A/N: Drabble dulu deh, drabble ThanatosxThea. #kabuuurrrrr

Warning: NOT FOR PEOPLE WHO HATE OC'S! You read my warning! If you still wanna flame or bashing my fic, just do it in my PM, use your account!

Disclaimed: enough! Saint Seiya The Lost Canvas not belongs to me, the only one belongs to me is my story and my OC, Thea.

Gombal Competition Drabble

Yours Now

Setelah mabuk karena wine yang dia minum di pesta, Thea berjalan dipapah Thanatos menuju kamarnya. Entah ada angin apa yang membuat Dewa Kematian tersebut mau melakukannya, sementara Thea terus mengoceh berbagai hal dari acara belanja mereka sampai mengenai kelakuan Camus.

"Dia benar-benar balok es kurang ajar, aku tidak mengerti kenapa Serena dan Siria tahan dengan kelakuannya. Dia mengingatkanku dengan cuaca Asgard dengan salju dan angin dingin."

Tatapan Thanatos terus terarah ke depan, setelah membuka kunci pintu kamar Thea (yang sudah terpisah sendiri dari Ringo, Nitsu, dan Natsu.), sebuah kamar yang terdiri dari kamar tidur, kamar mandi dan lemari ganti yang sederhana namun tetap terlihat mewah menyapa pandangan Thanatos.

"Kepiting, kau sudah sampai di kamarmu."

Thea menatap seisi kamarnya dengan pandangan kabur, walau begitu suaranya masih jernih, tidak terlihat kalau dia sedang mabuk berat. "Hei Thanatos... ayo kita minum lagi, kalau tidak salah di kulkas ada beberapa botol wine." Senyuman di wajah merahnya membuat Thanatos menelan ludah, astaga perempuan ini baru menghabiskan lima botol wine dan sekarang dia masih mau minum lagi? Kalau dia mabuk bisa-bisa perempuan itu habis di tangannya.

"Kau harus tidur, kepiting."

Thea menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan bisa tidur kalau sudah begini. Lebih baik kau temani aku minum. Lagipula kau tadi tidak minum wine sedikitpun, apa kau takut mabuk, eh shinigami? Rupanya Tuan Besar Thanatos takut mabuk."

.

.

.

"Aku benar-benar bodoh, mencintainya padahal sudah tahu kalau dia punya wanita lain. Dulu baka-aniki pernah menasihatiku, tapi aku tidak mau dengar dan terus mencintai Camus, dan hasilnya sudah dapat ditebak."

Sambil tertawa getir Thea terus meminum wine-nya, kali ini gelas menjadi penghalang baginya, dia langsung minum dari botol itu. Thanatos merasa gerah dengan omongan gadis itu, sampai akhirnya dia menjatuhkan tubuh Thea ke atas kasur sambil menahan dua tangannya tanpa memperdulikan wine yang tumpah di lantai, sementara gadis itu menjerit kaget.

"Lepaskan aku, baka shinigami!"

Thanatos merendam semua pemberontakan Thea, iris matanya berkilat berbahaya. Cengkraman tangannya mengerat sampai membuat Thea meringis kesakitan, "Thana... sakit..." sang dewa kematian tersenyum puas melihat ekspresi wajah serta mendengar nada suara Thea, "Suaramu sangat manis, kepiting. Mengingatkanku akan coklat yang sering kali disebut makanan para dewa."

Perlahan dia mendekatkan bibirnya ke telinga Thea, membisikkan kata-kata manis nan beracun kepadanya."Kau terus saja terluka karena pemegang cloth simpanan Zeus itu, apa kau tidak sadar kalau dia sangat kejam kepadamu? Kau mengorbankan banyak hal untuknya, tapi apa yang dia berikan kepadamu? Cintamu hanyalah sinar menyilaukan yang tidak pantas dia dapatkan."

Menutup matanya, pemegang cloth Ara itu mengerang pelan, entah membenarkan atau menyalahkan ucapan kembaran Hypnos, "Kau tahu hal itu sejak lama, kepiting. Tapi kau membodohi dirimu dengan harapan-harapan palsu, kau menelan setiap kenyataan pahit itu dan memendamnya di dasar hatimu, menyembunyikan luka hati yang terus berdarah."

Air mata perlahan menggenangi pelupuk mata Thea, dia menggigit bibirnya sambil memalingkan wajahnya dari Thanatos, dalam hati gadis berkulit tan itu ingin membenarkan ucapan pelayan setia Hades tersebut, dia tahu kalau selama ini dia menipu dirinya, heh sepertinya dia berbakat masochist.

Jemari tangan sang dewa kematian mengelus pipi Thea dengan lembut, pandangan matanya perlahan melembut, "Thea... namamu berarti dewi, seseorang dengan nama seagung itu tidak pantas menderita karena permainan Aphrodite."

Menghapus air mata Thea, Thanatos menatapnya dengan intens, semakin lama jarak tubuh mereka menghilang. Demikian lupa jarak diantara wajah mereka. "Jadilah milikku, Thea. Kau lebih cocok menjadi milikku daripada menjadi miliknya."

Iris orange sunset gadis itu terfokus kepada Thanatos, perlahan sinar mata itu meredup, dia memahami maksud dari dewa itu. "Apa yang bisa kau berikan padaku Thanatos?" suaranya lirih, lemah sebagaimana diri dan hatinya saat ini.

"Kesetiaan."

Kecupan lembut didaratkan di belakang telinga Thea, seiring dengan bisikannya yang membuat tubuh gadis berambut madu itu merinding, "Akan kuberikan kesetiaanku sampai aku mencabut nyawamu."

Memejamkan matanya, dia mulai terbuai oleh ucapan sang dewa kematian, ucapan yang ingin dia dengar dari sang Aquarius malah terucap oleh tangan kanan musuh dewinya, entah itu permainan takdir atau apa. Perlahan dia membuka matanya, menatap lurus ke iris keemasan Thanatos dengan sayu, "Aku milikmu Thanatos..."

Seringaian indah menghiasi wajah Thanatos, perlahan dia mengangkat dagu Thea. Mendaratkan kecupan sesaat di bibir lawan bicaranya, Thanatos kembali berbisik. "Demikian pula aku pada kehidupanmu saat ini, Thea."

Sebuah ciuman lembut nan manis menyatukan kedua bibir itu, manusia dan dewa kembali menjalani sebuah percintaan. Apakah takdir akan mempersatukan mereka selamanya? Ataukan hanya akan mempersinggahkan hati mereka sesaat sebelum mempertemukan mereka dengan pelabuhan hati yang sesungguhnya?

Sementara itu di luar langit malam terlihat cerah walau tidak terlihat adanya bintang ataupun rembulan, burung-burung hantu ber-uhu dengan gembira, seolah turut merayakan adanya pasangan kegelapan yang baru.