Summary: Setengah hari berlalu belum ada yang menggombal, oke bukan hal aneh sih mengingat beberapa dari mereka over-protective terhadap saudara masing-masing. Jadi bagaimana dengan perjuangan beberapa dari mereka yang sibuk mencari gombalan atau... wangsit? Let's go and check it out!

Disclaimed:

Saint Seiya belong to Masami Kurumada

Saint Seiya The Lost Canvas belong to Shiori Teshirogi

A/N: Errrr, oke ini emang lama banget. Beneran maaaaaaaf banget, gak pernah bermaksud nelantarin fic tapi banyak halangan dan suka mampet idenya TTATT

Gombal Competition

Chapter 9

Touma menghela napas lega, dia senang karena akhirnya berhasil mendapatkan satu gombalan yang dia rasa cukup aman tapi tetap mampu membuat Natsuki salah tingkah. Yah gak dijamin 100% sih tapi layak dicoba kan? Sapa tau pacar muka temboknya bisa blushing (TsukiRin: *digampar bolak-balik sama Res*)

Melihat Natsuki yang sedang tidak mengerjakan perhiasannya, Touma langsung merasa dapat kesempatan. Dia langsung duduk di samping gadis yang rupanya sedang ngemil coklat itu, oke tanpa basa-basi Touma melancarkan serangan gombalannya. Mumpung Marin masih kencan dengan Aiolia dan belum balik-balik.

"Oi Natsu, kau tahu apa bedanya kau dengan coklat kesukaanmu itu?"

Tidak menjawab selama beberapa saat, Natsu menelan coklatnya setelah selesai berpikir kilat. "Coklat makanan, gue manusia." Touma berasa pengen balik ke bulan mendengarnya, "Salah."

"Lalu?"

Pandangan datar si iris chocolate itu membuat Touma ingin melakukan ritual headwall dan headground sambil salto berulang kali, "Kalau coklat itu bikin emosi semua orang tenang, tapi cuma elu satu-satunya yang bisa ngebikin gue tenang."

Reaksinya? Nona besar Kouma mematung sodara-sodara! Mbak, mbak, sadar mbak lagi digombalin sama pacarmu. Mana reaksinya manaaaa?

"... thanks..."

Natsu buru-buru memakan coklatnya sambil memandang ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang memanas. Sementara Touma puas dengan hasil gombalannya, dia bersandar ke punggung kursi sambil mengambil satu buku berjudul 'Icha Icha Paradise' yang entah kenapa bisa nangkring di meja situ tanpa tahu rate buku satu itu.

(TsukiRin: Woy! Sapa yang nyuri buku Kakashi niiiih? *pandangin GS yang pada ngeres otaknya*)

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Back to Aspros yang sekarang lagi sibuk nyari calon bininya, eh rupanya si eneng lagi duduk nyantai sambil ngeteh dan baca majalah fashion di ruangan istirahat yang dilapisi karpet dan penuh dengan bantal serta boneka teddy besar super empuk bin nyaman.

Sore jam 3 itu memang jadwal Nitsu ngeteh dengan anteng, tangki emosinya udah siaga 0 pertanda Rin gak perlu nemenin dia lagi dan bisa kencan sana-sini dengan Deathmask. Dia memandang jam di tangannya, setengah jam lagi dia mau jogging. Enaknya ngajak siapa nih? Lia? Lagi kencan sama Marin dan belum balik-balik, Milo? Lagi nyari celah ngegombal Shizen yang diawasin ketat sama Saga-Kanon, yah dia sendiri dijaga Sophie sih biar gak macam-macam.

Rhea? Duuh, anak perempuannya gak ada entah kemana, mungkin lagi berenang atau latihan buat tampil habis acara gajebo ini. Yoru? Anak itu lagi, cueknya 11-12 dengan Aspros. Gak sih cuek-cuek amat, dia malah lembut banget kalau sama Nitsu, cuma satu penyakit Yoru, miskin ekspresi! Heran, ketularan siapa sih nak? Mamamu penuh ekspresi kok.

(TsukiRin: Iya saking penuh ekspresinya suka ngerepotin orang. Terutama adek elo sendiri. #ngacir)

Menghela napas, Nitsuki memandang keluar, malah hujan sore-sore begini. Duh nasib... nasib... dan tiba-tiba sudah ada suara berat khas Gemini abad 18 kesayangannya yang suka minta ditampol pake tongkat Sasha sebelum dijatuhin ke kawah gunung kesayangan Defteros.

"Nona kecil, kau sedang senggang?"

Melirik Aspros yang sedang berdiri di ambang pintu Nitsuki kembali meminum tehnya sambil memandang ke arah jendela yang menunjukkan suasana mendung berat, "Hn." mendapat jawaban seperti itu Aspros diam-diam menghela napas lega, itu artinya mood sang pemilik rambut hijau gelap itu sudah sedikit membaik.

Dia berjalan dan duduk di samping Nitsuki sambil ikut melihat ke jendela, "Mau hujan ya? Sayang kau tidak bisa jogging." Nitsuki hanya mengangkat bahunya, capek ngeladen Aspros sepenuh hati jadi dia memutuskan untuk mencuekkan si kepala rambut biru yang angkuhnya setengah mampus itu sambil membalikkan halaman majalahnya.

Melihat Nitsuki seperti itu, satu tangan Aspros mengangkat dagunya, memaksa iris ungu gelap gadis 17 tahunan itu agar menatapnya langsung. "Nona Matsushima, kalau calon suamimu sedang bicara pandang dia dan cuekkan bacaan tidak jelasmu itu."

Satu kedutan mulai muncul, tapi Nitsuki masih berusaha mencuekkan pria yang lebih tua 10 tahun darinya itu sambil mengalihkan pandangan matanya. Aspros menghela napas kemudian mengambil majalah fashion di tangan gadis berambut hijau panjang itu, "Kau tidak akan cocok dengan semua fashion ini karena kau bukan perempuan barat, rambut mereka blonde dan kau dark mint, kulit mereka tan hasil bakaran atau pucat dan kau putih bening. Mereka tinggi seperti tiang listrik kau hanya nyaris mencapai 160 centi."

#nyut

Satu kedutan datang di dahi Nitsuki dengan cantiknya.

"Lagipula daripada kau membaca majalah tidak jelas begini lebih baik kau berlatih, katamu mau jadi pengganti El Cid tapi masih lemah begitu bagaimana mau jadi Gold Saint? Mencapat 7th sense itu gak gampang dan kau masih suka termakan emosi hati. Kau dengar kan Nona Kecil? Jangan kira menjadi Gold Saint itu gampang! Kau itu masih berkepala panas dan melakukan berbagai tindakan berdasarkan emosi hatimu tanpa memikirkan resiko yang akan kau alami. Ini bukan perkara gampang seperti kau melahirkan si kembar!"

#nyut

Lompati kata dua dan tiga kedutan datang, empat kedutan sekaligus udah nangkring di dahi Nitsu yang masih berusaha mengontrol emosinya yang memang mendadak labil lagi setelah mendengar ucapan Aspros yang terkesan terlalu mengguruinya. Astaga, bahkan El Cid sendiri tidak pernah mengguruinya sampai segitu. Dan tadi kalimat terakhirnya itu apa ah?

"Atau kau bisa mencari ide agar aku jadi Pope, mungkin? Kau kan disayang oleh Po–"

#DUAKK

Nitsu langsung meninju hidung Aspros sambil memasang deathglare yang seolah mengatakan, 'Bicara-lagi-kau-mati.' Sementara yang ditinju menutup hidungnya sambil meringis, berdarah? Iya hidung Aspros banjir darah! Mampus lu, rasain. Author ngakak glundungan dulu ngeliat dia kena kepalan andalan Nitsu.

"Kalau kau mengira melahirkan itu gampang apa kau mau mencobanya, eh? Lalu... kalau kau hanya ingin menghancurkan mood-ku dengan ngomong seenak barang di bagian bawahmu itu... LEBIH BAIK KAU CARI SISYPHUS TERSAYANGMU DAN KENCAN SEPUAS AMBISIMU SAMPAI MAMPUS DI PEREMPATAN JALAN SANA!"

Lengkingan suara Nitsuki terdengar sampai-sampai Hasgard menjatuhkan cangkir kopinya, Sage tersedak tehnya, Hakurei yang langsung ngakak bareng Dohko seolah gak ingat dunia dan berbagai barang terlempar keluar mengarah kepada Aspros yang berusaha menahan segala jenis lemparan itu sambil lari keluar karena takut jadi korban KDRT.

'Siyal, salah ngomong gue. Tapi salah dari mana coba?'

(TsukiRin: *ngakak glindingan*)

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Rhea menepuk jidatnya sambil menghela napas lelah, jeritan melengking Nitsuki bahkan sampai terdengar ke ruang latihannya, padahal jaraknya lumayan jauh. Thea yang mendengar langsung ngakak gelindingan tanpa peduli Thanatos dan Hypnos yang sedang main catur bareng di dekatnya memandangnya dengan pandangan 'Apa-yang-terjadi-pada-kepiting-satu-ini?'. Tenang Thana, pacarmu gilanya lagi akut, cuma itu kok masalahnya.

Siria yang sedang telponan dengan Hyoga langsung menutup telinganya sambil memandang bingung ke asal suara melengking itu disertai backsound si Bebek yang bertanya-tanya kenapa si empu suara teriak-teriak seolah melihat segerombolan tikus menyerang dapurnya dan menyebrangi kakinya satu per satu, sementara Kana yang berada di ruang sebelah Nitsuki hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Aspros yang berusaha kabur sebelum jadi korban KDRT -akibat ulahnya sendiri- sambil bermain dengan bonekanya.

Lithos yang masih asyik memasak di dapur memandang heran ke arah ruang bersantai Nitsu sementara Kronos masih anteng mengocok adonan kuenya, si rambut hijau pendek kesayangan Aiolia itu mengangkat bahunya dan melihat adonan yang masih diurus Kronos dengan tatapan kagum.

"Kronos hebat ya, kalau aku pasti gagal lagi."

Tersenyum tipis, ayah dari dua belas Olympian itu melirik Lithos, "Lithos hanya perlu belajar, terkadang serba bisa karena kau adalah seorang dewa itu tidak seru..." tidak ada tantangan eh? Tapi sekarang justru kau menemukan tantangan kan bocah? Gadis polos lugu di sebelahmu itu sukses membuatmu pontang-panting karena cinta bertepuk sebelah tanganmu padanya.

"Oh ya? Tapi semuanya pasti jadi lebih gampang kan?"

Menggelengkan kepalanya, Kronos tersenyum tipis sambil meletakkan wadah adonannya. "Tidak juga, ada kok yang tidak gampang." Lithos menatap heran titan termuda itu sambil mengerutkan dahinya dan memikirkan apa maksud ucapannya, sementara Kronos menatapnya sambil masih mempertahankan senyum tipisnya yang manis.

"Tapi contohnya seperti apa?"

Diam sebentar, Kronos memikirkan cara untuk mengungkapkannya dengan lebih gamblang daripada sebelum-sebelumnya sementara Lithos masih memandangnya dengan heran. Tidak lama kemudian sebuah ciuman kecil didaratkan Kronos di pipi Lithos.

"Mendapatkan Permata yang sudah mencuri hatiku sejak pertama bertemu."

Blush... merah lah pipi si pemilik nama berarti permata bermandikan cahaya itu. Tidak lama kemudian Aiolia yang baru balik bareng Marin sudah teriak kayak adik angkat sekaligus pelayannya mau diapa-apain oleh suami Titan bernama Rhea itu. "Oi kau apakan Lithos hah!?"

"Cuma mencium pipinya."

Mendengar jawaban Kronos, Aiolia sudah siap melancarkan tinju andalannya kalau tangannya tidak dicegah sepasang lengan Aika. Sang Leo yang melihat adiknya terkejut, "Aika, lepaskan! Aku harus menghajar bocah satu ini agar tidak macam-macam dengan Lithos! Udah punya istri masih aja mau gangguin adek orang!"

Aika menggelengkan kepalanya sambil mengeratkan pelukannya di tangan kanan Aiolia, "Nanti dapur berantakan, Aika jadi gak bisa masak, Aiolia-nii gak mau kue pie apel?" mendengar kata pie apel, Aiolia berhenti sambil cemberut dan menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Fine, tapi dia gak boleh dekat-dekat Lithos!"

Mendengar ucapan Aiolia, Lithos memasang puppy eyes ke arah sang Leo sambil memegang loyang kue yang baru saja dia ambil, berusaha membujuk tuan yang sudah lama dia layani. "Tapi Aiolia-sama, Lithos lagi masak sama Kronos..."

Dan mau tidak mau Aiolia mengangguk dengan kaku karena jurus Lithos tidak pernah gagal meluluhkannya, dia langsung memberi deathglare terbaiknya kepada Kronos. "Tapi setelah masak dilarang dekat-dekat! Apalagi pakai acara ciam-cium pipi!"

"Kalau bibir boleh?"

Pertanyaan -sok- polos Kronos menghasilkan auman marah Aiolia yang disusul dengan tindakan berupa berusaha menangkap dan mencekik titan bungsu itu, di belakang mereka Lithos menyembunyikan wajahnya yang meranum merah dengan kedua tangannya yang menjatuhkan loyang, sementara Aika menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Cari masalah aja ni orang.'

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Dohko bersiul saat melihat melihat kepala Aspros yang benjol sana-sini dan hidungnya yang disumbat tissue, Defteros tertawa keras sambil memeluk perutnya, sementara Yoru menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengamati Avera mengobati Aspros sambil sweatdrop.

"... dasar bodoh, udah tau mama gitu masih aja dipanas-panasinnya. Untung kau gak mampus, kalau mampus ntar kerjaan kakak di Underworld nambah lagi."

Defteros menepuk pundak Yoru sambil menyeringai usil, "Ya gitu bapakmu." Yoru malas meladen ucapan pamannya, dia hanya memandang keluar sambil membuka dua kancing kemejanya yang paling atas dengan gerakan malas sambil mengambil kipas tangan dan mengipasi badannya dengan santai. Defteros speechless melihat tingkahnya, si keponakan cuma main angkat bahu sambil minum air dingin di gelasnya.

"Panas."

Dohko menggeleng-gelengkan kepalanya, yah kebiasaan Yoru 11-12 dengannya, Shiryu dan Defteros, sementara Aspros cemberut sendiri di dalam hati karena Yoru terkesan ogah membantunya.

"Mana pacarmu bocah?"

"Diamlah pak tua, dia sedang liburan sambil belanja ditemani Minos."

Oh pantas Yoru agak merengut, rupanya ada yang jauh darinya. Defteros menggeleng-gelengkan kepalanya sementara dia sendiri bingung karena pacarnya sendiri masih belum ada disini. Gaah, berasa jadi jones dirinya, padahal yang jones itu kan Hasgard. Soalnya Aldebaran sendiri sedang pergi menjemput gadis kecilnya tersayang.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

"Kana-chan~ jangan marah terus dong~ nanti manisnya jadi hilang lho."

Aphrodite tersenyum ganteng sambil menggigit sebatang mawar merah berkelopak besar di depan pintu ruang bermain Kana, sementara si empu nama malah ber-blushing ria saat melihat cowok yang ditaksirnya menghampirinya dengan tenang. Yah, gak ada Thea gak ada Deathmask, saint bernaung rasi bintang ikan kembar itu menganggap dewi keberuntungan menyuruhnya mendekati adik kesayangan mereka itu. Beruntung dia tadi sempat bertanya kepada Rin kemana perginya Kana.

"Kalau ngambek terus nanti akunya bingung mau gombal kayak gimana~"

Kana makin kelabakan mendengar ucapan Aphrodite, wajahnya makin memanas sementara cowok tercantik se-Sanctuary itu tersenyum memutar mawar yang tadi digigitnya sambil mendekatkan wajahnya ke arah gadis mungil itu dan berbisik pelan di dekat telinganya.

"Kalau aku bingung mau gombal gimana nanti kan kasian ke Kana-chan, masa' gadis manis gak dapat gombalan semanis madu?"

Aphrodite tersenyum puas di dalam hati saat melihat wajah gadis itu sudah masuk ke level hard blush dan itu benar-benar membuatnya ingin memeluk gadis cilik kesayangan duo kepiting itu seerat mungkin karena gemas.

"Lagian kasian kan Thea kalau Kana-chan cemberut terus?"

Mendengar ucapan terakhir Aphrodite, gadis bertubuh kurus itu merengut pertanda tidak suka. Pisces itu tersenyum tipis sambil duduk di sofa di dekat Kana.

"Aku tidak akan mencoba meyakinkan Kana-chan kalau semuanya akan baik-baik saja begitu Thea memilih Thanatos, aku juga sebal kenapa Thea memilih dewa yang tidak ada bagus-bagusnya seperti dia."

Sesaat Kana seperti mendapat dukungan, iris biru Aphrodite menatap Kana dengan lembut sementara satu tangannya mengelus rambut demigod dewa kematian itu. "Kana-chan tidak setuju karena sayang dengan Thea kan?"

Mengangguk, Kana memeluk erat bonekanya. Rambut biru Aphrodite menyelimuti bagian belakang kepalanya karena pemuda itu menyandarkan pelipisnya ke puncak kepalanya. Sementara satu tangan Aphrodite seenaknya mengelus pipi Kana.

"... Iya Thanatos itu bukan orang yang tepat untuk membuat Thea bahagia, iya Thanatos itu dewa kurang ajar arogan yang membuat Kana-chan marah setengah mati kepadanya, tapi... Camus juga tidak berhak menyakiti Thea sampai Serena merasa tidak enak dengan Thea."

Kana masih diam, Saint Pisces itu menganggap dia masih diperbolehkan berbicara. Dia kemudian mengangkat badan Kana dan memangkunya sambil mengelus pipi gadis manis itu.

"Thea sudah terlalu lama dan terlalu banyak menangis untuk Camus, setidaknya kita bisa memberinya waktu untuk bersenang-senang dan merasakan sedikit kehangatan yang selama ini didambakannya meskipun orang yang memberikannya bukan Camus. Iya kan?"

Cemberut, Kana menyandarkan kepalanya ke bahu Aphrodite. "Tapi nanti nee-chan menangis lagi..." Aphrodite tersenyum tipis sambil mengelus kepala Kana, dalam hati ingin rasanya pria itu berteriak kepada Deathmask untuk berterima kasih kepadanya karena punya rekan yang baik dan amazing kayak dia, "Di saat itulah Kana-chan boleh menghajar Thanatos sesuka hati Kana-chan."

"... Oke, fine."

Tersenyum puas, Aphrodite mencium pipi kanan Kana sambil mempertahankan senyumnya. "That's my girl." Sementara Kana membelalakkan matanya bersamaan dengan warna merah gelap menyapu seluruh wajah sampai ujung telinganya.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Shaka menyerah mencari wangsit, dia sudah mencoba mengubur dirinya seharian di dalam kamar dan masih saja belum mendapat ide. Tadi dia sudah mencoba tempat lain seperti di atas atap penginapan mereka bahkan di dasar kolam berenang juga sudah tapi tetap saja dia tidak menerima wangsit. Yang aja dia menerima flu akut.

Tidak lama kemudian dia merasakan cosmo Aika bersamaan dengan bau pie apel yang menggoda, mendadak perutnya berbunyi, oh baru sekarang dia merasa lapar. Apa itu karena dia melewati makan malam kemarin sampai makan siang tadi ya? Tapi mau tidak mau dia harus bertahan dengan air putih karena sebentar lagi waktunya makan malam tanpa memperdulikan cacing di perutnya sudah berdemo ria karena belum diberi asupan makanan.

"Shaka-san?"

Suara lembut Aika terdengar begitu merdu di telinga Shaka, oh katakan saja dia terlalu berlebihan tapi menurutnya ya seperti itu. Sementara si gadis mendekatinya sambil membawa seloyang kue pie apel yang harumnya mengundang air liur.

"Shaka-san makan pie apel ya? Dari kemarin malam belum makan, nanti sakit."

Mendengar ucapan Aika dan bau harum pie itu, cacing di dalam perut Shaka bersuara semakin keras seolah meminta potongan paling besar. Sementara si empu perut merasakan wajahnya memanas karena malu. Aika tersenyum tipis sambil memotong kuenya dan memberikannya kepada Virgo tersayangnya yang selalu saja lupa makan dan berpuasa tanpa kenal waktu.

"Makanlah."

Menerima pie itu, Shaka langsung memakannya dengan lahap. Baru sekarang dia sadar betapa laparnya dia dan cacing-cacing di perutnya. Sementara adik angkat sang Leo tersenyum manis, Shaka berulang kali ingin berterima kasih kepada Budha karena sudah diberi kekasih semanis dan sebaik Aika. Tiba-tiba dia mendapat ide untuk -uhuk-menggombal-uhuk- gadis itu sebagai ucapan terima kasih dan -mungkin- untuk membuktikan kalau dia bisa romantis juga.

'Baik, saya coba saja.'

Menghabiskan potongan besar pie di piringnya, Shaka memegang lengan atas Aika. Sementara gadis itu memandangnya dengan bingung. "Shaka-san mau tambah lagi pie-nya?" Virgo cantik itu menggelengkan kepalanya sambil mengatur pelan napasnya.

"... apa..."

Adik Leo abad 20 itu mulai harap-harap cemas, apa dia akan digombali Shaka? Gombalan seperti apa yang akan dilontarkan pria itu kepadanya? Jantungnya berdebar-debar mirip seperti pantat panci yang selalu didendangkan Rin atau Thea tiap lagi di kuil Cancer untuk membangunkan Deathmask.

"... apa kamu..."

Oke Shaka mulai gak konsen karena entah kenapa bayangan wajah manis Aika terbayang di pelupuk matanya yang terpejam selalu dan terukir jelas di otaknya. Astaga, Athena kenapa harus di saat seperti ini coba? Kan gak bisa ngomong jadinya Shaka, mau ngomong apa juga langsung lupa kayak authornya yang baru ngeliat boneka pocong di dekatnya.

"... apa kamu tahu..."

Tahu? Tahu apaan? Tahu makanan atau tahu yang lain?

Aika sudah semaput karena wajahnya terlalu dekat dengan wajah Shaka, pasti pria berambut panjang itu tahu kalau wajahnya merah padam dan panas karena jarak mereka. Shaka sendiri sudah blank habis karena bayangan wajah Aika yang menari-nari di dalam kepalanya.

"... apa kamu tahu dimana saya meletakkan gelas saya?"

Facepalm, speechless...

Aika sweatdrop mendengar ucapan Shaka, walau kecewa karena dia tidak digombali dia tetap mengambilkan gelas pemuda itu dan memberikannya kepadanya. "Ini..."

"... Arigatou..."

Tersenyum manis, Aika mengangguk sambil memotong pie apel untuknya sendiri, 'Apa aku terlalu berharap ya? Shaka-san kan gak mungkin menggombal. Beda dengan Milo, Aiolia dan yang lainnya.' Sementara Shaka sendiri dalam hati merutuki dirinya habis-habisan karena gagal menggombali gadis itu, dia juga diam-diam berharap kalau makan malam nanti dapat tenang agar dia bisa mendapat ide lagi.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Makan malam ini harusnya tenang seperti yang didambakan Shaka setelah kejadian-kejadian yang lalu, tapi sepertinya harapan Virgo abad 20 itu tidak bisa terkabul dikarenakan aura-aura yang bercampur aduk di ruang makan. Ada yang kasmaran seperti Kana dan Aphrodite, lalu jangan lupakan acara lovey-dovey Yoru dengan Chiaki dan Rhea yang sedang ber-messager ria dengan pacarnya, aura over-protektif Aiolia juga terasa kentara, belum lagi aura bahagia Thea yang sedang memeluk Kana.

'Oh bagus mereka sudah baikan.'

Sekarang Shaka sudah bisa tenang, tidak sepenuhnya tenang, hanya sedikit tenang. Dia menolehkan kepalanya ke arah Nitsuki yang sedang beraura sesuram El Cid di sampingnya. Sementara di sisi lain Aspros juga tidak kalah suramnya. Mau tidak mau pemilik rambut pirang emas berkilau itu menghela napas, lelah dengan segala drama yang ada. Siapa sih yang nyaranin mereka jadian?

(TsukiRin: Asmitaaaa!)

Sage berdeham pelan, dia memandang ke arah Nitsuki dan Aspros yang auranya sudah memasuki tahap tidak bisa dikomentari, sementara Hakurei cekikikan sambil menggigit daging di garpunya. Menghela napas letih, Pope tertua di ruangan itu menegakkan badannya.

'Apa saya perlu ikut campur untuk membuat mereka baikan?'

Seolah bisa membaca pemikiran adiknya, Hakurei menyenggol sikunya ke lengan Sage. "Jangan dek, jangan. Ntar yang ada mereka makin kelai." Menghela napas pelan, mantan Saint Cancer itu menatap sang abang dari sudut matanya, "Diam Altar berkarat."

Hakurei menyeringai sambil menunjuk Thea yang sedang memangku Kana sambil tersenyum riang, "Altar berkarat dari mana? Lihat, dia hot begitu malah kau katai berkarat. Yang ada sih kepiting alot kayak kau."

Mendengar ucapan abangnya, Sage menghela napas sambil memotong daging di piringnya. "Terserahmu saja bang." Pandangan tetua Jamir itu terarah kepada Rhea dan Yoru yang sedang berdiskusi entah masalah apa sementara mata mereka fokus ke tablet mereka.

"... dan saya masih penasaran apa mereka itu reinkarnasi Aspros dan Nitsuki atau bukan? Kok lengket banget kayak semut dengan gula..."

~~~ To be Continued ~~~

A/N2: Thanks buat yang udah nge-review, errrr dan ada Guest yang minta The End of Unrequest Love dilanjutin ^^;; maaf baru balas, entah masih baca atau enggak saking lamanya diri ini update. Itu oneshoot, tapi nanti pasti ada lanjutannya entah bagaimana caranya, biasanya suka ada ide absurd buat lanjutin atau perbaikin fic-fic yang ada. Lalu yang minta lanjutan A New Born itu lanjutannya udah ada tapi dalam judul yang baru, eeeh... entah udah diliat atau belum. Dan yang minta NitsuPros... maaf mereka belum bisa baikan, permasalahannya sebenarnya simpel cuma karena Nitsu masih 16-17 tahun jadi yah... emosinya mengerikan dan agak labil, berasa PMS tiap hari.