Mulai dari sini, aku tahu kehidupanku tidak akan berakhir bahagia.

Aku tidak akan berharap lebih selain semoga rencanaku ini berjalan lancar.

Jadi, walau aku tidak berakhir bahagia...

...setidaknya aku masih bisa tersenyum saat meninggalkan dunia ini.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Side story, Sasori centric

.

Warning : AU, misstypo?

Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship

Main Character : Akasuna no Sasori

.

.

.

CHOOSE ME!

.

.

.

"Hukuman Uchiha Sasuke adalah hukuman mati. Dan aku, Akasuna no Sasori yang akan melakukannya!"

Dengan lantang kuucapkan kata-kata itu. Asuma-taichou terlihat ragu-ragu dengan pernyataanku. Butuh waktu sepersekian menit untuk menunggunya kembali bertanya, "...Sekali lagi. Akasuna no Sasori, kau yakin?"

Dan percakapan kembali berlanjut. Aku sudah membulatkan tekad, jadi bukan masalah lagi bagiku untuk menjawab semua pertanyaan ketuaku ini tanpa keraguan dan membuatnya yakin. Walau aku tahu, masih ada rasa berat di hatinya saat beliau mengizinkanku menghukum mati Sasuke.

Mendengar izinnya tak lama kemudian membuat senyumku merekah. Walau aku berhasil membohongi jutaan orang di sekitarku, sampai kapanpun aku tetap tidak akan bisa membohongi diriku sendiri. Sama seperti sekarang, senyum kemenangan ini tidak bisa kutahan untuk tidak keluar. Dan aku tahu Asuma-taichou menatapku dengan penuh pertanyaan di kepalanya. Seandainya pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar keluar dari mulutnya, aku tidak yakin apa sandiwaraku masih bisa bertahan.

Aku mengucapkan izin untuk segera keluar dari ruangan kepala kepolisian Konoha tersebut. Sebisa mungkin kuhindari kontak mata dengannya. Aku tidak bisa membiarkan beliau melihat sesuatu yang sudah kusembunyikan sejak lama. Jikalau mungkin, aku ingin menjaga rencana busuk ini selamanya.

"Sasori..." aku menghentikan langkahku saat kudengar namaku dipanggil. Sebelum aku sempat membalikkan tubuh, Asuma-taichou sudah lebih dahulu berbicara, "aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi—" ucapan atasanku itu terhenti dan aku bisa merasakan degupan jantungku berdetak dua kali lebih cepat.

"—aku mempercayaimu."

Kedua iris coklat hazelnut milikku membulat mendengar itu. Aku menggigit bibir bawahku. Tolong, jangan percaya padaku. Aku hanyalah manusia hina yang sudah kehilangan kesempatan dan berada di ujung tanduk. Aku memanfaatkanmu—tidak, bukan hanya kau. Semua orang yang dekat denganku! Dan orang sepertiku tidak pantas mendapatkan rasa percaya ataupun maaf dari kalian semua.

—Namun tetap saja, pada akhirnya kata-kata itu semua tertahan di bibirku.

Kalau aku mengucapkan itu semua, pada akhirnya rencanaku akan hancur untuk yang kedua kalinya dan aku tidak mau itu terjadi. Aku menggertakkan gigiku. Mati-matian aku menahan gejolak untuk mengatakan semuanya. Tak butuh waktu lama untukku berhasil menenangkan diri, aku menarik napas dan membentuk senyuman tipis di bibirku.

"Terima kasih."

Tanpa perlu membalikkan tubuh, aku berjalan meninggalkan ruangan yang menyesakkan ini.

Tidak.

Aku tidak perlu mengucapkan selamat tinggal padanya.

.

.

.

#

Aku tahu aku telah berlebihan dan lelah karenanya. Walau begitu, aku tidak berniat untuk meminta bantuan dari siapapun untuk rencana ini. Selama ini aku selalu egois, melakukan semuanya sendiri, merasakan kebahagiaan untuk diriku sendiri, tak pernah sekalipun aku mempedulikan orang lain.

Namun, sekarang berbeda.

Kedua orang yang masuk dengan secara tidak sengaja ke dalam hidupku telah merubah semuanya. Mereka menyadarkanku, bahwa aku tidak akan bisa hidup jika hanya mementingkan diriku sendiri. Mungkin aku benci mengakuinya, tapi Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura lha yang menunjukkan jalan padaku lalu memberiku tujuan hidup.

Berkat mereka, aku belajar berbagi, menyayangi lalu mempedulikan orang lain, dan tertawa bersama. Aku tersenyum kecil setiap mengingat memori-memori yang indah itu. Bohong kalau aku bilang aku tidak ingin kembali seperti dulu. Aku rela melakukan apapun untuk kembali bersama bertiga seperti dulu. Jika tidak mungkin, maka aku yang akan mengembalikan kebahagiaan tersebut pada kedua orang yang kusayangi. Entah bagaimana, rasanya seperti telah dicuci otak. Seolah aku lebih mementingkan kebahagiaan mereka daripada nyawaku sendiri.

Lalu, ada satu hal yang tak pernah kuperkirakan sebelum ini terjadi. Kenapa... setelah semua kebahagiaan ini kudapatkan...

...aku harus kembali egois lagi?

Aku mencengkram erat setir mobil di tanganku. Melihat jalan raya kosong di depanku sama sekali tak membantu. Ingatanku melayang saat almarhum ayahku masih hidup. Waktu itu beliau memukulku dengan sangat keras, hingga aku yang waktu itu masih berumur empat belas tahun merasakan darah mengalir dari sudut bibirku. Ayahku yang memang menjabat sebagai kepala kepolisian Konoha memang sangat keras dalam mendidikku, terlebih lagi aku adalah laki-laki. Dia tidak akan tanggung-tanggung dalam menghukumku jika aku melakukan kesalahan fatal.

Aku masih ingat, saat itu aku yang memang kehabisan kesabaran menghajar seorang anak badung di sekolahku dengan brutal sampai dia koma sebulan di rumah sakit. Ayah marah besar, setelah orang tua anak itu datang untuk protes ke rumahku, ayah langsung datang ke kamarku dan memukulku yang sedang main game dengan sangat keras. Aku tidak kaget—bisa dibilang aku sudah terbiasa. Lagipula sejak mendengar anak badung itu masuk rumah sakit, aku sudah mengira ini akan terjadi. Dalam diam, aku mencoba bangkit dari posisiku yang setengah tertidur hingga akhirnya aku berdiri tepat di depannya.

"ANAK KECIL MACAM APA KAMU? SUDAH MERASA MENJADI JAGOAN, HAH? AKU MENGAJARIMU BELA DIRI BUKAN UNTUK BERKELAHI DENGAN TEMANMU SENDIRI!" teriakan beliau menggema di rumahku yang bertingkat dua ini. Ekspresiku tetap datar, hanya saja aku menatap ke samping dan tanganku terlalu sibuk menyeka darahku sendiri. Dari sudut ini, aku bisa melihat ibuku yang kalut sedang berusaha menenangkan ayah di sampingnya.

Aku mendecih sesaat lalu berbisik sedikit keras, "Dia bukan temanku." Ibuku sedikit terkejut melihat aku berkata seperti itu sementara ayah mengepal tangannya semakin keras. Kenapa? Itu memang kenyataan. Anak badung sok kuat seperti itu sama sekali tidak pantas kuanggap sederajat denganku. Ibu mencoba menenangkan ayah sekali lagi dan sepertinya kali ini berhasil.

"Walau dia bukan temanmu, setidaknya dia masih manusia seperti kita," ibu terus mengelus punggung ayah yang sedang menahan amarah. Sementara aku yang memang tidak berani menatap kedua mata sang ayah, terus menunduk. Aku tidak mau mengambil resiko yang lebih parah dari ini, "suatu hari nanti kau harus mengerti, Sasori. Kalau kau memang mau menjadi polisi sepertiku, kau harus belajar peduli dengan orang lain. Aku ayahmu dan kau tidak bisa menipuku dengan mudah." Ayah membalikkan tubuhnya hendak meninggalkanku sementara aku masih terdiam menunduk.

Aku bisa mendengar ayah menggertakkan giginya sebelum kembali melanjutkan, "Jangan kau pikir aku tidak tahu atau berpikir bahwa aku lebih bodoh darimu. Selama ini, aku jengah melihat topeng sok baik yang selalu kau pasang di wajahmu itu," aku tersentak mendengarnya. Sementara masih menunduk, kedua bola mataku membulat, "kau beruntung karena orang lain tidak menyadarinya. Tapi apa kau tahu? Tidak ada manusia yang bisa memakai topeng selamanya. Kalau kau tidak cepat-cepat merubah sikapmu, saat topeng itu pecah orang-orang akan melihat kebusukanmu. Dan aku... tidak akan mengganggapmu sebagai anak lagi."

Ibu tersentak mendengar itu dan langsung berteriak, "Ayah!"

"BIAR DIA MENGERTI!" balas ayah lebih keras. Aku menggigit bibir bawahku dan mengepal kedua tangan di samping tubuhku. Entah kenapa tubuhku bergetar. Aku... takut. Bukan. Bukan karena aku takut ayah tidak akan mengganggapku sebagai anak lagi. Tapi—

—entahlah.

Ayah kembali berjalan hingga akhirnya dia berkata, "Terserah jika kau mau mengganggap nasihatku ini sebagai angin lalu. Aku sudah tahu kalau kau ini anak yang egois. Kalau kau tidak mau merubahnya, maka silahkan mati dengan cara egoismu itu." Ucap ayah dengan sinis lalu dia berjalan meninggalkan kamarku. Ibu mengejar ayah dan sepertinya beliau memarahi ayah karena kata-katanya yang kelewatan padaku.

Sementara itu, aku mulai berjalan hingga akhirnya aku duduk di tepi kasurku. Kata-kata ayah bagaikan ribuan belati yang menusuk tepat ke dadaku. Rasanya sakit dan sangat menyiksa. Seandainya aku benar-benar tidak bisa menghilangkan sifat egoisku ini lalu aku akan mati dengan cara egois seperti yang ayah katakan...

DEG!

.

.

Takut.

Aku takut.

.

.

Aku tidak mau seperti itu.

.

.

Tidak.

.

.

Tidak.

.

Keringat dingin mengalir di pelipisku. Saat sadar, aku sudah sampai di basement tempat parkir apartemen yang kutinggali dengan dua orang itu. Degup jantungku berdetak begitu keras hingga aku sendiri bisa mendengarnya. Napasku memburu, tubuhku bergetar. Dengan lelah, kujatuhkan kepalaku di atas setir.

...dan aku menangis lagi.

#

.

.

.

.

#

Saat aku menawarkan apakah istriku ini ingin bertemu lagi dengan sainganku itu, aku tidak benar-benar merelakannya. Karena aku tahu, sisi dalamku yang sebenarnya tidak pernah menginginkan hal ini. Aku tidak akan pernah bisa membohongi diriku sendiri, semua telah kulakukan semata-mata agar Sakura tidak bisa bertemu Sasuke lagi. Kebodohan Sasuke mengikuti jejak kakaknya sebagai pemimpin mafia, kumanfaatkan habis-habisan agar menjadi jembatan pemisah antara kedua manusia itu.

Tapi, takdir sekali lagi mempermainkan kami semua.

Aku melirik Sakura yang duduk di bangku samping kemudi. Wajahnya menunduk tidak terlalu dalam, sehingga aku masih bisa melihat ekspresi kesedihan di sana. Walau begitu, tangannya tidak tinggal diam dan tetap mengelus perutnya yang kini tersimpan suatu kehidupan. Tanpa sadar, aku menggertakkan gigiku penuh amarah dan mencengkram erat setir yang kugenggam.

Setelah semua usaha yang kulakukan, inikah hasil yang kudapatkan? Entah sudah berapa kali aku menghina Tuhan atas jalan takdir ini. Apa susahnya membuat darah daging itu menjadi darah daging milikku sendiri? Apa? Kenapa harus Sasuke? Apa bedanya aku dengan Sasuke? Apa yang Sasuke punya sementara aku tidak?

APA?

DRAK!

Rem mendadak yang kutekan membuat tubuh kami berdua maju sedikit paksa ke depan. Sakura tersentak kaget, dia memegangi tubuhnya, menahan diri agar tidak terjatuh sementara aku menahan diri agar kepalaku tidak terkena setir dengan keras. Setelah posisi kami sudah seperti sebelumnya, wanita bermahkota soft pink tersebut menoleh ke arahku, "...Sasori?" tanyanya pelan padaku. Aku terdiam, dadaku naik turun pelan berusaha meredam amarah yang sudah di ujung. Bola mata coklat hazelnut milikku enggan menatapnya.

Beberapa saat suasana hening muncul di antara kami. Aku menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Senyum kutarik paksa di bibirku, "Tidak. Tidak ada apa-apa. Maaf." Ucapku yang kuyakini bukanlah jawaban untuknya. Aku kembali menjalankan mobil dan berlaku seolah tidak ada yang terjadi.

Ah, gawat.

Setengah dari topengku sudah jatuh dan pecah.

Tak perlu waktu lama sejak tadi untuk sampai ke gedung kepolisian pusat Konoha. Sebelum turun dari mobil, Sakura sempat menoleh ke arahku. Tapi aku tidak mempedulikannya dan berlaku seolah sibuk membereskan pengaman mobil lalu keluar. Sepertinya melihatku yang masih tidak mau berbicara apapun padanya membuatnya terdiam dan akhirnya menyerah. Dia mengikutiku dengan keluar dari mobil. Setelah mengunci mobil dengan kunci otomatis, aku berjalan ke dalam gedung diikuti olehnya.

Aku mengantar Sakura hingga ke pertengahan jalan. Setelah itu aku memberi isyarat hingga Sakura mengerti dan mencari sendiri penjara Sasuke.

Suara langkah kaki membuatku menoleh ke belakang. Seseorang yang kukenal sudah cukup lama—mengingat beliau adalah teman sepermainan almarhum ayahku—membuatku menyunggingkan senyum menyapa. Dokter yang sudah cukup berumur itu tidak membalas senyumanku, namun dia menatapku sedih. Laki-laki tua bernama Tezuna itu hanya memejamkan matanya dan pergi meninggalkanku. Aku tidak heran dengan sikapnya itu, karena saat ini hanya dia satu-satunya yang tahu tentang rencanaku termasuk bagaimana akhir yang nanti akan kupilih.

Aku menarik napas panjang dan lagi-lagi mengeluarkannya... sebelum awal dari rencanaku dimulai.

#

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sampai sekarang... aku tidak pernah mengerti perasaan para pembunuh.

Meskipun aku sudah menjadi salah satu dari mereka, aku tetap tidak mengerti.

Rasanya menyakitkan mendengar teriakan-teriakan memilukan dari para korban tersebut.

Jika aku mengingat Sasuke selama ini, dia selalu bisa tersenyum seperti biasa walau di balik layar entah sudah berapa orang yang dia sakiti.

Tapi aku juga sebenarnya tidak tahu, apa senyum Sasuke itu palsu atau benar dari lubuk hatinya.

Aku mencoba tersenyum di tengah api yang membakar seluruh penjara ini, namun air mata justru keluar bersamaan dengan senyumku.

Apakah aku lemah? Baru seperti ini saja aku sudah ketakutan setengah mati.

Aku bersyukur ayah sudah tiada. Karena jika beliau sampai melihat ini, beliau pasti akan memukulku lagi lalu mengatakan bahwa beliau tidak akan menganggapku sebagai anak.

Lebih dari itu, ayah akan membunuhku—dan aku tidak akan kaget dengan hal itu.

Aku membuka mata, mencoba kembali pada kenyataan.

Di sinilah aku.

Aku sudah menjadi pembunuh yang tidak punya hati.

.

Sudah kuduga, aku memang iri padamu, Sasuke.

Aku yang terbiasa dengan pekerjaanku untuk melindungi orang lain, kini jatuh terpuruk saat berbalik arah.

Aku tidak bisa sepertimu yang bisa menyakiti dan melindungi orang lain secara bersamaan.

Aku tidak bisa memasang senyum dengan baik setelah melakukan hal mengerikan seperti ini.

Sejak kapan aku menjadi begitu menyedihkan?

Kenapa aku iri dengan setan sepertimu?

Karena aku tidak berhasil mendapatkan Sakura? Atau karena aku tidak bisa tersenyum setelah melakukan kejahatan?

Benci... Aku benci ini...

Napasku terengah dan terasa sesak. Kalau begini, cepat atau lambat aku akan masuk ke dalam neraka sebelum waktunya. Aku harus cepat menyelesaikan semuanya.

Di matamu, aku selalu menjadi pemenang bukan?

Tapi tidak, itu tidak benar.

Seorang pemenang sejati tidak akan pernah merasa iri pada orang yang telah dikalahkannya.

#

.

.

.

.

.

.

.

.

#

Hukuman Uchiha Sasuke adalah hukuman mati berdasarkan buku kepolisian yang sudah menjadi dasar hukum selama bertahun-tahun. Aku tahu, aku tidak akan bisa menghapusnya semudah membalikkan telapak tangan. Tapi cara apapun akan kulakukan untuk mencegah semua hal itu terjadi. Bukan karena aku memikirkan si bodoh Uchiha itu, semua ini kulakukan demi Sakura.

Ya, demi Sakura.

Seumur hidupku, aku tidak pernah menyangka akan berbuat sejauh ini demi seorang pria yang kubenci. Sungguh ironis saat aku menyadari bahwa aku harus menyelamatkan nyawa seseorang yang kematiannya paling kuinginkan di dunia ini. Ayah benar. Sifat egois yang telah kusimpan sejak dulu kini perlahan tapi pasti semakin menelanku ke dalam dasar penyesalan.

Aku tidak akan bisa kembali, semuanya sudah terlambat. Jujur saja, aku tidak mengira akan menggunakan cara licik dan menyedihkan seperti ini. Setelah mengantarkan Sasuke dan Sakura ke rumah sakit, aku kembali ke gedung kepolisian pusat. Sesuai dugaan, di sana Asuma-taichou dan para polisi lain sedang berkumpul lalu terkejut melihat kedatanganku. Aku tidak memasang ekspresi yang berarti namun Asuma-taichou yang sepertinya sudah tahu semuanya menatapku dengan penuh amarah. Aku memang sengaja meninggalkan banyak bukti yang menunjukkan bahwa akulah pelaku pembakaran itu.

"Sudah kuduga, kau pasti akan datang kembali," suara yang sangat kukenal membuatku menoleh. Ah, detektif kepolisian, Hatake Kakashi, "semua bukti yang menunjukkan bahwa kaulah pelaku pembakaran ini memang sengaja kau tinggalkan bukan, inspektur Sasori?" tanya pria bermasker itu dengan tenang. Aku tersenyum tipis dan mengangguk. Ternyata aku memang tidak bisa menganggap remeh detektif kepolisian nomor satu itu.

Kakashi terlihat memiringkan kepalanya, "Aku sebenarnya tidak mau berpikir seperti ini tapi... dari semua perbuatan nekat yang kau lakukan, membuatku sampai dalam suatu kesimpulan," senyumku hilang tergantikan dengan tatapan serius. Begitu pula Kakashi yang memicingkan matanya menatapku seolah akan menusuk kedua mataku, "apa semua ini ada hubungannya dengan Uchiha Sasuke? Ah, atau bahkan Haruno Sakura?" tanyanya.

Ekspresiku sedikit menegang mendengar Kakashi menyebut nama Sakura. Sepertinya detektif pintar itu berhasil menemukan hubunganku dengan Sakura maupun Sasuke. Aku berusaha menenangkan diri, agar jangan sampai aku terbawa emosi, "Kau memang hebat, detektif Kakashi... aku sampai lupa memperhitungkan bahwa ada kau di sini," jawabku dengan jujur. Tatapan para polisi di sini langsung tertuju padaku, "memang benar, saya melakukan hal gila ini karena mereka berdua. Namun sayangnya, saya tidak berniat menceritakan alasan detailnya pada kalian semua karena ini privasi." Lanjutku seraya mencoba tersenyum.

"Lalu mau apa kau kembali?" pertanyaan yang dilontarkan wakil kepala kepolisian Konoha itu—Maito Guy—kembali mengingatkanku pada tujuan awal. Aku menatap Asuma-taichou yang beberapa meter ada di depanku. Beliau menatapku penuh kekecewaan dan ekspresi itu tidak berubah saat aku melangkah mendekatinya.

Para polisi terlihat bergerak mencoba melindungi Asuma-taichou. Tapi sepertinya mereka kembali dikejutkan dengan aku yang tiba-tiba berlutut di depan kepala kepolisian pusat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut mereka membuat suasana menjadi bising. Aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Asuma-taichou sekarang karena aku tengah menunduk.

"Saya... tidak akan meminta maaf pada anda karena saya tahu perbuatan saya sebagai polisi tidak bisa dimaafkan. Silahkan anda membenci lalu membuang saya. Silahkan injak harga diri saya jika itu membuat anda puas. Saya rela membuang lencana bunga sakura dari dada saya. Dengan ini, silahkan hapus nama Akasuna no Sasori dari daftar sejarah polisi Konoha."

Tubuhku sempat gemetar setelah mengucapkan kata-kata ini. Menjadi polisi adalah impianku dan ayah. Kalau begini, aku yakin kehidupanku di dunia sana pun tidak akan bisa tenang karena ayah pasti akan menghajarku. Tanganku yang menyentuh tanah mengepal begitu kuat. Aku tidak boleh lemah jika aku ingin semua ini cepat selesai.

"Lalu, aku tahu ini adalah cara yang rendah," aku menggertakkan gigiku dan memejamkan mata erat, "aku akan memberikan semua harta yang kupunya untuk memperbaiki bagian gedung yang terbakar dan jika lebih, silahkan simpan untuk keuangan kepolisian Konoha pusat." Lanjutku dengan setengah teriak. Membuat bisikan-bisikan terdengar semakin jelas.

"Langsung saja Sasori, apa yang kau inginkan?" tanya Asuma -taichou dengan nada suara yang begitu dingin. Suaraku tercekat sesaat. Kepalaku terasa pusing dan begitu menyiksa. Kugigit bibir bawahku hingga akhirnya aku kembali membuka mulut.

"Tolong hilangkan hukuman mati untuk Uchiha Sasuke."

Suasana pun semakin menegang setelah aku mengucapkan kata-kata itu. Para polisi yang tadinya saling berbisik kini mulai berteriak-teriak. Terserah mereka mau mengataiku gila, bodoh, atau menyedihkan—aku sudah tidak peduli. Yang di kepalaku sekarang adalah bagaimana agar keinginanku ini tercapai.

Asuma-taichou tidak berkata apa-apa namun aku bisa merasakan ekspresi wajahnya yang menatap tidak percaya padaku. Kau tahu? Tidak ada yang jauh lebih menyedihkan dari seorang polisi yang memohon pengampunan untuk seorang kriminal yang sudah menyakiti rakyat.

Suara gigi yang bergeletuk membuatku tersadar. Tubuhku pun sedikit bergeming karenanya, "Aku tidak pernah menyangka polisi yang pernah kubanggakan meminta permohonan seperti ini," aku terus menunduk, mendengarkan kata-kata kepala kepolisian tersebut dengan penuh seksama, "aku bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan kepala kepolisian yang dulu jika beliau melihatmu begini."

Kutarik napas sebelum membalasnya, "Saya tahu. Ayah pasti akan sangat membenci saya." Aku tersenyum tipis. Menahan rasa sakit dan takut karena ayah yang entah kapan terakhir kali kurasakan, "Tapi itu nanti akan jadi urusanku sendiri dengan ayah. Yang pasti, untuk sekarang maukah anda mengabulkan permohonan saya?" pertanyaanku kali ini diakhiri dengan kepalaku yang mendongak. Hingga aku bisa bertatapan dengan ketuaku ini.

Asuma-taichou menatapku dengan penuh keraguan. Sementara aku tidak akan menghindar sedikit pun dari tatapannya. Aku akan buktikan padanya bahwa saat ini aku serius dan bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Melihat beliau yang terus diam, akhirnya aku kembali berucap, "Ini permohonan saya yang terakhir. Jika anda masih belum puas menerima semua harta yang saya berikan, maka nyawa ini pun akan saya berikan."

Tidak ada orang-orang berisik seperti sebelumnya. Suara mereka seperti tertahan mendengarku yang sampai berniat akan memberikan nyawaku sendiri. Mereka pun ikut menunggu jawaban dari ketua mereka seperti diriku. Aku terus menatapnya dengan berlutut, "...Kau tidak perlu memberikan nyawamu padaku," aku tersentak mendengar itu lalu memasang ekspresi bertanya, "karena dari awal saat kau membakar koridor penjara ini pun, kau sudah berniat untuk meninggalkan dunia ini kan?"

Pertanyaan Asuma-taichou membuat suaraku kembali tercekat. Kali ini aku tidak bisa lagi berekspresi biasa, tanpa sadar alis-alisku tertarik menunjukkan ekspresi kesedihan yang sudah kutahan cukup lama. Suara gerakan kaki yang menggesek rumput membuatku menoleh, Asuma-taichou yang tadinya berdiri ikut berlutut di depanku. Dia tersenyum sedih menatapku. Tatapan yang seolah mengatakan kalau beliau mempercayaiku. Tatapan yang membuatku lemah, karena aku merasa menjadi seorang pengkhianat—walau itu memang benar.

Tangan suami dari Sarutobi Kurenai itu tiba-tiba menyentuh kepalaku dan mengelus rambutku kasar. Aku sempat kaget dan ingin mengelak namun kata-kata selanjutnya membuatku terdiam, "Karena aku percaya... ayahmu tidak akan mengajarimu sebagai polisi pecundang yang akan lari setelah merebut nyawa orang lain," aku menunduk mendengarnya sementara elusannya pada rambutku semakin kasar.

"Tadi, aku baru saja mendengar dari Kakashi, Haruno Sakura yang merupakan istri darimu dan Uchiha Sasuke saat ini tengah mengandung. Dan anak di kandungannya adalah anak Sasuke. Jadi sepertinya alasanmu menyelamatkan Sasuke... mungkin..." Asuma-taichou tidak melanjutkan ucapannya tapi aku mengerti maksudnya. Aku pun mengangguk. Kami berdua kembali terdiam sampai tiba-tiba Asuma-taichou mencubit pipiku hingga aku merintih.

Beliau tertawa kecil, "Wajahmu tidak berubah sama sekali sejak kepala kepolisian yang dulu membawamu saat masih berumur sepuluh tahun. Pantas saja orang-orang menyebutmu baby face," pipiku memerah mendengar pujiannya. Tapi dengan segera aku memalingkan wajahku ke arah lain, "aku tidak bisa memaafkan caramu dengan membunuh orang lain, aku juga tidak bisa membiarkan Sasuke yang telah melakukan banyak kejahatan bebas begitu saja. Tapi—"

Asuma -taichou menarik napas dalam-dalam, "—sepertinya aku juga tidak tega membiarkan seorang anak yang lahir ke dunia ini tanpa sempat melihat wajah ayah kandungnya sendiri." Ucapan taichou membuat suatu harapan muncul di hatiku. Dan anggukannya pun memastikan semuanya. Perlahan tapi pasti senyum lega keluar di bibirku.

"Tapi ingat, Sasuke tetap mendapat hukuman—walau bukan hukuman mati. Kuharap kau mengerti mengapa." Aku mengangguk mengerti, sebelum aku sempat berkata-kata lagi Asuma-taichou menepuk bahuku, "Sekarang pergilah."

Aku terdiam seribu kata. Tanpa sempat kutahan, air mata menggenang di pelupuk mataku. Beliau masih mempedulikanku walau aku sudah mengkhianati kepercayaan beliau dan para polisi lain. Dengan satu kali gerakan, aku menghapus air mataku dengan lenganku. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa tersenyum seperti dulu. Aku berdiri lalu membungkuk di depan beliau, "Terima kasih, Asuma-taichou!" lalu aku berbalik menatap semua polisi yang menatapku. Beberapa di antara mereka ada yang tersenyum padaku—seperti Guy dan Kakashi—lalu ada juga yang menatapku biasa.

"Terima kasih semuanya! Aku senang... pernah bekerja bersama kalian. Maafkanlah atas keegoisanku selama ini. Terima kasih!" lalu aku membungkuk untuk yang terakhir kalinya di depan mereka. Sebelum akhirnya aku berlari lagi, menuju mobilku untuk kembali ke rumah sakit. Menyelesaikan satu langkah terakhir.

Ayah...

...terima kasih telah menjadikanku sebagai polisi.

#

.

.

.

.

.

.

.

#

Aku tidak pernah mengira meninggalkan orang-orang yang kau sayangi itu sesulit ini. Aku ingin sekali berlama-lama dengan Sakura, melakukan banyak hal padanya sebelum aku pergi, tapi itu semua tidak bisa. Selain karena aku takut jika terlalu lama maka aku benar-benar tidak akan bisa melepasnya, paru-paru Sasuke juga sudah menunggu untuk dikeluarkan dari pemiliknya.

"Aku... pasti akan kembali, jaa ne..."

Bahkan di saat terakhir, aku masih berbohong padanya.

Sekarang aku mengerti kenapa banyak orang yang tidak ingin mengucapkan 'selamat tinggal' sebelum mereka pergi. Kupikir itu hanyalah sebuah kata-kata biasa seperti yang lain—namun ternyata aku salah. Kata-kata itu menyimpan terlalu banyak makna yang tidak bisa kujelaskan dengan baik. Aku tidak mau mengucapkannya—lebih tepatnya tidak bisa. Suaraku seolah tercekat setiap akan mengeluarkan kata-kata tersebut.

Sama seperti sekarang. Aku menemui Sasuke dan melontarkan berbagai hinaan yang biasa kulakukan padanya. Sasuke terus diam, aku tahu itu bukan karena keinginannya tapi karena dia memang sudah tidak mampu berbicara banyak lagi. Saat aku mengejeknya, aku juga mengejek diriku sendiri. Apa susahnya langsung mengatakan semua yang ingin kukatakan padanya? Apa susahnya mengatakan tujuanku melakukan semua ini padanya?

Mulutku sudah tidak bisa berkata jujur seperti dulu lagi.

Apa ini karma?

Semua itu tidak bisa kukatakan dengan lancar. Aku tetap tidak bisa menampik betapa hebatnya rasa benciku pada laki-laki berambut raven ini walau aku juga menyayanginya. Hingga akhirnya yang bisa kukatakan hanyalah bahwa aku akan memberikan paru-paruku padanya—itupun diiringi dengan berbagai hinaan. Saat mendengar perkataanku itu, Sasuke langsung menatapku tidak percaya. Mulutnya terus terbuka—aku yakin, dalam kondisi sehat dia pasti akan berteriak dan membalas semua hinaanku tadi.

Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan. Topeng yang menutupi wajah busukku ini akhirnya pecah juga di saat terakhir—seperti yang ayah katakan padaku. Banyak yang ingin kukatakan pada Sasuke, seperti tolong jaga Sakura dan anak kalian, hiduplah dengan bahagia, jangan pernah mengingatku—akh, terlalu banyak. Tapi jika aku mengatakan itu semua, aku takut yang keluar dari mulutku malah isakan yang sudah tertahan di bibirku selama ini. Dan Sasuke akan melihatku dalam kondisi yang jauh lebih menyedihkan.

Sejak awal, rencanaku ini memang bertujuan untuk menghasilkan kutukan bagi kami berdua. Seperti yang selalu ada di cerita-cerita legenda, saat seseorang mengutuk orang lain, dia akan menggali dua kuburan. Untuk dirinya dan orang yang dikutuknya. Aku akan mati meninggalkan dunia ini dan Sasuke akan kubiarkan hidup menderita sampai akhir hayatnya.

Tidak ada satu pun dari kami yang akan bahagia. Walau mungkin tujuan awalku adalah membuat Sasuke dan Sakura bahagia, di tengah perjalanan sifat egois tetap kembali menguasai tubuhku. Kubiarkan dia hidup dengan terus mengingat dosanya lalu tersiksa karenanya. Aku tidak peduli jika senyum dan tawa hilang dari wajahnya. Dia sudah mendapatkan Sakura dan anak untuk dijaga, bagiku semua itu sudah lebih dari cukup.

"Operasi transplatasi paru-paru sudah siap dilakukan..."

Perkataan dokter Tazuna mengembalikanku pada alam sadarku. Aku menoleh dan mengangguk padanya. Sementara seperti di awal, beliau enggan menatapku. Tadinya aku juga akan langsung pergi tanpa menyempatkan diri untuk menatap wajah Sasuke yang ke terakhir kalinya. Tapi gerakan Sasuke yang berontak di atas tempat tidur, membuat dokter Tazuna panik dan segera mengambil suntik bius. Sasuke terlihat mati-matian mencegah jarum suntikan itu menembus kulitnya.

Mengerti akan maksudnya, dengan cepat aku mencengkram tangan Sasuke. Menahan tubuhnya untuk mempermudah dokter tua tersebut. Mantan adik kelasku itu menatap memohon padaku. Aku hampir saja tertawa—mengingat sainganku yang keras pendiriannya itu kini menatapku seperti itu. Lalu kini laki-laki bermata onyx tersebut mengeluarkan air matanya.

Jika kuingat lagi, hari ini adalah pertama kalinya kami saling melihat air mata masing-masing. Aku tidak pernah menyangka hari seperti ini akan datang, terlebih di saat terakhirku di dunia. Aku memejamkan mata dan menarik napas lalu mengeluarkannya. Dari gerakan berontaknya yang semakin berkurang membuatku tahu bahwa efek obat bius itu mulai bekerja.

Saat Sasuke akan memejamkan matanya, aku mencoba tersenyum seperti biasa—walau tertahan. Saat aku berbalik, "Maaf..." ucapan Sasuke itu sedikit mengagetkanku. Dengan cepat, aku langsung menoleh. Kenapa Sasuke masih bisa berbicara? Bukannya dia—

"...senpai..."

Kata-kata terakhir sebelum laki-laki itu kehilangan kesadarannya berhasil membuatku terpaku. Kedua bola mata coklat hazelnut milikku seolah tidak bisa berpaling dari wajah Sasuke. Dokter Tazuna yang mencoba memanggilku sampai menyentuh bahuku pun tidak kuhiraukan saking terkejutnya. Perlahan tapi pasti senyum tipis terukir di wajahku dan sekali lagi air mata mengalir melewati pipiku mengingat memori lama yang sempat kulupakan.

"Sepertinya jika suatu hari nanti kau memanggilku senpai, aku akan sangat senang haha."

Kedua mata kupejamkan bersamaan dengan tanganku yang bergerak menghapus air mataku dalam sekali gerakan. Walau begitu, senyum bahagia tetap tak lepas dari bibirku.

"Terima kasih, kouhai..."

Dan aku pun pergi meninggalkan ruangan pasien yang menyesakkan itu.

#

.

#

Perjalanan menuju ruang operasi rasanya begitu panjang. Dokter Tazuna yang berjalan di depanku seolah enggan mengajakku berbicara. Yah, walau kemungkinannya besar aku tidak akan membalas kata-katanya jika dia berbicara padaku. Saat sampai di depan ruangan operasi, tiba-tiba beliau berhenti membuatku ikut berhenti di belakangnya dan menatap bingung.

"Masih ada kesempatan untuk kembali, Sasori," ucapannya sedikit mengagetkanku. Namun tak lama kemudian aku kembali seperti biasa dan menunduk, "kau tidak perlu sengaja mengorbankan nyawamu untuk laki-laki yang sudah merebut kebahagiaanmu itu. Lagipula dia pantas mendapatkan hukuman ini atas semua perbuatan yang telah dilakukannya." Lanjutnya lagi.

Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata lagi, "Maksudmu biarkan saja dia mati, begitu?" pertanyaanku tidak dijawabnya dengan cepat sehingga aku kembali berbicara, "Apa itu pantas diucapkan oleh seorang dokter yang seharusnya menyelamatkan nyawa para manusia?" tanyaku lagi diakhiri dengan nada canda.

Lagi-lagi dokter Tazuna tidak membalas ucapanku. Beliau malah mengeluarkan kunci dari saku jas dokternya lalu membuka ruangan di depannya. Aku tidak begitu mempedulikan sikapnya yang memang sedikit aneh dari biasanya. Saat memasuki ruangan operasi. Aku menarik napas sebanyak yang aku bisa lalu mengeluarkannya. Ah, sepertinya aku akan sangat merindukan bagaimana caranya bernapas seperti ini.

Dokter tua tersebut memberi isyarat agar aku segera berganti baju dan naik ke atas tempat tidur. Sementara itu, para suster lain mulai berdatangan untuk membantu sang dokter. Mereka melakukan banyak persiapan untuk operasi ini dan aku hanya bisa diam mengamati mereka lalu sesekali menatap langit-langit kamar operasi ini. Saat para suster itu terlihat begitu sibuk, dokter Tazuna justru malah menatapku dalam diam.

"Pertama kali aku melihatmu, adalah saat kau baru berumur satu bulan dan ayahmu menggendongmu dengan senyum bangga di wajahnya," aku menoleh dan menatap dokter itu. Beliau tersenyum pertama kalinya padaku sejak kemarin dia mendengar keputusan naas ini, "dia bilang dia pasti akan menjadikanmu polisi yang hebat seperti dirinya dan masih banyak lagi. Ayahmu menaruh harapan begitu besar padamu, kau tahu." Lanjutnya lagi.

Aku tersenyum kecil, "Benarkah?" Tazuna-san mengangguk, "Ayah tidak pernah mengatakan apapun semacam harapannya padaku, yang kutahu beliau selalu saja memarahiku," ucapku diakhiri dengan tawa hambar.

"Hei dokter," aku menatap langit-langit kamar sementara pria tua itu menoleh ke arahku, "selama ini... aku selalu menang jika berkelahi dengan sainganku itu," aku menghela napas dan memejamkan mata sesaat, "dan sekarang, aku akan memberikan paru-paruku padanya. Dengan begini, aku akan mati dan dia mendapatkan seorang wanita yang selama ini kami inginkan. Pertanyaanku adalah..."

Dokter Tazuna terdiam mendengar pertanyaanku, "Setelah semua kemenangan yang kudapatkan, apakah sekarang ini adalah kekalahanku?" lampu khusus operasi pun dinyalakan membuat mataku silau dan dipaksa terpejam. Para suster sudah mulai memakai sarung tangan plastik mereka dan mengangguk sebagai isyarat operasi akan dimulai.

Aku membalas anggukan mereka lalu kembali memejamkan mata. Suara Tazuna-san memasuki indra pendengaranku, "Tidak ada manusia yang akan selalu menang di dunia ini Sasori," jarum suntik yang menembus kulitku pun mulai menyebarkan efeknya, "jika memang benar kau selalu menang, mungkin Kami-sama membuatmu kalah di saat terakhir ini agar kau bisa merasakan bagaimana sakitnya saat dikalahkan orang lain." Ucapannya itu entah kenapa membuatku tersenyum.

Mataku masih terpejam saat aku kembali menyahut, "Begitu ya... jadi ini rasanya," tangan besar sang dokter menyentuh dahiku dan mengelusnya, "untunglah aku kalah di saat terakhir, jadi rasa sakitnya tidak begitu terasa..." bisikku. Suaraku semakin pelan seiring kesadaranku yang perlahan menghilang.

"SASORI! SASORI!"

Teriakan seorang wanita dari luar kamar operasi membuka sedikit mataku. Aku sangat mengenal suara ini... ah Sakura. Iya benar, itu suaranya. Dia meraung-raung, berteriak agar aku jangan pergi. Maaf Sakura, semua sudah terlambat. Aku tidak tahu kau tahu dari mana semua ini, tapi aku tidak akan berhenti. Senyum terakhir yang kukeluarkan ini terasa begitu perih.

Aku mencegah dokter Tazuna yang ingin keluar dan menenangkan wanita itu, "Tak apa-apa. Biarkan saja dan tolong lanjutkan," aku tidak mau mengambil resiko Sakura mengamuk lalu menarikku keluar dari sini secara paksa. Bisa-bisa dia akan menamparku terus-terusan bahkan dua kali jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Sekarang efek obat bius yang semakin kuat itu membuatku tak mampu lagi membuka mata. Tidak—setelah ini pun, aku tidak akan bisa membuka mata lagi untuk selamanya. Kugenggam tangan Tazuna-san, "Dokter, tolong... ini permintaanku yang terakhir padamu." Genggaman ini pun semakin lama semakin melemah.

"Sampaikan pada Sakura... bahwa aku benar-benar mencintainya." Setetes air jatuh di pipiku. Apa ini... air mata? Kalau begitu, apakah kau menangis, Tazuna-san? Tapi sekarang aku sudah tidak bisa bertanya lagi padanya.

"Lalu sampaikan juga pada Sasuke..."

Cahaya lampu yang semakin didekatkan pada wajahku adalah hal terakhir yang bisa kurasakan dalam kehidupan ini. Namun, yang terakhir kulihat di dalam kegelapan menuju dunia sana ini—

—adalah senyum kita bertiga yang dulu.

"...bahwa aku benar-benar membencinya."

.

.

.

.

.

Tidak peduli berapa kali pun aku akan menghindar.

Tidak peduli betapa sakitnya.

Pada akhirnya, aku akan tetap mengucapkan...

.

.

"Selamat tinggal."

.

.

.

.

.

End

.

.

.

.

.

.

.

.

#ngelapingus Halo minna-san, saya lagi pilek lho~ #teruskenapa

Oke abaikan, terima kasih bagi yang mau membaca side story Choose Me! Maaf ya yang review kemarin gak bisa saya sebutin satu-satu. Saya lagi sibuk banget sumpah ;A; kali ini beneran kok, banyak lomba-lomba dan kegiatan yang mau gak mau harus saya ikuti. Maaaaaaaf orz Tapi terima kasih bagi yang mau baca sampai sini, saya terharu :'D

Setelah chapter ini, dua chapter ke depan akan keluar Sasuke Centricdan Sakura Centric. Dan jika memungkinkan, akan dikeluarkan juga Reincarnation of Sasoriyang menceritakan tentang kehidupan Sasori kecil yang merupakan reinkarnasi Sasori yang sekarang sudah mati. Tapi cuma oneshot, itu pun kalau memang para reader mau baca. Kalau nggak ya cukup berhenti sampai di Sakura centric saja ya =w=

Maaf kalau aneh, maaaf D: terus akan diusahakan setelah ini saya update fic Review and Art dan Blind. Mana dulu yang mau diupdate? Silahkan teriakkan di kotak review yaaa xD #ditendang

Lalu sebentar lagi akan ada event SUSPENSE DAY pada tanggal 13 Juni 2012. Ayoooo bagi yang mau ikutan silahkan baca kelanjutannya di profil FFnku yaaa :D

Well, review please? :3