"Aku memang membenci polisi,"

"Tapi..."

"Aku jauh lebih membenci diriku sendiri."

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, rape, misstypo?

Genre : Romance/Friendship/Crime/Angst

Pairs : SasuSaku, SasoSaku

.

.

CHOOSE ME!


CHAPTER 8 : BLACK AND WHITE

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah celah jendela, membangunkan putri tidur dengan cahayanya yang menyilaukan. Haruno Sakura dengan enggan bergerak dari posisinya tidur, meringsut ke kanan dan kiri sebelum akhirnya dia membuka matanya dengan tak rela. Gadis berambut soft pink yang lembut itu merentangkan tangannya dan mencoba meraba-raba di sebelahnya untuk mencari tahu apakah ada seorang dari salah satu suaminya yang tidur bersamanya tadi malam. Tapi nihil, Sakura tidak merasakan siapapun.

Kini bola mata jade itu terlihat sepenuhnya. Sakura membetulkan posisinya agar duduk menyandar pada penyangga kasur di belakangnya. Karena masih tidak yakin, kepala Sakura pun menoleh ke sana kemari mencoba mencari keberadaan keduanya. Tapi hasilnya tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada siapa pun. Menyadari itu, pikiran Sakura kembali melayang pada kejadian tadi malam. Uchiha Sasuke seorang kepala pengusaha yang dingin, tiba-tiba datang dengan lengan kiri terluka setelah ditembak pistol. Dan Akasuna no Sasori seorang polisi yang ceria, tiba-tiba datang dengan wajah yang dingin dan memberi tatapan sinis.

Sakura menghela nafas, sebenarnya apa yang terjadi? Ada apa di antara kedua suaminya itu? Kenapa mereka tidak mau menceritakan apa pun padanya? Bukankah dia istri mereka? Oh ralat, bukan. Ya, Sakura memejamkan matanya. Mengingat kembai perkataan Sasuke padanya...

"Kau hanya istri setengah. Jadi, kau tidak mempunyai hak apapun atas aku,"

"Setengah ya..." Sakura menundukkan kepalanya, menyangga kepalanya di atas lutut tertekuk yang kini dia peluk. Dadanya terasa sesak. Entah kenapa kata-kata Sasuke itu sangat menusuknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tumpah seiring dengan bertambah sesak di dada.

Pagi hari itu, Haruno Sakura menghabiskan waktunya untuk menangis.

.

#

.

Uchiha Sasuke kini berdiri di depan sebuah gundukan tanah. Mata onyxnya tetap menatap dingin makam di depannya. Sama sekali tidak ada emosi di sana. Wajahnya tetap datar—sama saat pemakaman kakak kesayangannya itu. Angin berhembus kencang, menerbangkan helai helai rambutnya yang berwarna biru donker itu, menyapu wajahnya yang putih bersih. Sasuke memejamkan matanya, menikmati angin itu. Saat dia membukanya, pemuda berambut raven itu kini mendudukkan dirinya agar dia bisa menyentuh gundukan tanah di depannya.

"Hei Itachi," bibir dingin dan tipis itu terbuka. Sesekali angin berhembus untuk tetap menerbangkan helai demi helai rambutnya, "aku ingin bertanya padamu..."

Sasuke menarik nafas lagi sebelum kembali meluncurkan kata-kata, "seandainya kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pelan, tetap tidak menghilangkan nada dingin di sana, "maksudku, waktu itu kau kan masih berhubungan dengan kak Hana, kakak si penggila anjing," Sasuke terkekeh pelan mengingat kembali saat Itachi membawa Hana untuk diperkenalkan padanya.

"Apa yang akan kau katakan pada kak Hana, tentang statusmu sebagai mafia?" tanya Sasuke lagi. Kali ini si bungsu Uchiha itu menggigit bibir bawahnya, "Saat ini aku ada di posisi itu," laki-laki bermata onyx obsidian itu mendongakkan kepalanya, menatap langit biru yang tenang di atasnya, "hahaha menurutmu apa yang harus aku katakan pada Sakura?" tawanya miris.

Sasuke menatap langit biru di atasnya seolah iri. Mengapa langit bisa begitu tenang meski awan-awan menutupinya? Cih, pertanyaan bodoh. Lagi-lagi pemuda itu harus tersenyum miris sebelum dia gerakkan lagi kepalanya untuk menghadap nisan di depannya. Mata onyxnya terus menatap batu nisan itu tanpa bergerak sedikit pun. Peristiwa kematian kakaknya kembali berputar di otaknya. Sampai tiba-tiba bayangan seorang polisi seolah muncul di depannya.

Sasuke menggeram marah. Tangannya bergerak untuk mengambil batu yang lumayan besar dan kasar di sampingnya. Sasuke terus mencengkram batu itu dengan kencang, tidak dipedulikannya darah yang terus mengalir di tangannya akibat permukaan batu yang kasar itu menusuk-nusuk permukaan kulitnya. Bayangan polisi itu terus berubah-ubah sampai kini bayangan itu berbentuk seperti salah satu rivalnya. Berambut merah, berwajah baby face, senyum tidak pernah hilang dari wajahnya yang cerah. Sasuke bisa melihat Akasuna no Sasori itu mengulurkan tangannya agar bisa dia gapai. Sasuke mendecih kesal melihat itu.

"Jangan..." tangan Sasuke kembali bergetar untuk mencengkram batu itu lebih kuat. Dan tak bisa dielakkan lagi, darah pun kembali mengalir di tangannya yang bersih, "JANGAN SOK MENOLONGKU!"

DRAAK

Nafas Sasuke terengah. Mata onyxnya mendelik tajam. Baru saja dia menyaksikan batu yang tadi dia cengkram hingga berdarah kini tercerai berai karena berhantaman dengan batu nisan kakaknya. Tangannya yang masih berdarah itu kini mencengkram tanah tanah di bawahnya. Rasa sakit dan perih tidak dihiraukannya, karena rasa sakit di dada jauh lebih menyakitkan.

"AAAAARRRGHHH!" Sasuke berteriak histeris. Dia tidak peduli meski ada yang akan mendengar teriakan memilukannya itu, toh pemakaman ini juga lagi sepi. Sasuke mencengkram rambut biru donkernya frustasi. Perlahan tapi pasti, tangan kanannya yang berdarah turun merambat menyentuh wajahnya. Sehingga terlihat wajah Sasuke seperti berdarah padahal tidak.

Laki-laki berambut raven itu menjatuhkan tubuhnya sehingga kepalanya terjatuh di atas gundukan makam kakaknya. Masih menggaruk-garuk tanah dengan tangannya yang berdarah seolah ingin menggali lagi kuburan kakaknya dan mengambil jasad sang kakak tercinta untuk dipeluknya. Sakit. Sakit sekali. Dia ingin keluar dari rasa sakit ini, hei dia juga manusia yang menginginkan kebahagiaan.

"Kakak kakak..." Sasuke terus memanggil-manggil kakaknya berharap sang kakak akan datang menyapanya dan memberinya kopi hangat seperti biasa lalu menanyakan masalahnya. Sasuke tidak tahan lagi, "...aku benci dia."

"Aku benci. Aku benci Sasori..." Sasuke terus menggumamkan kata-kata itu, pandangannya tetap kosong, "...Aku. Aku ingin membunuhnya, membuatnya hancur berkeping-keping, aku akan menghilangkan senyumnya dari muka bumi ini," pemuda labil itu memejamkan matanya membayangkan kedua orang terpenting dalam hidupnya. Itachi dan Sakura.

"Lalu Sakura akan membenciku, dia akan pergi mencari laki-laki yang jauh lebih baik untuknya," bungsu Uchiha itu tersenyum sinis, senyum licik andalannya. Dan tangannya kembali bergerak, mencengkram batu lagi dan darahnya kembali mengucur keluar, "...setelah itu terjadi maka..."

Sasuke menarik nafas seraya membuka kelopak matanya.

"...aku akan menyusulmu, kakak..."

#

Deg

Di tengah rapat antar para polisi yang harusnya dijalankan dengan serius dan penuh konsentrasi, Akasuna no Sasori malah baru tersadar dari lamunannya. Bola mata hazelnya melirik ke kanan kiri—menatap semua polisi seperti dirinya yang tengah memperhatikan Sarutobi Asuma—kepala polisi mereka—dengan seksama. Sasori menghela nafas keras, dia menundukkan kepalanya dan mencengkeram rambut merahnya seolah frustasi. Bahkan meskipun ada AC di ruang rapat berukuran persegi ini, tetap saja keringat mengalir di pelipisnya.

"Perasaan apa ini?" batin Sasori tak tenang. Berulang kali dia memejamkan matanya mencoba mencari ketenangan dan mengumpulkan konsentrasi untuk bisa mendengarkan apa yang dibicarakan pemimpinnya, tapi tetap saja tidak bisa. Telinganya berdengung membuatnya pusing.

"Ada masalah, Sasori?" tanya Asuma secara tiba-tiba membuat polisi berambut merah itu tersentak kaget dan segera mengangkat kepalanya, "kau kelihatan pucat, apa kau sakit?" tanya Asuma lagi. Wajahnya kelihatan berkerut—menampakkan kekhawatiran.

Sasori menarik nafas, mencoba tersenyum dan duduk dengan tegak, "Tidak Asuma-sama, saya hanya sedikit lelah," berlaku seolah tengah membereskan mejanya, Sasori melanjutkan, "silahkan dilanjutkan Asuma-sama, maaf merepotkan,"

Mendengar ke-keras kepala-an bawahannya, Sarutobi pun tidak bisa memaksa. Dia hanya menghela nafas, "Baiklah," jawabnya seraya berdiri. Dan kini anak tunggal dari Sarutobi Shiruzen itu berjalan menuju papan tulis di belakangnya. Mengambil spidol dan menulis sesuatu di papan putih itu.

Asuma pun memulai penjelasannya, "Seperti yang kita tahu, terakhir kita menyerang Akatsuki, mereka semua berhasil kabur—meski polisi sudah memakai banyak pelindung," terlihat kepala polisi itu menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya, "ini artinya, di penyerangan berikut kita benar-benar harus siap dan mengepung mereka di segala arah," jelasnya lagi yang disambut anggukan para bawahannya. Asuma tersenyum melihat itu, tatapannya berhenti pada Sasori yang tengah terdiam dan menunduk, "Sasori, bagaimana menurutmu?"

Mendengar namanya dipanggil, membuat Sasori harus mendongakkan kepalanya lagi. Sebelum laki-laki baby face itu membuka mulutnya, Asuma kembali menyela, "Kau mengejar salah satu dari mereka kan? Apa kau bisa mengenalinya atau setidaknya mendapat ciri-cirinya?" tanya Asuma. Terlihat sekali dia menaruh harapan pada Sasori.

Pria keturunan Akasuna itu sedikit tertohok mendengar pertanyaan pemimpinnya. Dia menundukkan kepalanya, menarik nafas berkali-kali. Tak ayal Sasori pun mencengkram rambut merahnya meski tidak begitu terlihat. Apa yang harus dia jawab? Berkata sejujurnya atau… "Maaf taichou…" Sasori tidak berani menatap langsung ketuanya. Dia hanya bisa berkata dengan menunduk, "…saya tidak ingat apa pun…"

"Sou ka…" Asuma memberi jeda sesaat dan sedikit mendengus, "Apa boleh buat kalau begitu, mari kita lanjutkan…"

Dan penjelasan Asuma pun kembali berlanjut. Tidak bagi Sasori yang tidak bisa mendengarkan apapun. Rasanya telinganya kembali berdengung. Oh tidak, bisa-bisanya dia berbohong seperti ini. Sasori menggertakan giginya kesal. Tangannya mengepal keras dan bergetar. Bola mata Hazelnya bergerak tidak tenang. Bahkan Sasori bisa merasakan tubuhnya panas dingin. Dia benar-benar ingin mengatakan sesungguhnya. Jujur saja, dia tidak mau martabatnya sebagai polisi yang cukup berprestasi jatuh begitu saja hanya demi melindungi rival sejati sejak dia SMA itu. Tapi…

Benarkah hanya sekedar rival?

.

#

.

Sakura sedang mengiris tomat dan wortel saat seseorang mengetuk pintu apartemennya dengan kedua suaminya. Mendengar itu, Sakura segera menghentikan acara memotongnya dan melepaskan celemeknya. Kaki jenjangnya berlari kecil menuju pintu—langkahnya agak dipercepat karena ketukannya semakin lama semakin terdengar tidak sabaran. Tadinya Sakura ingin sedikit mengumpat tamunya itu, namun diurungkan niatnya saat melihat siapa yang datang.

"Sasuke? Kau dari mana sa—"

Sakura tidak melanjutkan kata-katanya saat salah satu suaminya itu tumbang begitu saja dan jatuh ke atas pundaknya. Dengan panik, Sakura berusaha membopong Sasuke dan menuntunnya ke sofa terdekat. Wanita itu membaringkan Sasuke di atas sofa dan kembali ke dapur untuk mengambil semacam es batu. Saat Sakura mengompres pemuda berambut raven itu, dia sedikit terbelalak melihat darah di telapak tangan kanan suaminya.

"Sa-Sasuke, ini kenapa lagi?" tanya Sakura perlahan seraya memegang tangan itu. Dengan hati-hati dia mengelap darah di tangan Sasuke itu dengan sapu tangan yang sudah basah. Sasuke sedikit meringis merasakan perihnya, "Tahan ya," bisik Sakura dengan lembut sementara Sasuke masih menutup matanya menahan rasa sakit yang entah kenapa menjalar di seluruh tubuhnya.

Haruno Sakura tengah membalut perban di tangan Sasuke tatkala laki-laki itu perlahan membuka matanya. Uchiha bungsu itu memperhatikan lirih wajah Sakura yang serius dan terlihat berhati-hati. Terlihat sekali dari gurat wajahnya kalau wanita itu sangat khawatir. Sasuke tak habis pikir, kenapa? Kenapa Sakura masih menolongnya meskipun kemarin Sasuke sudah mengatakan hal yang bisa saja menyakitinya?

"Selesai!" Sakura berseru senang. Rasanya lega sekali melihat tak ada darah keluar lagi dari tangan Sasuke. Sakura segera membereskan peralatan penyembuhnya dan berdiri. Dia akan pergi kalau saja Sasuke tidak menahan tangannya, memaksanya untuk menoleh, "Ada apa, Sasuke?" tanyanya.

Sasuke hanya diam seribu kata menatap bola mata hijau emerald di depannya. Dengan susah payah, Sasuke berusaha bangkit membuat Sakura makin kebingungan. Mata onyx Sasuke terbuka menatap tajam emerald di depannya, banyak sekali emosi yang tersirat dari mata itu. Marah, kecewa, kesepian, bahkan… rindu. Sakura tidak mengerti mengapa Sasuke menatapnya seperti itu.

Pemuda berambut raven itu tidak mempedulikan tatapan bertanya dari Sakura. Dia menarik tangan wanita itu hingga Sakura terjatuh dan duduk di pangkuannya. Wajah Sakura memerah menatap wajah Sasuke yang menghadapnya dengan menengadah. Nafas laki-laki itu menyapu wajahnya membuat dirinya terasa menghangat.

"Sasuke…" Sakura merasa dirinya terseret jauh ke dalam bola mata onyx Sasuke yang hitam dan dalam itu. Bahkan saat Sasuke menenggelamkan diri mereka ke dalam ciuman yang hangat dan ganas—Sakura merasa dirinya tidak bisa merangkak naik lagi. Pesona seorang Uchiha memang tidak bisa dibantah siapapun—itu kenyataan yang tak bisa Sakura sangkal.

Sakura masih duduk di atas pangkuan Sasuke saat laki-laki itu memasukkan lidahnya dan mengobrak-abrik isi mulutnya. Meski pun posisi kepala Sakura yang ada di atas kepala Sasuke, tetap saja wanita beriris hijau emerald itu tidak bisa melepaskan diri dengan mudah—mengingat tangan Sasuke menekan punggung dan kepalanya begitu dalam. Sakura hanya bisa melenguh pelan dan mengerang kerap kali Sasuke berhasil menaklukkannya.

"Sasuke…" lagi, panggilan namanya keluar dari mulut Haruno Sakura. Sasuke tidak akan mempedulikannya seandainya dia tidak merasakan cairan hangat menyentuh wajahnya. Uchiha itu membuka matanya yang tadi sempat terpejam untuk menikmati ciuman sensualnya. Sedetik kemudian, Sasuke segera melepaskan ciumannya dan menatap Sakura keheranan.

Air mata. Cairan bening dan menyakitkan itu mengalir begitu saja dari bola mata hijau emerald kesayangannya. Apa? Apa tadi dia mengucapkan sesuatu yang salah? Sasuke tidak mengerti. Bibirnya terasa kelu untuk terbuka. Alhasil Sasuke hanya bisa menatap Sakura dengan pandangan heran dan ekspresi yang sulit diartikan. Tangan kanannya yang diperban bergerak ingin menyentuh air mata laknat itu dan menghapusnya namun Sakura sudah langsung menahan tangannya.

"Kenapa?" bisiknya parau dan Sasuke yang tidak mengerti akhirnya hanya diam, "Kenapa… Sasuke?" tanyanya lagi. Tubuhnya bergetar dan air mata masih tidak berhenti mengalir, "Kau selalu bilang… aku istri setengah… dan tidak pantas mengetahui semua tentangmu tapi…"

"…kenapa kau mau tidur denganku?"

Sasuke tertegun saat itu juga. Tubuhnya terasa kaku dan sulit bergerak. Pertanyaan Sakura yang sederhana itu bagai tembok yang memojokkannya. Dahinya mengernyit tak suka dipojokkan dengan mudah seperti ini tapi itulah kenyataannya. Kalau sekarang, terlihat sekali kalau dia seperti hanya mementingkan nafsu semata. Sasuke tak suka. Bukan itu maksudnya selama ini. Pemuda berambut raven itu menggertakan giginya kesal, dia menatap tajam Sakura yang balik menatapnya ketakutan.

Tanpa basa-basi lagi, Sasuke melumat kembali mulut Sakura. Dan kali ini wanita itu langsung memberontak meski tidak berhasil. Ini kasar, dan Sakura tidak suka. Sasuke membalikkan tubuh Sakura hingga kini dia yang berada di atas dan menindih tubuh mungil Sakura di bawahnya. Kedua tangan kekar Sasuke bergerak meraba bagian dalam tubuh Sakura membuat wanita itu mengerang di tengah pemberontakannya. Meremas, memilin, menggigit, menjilat, hingga akhirnya hanya nama laki-laki itu yang diucapkan Sakura.

Tubuh Sakura bergetar untuk kesekian kalinya saat Sasuke mengarahkan tangannya menuju bagian pusat wanita di bawah sana. Berulang kali tangan Sakura bergerak untuk mencoba mencegah Sasuke tapi tetap saja bisa ditepis balik. Ketika tenaga terakhirnya sudah terpakai, akhirnya Sakura menyerah. Dia terkulai lemas di bawah pria yang seperti kerasukan setan itu. Sakura meringis sementara Sasuke menggigit seluruh tubuhnya meninggalkan bercak bercak merah yang khas.

"Sasu—aah!" begitu titik prostat sudah tersentuh maka selesai sudah. Hanya desahan dan nama Sasuke yang menggema di tengah apartemen itu sekarang. Uchiha itu tetap tidak merubah ekspresinya yang dingin. Melihat wanita itu tersakiti rasanya menyakitkan, tapi tangan Sasuke juga tidak mau berhenti. Mungkin inilah salah satu contoh keegoisannya.

Sakura mendongakkan kepalanya seraya meracau kenikmatan. Meski air mata terus mengalir keluar, rasa nikmat itu tidak bisa dipungkiri, "Sah—Aahhn…" Sasuke tetap diam, lidahnya menjulur untuk menjilat air mata itu.

"Sakura…" Sasuke memiringkan kepalanya dan berbisik tepat di depan telinga kiri Sakura, "sepertinya aku berubah pikiran," bisiknya lagi. Nafasnya memburu—menggelitik telinga Sakura hingga memerah.

Meski tahu bahwa kemungkinan besar Sakura yang berada di tengah kenikmatan itu tidak akan mendengarkan, Sasuke tetap melanjutkan kata-katanya, "Tadinya aku berniat membuatmu tetap suci, putih bersih seperti Sasori," bisiknya tajam. Kata-katanya sedikit ditekankan saat dia memanggil nama saingan sejatinya itu, "tapi rupanya… aku tidak bisa menahan diriku,"

"Aaahn!" Sakura mendongak begitu Sasuke sudah memasuki dirinya dengan satu jari yang langsung menekan klitorisnya. Desahan Sakura menjadi-jadi tatkala ada tiga jari Sasuke yang melebarkan jalan masuknya. Wanita itu menggelinjang dan mencengkram erat karpet di bawahnya, nafasnya tak beraturan. Oh, dia benar-benar terjebak, "Sasuke Sasuke—ah ah uuhhh…" telinganya berdengung. Di tengah kesadaran yang mulai samar itu, Sakura hanya bisa mendengar kata-kata Sasuke yang terakhir dengan penekanan di setiap katanya.

Sakura memang tidak bisa mendengarnya, namun dia merasakannya. Firasat buruk yang terus menerus menyerangnya sedari awal, membuat tubuhnya bergetar ketakutan, air matanya yang meledak minta dikeluarkan. Kata-kata itulah yang nantinya akan menentukan jalan hidupnya—secara paksa.

"Sakura…"

"…aku akan mengotorimu,"

"Jadilah hitam, bersamaku…"

.

.

To Be Continued


Special thanks for :

SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ, Sakura 'Cherry' Snowfalls, Uchiha Athena, Ka Hime Shiseiten, Aichiruchan, mysticahime, me, R-chan, Nagisa Archipelago, SaGaara Tomiko, 4ntk4-ch4n, w, Rizu Hatake-hime, aya na-rifa'i, Rangiku Himeka Yoichi, popoChi-moChi, ddiilla, hotaru chan hatake, Uchiha akara, NejiGaa, Misaky Uchiha, amigo eigen novi chan, tharo muri chan, Asuka Yugimeto, Sabaku no Miyuki, Haruchi Nigiyama, Hikari de Natsu, Vipris, Putri Hinata Uzumaki, Kurosaki Kuchiki, Chi hachi-nigatsuchan, pirororoororu, hana, Fun-Ny Chan D'JiNchHuUri-Q, halspen1-24, Dhevitry Haruno, Michi no Shiroyuuki, lorist angela, 789, ai a.k.a yeoneunbyeul, myaci chan, Ajeng puspita, Ame ChocoSasu, People, Arisu yama-chan, Pinkan uchiha, hika-chan, Nia Fujisaki, Kirei Fan Fan, Adek Sasuke and Sakura, rchrt

Dan kalau ada yang namanya gak kesebut, saya minta maaf. Tapi yang penting terima kasih untuk semuanya :)

Baiklah minna-san… #sigh #ngelirikchapterdiatas

Untuk kali ini saya no comment deh, maaf ya lemonnya keputus tapi tenang aja toh ntar di next chap kelanjut lagi~ #senyumsantai #ditendang

Dan ending yang nggak jelas di atas sana… #ngeremasrambutfrustasi saya paling nggak bisa milih kata-kata yang bermakna dalam gituuu jadi maaf ya kalau terkesan datar hahaha. Btw, maaf ya di chapter ini Sakura kebanyakan nangis. Susah sih lagipula aku memang tidak bermaksud membuat Sakura mary sue, ntar deh pasti akan kutunjukkan sisi tegar Sakura-chan mwahahahaa #diinjek

Oke, sekarang sekali lagi. Aku minta tolong vote siapa yang pantes dipilih Sakura, beserta alasannya. Perolehan sementara terbanyak memang dipegang Sasuke, tapi alasan yang bisa ngena di hati saya itulah yang akan saya pilih fufufufu~ #digigit Tapi, terima kasih banyak juga untuk yang memberi pendapat tentang fic ini ^^

Well, Review please? :3