius-nya Sasuke, tetap saja akhir-akhir ini si laki-laki bermata onyx obsidian itu terlalu sering pergi bahkan di tengah cuaca seperti ini. Jujur saja, dalam hati kecil Sasori sebenarnya dia sangat khawatir bahkan kalau bisa dia ingin menawarkan diri untuk ikut bersama Sasuke tadi. Sasori menghela nafas, dia menempelkan keningnya pada jendela di depannya. Mata hazelnya tertutup oleh kelopak matanya yang terpejam.

"Sebenarnya kau kemana Sasuke?"

.

Mobil Mercedes Benz biru tua itu terus melaju menerjang derasnya hujan. Petir menggelegar, kilat dimana-mana tetap tidak menghentikan niatnya. Pikirannya kali ini hanya satu, sampai ke tempat tujuan yang akan merubah kehidupannya juga kehidupan dua orang yang kini ada di apartemen. Sasuke mendengus kesal, saat kemarin dia bertemu dengan salah satu anggota mafia yang mengaku bernama Tobi dan mengajaknya untuk bergabung, aslinya dia ingin menolak. Namun dia terkejut saat melihat Uchiha Itachi—kakak yang paling dihormatinya berdiri di belakang Tobi. Mengulurkan tangan, untuk mengajak adik kesayangannya bergabung.

Sasuke membuka mata, dia menoleh. Dia sudah sampai di depan gedung kosong yang merupakan markasnya di pinggiran antara Konoha dan Suna. Menghela nafas, Sasuke membuka pintu mobilnya, menerobos hujan dan segera mengetuk pintu besi mantan gedung industri tersebut. Saat pintu terbuka, Sasuke menatap kakaknya berdiri dan tersenyum padanya.

"Selamat datang Sasuke," sambut Itachi dengan senyum hangatnya. Dia mengajak Sasuke masuk, lalu menyuruh adiknya itu duduk di salah satu kursi dan memberinya segelas kopi hangat, "minumlah. Pasti melelahkan selama satu jam menaiki mobil untuk menerobos hujan lebat seperti ini," ucapnya dengan nada yang lembut. Sasuke mengangguk canggung, dia meminum kopinya sementara dia melirik anggota Akatsuki lain yang kini sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Kebanyakan dari anggota Akatsuki memang anak buangan, sehingga mereka tidak mempunyai rumah ataupun keluarga. Mungkin itu yang menyebabkan mereka bisa akur satu sama lain dan bahkan bisa saja mereka saling menganggap saudara bukan? Sasuke kembali menoleh pada Itachi sekarang, dia merasa aneh saat melihat sosok kakak yang tengah menyeruput kopi di depannya ini. Entah ada apa, yang jelas Sasuke merasa dia tidak akan pernah melihat kakaknya seperti ini lagi.

Oke cukup, buang jauh-jauh pikiranmu, Sasuke!

"Sasuke?" pemuda raven itu tersentak karena lamunannya terbuyarkan, "Ada apa? Kau kelihatan gelisah?" tanya Itachi dengan cemas. Sasuke menggeleng perlahan.

"Tidak," jawab Sasuke pelan, "Kak, ada yang ingin kutanyakan," sang adik menaruh gelas kopi hangat di depannya dan menatap kakaknya tajam.

"Hn, katakanlah,"

"Sebenarnya..." Sasuke menghela nafas perlahan, "kenapa kakak menjadi anggota mafia Akatsuki ini?" tanya Sasuke akhirnya. Itachi hanya menatap adik semata wayangnya tersebut tanpa ekspresi.

"Aku—"

"PAKAI PENUTUP KEPALA KALIAN!" teriak Kakuzu tiba-tiba dari kejauhan. Membuat Sasuke tersentak saat Itachi dengan paksa langsung menutupi kepala adiknya dengan penutup kepala yang ada di sakunya. Itachi memaksa Sasuke menunduk sementara dia memakai penutup kepalanya juga.

BRAK

Seusai kata-kata Kakuzu tadi, pintu besi tadi terbuka dengan kencang. Tanpa ba-bi-bu lagi, para anggota Akatsuki langsung menembakkan pistol-pistol mereka sementara Itachi memaksa Sasuke—yang masih belum berpengalaman—untuk merunduk dan sembunyi di bawah meja. Sasuke hanya terpaku melihat polisi yang notabene cuma lima sampai tujuh orang itu satu persatu ditembak hingga jatuh dan tewas. Dia bisa mendengar beberapa dari anggota Akatsuki terutama Tobi yang tertawa senang karena berhasil mengalahkan para polisi itu.

Tapi dugaan mereka yang mengira semua polisi tewas itu salah, seorang di antara mayat polisi itu bangkit dengan susah payah dan menggapai pistol. Dan—DOR DOR! Dua tembakan tepat mengenai seseorang. Mata hitam Sasuke membulat melihat darah menetes di depannya. Namun yang tidak dia sangka adalah seseorang yang terkena tembakan itu.

"ITACHI!" begitu teriakan para anggota yang lain. Telinga Sasuke terasa kelu mendengarnya. Tidak mungkin tidak mungkin, begitu katanya diulang-ulang dalam hati. Tapi saat orang di depannya itu terjatuh dan tertidur di depannya yang tengah tiarap di bawah meja. Onyx Sasuke semakin membulat saja menatap wajah kakaknya yang terlihat kesusahan bernafas. Wajar saja, satu tembakan mengenai jantung dan satunya mengenai paru-paru kiri.

Sasuke merangkak perlahan mendekati kakaknya yang sepertinya tengah sakaratul maut. Itachi yang merasa didekati pun susah payah berusaha menoleh ke arah Sasuke. Kedua kakak adik itu saling bertatapan tanpa kata, hanya senyum perih yang Itachi tunjukkan. Tangan Itachi perlahan bergerak, berusaha menggapai Sasuke. Namun sayang, tangan itu jatuh di tengah-tengah sebelum Sasuke berhasil menyambutnya. Sang adik kembali tersentak, kini perlahan tapi pasti mata Itachi tertutup dan tidak menatapnya.

Mustahil mata itu akan terbuka lagi.

"Tidak tidak," bibir Sasuke bergetar. Tangannya menyentuh wajah Itachi, "kakak! Kaaaaak! BANGUN!" Sasuke bangkit dari posisi tiarapnya dan segera menggoyang-goyangkan tubuh Itachi.

Semua melihat Sasuke prihatin. Pein yang mengerti keadaan itu, menghalangi anak buahnya yang ingin menghibur sang adik, "Biarkan mereka dulu," ucap Pein. Yang lain hanya menurut.

"KAKAAAAAAAK!" teriakan Sasuke menggema di gedung industri tersebut. Membuat semua yang mendengarnya merasa ngilu. Teriakkan yang memilukan hati.

Sasuke menggertakan giginya. Dia benar-benar marah kali ini. Mata onyxnya menajam membuat semua yang melihat langsung merinding. Dengan dibakar api kemarahan yang meluap-luap, Sasuke mengambil pistol yang dipegang oleh Itachi. Tangan Sasuke yang penuh akan darah sang kakak, dijilatnya perlahan. Pertanda dia benar-benar akan mengabdi dan melakukan apapun sekalipun kakaknya sudah mati sekarang. Dia berjalan, mendekati polisi yang telah membunuh kakaknya yang sangat dihormatinya. Polisi itu sedikit bergetar melihat Sasuke yang menatapnya tajam. Sangat tajam, bahkan sang polisi menangis karena merasa dia tidak akan bisa lari lagi.

Ya, dewa kematian ada di depannya sekarang.

"Kau..." Sasuke menginjak kepala sang polisi yang terkapar tak berdaya itu dengan sangat keras hingga polisi berambut abu-abu dan bergigi tajam itu berteriak kesakitan, "...telah menggali kuburanmu sendiri," sinis Sasuke.

Sasuke melepaskan injakannya, dia berjongkok dan menjambak rambut polisi itu hingga dia berteriak sehingga Sasuke bisa memasukkan moncong pistolnya ke dalam mulut polisi malang itu, "MAKAN INI, POLISI BUSUK!"

DOR DOR DOR DOR DOR

Tembakan bertubi-tubi dilontarkan Sasuke ke dalam mulut polisi itu. Semua terpaku melihat keganasan adik Itachi tersebut. Pupil ber-iris violet milik laki-laki itu mengecil seolah terkejut akan kematian yang baru saja menghampirinya. Peluru-peluru itu ada yang menembus kepalanya ada juga yang menancap di dalam. Sasuke mendesis, dia mengeluarkan moncong pistol itu dan melemparnya sementara kepala polisi tersebut dia banting sekuat tenaga menghantam lantai semen di bawahnya. Menyebabkan darah bermuncratan dan mengenai sepatu si bungsu Uchiha. Semua bergidik ngeri melihat Sasuke yang berwajah tanpa ekspresi sementara darah juga bermuncratan di wajahnya, bahkan Tobi dan Deidara yang notabene selalu bertengkar satu sama lain—saling berpelukan.

Bau karat dan amis menguar di tubuh Sasuke. Sorot mata kebencian tidak juga hilang dari matanya. Bibirnya buka tutup seolah mengatakan sesuatu. Tatapannya kosong. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya Akatsuki memberanikan diri untuk bergerak mendekati Sasuke atau mungkin lebih tepatnya hanya Kabuto dan Orochimaru yang berani. Sementara yang lain mengangkat jasad Itachi.

"Sasuke?" panggil Kabuto perlahan dari belakang sang pemuda raven tersebut. Namun tiba-tiba saja tubuh Sasuke terjatuh ke belakang hingga Kabuto dan Orochimaru menangkapnya. Rupanya Sasuke pingsan, entah karena kelelahan atau karena shock. Yang jelas mereka tidak mau membangunkannya.

Aku benci polisi

Polisi lha yang merebut nyawa kakakku

Waktu rasanya berjalan terlalu cepat. Hingga sekarang Sasuke dengan baju serba hitam, begitu pula orang-orang yang ada di sekitarnya kini berdiri di depan makam sang kakak. Banyak yang menangis, merasa kehilangan akan sang sulung Uchiha yang terkenal akan kebaikan, keramahan dan kejeniusannya. Sama seperti hari kematiannya, hari pemakaman pun diguyur hujan. Bedanya tidak sederas dulu. Sepertinya dunia juga menangis karena merasa kehilangan.

Sasuke menatap dingin makam kakak di depannya, sementara dia melirik Sakura yang tengah menangis dan dihibur dengan Sasori, laki-laki berambut merah itu pun hanya menunduk dalam karena entah kenapa dia merasa bersalah. Lalu Sasuke melirik lagi ibunya yang tengah menangis di dada sang ayah. Entah air mata Sasuke yang sudah mengering atau perasaannya yang telah mati. Dia tidak tahu. Itachi dianggap tewas karena ditembak perampok yang kebetulan merampok rumahnya—mengingat Itachi tinggal di rumahnya sendirian. Itu pun berdasarkan pengakuan palsu dari Sasuke. Demi melindungi Akatsuki.

Sasuke masih berdiri di tengah guyuran hujan sementara para pelayat yang lain sudah pulang termasuk orang tuanya. Saat dia mengira bahwa dia sudah sendirian, tiba-tiba Sasuke merasa seseorang menghalangi jatuhnya hujan untuk mengenai kepalanya. Sasuke menoleh untuk melihat siapa yang memayungi dirinya, "Kau bisa sakit Sasuke, ayo pulang," ajak Sakura dengan lirih dan parau karena habis menangis. Sasuke menatap sesaat iris hijau emerald yang redup itu beberapa saat lalu menggeleng.

"Kau saja yang pulang, kalau kau yang sakit akan jauh lebih merepotkan," jawab Sasuke dingin meski masih ada rasa kekhawatiran di dalam sana. Sakura diam, tidak bergeming. Sama sekali tidak menghiraukan perintah Sasuke. Sasuke mendelik, "Haruno Sakura, kau mendengar ucapanku kan?"

"Ta-Tapi—"

Sakura tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat Sasuke memeluknya. Dalam sekali dan sangat erat. Dari pelukan itu, Sakura menyadari bahwa saat ini Sasuke benar-benar rapuh dan butuh uluran tangan seseorang. Sakura membalas pelukan itu, sebelum akhirnya dia mendengar Sasuke mengucapkan sepatah kata, "Terima kasih," dan melepaskan pelukannya. Menatap Sakura dalam.

"Pulanglah sekarang," pinta Sasuke lagi. Kali ini Sakura tidak mau membantah, dia hanya bisa mengangguk kecil. Setelah memberikan payung pada Sasuke, Sakura berbalik dan berlari ke arah Sasori yang sudah menunggunya.

Sasuke menoleh sebentar untuk menatap punggung Sakura yang semakin menjauh darinya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi kesedihan, "Aku menyayangimu Sakura,"

.

Setelah hampir tiga puluh menit Sasuke berhasil mengatasi kegundahan hatinya, akhirnya pemuda raven itu memutuskan untuk pulang. Berkali-kali dia flu dan tubuhnya menggigil. Sepertinya Sasuke akan sakit dalam beberapa waktu ke depan. Sasuke berjalan di koridor panjang dan saat dia akan berbelok di ujung koridor, dia mendengar suara orang bercakap-cakap. Butuh waktu bagi Sasuke untuk menyadari bahwa itu adalah Sasori dan Sakura.

"Jangan Sasori, kumohon jangan! Aku sayang padamu Sasori, karena itu kumohon jangan pergi!"

Sasuke tersentak kaget, dia pun melanjutkan langkahnya. Sasuke hanya terpaku melihat Sakura yang menangis sangat kencang di dada Sasori yang kini sudah memakai seragam polisinya. Sasori mengelus rambut soft pink milik gadis itu. Sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Sasuke ada sekitar tiga meter di depannya. Wajah Sasuke yang marah saat itu masih teringat di benak Sasori.

"Sasu—"

"Cih,"

BHUAG

Setelah memukul dinding di sebelahnya, Sasuke pun kembali berbalik dan pergi. Meninggalkan Sasori yang masih terpaku dan merasa bersalah melihat mantan adik kelasnya itu.

Aku benci polisi

Polisi lha yang merebut gadis yang kusayangi

Sasuke melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju markas Akatsuki di Konoha. Sesampainya di sana, Sasuke tidak menghiraukan pandangan-pandangan heran anggota yang lain. Dia langsung berjalan menuju pojokan dan duduk di sana. Melihat aura Sasuke yang begitu mencekam, tak ada yang berani mendekatinya bahkan Pein sekalipun. Mereka memilih untuk kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing.

Kepala Sasuke rasanya mau pecah. Kenapa hidup ini begitu mempermainkannya? Apa salahnya? Kenapa polisi harus ada? Kenapa? Kenapa? Semuanya berputar di kepalanya.

Kenapa harus polisi?

Kenapa polisi yang merebut nyawa kakakku?

Kenapa polisi yang harus berurusan dalam hidupku?

Kenapa Sasori harus jadi polisi?

Kenapa polisi juga yang merebut gadis yang kusayangi?

Kenapa polisi yang harus dipilih Sakura?

Kenapa?

Kenapa?

"AAAAAAARRRGH!" Sasuke berteriak kencang sambil meremas rambut ravennya. Sang bungsu Uchiha kini tengah frustasi dan semua yang ada di sana hanya bisa menonton.

Tapi dengan ini laki-laki itu telah membuat satu keputusan. Dia juga tidak bisa selamanya hidup dalam kegalauan seperti ini. Sasuke menarik nafas. Mungkin memang sudah takdirnya untuk tidak bisa bahagia. Walau begitu, sekali saja dia ingin membahagiakan orang yang disayanginya. Dia ingin membahagiakan Sakura. Meski itu artinya dia akan mengalah pada salah satu dari para polisi terkutuk itu.

Tapi, bagaimana caranya?

Inilah caranya. Menjadi salah satu dari kumpulan mafia, membunuh banyak orang, merampok, dan segala macam kejahatan akan dia lakukan. Sasuke akan mengotori tangannya dengan darah, menangis dengan darah, mandi dengan darah. Hingga tubuhnya penuh akan darah dan gadis itu pun akan jijik padanya. Membencinya. Menjauhinya.

Dengan cara ini, Sakura akan mudah memilih bukan?

Ya, dengan ini Sakura pasti akan memilih Sasori. Polisi yang bersih, baik, polos, periang, dewasa dan tegas. Mustahil sekali Sakura akan memilih dirinya yang sudah sangat kotor. Hei, Sakura tidak bodoh! Mana mungkin dia mau menjadi pendamping seorang mafia yang mempermainkan nyawa manusia seperti dia. Lagipula bagi Sasuke, Sakura sudah menyukai Sasori. Jadi, sekalipun dia tidak menjadi mafia, maka Sakura pasti akan memilih Sasori.

Namun, itu hanya asumsinya saja.

Yang tahu siapa yang akan dipilih Sakura, hanyalah Tuhan yang menciptakan mereka.

Sasuke tersenyum miris membayangkan dirinya suatu hari nanti di balik jeruji besi memperhatikan gadis yang disayanginya tengah berbahagia bersama polisi yang sudah menjadi saingannya selama SMA.

Dia rela menjadi kotor.

Dia rela menjadi kejam.

Dia rela menjadi pecundang.

Dia rela membuang perasaannya.

Agar gadis itu mudah memilih dan tidak terus bimbang di tengah dua pilihan.

Oh ayolah, semua orang rela melakukan apa saja demi orang yang disayangi kan?

Sasuke memantapkan hatinya. Mulai sekarang dia tidak akan menangis lagi, tidak akan meminta lagi, tidak akan menjadi pengecut lagi. Dia harus kuat, menerima semua konsekuensi yang akan dia terima. Ketakutan, kekejaman, kematian, harus dia lawan. Sasuke mengangkat kepalanya, membuat semua anggota Akatsuki bisa melihat senyum sinisnya yang mengembang. Senyum yang akhirnya bisa dia tunjukkan, setelah membuang semua perasaan lemahnya.

Dia membenci polisi

Karena polisi lha yang merebut kebahagiaannya

.

To Be Continued


Kok perasaan saya saja atau saya semakin kejam dengan Sasuke? =='a #dikejarSasuFC

Okelah, special thanks for :

Ka Hime Shiseiten, R-chan, Natsumae Kitazawa kanukawa Liu, Aichiruchan, Nagisa Archipelago, Ame D' ShiNoKami no cho, Karerurippe, icci-chan, saku44, Imuri Ridan Chara, mimi, mysticahime, Sakura 'Cherry' Snowfalls, me, Micon, Athenalis, Rizu Hatake-hime, SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ, kafuyamei vanessa-hime, Chi hachi-nigatsuchan, Sasusaku, Y0uNii D3ViLL, Fun-Ny Chan, SaGaara Tomiko, Aurellia Uchiha, Oichi tyara no sasori, Chousamori Aozora, Imai Yamada, nagisaHatake, Dhevitry Haruno, aya-na rifa'i, UchihaMisaky, sarsaraway20, dobelianaru, Rizkarina, XNaruGaaX, Valkyria, Vipris, Kirei FanFan, aster a daimonia eukaristia al, rizkauchiha29, D, sava kaladze, Namikaze Sakura, Soybeannn, Kin Kazama, uchiHa sHizuka Dark-angeL, SasuSaku-chan, ripcurl vs volcomstonez, alwayztora, Haruchi Nigiyama, Dominiko Itsugo

Terima kasih atas kesetiannya menunggu fic buatan author lucu bin lemot ini :) #ditabok

Btw, saya masih bingung endingnya nih~~ gimana ya (=A=) #dilemparbatu Terus maaf ya, di chap ini lemonnya cuma segitu soalnya di luar dugaan ternyata flashback Sasuke panjang banget #mojok Oh ya jangan lupa, SUSPENSE DAY TANGGAL 13 NOVEMBER, AYO PUBLISH FIC GORE XD

Apakah di next chap akan ada lemon? Atau mungkin bakal ada gore? Hemm gak tahu deh~ XD #diinjek Yang pasti bakal bertambah lagi konflik yang akan menyiksa si ayam bahkan mungkin si boneka WAHAHAHA! #dichidori #dijadiinboneka

Oke, boleh minta review minna? :3