CHAPTER 13 : WINNER
Kalau kalian mencari contoh laki-laki teregois di dunia, mungkin akulah orangnya.
Ya, aku hanya mementingkan diriku sendiri. Tidak begitu banyak yang mengetahui sifat dasarku ini kecuali beberapa orang terdekat di sekitarku. Aku memang sengaja menyembunyikannya dengan memasang topeng di depan semua orang. Aku berpura-pura mengalah dan tersenyum—padahal sebenarnya aku mengutuk mereka semua yang membuatku harus mengalah. Aku benci kekalahan.
Perilaku keras sang ayah kepadaku cukup bisa melatihku untuk memasang topeng dengan baik tanpa cela. Terima kasih kuucapkan pada beliau karena berkat topeng ini aku bisa mendapatkan orang-orang yang berharga dalam hidupku.
Termasuk dua orang itu.
Dulu sekali, aku menyatukan kedua tangan seorang gadis dan lelaki kecil. Aku tersenyum melihat mereka bersama. Bukan. Bukan karena topeng. Tapi jujur dari dasar hatiku, aku bahagia melihat mereka bersama. Karena mereka adalah teman-temanku yang berharga. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan melindungi mereka dan tidak akan pernah membiarkan siapapun melepaskan jabatan tangan mereka.
Tapi, entah sejak kapan...
Aku mulai membenci kedua tangan yang kusatukan itu.
Aku berusaha tidak peduli dan menganggap semuanya sama seperti dulu hingga sekarang. Tapi ternyata tidak mungkin. Aku dan laki-laki itu, jatuh cinta kepada sang gadis kecil yang telah beranjak dewasa. Di saat yang bersamaan, sifat egoisku mulai meledak-ledak ingin dikeluarkan. Aku ingin memiliki wanita itu sendiri. Aku tidak ingin membaginya pada siapapun. Bahkan sifat egois yang mengerikan ini terus menerus menekanku untuk melenyapkan saingan sekaligus sahabat yang paling kusayangi itu.
Aku mati-matian menahannya. Setiap topengku hampir lepas, aku berusaha menutupnya lagi. Tidak peduli meski aku harus menggunakan paku agar topeng itu tidak terlepas dari wajahku. Aku menderita dan terus berteriak karena paku yang setiap malam semakin kutancapkan pada wajah dan topengku. Melawan sifat egois di dalam diriku sendiri. Aku terus bertahan sampai suatu hari aku melihat senyumnya...
Aku sadar, aku tidak akan bisa hidup tanpa senyum itu.
Betapa hinanya diriku.
Dan aku pun kalah. Topeng yang kutahan mati-matian kini jatuh dan hancur. Mataku berubah merah sesuai warna rambutku. Perasaan iri dengki, kebencian, dan keinginan membunuh tergabung menjadi satu. Tubuhku seolah bergerak sendiri saat tanganku mengambil pistol berpeluru—yang entah kenapa bisa berada di depanku. Lalu kutodongkan ujung pistol itu di depan wajahnya. Sahabatku, rivalku, adik kelasku.
Sampai sekarang pun, aku masih merasakannya...
Setelah topeng terlepas dari wajahku, aku terus menangis—
—hingga air mataku kering dan digantikan dengan cairan merah darah yang menyedihkan.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, violence, no more lemon until the end of fic, misstypo?
Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship
Main pair : SasuSakuSaso
.
.
CHOOSE ME!
.
.
BRAK!
"KAU HAMIL? HAH? SERIUS?" teriakan seorang gadis berambut pirang di sebuah kantin rumah sakit cukup membuat orang-orang sekitar menghentikan acara makannya dan menoleh kesal. Yamanaka Ino pun tersadar. Dengan cepat dia membungkukkan tubuhnya tanda meminta maaf dan dengan muka memerah dia kembali duduk dengan tenang di depan salah satu sahabatnya.
Ino berdehem, berusaha menghilangkan semburat merah di wajahnya karena malu. Sementara Haruno Sakura yang duduk di depannya tertawa kecil melihat kelakuan sahabat di depannya, "Ya, aku serius Ino. Apa... segitu mengagetkannya?" tanya wanita berambut soft pink itu dengan wajah herannya.
"Tentu saja, bodoh!" Ino menggerutu kesal. Kali ini dia mendekatkan wajahnya pada Sakura untuk berbisik agar tidak ada orang yang bisa mendengarnya, "Kau ini mempunyai dua suami! Kalau kau sampai hamil berarti salah satu dari suamimu itu adalah ayah dari anak yang kau kandung! Tidakkah kau mengerti?"
Sekilas wajah Sakura terlihat sedih, tapi dia cepat-cepat menyembunyikannya dan tersenyum kecil, "Ya, aku mengerti," bisiknya pelan seraya menghela napasnya, "aku juga... akhirnya bisa memilih..." mengeratkan cengkeraman pada rok suster yang dikenakannya, Sakura juga menggigit bibir bawahnya.
"...Sakura?"
"Aku takut, Ino," tanpa diminta, air sudah menggenang di kedua bola mata emerald yang indah itu, "jika engkau berada di posisiku, apa yang akan kau rasakan setelah bersama dua pria selama bertahun-tahun, tertawa bersama mereka, menangis bersama mereka, berbagi bersama mereka, lalu saat harinya tiba kau harus meninggalkan salah satunya. Apakah... kau tidak merasa menjadi seseorang yang kejam?" Sakura menundukkan kepalanya saat air mata itu mulai jatuh dan membasahi roknya yang putih.
Ino hanya diam. Dia tahu dia tidak bisa mengerti sepenuhnya apa yang dirasakan sahabatnya sedari kecil itu. Gadis cantik itu memejamkan matanya, "Kalau kau juga menginginkan semuanya tetap begini, kau tetap akan menjadi seorang yang kejam, Sakura. Karena kau seolah memberi harapan palsu pada keduanya," wanita berumur sekitar dua puluh tahunan itu mengangkat kepalanya saat Ino memegang sebelah tangannya, "jujur padaku, Sakura! Di antara Sasuke dan Sasori, siapa yang kau cintai?"
Tersentak mendengar pertanyaan temannya, tubuh Sakura menegang. Kedua bola mata hijau emerald miliknya membulat saat ditantang kedua bola mata aquamarine yang indah. Wanita bermahkota soft pink itu memejamkan matanya seolah berkonsentrasi pada hatinya. Siapa? Siapa yang selalu berada di hatinya?—bahkan sampai sekarang. Dan... wajah seorang pria muncul di pikirannya membuatnya tersentak.
"Aku—"
"Sakura." Panggilan seseorang yang sangat dikenal membuat Ino dan Sakura menoleh bersamaan. Mereka berdua segera berdiri dan membungkuk untuk memberi hormat pada atasan mereka tersebut, "Ini hasil test yang ingin kau lihat, sudah kuproses." Lanjut wanita cantik yang terlihat lebih muda dari umurnya dan berambut pirang itu.
Sakura menatap Senju Tsunade yang merupakan kepala rumah sakitnya dengan cemas. Sesekali terlihat wanita bersuami dua itu menelan ludahnya karena tegang. Ino menatap heran pada Sakura, "Hei," panggilnya, "kau kan sudah jelas hamil, test apa yang kau minta?" tanya gadis cantik yang menguncir rambutnya dengan model buntut kuda.
Bahkan Haruno Sakura sendiri tidak yakin dengan jawaban yang akan dia berikan pada sahabatnya. Wanita beriris hijau emerald itu menerima amplop coklat dari tangan Tsunade. Dia sedikit meremasnya dan tangannya terlihat gemetar. Sakura menarik napas sekali lalu mengeluarkannya sebelum dia memaksakan sebuah senyum dan menjawab pertanyaan Ino.
"Test untuk melihat siapa ayah dari anak yang kukandung."
.
.
.
.
#
Mungkin sudah lebih dari lima menit pria berambut merah itu berdiri di depan salah satu sel. Wajahnya tidak berekspresi menatap seseorang yang tergeletak di balik sel penjara tersebut. Menurut salah satu bawahannya, sudah hampir satu setengah jam pria berambut raven itu belum sadar dari pingsannya. Sepertinya selain karena shock, pria itu juga kelelahan karena belum tidur sejak kemarin.
"Uchiha... Sasuke..."
Pria bernama Akasuna no Sasori itu membisikkan nama pria di depannya dengan perlahan. Dia memejamkan matanya lalu membukanya lagi. Seringai tipis terukir di wajahnya.
"Kakakmu... sudah mati—"
Sasori maju selangkah sehingga kini sel-sel besi itu tepat berada di depannya. Tangannya bergerak menyentuh jeruji besi yang dingin itu dan mengelusnya. Namun tetap, tatapannya sedikit pun tidak teralihkan dari laki-laki menyedihkan di balik sana.
"—begitu juga teman-teman berhargamu... bagaimana? Kau sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk hidup kan?"
Entah kemana perginya pria berambut merah dan beriris coklat hazelnut yang lembut itu. Seolah-olah perasaan yang dinamakan cinta itu begitu membutakan hatinya. Laki-laki itu seolah berusaha membuang masa lalunya dan terobsesi memiliki apa yang ada di depan matanya. Semua yang akan mengganggunya... harus disingkirkan. Tawa licik terdengar dari bibirnya.
"Kalau begitu, kau tidak akan keberatan kalau aku mengajukan hukuman mati untukmu pada pengadilan kan, Sasu-chan? Fu... fufu... HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Tawa kepuasan itu terdengar semakin keras hingga akhirnya Sasori tidak bisa menahannya dan semua terlepas begitu saja. Instruktur baru kepolisian Konoha itu kini tertawa begitu kencang di sepanjang lorong penjara tahanan. Awalnya tawa itu memang terdengar begitu puas dan penuh hasrat kemenangan tapi semakin lama terdengar semakin memaksa.
Tes
Akhirnya Sasori menghentikan tawanya begitu merasakan ada suatu cairan yang menyentuh lantai di bawahnya. Dia tidak menyadari apa itu sampai dia merasakan ada yang lain dari wajahnya. Sasori mengangkat tangannya dan meraba wajah baby face miliknya. Pria berambut merah itu terdiam dan tidak bereaksi. Entah sejak kapan... air mata mengalir dengan lancar dari matanya hingga menetes dari bawah dagunya. Dengan kembali memaksa, laki-laki itu memasang senyum palsu.
"Ha. Haha... kenapa aku menangis?" meskipun dia menyekanya berkali-kali, air mata itu enggan berhenti. Pandangan Sasori semakin mengabur karena menangis. Setelah menyentuh air matanya, tangannya kini memegang jeruji besi di hadapannya. Sasori merosotkan tubuhnya hingga dia duduk di bawah dan menunduk menatap ubin putih. Isakannya perlahan tapi pasti semakin mengeras.
Bahkan dia tidak sadar saat dia menyebut nama sahabatnya itu berkali-kali.
.
.
Haruno Sakura terlihat sangat gelisah. Berkali-kali dia meremas amplop coklat di tangannya seraya melirik ke jam dinding di pojok ruangan. Sudah jam sebelas malam tapi batang hidung kedua suaminya bahkan belum nampak sedikit pun. Selain itu, Sakura juga terus memikirkan bagaimana kata-kata yang akan dia sampaikan pada Sasori dan Sasuke—
—tentang ayah dari anak yang berada di kandungannya.
Wanita itu tersenyum kecil, jujur saja dia senang kini sudah mengandung anak yang sudah lama diinginkannya. Tapi tentu saja dia tahu dan mau tak mau harus siap menerima konsekuensi yang sebentar lagi akan datang. Dia menghela napas untuk ke sekian kalinya sampai suara ketukan pintu apartemen membuyarkan lamunannya.
Degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, Sakura juga menelan ludahnya karena tegang. Setelah menenangkan dirinya berkali-kali, akhirnya Sakura berdiri juga dari sofa yang didudukinya dan melangkah menuju pintu. Tangan wanita itu sedikit bergetar saat menyentuh gagang pintu lalu memutarnya. Iris hijau emerald miliknya membulat melihat siapa yang datang.
"Sa-Sasori..."
"Tadaima." Ucap Akasuna no Sasori dengan senyum di wajahnya. Sakura menatap aneh senyum di wajah pria berambut merah itu.
Ada yang berbeda.
Seolah mengabaikan tatapan aneh dari istrinya, Sasori melangkah masuk seraya melepas jaket hitam kulit miliknya. Sakura terus menatap punggung pria beriris hazelnut itu. Dia menunggu Sasori untuk mengucapkan sesuatu padanya karena Sakura mengerti, ada yang ingin diberi tahu salah satu suaminya itu. Tapi kelihatannya percuma saja, kedua laki-laki itu sama sekali tidak berniat memberitahunya apapun. Sakura menghela napasnya.
"...Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya wanita itu untuk sekedar berbasa-basi. Sasori terlihat berhenti dari kegiatannya sendiri, dia memutar tubuhnya untuk menatap kedua mata istrinya. Sakura semakin mengerutkan alisnya saat menangkap basah senyum Sasori yang sempat berkedut. Tanda kalau senyum itu dibuat-buat.
Sasori memiringkan kepalanya, "Seperti biasa, kau tahu sendiri kan? Tindakan kriminal tidak akan pernah berhenti." Jawabnya dengan nada kaku dan tertawa hambar pada akhir kalimat. Sakura tidak tahan lagi. Dia muak dengan kepura-puraan di dalam rumah tangga ini. Wanita itu menggenggam tangan kanan suaminya membuat pria tersebut sedikit tersentak.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Sakura dengan nada yang sedikit ditekankan, menuntut Sasori untuk menjawabnya, "Kumohon jawab aku, Sasori! Apa yang kau dan Sasuke sembunyikan dariku? Kenapa kalian tidak mengatakan apa-apa padaku?" Sakura mengucapkannya tanpa jeda. Melihat kedua iris hijau emerald yang memohon padanya, membuat Sasori mendecih dan membuang wajahnya.
"TATAP AKU, SASORI!"
Pria keturunan Akasuna itu terkejut. Bisa dibilang, ini pertama kalinya pria itu melihat wanita yang dicintainya berteriak penuh amarah. Hazelnut dan emerald kini bertatapan. Dan entah sejak kapan, emerald itu mulai berkaca-kaca, "Kumohon... Sasori..." bisiknya.
Pria berambut merah itu terpaku melihat air mata yang menetes dari kedua mata yang indah itu. Tapi, keegoisannya menuntut untuk tidak menceritakan apapun saat ini. Sasori mendecih. Dia masih berpikir sekarang bukanlah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Rencananya adalah membuat Sasuke menghilang dari apartemen mereka sekitar seminggu dan dalam kurun waktu itu, dia sudah menghilangkan Sasuke dari dunia ini. Dengan begitu, saat Sakura mengetahui semuanya, sudah terlambat.
Ya, bahkan Sasori sudah menyebut dirinya lebih rendah dari sampah karena menggunakan cara yang licik ini. Tapi sayang, perasaan yang dinamakan cinta itu telah membutakan semuanya. Sasori yang dulu sudah menghilang. Itulah kenyataan yang akan dihadapi instruktur muda itu dari sekarang. Semua hanya tinggal menunggu waktu.
Tangis Sakura semakin deras melihat Sasori yang kembali membuang mukanya dan tetap diam tanpa mengucapkan satu kata pun. Wanita itu terisak pelan. Meskipun begitu dia harus menghilangkan tangisnya, karena dia akan mengungkapkan sebuah kenyataan, "Sasori..." mendengar namanya dipanggil, akhirnya pria berambut merah tersebut kembali menatap istrinya yang tengah menunduk, "aku hamil."
Kedua iris hazelnut itu membulat kaget, bibirnya terbuka namun dia tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Sasori mengerutkan alisnya, sebelum dia ingin bertanya, Sakura sudah mendahuluinya, "Lalu, ayah dari anak yang kukandung—" wanita itu masih menundukkan kepalanya. Membuat Sasori penasaran akan ekspresi apa yang ditunjukkan oleh wanita berambut soft pink tersebut. Dan pria berambut merah itu dapat merasakan tangannya mengepal dengan keras.
"—adalah Sasuke."
.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke, bangunlah..."
"Ngh," Uchiha Sasuke menggerutu di tengah tidurnya, dia memutarkan tubuhnya hingga berhadapan dengan tembok dan menaikkan selimutnya hingga menutupi hampir seluruh badannya. Sang kakak menggelengkan kepala melihat perilaku adiknya, akhirnya dia kembali menggerakkan tubuh sang adik, "ugh, hentikan aniki!"
Uchiha Itachi menghela napasnya, "Ayolah, bukankah tadi kau yang bilang kau ingin tahu alasan kenapa akhir-akhir ini aku sering keluar rumah larut malam?" Sasuke hanya mendengus untuk meresponnya dan kembali meletakkan kepalanya di atas bantal, "Sasukeeee, kuhitung sampai tiga kalau kau tidak bangun juga, aku akan meninggalkanmu!"
"Satu."
"Dua."
"Ti—"
"Baik baik, kau menang niisan!" Itachi tertawa kecil melihat adiknya bangun dengan wajah merengut. Sasuke menguap lebar dan membuka selimut yang menutupi tubuh bawahnya. Dengan malas, dia menoleh ke arah jam dinding, "Hei, apa kau gila? Ini jam satu pagi!" geram pemuda berumur sembilan belas tahun itu.
Itachi hanya tertawa menanggapi adiknya, "Biasanya juga aku pergi jam segini, justru karena itu kau ingin mengetahui alasannya kan?" kekeh pria berumur dua puluh empat tahun itu. Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya walau dengan gerutuan, Sasuke tetap dapat mengganti baju tidurnya sehingga kedua kakak beradik itu bisa pergi dari rumahnya.
Selama di perjalanan, mereka hanya diam. Sesekali Sasuke menguap karena masih mengantuk. Uchiha bungsu itu hanya menatap jalan di luar yang masih gelap gulita. Jalanan sangat sepi dan Sasuke bisa mengerti kenapa. Hanya lampu-lampu di pinggir jalan yang menerangi. Terus seperti itu hingga akhirnya Itachi membelokkan mobilnya masuk ke dalam sebuah gang gelap dan berhenti di depan sebuah gedung tua.
"Ini dimana?" tanya Sasuke tanpa diindahkan oleh sang kakak. Itachi hanya diam dan turun dari mobilnya diikuti oleh Sasuke. Kedua kakak beradik itu kini memasuki gedung tua. Suasana di tempat ini sangat hening, seolah tidak ada kehidupan. Tapi setidaknya itu sampai mereka membuka pintu besi gedung tua tersebut.
Itachi menarik napasnya, "Ini aku, Itachi." Ucapnya membuat Sasuke kebingungan. Memangnya di dalam ada siapa? Mengabaikan wajah bertanya sang adik, Itachi pun membuka pintunya.
Sasuke hampir tidak bisa melihat apapun di dalam gedung tua itu. Rasanya seperti buta mendadak. Sementara sang adik masih berusaha membiasakan diri, kakaknya sudah duluan masuk jauh lebih ke dalam hingga sosoknya menghilang. Tentu saja hal itu membuat Sasuke sedikit panik, "Tu-tunggu dulu! Aniki! Ani—"
BRUK
Setelah menabrak sesuatu, Sasuke bisa merasakan pantatnya menghantam lantai semen di bawahnya. Pemuda tampan itu meringis kesakitan, dia segera mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang sudah menabraknya. Tapi wajahnya tidak terlihat, hanya saja satu hal yang bisa Sasuke pastikan, orang itu sangat besar dan dia bukan Itachi.
"Hm, sepertinya kau membawa tamu, Itachi? Dia terlihat sangat mirip denganmu." Suara serak pria besar itu menggema di dalam gedung. Sasuke tersentak, suara pria itu sangat menyeramkan. Namun saat Sasuke mencoba memundurkan tubuhnya, dia menabrak kaki seseorang di belakangnya.
"Benar, hanya saja sepertinya yang ini terlihat sedikit lebih putih. Dan model rambutnya juga berbeda." Sahut suara pria yang lain. Sasuke masih belum bisa melihat wajah kedua pria itu. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ada apa ini? Kenapa Itachi membawanya ke tempat seperti ini? Selain itu, siapa orang-orang ini?
KLIK
Lampu menyala membuat Sasuke bisa melihat jelas. Pria yang berdiri di depannya tadi berambut dan berwajah biru dengan gigi taring yang memenuhi mulutnya, tatapannya yang mengerikan membuat Sasuke sedikit gemetar. Sementara pria di belakangnya memakai masker dengan bola mata hijau susu yang datar, dia menatap Sasuke begitu intens. Tidak hanya mereka berdua, di dekat Itachi masih banyak kumpulan pria yang lain.
"Oh ayolah, jangan mengganggu adikku sampai seperti itu," ucap Itachi seraya menghela napasnya. Setelah menyalakan lampu, kini dia berjalan mendekati adiknya yang terlihat masih sangat kaget dan membantunya berdiri.
Pria berambut pirang panjang tersenyum, "Jadi dia adikmu? Wah, pantas saja kalian terlihat sangat mirip!" ucap pria itu dengan riang. Dia tersenyum ramah dan menundukkan kepalanya, "Aku Deidara, yoroshiku ne Itachi no otouto! Oh ya, maaf jika teman-temanku mengagetkanmu." lanjut pria pirang itu dengan sopan.
"Yo-yoroshiku," balas Sasuke dengan heran. Setelahnya dia menatap Itachi meminta penjelasan. Mengerti tanda adiknya, Itachi pun meminta izin keluar dan mengajak Sasuke.
Di luar, Itachi mulai menjelaskan semuanya. Kesepuluh pria di dalam gedung itu adalah Akatsuki. Dengan kata lain mereka adalah buronan yang sedang gencar-gencarnya diincar oleh para polisi. Tentu saja Sasuke kaget apalagi setelah mengetahui kakaknya sendiri lah yang merupakan pemimpin para mafia itu. Ditambah Itachi sangat tenang menceritakan semua itu kepadanya. Entah kenapa sang Uchiha bungsu enggan menerima kenyataan yang ada.
"Ini tidak mungkin kan, aniki? Bilang padaku kalau semua yang kau katakan adalah bohong!" bentak Sasuke. Itachi hanya diam menatap adiknya dan menggeleng.
"Sasuke, ini adalah kenyataan."
"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini semua kepada kaasan dan tousan, bahkan Hana-neesan! Apa kau gila? Tinggalkan mereka, Itachi-nii!" lanjut Sasuke lagi. Dia sungguh tidak bisa menerima semua ini begitu saja. Bagaimanapun juga, Itachi sang kakak adalah kebanggaan keluarga Uchiha. Tidak akan dia biarkan kakak yang selalu menjadi panutannya itu masuk ke dalam jalan yang salah seperti ini.
Namun, Itachi tetap enggan mengindahkan peringatan dari adiknya. Melihat itu, Sasuke semakin kesal hingga akhirnya dia berteriak, "Bukankah kau sendiri yang bilang, kejahatan itu tidak akan pernah menang! Apa kau bodoh, Itachi? Tidak ada jaminan kau akan baik-baik saja! Kau tahu sendiri Akatsuki sudah melakukan pencurian, pemerasan, bahkan pembunuhan! Apa kau pikir kau akan selamat begitu saja? BUKA MATAMU, ITACHI!"
"Sasuke tenanglah," ucap Itachi mencoba menenangkan adiknya yang terlihat terengah setelah bicara panjang lebar. Itachi tersenyum kecil, "aku tidak bisa meninggalkan mereka. Mereka adalah teman-temanku, mereka mempercayaiku, aku akan melakukan apapun untuk menolong mereka."
"Itachi..."
"Aku mempercayaimu juga." Sasuke sedikit tersentak menatap kedua onyx milik kakaknya yang begitu dalam. Menandakan sang kakak sedang serius saat ini, "Aku percaya kau tidak akan memberi tahu siapapun tentang hal ini, karena itulah aku mengajakmu ke sini," lanjut Itachi lagi. Kini pria dengan rambut hitam panjang dan dikuncir itu menatap bulan di atasnya.
Itachi menarik napas dan tersenyum, "Sasuke, aku pernah bilang padamu bahwa kejahatan tidak akan pernah menang—dan itu memang benar," angin dingin meniup rambut Uchiha sulung itu perlahan, "aku siap kalah kapan pun. Tapi sampai waktu itu tiba, aku akan terus mengumpulkan kemenangan. Dan saat aku kalah, aku ingin menyerahkan teman-temanku kepadamu. Maaf, aku memang kakak yang egois haha."
Sasuke terdiam mendengar tawa hambar kakaknya. Pemuda itu mengerutkan alisnya tak suka. Tapi kenyataan bahwa Uchiha bungsu itu sangat mengagumi kakaknya tak dapat diubah. Pada akhirnya Sasuke akan tetap melakukan apapun untuk melindungi kakaknya yang berharga. Ya, apapun. Bahkan jika harus dia menjadi penjahat yang dibenci oleh seluruh manusia di dunia ini. Pria berambut raven itu menoleh kembali saat kakaknya akan memulai pembicaraan.
"Oh, dan ada lagi kata-kata yang harus kau ingat." Itachi mengacak rambut raven Sasuke membuat adiknya itu menggerutu kesal, "Walau aku bilang kejahatan tidak akan pernah menang, bukan berarti kebaikan akan selalu menang. Kami-sama selalu adil, Sasuke. Saat kejahatan menjadi kebaikan—" Itachi tersenyum menatap kedua bola mata onyx Sasuke.
"—bukan tidak mungkin kebaikan pun menjadi kejahatan."
.
"Itachi... nii..." bisik pria yang mulai siuman dari pingsannya. Uchiha Sasuke membuka matanya perlahan. Pria berambut raven itu mencoba menggerakkan tubuhnya tapi rasa nyeri yang menyerang membuatnya meringis kesakitan. Akhirnya Sasuke memilih kembali pada posisi awalnya sampai rasa nyeri itu perlahan demi perlahan mulai berkurang.
Kini kedua mata Sasuke sudah terbuka sepenuhnya. Walau begitu tetap saja pandangannya kosong begitu pula pikirannya. Sasuke bisa merasakan kedua matanya membengkak, kepalanya pusing, tubuhnya terasa kaku. Mimpi yang baru saja dilihatnya seolah membawa kembali memori yang sempat terlupakan. Sasuke mendecih kecil.
"Kebaikan... menjadi kejahatan..." bisik pria bermata onyx itu. Sasuke memejamkan matanya, "Aku... selalu kalah... berarti aku... kejahatan?" tanya Uchiha bungsu itu entah pada siapa, "tapi kau bilang... kebaikan juga... tidak selalu menang... lalu aku yang mana... Itachi?" lanjut Sasuke lagi.
Perlahan Sasuke mengepalkan tangannya, ingatan tentang kesepuluh teman-teman kakaknya yang dieksekusi kembali membuatnya menggeram. Lalu bayangan seseorang yang menyebabkan itu semua...
Ah, rasanya Sasuke ingin sekali mencabik-cabik sesuatu.
"Kau sudah bangun."
Sasuke membulatkan kedua matanya. Suara ini... Sasuke segera memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Dia gertakan giginya penuh amarah. Tidak lupa kedua onyx yang selalu menunjukkan ketajamannya, "Kau..." geram Sasuke dengan penuh tekanan.
Di luar dugaan, Sasori yang biasanya menatap Sasuke dengan dingin kini malah menggertakkan giginya penuh amarah. Terlihat agak terburu-buru, Sasori membuka pintu sel tahanan Sasuke. Setelah memasukinya, dia membanting pintu sel tersebut. Langkah Sasori yang tegas dan berbunyi sangat memperlihatkan betapa marahnya pria baby face berambut merah tersebut. Saat dia sampai di depan Sasuke, Sasori mencengkram kerah mantan adik kelasnya itu dan memaksanya berdiri.
"Akh! APA LAGI MAUMU? SIALAN!" teriak Sasuke dengan terengah. Kekuatannya belum terkumpul seutuhnya, sehingga dia belum sebanding dengan mantan kakak kelasnya itu. Sasori yang terlihat semakin marah kini menghentakkan tubuh Sasuke hingga menyandar pada tembok di belakangnya. Tidak hanya itu, tangan Sasori mulai mencekik leher Sasuke, "A-Akh! Ka-Kau... Aaak!" erang pria Uchiha itu tanpa bisa mengucapkan apapun. Tangannya terus mencengkram tangan Sasori di lehernya.
Akasuna no Sasori terengah, tubuhnya bergetar gelisah. Jauh di lubuk hatinya kedua sisi dirinya saling bertarung. Lepaskan Sasuke atau bunuh sekarang juga, entah apa yang akan dia pilih. Sasori menggertakkan giginya dan semakin mengeraskan cekikannya, "A-Aaakkk AAAAAKH!"
"Sasori... aku hamil."
Tersentak kaget, tiba-tiba Sasori kembali mengingat kata-kata Sakura. Pria berambut merah itu reflek memundurkan tubuhnya sehingga cekikan pada Sasuke terlepas. Uchiha bungsu itu merosot perlahan dan terbatuk-batuk setelah Sasori melepaskannya, dia menatap Sasori penuh kebencian. Namun tatapan itu berubah menjadi heran melihat coklat hazelnut di depannya memandang penuh keputus asaan. Kedua pria itu terengah-engah.
"Aku... tidak bisa membunuhmu..." gumam Sasori. Tatapannya lurus menatap Sasuke yang menatapnya dengan heran. "Kalau aku membunuhmu... Sakura..." tubuh Sasuke menegang mendengar nama yang sudah lama dirindukannya. Dia maju untuk memegang kedua bahu Sasori.
"Sakura? Apa maksudmu? Ada apa dengan dia?" tanya Sasuke dengan panik. Mungkinkah terjadi sesuatu dengan wanita itu selama dia tidak ada? Sasuke mencengkram kedua bahu Sasori, "Jawab aku, bodoh! Ada apa dengan Sakura?" melihat tatapan kosong pria berambut merah itu sama sekali tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.
Sasori menggeleng dan memegang kepalanya, "JANGAN SENTUH AKU!" teriaknya lantang. Mendengarnya membuat Sasuke tersentak dan melepaskan kedua tangannya dari bahu rivalnya itu. Dia masih belum melepaskan penglihatannya dari sang instruktur muda, "Sakura... dia mengandung anakmu."
"Eh?" dalam situasi seperti ini, tentu saja Sasuke bingung akan reaksi apa yang harus ditunjukkannya. Dia bahagia—tentu saja, tapi kenyataan bahwa dia adalah pemimpin organisasi mafia terbesar di Konoha tidak bisa dia hilangkan begitu saja. Hukuman sudah menantinya.
Sasori mengangkat kepalanya dan kini berdiri di hadapan rival sejak kecilnya itu. Kedua pria itu kini saling bertatapan, mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran masing-masing. Lama kemudian Sasuke memejamkan matanya perlahan, "Sakura pasti akan kecewa jika mengetahui ayah dari anak yang dia kandung adalah seorang pembunuh," pria bermata onyx itu tersenyum kecil, "tidak usah dipikirkan, kau bisa menjadi ayah dari anakku—kalau itu yang kau mau. Aku tahu, kau benci kekalahan kan? Jadi harusnya bukan ma—"
"Lalu kau pikir Sakura akan menerimanya semudah itu?"
Pria berambut raven itu terpaku, "Aku juga tidak bodoh. Saat Sakura mengandung anakmu di situlah kekalahanku diumumkan." Sasori menggertakkan giginya, "Begitu pula dengan Sakura. Kau pikir dia bisa menerima aku menjadi ayah dari anakmu, hah? Pikir dulu sebelum bicara!" setelah mengucapkan itu, Sasori segera membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari sel.
"Saat ini aku sudah kalah darimu..." jeda sesaat, Sasuke hanya bisa menatap rambut merah yang membelakanginya, "dan aku tidak akan membiarkan diriku dihantui oleh kekalahan itu. Aku pasti akan kembali menang... dengan cara apapun..."
Sasuke hanya diam menatap Sasori yang semakin menghilang dari balik selnya. Dia memejamkan matanya. Padahal dia sudah menang setelah sekian lamanya, namun kenapa? Ada yang mengganjal di hatinya. Selain itu, dia juga memikirkan apa dia memang pantas menjadi ayah dari anak yang dikandung Sakura? Apa dia pantas mendapatkannya? Sasuke menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Wajah wanita itu selalu ada di kepalanya. Tapi—
DHUAK
Seolah melupakan apa itu yang dinamakan rasa sakit, Sasuke menonjok dinding di depannya. Tangannya kini berlumuran darah. Tapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya yang membuatnya menangis dalam diam. Jika saja Sakura tidak mengandung anaknya, mungkin dia bisa menyusul kakaknya dengan tenang. Sakura akan bahagia dengan Sasori—padahal dia sudah bisa menerimanya kalau itu menjadi kenyataan. Dia tidak pantas mencintai atau dicintai. Namun gara-gara hal ini, Sasuke kembali tidak bisa melupakan wanita yang dia cintai itu. Entah siapa yang harus disalahkan.
"Sakura..."
.
Di sisi lain, Sasori berjalan dengan rencana yang disusun kembali di otaknya. Kini Sasori yang dulu bangkit kembali dan dia akan mengakhiri semuanya. Cerita panjang mereka selama bertahun-tahun ini harus menemui akhirnya. Jika Sasuke dan Sakura tidak bisa melakukannya, maka dialah yang akan melakukannya. Meskipun tangannya akan penuh dengan darah. Meskipun napasnya harus terhenti. Meskipun seluruh dunia akan membencinya.
Akasuna no Sasori akan melindungi orang-orang yang dicintainya.
...Itulah janjinya pada sang ayah.
.
.
.
Even though we can't get our love,
Protect them until the end of world—
—that's enough.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
.
MAAF UNTUK KATA-KATA YANG GAK ENAK BANGET KEMAREN D: makasih ya yang udah ngasih tahu, udah saya edit (_ _)
Nah nah nah nah, sekarang mau kasihan sama siapa, hm? Sasuke? Sasori? Atau Author? 8D #dilemparkesumur
Special thanks for :
mysticahime, Chini VAN, Hikaru Ryo Sora, gieyoungkyu, Hikari Himemiya, Fire Knight17, Uchiha Hime is Poetry Celemoet, Nana the GreenSparkle, lavimedusa, rukia chan, sasusaku, Iya risaskey, Nonana, Aiko Furizawa (2x), Ka Hime Shiseiten, Yuki, Naomi azurania belle, Tsukiyomi Aori Hotori, Animea Lover Ya-ha (3x), Sky pea-chan, Mona Rukisa-chan, Tabita Pinkybunny, Uchiharuno phorepeerr, esa scarlet, me, Qren (2x), Frozenoqua, Soldier of Light, Eunike Yuen, hannyhere, Tezuka, Encydrew Harunao, AsaManis TomatCeri, Cloud1124, nunururun (2x), nama tidak terdeteksi, Fhaska Ken, sayangtidakbisadisebutnamanya, A Z N, Nami and The Eggplant, B-Rabbit Lacie, agnes BigBang, Sindi 'Kucing Pink, chezahana-chan, MeeBoo, SaGachIvu, vanilla yummy, ran, ck mendokusei, Hikari Uchiwa, Narumi Miharu, Karasu Uchiha
Dan untuk yang lainnya juga terima kasih :D ayo ayo review kalau namanya mau diketik sama saya xDD #dibakarbersama
Terima kasih yang sudah membaca sampai chapter ini yaaa x3 Insya Allah 3 atau 4 chapter lagi fic ini akan selesai. Terus kalau ada yang kurang lagi, kasih tahu saja ya jangan sungkan :)
Lalu sekedar pengakuan, sebenarnya di fic ini saya memang bermaksud menyiksa SasuSakuSaso jadi harap wajar kalau konfliknya bener-bener gak nyante (?) #dishannaro Yang penting kan saya sudah memberi genre angst jadi jangan marah ya~ (=w=)v Oh ya mulai dari sini sampai last chapter lemon sudah ditiadakan ya, jadi maaaaaf banget karena aku mau berpusat pada konfliknya (_ _)
Nah, karena kemaren banyak yang nebak kalau anak yang dihamilin Sakura itu anaknya Sasuke, sekarang udah ketahuan kan jawabannya? :D Sekarang kutantang nih, ada yang bisa nebak endingnya gimana? Ufufufufu~ #plakplak
Tapi makasih atas partisipasi kalian, saya sangat senang xD Sudah gak tahu mau bacot apa lagi. Jadi... review please? :3
