CHAPTER 9 : FRIEND
Desahan demi desahan itu terdengar sangat jelas. Mungkin biasanya akan terdengar kenikmatan dunia. Tapi saat ini tidak. Rasanya desahan itu sangat memilukan. Sama sekali tidak terasa ada kenikmatan yang bisa dicapai. Terutama dari sang wanita.
Wanita itu hanya bisa menangis dan mendesah di saat bersamaan. Dia ingin menghentikan ini, tapi kedua tangannya dipegang dengan kuat di atas kepalanya sampai berkeringat. Uap-uap putih keluar dari mulutnya. Keringat demi keringat mengalir di wajah dan tubuhnya. Bola mata hijau emeraldnya seolah kehilangan cahaya, saat laki-laki di atasnya memasukinya begitu dalam. Rasa nikmat dan kecewa bercampur jadi satu.
Dari suara hiruk pikuk orang-orang di luar apartemen mereka, sang wanita bisa mengerti kini hari mulai menjelang malam. Kakinya serasa mati rasa. Dia sadar, setelah ini dia akan susah berjalan. Apalagi sekarang dia tahu, setelah kembali klimaks, laki-laki itu masih belum selesai dan akan bergerak lagi. Wanita itu menyandarkan kepalanya di atas bantal. Dia sudah lelah. Pasrah akan apa yang terjadi selanjutnya. Dia sudah tertidur beberapa kali sebelum ini. Dan sekarang, dia akan tertidur lagi.
Terakhir yang dia lihat, adalah bola mata onyx pria itu yang seakan menyimpan banyak pertanyaan untuknya.
.
.
"Jika aku melakukan kesalahan yang membuatmu menangis seribu malam,"
"...apa kau masih akan memaafkanku?"
.
.
Naruto Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, misstypo?
Genre : Romance/Friendship/Crime/Angst
Pairs : SasuSaku, SasoSaku
.
.
CHOOSE ME!
TENG TENG
Suara dentingan jam bergema di dalam apartemen yang berada di lantai dua itu. Jarum panjang dan jarum pendek saling menindih untuk menunjukkan satu angka menghadap atas, angka dua belas. Suasana yang gelap mencekam di dalam ruang apartemen itu seolah mencerminkan tidak ada kehidupan di sana. Padahal di salah satu sudut ruangan, ada dua anak manusia yang tengah terlelap. Entah karena apa, wajah mereka terlihat kelelahan. Mereka tenggelam dalam mimpi, namun nafas mereka tetap tak teratur. Sesekali terdengar isakan parau dari salah satunya.
Sang wanita yang berada di bawah tubuh pria membuka matanya perlahan. Matanya menatap kegelapan yang mencekam. Tidak ada sedikit pun cahaya yang berniat membantunya untuk mengamati keadaan sekitar. Haruno Sakura—nama wanita itu. Rasanya seperti buta, tidak bisa melihat apapun. Yang bisa dia mengerti hanyalah, pria yang menindihnya masih terlelap. Sakura menatap kosong kegelapan di depan matanya. Perlahan tangan kanannya terangkat untuk menyentuh sesuatu yang dingin mengalir di bawah matanya, "Bahkan saat tertidur pun, aku tetap menangis." Lirihnya dalam hati. Wanita berambut soft pink itu berusaha bangkit. Dia menggeser pelan tubuh laki-laki di atasnya. Sepertinya laki-laki itu kelelahan, sampai-sampai dia tidak merasakan saat Sakura menggeser tubuhnya.
Langkahnya gontai menahan rasa sakit di selangkangannya. Berkali-kali wanita itu merintih kesakitan. Entah sudah berapa kali laki-laki tadi menusukkan bendanya pada selangkangannya hingga keduanya klimaks. Wanita itu meraba-raba dinding mencoba mencari saklar untuk menyalakan lampu di tengah malam yang larut ini. Saat lampu terakhir berhasil dinyalakan, Sakura menoleh begitu mendengar suara bel dari depan pintu. Dengan kembali tertatih-tatih, Sakura menggapai pintu dan membukanya. Bola mata hijau emeraldnya menyiratkan kelegaan ketika melihat suaminya yang berambut merah dan beriris coklat Hazel itu datang dengan senyum tulusnya dan raut wajah yang kelelahan.
"Sasori..." bisiknya menatap laki-laki berambut merah itu.
Akasuna no Sasori tertawa hambar seraya menggarukkan belakang kepalanya, "Ahaha maaf baru pulang Sakura, kau pasti lagi tidur ya? Maaf membangunkanmu." Ucapnya innocent.
Sakura tersenyum kecil menatap kepolosan laki-laki di depannya, "Tidak apa-apa, yang penting kau pulang..." bisiknya lagi. Wajah Sasori langsung memerah mendengar itu, sesaat tercipta suasana canggung di antara keduanya. Sampai akhirnya laki-laki polisi itu menyadari keringat yang berada di wajah istrinya. Apakah segitu panasnya di dalam apartemen?
Tapi Sasori memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen dulu sebelum bertanya. Sasori menatap punggung Sakura yang tengah mengunci pintu apartemen mereka. Pria itu mendekat hingga satu langkah lagi dia akan menabrak wanita di depannya. Sakura sedikit terlonjak kaget, karena begitu dia berbalik dia langsung melihat wajah Sasori yang sangat dekat dengan wajahnya. "Kau tidak ngantuk," gumam pria itu, "tapi kau kelelahan, apa yang kau lakukan?" tanyanya seraya mengangkat sebelah alisnya.
Sakura melirik ke kanan kiri—gugup, "E... Etto, anu..." Sasori terdiam. Melihat gelagat Sakura yang seperti itu, tentu saja dia mengerti. Pria berambut merah itu mendengus kesal, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak mengamuk di tengah malam seperti ini.
Menghembuskan nafas, Sasori kembali bertanya, "Dari jam berapa?" mendengar pertanyaan itu membuat Sakura mati kutu. Sasori pasti akan marah besar kalau tahu Uchiha Sasuke—suaminya yang lain—memperkosanya dari sore sampai sekarang.
Sakura tidak berani berkata-kata, dia mencoba menghindari Sasori dengan berjalan menjauh. Tapi percuma, dari cara Sakura berjalan yang tertatih-tatih menahan sakit sudah menunjukkan semuanya. Sasori menggertakkan giginya kesal. Ditariknya tangan Sakura dan dibaringkannya tubuh wanita itu, di atas sofa. Sakura mulai panik saat Sasori menahan perutnya dan menyibakkan roknya. Memperlihatkan daerah terlarang yang belum tertutupi oleh celana dalam. Sakura menunduk malu, dilihat dua pria dalam satu hari entah kenapa membuatnya malu pada dirinya sendiri.
"Sampai merah begini..." wajah Sasori menyiratkan kemarahan yang amat sangat, Sakura tersentak mendengar nada kemarahan di sana, "Sasuke benar-benar keterlaluan!" dan bersamaan dengan kata itu, Sasori turun dari sofa dengan api kemarahan yang menggebu-gebu. Sakura yang panik mengejarnya.
"SASUKE!" Sasori membanting pintu kamar saingannya seraya berteriak. Membuat laki-laki yang tidur di sana membuka mata dengan enggan lalu membangkitkan tubuhnya untuk duduk.
Sasuke menatap Sasori di depannya tajam, rambut raven dan kemeja putihnya berantakan, "Jangan sembarangan masuk ke kamar orang, brengsek. Kau pikir ini jam berapa?" Sasuke berkata lugas. Bola mata onyxnya serasa ingin menusuk bola mata hazel di depannya. Sasori semakin menggertakan giginya.
"Apa yang kau lakukan pada Sakura?" tanya Sasori tanpa mempedulikan tatapan onyx yang sedang mencoba membunuhnya. Sasuke terdiam, dia melirik pada Sakura yang sedang mengintip dari celah-celah yang bisa diberikan Sasori. Uchiha bungsu itu menyeringai licik. Melihat itu, entah kenapa Sakura ketakutan. Tapi getaran tubuh Sakura terhenti saat Sasori menggenggam tangannya. Sakura menatap tangan besar Sasori.
Hangat.
Sasuke mendengus, "Hmph," pria itu memberi jeda, "Aku hanya menuntut peran yang seharusnya dilakukan seorang istri pada suaminya. Salah?" bola mata Sasori membelalak marah. Kepalanya dipenuhi tujuan untuk menghajar laki-laki di depannya yang tengah tersenyum menantang. Tapi...
"Ja-Jangan Sasori!" kedua tangan Sakura menggenggam erat tangan besar Sasori, "Ini... sudah malam." Ucap wanita itu dengan gemetaran. Kedua laki-laki tersebut hanya diam melihatnya. Sasori mendecih, akhirnya tanpa kata-kata yang berarti dia meninggalkan kamar Sasuke yang terlihat remang-remang seraya menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
Uchiha Sasuke tidak kembali tertidur. Dia menatap selimut yang menutupi kakinya. Ternyata saat Sakura menggeser tubuhnya tadi untuk keluar, wanita itu masih berusaha membuatnya tetap hangat dengan meraba-raba kasur untuk mencari selimut dan menyelimuti suaminya itu. Dan Sasuke tidak baru bangun saat Sasori memanggilnya. Tapi pria itu sudah bangun sejak Sakura menggeser tubuhnya. Dan sejak itulah dia tidak bisa menutup matanya lagi. Sasuke mencengkram selimut di bawahnya, perbuatan Sakura tersebut benar-benar mengganggunya.
Satu pertanyaan yang memenuhi kepalanya saat ini...
Apa ia pantas menerima perlakuan seperti ini?
.
.
.
Uchiha Sasuke membuka matanya ketika matahari menerobos masuk ke kamarnya. Sasuke memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Penampilannya tidak berubah semenjak dia terbangun tengah malam. Tetap berantakan. Sasuke membuka selimutnya perlahan lalu turun dari kasur. Tubuh-tubuhnya masih terasa pegal tapi dia tetap harus bekerja hari ini. Pria berambut raven itu berjalan lunglai sampai kicauan burung di pagi hari menarik perhatiannya. Sasuke menoleh, menatap ke luar jendela. Melihat ada tiga burung yang bertengger di sebuah dahan.
Sepertinya burung yang di tengah adalah betina dan kedua burung di sampingnya adalah jantan. Burung jantan kanan memberikan sebuah cacing sementara burung jantan kiri memberikan biji-bijian. Entah kenapa Sasuke tertarik, dia berhenti untuk terus memperhatikan ketiga burung tersebut. Sasuke penasaran, yang mana yang akan dipilih oleh sang betina. Tapi di luar dugaan, justru burung betina itu tidak mempedulikan keduanya. Dia terbang bebas di angkasa, berputar-putar dan terus berkicau seolah mengejek tanpa mempedulikan sang burung-burung jantan yang menatapnya seolah kecewa. Sasuke tertegun tapi beberapa saat kemudian dia tersenyum miris.
"Benar. Daripada bingung di antara dua pilihan, lebih baik tidak usah memilih sama sekali..." dan setelah mengucapkan kata-kata ambigu itu, Sasuke berjalan kembali untuk membuka pintu kamarnya dan keluar.
Biasanya saat Sasuke maupun Sasori keluar kamar, mereka akan disambut dengan senyum ceria dari istri mereka. Tapi kali ini lain, wanita itu tidak ada. Sasuke malah menemukan saingannya yang sedang memakan sarapan dengan pandangan menerawang seolah memikirkan sesuatu. Langkah Sasuke yang mendekat membuyarkan lamunan polisi merah itu. Sasori menatap Sasuke sesaat sebelum kembali memakan rotinya yang sempat terlupakan.
"Mana Sakura?" tanya Sasuke to the point. Sasori memutar bola matanya bosan, dia menganggap pertanyaan Sasuke hanyalah angin lalu dan kembali makan.
BRAK!
"Mana Sakura?" kali ini Sasuke menggebrak meja makannya. Bola mata onyxnya menatap berbahaya. Masih diacuhkan, Sasuke semakin kesal. Ditariknya kerah seragam polisi Sasori, "MANA SAKURA? JAWAB AKU!"
Sasori menatap dingin laki-laki di depannya, dalam satu gerakan Sasori sudah memegang tangan Sasuke dan menahannya di belakang punggung laki-laki itu. Mengunci gerakannya. Sasuke mengerang kesakitan, "Mana bisa aku memberitahukan keberadaan wanita yang kusayangi pada laki-laki penggila nafsu sepertimu, Uchiha-sama?" onyx Sasuke berkilat marah mendengar perkataan seperti itu. Memberontak, akhirnya Sasuke berhasil lepas dari kuncian Sasori.
Sasuke memegangi tangannya yang memerah akibat perlakuan laki-laki di depannya yang tengah menatapnya dingin. Dia menggertakan giginya kesal seraya mendesis marah, "Jangan sok! Dasar polisi tidak berguna!" cerca Sasuke. Sasori tidak bergeming, matanya kini teralihkan pada tangan kanan Sasuke yang kini diperban. Pria berambut merah itu mengernyitkan alisnya. Biasanya, Sasori yang termasuk tipe laki-laki perhatian itu pasti akan menanyakan sebab mengapa tangan mantan adik kelasnya itu diperban. Tapi... kemarahan membuat gengsinya untuk bertanya menjadi sangat tinggi.
"Apa yang kau lihat?" pertanyaan Sasuke mengalihkan perhatian Sasori, "Fuh, jangan bilang kalau kau sedih melihat keadaan tanganku, tuan polisi..." seringai Sasuke membuat Sasori mendelik kesal. Entah kenapa pria pengusaha yang merupakan pimpinan mafia itu ingin sekali menarik emosi saingannya.
"Tidak sama sekali." Jawab Sasori tegas dan tanpa mau berbasa-basi lagi, laki-laki berambut merah itu membuang mukanya. Dia berjalan dengan pasti menuju pintu keluar, namun saat dia sudah memegang gagang pintu...
"Sepertinya aku berubah pikiran," Sasori menoleh ke arah Sasuke yang menyeringai, "Sakura tidak akan kuserahkan pada polisi lemah sepertimu, kau harusnya sadar kalau kau hanya pecundang, Akasuna-sama..."
"Bisakah kau sedikit menyadari posisimu, Uchiha-sama?" balas Sasori tak mau kalah. Kedua tangannya mengepal sangat keras, hingga kuku-kukunya mengenai telapak tangannya hingga kulitnya memerah. Tapi untuk menutupi semua itu, Sasori tersenyum. Yeah, senyum yang berbahaya, "Cepat atau lambat kau akan kumasukkan ke dalam penjara dan kubiarkan kau menderita di sana—kupastikan semua itu akan terjadi sebelum Sakura-chan sempat memilih..." jelas Sasori panjang lebar. Senyum juga tak hilang dari wajahnya yang baby face tersebut.
Menatap bola mata hazel yang serius itu, Sasuke terdiam dan menunduk, "Hn..." dan setelah itu, Sasuke mengangkat kepalanya kembali, "...tapi, itu tidak akan terjadi kalau kau lebih dulu meninggalkan dunia ini. Benar kan?"
Dan setelah mengucapkan itu, Sasori terkejut ketika Sasuke dengan gerakan tiba-tiba langsung mengambil pisau—yang digunakan untuk mengoles selai roti—di atas meja makan dan menerjangnya. Sasori menghindar dengan cepat, tapi tetap saja ujung pisau itu berhasil menyayat pipi kirinya meninggalkan luka sayat kecil. Pisau Sasuke menancap pada tembok di belakang Sasori tadi, namun pria berambut raven itu berhasil mengambilnya kembali sementara kakinya menendang perut Sasori yang berada di sampingnya hingga polisi merah itu mengerang dan jatuh terjengkang di atas karpet coklat di belakangnya. Tangannya yang tidak seimbang menjatuhkan buku-buku yang ditumpuk di atas rak. Sasori meringis perlahan, tangan kirinya bergerak untuk menyentuh darah yang mengalir dari luka sayat kecilnya.
Bola mata hazel yang indah itu bergerak untuk menatap laki-laki berambut biru donker yang berdiri di depannya. Sasori baru sadar, jika dia terus-menerus melindungi pemimpin kelompok mafia terbesar tersebut dari incaran para polisi di sekitarnya, itu tidak akan pernah menguntungkannya. Ah, dia merasa sangat bodoh. Perkiraan pertama, dia bisa saja dikeluarkan dari kepolisian karena kehilangan kepercayaan dari para polisi seniornya. Padahal sedari kecil, menjadi polisi adalah impian laki-laki berambut merah itu. Dan untuk mencapai impian itu tidaklah mudah. Apalagi jika dia menyembunyikan pemimpin mafia itu dalam satu rumah, maka perkiraan kedua...
...dia bisa kehilangan nyawanya kapan saja.
"Kau terlalu meremehkanku, Akasuna no Sasori."
#
.
.
#
"Uhuk uhuk," suara batuk pelan membuat seorang dokter cantik berambut pirang dan memiliki bola mata aquamarine yang indah menghentikan pembicaraannya. Alis sebelahnya terangkat seraya menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu sahabatnya sedari kecil.
Yamanaka Ino menunjukkan wajah khawatirnya, "Kau tidak apa-apa Sakura? Kau kelihatan sakit..." ucap Ino. Tangannya bergerak untuk menyentuh dahi wanita di depannya. "Hei, kau panas sekali!"
"Aku tidak apa-apa pig." Sakura menepis tangan Ino yang menyentuh dahi lebarnya. Ino mengernyit tak suka, sepertinya sifat keras kepala sahabatnya itu masih belum berubah, "Oh ayolah, jangan berwajah mengerikan seperti itu. Lagipula—"
"Haruno Sakura," panggil seorang dokter wanita yang cantik. Dia memiliki rambut pirang kecoklatan, dan tetap cantik meski umurnya sudah memasuki kepala empat, Senju Tsunade. Dia adalah guru Sakura dan Ino yang memang masih pemula dalam hal kedokteran. Sejauh ini, baru Sakura yang bisa dipercayakan merawat pasien seorang diri. Merasa dipanggil, Sakura menoleh lalu membungkuk tubuhnya hormat.
"Ada perlu dengan saya, Tsunade-sama?" tanyanya sopan. Tsunade tersenyum lalu berbalik seraya berkata, "Aku akan mengikuti rapat antar dokter senior, tolong gantikan aku untuk merawat pasien-pasien lain. Yamanaka Ino, tolong bantu Sakura ya." Pesan dokter awet muda tersebut. Ino juga ikut mengangguk lalu membungkuk hormat setidaknya sampai dokter hebat tadi menghilangkan sosoknya dari hadapan kedua wanita tersebut.
Ino menatap sahabatnya khawatir, "Sakura, kau benar-benar tidak apa-apa kan?" tanyanya memastikan. Sakura menyeringai.
"Kau memang menyebalkan pig, aku sudah bilang kalau aku tidak apa-apa. Lagipula jika aku mengabaikan pesan Tsunade-sama, bisa-bisa gajiku dikurangi." Jawab Sakura seraya menjulurkan lidahnya jenaka. Ino menghela nafas lalu dia memukul bahu Sakura main-main.
Ino ikut menyeringai, "Well, terserah kamu forehead. Jangan sampai aku merawatmu sebagai pasienku yaaa. Bisa-bisa gajiku dinaikkan nanti." Dan keduanya pun tertawa bersama.
#
.
#
BRAK!
Suara seperti itu sudah kesekian kalinya kembali terdengar di dalam apartemen mewah ini. Dengan beringas, Sasuke terus menerus mendesak Sasori yang hampir kewalahan. Entah sudah berapa lama perkelahian ini berjalan. Apartemen itu mewah—jika kau melihatnya dari luar. Jika kau berada di dalam, maka ruangan bagai kapal pecah yang akan kau lihat. Pukulan, tendangan, ejekan, semuanya terasa keluar begitu mudah di dalam ruangan apartemen yang full AC ini.
Bagi Sasori, Sasuke adalah temannya. Teman, ya teman. Dari dulu sampai sekarang, itu tidak pernah berubah. Saat dulu di SMA, mereka memang sering disebut saingan sejati yang mengerikan. Tidak ada yang berani mendekati mereka jika keduanya sudah beradu mulut, apalagi kalau sudah beradu kekuatan. Tapi, Sasori tidak pernah mengganggap itu serius. Dia percaya dengan istilah yang mengatakan, 'Semakin sering kau bertengkar, maka semakin erat tali pertemanan kalian'. Yeah, Sasori selalu berpikir dewasa dalam semua hal. Walau kelakuannya—bisa dibilang—seperti anak kecil, tapi pikirannya selalu lebih dewasa dari Sakura bahkan Sasuke sekalipun. Dia adalah tipe yang menyelesaikan masalah dengan cara damai dan memakai otaknya sebaik mungkin.
Bagi Sasuke, Sasori adalah saingan terbesarnya dalam segala hal. Baik dari segi penampilan, kekayaan, kepintaran, bahkan kekuatan. Dari kecil, Sasuke sudah suka berkelahi maka jangan heran jika Uchiha bungsu itu selalu mendapatkan luka baru jika pulang ke rumahnya. Beda dengan Sasori, Sasuke cenderung lebih irit bicara. Dingin dan sangat tertutup. Bahkan menurut Sasori, hanya Sakura yang dapat mematahkan semua itu hingga sekarang laki-laki berambut raven itu lebih terbuka tapi sekaligus lebih mengerikan. Sasuke bisa dekat dengan Sasori, karena untuk pertama kalinya saat masuk SMA, ada orang yang bisa menyeimbangkan kekuatannya. You know who?
Salah kalau kalian mengira, Sasori yang mendekati Sasuke duluan. Justru sebaliknya, sejak hasil yang seimbang itu, Sasuke selalu mengikuti kemana pun Sasori pergi. Saat laki-laki berambut merah itu makan, main, belajar dan kapanpun itu, Sasuke selalu menyempatkan untuk menantangnya berkelahi. Tapi tetap saja hasilnya sama, seimbang. Awalnya, Sasori sempat merasa kesal dengan tingkah Sasuke yang sangat kekanakan dalam hal perbandingan kekuatan. Tapi akhirnya toh dia tetap melayaninya. Tanpa Sasuke sadari, dari awal dia sudah mengejar punggung seorang Akasuna no Sasori. Sayangnya, semua itu dianggapnya terlalu serius hingga sekarang. Justru Sasori yang murah senyum itu, menganggap persaingan ini hanyalah sekedar main main belaka. Sebagai senior yang baik, dia hanya berpikir untuk menyenangkan hati adik kelasnya. Sehingga dia menerima saja saat Sasuke menantangnya.
Kebalikan dari Sasori, Sasuke adalah tipe yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Di kepalanya, Semua masalah akan selesai jika salah satu dari yang bersangkutan kalah... atau mati.
Sekalipun persaingan ini akan terus berjalan sampai akhir hayat mereka, Sasori tidak pernah mengira akan separah ini. Mungkin Haruno Sakura penyebabnya. Tapi, gadis itu tidak melakukan apa-apa sama sekali. Dia hanya terlibat karena hutang bodoh yang disebabkan orang tuanya, sehingga kini wanita itu terikat dalam keduanya. Entah siapa yang harus disalahkan di sini. Mungkin diri mereka sendiri yang harus disalahkan, Sakura tidak melakukan apa-apa, dia hanya melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Ya, perasaan itu yang muncul dari diri mereka sendiri. Perasaan ingin memiliki sepenuhnya yang sangat gila. Seolah mereka tidak dikendalikan lagi dengan otak mereka, tapi perasaan itu. Karenanya, maka saat ini hal yang paling ditakuti mereka berdua adalah...
Saat tibanya waktu untuk wanita itu memilih di antara keduanya.
Sempat terbayang di pikiran mereka, bagaimana kalau Sakura tidak usah memilih saja? Dengan begitu, akan adil bukan? Tapi, ada dua hal yang mengganggu pikiran itu. Pertama, dari Sakuranya sendiri. Sangat egois jika mereka membiarkan wanita yang dicintai itu melayani keduanya. Bagaimana kalau Sakura tersiksa? Apalagi, sampai sekarang perasaan Sakura masih belum jelas. Bukan tidak mungkin, Sakura ternyata menyukai laki-laki selain mereka berdua. Kedua, perasaan ingin memiliki yang menggila itu, membutakan segalanya. Rasanya ingin membunuh saja jika melihat salah satu di antara mereka berada lebih dekat dengan wanita itu. Perasaan terbakar yang menyiksa, hanya bisa diredakan dengan perhatian sejuk wanita itu. Haruno Sakura.
Wanita yang berasal dari keluarga sederhana, ramah, dan keras kepala itulah pemegang kunci untuk membuka pintu dari permasalahan yang menyulitkan ini.
Sungguh ironis.
Teriakan Uchiha bungsu itu menggema di ruangan ini. Bersamaan dengan itu, Sasori menggertakan giginya dan kembali menghindar. Saat ini, tidak ada gunanya untuk bicara. Sasori tahu, kini yang ada di pikiran Sasuke adalah membunuhnya. Pria berambut raven biru donker itu sudah gelap mata.
"Ugh," Sasori meringis lagi. Kini bahu kanannya yang terkena sayatan pisau. Dari tadi Sasori sama sekali belum membalas serangan juniornya tersebut. Entah kenapa ada perasaan menyakitkan yang menuntutnya untuk jangan membalas perbuatan Sasuke. Dia jadi ingat masa-masa itu.
Dulu, Sasuke hanya melempar kursi untuk sekedar membuatnya terluka. Itupun dilakukan dengan tawa dan senyum. Yeah, candaan belaka.
Sekarang, Sasuke mengarahkan ujung pisau yang tajam ke arah wajahnya. Dengan mata merah dan tubuh yang dipenuhi aura kemarahan juga dendam. Ini serius.
Sasori menggertakan giginya. Tidak, dia tidak mau berakhir ironis seperti ini. Sudah tidak ada pilihan lain. Sasori segera mengambil pistol dengan peluru penuh di dalamnya dari kantong belakang celana. Tangan kirinya memukul wajah Sasuke hingga laki-laki itu jatuh terduduk membelakangi pintu keluar. Pisau itu terlepas dari genggaman tangannya. Sasuke mendelik, dia lantas bergerak untuk mengambil pisau yang tergeletak di sampingnya. Tapi kaki Sasori sudah terlebih dahulu menendang pisau itu menjauh dari jangkauan tangannya. Sasuke menggertakan giginya, saat dia memikirkkan apa yang sebaiknya dia lakukan sekarang, suara pistol yang disiapkan membuat Sasuke menengadahkan kepalanya.
Bola mata onyx Sasuke membulat tatkala bukan wajah Sasori yang dia lihat. Melainkan sebuah bulatan yang tak lain moncong sebuah pistol. Engahan nafas Sasori terdengar sangat jelas begitu pula degupan jantungnya. Tangannya yang gemetar membuktikan dia tengah menahan diri untuk tidak menarik pelatuk dan menembakkan peluru tepat di pelipis temannya atau mungkin sekarang mantan temannya. Sasuke juga terengah, dia memicingkan matanya. Pikirannya berkecamuk, apa dia akan mati di tangan Sasori, atau bagaimana? Sasuke yang terduduk masih tetap tak mengeluarkan suara saat dia menatap moncong pistol yang dipegang Sasori. Pria berambut merah itu masih berdiri, dia menunduk untuk menatap wajah Sasuke.
Detik demi detik terdengar dari ruangan yang mendadak hening itu. Bola mata hazel masih beradu dengan bola mata onyx. Sasuke menunggu Sasori bicara atau mungkin juga menunggu kapan pelatuk akan ditarik dan memecahkan kepalanya. Sasori menggenggam pistolnya semakin erat. Kembali memori itu teringat. Dulu, dia melempar berbagai alat tulis. Dan sekarang, dia mengarahkan moncong pistol berpeluru.
Sama saja.
Sekarang mereka atau mungkin hanya Sasori berpikir...
Apa yang begini masih bisa disebut teman? Atau...
Sasori menggigit bibir bawahnya, "Kumohon..." Sasuke masih diam menunggu. Permohonan? Apa? Dan Sasuke mengerti ketika dia melihat tangan kiri Sasori kini mengeluarkan borgol dari kantong celananya.
"...menyerahlah, Sasuke."
.
.
To Be continued
Special thanks for :
Valkyria Sapphire, Sabaku no Miyuki, Aika Namikaze, Hikari Meiko EunJo, LucCy ZaNiitha, SS (2x), miss-Ara-chan, italics, People again, Uchiha Athena, Kurosaki Kuchiki, Rizu Hatake-hime, agnes BigBang, dobelianaru, rchrt, tharo muri chan, J0e, Sky pea-chan, brokenwings, Ka Hime Shiseiten, Kurosaki Naruto-nichan, Kurousa Hime, VVVV, AnGeL Yumi Yuuna HikaRin, Sasusaku, Navi R-Yuuki69, Princess Sachie, Micon, Aichiruchan Phantomhive, mysticahime, Kirei Fan Fan (2x), Sagaarayuki, Haruchi Nigiyama, Fae-chan, Tabita Pinkybunny, SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ, sakura sama sasuke, Frozenoqua, uchiha madarame, Mieko luna-chan sasori, Tyazharunomiinamihatakeyama, Slay is Sacrifice, MA, Piwiww, SasuSaku is THE BEST, Liam Chan, rizukauchiha29, Aiko JoonBe Hachibi-chan, Kiki, Zue chan luph ky kuchi, Dhevitry 'The Tomato Knight', lorist angela, cakehina, Mei Lin SasuSaku, hachito kamita, Vie-uchihasan96, sakura loverz, CherryBlossom Sasuke, Himawari Yuuki, mayu akira, Ryunna Sakihara, Uchiha Violetz, Shisylia-Chan, halspen1-24, joeang, Raya Castellan, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Just and Sil, g3isha chan, me, Ai Nakimura, Rini-Chan, Nagisa Uchiha, DrizzleDay27, imechan, Uchiha Vio-chan
Dan untuk yang lainnya jika tidak kesebut, terima kasih :)
Lalu untuk Kirei Fan Fan yang sebelumnya sempat tanya, aku ini cewek kok xD hehehe emang gaya bicaraku kayak cowok ya? Tapi saya memang tomboy kok, jadi harap maklum yaa :3 dan umurku masih 15 tahun, baru selesai UN kemarin~ agamaku Islam :)
Hontou ni gomennasai karena tidak ada lemonnyaaaaa! Dan kayaknya sedikit, maaaaaaf! m(_,_)m
Sungguh, saya sudah berusaha mencari celah untuk menyelipkan minimal lime lha, tapi gak bisa. Memang begini jalan ceritanya, mungkin lain kali. Maaf ya orz
Dan bagi yang memberi saran juga terima kasih banyak ya xD sebenarnya jalan cerita sudah kupikirkan, jadi maaf kalau ada yang sarannya tidak ditulis ya. Oh ya, kalau gak salah dua chapter lalu aku menyelipkan slight threesome ya? Yup, itu dilakukan sebelum keperawanan Sakura diambil Sasori. Duo S cowok itu memang suka menggoda Sakura-chan, tapi nggak keterlaluan yeah sampai waktunya. Gomennasai Sakura-chaaan x3 #dishannaro
Ngg, gak tahu mau ngomong apa lagi. Oh ya, makasih atas vote kalian xD Saya memang ngaret kalau ngetik jadi maaf ya kalau lama hehee (=w=)a
Next fic multichapter : Review and Art
Mind to review? :D
