"Pedang bermata dua..."
"...adalah pilihanku untuk mengakhiri ini semua."
.
.
.
FINAL CHAPTER
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, 6k+ words, etc
Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship
Main pair : SasuSakuSaso
.
.
CHOOSE ME!
.
.
.
.
"I... Ini..."
Sekitar tiga jam yang lalu, Sarutobi Asuma yakin sekali dia baru saja melewati lorong sel tahanan di kepolisian pusat Konoha tersebut. Pemimpin kepolisian itu juga masih ingat dengan jelas apa-apa saja yang tadi baru dia bicarakan dengan beberapa tahanan yang rencananya akan mendapat kebebasan mereka beberapa hari lagi setelah menjalani hukuman atas apa yang telah mereka lakukan.
"...mengerikan..."
Namun sekarang, semuanya seperti menghilang begitu saja. Api yang membara di depan matanya seolah menghapus dengan tenang bukti-bukti atas memori yang baru dia dapat hari ini. Kedua tangan Asuma mengepal, giginya bergeletuk menahan amarah. Sebelum dia sempat mengeluarkan sumpah serapah untuk siapapun yang telah melakukan hal keji ini, suara mobil pemadam kebakaran menghentikannya.
Asuma sedikit terkejut melihat para pemadam kebakaran yang datang. Begitu pula para polisi lain yang tengah mati-matian memadamkan api dengan alat secukupnya. Tapi sepertinya para pemadam kebakaran tersebut tidak begitu memperhatikannya, mereka segera menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk penyelamatan dan juga pemadaman api yang kian membesar. Sebenarnya kepala kepolisian itu ingin bertanya siapa yang telah memanggil mereka—mengingat para polisi lain terlalu sibuk memadamkan api dengan kekuatan mereka sendiri, tapi pertanyaan itu bisa disimpan untuk nanti.
"Cepat ke dalam! Cari yang masih hidup dan selamatkan mereka!" perintah Asuma lantang dan cukup terdengar oleh seluruh orang yang berada di sekitarnya. Pria yang berumur hampir empat puluh tahun itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia melanjutkan, "...aku juga akan masuk ke dalam."
Para polisi yang lain terlihat terkejut mendengar ketua mereka mengucapkan hal itu. Belum lagi setelah Asuma menerima jaket tahan api dari salah satu pemadam kebakaran. Seorang polisi datang menghampirinya, "Asuma-kaichou! Apa yang akan kau lakukan? Jangan masuk ke dalam! Terlalu berbahaya!" ucapnya nyaris berteriak.
Asuma tidak begitu mendengar kata-kata anak buahnya itu. Dia terus memakai jaket tahan api tersebut sementara sang bawahan masih berbicara, "Kaichou! Aku bisa mengerti kalau kau mau menyelamatkan nyawa-nyawa yang berharga. Tapi, yang di dalam itu hanya orang-orang yang sudah melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal! Bisa saja kan api ini adalah hukuman atas perbuatan mere—"
"WALAU MEREKA TELAH MELAKUKAN BERIBU KESALAHAN, MEREKA TETAP MANUSIA!" teriak Asuma dengan emosi menghentikan omongan polisi tersebut. Laki-laki yang tergolong masih muda itu tersentak, bibirnya bergetar dan akhirnya dia memilih untuk menunduk daripada menatap wajah pemimpinnya yang murka, "Kalau kau memang polisi, harusnya kau tahu itu! Jangan mempermalukan lambang bunga Sakura di dadamu!" lanjutnya lagi. Mendengarnya, sang polisi muda menunduk semakin dalam.
Setelah mengucapkan itu, Asuma pun berlari ke dalam bersama para penyelamat dari pihak pemadam kebakaran yang lain. Meninggalkan yang tersisa dan berusaha memadamkan api dari luar gedung.
.
#
.
#
Sesak.
Uchiha Sasuke terbatuk untuk yang kesekian kalinya. Kedua bola mata onyx miliknya terasa kehilangan daya penglihatannya perlahan-lahan. Meskipun dia bisa melihat, yang ada di depannya sekarang hanyalah kepulan asap yang semakin lama semakin membesar dan mulai menuju ke posisinya yang saat ini berada di pojok sel tahanannya. Sasuke memejamkan matanya lagi seraya membuka mulutnya. Mencoba mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya yang ia bisa.
Panas.
Setelah cukup mengumpulkan oksigen di mulutnya, Sasuke mengangkat kepala istrinya di dadanya. Rasa panik semakin menguasai tubuhnya begitu menyadari tubuh sang istri yang tengah mengandung kini semakin melemah. Sasuke membuka mulut Sakura—nama istrinya—dan memberinya oksigen melalui mulutnya. Tapi hanya itu saja tidak cukup, panas api di sekitar mereka yang semakin menggila tidak bisa dihindari. Kalau terus begini, cepat atau lambat kedua suami istri itu bisa mati terbakar.
Tolong...
Suara langkah kaki tertangkap indera pendengaran Sasuke yang mulai berdengung. Sasuke berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat menghilang beberapa saat lalu untuk melihat siapa pemilik langkah kaki tersebut. Di tengah tebalnya asap yang mengepul, Sasuke tetap bisa melihat siapa seseorang yang datang membuka selnya dan menghampirinya. Seketika itu juga, Sasuke tidak bisa menahan senyum leganya.
"Sasori..." bisik Sasuke seraya mencoba mengambil napas. Rasa sakit di dadanya membuat laki-laki berambut raven itu merintih pelan, namun dia tetap mencoba bertahan, "Tolong... bawa Sakura keluar dari sini..." lanjutnya lagi masih dengan bisikan.
Akasuna no Sasori tidak menjawab permohonan mantan adik kelasnya itu. Laki-laki berambut merah tersebut pun tetap diam meskipun sekarang dia mulai berlutut di depan Sasuke dan membawa tubuh Sakura. Sebelum Sasori berdiri lagi dan membawa Sakura keluar, Sasuke berkata lagi, "Tutup wajahnya, jangan sampai dia menghisap asapnya..." keringat di wajah Sasuke semakin bertambah seiring dengan suara napasnya yang semakin memburu.
Saat ini, Sasuke tidak mempedulikan apapun selain keselamatan istri dan juga anak yang tengah dikandung istrinya itu. Jika Sasori tidak datang, bukan tidak mungkin Sasuke akan menerobos api di depannya untuk mengeluarkan Sakura dari sini. Tidak peduli jika nanti dirinya akan mati terbakar atau kekurangan oksigen. Sasuke lebih memilih menghilang dari dunia ini daripada kehilangan anaknya dengan Sakura bahkan sebelum anak itu sempat menghirup udara di dunia.
Pria berambut biru dongker itu terengah-engah. Selain panas yang semakin membuatnya tak nyaman, paru-parunya pun terasa semakin sesak. Perlahan tapi pasti Sasuke bisa merasa sesuatu membebani kepalanya memaksanya untuk memejamkan matanya. Tapi itupun tertahan setelah mendengar suara dengusan yang Sasuke yakini berasal dari pria berambut merah di depannya.
"...Kau cukup pintar untuk tidak memintaku menolongmu," bukan pendengarannya yang harus disalahkan, Sasuke yakin Sasori memang mengucapkan kata-kata itu dengan sinis. Laki-laki berumur dua puluh satu tahun tersebut terdiam beberapa saat sebelum akhirnya dia memejamkan matanya.
Senyum tipis tertahan di bibirnya, "Kalaupun aku meminta, kau tidak akan menolongku kan? Aku yakin... kau masih membenciku," balas Sasuke seraya menahan napasnya dalam detik-detik yang tersisa. Tarikan napas panjang, Sasuke kembali melanjutkan, "Aku tidak memintamu memaafkanku... jadi..."
Tanpa sempat menyelesaikan kata-katanya, tubuh Sasuke langsung jatuh terbaring di atas lantai. Napasnya terdengar semakin pelan dan memburu. Tubuhnya mati rasa, sesekali dia terbatuk. Sasori melirik kepulan asap yang semakin menebal di sekitarnya, sepertinya memang benar Sasuke kehabisan oksigen dan terlalu banyak menghirup asap-asap pembakaran tersebut. Mengeratkan cengkeramannya perlahan pada tubuh Sakura di tangannya, Sasori menyunggingkan senyumnya.
Sedikit lagi...
.
.
#
.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Api yang telah membakar sepertiga dari gedung kepolisian pusat Konoha tersebut kini telah berhasil dipadamkan. Namun tetap saja, hal itu sama sekali tidak membuat Asuma senang. Kepala kepolisian Konoha tersebut mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya semakin keras.
"Korban yang berhasil diselamatkan sekitar lima belas orang. Lima orang menderita luka parah, sepuluh orang lainnya menderita luka kecil. Sisanya... kami masih belum bisa memastikan."
Laporan dari salah satu pemadam kebakaran itu terus terngiang-ngiang di kepala Asuma. Hanya lima belas orang? Yang benar saja! Ini adalah gedung kepolisian pusat Konoha, dan tentunya jumlah tahanan yang ada di sini berkali-kali lipat jauh lebih banyak dari itu!
DHUAK!
Asuma tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memukul mobil pemadam kebakaran di sampingnya. Kejadian ini merupakan salah satu kegagalan terbesar dalam kehidupannya sebagai polisi. Tidak bisa menyelamatkan nyawa manusia siapapun itu baginya sungguh memalukan. Bahkan Asuma menganggap dia sudah tidak pantas menjadi kepala kepolisian pusat Konoha yang dibanggakan ini. Anak dari Sarutobi Shiruzen itu bersumpah dalam hatinya, dia pasti akan menemukan pelaku pembakaran ini sebelum waktunya dia pensiun sebagai polisi.
"Asuma-kaichou!" teriakan salah satu bawahannya membuyarkan lamunannya. Asuma menoleh dan dia begitu terkejut melihat beberapa bawahannya membawa tiga polisi yang terlihat babak belur. Melihat lencana yang mereka pakai, Asuma bisa memastikan ketiga orang itu adalah penjaga koridor tiga, "Kami menemukan mereka di gudang belakang koridor sel tahanan! Mereka juga baru saja siuman," lanjut mereka lagi.
Asuma masih diam sampai akhirnya Maito Guy mendahuluinya bertanya pada tiga polisi yang terlihat berantakan itu, "Apa yang terjadi?" salah seorang polisi yang babak belur tersebut menarik napas dalam-dalam sebelum dia menjawab pertanyaan itu.
"Se-Sejujurnya... saya tidak yakin dengan kesaksian saya..." seiring dengan jawaban yang dia lontarkan, para polisi yang membawanya mendudukkannya perlahan untuk beristirahat lalu memberikan ketiga polisi itu air putih, "...saya dan kedua teman saya sedang berjaga, lalu tiba-tiba dari belakang ada yang memukul kepala kami. Untunglah kami tidak langsung pingsan, kami masih sempat berbalik untuk melihat orang itu dan sesaat kami terkejut—"
Terbatuk beberapa saat, polisi berambut coklat itu kembali melanjutkan, "Orang yang memukul kami berambut merah... awalnya wajahnya tidak terlihat karena gelap..." mendengar itu, entah kenapa tidak ada yang bisa didengar Asuma selain suara polisi itu. Kedua bola mata hitamnya membulat, rasanya antara ingin percaya dan tidak, "tak lama kemudian, cahaya lampu menyinari wajahnya sekilas... lalu... kami yakin itu adalah inspektur Sasori..."
"Apa kalian tidak salah lihat?" pertanyaan yang langsung dilontarkan Asuma membuat semua yang ada di sana tertegun kaget. Tak biasanya nada suara pemimpin mereka itu terlihat ragu dan seolah ingin menyangkal kenyataan itu. Terutama Kakashi yang langsung menatap Asuma dengan intens untuk lebih menangkap gerak-gerik aneh pria itu, "Rambut merah tidak hanya dimiliki Sasori—"
"Ta-Tapi kami yakin..." polisi berambut hitam yang juga baru sadar dari siumannya menimpali. Raut wajahnya pun terlihat tidak ingin mengatakan kata-kata yang akan dia katakan sekarang, "Saya sering berlatih bela diri dengannya, jadi saya tahu beberapa gerakan khas miliknya. Selain itu, saya juga melihat kartu tanda polisi miliknya yang sempat terjatuh—saya yakin sekali!" ucapan laki-laki itu pun diakhiri dengan rintihannya seraya memegang perutnya.
Kakashi, Asuma, dan Guy menatap ketiga polisi yang sedang bersandar pada tembok di belakang mereka. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak mungkin bersekongkol untuk berbohong. Terlebih lagi, laki-laki yang baru saja berbicara tadi terkenal mengagumi Akasuna no Sasori dan pernah menjadi asisten setia polisi berambut merah tersebut. Kakashi bertatapan dengan Guy, seolah bertanya apa mereka akan mempercayai kesaksian ketiga polisi yang terluka itu.
Asuma pun sama. Jujur saja, dia tidak ingin mempercayai kesaksian tiga polisi di depannya. Tapi, dia tetap harus profesional sebagai pemimpin di sini. Meskipun Sasori adalah salah satu bawahan kesayangannya, selain karena memang dia berbakat—dia juga merangkap sebagai anak dari polisi senior yang sempat menjadi panutannya. Asuma memejamkan matanya lalu kembali membukanya, "...Ada lagi yang kalian dapatkan?"
Ketiga laki-laki itu terdiam beberapa saat, lalu yang berambut biru membuka mulutnya, "Saya rasa inspektur Sasori hanya sendiri..." kedua bola matanya melirik ke samping seolah berpikir, "dan sebelum saya benar-benar pingsan, saya bisa mendengar suara jerigen-jerigen bensin di sekitar saya diangkat lalu dibawa keluar." Lanjutnya lagi.
Kakashi dan Guy melirik Asuma. Sesaat, mereka melihat tangan Asuma mengepal semakin keras dan mencengkeram erat tangannya yang tengah bersedekap, "Ah, i-ini..." polisi berambut coklat yang tadi pertama berbicara kini mengeluarkan suara lagi. Dia terlihat merogoh saku jasnya dengan gemetar karena menahan sakit, "Saat jatuh... sa-saya sempat mengambil ini sebelum inspektur Sasori menendang saya hingga pingsan," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Kepala kepolisian Konoha itu terkejut, begitu pula wakilnya dan detektif polisi di sampingnya. Asuma menerima kartu tanda polisi itu dengan hati-hati. Darah ketiga korban menempel di kartu tersebut. Asuma menggertakkan giginya seraya mencengkram erat kartu di tangannya seolah ingin menghancurkannya. Kartu yang dengan jelas menunjukkan identitas pemiliknya, baik dari fotonya, namanya, dan lainnya.
"Kakashi..." pemilik nama yang merasa dipanggil menoleh ke sampingnya. Guy masih menatap punggung ketuanya, tapi dia tetap melanjutkan ucapannya nyaris berbisik, "Apa itu... bukti tak bergerak?" tanya Guy. Kakashi hanya terdiam.
"Belum terlalu, ada salah satu jerigen bensin yang tidak ikut terbakar. Jika di sana memang ditemukan sidik jari Sasori, baru itu akan menjadi bukti tak bergerak." Jawab pria yang selalu memakai masker untuk menutupi mulutnya itu. Tak lama setelah mengucapkan itu, Kakashi menerima telpon. Dia mengangkatnya, lalu berbicara beberapa saat sebelum akhirnya dia memejamkan matanya lalu mematikan telponnya.
"Sepertinya memang Sasori pelakunya..."
Suasana semakin terasa tegang. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Kenyataan bahwa pelaku pembakaran ini adalah salah satu kawan mereka sendiri terlebih lagi merupakan salah satu polisi teladan sungguh sulit diterima. Keadaan ini terus berlangsung sampai salah seorang pemadam kebakaran datang. Tadinya dia ingin berbicara dengan Asuma, tapi melihat raut wajahnya yang lebih baik untuk ditinggalkan dulu akhirnya dia memilih mundur. Kakashi yang melihatnya sebelum meninggalkan tempat mereka itu akhirnya memanggilnya.
"Hei," pemadam kebakaran itu menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kakashi, "kebetulan, aku ingin bertanya. Kuharap kau menjawabku dengan jujur," ucap pemilik rambut melawan gravitasi tersebut. Pemadam kebakaran itu terlihat bingung tapi dia tetap menganggukkan kepalanya, "kalian... tidak mungkin sudah mengira akan terjadi kebakaran sekarang di sini kan?" tanya Kakashi seraya menyipitkan matanya.
Salah satu anggota pelawan api itu mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja, kami datang karena dipanggil. Kami bukan peramal, jadi mana mungkin kami sudah tahu akan ada kebakaran—apalagi di gedung polisi seperti ini," jawabnya apa adanya. Tapi justru jawaban itu membuat Kakashi mengerutkan alisnya.
"Siapa yang memanggil kalian?"
Pertanyaan Kakashi dengan nada yang sedikit keras membuat Asuma dan Guy menoleh ke arahnya. Mereka berdua juga ikut menatap pemadam kebakaran itu. Suara jarum jam seolah bergema di telinga ketiga orang itu. Menunggu sang pemadam kebakaran untuk menjawab pertanyaan itu saja rasanya begitu lama, "Kebetulan saya yang menerima telponnya, dari suaranya dia adalah laki-laki dan dia mengaku bernama Akasuna no Sasori-san."
Sekali lagi, ketiga polisi itu dibuat kaget. Apa maksudnya ini? Baru saja mereka mendapat bukti yang menunjukkan bahwa Sasori adalah pembakar sel tahanan. Sekarang, mereka mendapat kesaksian lagi bahwa yang memanggil pemadam kebakaran untuk memadamkan api adalah Sasori. Menyalakan lalu memadamkannya. Apa ini untuk main-main? Tapi semua polisi juga tahu, meskipun Sasori terlihat ceria dan senang bercanda, dia bukan tipe yang akan bermain-main dalam hal ini apalagi menyangkut nyawa manusia.
Asuma memegang kepalanya. Semua yang terlalu tiba-tiba ini terasa begitu membebaninya. Perlahan tapi pasti, senyum Sasori saat dia mengizinkannya untuk menentukan hukuman Sasuke kembali terbayang di kepalanya. Sepertinya... ini semua memang sudah dirancangnya dari dulu. Benar-benar, Sasori ternyata jauh lebih berbahaya dari yang dia kira. Harusnya kepala kepolisian Konoha itu tidak terlalu menaruh besar kepercayaannya pada bawahannya itu.
"Apa sebenarnya maumu... Sasori?"
.
#
.
#
.
#
.
Bau ini...
Rumah sakit?
Sakura membuka kedua matanya perlahan. Rasa sesak dan panas yang sempat dia rasakan sebelum pingsan di penjara tadi kini hilang entah kemana. Yang dia dapatkan sekarang hanyalah tubuhnya terbaring di atas kasur bersprei putih, bau obat-obatan yang langsung terhirup hidungnya, dan juga suasana sejuk yang jauh berbeda dari tempat sebelumnya. Meskipun begitu, Sakura tidak langsung merasa tenang. Dia mencoba untuk duduk dan menoleh ke kanan kiri mencari orang yang kemungkinan menemaninya.
Tapi, tak ada siapapun.
Wanita berambut soft pink itu merasakan tubuhnya diselubung kepanikan. Dia langsung melepas selimut yang menutupi tubuhnya, hendak bangkit dari tempat tidur dan mencari dua pria yang beberapa waktu lalu masih bersamanya.
"Kau harus istirahat, Sakura," suara seseorang beserta pintu kamarnya yang terbuka menghentikan gerakan Sakura. Wanita itu tersentak, kedua mata hijau emerald miliknya membulat melihat pria berambut merah yang berdiri di depannya dengan senyum tanpa dosa di wajahnya. Seolah tak ada yang terjadi.
Sakura mengerutkan alisnya, perasaan tak enak menghampirinya, "Saso...ri?" tanyanya memastikan. Sosok di depannya memang menunjukkan ciri-ciri fisik yang dimiliki seorang Akasuna no Sasori, tapi bagi Sakura, laki-laki itu adalah orang lain.
Sasori sendiri tidak terlalu terpengaruh dengan perubahan sikap istrinya. Laki-laki itu menyunggingkan senyum yang penuh arti, lalu menatap Sakura. Bibirnya tersenyum namun kedua matanya seperti ingin menangis dan Sakura segera menyadari hal itu. Sebelum wanita itu sempat bertanya, Sasori sudah lebih dulu berjalan mendekatinya. Kedua insan itu saling bertatapan, hingga tangan Sasori bergerak lebih dulu menyentuh wajah di depannya. Tangan yang terasa dingin sekilas tapi seiring waktu Sakura bisa merasakan kehangatannya. Wanita itu memejamkan matanya.
"Syukurlah, kau selamat," Sakura membuka kelopak matanya mendengar ucapan Sasori. Sekali lagi, wanita itu mengangkat kepalanya hingga mereka kembali bertatapan, "maaf... aku keterlaluan sekali sampai melibatkanmu dalam keegoisanku." Lanjut Sasori lagi dengan nada yang nyaris berbisik. Laki-laki itu menunduk sehingga Sakura tidak bisa melihat ekspresi seperti apa yang dipasangnya.
"...Aku tidak mengerti... maksudmu apa?" tanya Sakura. Dia ingin menatap Sasori namun laki-laki itu enggan balik menatapnya seperti sebelumnya, "Keegoisan apa yang kau maksud?" tanya Sakura lagi dengan pelan. Kini tangan wanita itu bergerak menggenggam tangan besar Sasori yang memegang pipinya, "...Sasori?"
Laki-laki itu sama sekali tidak menjawab. Dia malah menundukkan kepalanya semakin dalam membuat Sakura nyaris menarik kemejanya untuk membuat laki-laki itu menatap kedua matanya. Entah kenapa, wanita itu begitu merindukan kedua bola mata berwarna coklat hazelnut yang menghangatkan bagi siapapun yang melihatnya. Tapi sebelum dia sempat melakukan itu, Sasori menariknya ke dalam sebuah pelukan.
Sakura sempat tersentak. Dia ingin menghindar, tapi ada sisi lain dalam dirinya untuk membiarkan apapun yang ingin Sasori lakukan saat ini. Rasa takut menyelimuti tubuhnya—dan Sakura sama sekali tidak mengerti apa maksudnya. Rasa takut akan apa? Satu hal yang pasti, tubuhnya sekarang seolah bergerak tanpa sadar. Mengeratkan cengkeramannya pada punggung besar pria berambut merah itu.
Pelukan itu tak lama, Sasori langsung melepasnya dalam sepuluh detik. Anehnya, tangan Sakura enggan melepas cengkeramannya setidaknya sampai Sasori yang melepaskan sendiri cengkeraman tangan istrinya. Sakura yakin sekali, sesaat dia bisa merasa kedua tangannya bergetar entah karena apa. Kini polisi muda itu mencium pipi Sakura sekilas lalu tersenyum.
Senyum lebar yang dulu sempat hilang itu kembali.
"Aku mencintaimu, Sakura."
Bahkan senyum itu jauh lebih lebar dari sebelumnya. Senyum khas Akasuna no Sasori sebagai bukti yang melambangkan bahwa anak tunggal Akasuna itu adalah pribadi yang ceria, ramah, dan akan selalu menolong orang lain.
Namun senyum itu juga melambangkan...
...pribadi yang percaya diri dan akan melakukan apapun demi tujuannya.
"Aku... pasti akan kembali, jaa ne..."
Setelah mengucapkan itu, Sasori segera membalik tubuhnya tanpa menunggu jawaban dari Sakura. Wanita itu kembali tersentak, dadanya terasa sakit. Sakura mengulurkan tangannya untuk menangkap jaket hitam yang dikenakan salah satu suaminya tersebut. Namun terlambat... Sasori sudah terlalu jauh. Tangan kecil Sakura tidak bisa menyentuhnya bahkan ujung dari jaket itu. Hingga akhirnya punggung Sasori menghilang dari balik pintu.
Sakura masih menatap pintu dimana Sasori menghilang tadi. Tangannya yang tadi tidak berhasil mencegah Sasori, kini bergerak menyentuh dadanya. Sakit, sesak, panas. Wanita berumur dua puluh tahun itu menggigit bibir bawahnya.
"Padahal... Sasori bilang dia pasti akan kembali," Sakura menunduk pelan. Tak perlu waktu lama hingga wanita itu menyadari setetes air jatuh dan membasahi sprei di bawahnya. Anak tunggal Haruno tersebut mengisak dan perlahan tapi pasti terdengar semakin keras. Tangan Sakura bergerak menyeka air matanya walau tetap saja bekasnya masih tertinggal di wajahnya.
"...lalu kenapa aku menangis?"
.
#
.
Kelopak mata yang cukup lama tertutup itu akhirnya terbuka. Namun Uchiha Sasuke tidak benar-benar membuka mata sepenuhnya. Karena walaupun laki-laki itu ingin, rasa sakit menyerang sekujur tubuhnya membuat Sasuke terpaksa membiarkan penglihatannya yang mulai mengabur kini terbuka setengah kelopak.
Dadanya terasa begitu sesak. Bahkan Sasuke nyaris melupakan bagaimana dia membuat paru-parunya menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, hingga secara tak sadar laki-laki berambut raven itu membuka mulutnya yang ditutupi vacum pemberi oksigen. Tapi, itu tak cukup. Terus dan terus Sasuke membuka mulutnya menarik oksigen sebanyak-banyaknya yang ia bisa namun hasilnya tetap sama. Dadanya tetap terasa sakit seolah akan pecah dalam waktu dekat.
Sungguh, demi Kami-sama yang telah menciptakan dunia ini, rasanya begitu menyiksa. Perlahan tapi pasti air mata Sasuke menggenang karena rasa sakit ini. Tubuhnya seolah berontak di atas tempat tidur, namun tertahan. Dia ingin berteriak, tapi suaranya seperti tertelan. Paru-parunya tidak lagi bekerja dengan baik. Detak jantungnya pun semakin melemah.
"Apa aku... akan mati?"
Dengan putus asa, Sasuke mencengkram sprei di bawahnya. Mulutnya terus terbuka—masih berusaha mencari oksigen. Dia terus seperti itu, sampai suara seseorang dengan orang lain di luar pintu kamarnya terdengar.
"Kalau keadaan ini terus dibiarkan, Uchiha Sasuke tidak akan bisa diselamatkan lagi," orang yang sepertinya adalah pria tua itu terdengar menghela napas setelah mengucapkannya, "Paru-parunya telah rusak... atau lebih parahnya, harus saya katakan bahwa paru-paru Uchiha Sasuke telah mencapai batasnya dan bisa jadi berlubang." Lanjut pria itu lagi.
"...Bisa kau jelaskan lebih detail lagi, dokter?" tanya satu orang lain lagi. Sasuke merasa mengenali suara itu, tapi kemudian dia tidak begitu memikirkannya.
Pria yang dipanggil dokter itu terlihat berpikir sesaat lalu kembali melanjutkan, "Uchiha-san terlalu banyak menghirup asap dari tempat terbakar yang tadi anda maksud," terlihat dari bayangannya, dokter itu melipat kedua tangannya, "saat menghirup asap api terlalu banyak, kasusnya sama dengan perokok pasif. Bukankah sudah sering dikatakan? Efek yang diderita perokok pasif jauh lebih parah dari perokok aktif itu sendiri."
Hening sesaat, pembicaraan kembali berlanjut, "Inti dari proses paru-paru itu sendiri adalah mengubah oksigen yang telah dihirup sebagai pembakaran zat-zat makanan di seluruh bagian tubuh. Setelah itu, oksigen berubah menjadi udara kotor atau dengan nama lain karbon dioksida dan kemudian dikeluarkan lagi melalui hidung," meskipun kesadarannya terbatas, Sasuke terus mencoba mendengar sampai akhir.
"Asap yang disebabkan pembakaran dari luar tubuh manusia adalah karbon monoksida—seperti asap knalpot kendaraan, asap rokok, dan sejenisnya. Sama seperti karbon dioksida, hanya saja jauh lebih berbahaya dan beracun. Selanjutnya saya yakin anda bisa mengira apa yang akan terjadi kalau menghisap asap kotor seperti itu terlalu banyak." Itulah kata-kata terakhir dokter yang Sasuke dengar. Laki-laki berambut biru dongker tersebut memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya.
Jadi... ini memang akhirnya.
Saat Sasuke membuka matanya lagi, bayangan dari orang lain yang berbicara dengan dokter terlihat menganggukkan kepalanya lalu dokter itu pun pergi. Tak perlu menunggu lama sampai yang seorang lagi tersebut membuka pintu dan memasuki kamar Sasuke. Ah, pantas rasanya Sasuke pernah mendengar suara itu entah dimana.
"Kau sudah sadar?" Sasori terlihat tenang bertanya seperti itu. Seolah-olah apa yang tadi dijelaskan dokter padanya hanyalah sebuah karangan belaka yang tidak perlu dipikirkan. Namun Sasuke tidak terlalu kaget akan hal itu—mungkin lebih tepatnya dia merasa laki-laki berambut merah itu sendiri sepertinya akan senang dengan kepergiannya. Lihat saja seringai licik di bibirnya, "Berarti kau mendengar semuanya?" tanyanya lagi dengan nada mengejek.
Sasuke tidak menjawab. Mungkin dia merasa tidak perlu menjawab itu, toh dia yakin saingan sejak kecilnya itu pasti sudah tahu jawabannya. Kalau memang ini adalah saat terakhirnya, Sasuke tidak mau membuang tenaganya hanya untuk membalas hinaan yang dilontarkan polisi muda tersebut. Uchiha bungsu itu hanya memejamkan matanya sekilas dan kembali membukanya.
Sasori menghilangkan senyumnya. Laki-laki berambut merah itu menatap Sasuke kemudian mulai melangkah untuk mendekati mantan adik kelasnya itu. Kedua bola mata onyx milik Sasuke mengikuti gerakan Sasori yang berakhir dengan berdiri di samping tempat tidurnya. Pelan tapi pasti, kedua onyx itu menajam. Sasuke tetap tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia juga masih membenci sang mantan kakak kelas.
Tangan Sasori bergerak menyentuh kepala Sasuke, menyingkirkan poni pria itu dan mengelus dahinya perlahan. Awalnya Sasuke memejamkan matanya erat seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak tangan Sasori untuk menyentuhnya. Namun kemudian Sasuke terdiam dan membuka matanya menyadari ada yang aneh dengan sentuhan pria tunggal Akasuna itu pada dahinya.
Tak berhenti hanya di situ, tangan Sasori menurun menyusuri wajah Sasuke. Hingga akhirnya berhenti di dada Sasuke yang naik turun, "Sakit ya?" kedua onyx itu kembali menajam dan kedua alis Sasuke saling mengerut, "Pasti sakit kan? Bagaimana rasanya susah bernapas, Uchiha-sama? Bagaimana rasanya memiliki paru-paru yang akan hancur? Bagaimana? Bagaimana?" tanya Sasori dengan bertubi-tubi. Tak lupa senyum licik yang terus mengembang seakan tidak bisa hilang dari wajah inspektur tersebut.
Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab. Kali ini bukan karena tidak mau, hanya saja mulutnya saat ini terlalu sibuk mengumpulkan oksigen, "Harusnya kau lihat betapa menyedihkan dirimu saat ini, hai Uchiha! Aku saja ingin tertawa melihatmu! Kalau kubiarkan kau di penjara itu lebih lama, kau akan cepat mati. Tapi sayangnya... itu membosankan," Sasori menekan dada Sasuke membuat laki-laki berambut dongker itu mengerang kesakitan. Tangannya memegang lengan Sasori namun tenaganya tidak kunjung keluar, "laki-laki sialan sepertimu... memang sudah sepantasnya tersiksa dulu sebelum mati."
Sasori menggertakkan giginya semakin keras seiring dengan tangannya yang menekan dada Sasuke semakin kencang. Tidak ada lagi Uchiha yang selalu menyembunyikan ekspresinya, dengan jelas wajah Sasuke menunjukkan betapa sakit dadanya itu. Laki-laki beriris coklat hazelnut itu menundukkan kepalanya dalam, "...Tapi... aneh ya..." Sasuke yang masih menahan sakit mencoba membuka sebelah matanya. Dan Uchiha bungsu itu pun terkejut melihat setetes air jatuh ke lantai.
Laki-laki itu... menangis?
Sasuke tahu sekali kalau Sasori tidak mungkin menunjukkan air mata kepadanya. Terlebih bagaimana keadaan mereka yang saling membenci sekarang. Menunjukkan air mata sama saja dengan menunjukkan kelemahan. Lalu... setelah semua hal ini terjadi, kenapa dia...
"Dadaku juga sakit..." sebelah tangan Sasori memegang dadanya sendiri, "...padahal tidak ada yang menekannya seperti aku menekan dadamu. Haha, aneh kan?" laki-laki berumur dua puluh tiga tahun itu pun akhirnya mengangkat wajahnya. Tanpa ragu menunjukkan air mata yang mengalir dari ujung mata hingga jatuh menetes dari bawah dagunya. Dan dia masih tersenyum, tapi dengan makna yang lain.
Sasuke menarik napas sebanyak yang ia bisa lalu mencoba berbicara, "Kena...pa?"
Pria berambut merah itu mencoba mengusap air mata yang terus mengalir namun tak kunjung hilang. Air menyebalkan itu terus menerus mengalir dari matanya seolah mereka sudah jengah karena selalu ditahan untuk keluar oleh sang Akasuna no Sasori. Membuat polisi muda itu perlahan menggertakkan giginya karena kesal dan akhirnya menurunkan tangannya. Membiarkan air mata itu terus mengalir, toh saingannya itu sudah melihatnya. Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Pria berambut raven tersebut menatap Sasori dengan bingung. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Inilah salah satu hal yang dimiliki Sasori dan dibenci Sasuke, laki-laki berambut merah itu begitu sulit ditebak. Dan walau terlihat ceria, saingannya itu sebenarnya sangat tertutup—bahkan jauh lebih tertutup dari Sasuke. Beberapa saat kemudian, Sasori menyentuh dada mantan adik kelasnya lagi tanpa menekannya.
"Aku akan mengutukmu." Ucap laki-laki berwajah baby face itu namun tidak menunjukkan ekspresi apapun. Kata-kata itu sukses membuat Sasuke mengernyitkan alisnya.
"Kutukanku adalah membiarkanmu hidup—" Sasori menggerakkan tangannya untuk menyentuh dadanya sendiri seperti awal tadi. Tersenyum penuh arti lalu kembali melanjutkan, "—dengan paru-paruku."
.
.
...Apa?
.
.
Seandainya bisa, Sasuke saat ini pasti akan segera turun dari tempat tidur dan berteriak tepat di depan wajah Sasori. Tidak mungkin, apa maksudnya? Memberikan paru-parunya? Apa dia sudah gila? Sasuke ingin menolak, tapi apa daya... berbicara saja dia harus menarik oksigen sebanyak mungkin. Dan lagi kalau bicara lebih dari ini, bukan tidak mungkin ajalnya akan berdiri tepat di depannya sekarang.
Sasori terdiam sebentar lalu tertawa kecil, "Kutukan itu sering disebut pedang bermata dua. Karena itu jika aku akan mengutukmu, aku pasti harus sudah siap dengan resiko yang kuterima," pria berambut merah itu mengangkat kedua tangannya dan menatapnya, "aku sudah membunuh banyak orang hanya untuk hal ini... sebenarnya kita sudah menjadi orang yang sama, Sasuke. Hanya saja, ada satu hal yang kau punya sementara aku tidak..." lagi, dia memejamkan matanya sebelum kembali melanjutkan.
"Kau memiliki tanggung jawab yang harus kau jaga. Dan hanya kau yang bisa menjaganya. Bukan aku."
Sasuke mencengkram erat sprei kasur di bawahnya. Dia ingin berteriak, dia ingin berontak, dia ingin sekali memukul wajah polisi muda yang menurutnya menyebalkan dan gila itu. Seenaknya saja dia memutuskan dan membuat rencana bodoh seperti ini! Tapi, Sasuke pun merasa dia juga sama saja. Kenapa dia baru menyadari semua ini telah direncanakan Sasori? Bukankah itu justru menunjukkan kalau dia jauh lebih bodoh?
"Karena itulah kau kubiarkan hidup. Tapi, jangan kau harap aku membiarkan hidupmu bahagia," jeda sejenak, senyum ejekan keluar dari bibir Sasori, "saat paru-paruku dipindahkan ke dadamu, pasti akan meninggalkan bekas. Itu hukumanmu."
Sasori menunduk seraya menekan dahi Sasuke agar laki-laki itu tetap diam di tempat. Tak lama kemudian, dia berbisik di telinga pria yang kerap bersuara bariton itu, "Setiap kau melihat bekas di dadamu itu, kau akan menyesal, menyesal, dan terus menyesal. Ingatlah, betapa aku membencimu seperti kau membenciku. Kau tidak akan bisa melupakannya, Sasuke. Aku bersumpah. Jangan pernah kau berpikir bahwa semua orang menyayangimu, masih ada aku. Dan aku akan selalu membencimu." Suara Sasuke yang terengah mencari oksigen terdengar semakin cepat.
Tidak. Sebodoh apapun seorang Uchiha Sasuke, mustahil kalau dia tidak tahu. Semua yang dikatakan Sasori adalah bohong. Lebih tepatnya sejak pria berambut raven itu melihat air mata Sasori, dia sudah tidak bisa dibohongi lagi.
Rasanya sakit, tapi kali ini bukan karena paru-parunya tidak bisa lagi berfungsi dengan baik. Melainkan rasa sakit yang lain dan jauh lebih menyakitkan. Siapa sebenarnya yang bodoh di sini? Kalaupun memang benar Sasori membencinya, kenapa laki-laki beriris coklat hazelnut itu harus repot-repot memberikan alat pernapasan yang membantunya hidup kepada laki-laki menyedihkan seperti dia?
Sasori mengangkat kepalanya, menatap Sasuke sejenak lalu memejamkan matanya. Suara pintu yang terbuka membuatnya menoleh, ternyata dokter yang tadi bicara dengannya kini sudah menunggunya. Dia menatap Sasori lalu mengangguk, "Operasi transplatasi paru-paru sudah siap dilakukan..."
Sasuke membulatkan matanya. Tidak. Tidak. Sasori tidak boleh mati hanya karena dia. Sakura jauh lebih baik bersama Sasori, bukan dengan laki-laki hina sepertinya. Uchiha bungsu itu ingin mencegahnya, namun suara tidak kunjung keluar. Yang keluar justru engahan napasnya yang semakin kencang dan dada bidangnya naik turun seakan siap meledak. Melihat keadaan itu, secara inisiatif sang dokter mengambil suntik bius untuk menenangkan pengusaha muda tersebut.
Tentu saja Sasuke tahu akan hal itu, saat tangannya ingin mencegah sang dokter, Sasori memegang lengannya, "Tenang, aku tidak akan mati," pria berumur dua puluh satu tahun itu tidak kuat lagi. Akhirnya air mata pun mengalir dengan lancarnya, onyx tajam miliknya kini terlihat begitu menyedihkan, "yang mati justru kau. Yang hidup di dalam dirimu nanti, adalah aku," jeda sejenak, Sasori tersenyum pahit, "hei, ini pertama kalinya aku melihatmu menangis..."
Pria berambut biru dongker tersebut memejamkan matanya dengan erat. Kedua tangannya ia kepal semakin keras. Betapa kejam saingannya itu, sekarang siksaan dalam kehidupannya akan bertambah—bahkan jauh lebih menyakitkan. Sasuke bisa merasakan jarum suntik dokter menembus kulitnya lalu suatu cairan memasuki dirinya. Perlahan tapi pasti, tubuhnya pun mulai mati rasa, pandangannya juga mulai memburam. Sasori sendiri kini sudah membalikkan tubuhnya mengikuti dokter di depannya. Melihat itu, Sasuke mencoba menggerakkan tangannya untuk menggapai laki-laki berambut merah tersebut lalu membuka mulutnya.
"Maaf..." bisiknya pelan, namun cukup terdengar oleh Sasori. Laki-laki berwajah baby face itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sasuke. Untuk sesaat, wajahnya terlihat terkejut mendengar kata terakhir yang diucapkan Sasuke sebelum pria berambut raven itu kehilangan kesadarannya dan menutup matanya.
"...senpai..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei kak..."
"Aku memiliki teman—well, mungkin bukan teman. Dia sainganku. Musuhku. Dia sangat menyebalkan! Melihatnya saja membuatku muak. Aku sangat membencinya, dia senang sekali mempermalukanku di depan orang. Cih."
"Hee benarkah?"
"Ya, kau harus melihatnya. Aku ingin sekali mengubur dalam-dalam senyum meremehkannya itu!"
"Hm, tapi di awal tadi kau sempat menyebut dia sebagai teman lho, Sasuke -chan~~"
"I-Itu hanya salah ngomong! Mana mungkin aku mau berteman dengannya!"
"Hahahaha iya iya, terserah kau saja..."
"Argh! Berhenti mengacak-acak rambutku!"
"Hahaha maaf maaf, tapi Sasuke kalau kau memang membencinya, lebih baik jangan terlalu membencinya."
"Hn? Kenapa?"
"Karena biasanya... orang yang sangat kita benci, suatu hari nanti akan menjadi satu-satunya orang yang bisa menolong kita."
"...Itu tidak mungkin."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kelopak mata itupun akhirnya terbuka. Beda dari sebelumnya, kini Sasuke bisa dengan jelas membuka lebar kedua matanya. Bau obat-obatan pun kini terasa menyerang hidungnya. Pendengarannya pun bisa mendengar dengan baik suara-suara alat yang dihubungkan pada tubuhnya. Semuanya kembali seperti dulu. Dan yang terpenting...
Dia bisa bernapas normal.
Sasuke tersentak. Dengan cepat , dia merubah posisinya menjadi duduk dan membuka kancing-kancing bajunya dengan sekali tarikan kuat. Apa yang dia takutkan sejak awal sebelum dia kehilangan kesadarannya itu terjadi. Tangan Sasuke bergetar melihat sesuatu yang tadinya tidak ada di dadanya kini terlihat. Sangat jelas.
Bekas jahitan.
Tangan Sasuke yang satu lagi bergerak dengan bergetar menyentuh rambut raven miliknya. Dia mulai menjambaknya dengan sangat keras. Kedua bola mata Sasuke terus mengecil. Tubuhnya pun kini bergetar semakin kencang. Tidak mungkin. Ini... Ini mimpi kan? Iya kan?
"Sasuke..."
Uchiha bungsu itu nyaris saja berteriak kalau seseorang tidak masuk ke kamarnya. Kedua onyx miliknya menatap Sakura yang balas menatapnya dengan sedih. Jejak tangis di pipinya dengan jelas menunjukkan apa yang baru saja terjadi. Sasuke menggertakkan giginya dan mencengkram selimutnya semakin kencang.
Sialan.
Sialan.
SASORI SIALAN!
Sebelum Sasuke sempat kembali menangis, Sakura sudah lebih dulu memeluknya. Sangat kencang, membuat sumpah serapah untuk Sasori tertelan begitu saja. Sakura menangis dengan keras seolah menggantikan dirinya. Sasuke sendiri tidak tahu harus seperti apa, yang sekarang dia bisa hanyalah membalas pelukan Sakura. Mengeratkan tubuh wanita yang kini menjadi miliknya seutuhnya karena kebodohan seorang lelaki berambut merah.
Sakura mengisak seraya mencengkram baju pasien yang dikenakan Sasuke. Membiarkan baju itu basah karena tangisannya. Sementara Sakura terus menangis kencang, Sasuke menggerakkan tangan satunya untuk menyentuh bekas jahitan di dadanya. Masih terasa hangat. Menyentuhnya saja, Sasuke seolah bisa merasakan apa saja yang dirasakan Sasori sebelum benar-benar memberi paru-paru itu padanya. Dan tangisan tanpa suara pun mengalir begitu saja dari mata laki-laki bersuara bariton tersebut.
"...Kau memang pintar berbohong, senpai..."
Seiring dengan gerakan tangannya yang menekan kepala Sakura semakin dalam, tangan Sasuke mengepal di atas bekas jahitan baru yang akan dimilikinya mulai dari sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Tunggu! Jangan lari sembarangan, Rei!" Sakura berteriak seraya menggenggam tangan anak perempuan yang berumur sekitar lima tahun, "Kalau kau jatuh, bagaimana?" wanita cantik berambut soft pink tersebut meletakkan kedua tangannya di atas pinggang. Ekspresi marah dan khawatir terlihat jelas dari kedua bola mata emerald miliknya yang indah.
"Tapi aku ingin cepat-cepat ke balon itu bu..." rengek Uchiha Rei seraya menunjuk-nunjuk ke arah tukang balon yang tengah dikerubungi anak-anak kecil beberapa meter di depan mereka. Sakura menggelengkan kepalanya pelan, sebelum dia sempat memarahi anaknya lagi. Anak perempuan berambut biru dongker sebahu tersebut kembali berlari meninggalkannya.
"Rei! Kubilang jangan ber—"
GUSRAK
Sakura tersentak dan dengan panik, wanita itu segera berlari untuk menghampiri anaknya. Sasuke yang sebenarnya dari tadi memang sudah berada di belakang istri dan anaknya, hanya diam saja. Walau ayah muda itu sesekali menghela napas melihat kenakalan anaknya yang seringkali memancing kemarahan sang ibunda. Akhirnya setelah melihat istrinya berlari, Sasuke pun ikut berlari kecil.
Namun, kini langkah Sakura terhenti. Begitu pula Sasuke.
Di depan Rei, seorang anak laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya terlihat mengulurkan tangan. Seolah ingin menolong gadis kecil itu yang menatapnya kebingungan. Kedua onyx milik Rei terlihat bingung menatap kedua mata coklat tua di depannya. Namun tak perlu waktu lama, Rei menyambut uluran tangan itu hingga kini dia bisa berdiri.
Tak berhenti hanya di situ, laki-laki kecil itu menepuk-nepuk baju Rei sehingga debu-debu yang menempel pun terjatuh. Sasuke dan Sakura terus mengamati anak aneh tersebut hingga Sakura memilih untuk menghampiri anaknya. Setelah selesai, laki-laki kecil yang juga berambut hitam itu memiringkan kepalanya, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada polos.
Rei tertegun, namun kemudian dia mengangguk pelan, "I-Iya," jawabnya dengan wajah memerah karena malu.
Sakura tersenyum geli melihat tingkah anaknya, lalu dia mengusap kepala Rei, "Terima kasih sudah menolongnya, nak," ucap Sakura dengan lembut. Laki-laki kecil dengan bentuk rambut yang pernah Sakura lihat sebelumnya itu mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya, "Ah ya, namamu siapa?"
"Sasori."
Senyum di wajah Sakura menghilang. Begitu pula tubuh Sasuke yang terlihat menegang, "Eh?"
"Iya, namaku Akamura Sasori."
Bersamaan dengan anak itu yang selesai mengucapkan namanya, Sasuke kembali merasakan sakit di dadanya. Pria berambut raven tersebut mencengkram kemeja tepat di depan dadanya. Rasanya paru-paru itu seolah berteriak karena bertemu dengan pemiliknya yang seakan lahir kembali dalam suatu proses reinkarnasi yang tidak pernah Sasuke sangka sebelumnya. Sakura juga sama, matanya seolah tidak bisa berkedip melihat laki-laki kecil dan polos di hadapannya.
"Aku mau pulang, nanti ibuku marah. Dadah!" Sasori kecil itu pun berlari meninggalkan mereka. Seolah tidak mempedulikan reaksi dua orang dewasa tersebut berubah. Sakura tidak tahan lagi, dengan pelan dia memeluk anaknya yang kebingungan dan menangis dalam diam.
Sasuke sendiri hanya terdiam dan tersenyum tipis dengan tatapan mata pedih. Bekas jahitan di dada yang tidak akan pernah hilang selamanya itu pun kembali mengingatkannya dengan kata-kata kutukan yang akan menyiksanya seumur hidupnya. Sesuai perkataan laki-laki berambut merah itu, dia tidak akan berhenti menyiksa saingannya. Meskipun dia telah pergi ke dunia yang berbeda.
Karena hukuman itulah, Sasuke harus hidup sekali lagi. Menjaga Sakura, wanita yang dicintainya dan saingannya itu lalu menjaga anaknya sendiri. Walau begitu dia tetap tidak akan bisa bahagia. Karena bekas jahitan menyebalkan itu selalu mengingatkan akan dosanya di masa lalu.
...Dan Sasuke menerimanya.
.
.
.
.
.
.
God is fair...
When you're happy, there are people who will sad for you
.
And when you're sad, there are people who will happy for you too
.
.
.
.
.
.
.
.
.
The End
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Special thanks for :
mysticahime, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Uzu'Chiha SatsUki, Uchikurai, BlueHaruchi Uchiha, Sindi 'Kucing Pink, AsaManis TomatCeri, Hikari Uchiwa, Gracia De Mouis Lucheta,Ka Hime Shiseiten, uchiharuno phorepeerr, Lrynch Fruhling, ck mendokusei, Aiko Furizawa, sagaarayuki, Donata Valeriya, Aika Namikaze, Karasu Uchiha, Kurosaki Naruto-nichan, resiwon407, Syarah, Nolarious, Frozenoqua, Obsinyx Virderald, DEVIL'D, saitou ayumu uchiha, sei, Eunike Yuen, Michi 'Sky' blossom, Rieki Kikkawa, Nana the Greensparkle, Mey Hanazaki, Hannah Cyrus Montana, B-Rabbit Lacie, Vipris, Sky pea-chan, Saranghae ThunderSiwonOppa, jee yoo, Eiirma UrukiruaSchiffer, Cherry blossoms, Harumi satsuki, nama tidak terdeteksi, mella-chan, Rye Skye, Retno UchiHaruno, selenavella, Rei Fujisaki 27, kitty kuromie, nyanghika, alvin the nuri, sherrynadila
And for everyone who review for this last chapter, I have to say thank you very much :)
Terima kasih untuk semua yang sudah membaca fic ini dari awal sampai akhir, kurang lebihnya saya minta maaf kalau ada kesalahan. Jika mau protes endingnya, di Twitter saya selalu siap mendengar (?) #ngek
Yap, akhir kata... sampai jumpa lagi di fic-fic saya yang lain~
Jaa ne :D
