Summary: Pesta, kedatangan teman-teman dari sana-sini, adanya pasangan baru meski itu semua udah pada molor. Duh, kasian sama para Sagittarius yang harus ngemas semua kekacauan bekas pesta, semoga yang pada mabuk itu kena hukuman setimpal. *tepuk-tepuk tangan, bakar dupa Shaka*
Disclaimed:
Saint Seiya belong to Masami Kurumada
Saint Seiya The Lost Canvas belong to Shiori Teshirogi
A/N: Eh... gak tau mau komen apa, makasih buat yang review dan semoga aja chapter yang ini menghibur... maaf lama gak ngepos... cerita lengkapnya kenapa gak ngepos selama ini... di chapter sebelah aja #kaburrrrrr
Gombal Competition
Chapter 7
Pagi yang cerah menyambut seisi penginapan asri nan sejuk itu dengan nyanyian riang para burung, beberapa saint yang hangover segera menarik selimut mereka sampai ke atas kepala masing-masing, enggan meninggalkan tempat tidur mereka yang Thea yang secara tidak langsung menghabiskan 7 botol wine. (Minus 1/3 botol karena Thanatos juga ikut minum dan insiden setelahnya.)
Saint yang tidak ikut kontes dan tidak meminum wine bangun seperti biasa, mereka berolahraga di daerah dekat kolam berenang atau bersantai di kamar, sementara diluar penginapan terlihat beberapa orang berjalan secepat mungkin, Nitsuki yang melihat beberapa orang tersebut segera berlari menyongsong mereka, sementara rambut dark mint-nya berkibar tertiup angin mengikutinya, untung gak ada yang kecekik sama itu rambut.
Iris deep purple-nya berkilat senang saat melihat mereka, terlebih dengan dua saint wanita yang mengawal beberapa pria di belakang mereka. Dia langsung menubruk sambil memeluk erat mereka berdua.
"Marin! Shaina!"
Kedua wanita itu menahan keseimbangan tubuh mereka agar tidak terjatuh setelah ditabrak Sadako berambut hijau itu, mereka hanya bisa menghela napas sambil tersenyum di balik topeng mereka. Marin mengelus rambut Nitsuki sementara Shaina mencubit pipi gadis berambut panjang tersebut.
(TsukiRin: Gah, padahal gak chubby kayak authornya *kibas rambut* #dijambakNitsu)
"Tetap manja eh? Kalau begini terus mana bisa kami tenang melepasmu bolak-balik dua era terus."
Nitsuki tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya kepada kedua Silver Saint itu, "Tehe~ habis aku kangen sih~" mendengar hal itu membuat mereka pasrah, karena gadis berkimono mini itu pasti selalu menemukan alasan dan cara untuk memelukan mereka.
(TsukiRin: Dasar manja... nyadar buuuu udah emak-emaaaak! #diinjeksikembar)
Tawa di belakang mereka bertiga membuat Nitsuki melepaskan pelukannya, dia melihat beberapa orang yang dia kenal. Sedikit cemberut (plus gembungan di pipinya), dia mendelik sang pemilik tawa tadi. "Mou~ Hakurei-sama, jangan tertawa."
Saint tua tersebut tertawa semakin keras sambil mengacak rambut Nitsuki (Walau tidak membuat rambut itu berantakan sedikitpun), "Kau itu, kenapa manja begitu hah? Mana Cassiopeia yang biasanya ganas gak tanggung-tanggung kalau udah ketemu Specter?" Nitsuki langsung memanyunkan bibirnya meskipun itu hanya membuat pemilik bengkel cloth di Jamir itu tertawa semakin kencang, sementara adik kembarnya sang Grand Pope hanya tersenyum sambil mengamati sekeliling setelah melepaskan helm kebesarannya. Suasana asri yang sejuk membuat perasaannya tentram.
"Baiklah, jadi... sekarang apa tujuanmu memanggil kami hm? Apa ada yang bisa kami lakukan? Kurasa kami sudah terlalu tua untuk menggoda para gadis muda."
Hakurei menatap Nitsuki dengan jenaka, sementara gadis itu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, "Justru kami mau Hakurei-sama dan Pope-sama melatih kami semua. Soalnya beberapa saint tiba-tiba jadi pemalas begitu sampai di sini."
Hakurei menggeleng-gelengkan kepalanya, dia mengangkat bahu sambil memandang sekeliling. Baginya sih santai sedikit bukan masalah, toh kan lagi libur. Sementara Sage memandang ke arah jam yang menunjukkan pukul 6 lewat. Dan masih belum ada Saint yang beraktivitas? Keterlaluan! Mau dikemanakan mukanya jika ditanya teman-temannya seangkatannya yang lain? Mana Sisyphus yang biasanya bangun pagi dan langsung keliling? Regulus yang harusnya membuat suasana pagi ramai? Aspros yang harusnya ngeteh di depan kamarnya sambil membaca koran?
(TsukiRin: Kek, ini hotel luas pake banget, biar kamar pada deketan tapi kalau udah mau latihan ya pada bubar kemana-mana.)
Sage mengangkat lengan bajunya dan melangkah menuju kamar berlambang Aries, dia berniat untuk membangunkan Shion dengan getokan di kepalanya sementara Hakurei cekikikan menunggu dan membayangkan reaksi kesakitan muridnya, karena dia sudah puas merasakan getokan Sage yang oh sangat sakit. Sesaat kemudian pintu terbuka dan Shion terlihat sedang berbicara dengan Mu sementara koran di tangan kanannya tergulung rapi bersama lengan pakaian Shion yang juga tergulung rapi.
"Pastikan kamu membangunkan Shaka dan Asmita, jangan lupa seret mereka ke meja makan, mereka semendi tapi biasanya ketiduran kalau sudah terlalu lama. Juga Degel dan Camus, kemungkinan besar mereka tidak akan bergerak dari perpustakaan bersama Nitsuki dan kutu buku lainnya karena kemarin saya lihat buku-buku yang dibeli Nitsuki dan Rin sampai berkardus-kardus. Saya akan membangunkan yang bandel-bandel termasuk Kardia dan Manigoldo."
Terus berbicara tanpa memperhatikan jalan di depannya, tanpa sengaja Shion menubruk Sage, saat dia mundur Pope abad 20 itu terkejut, walhasil Mu yang sedang berjalan menubruk pundaknya dan mundur beberapa langkah, Shion sendiri terkejut melihat Sage yang berada di depannya, dia cepat-cepat membungkuk.
(TsukiRin: Pope manggil Pope, gak mudeng aku =,=)/ )
Sage menatap Shion sambil mengerjapkan matanya sesaat, kemudian dia mengangguk pelan ke arah Mu yang bingung sambil membuka suara, matanya berkilat berbahaya lengkap dengan hawa gelap ala para Cancer. "Lama tidak berjumpa Shion. Dimana murid saya yang bandel gak ketulungan?"
Shion ingin sekali mendadak ditelan bumi, atau mungkin mengkerutkan badannya seperti Dohko, malu menjawab pertanyaan Sage karena Manigoldo masih tepar di kamarnya lengkap barengan Deathmask. "Etto... ano... Manigoldo... belum... bangun..." suaranya makin lama makin kecil, sementara Hakurei tertawa keras mendengar ucapan Shion, "Manigoldo belum bangun jam segini masih wajar. Santai saja dik."
Sage menghela napas dan mengambil koran yang dipegang Shion, dia langsung masuk ke kamar Manigoldo dan Deathmask yang ditunjuk Shion, lagian di depan kamarnya ada gambar kepiting pasti gampang cari kamar mereka. Memasuki kamar itu, sang pemimpin Sanctuary dari abad 16-18 itu menggebuk kepala duo kepiting pemalas. "BANGUN KALIAN DASAR PEMALAS!"
"Gyaaaa! Shisou!"
"Uwaaaa! Hantu Popeeee abad 18!"
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
"Doooh, shishou! Sakit tau'!"
Manigoldo memulai pagi dengan protesan yang dicuekkan sepenuh hati oleh Sage, sementara Rhea dan yang lainnya hanya menghela napas mendengar 'nyanyian pagi' Manigoldo. Yoru mengangkat bahunya sambil memainkan tab-nya, sudah biasa dengan pemandangan di depannya setelah melihatnya beberapa kali, "Dasar kepiting bodoh. Makanya bangun pagi-pagi dan jangan mabuk-mabukan kemarin."
"Keponakan kagak sopan! Apaan sih yang diajarin Aspros ke kau? Tahu sopan santun ke rekan ayahmu gak?"
Mata Yoru berkilat sadis, dia menatap Manigoldo dengan dingin. Tangannya berhenti di tengah-tengah udara, kemudian dia mematikan tab-nya dan meletakkannya di tangan Rhea. "Aku memang tidak pernah diajari apapun oleh setengah saint setengah specter abal-abal itu." Pemuda berambut biru itu langsung berdiri dan pergi dari ruangan itu, meninggalkan Manigoldo yang cengok melihatnya.
"Kenapa dia mirip Defteros kalau marah?"
"Dasar inkarnasi bego."
Dan berikutnya duel tabok menabok antar para kepiting pun dimulai~
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
Yoru berjalan keluar sambil menahan emosinya, dalam hati berharap udara segar dapat menjernihkan pikirannya yang mendadak berkabut saat ini. Tanpa sengaja dia melihat Camus sedang menikmati quality time bersama Serena dan Siria di taman.
Uhg! Itu perih Poseidon-sama!
Terlahir sebagai anak yatim piatu yang kena nasib buruk punya pengasuh alakazam ajaibnya kayak Minos dan Aiacos serta mentor yang labil emosinya kayak Kagaho seolah belum cukup membuat masa kecilnya menjadi aneh bin ajaib, lalu datang dua orang saint yang katanya rekan ayahnya lalu dia dan kakaknya dicap anak haram seenak dengkul mereka dan mengharuskannya yang masih bocah berumur lima tahun terpaksa berpisah dengan kakaknya.
Itu semua membuat murid Kanon tumbuh menjadi sosok yang dingin dan bermulut tajam penuh sindiran, tadi ucapan Manigoldo membuat luka hatinya yang terlanjur bernanah selama sepuluh tahun kembali berdarah, ditambah lagi melihat Camus dan keluarganya. Uh... hidup itu 'adil' sekali. Sampai-sampai pemuda jenius berusia 15 tahun itu ingin mengambil trisula Poseidon dan menenggelamkan seluruh benua di dunia ke lautan.
"Yoru-kun~"
Yoru berhenti dan memandang asal suara yang memanggilnya dengan lembut dan manis, ah... satu-satunya malaikat cantik yang mampu mencuri hatinya selain ibu dan kakaknya. Dia menunggu gadis itu lengkap dengan senyuman yang sangat langka dilihat orang dan suara manis khusus untuk pacarnya, "Ada apa Chi?"
Gadis itu tersenyum sambil melangkahkan kakinya mendekati pemuda itu, setelah berada di samping pemuda itu dia bertanya dengan nada super polos, sepolos tatapan khawatirnya yang membuat Yoru bingung. "Kata Manigoldo-sama tadi Yoru IMS, sakit ya? Memangnya cowok bisa datang tamu bulanan juga?"
75%
100%
"I-"
Yoru menghela napas sambil menepuk jidatnya sendiri, "Chi... aku bukan IMS..." gadis manis itu mengerutkan dahinya, bingung. "Lalu apa?" Yoru tersenyum pasrah sambil mengelus kepala Chiaki, "Aku hanya sedang bad mood saja, malaikat cantik."
Chi memiringkan kepalanya, "Ada apa?" Pemuda itu hanya bisa mencium kening Chi sambil memeluk pingganggnya dengan sebelah tangan, "Kenapa ya? Melihatmu membuatku lupa alasannya."
Chiaki mengelus kepala Yoru sambil tersenyum, sebenarnya dia tahu. Tapi untuk saat ini, dia akan berpura-pura tidak tahu dan memberikan ketenangan yang dibutuhkan oleh kekasihnya. Karena gadis manis itu tahu, kalau pemuda yang mengejarnya dari kecil merupakan pemuda paling lembut dan baik hatinya di seluruh lautan meskipun dia tidak pernah menunjukkannya.
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
Semua orang di ruang makan terkejut melihat Thanatos datang sambil menggandeng tangan Thea, Milo, Kanon dan Aiolia bertukar pandangan mata. Kanon mengucek matanya berulang kali, Saga dan Aiolos kompak mengerutkan dahi mereka, Mu hanya memiringkan kepalanya, Aldebaran berhenti berbicara dengan Hasgard,DM sudah nyaris meledak melihat tangan Thanatos seenaknya menggandeng tangan Thea tapi buru-buru ditahan Manigoldo.
"Kalian kenapa?"
Thea duduk di sisi kiri Nitsu sambil menatap balik mereka, Aiolos menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lembut dan memotong lauknya, mencoba mencairkan suasana. "Kamu akrab ya dengan Thanatos."
Marin dan Shaina mengerutkan dahi mereka mendengar perkataan Aiolos, entah kenapa telinga mereka gatal saat mendengar ucapan pemuda itu. Walau ingin protes, namun mereka hanya diam. Mereka sedang menanti jawaban Thea yang mereka yakini akan menusuk hati Thanatos.
Gadis berkulit tan itu mengangkat bahunya sambil menyuapkan roti bakar ke mulutnya, dia melirik Thanatos yang memakan bubur ayamnya dengan tenang. Yakin dewa kematian itu tidak akan memberikan rekasi, dia mengambil roti bakar isi coklat dan membalas ucapan Aiolos. "Kami pacaran."
Seluruh pergerakan di ruangan itu terhenti, kecuali Thanatos dan Thea yang asyik dengan sarapan mereka. Nitsuki memandang Thea sesaat, kemudian dia melanjutkan sarapannya. Beberapa saint menghentikan aktifitas mereka dan mengamati Thea dan Thanatos bergantian. Demikian pula kedua silver saint itu.
Kana yang dari tadi sudah panas langsung berdiri sambil memandang Thea dengan raut wajah gusar dan kecewa. "Nee-chan pembohong! Kata nee-chan, nee-chan tidak akan dekat-dekat dengan dewa itu!"
Gadis kecil itu berjalan meninggalkan ruangan dan Thea yang terpaku diam di tempatnya, sementara gadis berkulit tan itu menatap kepergian adiknya dengan agak kecewa. Dia tahu kalau Kana sangat membenci ayah kandungnya, tapi dia tidak menyangka reaksi adiknya akan sampai seperti ini. Tatapannya beralih kepada orang-orang di belakangnya karena hawa di belakang punggungnya sama sekali tidak enak.
Deathmask memandang Thea seolah dia sudah gila, pria Italia itu jelas marah seperti Kana. Shaina dan Marin menghela napas, kecewa? Mereka jelas kecewa dengan gadis Italia-Yunani tersebut. Hey! Memangnya kau mau teman atau adikmu berpacaran dengan salah satu musuhmu? Apalagi jika musuh itu merupakan makhluk paling songong yang pernah ada dan membuat tanganmu gatal ingin menaboknya sekuat tenaga.
Belum ditambah dengan Milo dan Aiolia yang nyaris ingin meninju gadis itu, nyaris semua saint kecewa dengan gadis itu. Terlebih lagi pemilik cloth Scorpio tersebut, diam-diam dia berharap Thea mampu membuat Camus move on dari penyakit lamanya. Sementara Aiolia di satu sisi merasa gagal mengajari dan memberi contoh kepada gadis yang menjadi teman sparring-nya, di sisi lainnya dia ingin meninjunya dan membuat gadis itu menyadari kesalahan pilihannya.
Thea memandang mereka bertiga, dalam hati dia sangat terpukul dengan reaksi mereka. Sudah cukup Kana yang menganggapnya pembohong dan sekarang beberapa orang yang cukup dekat dengannya ikut menyudutkannya dalam diam.
"Thea, ikut aku sekarang."
Ucapan Deathmask terdengar mirip dengan vonis ceramah panjang membosankan Shaka, namun gadis itu masih saja mengekorinya, meninggalkan roti bakar coklatnya tersisa setengah di piring. Meninggalkan ruangan yang dipenuhi suasana mencekam.
Skip time!
Keluar dari ruangan santai yang menjadi ruangan hukuman selama beberapa saat, Thea duduk di salah satu kursi ruang tamu sambil memijat kepalanya. Dia pusing, omelan Deathmask membuat hatinya dongkol dan juga lelah.
Awalnya dia hendak bercerita dengan Shaina dan Marin yang sedang bersantai, namun melihat sikap Shaina dia langsung menyadari ada masalah. Dan itu pasti masalah hubungannya dengan Thanatos, Sweet Athena! Apa mereka tidak bisa diam sebentar?
Suara Shaina semakin pekat dengan sindiran-sindiran pedas khasnya, sementara wajah bertopengnya terfokus kepada Marin. Semakin lama sindiran-sindiran Shaina membuat telinga Saint Ara itu semakin pedas, akhirnya dia berdiri sambil menendang barang apapun yang berada di dekatnya.
"Bagus, pojokkan saja aku. Sudutkan saja tanpa kalian lihat penyebabnya!"
Shaina menghela napas sambil menatapnya, "Penyebab? Kurasa kami tidak perlu mendengarnya. Thea. Kau tahu peratur—"
"AKU TAHU PERATURAN KITA TAPI APA KAU SUDAH MENDENGAR ALASANKU MENERIMA DEWA KEMATIAN ITU?"
Thea sudah tidak tahan lagi, dia menatap Shaina dengan marah, sementara saint berambut hijau itu tidak menanggapinya dengan serius. Saint tidak boleh menjalin kasih dengan pihak musuh, aturan tidak tertulis dan tidak terucap itu selalu tertanam jauh di dalam pikiran mereka. Namun dia tidak menyangka kalau Thea justru akan melanggar aturan itu.
"Kalau kau beralasan lelah menunggu Camus, itu berarti kesetiaanmu perlu dipertanyakan."
Thea terhenyak kembali di kursinya seolah ada beban berat ditimpakan ke pundaknya secara mendadak, siku tangan kanannya diletakkan di atas sandaran kursi sementara dia memijat dahinya. Setia? Dia lebih dari itu, jika dia melihat teman-temannya di Rodorio yang sama-sama mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, dia lebih dari sekedar kata setia.
Marin menghela napas, situasi yang tidak konduktif itu akan terus berlanjut jika tidak ada yang berpikir dengan kepala dingin. Apa yang bisa diharapkan dari dua orang berkepala panas dan bertemperamen bak gunung berapi aktif jika mereka bertengkar? Dia duduk di dekat Thea dan memegang tangannya.
"Kau lelah Thea? Lelah menanti dia menyadari perasaanmu sehingga kau berpaling dari Camus?"
Thea mengelengkan kepalanya. Dia tidak lelah, dia sama sekali tidak lelah. Jika dihitung-hitung semenjak dia pertama kali jatuh cinta kepada Camus, satu-satunya yang menandingi kemampuannya menanti Camus hanyalah Nitsuki, dan itu membuatnya iri setengah mati kepada gadis keturunan Jepang-Cina itu saat mendengar penantiannya selama 10 tahun terbayar, terlebih saat melihat Rhea dan Yoru yang datang dari masa depan. Namun rasa iri itu membuatnya semakin bersemangat untuk mendapatkan Camus.
"Atau kau tidak tahu kalau Camus mencintai orang lain? Tidak tahu kalau dia selalu memikirkannya?"
Apa dia tahu kalau Camus mencintai Serena? Apa dia tahu kalau Camus selalu memikirkan gadis beriris bak kristal itu? Ya! Dia tahu Camus mencintai Serena, dia tahu Camus selalu memikirkan Serena, dia tahu kesetiaan pria itu ada untuk gadis itu. tapi dia nekad! Berharap pada ketidakpastian akan cintanya terbalas, berharap agar Camus berpaling kepadanya. Dengan pemikiran dan harapan penuh omong kosong itu dia membuang tahun demi tahun menanti pria asal Prancis itu, sambil belajar bagaimana menjadi seorang wanita. Dia terus menantinya.
"Aku tahu..."
Marin menghela napas lega, dia tahu gadis itu tidak mungkin lelah ataupun tidak tahu kondisi Camus, sekarang dia yakin kalau ada faktor lain yang membuat Thea melepas perasaannya kepada Camus. Shaina mengamati situasi, dia memang tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi dia sama seperti Marin, awalnya dia memang kesal, tapi setelah melihat kondisi Thea yang bisa disamakan dengan orang depresi, sekarang dia paham pasti ada sesuatu yang lain.
"Kalau begitu kenapa kau menerima Thanatos?"
Suara Marin memecahkan keheningan, beberapa Gold Saint menatap mereka. Menanti jawaban gadis itu dengan tegang. Setelah mengalami pergolakan batin, Thea membuka mulutnya beberapa saat kemudian.
"Aku sadar diri bahwa aku tidak punya kesempatan..."
Marin terdiam membeku, demikian pula Gold Saint lain yang mendengarkan mereka, sementara Shaina terlonjak dari kursinya. Sementara Thea masih menundukkan kepalanya, air matanya menggenang di pelupuk matanya, dia juga menggigit bibirnya, berusaha mengatur agar suaranya tetap tenang.
"Aku selalu menunggu, aku berusaha untuk setia seperti Nitsuki. Aku juga sudah berusaha untuk mengetuk pintu hatinya, aku berusaha agar bisa masuk ke dalam hatinya. Tapi aku sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan apa yang kuinginkan meskipun aku selalu berusaha... semakin lama sifatnya semakin dingin, batas jarak antara kami semakin nyata setiap saat."
Nitsu yang mendengar namanya diucapkan mendadak merasa bersalah, dia selalu ingat rencananya mendatangkan Serena untuk memastikan sikap Camus. Tapi sekarang dia merasa yang dia lakukan membuat Thea kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Camus. Rin menghela napas, ucapan sang Ara sudah dapat dia duga.
Milo yang mendengar ucapan Thea mendadak lemas, alasan Thea sudah lebih dari cukup memadamkan niatnya untuk memberi gadis itu pelajaran, malah sekarang dia ingin menyadarkan Camus yang sedang menikmati family time dengan Serena dan Siria di taman yang jauh dari ruangan mereka.
"Aku mau istirahat..."
Meninggalkan mereka semua, Thea kembali ke kamarnya dan berbaring di kasur, menenangkan pikirannya sesaat dengan tidur mungkin merupakan pilihan yang baik, gadis itu memejamkan matanya walau jam masih menunjukkan pukul 7 pagi.
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
Terbangun setengah jam kemudian, Thea bangkit dari tempat tidurnya dan mencuci mukanya, setelah itu dia berjalan ke arah meja rias. Memandang ke arah cermin meja seolah menetapkan sesuatu, dia mengambil gunting rambut yang tajam. Tepat pada saat itu seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Pintunya tidak dikunci."
Tanpa mengalihkan perhatiannya dari cermin, gadis itu menanti pintunya dibuka. Tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan Serena masuk ke kamarnya. "Ano, Nitsuki-san bil—"
Ucapan gadis berambut panjang itu terhenti saat melihat Thea memandang guntingnya dengan penuh minat. Mendadak dia merasa merinding dan langsung menutup pintu kamar Thea, "Ma- maaf sudah mengganggu!"
Thea mengalihkan pandangannya ke arah pintu sambil mengerutkan dahinya, dia hanya mengangkat bahunya dan memotong rambutnya sampai bahu. Mengamati cermin sambil tersenyum puas, dia memasukkan sisa-sisa rambutnya ke dalam tempat sampah.
"Lebih bagus daripada yang kukira."
Serena yang mengintip sedikit mendadak memerah wajahnya, perlahan dia kembali masuk dan mendekati Thea yang sedang memilih baju. "Ano..."
"Ya? Nitsuki tadi bilang apa?"
Wajahnya sedikit menunduk, meremas tangannya Serena memiringkan kepalanya, tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan, "Ano... Nitsuki-san bilang kalau Thea-san harus sarapan..."
Tersenyum mendengar ucapan Serena, Thea menghela napas sambil menyimpan guntingnya. "Terima kasih, tapi kurasa aku tidak mau makan saat ini." Tidak lama kemudian dia menatap ibu kandung Siria tersebut, menyadari pandangannya ke arah rambut barunya dia mengangkat alisnya. "Apa kau mau kupotongkan rambutmu?"
Serena menatap Thea dengan terkejut, bingung bagaimana Thea bisa tahu apa yang dia mau, "Eeeh? Boleh?" Thea mengangguk sambil menarik kursi di depan meja rias dan mengambil kain panjang, "Kau hanya tinggal bilang ingin potongan seperti apa."
"... aku mau model yang seperti ini!"
Serena menunjukkan Thea sebuah foto dengan model rambut yang sangat dia inginkan selama ini, Thea memandang foto itu selama beberapa saat dan mengangguk, "Ayo duduk, akan kupotongkan rambutmu."
Skip time!
Thea memandang rambut Serena sambil tersenyum puas, sementara gadis bermata kristal itu memandang hasil kerja Thea dengan mata berbinar-binar. "Arigatou Thea-san, aku suka potongannya." Gadis berkulit tan itu hanya tersenyum, tidak lama kemudian dia mengganti pakaiannya dengan tank-top putih seperut dan celana jins biru gelap sepaha.
"Not bad."
Serena tersenyum sambil memperhatikan Thea, entah karena sifat berani Thea dalam hal fashion atau menahan sweatdrop-nya saat melihat tingkah Thea yang bisa disamakan dengan wanita-wanita dari benua barat lainnya.
"Ayo Serena~ aku merubah pikiranku, aku sangat lapar~"
Gadis beriris kristal itu tersenyum mendengar ucapan Thea. "Kalau begitu ayo kita makan~" mereka berdua keluar sambil tertawa dan memasuki ruang makan, setelah memastikan rambut Serena tertata rapi. Thea menepuk pundaknya dan membiarkan dia mendekati Camus, sementara dia mendekati Thanatos yang menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Kau cantik dengan potongan rambut barumu, Serena."
Thea memejamkan mata saat mendengar pujian Camus, entah kenapa hatinya masih berdenyut sakit saat mendengarnya, perlahan dia membuka matanya dan menatap Thanatos yang menunggunya.
'Jadi ini akhirnya...'
"Kau lamban, kepiting."
"Sesukaku, tuan besar manja. Aku tidak merugikanmu ataupun menghabiskan waktumu dengan hal tidak berguna."
Thanatos menyeringai saat mendengar jawaban Thea, itu yang dia harapkan. Nada sadis Thea sama sekali tidak berkurang (walau dia sebal dibilang manja oleh Thea), sementara Thea memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya ke arah Thanatos. Dia butuh sandaran saat ini dan satu-satunya harapannya adalah sang dewa kematian.
"Thanatos..."
Suara lirih itu meluncur dari bibir Thea, Thanatos memeluk pinggang gadis itu dengan satu tangan dan meraih tangan kanannya. Kecupan di punggung tangan Thea menjadi jawaban untuk panggilannya, seolah membalut luka hati gadis berambut sewarna madu itu dengan lembut. "Setiaku milikmu... jangan kau ragukan itu..."
Gadis itu memejamkan matanya sesaat, kemudian dia membuka matanya sambil tersenyum, "Aku milikmu..." Thanatos menyeringai, gadis yang membuatnya tertarik kini berada di genggamannya, tidak akan dia lepaskan sekali pun. "Semua tahu kau milikku..."
'Sayonara... Aquarius Camus...'
Tanpa gadis itu sadari, tatapan Camus terarah kepadanya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan sesaat. Kemudian pandangan itu melembut saat dia kembali berbicara dengan Serena dan Siria yang baru datang.
~~~~To Be Continued~~~
