CHAPTER 10 : BOND
Few years ago...
"Sasukeeee, jangan lari-lari!" teriak seorang laki-laki kecil berumur sekitar sepuluh tahunan itu. Wajahnya yang menggemaskan terlihat cemas seraya mengejar adiknya yang terus menerus berlari tanpa menghiraukan sang kakak.
Sang adik terlihat senang—entah karena melihat kakaknya yang kelelahan mengejarnya atau karena hal lain—yang jelas, senyum lebar terpasang di wajahnya. Saking semangatnya berlari, anak berumur tujuh tahunan itu tidak memperhatikan sekitarnya sampai dia menoleh melihat ke seberang jalan. Dan pandangannya terpaku saat itu juga. Di seberang sana, dia melihat seorang anak gadis berambut bubble gum yang sepertinya seumuran dengannya tengah tersenyum riang dengan kedua tangannya digenggam oleh ayah dan ibunya. Anak laki-laki yang kerap dipanggil Sasuke itu terus melihatnya dari kejauhan sementara dia terus berlari tanpa menatap depannya.
Brug
"Aduduh..." kini Sasuke merasakan akibatnya. Laki-laki kecil itu jatuh terduduk karena menabrak seseorang yang sepertinya setinggi dengannya. Sasuke mengelus-ngelus belakang kepalanya sambil terus mengaduh. Mungkin Sasuke akan terus seperti itu, jika seandainya anak di depannya tidak berjongkok di depannya. Anak kecil dengan rambut gaya raven itu membuka sebelah matanya dan menatap anak yang tadi ditabraknya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya anak yang setinggi dengannya. Sasuke tidak menjawab, dia masih menilai anak yang mungkin seumuran dengannya itu. Dia masih berjongkok di depan Sasuke dan sekarang tersenyum. Sasuke mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Tanpa sepatah kata lagi, anak tersebut berdiri kemudian berjalan begitu saja meninggalkan Sasuke yang masih terduduk di pinggir jalan. Sasuke segera menoleh ke belakang, kini dia menatap punggung anak laki-laki itu yang semakin menjauh.
Anak aneh berambut merah...
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, misstypo, rate T for this chapter
Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship
Main pair : SasuSakuSaso
.
.
CHOOSE ME!
.
.
"Menyerahlah, Sasuke..."
Tersentak, Sasuke segera mengangkat kepalanya. Moncong pistol di depan wajahnya masih belum berubah posisi. Uchiha bungsu itu menggertakkan giginya kesal. Dia menatap sinis pada borgol yang dipegang oleh saingan berat di depannya, "Kalau aku tidak mau? Apa kau akan menembakku?" tanya Sasuke. Laki-laki bermata onyx itu menyeringai melihat wajah laki-laki berambut merah itu sempat bingung—meski hanya sepersekian detik. Sasori—nama laki-laki berambut merah—mengeratkan genggamannya pada pistol.
"Iya." Laki-laki yang memiliki bola mata obsidian itu tersentak, sungguh jawaban di luar perkiraannya, "Tapi aku tidak akan langsung menembak kepalamu, setidaknya kakimu. Agar kau tidak kabur." Sasuke menggertakkan giginya kesal. Pria yang memiliki bola mata hazel ini memang tidak bisa dianggap remeh.
Keadaan kembali hening. Tatapan mereka bertemu, hazel dan onyx. Karena tidak mau menunggu lebih lama, Sasori berjongkok dan memegang tangan Sasuke. Pria berambut biru dongker itu tidak melawan saat Sasori mulai memborgolnya dengan kedua tangan di belakang tubuhnya—beda sekali dari sebelumnya. Sasori memaksa Sasuke berdiri dengan tangan yang sudah diborgol di belakang tubuhnya dan menggiringnya untuk berjalan. Saat itulah Sasuke mendengus. Sasori memang tidak terlihat meresponnya, tapi Sasuke tahu dia mendengarkan hal yang akan dia katakan.
"Kau mengingatkanku..." kali ini Sasori menoleh tanpa ekspresi. Sasuke tersenyum sinis, "...pada janji yang menggelikan."
.
.
Back to few years ago...
Beberapa hari setelah kejadian dia ditabrak oleh seorang anak laki-laki berambut merah yang aneh, Sasuke saat ini tengah berbelanja di supermarket dekat rumahnya. Sebenarnya Sasuke dan Itachi hanya menemani Shion—salah satu pelayan mereka—untuk berbelanja. Ini semua disebabkan mereka berdua bosan di rumah ditambah kedua orang tua yang selalu sibuk membuat liburan mereka sangat membosankan. Yaah, setidaknya dengan menemani pelayan berbelanja, membuat kedua saudara yang masih kecil itu bisa keluar dari rumah dan menghirup udara segar.
"Ne ne, Shion! Belanjanya masih lama? Aku mulai bosan..." ucap Sasuke kecil dan dia menguap setelahnya. Itachi—sang kakak—hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang manja itu. Shion tersenyum ramah pada keduanya.
"Gomennasai, Sasuke-sama. Sepertinya masih akan lama, sebab truk yang membawa telur belum datang," jawab Shion sopan seraya membungkuk sedikit. Sasuke menguap lagi dan kali ini membalikkan tubuhnya.
Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan berjalan, "Kalau begitu, aku tunggu di luar saja deh!" gerutu adik Itachi itu. Sebelum Itachi sempat menahannya, adiknya yang nakal itu sudah duluan lari ke luar supermarket. Akhirnya Itachi hanya bisa berteriak, "JANGAN JAUH-JAUH SASUKEEE!"
Sesampainya di luar, Sasuke kecil meregangkan tubuhnya dan menguap lagi. Dalam-dalam dia hirup udara di sekitarnya. Sasuke tersenyum puas, rasanya sudah lama dia tidak keluar. Saat Sasuke melihat sekeliling, dia menangkap sesuatu yang familiar. Dan begitu mengenalnya Sasuke langsung tersentak, itu anak laki-laki yang menabraknya kemarin! Sepertinya anak laki-laki berambut merah itu juga mengenalinya. Dia tersenyum dari kejauhan lalu berlari ke tempat Sasuke berada.
"Kau yang kemarin terjatuh kan?" tanya laki-laki kecil itu dengan senyum mengembang di wajahnya. Sasuke mengernyitkan alisnya. Anak yang aneh, seolah-olah mereka berdua sudah saling mengenal dalam waktu lama. "Aku Sasori, salam kenal!" ucapnya lagi seraya mengulurkan sebelah tangannya.
Dengan ragu, Sasuke menyambut uluran tangan itu, "Sasu...ke." balasnya ragu. Sasori kecil tersenyum saat mereka berdua sudah menjabat tangan. Tapi, memang pada dasarnya Sasuke adalah tipe anak yang jujur dan to the point, akhirnya dia mengatakan, "Rambutmu aneh."
Tik
Tik
Tik
Awkward moment
"A-Apa?" Sasori langsung melepaskan genggamannya pada tangan Sasuke dan berkacak pinggang, "Beraninya kau bilang begitu! Berapa umurmu, hah?"
"Tujuh."
"Kau masih di bawahku!" melihat wajah datar Sasuke membuat Sasori tambah kesal saja, rasanya ingin sekali mencubit pipi chubby anak keturunan Uchiha itu. Sasori menghembuskan napasnya keras-keras, dia harus sabar. Anak berambut merah itu mengingat nasihat ibunya supaya jangan menyakiti anak kecil—yah, walau kenyataannya dia sendiri juga adalah anak kecil, "Ayo, minta maaf padaku!" lanjut Sasori seraya menyilangkan kedua tangannya.
Sasuke memutar bola matanya bosan, "Kenapa harus minta maaf? Aku berkata jujur, apa salahku?" tanya Uchiha kecil itu. Mendengarnya membuat emosi Sasori meningkat, anak di depannya ini benar-benar menyebalkan! Untuk ukuran anak kecil berumur delapan tahun seperti Sasori, marah karena rambutnya diejek mungkin cukup wajar. Akhirnya anak yang memiliki bola mata hazel itu menarik kepala Sasuke. Sebelah tangannya menahan leher Sasuke sementara sebelahnya lagi memukul-mukul kepala Sasuke dengan pelan.
"Ayo ayo, minta maaf padaku!" gerutu Sasori. Sasuke meronta-ronta seraya menendang-nendang udara. Pipinya dikembungkan hingga Sasuke menggigit lengan Sasori, "Aduh!"
Sasori merintih kesakitan dan langsung melepas Sasuke. Sementara Sasuke yang masih kesal dan ingin balas dendam langsung mendorong tubuh Sasori sampai mereka berdua terjatuh. Tubuh Sasori mengenai tanah sementara Sasuke jatuh di atas tubuh laki-laki yang lebih tua setahun dengannya itu. Keduanya sama-sama meringis kesakitan sampai keduanya kembali tersadar. Sasori mendorong tubuh Sasuke lalu mereka kembali pukul-pukulan dan cubit-cubitan. Walaupun begitu, tetap saja cara bertengkar mereka masih dalam batas anak kecil di bawah umur lima belas tahun.
"Ja-Jangan bertengkar!" Sasori dan Sasuke tersentak kaget begitu mereka akan saling pukul lagi, tiba-tiba di tengah mereka sudah berdiri seorang gadis kecil yang sedang merentangkan kedua tangannya. Gadis itu memiliki rambut berwarna soft pink yang indah. Untuk beberapa saat Sasuke merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Begitu mereka berdua berhenti, gadis aneh itu tiba-tiba berkacak pinggang di depan keduanya, "Kata kaasan, bertengkar itu tidak baik! Kalau kalian terluka, nanti kaasan dan tousan kalian pasti khawatir!" cerocos gadis manis tersebut.
Sasuke dan Sasori hanya bisa terpaku. Mereka saling menatap satu sama lain dengan pandangan 'apa-kau-mengenal-gadis-pink-ini?'. "Err, kau siapa?" akhirnya Sasori yang duluan bertanya. Gadis itu tersenyum lebar, kedua mata hijau zamrudnya terlihat berbinar-binar.
"Sakura!" gadis itu menunjukkan deretan gigi susunya yang putih, "Namaku, HARUNO SAKURA!" teriak gadis kecil itu. Sasori dan Sasuke masih terbengong-bengong melihat Sakura yang sepertinya adalah tipe-tipe gadis hyperactive. Dan tiga warna mata saling memandang satu sama lain, hijau zamrud, onyx, dan hazel.
Setelah lama terdiam, akhirnya Sasuke kembali berbicara, "Sakura, ya?" Sasuke menatap Sakura dari bawah ke atas lalu atas ke bawah, begitu terus hingga beberapa kali dan berhenti—lagi-lagi—di rambut Sakura, "Warna rambutmu norak."
Sasori menegang. Sasuke ini benar-benar menyebalkan! Tak sadarkah dia bahwa justru rambutnya—yang menurut Sasori—seperti pantat ayam itu adalah bentuk rambut yang paling aneh di antara keduanya? Dan Sasori bertambah panik begitu melihat bibir Sakura yang sudah bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Tak lama setelah itu, "HUWAAAAAAAA!"
"He-Hei!" reflek Sasori langsung memegang bahu Sakura yang menangis kencang. Gadis berambut bubble gum itu terus menangis bahkan bertambah keras saja. Laki-laki kecil berambut merah itu berusaha menenangkan Sakura dengan menepuk-nepuk pundak gadis kecil itu dengan pelan. Sasori menoleh pada Sasuke yang berkacak pinggang dan memasang wajah cuek, "Kau! Ayo minta maaf!" perintah Sasori—masih berusaha menenangkan sang gadis kecil.
"Tidak mau." Jawab Sasuke tegas dengan ekspresi tenang, "Kata aniki, jika salah aku harus minta maaf. Tapi sekarang aku tidak salah, aku berkata jujur." Jelas Sasuke lagi. Dan beberapa detik setelahnya, anak bungsu Uchiha itu menjulurkan lidahnya.
Sasori menggertakkan giginya. Bocah ini... benar-benar... ugh, rasanya ingin sekali dia memanggil ayahnya yang merupakan kepala polisi. Mungkin laki-laki kecil yang masih polos itu akan meminta kepada ayahnya untuk memenjarakan Sasuke SELAMANYA!—hah, benar-benar pikiran muluk anak kecil. Sasori menarik napasnya, berusaha sabar. Baru masuk ke dalam klub karate di sekolah dasarnya, bukan berarti dia bisa menghajar anak di depannya ini sesuka hatinya. Tapi yang di luar perkiraannya, Sakura yang tadi dia pegangi pundaknya tiba-tiba sudah berlari ke arah Sasuke. Dan selanjutnya, Sasori hanya bisa terbengong menyaksikan.
Bhug!
Sakura tertawa keras walau sesekali dia masih sesenggukan karena habis menangis. Rasanya puas sekali melihat anak laki-laki yang sudah seenaknya mengejeknya tengah merintih kesakitan karena hidungnya yang baru saja ditonjok seorang gadis kecil. Sasori hanya bisa sweatdrop melihat itu, ditambah Sakura yang tertawa sangat puas seperti penjahat. Mereka berdua sama saja, pikir Sasori seraya menggelengkan kepalanya. Kini anak yang memiliki bola mata hazel itu menghampiri Sasuke yang tengah menunduk seraya memegangi hidungnya. Begitu Sasori kecil berjongkok untuk melihat keadaan anak yang memiliki bola mata obsidian itu, dia hanya mendengus menahan tawa, "Masa' ditonjok anak perempuan langsung nangis..."
Sasuke tersadar, dengan cepat dia mengusapkan tangannya untuk mengahapus air yang sudah menggenang di matanya. Sasori tertawa kecil dan kembali berdiri. Sasuke mengangkat kepalanya, menatap kesal pada laki-laki kecil berambut merah di sampingnya lalu pada gadis kecil berambut soft pink di hadapannya. Sakura terlihat masih ngambek dengan Sasuke, terbukti dari perilakunya yang langsung membuang muka begitu Uchiha bungsu itu menatapnya. Sasori menarik napas, mungkin karena paling tua di sini, dia merasa harus menjadi dewasa.
"Sudah, sudah. Ayo minta maaf," setelah mengucapkan itu, Sasuke masih terdiam di tempatnya—berdiri dengan angkuh. Sampai Sasori menyenggol bahunya dan memberi isyarat, 'julurkan-tanganmu!'. Sasuke menggerutu, tapi toh akhirnya dia tetap menjulurkan tangannya dengan ekspresi cemberut. Sakura melirik tangan Sasuke di depannya, dia juga terlihat menimang-nimang apakah dia akan menerima tangan itu atau tidak. "Sakura..." panggilan Sasori membuyarkannya. Akhirnya dengan ragu, Sakura menyambut tangan Sasuke.
Sasuke terdiam merasakan tangan mungil Sakura di genggamannya. Tangan ini sangat lembut, rasanya seperti memegang permen empuk yang selalu Itachi berikan padanya. Dengan perlahan, Sasuke menggenggam erat tangan gadis kecil yang manis itu. Kedua bola mata bulat itu kini saling menatap. Tak butuh waktu lama sampai keduanya tersenyum malu-malu. Reaksi yang wajar untuk kedua anak kecil yang baru bertemu terutama Sakura. Sasori tersenyum senang, dia mengusap-ngusap kepala Sasuke dan Sakura. Rasanya menyenangkan. Sepertinya laki-laki dengan bola mata hazel itu memang mempunyai bakat yang diturunkan ayahnya, menyelesaikan perkelahian.
"Nah, gitu dong! Ayo, kita berteman saja!" ujar Sasori dengan senyum ceria nan polos. Sakura yang melihatnya juga ikut tersenyum ceria, bahkan wajahnya jauh lebih polos dari Sasori. Di saat keduanya tengah tersenyum, Sasuke hanya memutar bola matanya dan mendengus. Sampai Sasori tiba-tiba merangkul pundak Sasuke, "Ya kan, Sasu?" tanya Sasori dengan santai.
Sasuke sempat menatap Sasori sesaat lalu mendengus dan membuang muka, "Kau tidak selevel denganku." Balas Sasuke datar. Kerutan berbentuk empat siku-siku muncul di wajah Sasori, ugh sepertinya mulai hari ini dia harus membiasakan diri menghadapi sifat kekanakan anak kaya ini. Tarikan napas, Sasori bisa mengendalikan emosinya.
Dengan manyun, Sasori kecil berkata, "Bhuuu~ kau memang menyebalkan!" tapi genggamannya justru lebih erat sekarang, "Kalau kau begitu terus, aku jadi ragu bisa berteman baik denganmu atau tidak, bisa-bisa aku malah berkelahi denganmu terus." Gerutu Sasori. Tampaknya dia membayangkan bagaimana jadinya kalau mereka terus bersama, lalu diliriknya Sakura yang masih menatap keduanya dengan polos. Dan saat itu, tatapan keduanya terpaku.
Sasuke tidak menyadari kedua teman barunya yang tengah bertatapan, "Ayo kita berkelahi saja. Aku pasti akan melayanimu!" ucap Sasuke dengan angkuh. Mendengarnya, Sasori hanya memutar kedua bola matanya. Tak sadarkah bocah itu bahwa tadi dia baru saja dikalahkan olehnya?
"Kalau begitu," sebelum Sasori sempat membalas tantangan Sasuke, Sakura sudah bicara duluan. Kedua laki-laki kecil itu terpaku begitu gadis kecil itu tersenyum menantang, "nanti aku yang akan melerai kalian berduaaa!" lanjutnya seraya melompat-lompat kegirangan. Sepertinya daripada yang lain, Sakura lah yang paling senang mendapat teman baru di sini. Sasori menatap Sakura kagum lalu mengangguk cepat.
Ketiga teman baru itu masih tersenyum bersama di bawah langit sore yang cerah. Sesekali Sasuke dan Sasori kecil beradu mulut dan Sakura yang berusaha menengahinya—walau sesekali tidak ada yang mempedulikannya hingga membuat gadis kecil yang memiliki rambut berwarna soft pink itu mendelik kesal. Mereka juga sempat tertawa bersama—tanpa ada yang menyadari, di dalam hati kecil ketiga anak itu, tidak ada yang mau masa-masa ini akan berakhir. Tapi sayang, waktu tidak mendukung. Hari semakin sore, langit pun perlahan mulai semakin gelap. Sakura yang menyadari hal itu pertama kali, langsung memasang wajah sedih. Gadis kecil yang memiliki bola mata hijau zamrud itu menatap kedua temannya tengah bermain kejar-kejaran. Dia masih ingin bermain.
"Sasuke! Kau disini rupanya, ayo pulang!" seru seseorang dari kejauhan. Sakura langsung menoleh, begitu pula Sasori dan Sasuke yang menghentikan langkah mereka. Sasuke melihat kakak kesayangannya tengah berlari ke arahnya. Entah kenapa mengetahui dirinya akan pulang ke rumahnya lagi, menumbuhkan rasa ragu di hatinya. Sasuke menatap kedua teman barunya bergantian. Sasori tersenyum dan menggerakkan kepalanya—tanda dia menyuruh Sasuke untuk menghampiri kakaknya. Sementara Sakura... wajahnya sudah seperti mau menangis.
Sasuke menghela napas, lalu menghampiri Sakura kecil. Dia menyempatkan dirinya untuk mengelus kepala Sakura yang setinggi dengannya saat itu, "Gomen." Ucap Sasuke singkat, dan dirinya pun langsung berlari menuju tempat Itachi. Uchiha sulung itu tampak tersenyum mendapati adiknya baik-baik saja, digenggamnya tangan adik kesayangannya itu dan mereka pun berbalik.
"SASUKE!" Sasori berteriak dari kejauhan, membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "KALAU KITA KETEMU LAGI, NANTI LANJUTKAN PERKELAHIAN KITA YAAA!" laki-laki kecil berambut merah itu menarik napas, "ITU JANJIIII!" teriak Sasori lagi dengan semangat. Sasuke sempat tertegun beberapa saat, tapi setelah itu dia tersenyum tipis dan mengangguk.
Melihat anggukan itu, Sasori tersenyum lebar dan menunjukkan deretan giginya yang putih. Sasuke kembali berbalik lalu berjalan menjauh hingga sosoknya menghilang. Sasori masih tersenyum saat Sakura sudah menyilangkan tangannya dengan ekspresi kesal, "Kan aku sudah bilang! Kata kaasan gak boleh berantem!" cibir Sakura seraya menggembungkan kedua pipinya. Sasori tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Sakura.
"Makanya, Sakura-chan juga harus terus melerai kami, lalu menahan kami kalau sudah keterlaluan," anak berambut merah itu kini menjulurkan kelingking kanannya pada Sakura, "kau juga harus janji." Sasori tersenyum melihat Sakura menganggukkan kepalanya dan menautkan kelingking kecilnya pada kelingking kecil milik Sasori. Laki-laki kecil berusia delapan tahun itu menoleh ke sekelilingnya, hari sudah mulai gelap, "Sekarang kuantar kau pulang."
Sasori menggenggam tangan Sakura dan berjalan di atas trotoar. Kedua anak kecil itu sesekali bercanda membuat keduanya tertawa bersama. Terkadang Sasori juga berlari duluan membuat Sakura harus susah payah mengejarnya. Mereka berdua terlihat seperti kakak adik—melihat bagaimana perhatiannya Sasori kepada Sakura. Yah, memang dari dulu Sasori ingin sekali mempunyai adik, tapi karena suatu masalah yang entah kenapa orang tuanya tidak mau menceritakannya kepadanya, keinginan itu jadi terhambat. Sesampainya di depan rumah Sakura, Sasori melambaikan tangannya melihat Sakura masuk ke dalam rumahnya. Sesaat kemudian laki-laki polos itu menatap langit gelap di atasnya.
"Semoga kaasan nggak marah karena aku pulang telat..."
.
"Kemana saja kau hari ini, Sasuke?" tanya Uchiha Fugaku—kepala keluarga Uchiha seraya membolak-balik dokumen yang tengah dibacanya. Laki-laki tua itu menyeruput kopi panasnya, "Kudengar dari Itachi, kau bermain hingga petang, apa itu benar?" tanya Fugaku lagi dengan nada menyelidik.
Sasuke yang selalu dinasihati untuk berkata jujur, akhirnya mengangguk, "Hai, aku bermain dengan teman-teman baruku, tousan..." jawab Sasuke apa adanya. Sedetik kemudian dia menyesali jawabannya, karena Uchiha bungsu itu merasa akan ada suatu peraturan baru. Dia meremas kedua tangan di samping tubuhnya.
"Hn," Pria berusia sekitar tiga puluhan itu kembali membuka lembar demi lembar dokumen di depannya, "mulai sekarang hentikan kegiatan tak berguna itu."
"Eh?"
"Kau akan menjadi penerus perusahaan Uchiha yang diturunkan dari Madara-jiisan ini, kau pasti mengerti itu, Sasuke." Kini Fugaku mengangkat kepalanya dan menatap anaknya yang masih berusia tujuh tahun. Sasuke terlihat menunduk, bola matanya bergerak ke sana kemari. Dia tak tenang, dan Fugaku mengerti anak itu pasti ingin sekali memprotes perkataannya barusan. Tentu saja, Fugaku seperti melihat dirinya sendiri beberapa tahun yang lalu saat tousannya mengucapkan hal yang sama, "Aku tidak bisa memberikan perusahaanku pada anak yang bisanya hanya main-main hingga hampir larut seperti tadi." Lanjut tousan dari dua anak Uchiha tersebut dengan dingin.
Sasuke meremas celana pendeknya hingga kusut. Dia masih ingat betapa mengerikannya saat tousannya itu dulu marah besar karena dia melanggar peraturan saat itu, "Mulai besok, kau akan masuk sekolah dasar bukan? Teruslah belajar dan raih prestasi yang membanggakan nama besar Uchiha seperti kakakmu." Fugaku membereskan dokumen yang ada di hadapannya dan kembali meminum kopinya, "Lalu, tinggalkan hal-hal yang tidak berguna seperti bermain. Itu hanya akan mengganggu konsentrasi belajarmu." Ucap Fugaku dengan tegas.
"Ta-Tapi besok aku sudah janji untuk bertemu—"
"Kalau aku bilang tidak ya TIDAK!" bentak Fugaku seraya menggebrak meja di depannya. Sasuke tersentak kaget, tubuhnya gemetaran bukan main. Takut, dia takut. Dia tidak akan bisa membantah perkataan tousannya ini. Bibir Sasuke rasanya kaku, tidak mau terbuka. Sedikit demi sedikit air mata mulai menggenang di bola matanya, "Baiklah, sekarang apa jawabanmu?" tanya Fugaku lagi. Dia ingin memastikan anak bungsunya ini menuruti perkataannya. Fugaku adalah tipe yang selalu menginginkan seluruh keinginannya dituruti bahkan oleh anak-anaknya sekalipun. Tipe orang tua yang sangat otoriter. Dia tidak suka dibantah, dan tidak akan segan-segan melakukan apapun untuk menghukum meskipun itu adalah darah dagingnya sendiri.
Dengan tubuh yang masih gemetaran, Sasuke mengangguk pelan, "...aku akan menuruti tousan."
.
.
Keesokan harinya sepulang sekolah, Sasori langsung melempar tas kotaknya ke atas tempat tidur, "Kaasaaaaaan! Aku pergi dulu yaaaa!" teriak Sasori kecil dengan semangat. Namun sebelum anak yang menduduki kelas dua di sekolah dasar itu sempat memegang pintu rumah, wanita yang sudah melahirkannya itu menghalangi langkahnya, "Eiit, gak boleh! Kamu tidak lihat cuaca di luar, hah?" seru ibunya.
Sasori mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Tapi akhirnya dia menurut saat ibunya menunjukkan jarinya ke arah jendela di ruang keluarga kediaman Akasuna tersebut. Sasori melangkah ke arah jendela tersebut. Tapi karena tingginya yang belum mencukupi, Sasori harus berputar-putar dulu untuk mencari pijakan. Begitu menemukannya, laki-laki kecil itu segera menaiki pijakannya dan melihat keadaan luar dari jendela. Anak tunggal Akasuna itu memasang wajah kecewa begitu melihat keadaan di luar sana, hujan angin yang sangat deras dan sesekali petir menyambar di sekelilingnya.
"Tapi kaasan, aku sudah janji dengan teman-temanku, kami akan datang dan bermain lagi hari ini." Ucap Sasori dengan cemberut. Ibu rumah tangga Akasuna itu menggelengkan kepalanya.
"Kau masih belum puas juga? Padahal kemarin kau bermain hingga larut, apa kau tak kapok dimarahi tousanmu, hm?" tanya wanita cantik berambut panjang tersebut seraya mencuci piring. Sasori kembali merengut kesal. Ah, dia jadi teringat lagi. Kemarin sepulang dari mengantar Sakura, laki-laki kecil itu dimarahi habis-habisan oleh sang tousan hingga menangis kencang. Yeah, tapi itu memang salahnya juga sih.
Sasori memainkan jarinya, "Aku kapok kok kaasan, aku janji gak akan pulang larut lagi." Kata Sasori dengan penuh sesal. Mendengar itu, kaasannya hanya tersenyum dan mengangguk. Melihat wajah kaasan yang sangat disukainya membuat Sasori makin tidak tega untuk melanggar perintahnya.
Tapi... tetap saja kepikiran. Akasuna no Sasori kecil itu menoleh lagi, melihat hujan yang entah kapan akan berhenti. Bayang-bayang wajah Sasuke dan Sakura terbayang di benaknya. Bagaimana kalau mereka benar-benar menepati janji mereka? Bagaimana kalau mereka berdua menunggunya di tengah hujan deras ini? Bagaimana kalau mereka berdua sampai sakit gara-gara menunggunya? Tentu saja Sasori tidak mau itu semua terjadi. Laki-laki yang memiliki bola mata hazel itu kembali berpikir keras hingga tekadnya bulat. Dia turun dari pijakannya.
"Kata tousan," Sasori mengepalkan kedua tangannya. Mendengar anaknya berbicara, wanita yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu segera menoleh menatap sang anak, "laki-laki harus menepati janjinya!" dan Sasori pun segera berlari keluar menuju pintu rumah dan membukanya.
Tentu saja wanita itu terkaget, "Sasori, tunggu—SASORI!" tapi terlambat. Pintu rumah sudah terbuka hingga air hujan seolah memaksa masuk ke dalam rumah. Karena angin yang sangat kencang, membuat pintu rumah itu bergerak-gerak membanting tembok. Jumlah payung di dalam guci yang tidak berkurang, membuktikan bahwa Sasori lari keluar tanpa membawa payung.
.
"Hah hah..." jalanan yang becek membuat kaki kecil Sasori kesusahan berjalan. Apalagi jalanan beraspal yang menjadi licin sesekali membuatnya terjatuh. Tapi dia harus bertahan, dia harus sampai ke tempat perjanjian mereka. Harus. Sasori tidak mau mengecewakan kedua teman barunya.
Laki-laki beriris coklat hazel itu berusaha mengatur napasnya di tengah hujan yang mengeroyok tubuh mungilnya. Akhirnya, dia sampai juga. Tapi saat Sasori mengangkat kepalanya, tidak ada siapapun di sana. Tentu saja Sasori tidak akan lupa, di depan supermarket inilah dia bertemu keduanya. Bahkan supermarket itu terlihat tutup entah karena apa. Sasori masih tidak menyerah, di tengah hujan itu dia tetap menoleh ke kanan kiri, berjalan mencoba mencari keberadaan teman-temannya. Tapi tetap tak ada siapapun. Sasori mengeluh kecewa, matanya terasa panas, sepertinya dia akan menangis. Dengan gontai, Sasori berjalan dan duduk di teras supermarket. Setidaknya dia akan menunggu hujan reda—meskipun tubuhnya sudah basah kuyup.
Tapi saat Sasori duduk, tangannya menyentuh sesuatu. Laki-laki berusia delapan tahun itu mengambil sesuatu tersebut. Dan dia mengerti, itu adalah surat. Tulisan di amplop yang mengatakan surat itu untuk dia dan Sasuke, membuat Sasori membuka amplop itu. Terlihatlah tulisan anak kecil yang berantakan.
Ne, Sasori dan Sasuke.
Ini Sakura yang kemarin. Maaf, aku tidak bisa datang menepati janji bersama kalian berdua. Kaasan dan Tousan tiba-tiba mengajakku untuk segera pindah ke luar kota karena pekerjaan tousan dipindahkan. Kata kaasan, aku harus ikut karena aku masih kecil. Aku sedih gak bisa bertemu kalian lagi, aku masih ingin main sama kalian. Waktu aku ke sini, kalian belum datang, jadi kata kaasan lebih baik aku tulis surat saja.
Pokoknya aku janji, kita akan main bersama lagi!
"Tulisannya jelek banget..." bisik Sasori. Tanpa dia sadari air mata sudah mengalir di pipi putihnya.
.
Sasuke masih diam mengamati jendela besar di kamarnya. Mengamati hujan deras dan sesekali petir yang saling menyahut. Mungkin Uchiha bungsu itu akan terus menatapnya jika seseorang tidak menepuk bahunya, "Lihat apa, Sasu-chan?" tanya Itachi dengan seringai jahil.
Biasanya Sasuke pasti akan merengut kesal dan membalas godaan Itachi dengan memukulnya atau sebagainya. Tapi kali ini Sasuke tidak menanggapinya, dia tetap diam menatap sang kakak lalu kembali menatap hujan deras di luar. Tentu saja Itachi menyadari gelagat adiknya yang aneh ini, sebelum Itachi sempat bertanya, punggung telapak tangannya sudah lebih dulu terkena air entah dari mana. Dan Uchiha sulung itu mengerti begitu merasakan tubuh adik kecilnya yang bergetar.
"Aku ingin main..."
.
Haruno Sakura terus menerus melihat keadaan di luar dari jendela kaca mobilnya. Sesekali dia menggigit sedotan di mulutnya. Dia merasa resah, entah karena apa, "Kenapa Sakura?" tanya sang kaasan seraya mengelus rambut soft pink milik anaknya itu. Sakura tidak menjawab, dia hanya menggeleng lalu menunduk.
Ibu Haruno itu mengerti perasaan anaknya. Anak itu pasti sangat sedih karena pindahan ini, mengingat tadi dia sempat menangis kencang begitu mengetahui keputusan kedua orang tuanya. Wanita bermarga Haruno itu menghela napas dan bergerak untuk memeluk anak satu-satunya itu. Mengelus punggung kecilnya yang mulai bergetar. Gadis itu akan menangis lagi, "Gomen ne, Sasori... Sasuke..."
.
Di hari itu, ketiga anak yang masih dalam masa pertumbuhan di tempat yang berbeda terus menatap hujan yang entah kapan akan berhenti.
End flashback
.
.
Sasori dan Sasuke masih terdiam di tempat yang sama. Kejadian waktu mereka kecil terus terngiang-ngiang di kepala mereka. Sasori terlihat mendengus dan tersenyum menyindir, "Setelah itu, kita tidak bertemu hingga menduduki bangku SMA—setidaknya untuk Sakura," Sasori memejamkan matanya, "kita berdua bertemu lagi setelah SMP."
Sasuke tersenyum sinis, dia bergerak untuk membuat posisinya sedikit lebih nyaman sementara kedua tangannya masih terikat di salah satu tiang tempat tidur dengan borgol. "Aku sempat lupa denganmu saat bertemu di SMP waktu itu," membuang muka, Uchiha bungsu itu mendecih, "waktu itu daripada memikirkan masa lalu, aku lebih mengutamakan bagaimana caranya supaya aku bisa mengalahkanmu." Gerutu Sasuke.
Sasori tertawa kecil, "Berterima kasihlah, karena aku langsung ingat denganmu saat itu, aku mau melayani tantanganmu. Harusnya kau lihat saat aku tertawa memikirkan kau tidak berubah sedikit pun sejak umur tujuh tahun." Sindir pria yang sudah berumur dua puluh tahunan itu. Sasuke memutar kedua bola matanya bosan, bisa saja dia melayangkan tendangan pada rival menyebalkannya itu. Tapi, Sasuke tidak mau mengambil resiko—setidaknya untuk saat ini.
"Bagaimana dengan Sakura?" tanya Sasuke perlahan, Sasori menoleh padanya, "Apa dia masih mengingatnya?"
Sasori tersenyum sebelum akhirnya menjawab, "Tidak." Sasuke terkejut dan segera menatap Sasori meminta penjelasan, "Berdasarkan data kepolisian, sekitar tiga tahun setelah berpisah dengan kita, Sakura mengalami kecelakaan yang menyebabkannya hilang ingatan," Sasori berdiri dan berjalan menatap cuaca luar dari jendela kamarnya, "aku langsung menyelidikinya begitu aku mengingat Sakura."
"Jadi kau sempat lupa?" tanya Sasuke menyindir. Tapi Sasori tidak menanggapinya, laki-laki itu masih menatap luar jendela. Bukannya Sasori lupa, dia hanya... merasakan ada yang aneh saat menatap Sakura yang datang di dalam kehidupan SMAnya.
"Meskipun Sakura lupa dengan janjinya," Sasori mengambil sebuah foto dengan pigura sederhana di atas laci. Foto Sakura yang tengah tersenyum, membuatnya ikut tersenyum. Teman saat kecilnya itu adalah wanita yang disayanginya sekarang, wanita yang akan dia pertahankan sampai mati, "tidak akan merubah apa-apa." Sasori membalikkan badannya, menatap Sasuke yang kebingungan. Laki-laki yang lebih tua setahun daripada kedua temannya itu tersenyum ramah.
"Karena dari dulu sampai sekarang, memang hanya Sakura yang bisa menghentikan perkelahian kita."
Sasuke memang tidak menjawab apapun. Pandangannya tetap dingin. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Sasuke sangat menyetujui pernyataan itu.
.
.
To Be Continued
.
.
Special thanks for :
Frozenoqua, tharo muri chan, Tabita PinkyBunny, V3Yagami, Sagaarayuki, Valkyria Sapphire, Andromeda no Rei, noname, Shubi Shubi, Aika Namikaze, Ka Hime Shiseiten, cherryy mijeje, Violetz Eminemers, Mona Rukisa-chan, Peri Hitam, Sora Tsubameki, imechan, Risuki Taka, vvvv, Kirei kazuchan, Uchiha Hikari-chan, me, agnes BigBang, Kazuki Namikaze, 41 maylan, Dhevitry 'The Tomato Knight', QRen, Radit RedDevil'z, kaoru shibuya, uchiha iYkha (3x), ryuuka, Kirei Fan Fan, lily kensei, Sky pea-chan, RestuAuliaChii, lorist angela, Weasel Arya, Haruchi Nigiyama, uchiruno, chini VAN, halspen1-24, dela, Akari Nami Amane, Impossible is Invisible, fuyu yurriehana, Eunike Yuen
Dan untuk yang lainnya, kuucapkan terima kasih banyak :)
Untuk Andromeda no Rei, maaf ya Pink and Blonde kuhapus. Dikarenakan idenya hilang di tengah-tengah =A= tapi mungkin suatu hari aku akan membuat fic oneshot DeiSaku kalau ada ide. Terima kasih sebelumnya ya :)
Pertama-tamaaa, saya minta maaf pada semua yang udah nungguin lemon di fic ini. Serius susah banget dimasukinnya, pas aku coba masukin jadinya malah maksa orz Tapi setelah kulihat-lihat akhirnya next chapter PASTI ada lemon, silahkan lempar saya kalau gak jadi lagi -_- #dor
Lalu disini, lebih ke flashback antara mereka bertiga ya, ada yang udah nyangka sebelumnya kalau waktu kecil sebenarnya mereka sempat bertemu? xD Well, sebenarnya ini adalah ide dadakan. Cuma buat manjang-manjangin cerita aja dan memperjelas :P #diinjek Di sini juga Sakura dewasa gak keluar ya wkwkwk next chapter pasti keluar kok 8D
Wokeh no comment again, review? x)
