CHAPTER 15 : DECISION

"Percuma..."

"Walau kalian akan membenciku, menghinaku, meludahiku, mengasingkanku—"

"—semuanya sudah terlambat."

"Tanganku... sudah berlumuran darah."

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, violence

Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship

Main pair : SasuSakuSaso

.

.

CHOOSE ME!

.

.

"...Sekali lagi. Akasuna no Sasori, kau yakin?"

Kepala kepolisian Konoha itu kembali bertanya setelah dia dan salah satu bawahan berharganya itu terdiam agak lama. Pria di depannya memejamkan matanya sesaat dan kembali membukanya. Sarutobi Asuma bisa melihat keputusan matang di kedua bola mata berwarna coklat hazelnut tersebut.

"Ya," Akasuna no Sasori tidak menghilangkan sedikit pun keyakinan dari nada bicaranya. Tak lama kemudian, dia menggeletukkan giginya, "apa yang harus saya lakukan agar Anda percaya pada saya?" tanya Sasori dengan nada menuntut. Asuma menautkan alisnya dan kembali memejamkan matanya.

Anak dari Sarutobi Shiruzen tersebut sangat tahu bagaimana sifat bawahan berharga miliknya ini. Dia ceria, dewasa, selalu berpikir sebelum bertindak, tegas, semua sifat yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin, laki-laki berambut merah itu memilikinya. Tapi justru karena itu, dia bisa bertindak di luar perkiraan. Sasori bisa menjadi menyenangkan dan mengerikan di saat yang bersamaan. Kalau bisa, Asuma ingin menyerahkan jabatannya kepada anak kepala kepolisian yang sebelumnya itu.

Tapi, kalau sudah begini, Asuma sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, Sasori bisa bertindak di luar perkiraan siapapun bahkan atasannya itu sendiri. Karena itu, walau Sasori bilang dia yang akan menghukum mati Uchiha Sasuke, Asuma masih merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan. Rencana apa yang ada di kepalanya, entah menguntungkan atau tidak, tidak ada yang tahu.

Asuma menyerah. Sebenarnya bisa saja dia menolak permintaan Sasori dan semuanya selesai. Tapi dia sendiri juga memikirkan bagaimana pengadilan besok. Dari penyelidikan seluruh keluarga korban saja, Asuma bisa mengerti sebagian besar keluarga korban Akatsuki adalah tipe-tipe yang tidak dapat diatur. Bukan tidak mungkin, akan terjadi kericuhan besok dan menjadi berita utama Konoha.

"Baiklah."

Jangan salah tanggap Sasori, ini semua semata-mata hanya untuk menjaga nama baik kepolisian Konoha. Bukan karena Asuma pasti menuruti permintaanmu. Karena itu—

—hilangkan seringai licikmu.

"Kuserahkan padamu."

.

#

.

#

.

#

.

Pukul delapan malam, Sasori telah tiba di parkiran apartemennya. Pria berambut merah itu mengambil dan menghela napas untuk yang ke sekian kalinya. Dagunya diletakkan di atas setirnya sementara kedua bola mata hazelnut miliknya menatap ke depan dan menerawang jauh. Pikirannya benar-benar berkecamuk saat ini, rasanya begitu memusingkan.

Memejamkan matanya sesaat, Sasori akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari mobilnya. Pria itu menutup mobilnya perlahan lalu menguncinya dengan tombol otomatis. Setelah memastikan semua pintunya terkunci, Sasori berjalan menuju lift gedung apartemennya.

Langkah demi langkah Sasori lewati hingga akhirnya dia sampai di depan pintu apartemennya bersama Sakura dan Sasuke. Sasori menghela napas lagi sebelum benar-benar memencet bel. Dia merasa akan terjadi sesuatu setelah ini—namun dia tepis firasat itu. Sasori menekan bel, tak lama kemudian seorang wanita membukakan pintunya.

Haruno Sakura tersenyum menyambut kedatangan Sasori, "Okaeri," ucapnya seperti biasa. Tidak ada yang aneh. Melihat itu, Sasori tersenyum lega. Sepertinya yang tadi memang hanya firasatnya saja. Setelah membalas ucapan selamat datang dari Sakura, Sasori segera memasuki apartemennya.

Seperti hari-hari biasa, Sasori langsung membuka jaket hitam miliknya dan menaruhnya di atas sofa. Keadaan berubah menjadi hening, hanya suara detik jam dinding di seberang mereka yang terdengar. Sakura masih diam sejak dia mengucapkan selamat datang, dan karena kini wanita itu berdiri tepat di belakang Sasori, laki-laki berambut merah itu tidak bisa melihat apa yang tengah dilakukan istrinya itu. Mereka berdua terus terdiam hingga akhirnya Sakura memanggil nama salah satu suaminya itu.

"Sasori," mendengar namanya dipanggil, Sasori menghentikan kegiatannya sesaat. Dia membalikkan tubuhnya sebagai respon panggilan Sakura tadi, lalu—

PLAK!

Sasori tersentak ketika Sakura tiba-tiba menamparnya begitu keras hingga pipinya memerah. Laki-laki berambut merah itu hanya memejamkan matanya merasakan pipinya yang terasa perih, dia memegang bekas tamparan Sakura tadi lalu menatap wanita itu dalam diam. Dia tidak berniat untuk bertanya, karena kurang lebih Sasori tahu apa alasan wanita itu kini terlihat begitu kecewa dan marah.

Tubuh Sakura bergetar hebat, kedua hijau emerald miliknya mulai menggenang, "Bukan cuma kamu," wanita itu menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan gejolak emosi yang bisa saja membuatnya mengeluarkan kata-kata kasar untuk salah satu suaminya itu, "jika Sasuke pulang nanti, aku juga akan menamparnya seperti aku menamparmu sekarang." Lanjut wanita itu dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.

Melihat ekspresi Sakura yang ditujukan padanya, Sasori mengerti. Sakura sudah tahu semuanya. Entah bagaimana, Sasori tidak berniat untuk mencari tahu. Karena sepintar apapun dia atau Sasuke menyembunyikan semuanya, cepat atau lambat Sakura juga pasti akan mengetahuinya. Hanya tinggal menunggu waktu. Walau Sasori sendiri tidak menyangka waktunya akan datang secepat ini.

Sasori kembali memejamkan matanya. Enggan untuk menatap kedua mata istrinya, entah karena merasa bersalah atau ada alasan lain, "Lalu?" dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan, Sasori kembali menatap wanita cantik di hadapannya, "Setelah menampar kami, kau akan melakukan apa? Menangis? Percuma, apapun yang kau lakukan, sekarang sudah terlambat." Sasori berkata sarkastik. Mendengarnya membuat Sakura sedikit tertegun, dia tidak pernah mendengar nada bicara Sasori seperti ini sebelumnya.

"Bukan itu masalahnya!" Sakura membentak dengan suara serak menahan tangis. Sasori masih belum merubah ekspresinya, "Kenapa kau dan Sasuke tidak mau memberi tahuku apa-apa? KALIAN PIKIR AKU APA?" tanpa bisa menahan emosinya lagi, Sakura akhirnya berteriak. Dadanya terasa sakit, tapi dia harus bisa menahannya. Wanita itu juga harus menahan tenaganya sebaik mungkin kalau dia masih mau memikirkan anak di dalam kandungannya.

Laki-laki yang merupakan paling tua dibanding dua insan yang lain itu mendengus seolah menahan tawa, "Sekarang aku tanya, jika kau tahu semuanya, apa yang bisa kau lakukan?" tanya Sasori dingin. Sakura tidak menjawab, kedua matanya terus menatap kedua mata Sasori berusaha mencari makna terdalam di sana, "Tidak ada kan? Karena itu, lebih baik kau diam. Urus pekerjaanmu sebagai dokter dan ibu rumah tangga yang baik. Kau cukup mengetahui akhirnya saja."

Sakura menatap Sasori tidak percaya. Bibirnya terasa kelu untuk membalas perkataan Sasori. Bukan. Bukan karena apa yang dikatakan Sasori itu menurutnya benar, tapi karena suatu pertanyaan muncul di benaknya...

Siapa yang ada di depannya sekarang?

Tidak hanya itu, kemana laki-laki yang selalu terlihat ceria dan hangat itu? Sakura tidak mengerti, semuanya terlalu rumit. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Dia harus kuat, atau kalau tidak Sasori akan kembali mencelanya lagi. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini jatuh ke atas karpet di bawahnya. Sebelah tangan Sakura bergerak untuk menyeka air matanya itu sementara dia menggertakkan giginya.

Sasori membalikkan tubuhnya seolah tak peduli. Namun tetap tidak bisa dipungkiri saat kedua bola hazelnut miliknya itu melirik Sakura dari ujung matanya. Laki-laki berambut merah tersebut kembali melanjutkan kegiatannya membereskan pakaiannya. Dia harus bersikap tidak peduli, sebentar lagi rencananya akan dimulai dan dia tidak boleh lengah sedikitpun. Laki-laki itu memejamkan matanya lagi seraya menundukkan kepalanya.

Dia harus membuang jati dirinya di masa lalu...

Dia harus membuang perasaannya...

Dia harus—

"Apa ini... salahku?" Sasori kembali menghentikan tangannya saat dia tengah membuka kancing kemejanya. Laki-laki itu masih belum membalikkan tubuhnya sehingga Sakura tidak bisa melihat bagaimana ekspresi yang dipasangnya, "Seandainya... kita tidak dijodohkan... semuanya tidak akan seperti ini, kan?" tanya Sakura lagi dengan suara serak. Sasori memejamkan matanya. Tanpa dia perlu menoleh pun, dia sudah tahu Sakura kembali mencoba kuat di depannya.

Wanita itu mulai terisak, "Aku ingin kembali ke masa lalu!" meskipun diseka berkali-kali, air mata yang mengganggu itu terus menetes. Sakura benci ini, dia akan kembali terlihat lemah di depan salah satu suaminya, "Aku... ingin kita tertawa kembali seperti waktu itu, aku ingin kita saling menyayangi lagi seperti waktu itu, aku ingin kita saling memegang tangan seperti waktu itu!" Sakura melangkah hingga kedua tangannya kini mencengkeram kemeja Sasori dari belakang.

Sasori bisa merasakan tubuh Sakura bergetar saat mencengkeram kemejanya. Laki-laki itu tetap diam, "Karena itu... Sasori..." isakan Sakura semakin mengeras bersamaan dengan cengkeramannya yang semakin kuat, "aku akan melakukan apapun... agar kita bisa kembali seperti waktu itu. Bersamamu dan Sasuke... aku akan melakukan apapun..." Sakura tidak bisa menahannya lagi. Semua tumpah begitu saja, tangisan yang sedari tadi dia tahan sejak mendengar kenyataan akan rumah tangganya kini mengalir deras seolah tidak akan bisa berhenti.

Sekali lagi, Sasori tidak menjawab. Sama seperti saat Sasuke menanyakan hal yang Sakura tanyakan padanya sekarang. Laki-laki berambut merah itu menggertakkan giginya. Sasori merasa dirinya sama seperti seorang pengecut sekarang, pertanyaan yang begitu sederhana seperti itu saja sama sekali tidak bisa dia jawab. Ditambah, sekarang Sakura yang menangis di belakangnya membutuhkan seseorang untuk mengatakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja, tapi dia tidak bisa melakukannya. Jika dia melakukannya, hanya akan membuat keadaan tambah buruk.

Air mata Sasori sendiri mengalir dalam diam. Tapi sebelum air mata itu jatuh dari pipinya, Sasori langsung menyekanya cepat. Jika Sakura sampai melihatnya menangis, entah apa yang akan dikatakannya. Laki-laki itu berbalik membuat Sakura terpaksa melepaskan cengkeramannya. Kini sepasang suami istri tersebut saling menatap. Lama kemudian, Sasori memajukan wajahnya.

Sakura sedikit tertegun melihat reaksi Sasori. Tubuhnya seolah terpaku di tempat saat laki-laki berambut merah itu mencium bibirnya setelah sekian lamanya. Entah kapan terakhir kali mereka berciuman. Sakura merasa aneh, ciuman Sasori menyimpan begitu banyak makna yang mendalam dan dia tidak mengerti apa itu. Makna itu tersalurkan ke dalam tubuhnya membuat Sakura tanpa sadar kembali mengalirkan air matanya.

Kedua tangan wanita bermahkota soft pink tersebut mencengkram bahu Sasori. Sementara itu, Sasori sendiri mendorong kepala Sakura untuk memperdalam ciuman mereka. Bibir tipis polisi muda tersebut mulai memagut bibir ranum itu. Sekitar satu menit kemudian, akhirnya Sasori yang melepaskan ciuman di antara mereka.

Sakura mengira Sasori akan kembali menatapnya seperti di awal, namun dugaannya salah. Setelah melepaskan ciuman itu, Sasori kini memeluknya dengan erat dan meneggelamkan kepalanya di perbatasan leher dan bahu Sakura, "Maaf," wanita itu bisa merasakan kedua tangan Sasori yang bergetar di punggungnya, "seandainya bisa, aku juga ingin mengembalikan waktu."

Merasakan bahunya mulai basah, tangan Sakura bergerak untuk mengelus rambut merah Sasori, "Apapun yang kita lakukan, kita tidak akan bisa kembali seperti waktu itu," bahkan saat kata-kata ini keluar dari bibirnya sendiri, Sasori masih tidak percaya dia akan mengucapkannya, "jangan lupa, kita sudah bukan anak-anak lagi. Perasaan bisa berubah seiring berjalannya waktu," bisik Sasori seraya menyunggingkan senyum hangat khas miliknya walau Sakura tidak bisa melihat senyum itu.

Wanita itu memejamkan matanya dan menghirup bau khas milik salah satu suaminya itu, "Dan satu hal yang perlu kau ketahui," lagi, Sasori mengeratkan pelukannya, "aku dan Sasuke selalu mencintaimu bahkan sampai sekarang. Mungkin kau sudah lupa, tapi sebenarnya kita pernah bertemu saat masih kecil. Lebih tepatnya sebelum kau pindah dari Konoha."

Kedua bola hijau emerald itu membulat. Sejujurnya Sakura tidak terlalu kaget mendengar pernyataan Sasori. Sebab dia memang sudah tahu dari orang tuanya bahwa dia sempat hilang ingatan karena kecelakaan tiga tahun lalu. Meskipun begitu, wanita berambut soft pink itu tidak berniat mencari tahu masa lalunya karena menurutnya tidak ada yang spesial. Sakura tersenyum tipis dan kembali memejamkan matanya.

"Terima kasih..." air mata Sasori masih belum berhenti. Kenapa? Sasori sendiri tidak mengerti, kenapa dia yang selama ini selalu bisa menunjukkan penampilannya yang kuat di depan semua orang kini jatuh lemah begitu saja di pelukan seorang wanita. Lebih tepatnya, wanita yang dia cintai selama enam belas tahun, "...sudah mencintaiku. Sasori... Sasuke..." bisiknya pelan.

Sasori terdiam mendengar nama terakhir yang Sakura sebutkan. Laki-laki itu terlihat berpikir sesaat. Tak lama kemudian dia tersenyum. Benar, setinggi apapun tingkat keegoisannya dia tetap harus bisa memikirkan orang lain. Dan lagi, yang mencintai wanita ini bukan hanya dia tapi juga mantan adik kelasnya itu.

"Sakura," laki-laki berambut merah itu melepaskan pelukan keduanya. Sakura melihat jejak air mata dari pipi Sasori, namun bukan itu yang mengambil perhatiannya melainkan—

"Apa kau mau bertemu dengan Sasuke sekarang?"

—senyuman Sasori yang lagi-lagi menyimpan suatu arti.

.

#

.

"Makananmu." Seorang polisi berbadan besar yang datang dengan suaranya yang dingin membuyarkan lamunan Sasuke. Pria berambut raven itu hanya menatap sinis pada polisi yang sekarang tengah mendorong makanan di atas piring ke dalam selnya.

Sasuke mendecih, "Untuk apa aku makan jika dalam waktu dekat nyawaku juga akan diambil?" polisi yang tadinya akan pergi itu langsung berhenti mendengar pernyataan Sasuke. Kedua manusia itu saling balas menatap sinis, "Hmph, ternyata benar. Semua polisi itu bodoh. Dasar sampah masyarakat," papar Sasuke dengan seringai licik di wajahnya. Setelah itu, dia tertawa kencang seolah mengejek.

Polisi gendut dengan rambut coklat itu menatap Sasuke yang sedang

tertawa dalam diam. Melihat tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh sang polisi, Sasuke menghentikan tawanya. Dia menatap polisi itu dengan sebelah alis terangkat.

"Daripada dibilang sampah, lebih tepatnya kami adalah anjing masyarakat," polisi bernama Akimichi Chouji itu tersenyum lebar melihat tatapan bingung Sasuke, "sebagai anjing yang melayani masyarakat, kami akan membersihkan sampah-sampah yang mengganggu penglihatan mereka. Yah, lebih tepatnya seperti kau, Uchiha Sasuke."

Onyx milik Sasuke membulat mendengar kata-kata Chouji. Kedua mata itu berkilat menunjukkan amarah, "Sampah terbagi dalam dua tingkat. Kau bisa dibilang sebagai sampah berharga. Untuk informasimu, para polisi di sini terlihat begitu antusias melihat bagaimana hukumanmu nantinya. Tapi biasanya, sampah berharga cenderung berakhir mengenaskan. Seperti plastik kotor yang tidak bisa didaur ulang lagi, sehingga berakhir di tempat pembakaran. Kau akan hangus terbakar hingga tidak berbentuk."

Sasuke merasakan tubuhnya bergetar mendengar kata-kata Chouji yang terasa menusuknya begitu dalam. Polisi ini... dia ingin sekali membunuhnya! Sama seperti yang dia rasakan setiap melihat Sasori berada di samping Sakura.

"Lalu, jenis kedua adalah sampah yang rendah, menjijikkan, tidak ada harganya lagi. Sampah yang seperti itu sudah tidak pantas untuk hidup di dunia ini. Kami harus menguburnya dalam-dalam." Chouji tersenyum mengejek melihat getaran tubuh Sasuke yang seolah siap menerkamnya, "Contoh dari sampah rendah itu... hmm, sepertinya Uchiha Itachi. Ah ya, Akatsuki juga. Walau menurutku, hukuman untuk kesepuluh sampah rendah itu terlalu ri—"

BHUAG

BRAK!

"BRENGSEK! JANGAN PERNAH KAU MENJELEK-JELEKKAN KAKAKKU DAN TEMAN-TEMANKU DI DEPANKU, SIALAN!" teriakan Sasuke menggema di koridor membuat polisi-polisi lain datang berduyun-duyun. Mereka terkejut melihat salah satu kawanan mereka kini sedang merintih kesakitan seraya memegang hidungnya yang berdarah setelah ditonjok Sasuke, "SIALAN SIALAN SIALAAAAAAAAN! MATI KAU POLISI BRENGSEK! POLISI SEPERTI KALIAN HARUS MATI! MATI! MATI! MATI!" teriak Sasuke hingga suaranya mulai serak.

"Uchiha Sasuke, tenanglah! Kalian bawa Chouji ke kamar pengobatan sekarang!" perintah seorang polisi dengan rambut bob khas miliknya. Para polisi lain menurut dan segera menuntun Chouji berjalan. Sementara Maito Guy dan temannya masih mencoba menenangkan Sasuke yang mengamuk seolah-olah akan menghancurkan jeruji besi di tangannya.

Hatake Kakashi yang biasanya tenang itu pun cukup terlihat panik, "Guy, pegang tangannya!" yang diperintahkan langsung memegang kedua tangan Sasuke dari luar sel. Sementara itu, Kakashi memasuki sel Sasuke. Detektif polisi itu sekilas bertatapan dengan Sasuke sebelum akhirnya dia memukul tengkuk Uchiha bungsu itu hingga pingsan. Guy terlihat bernapas lega dan melepaskan tangan Sasuke yang perlahan mulai merosot hingga akhirnya dia tergeletak di atas lantai.

Kakashi menatap Sasuke yang tergeletak di depannya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan, "Aneh, dilihat dari manapun, menurutku Uchiha Sasuke bukan tipe yang mudah tersulut amarahnya." Gumam Kakashi entah pada siapa. Guy menatap setuju pada teman sejak kuliahnya itu.

"Sepertinya Chouji sudah mengatakan suatu hal yang sensitif kepadanya," balas Guy. Laki-laki yang menyukai warna hijau itu terlihat berpikir, "aku akan menginterogasi Chouji, kau mau ikut?" tanya Guy sebelum dia benar-benar pergi.

Laki-laki berambut keperakan itu masih diam menatap Sasuke. Tadi, saat mereka bertatapan sebelum Kakashi membuat Sasuke pingsan, Kakashi bisa merasakan kepedihan yang mendalam dari kedua bola mata obsidian itu. Tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Kakashi memejamkan matanya dan mengangguk seraya berjalan keluar dari sel Sasuke.

"Ya, aku ikut."

.

.

.

.

.

"Namaku Haruno Sakura, salam kenal!"

Gadis berambut soft pink itu tersenyum di depan kelas beberapa saat sebelum dia membungkukkan badannya. Para murid lain di kelas itu membalas sapaan Sakura kecuali satu orang. Sakura menatap jengkel pada laki-laki menyebalkan yang dia ingat sudah dia temui kemarin.

"Nah, silahkan duduk di depan Sasuke di sana." Sakura merasakan Kami-sama benar-benar mempermainkannya. Baru saja dia berdoa agar sebisa mungkin dijauhkan dari laki-laki sok keren berambut raven itu, sekarang dia malah ditempatkan di dekatnya. Well, sepertinya pepatah yang mengatakan semakin benci maka semakin dekat itu benar.

Sakura berusaha tidak melihat ke arah Uchiha bungsu itu. Walau harus Sakura akui, dia sempat menangkap basah Sasuke menatapnya. Bukan hanya itu, gadis bermarga Haruno tersebut juga harus mengakui ketampanannya. Mungkin karena itu, dia sempat mendengar beberapa keluhan anak perempuan di kelasnya saat guru mereka memutuskan untuk dia duduk tepat di depannya.

Tapi tetap saja, dia sama sekali tidak senang!

Gadis beriris hijau emerald itu mendengus dan mulai membuka buku pelajaran untuk jam ini. Baru beberapa menit berjalan, Sakura sudah mulai menguap. Gadis itu baru ingat, tadi malam dia membantu ibunya untuk membereskan barang-barang mereka yang tersisa sehingga kurang tidur. Sakura mati-matian menahan rasa kantuknya. Yang benar saja, tidak mungkin kan dia yang notabene anak baru dihukum karena tidur di tengah pelajaran.

Menit demi menit berjalan begitu menyiksa bagi Sakura yang mati-matian menahan matanya agar tidak tertutup. Untunglah Kami-sama masih menyayanginya, waktu istirahat tiba lebih cepat dari yang diperkirakan. Sakura menghela napas lega. Sementara anak-anak yang lain keluar menuju kantin, dia memilih untuk tidur di kelas.

Tanpa Sakura ketahui, Sasuke yang sudah menatapnya sedari tadi kini berdiri dari tempat duduknya. Uchiha bungsu itu tersenyum melihat Sakura yang tidur begitu nyenyak dengan kepala di atas mejanya sendiri. Untuk beberapa saat Sasuke terus mengamati wajah Sakura yang terlihat begitu kelelahan hingga sesuatu melintasi pikirannya.

Sasuke terlihat ragu, namun akhirnya dia maju juga. Laki-laki itu meletakkan tangannya di atas meja Sakura sementara dia menunduk dan menyibakkan poni yang menutupi wajah gadis itu. Sasuke kembali tersenyum tipis sebelum akhirnya dia kembali menundukkan wajahnya mendekatkan kedua bibir mereka.

Bahkan sampai sekarang, Sakura masih belum tahu saat itu ciuman pertamanya sudah direbut oleh seorang Uchiha Sasuke.

"Okaeri, Sakura..."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke! Sasuke!"

Perlahan demi perlahan Sasuke dapat mengambil kembali kesadarannya. Laki-laki itu dapat mendengar suara seorang wanita yang sangat dia kenal seolah menggema di indra pendengaran dan kepalanya. Meskipun kepalanya terasa sangat pusing, Sasuke mencoba membuka matanya. Untuk memastikan apakah dia hanya berhalusinasi mendengar suara yang sudah lama dia rindukan itu. Kalaupun memang itu hanya halusinasinya, setidaknya dia masih bisa—

"SASUKE!" pria berambut raven itu sedikit terkejut. Sebab, ketika dia akhirnya bisa membuka setengah kelopak matanya, seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya itu langsung memeluknya begitu erat. Sekarang Sasuke bisa membuka sepenuh matanya, dia terdiam sesaat sebelum akhirnya melirik rambut soft pink yang lembut dan mengenai pipinya. Tangannya bergerak untuk mengelus kepala wanita bernama Sakura tersebut.

Ah, memang bukan mimpi.

Senyum tipis mulai terukir di wajah yang tampan itu. Sementara Sakura masih memeluknya dengan tubuh bergetar, Sasuke memejamkan matanya untuk merasakan kehangatan tubuh yang sudah lama dia rindukan itu. Kehangatannya tidak berubah sama sekali, membuat pria berambut biru dongker itu mulai menenggelamkan kepalanya lebih dalam. Mencoba berkosentrasi dan mengumpulkan kehangatan itu sedikit demi sedikit untuk menghangatkan tubuh dan hatinya yang terus terasa dingin belakangan ini.

Suara langkah kaki tidak dipedulikan Sasuke yang masih memejamkan matanya merasakan pelukan Sakura. Tanpa sepengetahuan kedua insan itu, Sasori berdiri dari luar sel menatap mereka dalam diam. Entah apa yang dipikirkannya mengingat ekspresinya yang akhir-akhir ini semakin meminim. Pria berambut merah itu mencoba tersenyum melihat mereka namun tak bisa. Seolah saat dia akan tersenyum, sesuatu menahannya lalu menghilangkan ekspresi itu dari wajahnya.

Sasori sendiri tidak mengerti mengapa bisa begini. Kedua bola mata berwarna hazelnut itu menatap kosong. Tak lama kemudian, dia menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Matanya dipejamkan dengan erat lalu terbuka lagi. Tanpa berucap sepatah kata pun, pria bermarga Akasuna itu meninggalkan sel Sasuke.

Sekitar lima menit lamanya, Sasuke dan Sakura bertahan dalam posisi seperti itu. Hingga akhirnya Sakura melepaskan pelukan mereka. Sebelum Sasuke sempat berkata apa-apa, wanita itu sudah lebih dulu menarik kerah baju Sasuke hingga pria itu dipaksa duduk, "Saku—"

PLAK!

"Sama seperti Sasori, jangan bertanya mengapa aku menamparmu!" perintah Sakura dengan suara serak. Sasuke sempat memasang wajah kagetnya sekilas namun dia kembali biasa. Tanpa kata-kata yang berarti, Sasuke hanya mengangguk mendengar perkataan Sakura. Sepertinya kali ini laki-laki itu harus menahan hasratnya yang begitu merindukan istrinya. Bagaimanapun juga, dia tahu posisinya sekarang.

Air mata yang berusaha Sakura tahan akhirnya mengalir tanpa diminta. Bibir wanita itu terasa kelu—entah kenapa. Padahal saat perjalanan tadi, Sakura sudah memikirkan kata-kata yang ingin dia sampaikan pada laki-laki di depannya. Tapi sekarang semuanya terasa hilang. Melihat Sasuke seperti ada rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaannya benar-benar campur aduk, antara marah, benci, kecewa dan lainnya. Sakura tidak mungkin melupakan pertemuan terakhir mereka, saat Sasuke memperkosanya tanpa memikirkan perasaannya.

Namun, dia juga tidak bisa menepis kenyataan bahwa dia sendiri merindukan salah satu suaminya itu.

Sasuke melirik Sakura dengan ragu. Apa yang harus dia lakukan? Berbicara? Atau diam saja dan menunggu istrinya yang lebih dulu berbicara? Gejolak di dalam diri Sasuke terasa ingin meledak. Dia ingin memeluk wanita di depannya, menciumnya, menyentuhnya, semuanya. Uchiha bungsu itu menatap Sakura dari atas hingga ke bawah lalu berhenti tepat di perut wanita berambut soft pink tersebut.

Anaknya!

"Sa-Sakura," akhirnya terdorong akan kepastian kata-kata Sasori, Sasuke membuka mulutnya. Sakura yang tengah menyeka air matanya, menoleh pada Sasuke, "anu, ada yang ingin kutanyakan. A-Apa benar kau—"

"Ya, aku hamil." Jawab Sakura dingin. Sasuke tertegun mendengar jawaban istrinya. Kepala pria itu menunduk. Sakura sempat melihat ekspresi penyesalan dari wajah pria berambut raven tersebut. Laki-laki itu terlihat resah. Dan tak hanya itu, ekspresi ketakutan sempat terlihat di wajahnya.

Sungguh, Sasuke tidak peduli apapun yang akan terjadi padanya. Dia hanya ingin anaknya dan istrinya itu hidup bahagia. Walau dia sendiri yang harus mengorbankan nyawa agar hal itu terjadi. Apapun. Dan untuk hal itu, Sasuke akan terus berdoa pada Kami-sama. Meskipun dia berpikir kemungkinannya kecil untuk doanya itu dikabulkan mengingat begitu banyak dosa yang telah dia perbuat.

"Maaf aku—"

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu," Sasuke terpaku sebelum sempat menyelesaikan ucapannya. Sakura memajukan tubuhnya, kembali memeluk pria yang telah menjadi ayah dari anak yang telah dia kandung itu. Perlahan tapi pasti pelukan itu semakin mengerat, "selamanya... aku tidak akan memaafkanmu selamanya..."

Sasuke bisa merasakan dadanya sangat sakit mendengar kata-kata Sakura. Tapi mungkin inilah resiko yang harus dia terima atas semua yang telah dia lakukan. Pria itu menundukkan kepalanya di atas bahu istrinya, "Karena itu—" Sakura kembali mengisak. Tubuhnya bergetar seolah memohon pada pria di pelukannya.

"—jangan tinggalkan aku... dan anak kita..."

.

.

.

.

"Ugh!"

Rintihan kesakitan itu kembali terdengar. Para polisi yang bertugas menjaga pintu belakang gedung kepolisian Konoha dan juga merangkap sebagai pintu koridor tiga tempat penjara-penjara berada, satu persatu terjatuh di tanah. Mereka terlihat babak belur setelah dihajar habis-habisan oleh seorang pria yang kembali menendang wajah mereka hingga pingsan. Laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah salah satu kawan mereka sendiri atau bisa dibilang sebagai salah satu atasan mereka.

Sasori menatap dingin tiga polisi yang sudah pingsan karena ulahnya itu. Pria bermarga Akasuna itu yang memang dijuluki salah satu polisi terkuat di Konoha memang bukan hanya sekedar julukan. Tak lama kemudian dia menyeret tiga polisi tersebut jauh dari tempat mereka seharusnya berjaga. Di tempat Sasori meletakkan mereka, laki-laki itu juga mengambil jerigen-jerigen berisi bensin dan membawanya.

Setelah itu, pria berambut merah itu kembali ke pintu yang seharusnya dijaga ketiga polisi tadi. Saat Sasori memasuki koridornya, ternyata tahanan yang berada di penjara yang terletak di awal koridor itu melihat apa yang baru saja dia lakukan. Sasori menatap tahanan yang ketakutan itu karena melihat kedua bola mata hazelnut milik Sasori yang menajam, "Ke-Kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar.

Sasori terdiam mendengar pertanyaan tahanan di depannya yang seolah menatapnya putus asa. Tahanan itu seperti merasa... dia tidak bisa kabur dari polisi berambut merah di depannya. Setelah lama terdiam, Sasori menyunggingkan senyum tipis yang terkesan mengejek, "Kenapa... ya?" tanyanya balik. Sasori melemparkan salah satu jerigen bensin di tangannya sejauh mungkin hingga jerigen itu terjatuh dan menumpahkan isinya. Suaranya yang membentur lantai membuat para tahanan lain terbangun dari tidurnya—mengingat sekarang sudah memasuki waktu tengah malam.

Suara itu juga mengejutkan Sakura dan Sasuke yang berada di penjara paling ujung—tempat jerigen itu tumpah. Mereka berdua bertatapan sesaat sebelum akhirnya Sasuke lebih dulu berdiri dan memegang jeruji besi yang menutup jalan keluarnya, "Bau ini... bensin?" tanyanya entah pada siapa. Dari posisi ini, pria berambut biru dongker itu tidak bisa melihat siapa yang telah melempar jerigen tersebut. Sasuke merasakan firasat yang tidak enak. Dan entah kenapa wajah seseorang terlintas di kepalanya.

"...Sasori?"

Di lain tempat, Sasori masih menatap jijik tahanan di balik jeruji besi yang terletak di hadapannya, "Kau masih bertanya mengapa?" tanya Sasori dengan dingin. Sementara entah kenapa tahanan di depannya itu terlihat menitikkan air mata, "Bukankah jawabannya sudah jelas?" merogoh sakunya sesaat, Sasori kemudian mengambil sebuah pematik api dari saku celananya. Laki-laki itu kembali melemparkan jerigen-jerigen yang tersisa.

"Tentu saja karena... orang-orang yang telah melakukan kejahatan—"

CTIK!

"—tidak pantas hidup lagi di dunia ini."

BWOOOOOOOOOOOSH

Tahanan tadi yang melihat api menyambar-nyambar di depannya langsung berjalan mundur. Bentuk api itu membentuk refleksi di kedua mata tahanan yang mulai merasa putus asa akan hidupnya. Apa benar kata polisi itu? Meskipun dia hanya membunuh seorang rentenir demi melindungi keluarganya dari para penagih utang yang kejam? Apa benar dia tidak bisa memiliki satu kesempatan lagi untuk menebus dosanya? Apa benar dia sudah tidak pantas untuk hidup lagi? Benarkah? Benar—

"Hii—!"

Api menyebar dengan cepat. Mengingat bensin yang sudah tersebar ke seluruh penjuru di koridor ini, api itu terus bertambah besar seolah tertawa karena akhirnya telah dibebaskan untuk membakar para tahanan di penjara ini yang langsung berteriak histeris karena kepanasan. Bagaikan di neraka, para tahanan yang terkunci di balik penjara mereka masing-masing berusaha berteriak minta tolong untuk dikeluarkan. Namun sayang, api yang semakin membesar itu bahkan menutupi jalur para polisi untuk keluar masuk koridor ini.

Api itu terus dan terus membesar seakan salah satu elemen alam ini terus tertawa mengejek manusia-manusia yang tak berdaya karenanya. Seolah mengabaikan pria yang sudah menyalakannya—

—kini telah berurai air mata.

.

.

.

When people try to let go something that very precious...

.

...They not really let go it with all of their heart

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Special thanks for :

Sindi 'Kucing' Pink, Yukina Sephiiana, Eunike Yuen, mysticahime, Aiko Furizawa, Aika Namikaze, Gracia De Mouis Lucheta, Reivany UchiHaruno, UzUchiHaru Michiyo, Harumi satsuki, SagaarayukiSagachivu, saitou ayumu uchiha, Saranghae ThunderSiwonOppa, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Ka Hime Shiseiten, Cherry Tomato, Karasu Uchiha, esa scarlet, Animea Lover Ya-Ha, momijy-kun, Mey Hanazaki, HanRieRye, Rieki Kikkawa, Frozenoqua, Hannya dela, chezahana-chan, ayuhctek, Hikaru Ryo Sora, Shisylia-chan, TaNia VampGoth, Bakung Hijau, Miho Yulatha, Cherry Blossoms, mella-chan, Sky pea-chan, Sasori-nyan, nama tidak terdeteksi, Mona Rukisa-chan, Uchikurai, IzuYumi SaitouKanagaki, Eiirma UrukiruaSchiffer, Sweet KireIcha

Dan untuk yang lainnya terima kasih :D Ayo review lagi buat chapter terakhir! X)

Sasori fans... jangan bunuh saya... #gemetarandipojokan Saya juga fans Sasori kok, bener kok jangan tabok saya karena telah membuat pria imut-imut itu jadi begini di sini ;A; #dibakar Di sini Sasori dan Sakura kebanyakan nangis kah? Gomen, buat kelanjutan cerita (_ _)

Mohon dibaca : Karena banyak yang bilang akhir-akhir ini fic saya banyak yang spasinya hilang, saya mencoba membaca kembali fic yang berada di laptop saya. Tapi ternyata spasi-spasi yang hilang pada fic saya yang berada di FFn, masih ada pada fic di laptop saya. Akhirnya saya menanyakan pada guru komputer saya dan ternyata Microsoft Word 2007 memang sering menghilangkan spasi apabila diupload di suatu situs internet. Awalnya saya bingung padahal sebelumnya tidak ada masalah apa-apa, karena itu bagi ada yang bisa menjelaskan pada saya mengapa bisa begini, saya ucapkan terima kasih atas penjelasannya (_ _)

Dan kalau di fic ini ada lagi masalah spasi hilang, mohon maklum. Karena setelah saya upload fic di FFn, saya tidak mengeceknya lagi di Doc. Manager mengingat waktu saya untuk membuka internet di laptop itu terbatas.

Kembali ke cerita. Pokoknya next chapter adalah last chapter! Jadi jangan sampai terlewatkan yaaaa :D Seperti biasa mungkin updatenya akan lama, siap-siap lumutan dulu aja sebelum baca ending fic ini (=w=)v #dilempar

Lalu bagi yang menunggu fic Review and Art. Insya Allah fic itu akan update sebentar lagi kalau keadaan memungkinkan. Karena saya harus mengaku... ide fic itu kemarin sempet hilang orz #dordor Kalaupun tidak update dalam waktu yang memungkinkan, selesai fic ini maka akan langsung kembali dilanjutkan fic yang sudah hampir coret-terlupakan-coret itu hehehe #plak

Terima kasih atas partisipasinya sampai sini :D oh ya, kalau tidak salah di review fic R O M A N C E ada yang mau dijelasin tentang kata 'pun' kan? Jujur, saya nggak pinter ngejelasin yang begituan orz kalau dari readers ada yang berkenan membantu saya menjelaskan kata 'pun' itu maka saya akan senang sekali :'D #ngarep #ditonjok

Okelah, review please? :3