CHAPTER 12 : PUNISHMENT

Aku tahu bahwa saat ini aku sudah tenggelam.

Tenggelam ke dalam kegelapan, penghinaan, kebencian, kesedihan, penyiksaan.

Aku tidak pernah menginginkannya. Lebih tepatnya, aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan tenggelam ke dalam dunia seperti ini. Kalian tidak akan pernah mau merasakan apa yang kurasakan sekarang. Jangankan untuk tertawa, aku saja sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.

Wajahku kehilangan ekspresinya dan mataku terasa buta. Tidak ada yang bisa kulihat selain kehampaan yang tak berujung. Aku menangis tanpa suara. Air mata sialan ini mengalir begitu saja meskipun aku tidak menginginkannya. Seolah berharap, jika air mata ini keluar maka seseorang akan datang dan menolongku.

Tapi siapa?

Siapa 'seseorang' itu?

Aku tidak tahu. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah percaya. Percaya bahwa suatu hari nanti akan benar-benar ada yang bisa melihat air mataku dan menarikku keluar dari kegelapan yang tak berujung ini. Kutengadahkan kepalaku, menatap lubang cahaya nun jauh di atas sana. Bagaimana caranya agar aku bisa mencapai cahaya itu? Sama sekali tidak kutemukan jawabnya. Akhirnya aku menyerah, kuangkat tangan kananku seolah akan mencapai lubang cahaya itu.

Tapi pada kenyataannya, aku tidak berniat mencapai lubang cahaya tersebut seorang diri. Ada sisi lain dari dalam hatiku yang menyimpan sebuah harapan kecil.

Adakah yang akan menarik tanganku ini?

Adakah... seseorang yang akan menarikku... keluar?

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, violence, slight gore, full Sasuke and Sasori's side

Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship

Main pair : SasuSakuSaso

.

.

CHOOSE ME!

.

.

Akasuna no Sasori membuka kelopak matanya yang tertutup begitu didengarnya suara alarm berbunyi. Dengan enggan, polisi muda itu bergerak di atas kasurnya. Berputar ke kanan kiri sebelum akhirnya dia berhasil mengumpulkan nyawanya dan bangkit untuk duduk. Dengan mata yang masih setengah tertutup, Sasori meraba-raba sampingnya seolah mencari sesuatu. Matanya terbuka sepenuhnya begitu dia merasa dia memegang secarik kertas.

.

Aku berangkat duluan, ada janji dengan pasien jam tujuh pagi. Sarapanmu sudah kusiapkan di atas meja. Maaf tidak membangunkanmu, kau terlihat sangat lelah. Semoga kau menjalani hari yang menyenangkan.

Sakura.

.

Sasori tersenyum simpul membaca sepucuk surat itu. Tanpa kata-kata yang berarti, pria berambut merah itu segera turun dari kasurnya. Dia berjalan ke wastafel dan mencuci mukanya hingga wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Bola mata hazel miliknya menatap pantulan dirinya sendiri pada kaca di hadapannya.

"Tekadmu sudah bulat," memejamkan matanya sesaat, Sasori kembali berkata setelah mengigit bibir bawahnya, "jangan mundur lagi."

Kedua tangan Sasori mencengkram erat kedua sisi wastafel di bawahnya. Perasaannya tidak menentu saat ini. Dia ingin semuanya cepat selesai dan tidak mau tersesat ke dalam perasaan menyakitkan seperti ini lagi. Dengan langkah yang pasti, Sasori berjalan menuju kamar yang kemarin ia kunci dari luar.

Begitu dibukanya pintu itu, terlihat seorang laki-laki menyedihkan yang kini terborgol dengan tiang kayu di belakangnya. Dari lingkar hitam di sekitar matanya, membuktikan bahwa semalam laki-laki berambut biru dongker itu tidak tidur sama sekali. Matanya memerah dan sedikit mengeluarkan air mata—entah karena apa. Bola mata onyx miliknya bergerak melihat Sasori yang sudah berdiri di ambang pintu. Tanpa ekspresi yang pasti, Uchiha Sasuke mendesis pelan dan berbisik, "Apa... maumu sekarang?"

Pria yang berumur dua puluh dua tahun itu tersenyum tipis seolah mengejek, tapi sayang... itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesedihan yang tertera di wajahnya. Terutama dari pancaran matanya yang sekilas seperti ingin menangis, "Membawamu ke kantor polisi." Jawabnya singkat.

Sasuke memejamkan matanya. Sedikit gerakan untuk menyamankan posisi duduknya, pria berambut raven itu mengabaikan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya begitu dia melakukan gerakan meskipun hanya sedikit. Sasuke menggigit bibir bawahnya dan merintih karena luka di sana. Sementara Sasuke masih berusaha menyesuaikan diri, Sasori sudah lebih dulu maju dan menarik tubuh Sasuke paksa untuk berdiri. Setelah melepaskan borgol yang menyatukan Sasuke dengan tiang kayu, Sasori kembali menarik dan memaksa mantan adik kelasnya itu untuk berjalan.

Bahkan tidak peduli dengan kenyataan bahwa Sasuke tengah kesusahan berjalan karena rasa sakit di sekujur tubuhnya, Sasori terus memaksa Sasuke untuk berjalan. Bukan tidak mungkin sesekali Sasori harus menjambak rambut Sasuke agar rivalnya itu bertahan untuk tetap berdiri dan kuat berjalan. Terus begitu hingga Sasori memasukkan Sasuke ke dalam mobilnya dan kembali memborgolnya pada kursi di belakangnya.

Sasuke terengah begitu dia duduk di kursi mobil Sasori dan merasakan kendaraan beroda empat itu mulai bergerak dari tempat parkirnya. Entah karena kelelahan atau apa, Sasuke memejamkan matanya sementara Sasori fokus pada jalan di depannya, "Bukan aku yang akan memberimu dan Akatsuki hukuman," Uchiha bungsu itu membuka matanya perlahan, melirik pria di sebelahnya dengan lemah, "jadi aku tidak menjamin hukumanmu lebih ringan dari perbuatanmu dengan teman-temanmu selama ini. Dan bukan tidak mungkin kau akan dijatuhi hukuman mati."

Pria bermata onyx itu mendengus seolah menahan tawa. Sasori mengerutkan alisnya tak suka mendapat nada meremehkan dari pria yang duduk di bangku kemudi itu. Sasuke menyeringai di samping polisi muda tersebut, "Tidak masalah jika aku mendapat hukuman mati. Toh, suatu hari nanti juga aku akan mati." Tanpa menyadari genggaman Sasori pada setir yang semakin mengerat, Sasuke terus berbicara.

"Hukuman kalian—para polisi bodoh—hanya membuat waktuku mati sedikit lebih cepat. Tidak ada yang spesial."

.

.

BRAK!

"Ugh." Sasuke merintih begitu tangan pria berambut merah di belakangnya membanting kepalanya ke atas meja. Kepalanya terbentur cukup keras membuat pria berambut biru dongker itu sempat merasa pusing. Perlahan sebelah mata Sasuke terbuka, menatap penuh amarah pada kumpulan orang-orang di hadapannya. Ya, kumpulan yang sangat dia benci.

Para polisi.

"Jadi dia..."

"Hai! Dia adalah pemimpin Akatsuki, organisasi mafia yang tengah buron saat ini." Jawab Sasori dengan cekatan. Dia menunduk hormat pada atasan di depannya—Sarutobi Asuma. Sementara sebelah tangannya masih menahan kepala Sasuke di atas meja, "Jika anda menginginkan bukti, anda bisa menyocokkan sidik jarinya dengan sidik jari di pisau yang dia tinggalkan pada lokasi pembunuhan terakhir." Lanjut Sasori lagi.

Asuma sempat terdiam mendengar penuturan salah satu anak buah kesayangannya tersebut, dia memejamkan matanya perlahan, "Baiklah, panggil tim penyelidik untuk memeriksanya!" perintah Asuma pada para bawahan di belakangnya. Polisi-polisi tersebut saling bergerak, ada yang membawa Sasuke menuju ruang penahanan, ada pula yang mencoba mengubungi tim penyelidik. Hingga di ruangan sekarang hanya tinggal Sasori dan atasannya tersebut.

Kedua pria ini pun berdiam diri. Tidak ada yang membuka mulut sampai polisi berumur sekitar empat puluh tahunan itu memulai pembicaraan, "Jika Uchiha Sasuke benar-benar pemimpin Akatsuki, kau benar-benar melakukan kerja yang bagus, Sasori..." ucap Asuma. Senyum tipis tersungging di bibirnya sebelum dia menggigit sebatang rokok dan menyalakannya.

Sasori hanya terdiam tanpa menjawab. Dia terus menundukkan kepalanya sehingga sang atasan tidak bisa melihat bagaimana ekspresi pria berambut merah tersebut. Tapi Asuma tidak begitu mempedulikannya, sebelum berbicara lagi dia menyempatkan diri mengisap rokoknya lalu meniupkan asapnya, "Dengan begini, aku tidak akan ragu memberikan kenaikan jabatan untukmu, Akasuna-san."

Jika bisa, mungkin Sasori akan berkata bahwa dia tidak pantas mendapatkan jabatan tersebut. Bagaimana pun juga, dia sendiri yang mengingkari perjanjian di antara Sasuke, Sakura, dan dirinya. Tapi kalau dia mengucapkan itu, maka akan ketahuan bahwa Sasori sempat menyembunyikan Uchiha Sasuke dan hukuman lebih buruk akan menimpanya.

Sekarang pria berbola mata hazelnut itu hanya bisa pasrah pada takdir yang akan membawanya. Walau begitu, tetap. Dia tidak akan pernah menyerahkan kemenangan atas Sasuke yang selalu dipertahankannya sampai sekarang.

Tidak akan pernah.

.

.

"CEPAT BERI TAHU SEKARANG JUGA!"

"Ohg!"

Sudah kesekian kalinya pertanyaan itu dilontarkan pada direktur salah satu perusahaan terbesar di Konoha, Uchiha Sasuke. Pria berambut biru dongker tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan memberi jawaban atas pertanyaan yang diberikan padanya. Sekitar tiga puluh menit yang lalu, salah seorang polisi memasuki ruangan interogasi ini dan memberi pernyataan bahwa dia yang tak lain dan tak bukan adalah anak bungsu dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto memang adalah seorang pemimpin organisasi mafia terbesar, Akatsuki.

Sasuke menatap penuh kebencian pada seorang polisi yang sedang menjambak rambutnya di hadapannya. Perlahan tapi pasti senyum sinis terukir di bibir tipisnya yang terlihat berdarah, "Apa ini? Meskipun kalian menghajarku sampai mati, polisi bodoh seperti kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dariku," polisi dengan badan besar tersebut tersentak kaget saat Sasuke dengan berani meludah ke arah wajahnya.

"Bagaimana kalau kalian langsung membunuhku saja? Daripada kalian membuang-buang waktu dan mengotori tangan kalian, hm?" tawar pria berambut raven tersebut dengan seringaiannya.

Tapi, seringai itu—

—tidak bisa menyembunyikan tatapan matanya yang kosong dan hampa.

"Tidak semudah itu, Uchiha Sasuke." Suara pintu terbuka membuat dua insan tadi melihat ke sumber suara. Sasuke menggertakkan giginya penuh amarah melihat siapa pria di balik pintu yang terbuka itu, "Kami—ah, mungkin lebih tepatnya hanya aku, akan memberikan kenang-kenangan sebelum kau mendapat kematian yang kau inginkan."

Pria tampan berumur dua puluh tahun dan bermata onyx tersebut mengernyitkan alisnya, "Apa... maksudmu?"

Akasuna no Sasori terdiam menatap rival -nya sejak kecil itu. Dan tanpa berniat menjawab pertanyaannya, Sasori menatap polisi besar yang sedari tadi memegang rambut Sasuke, "Bawa dia dan ikuti aku." Perintah pria rambut merah itu. Sang polisi berbadan besar menurut, dia melepaskan ikatan Sasuke dari kursi lalu memborgolnya dan membawanya di belakang Sasori.

Ketiga pria itu diam dalam hening. Sasuke tidak tahu apa kenangan yang Sasori maksud, tapi satu hal yang jelas. Kenangan itu bukan Sakura. Tentu saja, Sasuke tahu Sasori tidak bodoh. Jadi apa? Laki-laki Uchiha itu hanya tahu dari jalan yang mereka lalui sekarang mereka akan menuju tempat eksekusi untuk para terdakwa.

Sasuke merintih lagi merasakan jambakan kuat pada rambutnya tepat di saat Sasori membuka pintu masuk lapangan eksekusi. Entah dari mana, Uchiha bungsu itu bisa mendengar suara detikan jam yang melambat di kepalanya. Perlahan tapi pasti, Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut hingga membuat kedua bola mata onyx-nya yang indah membulat. Bibirnya terasa kaku melihat apa yang ada di lapangan eksekusi itu sekarang.

"Tidak... mungkin..."

Ekspresi stoic yang selalu menghiasi wajahnya hilang begitu saja. Ekspresinya kini ketakutan—sangat ketakutan dan pucat. Sasuke belum pernah berekspresi seperti ini lagi sejak kakaknya meninggalkannya setahun yang lalu. Tentu saja. Bagaimana perasaanmu saat melihat teman-teman berharga kakakmu yang dititipkan padamu kini ada di lapangan eksekusi—

—dalam keadaan diikat di tiang dan kedua mata mereka ditutup?

"APA YANG AKAN KAU LAKUKAN? SASORI!" dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung lagi, Sasuke menoleh dan menatap Sasori yang tengah berekspresi dingin. Polisi yang tadi sempat mengendurkan pegangannya pada Sasuke kini kembali memegang pria berambut raven itu dengan keras dan kasar, "SASORI! KAU DENGAR AKU KAN? SASORI!"

"Suara itu..." gumaman salah seorang yang tak lain dan tak bukan adalah salah satu anggota Akatsuki itu menghentikan teriakan Sasuke. Pria berambut pirang panjang dan sepertinya terlihat paling polos di antara yang lain itu sedikit mengulaskan senyum saat Sasuke menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan, "Sasuke...kun?"

Hati pria bermata onyx itu sedikit mencelos mendengar nada lemah dari salah satu teman berharga kakaknya, "Deidara..." ucapnya membisikkan nama pria berambut pirang itu. Kekuatan memberontak yang dari tadi membara kini lenyap entah kemana. Kedua lutut pria berumur dua puluh tahun itu menyentuh lantai semen di bawahnya.

"Heh, ternyata adik Itachi masih hidup ya?" tanya seorang pria berambut biru dengan pipi yang menyerupai insang hiu. Dia terkekeh kecil walau terdengar nada kesakitan di sana.

Sasuke tersenyum kecil di saat air mata mulai menggenang dan siap jatuh. Tentu saja, dia tidak bodoh. Sasuke menunduk menatap lantai semen di bawahnya, "Kalian... kalian adalah kumpulan orang terbodoh yang pernah kulihat di dunia ini." Bisik pria berambut biru dongker itu.

Sasori melirik Sasuke di sampingnya yang tengah duduk dan menunduk lalu kembali menatap kumpulan terdakwa di depannya, "Atas perintah yang kudapat dari kepala kepolisian Konoha, kalian—Akatsuki akan dihukum mati tembak di lapangan ekseksusi ini," pernyataan Sasori membuat tempat yang tertutup ini sunyi senyap dan Sasuke mengangkat kepalanya, menatap Sasori tidak percaya, "silahkan para sniper mengambil posisi."

"TUNGGU!" dengan susah payah karena kedua tangan diborgol di belakang tubuhnya, Sasuke berusaha bangkit dan berlari terhuyung mendekati Sasori, "Mereka hanya anak buah yang diperintahkan olehku dan kakakku! Mereka tidak bersalah!" bela Sasuke mati-matian sampai-sampai suaranya semakin serak karena belum meminum air dari kemarin sejak Sasori mengurungnya. Pria berambut merah itu hanya memicingkan matanya, seolah menatap Sasuke adalah sampah yang mengganggu kegiatannya.

Mengerti tanda itu, dua polisi datang dari arah belakang dan memegang Sasuke hingga beberapa bagian tubuh Uchiha bungsu itu memerah, "Sa-Sasori—akh!" rintih Sasuke saat seorang polisi kembali menjambak rambutnya.

"Ambil posisi."

CRAK

"Jangan! JANGAAAAAAAAAAAAAAAAN!"

"Hitung mundur akan dimulai—" Sasori memejamkan matanya dan menarik napas. Rasa sakit di hatinya sudah tidak dipedulikan lagi. Dia sudah tahu sejak awal, bahwa Akatsuki memiliki rasa kekeluargaan yang sangat besar. Mereka hanyalah anak-anak terbuang yang salah jalan, harusnya... mereka mempunyai kesempatan lagi.

Tapi keputusan bukan di tangannya.

Dia harus menjadi manusia batu sekarang.

"Tiga."

Sasuke menggertakkan giginya. Dia ingin berontak, dia ingin membunuh satu-satu polisi sialan yang sudah seenaknya mengarahkan moncong pistol mereka pada teman-teman kakaknya yang berharga. Bibir Sasuke bergetar, suaranya semakin habis.

Hentikan... kumohon...

"Dua."

Air mata terus mengalir tanpa diminta. Ingin berteriak tapi tak bisa. Rintihan-rintihan kecil terus keluar di bibir tipisnya. Sasuke mengangkat wajahnya menatap para anggota Akatsuki satu persatu. Sampai sepasang onyx miliknya berhenti karena menyadari ada yang berbeda dari wajah teman-temannya yang selalu tersenyum bodoh itu.

Sedikit, sampai-sampai tidak terlihat.

Cairan bening mengalir dari balik penutup mata itu.

Dan juga senyum tipis yang seolah mengatakan...

"Gomen... Itachi no otouto..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Satu."

DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR

.

.

.

Uchiha Sasuke terpaku dalam diam. Rasanya apa saja yang baru terjadi terasa berlalu terlalu cepat. Tubuhnya bergetar melihat bagaimana kejamnya para polisi itu menyarangkan masing-masing tiga peluru di setiap dada-dada mereka. Merebut nyawa mereka dengan paksa di depan matanya. Kini kesepuluh pria yang terbuang itu menunduk dengan tubuh yang sudah tidak memiliki nyawa, darah mengalir di sudut bibir mereka, tiga peluru yang mengenai jantung lalu paru-paru kiri dan kanan sudah pasti membuat mereka mati seketika.

Para sniper yang menembak mati mereka kini tengah memberi hormat pada para terdakwa yang baru saja mereka bunuh—secara tidak langsung—dengan menegakkan tubuh lalu meletakkan ujung jari-jari kanan mereka di depan pelipis.

"Ah... a... !"

Air mata yang tadi sempat tertahan kini mengalir semakin deras. Siapa dia, apa yang sedang dilakukannya di sini, bagaimana statusnya, sudah tidak dia pedulikan lagi. Sasuke menghentakkan kepalanya dengan keras pada dagu polisi yang sedang menahannya sehingga pria tua itu kesakitan dan reflek melepas pegangannya pada Sasuke.

Di kepala Uchiha bungsu itu kembali terkumpul kenangan-kenangan menyakitkan yang sudah lama ingin dia lupakan. Wajah kakaknya saat meninggalkannya, wajah para anggota Akatsuki yang berseri-seri saat Itachi membawa dan memperkenalkannya, dan saat mereka melakukan aksi kejahatan bersama. Pria berambut raven itu kini berlari ke arah Sasori, sorot mata binatang buas yang seolah ingin mencabik-cabik lawannya dibalas dengan tatapan dingin dan hampa dari pria berambut merah itu.

Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki yang hampir sekarat dengan kedua tangan diborgol di belakang tubuhnya?

BHUG

"Ohok!" air liur keluar dengan paksa dari mulut Sasuke. Tubuh pria yang menyedihkan itu semakin merosot ke bawah setelah perutnya ditonjok dengan keras saat sedang berlari. Sasuke menggertakkan giginya ketika menyadari kepalanya semakin berat dan kesadarannya semakin menipis. Akhirnya Sasuke pun pingsan dan akan menghantam lantai semen seandainya Sasori tidak menahan bahu bidang mantan adik kelasnya tersebut.

"...dia kehilangan kesadaran. Bawa dia ke ruang tahanan." Perintah Sasori dengan nada datar. Seorang polisi muda berambut biru pun datang dan segera memberi hormat. Dia membawa tubuh Sasuke bersama seorang polisi lagi, sebelum benar-benar pergi dia memberi hormat pada atasannya itu.

"Hai! Kami undur diri, inspektur Sasori!"

Akasuna no Sasori hanya memandang datar dan menganggukkan kepala sebagai tanda mengizinkan bawahannya itu pergi. Sepasang coklat hazelnut itu kini menatap kesepuluh tubuh pria yang sudah tidak bernyawa di depannya, "Turunkan mereka—" jeda sesaat, Sasori terlihat berpikir apa yang akan selanjutnya dia ucapkan, "—lalu siapkan pemakaman untuk mereka." Seolah menghindari para bawahannya yang akan menatap heran kepadanya, Sasori langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan memasuki gedung kepolisian.

.

.

.

.

.

.

.

#

"Kau yakin kau tidak apa-apa? Kau semakin pucat saja, kau tahu," gerutu seorang gadis cantik berambut pirang pada sahabat di sampingnya yang tengah melamun. Tidak mendapat respon, akhirnya gadis bernama Yamanaka Ino itu menjentikkan jarinya di depan wajah wanita tersebut, "helloooo, anybody's home?"

Tersentak, wanita berambut soft pink itu dengan panik memberikan senyum paksa dan menoleh pada sahabatnya sejak kecil itu, "Ah maaf maaf Ino, kau bilang apa?" tanya Haruno Sakura dengan wajah pucat.

Ino menghela napas, "Kau kenapa sih?"

"Ah tidak, tidak apa-apa. Semuanya baik-baik sa—" tiba-tiba Sakura terdiam. Wajahnya kembali terlihat cemas dan tidak tenang. Wanita itu memainkan jarinya dengan gelisah, "Ya, semuanya baik-baik saja hehe." Lanjut Sakura lagi.

Gadis yang kini sudah memiliki kekasih bernama Sai tersebut memutar bola matanya dengan bosan, "Kau paling tidak bisa berbohong, bodoh," ejek Ino seraya meminum jus jeruk yang tadi dipesannya, "ada masalah dengan dua suamimu?"

Sakura terlihat menelan ludahnya dengan panik. Buru-buru dia membetulkan anak rambut yang jatuh di pipinya. Dia ingin diam, tapi tatapan Ino yang menuntutnya membuat wanita bermata hijau emerald itu menyerah, "Baik, baik," Ino terlihat senang, dia menatap sahabat baiknya itu dengan antusias, "akhir-akhir ini aku merasa... suasana di apartment semakin menegang saja—entah ini hanya perasaanku saja atau bukan tapi..." Sakura mengeratkan cengkeraman tangannya di atas meja. Wanita cantik itu terlihat berpikir keras.

"Aku merasa... ada yang disembunyikan Sasuke dan Sasori—oh, entahlah."

"Wew," Ino memutar-mutar sedotan di dalam jusnya. Bola mata aquamarine miliknya terlihat sangat penasaran, "kenapa tidak langsung kau tanyakan saja pada mereka?"

"Aku ingin bertanya tapi..." kata-kata Sasuke kembali melayang di kepalanya membuat Sakura menunduk merasakan kembali sakit di hatinya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, "Bukan cuma itu, tadi Tsunade-sama memeriksaku karena wajahku terlihat sangat pucat lalu—" Sakura menarik napasnya. Tertarik, Ino semakin memajukan tubuhnya untuk mendengar kata-kata sahabatnya lebih jelas. Dan dia terkejut seketika mendengar kalimat yang diucapkan wanita di depannya.

"—beliau bilang, aku hamil."

.

.

.

If you think you are the winner now,

you will be the loser for next time

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Special thanks for :

Sasuke-hime, gieyoungkyu, Spongebob aika, mysticahime, Yakuza, Kazuki Namikaze, fans kamu, Iya Risaskey, S dan S, sasu, agnes BigBang, Tabita Pinkybunny, ichamusume, Ka Hime Shiseiten, Uchiha Hime is Poetry Celemoet, Yamashita Riko, Rizu Hatake-hime, SaGachIyu, Aika Namikaze, Frozenoqua, Risuki Taka, Chiwe-SasuSakuNaru, Zhie Hikaru, Eunike Yuen, Sindi 'Kucing Pink, Soldier of Light, Miho Yulatha, ck mendokusei, Qren, Ryoma, Uchiha Vio-chan, Gak Punya Nama, Nu-hikari Uchiha, B-rabbit Lacie, Uchiha The Tomato Knight, Kamikaze Ayy, Sweet KireIcha, Uzumaki Namida-chan, Little Onyx, Chanciachan, kurorrain, Uchiha Kuchiki, sasusaku – forever

SELESAI! #nyakartembok

Sumpah nyelesein ini sampai makan dua sampai tiga bulan kali ya, malesnya gak ketulungan orz Okelah, pokoknya terima kasih bagi yang masih mau nungguin ahahahahahahaha #dilemparkesungai

Oh ya, pas saya hitung-hitung ternyata masih butuh sekitar 3 - 4 chapter lagi buat nyelesein fic ini asdfghjkl jadi kalau nggak chap 15, 16 ya 17 tapi aku sih pinginnya supaya genap jadi 20 chapter gitu, bisa gak ya =..= #ngarep Dan... semoga fic ini masih kerasa feelnya orz

Minna-san, btw saya baru inget. Kemarin saya janji untuk update fic Sasuke's Pain kan? Tapi ternyata tidak bisa, saya mau memfokuskan untuk menyelesaikan fic Choose Me! ini dulu. Setelah fic ini selesai, saya akan menyelesaikan fic Review and Art lalu Black Side sesuai permintaan kak Cyan alias mysticahime -_- Apa saya akan membuat fic multichap baru lagi sepertinya masih dipikirkan ahahaha #diinjek

Yak segitu dulu, hontou ni arigato! Doakan males saya hilang yaaa :D Review desu~?