CHAPTER 11 : DOUBT
Dari awal, kehidupan seperti ini tidak pernah kubayangkan...
Aku selalu berpikir, hidupku akan bahagia kelak. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna di dunia ini, bisa membantu orang-orang yang membutuhkanku. Melihat mereka semua tersenyum karena aku—itu harapanku.
Lalu setelah membuat mereka bahagia, aku juga akan memikirkan kebahagiaan untuk diriku sendiri. Aku ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik—tentu saja, ini adalah impian seluruh wanita di dunia. Aku akan merawat suami dan anak-anakku sampai titik darah penghabisan. Aku akan menjadi ibu yang bisa mereka banggakan. Dengan begitu, aku akan mengeluarkan tangis bahagia karena kehidupan yang kuinginkan telah tercapai.
Tapi sayangnya, semua itu harus tertunda.
Karena aku di sini, di tengah mereka. Dua suamiku.
Untuk mencapai kehidupan yang bahagia dan sempurna, aku akan memilih di antara mereka. Namun jika harus begitu, berarti aku bahagia di atas penderitaan salah satu laki-laki yang tidak akan kupilih nanti. Itu tidak sempurna, yang kuinginkan semua orang bisa tersenyum karena aku. Jika aku bahagia, aku juga ingin orang lain bahagia tanpa terkecuali. Aku rela mengorbankan semuanya, aku rela jika tidak bisa mencapai mimpi yang kuinginkan. Asalkan tidak ada orang yang kecewa karena diriku.
Karena itu, yang ingin kutanyakan...
...apa aku benar-benar harus memilih?
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, lemon, explicit language [I can't make it implicit, either way I've warn you]
Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship
Main pair : SasuSakuSaso
.
.
CHOOSE ME!
.
.
Seorang wanita di depan pintu sebuah apartemen mewah terlihat menarik napas. Setelahnya, dia mengeluarkan napas yang tadi dia ambil dari mulut itu lewat hidungnya. Senyum tipis terbentuk di wajahnya sebelum dia membuka bibirnya, "Tadaima!" ucapnya seraya membuka pintu apartemen di depannya. Yah walau dia tahu tidak akan ada yang membalas ucapan aku-pulang-nya itu.
Haruno Sakura menatap heran dengan keadaan di dalam apartemennya. Biasanya jika dia pulang, keadaan masih sangat gelap dan sedikit berantakan. Tentu saja itu dikarenakan kedua suaminya yang selalu pulang lebih larut darinya. Tapi sekarang, keadaan di dalam apartemen itu tertata rapi dan lampu menyala. Seolah membuktikan sudah ada orang yang masuk ke sini lebih dulu. Semenit Sakura masih terpaku pada keheranannya sampai tiba-tiba seseorang keluar dari salah satu kamar.
"Okaeri, Sakura-chan..." sahut pria itu—yang sepertinya berniat membalas ucapan Sakura tadi. Wanita yang memiliki rambut berwarna soft pink tersebut tidak bisa menyembunyikan kekagetannya.
"Sasori!" Sakura sedikit berteriak saat menyebut nama pria berambut merah itu. Wajar saja, Sasori justru adalah orang yang biasanya selalu pulang paling terlambat dari dua penghuni lainnya, "Kau tidak kerja?" tanya wanita itu seraya menaruh barang-barang kedokterannya di atas sofa.
Pria yang dipanggil dengan nama Sasori itu mengangguk dengan senyuman di bibirnya seraya menghampiri Sakura, "Yeah, kebetulan aku mendapat izin istirahat hari ini," bola mata hazel yang indah itu memperhatikan setiap gerakan Sakura yang tengah membereskan barangnya dan menaruhnya satu-satu di tempatnya masing-masing. Senyum lembut terpasang di wajah Sasori, kedua tangannya dia masukkan ke dalam kedua saku di celana jeans-nya, "bagaimana kerja hari ini, bu dokter?" tanya Sasori dengan nada menggoda yang dibuat-buat.
Sakura mendengus menahan tawa, "Tetap menyenangkan seperti biasa, pak polisi," balas wanita itu yang masih terfokus dengan kegiatannya membereskan barang-barang, dia mengikik pelan, "tadi ada salah satu pasien yang melahirkan bayi—" tiba-tiba Sakura menghentikan kegiatannya membuat Sasori mengangkat alis sebelahnya. Meski hanya sekilas, Sasori sempat melihat kesedihan terpancar di wajah wanita yang dicintainya itu, "—untunglah bayi dan ibunya selamat, lalu ayahnya datang. Mereka benar-benar terlihat bahagia. Aku senang melihatnya." Lanjut Sakura lagi seraya tersenyum lebar di depan Sasori yang menatapnya diam.
Senyum palsu—Sasori tahu itu.
Setelah itu, Sakura kembali meneruskan kegiatannya. Seolah mengabaikan apa yang baru saja tadi dia ucapkan. Tapi Sasori tidak bisa dibohongi begitu saja. Dia mengerti—tentu. Wanita seperti Sakura yang sangat menginginkan anak tidaklah sedikit, buktinya Sasori sudah beberapa kali menangani kasus ibu yang terbunuh demi melindungi anak-anaknya. Banyak juga kasus wanita gila yang sangat terobsesi menginginkan anak sampai-sampai mereka menculik anak orang lain. Intinya, Sasori tahu dan merasa wajar jika wanita yang sudah menikah seperti Sakura sangat menginginkan anak.
Tapi dalam kondisi begini, tidak mungkin kan?
Laki-laki berwajah baby face itu menggigit bibir bawahnya. Dia seolah berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Kebetulan, pikirannya langsung teralihkan kepada seseorang yang sempat terlupakan. Reflek, Sasori langsung menoleh ke arah salah satu kamar. Gerakan tiba-tibanya itu tentu saja membuat wanita di sampingnya heran, "Ada apa, Sasori?"
Sasori kembali menoleh ke arah Sakura dengan senyum canggung, "Ah, tidak apa-apa. Sebentar ya." Dengan segera, Sasori berdiri dan berbalik. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat berusaha mencapai kamar tempat dia keluar tadi. Tapi sebelum polisi muda itu menyentuh gagang pintu kamarnya,
"Oh ya, ngomong-ngomong Sasuke belum pulang ya?"
Tubuh Sasori menegang seketika. Dengan pelan, dia menoleh pada Sakura yang menatapnya penuh tanya. Sasori menelan ludah, bola matanya bergerak ke kanan dan kiri. Sedetik kemudian, pria Akasuna itu tersenyum penuh arti, "Tadi dia menelponku, katanya dia akan lembur. Dan kalau tidak pulang, berarti dia ke rumah orang tuanya. Jangan khawatir." Dusta pria tersebut. Tanpa mau Sakura bertanya lebih lanjut, Sasori segera membuka pintu kamarnya dan memasukinya. Meninggalkan wanita yang menatapnya dengan kebingungan.
Pria yang memiliki bola mata hazel tersebut terengah setelah dia menutup pintu di belakangnya. Dadanya berdenyut sakit ketika dia mengucapkan kata-kata dusta pada wanita yang disayanginya. Setelah terengah dan tertunduk cukup lama, kini dia menggeram. Giginya dia gertakan penuh amarah. Lalu Sasori mengangkat wajahnya menatap seseorang yang balik menatapnya dengan kadar kebencian yang sama. Berbeda dengan Sasori yang penuh ekspresi untuk menunjukkan betapa bencinya dia pada pria di depannya, laki-laki dengan rambut biru dongker itu menatap Sasori dengan datar dan dingin. Seolah di hadapannya ada sampah tidak berguna yang mengganggu pemandangannya.
Bahkan meski dalam keadaan diborgol dan posisinya yang terpojok, seorang Uchiha Sasuke masih bisa menatap lawannya dengan penuh keangkuhan. Tidak peduli walau dia yang salah, Sasuke tidak akan kehilangan harga dirinya semudah itu. Tak ada yang bisa menurunkan derajatnya, bukan juga polisi yang sudah berhasil menghajarnya dan membuatnya tak berdaya. Melihat tatapan penuh amarah dari laki-laki yang di seberangnya, Sasuke hanya menyeringai angkuh.
"Tak kusangka kau berbohong padanya, senpai~" sindir Sasuke dengan nada penuh kemenangan dan mengejek. Kedua tangan diborgol dengan kayu meja di belakangnya bukanlah penghalang untuk seorang Uchiha mempertahankan harga dirinya. Sasori tetap diam, dia harus bersabar meski tangannya sudah sangat ingin menonjok wajah pemimpin mafia di depannya, "seingatku, kau ingin mengatakan pada Sakura tentang siapa aku. Kau berubah pikiran dengan cepat, dasar sampah."
Sasori mendecih, "Sekarang bukan waktunya." Jawab pria berambut merah itu dengan singkat dan jelas, lalu dia kembali memutar tubuhnya—membelakangi Uchiha bungsu itu, "Aku hanya ingin memastikan, kau tidak terlalu bodoh untuk berteriak dan membuat Sakura menyadari keadaanmu sekarang."
Sasuke menyeringai, "Hoo, apa kau—"
"Aku akan membuat Sakura menghamili anakku," bola mata onyx itu kini membulat kaget. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tanpa sadar, Sasuke menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya yang terborgol. Menatap laki-laki yang membelakanginya dengan penuh kebencian. Reflek, pria berambut raven itu menyentakkan kedua tangannya seolah berusaha melepaskan diri dari borgol besi itu. Tanpa perlu membalikkan tubuhnya, Sasori kembali berucap, "dengan begini, akan kupastikan kekalahanmu dengan telak."
Dua detik kemudian, Sasori sudah menghilang dari balik pintu kamar yang langsung dikunci dari luar itu. Sasuke terus menerus menggertakkan giginya. Mengucapkan sumpah serapah penuh kebencian pada orang yang selalu mengalahkannya itu.
Harus Sasuke akui, dia tidak pernah merasa serendah ini sebelumnya. Hanya satu orang yang bisa membuatnya hancur begini, tak lain dan tak bukan dia adalah Akasuna no Sasori. Tidak terima. Uchiha tidak boleh menerima perlakuan seperti ini! Sasuke mati-matian menahan dirinya untuk tidak berteriak keras.
.
"KAU! Jangan lari! Perkelahian kita masih belum selesai!"
"Belum selesai? Hahaha, jangan bercanda. Berdiri saja susah."
"BERISIK! Cepat serang aku, dasar rambut merah sialan!"
"Aku tidak mau menyerang orang yang sudah setengah sadar sepertimu. Lihat dirimu, lebih baik kau istirahat di rumah dengan mamamu~"
"Brengsek!"
BRAK
"Ugh..."
"Lihat, padahal aku hanya mendorongmu dengan satu tanganku. Daripada membuang tenaga sia-sia seperti ini, lebih baik kau simpan tenagamu dan kumpulkan tenaga sebanyak-banyaknya lalu kembali ke hadapanku."
"Cih, terserah! Lihat saja nanti! Aku akan memanjat tebing neraka dan kembali untuk menghajarmu! Bersiap-siaplah untuk mati di pertemuan kita berikutnya!"
"Tenang, aku siap kapan saja untuk menjatuhkanmu kembali ke dasar neraka, Sasu-chan~"
.
Berbagai keping memori memalukan yang sempat terlupakan kembali terpasang satu-satu di kepala Sasuke. Laki-laki bermata onyx itu memejamkan matanya. Mengingat kembali kekalahan demi kekalahan yang dia terima dari seniornya itu. Memalukan, memalukan, memalukan. Dia Uchiha kan? Uchiha harus selalu berada di atas! Tidak boleh seorang pun berdiri di atasnya. Kegagalan dan ke-putus asa-an yang dia terima dari Sasori terus membuatnya merasa terpuruk. Sasori selalu bisa mengembalikannya ke dasar neraka, tidak peduli meski Sasuke berusaha mati-matian memanjat tebing neraka itu untuk mencapainya.
Selalu.
Menyadarinya, membuat Sasuke tanpa sadar mengalirkan air matanya. Tak ada isakan maupun rintihan. Bibir bawah yang terus Sasuke gigit tadi untuk menahan teriakan kini mengeluarkan liquid merahnya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang dideritanya saat ini. Sasori merebut semuanya, kemenangan, kebanggaan, kebahagiaan—tidak ada yang lebih menyakitkan dari kenyataan itu. Tidak, tidak, Sasuke tidak akan menerima ini semua. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya, tanpa sadar dia berbisik dengan suara parau. Membisikkan nama seseorang yang dia sayangi dan sebentar lagi akan direbut juga oleh laki-laki merah itu.
"Sakura..."
Kumohon—
—Kami-sama, jika Engkau memang ada...
Kembalikan, kembalikan dia padaku.
Hanya dia, kumohon Kami-sama—
—aku membutuhkannya...
Pergelangan tangan Sasuke yang diborgol itu semakin memerah. Cairan bening yang keluar dari onyx yang indah itu menyatu dengan cairan merah kental yang menetes di atas karpet coklat di bawahnya. Kedua cairan berbeda warna itu terus mengalir, seolah menunjukkan betapa luka di hati pria itu sudah menganga semakin lebar dan menyakitkan.
.
.
Sasori terdiam setelah dia mengunci pintu kamarnya. Tubuhnya masih menyandar pada pintu kamar itu. Wajahnya menunjukkan sirat kesedihan dan penyesalan—meski berkali-kali dia berusaha tidak mempedulikannya. Setidaknya dia terus seperti itu sampai seseorang menghampirinya.
"Sasori?" mendengar namanya dipanggil, laki-laki berambut merah itu mengangkat kepalanya. Melihat wanita berambut soft pink tengah menatapnya dengan cemas, "Kau terlihat bingung, ada apa?"
Pria yang memiliki bola mata berwarna hazel yang menyejukkan itu menggigit bibir bawahnya. Dia terus menatap Sakura di depannya. Tidak, Sasori tidak bisa membayangkan betapa takutnya dia jika harus kehilangan wanita yang dicintainya untuk yang pertama dan yang terakhir itu. Apalagi membayangkan dia di sisi rival abadinya itu, mana mungkin Sasori membiarkannya.
"Sakura," mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya, Sasori berkata tegas, "tidurlah denganku hari ini."
Sakura membelalakkan matanya kaget, "A-Apa? Tapi—"
Bahkan Sasori tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan cepat, pria yang memiliki wajah baby face itu menarik pergelangan tangan Sakura mengabaikan protes yang keluar dari bibir ranum wanita itu. Mereka berdua masuk ke kamar yang satu lagi. Sasori mendudukkan Sakura paksa di tepi tempat tidur selama dia mengunci pintu kamar ini.
"Saso—"
Wanita yang memiliki nama seperti bunga itu terdiam saat Sasori memeluknya begitu kencang. Sangat kencang, membuat Sakura nyaris susah bernapas. Sasori menenggelamkan kepalanya di perbatasan leher dan bahu Sakura membuat wanita itu merasakan hembusan napasnya yang hangat. Dengan ragu, Sakura mengangkat tangannya mencoba membalas pelukan yang hangat itu walau tidak se-erat salah satu suaminya. Dan dalam pelukan itu Sakura menyadari.
...betapa rapuh suaminya ini.
Seperti Sasori, Sakura juga menenggelamkan kepalanya di perbatasan leher dan bahu pria tersebut. Dia menyesap aroma maskulin yang menguar dari tubuh Sasori. Sakura meremas baju belakang pria di pelukannya hingga kusut, entah kenapa hatinya merasa sakit menyadari betapa laki-laki ini begitu mencintainya. Wanita itu sadar dia tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah kemana takdir akan menuntunnya.
Kenapa Kami-sama begitu kejam?
Sasori mengendurkan pelukannya, dia menatap iris hijau emerald di depannya yang berkaca-kaca. Tersenyum lembut, pria berambut merah itu berbisik, "Jangan menatapku seperti itu," diambilnya sapu tangan dari saku celananya. Sakura tertegun saat Sasori tiba-tiba menutup kedua matanya dengan sapu tangan putih tersebut, "fokus saja dengan apa yang akan kulakukan sekarang."
Sakura mendesis ketika Sasori mulai mengecup leher jenjangnya yang putih dan sesekali menjilatnya. Dengan reflek wanita itu meremas sprei di bawahnya sampai kusut. Tangan kekar Sasori berpindah ke punggung Sakura, menuntun wanita itu untuk tidur telentang di tengah kasur. Pipi Sakura memerah. Walau tidak bisa melihat apa yang terjadi, Sakura bisa merasakan tubuh Sasori di atasnya dan tengah menatapnya intens. Perlahan tapi pasti kedua tangan pria berambut merah itu melucuti pakaian sang istri dan melemparnya entah kemana. Sekarang sudah tidak ada lagi sehelai kain pun melekat pada tubuh wanita cantik itu.
Merasakan udara dingin menerpa tubuhnya yang sudah telanjang, Sakura bergetar dan memeluk tubuhnya sendiri. Tapi itu tak bertahan lama, karena Sasori melepaskan pelukan itu dan memeluk Sakura dengan tubuhnya sendiri. Sasori sudah membuka bajunya sedari tadi, sehingga dia bisa merasakan dada bidangnya yang menggesek dada kenyal di bawahnya. Sakura menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang akan keluar dengan indahnya dari mulutnya.
Wanita bermarga Haruno itu mau tak mau harus membuka mulutnya untuk menyambut kedatangan suaminya yang menuntut untuk masuk. Erangan Sakura keluar, memenuhi kamar itu dengan suara-suaranya yang menggoda. Kedua tangan Sakura bergerak, jari-jari lentiknya merayap lalu memeluk leher suaminya. Sasori semakin mendalamkan ciumannya, lidahnya dengan leluasa mencapai setiap sudut mulut wanita berambut soft pink itu.
"Ngh, errgh..." erang Sakura. Tubuhnya menggeliat tak nyaman di bawah Sasori apalagi saat tangan pria berambut merah itu semakin ke bawah dan meremas buah dadanya, "agh! Sa-Sasori—uhn..." Sakura menyentakkan kepalanya ke bantal merasakan remasan Sasori yang menguat sementara pria itu terus menciumnya semakin turun.
Sakura tidak bisa menahan desahannya untuk tidak lebih keras dari ini. Berkat penutup matanya, Sakura menjadi terfokus dengan perlakuan Sasori. Kedua tubuh mereka sudah dipenuhi peluh—terutama Sakura. Entah memang tubuhnya yang sensitif atau bagaimana, padahal Sasori baru meremas dan mengemut buah dadanya, tapi Sakura sudah mengeluarkan klimaks pertamanya. Sasori yang melihat itu langsung tertegun.
"Tenang Sakura." Pria bermata hazel itu mengikik geli melihat wajah istrinya yang semakin memerah dari sebelumnya. Sasori kembali meraup bibir ranum Sakura. Melumatnya seolah bibirnya itu hanya untuk dirinya sendiri. Tidak ada lagi yang boleh menyentuh bibir itu.
Ya, tidak ada lagi.
Sasori kembali meneruskan ciumannya lebih dalam. Membuat Sakura terus mengerang dan menyebut namanya di tengah-tengah ciuman ini. Tangan Sasori kembali turun, mencapai dua gundukan di bawah sana. Bola mata Sakura membulat kaget. Tubuhnya menggeliyat gelisah apalagi saat Sasori mengelus-ngelus daerah sensitif itu membuat Sakura tidak bisa menahan desahannya yang merdu.
"Akh... ah, Sasori—ngh!" mulut Sakura terbuka, tidak bisa menahan desahannya yang semakin menggila. Tangannya berusaha menutup mulutnya, merasakan perlakuan salah satu suaminya semakin membuatnya lepas kendali. Tapi tentu saja laki-laki berambut merah itu tidak berniat membiarkannya, dengan cepat tangan kekarnya memegang tangan Sakura agar tidak bisa bergerak.
Dengan tenang Sasori sudah memasukkan satu jari ke dalam liang yang sudah sangat basah tersebut. Sakura menyentakkan kepalanya di atas bantal. Kemudian diikuti dua jari yang lain, kini Sasori sudah memasukkan ketiga jarinya. Memberi kenikmatan duniawi kepada wanita di bawahnya. Sasori menundukkan kepalanya, menjilat pipi Sakura yang sudah sangat memerah. Pria bermata hazel tersebut menggerakkan ketiga jarinya semakin cepat membuat tubuh Sakura terlonjak karena tidak bisa menahan ombak kenikmatan yang menyerangnya.
Sasori menyeringai melihat reaksi dari sang istri. Dia kembali melumat bibir ranum wanita tersebut sebelum akhirnya memasukkan miliknya membuat kedua bola mata Sakura membulat, "Akh, aaaakh!" Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencakar punggung Sasori. Bahkan karena tegang, tanpa sadar Sakura menggigit bahu Sasori hingga berdarah.
Pria berambut merah itu meringis menahan rasa sakit di bahunya dan rasa nikmat di selangkangannya. Perlahan tapi pasti Sasori membuka matanya melihat wajah wanita di bawahnya yang kini tengah tenggelam ke dalam kenikmatan seperti dirinya. Diam-diam Sasori tersenyum dan mulai menggerakkan tubuhnya. Sakura tersentak, bibirnya langsung mengeluarkan desahan-desahan erotis yang menyenangkan di telinga salah satu suaminya tersebut. Sasori kembali melanjutkan aksinya untuk menandai istri di bawahnya.
"Ah oh Sa-Sah ahn ngh!" Sakura tidak bisa menahan semuanya. Serangan dari Sasori begitu bertubi-tubi, bahkan untuk bernapas saja rasanya susah. Kedua kaki Sakura terangkat, reflek melingkari pinggang Sasori. Membuat tusukan pria itu semakin dalam saja.
Dengan tusukan terakhir yang begitu dalam, Sakura mendesah keras diiringi dengan desahan tertahan dari Sasori. Pria berambut merah itu sebenarnya masih kuat jikalau ini semua ingin dilanjutkan, tapi melihat Sakura yang begitu kelelahan akhirnya dia mengurungkan niatnya. Sasori jatuh di atas tubuh sang istri, memeluknya begitu kencang seolah tidak mau melepaskannya. Kedua insan itu masih mengatur napasnya sampai akhirnya Sasori melepaskan penutup mata Sakura dan membuka mulut terlebih dahulu.
"Sakura," bisiknya setengah parau karena masih dalam keadaan setengah kelelahan, "ada yang ingin kubicarakan... tentang Sasuke."
Walaupun sudah setengah sadar dan kelopak matanya sudah setengah tertutup, Sakura tetap berusaha menoleh menatap hazel indah di atasnya, "Sasu... ke?" tanyanya lemah.
Sasori mengangguk, "Maaf, harus kukatakan semuanya padamu tapi—"
Sebelum pria keturunan Akasuna itu sempat melanjutkan ucapannya, Sakura sudah terlebih dahulu jatuh tertidur. Sasori terdiam dan menatap wajah Sakura yang begitu polos dan terlihat sangat kelelahan. Tak terasa senyum tipis terbentuk di wajah Sasori dan dia pun mengelus kepala Sakura. Sasori melepaskan dirinya dari diri Sakura, menyelimuti wanita itu lalu tidur telentang di sampingnya. Dalam diam, pria berwajah baby face itu menatap langit-langit kamarnya.
"Sedikit lagi," bisik pria itu. Terdengar ada sedikit nada kekecewaan dari suaranya. Sasori menarik napas lalu mengeluarkannya perlahan dari bibir tipisnya. Sekali lagi, pria berambut merah itu melirik wanita di sampingnya lalu dia kembali memejamkan matanya.
Dia sangat egois, Sasori tahu itu. Dengan keadaannya yang sekarang, Sasori pasti akan bisa merebut Sakura dari Sasuke dengan telak. Tapi entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya, ada perasaan yang menuntut dirinya untuk menyiksa Sasuke lebih dari ini. Lalu ada sisi lain yang menuntutnya untuk menghentikan semua perlakuan kejam kepada rivalnya sejak kecil tersebut. Sasori tidak pernah kalah, dia selalu bisa menang dari pria berambut dongker itu bahkan sampai sekarang. Kadang dia ingin mengalah walau rasanya susah sekali—secara tak sadar, dia akan kembali mengalahkan Uchiha Sasuke. Well, bukankah memang pada dasarnya seorang lelaki memang selalu menginginkan kemenangan?
Semuanya terlalu membingungkan. Namun, ada satu kepastian. Sasori tidak akan pernah menyerahkan Haruno Sakura pada siapapun. Pria berambut merah itu memejamkan matanya dan menaruh pergelangan tangannya untuk menutupi kedua matanya itu.
"Gomen, Sasuke..."
.
.
There is a time when—
—light becomes dark.
.
.
.
To be Continued
.
.
Special thanks for :
Yuki 'Shiro' Usagi, Miho Yulatha, Aika Namikaze, Ka Hime Shiseiten, Akari Nami Amane, uchihaiykha, mysticahime, choco momo, Micon, Violetz Eminemers, Kazuki Namikaze, Sagaarayuki, d3rin, Mona Rukisa-chan, chy karin, Chini VAN, Sky Pea-chan, Tabita Pinkybunny, Sichi, ck mendokusei, hatake rukia, Uchiha The Tomato Knight, RestuChii SoraYama, Nagisa Archipelago, Han alQe 33, Frozenoqua, Hime Aletta, Gue males login, selenavella, Kyoko Raa, Snoppi, asuza-chan, zhandchand, Ryumiharu, Hanazono Himeka, Eunike Yuen, Soldier of Light
Dan untuk yang lainnya, terima kasih :) Ayo jangan baca saja~ ayo review~ kan udah saya kasih lemon 8D #dibunuh
Yo, halo semua (=w=)/ seperti biasa saya telat [banget] updatenya ehehee #dordor Tapi terima kasih bagi yang masih nungguin~ #ciuminsatusatu #woy Terima kasih juga yang rela-relain bikin akun demi mereviewku dengan login, saya terharu banget bacanya :'D #rapesatusatu #SALAH
Di sini saya yakin lemonnya kurang hot dan segala macamnya, hontou ni gomennasai orz Daaan saya berubah pikiran, silahkan teriakkan di review "UPDATE KILAT!" ternyata kalau cuma kata "update" saya malah jadi kelewat santai \(=w=")7 Maafkanlah ke-plin plan-an saya #ojigi #dibakartetangga
Saya usahakan setelah ini akan update fic Sasuke's Pain. Ternyata banyak yang nungguin, maaf ya m(_,_)m Mencari ide humor memang sangat-amat-susah-banget. Berhubung kemaren dapet ide lagi, jadi akan kuusahakan update, berdoalah semoga cepat selesai minna-san 8D #dilemparbatu
Next chapter fic ini konfliknya akan lebih berat. Dan kalau cukup, sepertinya fic ini akan selesai dalam 15 chapter x3 Yosh, arigato ne! Mind to Review again? :3
