Summary: Dimulai dari Regulus, kemudian Kardia, setelah itu Touma yang diikuti Kronos. Satu per satu dari peserta melancarkan serangan manis mereka dengan strategi yang sudah tersusun dengan baik di kepala mereka ataupun secara dadakan dan serampangan. Namun tetap mengenai hati yang mereka tuju.

Disclaimed:

Saint Seiya belong to Masami Kurumada

Saint Seiya The Lost Canvas belong to Shiori Teshirogi

A/N: Maaf telat, maaf banget. Ini otak macet gara-gara no idea buat lanjutin ficnya. All OC belongs to their owner~

Gombal Competition

Chapter 10

Mu melihat beberapa temannya yang sudah berhasil menggombal, ugh... dia iri. Iya si domba ungu manis ini iri dengan teman-temannya yang berhasil membuat orang yang mereka suka atau kekasih mereka tersipu malu (minus Kardia). Beberapa kali dia menghela napas, kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Dia mau-mau saja menggombali Ixy, tapi tidak siap dengan beberapa resiko yang akan dia hadapi nantinya.

Pertama, dihajar Wyvern Rhadamanthys, bawahan patuh Hades yang satu itu pasti akan menghajarnya karena dia sudah berani sembarangan menggombali anak atasannya. Kedua, kalau gombalannya berlebihan dia takut dihajar Ixy, oh Mu lebih baik menghantamkan kepalanya dengan cloth Aries dibandingkan merasakan pukulan gadis itu. Ketiga, kalau dia gagal menggombali Ixy, dia yakin otak usil Nitsuki pasti akan bekerja dengan cepat dan dia pasti akan digoda gadis itu beserta teman-temannya yang lain, duhaaai nasib... kenapa dirimu kejam sekali kepada domba unyu satu ini?

Menarik napas panjang dan menghembuskannya, Mu memandangi langit yang sedang cerah-cerahnya, berharap mendapatkan ide melintasi kepalanya secara ajaib, namun hasilnya nihil. Berbaring sebentar di rerumputan agar dapat wangsit, masih saja gagal. Mau tidak mau dia berdiri dan berjalan ke ruang perpustakaan dadakan mereka.

"…. Kuharap Nitsu punya buku ampuh untuk menggombal…"

Mendadak si domba teringat kepada gadis iseng satu itu, gadis yang aktif dan lincah itu terlihat kembali emosi tingkat tinggi kemarin malam, entah apa sebabnya, tentu dia tidak berani mendekatinya sampai dia yakin kalau tangki emosi gadis itu sudah turun ke angka 0. Dia gak mau mendadak jadi domba panggang kesukaan Rhea nanti malam.

'Aih dasar remaja labil… semoga Kiki tidak menjadi seperti itu nantinya…'

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Sementara itu di tepi kolam berenang yang sedang sepi-sepinya (karena Aldebaran sedang berada di sisi cafeteria dengan Ethiopa-nya), Ixy sedang duduk santai bersama Kana yang masih dimabuk asmara karena sudah digombalin Dite, gadis kesayangan para kepiting di sampingnya terlihat sedang memeluk boneka kesayangannya sambil tersenyum manis dan mengeluarkan aura-aura pink manis yang membuatnya semakin unyu.

Demigod Hades kesayangan si kembar saat ini sedang gusar karena seseorang yang ditunggunya belum menggombalinya, ekspresi wajahnya sudah cukup meyakinkan kalau sebenarnya dia menunggu domba ungunya menggombalinya. 'Cih, domba itu niat ikutan ini lomba tidak sih? Kalau niat kenapa gombalannya gak datang-datang?'. Kana memiringkan kepalanya saat melihat teman tsunderenya merengut dari tadi. Sebuah ide jahil muncul di kepalanya.

"... Kenapa? Kesal belum digombalin Mu-san?" Mendengar pertanyaan si manis bertubuh pendek di sampingnya, sontak wajah Ixy memerah. Dia memalingkan wajahnya sambil melipat tangan di depan dadanya, "Ha-Hah?! Siapa bilang?! Aku tidak-" Tapi Kana tak mendengarkan sedikitpun ucapan temannya dan senyam-senyum sendiri.

'karakter tsundere memang menyulitkan, semangatlah Mu-san...'

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Marin tersenyum tipis mendengar cerita Touma, meski dia tidak bisa melihat ekspresi di balik topeng adiknya, tapi dia yakin kalau pemuda itu puas dengan reaksi terhadap aksinya kemarin. Tidak lama kemudian Touma diam memandang sekelilingnya dan berbisik di dekat telinga kakaknya.

"Kapan nee-chan akan digombali Aiolia?"

Background petir menyambar tanah imajiner terlihat di belakang Marin, dia sendiri mematung mendengar ucapan sang adik. Kapan dia akan digombali Aiolia? Kapan? Ah, kalau boleh jujur sebenarnya dia juga menantikan kapan sang Leo berani menggombalinya. Diam-diam dia mengharapkan kalau pemilik cloth singa Nemea itu mendatanginya dan memberi beberapa baris kata yang mampu membuat hatinya berbunga-bunga.

Touma mengerutkan dahinya saat melihat Marin terdiam dalam waktu yang cukup lama, dia sampai harus menjentikkan jarinya beberapa kali di depan sang Silver Saint agar mendapat respon darinya. "Nee-chan? Hallo, earth to nee-chan… masih hidup kan?"

Sungguh kurang asam pertanyaanmu nak... gak tau apa kalau kakakmu sedang bingung bin galau?

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

"Apa!?"

Sage bagai digonjang-ganjing Titan setinggi 60 meter di singgasana sementaranya itu, dia menatap Defteros di depannya dengan mata terbelalak karena terlalu kaget. Sementara yang ditatap hanya mengangguk kecil, mengklarifikasi kalau ucapannya sebelum ini benar. Bukan gosip, bukan kabar burung, bukan kabar angin, bukan opini, melainkan FAKTA yang tak terbantahkan seujung rambut pun.

Hakurei memandang sang iblis pulau Kanon dengan pandangan 'are-you-kidding-me-son?' dan melirik ke halaman belakang dimana Yoru terlihat sedang berlatih dengan Kanon di bawah pengawasan Saga dan Rhea yang sedang bermeditasi di dekat Shaka namun jauh dari Asmita. Sementara telunjuk kanannya mengetuk-ngetuk dagunya seolah dia sedang berpikir.

"Oke, jadi bisa kuperjelas lagi... Rhea dan Yoru itu anak Aspros dan Nitsuki di masa depan? Mereka dikirim kesini karena author fanfic kita satu ini gak tau lagi gimana cara mempertemukan keluarga itu secara lengkap?"

Hakurei berusaha kembali mengkonfirmasi agar dia tidak mendapat kabar yang salah, Defteros sendiri mengangguk bosan untuk kesekian kalinya.

'Oh ternyata itu alasan si chibi nekad belak-belokin arus waktu dan dimensi di sini? Pengen ngebikin perang dunia keempat?' Sage rasanya ingin membedah otak gadis yang diragukan usianya itu untuk memeriksa apa otaknya masih waras atau tidak, sementara saudara kembarnya sendiri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar keantikan author Nitsu. "Remaja ya gitu, labil, mau tahunya ngalahin anak-anak, mau gimana lagi?"

"Dia itu bocah bang, bocah…. Aku gak pernah ngeliat gadis remaja yang nyaris kepala dua tapi tingkahnya kayak gitu."

(TsukiRin: Heh! =3= )

Defteros mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, sementara dia sendiri bersandar pada dinding sebelah kirinya. "Yah, aku juga dapat informasinya begitu dari si rambut ubanan. Dan oh, dia juga memberiku DVD yang memperlihatkan tumbuh kembang mereka sedikit, dari sebelum aku bertemu dengan mereka sampai aku bertemu dengan mereka. Habis aku pergi kayaknya Rhea kabur dari Inferno setelah Yoru diambil Poseidon jadi gak ada DVD-nya."

Mendengar ucapan si pemilik kulit tan eksotis itu, mendadak hasrat kakek-ngebet-pengen-liat-cucu duo Saint abad 16 itu mendadak muncul. Tanpa butuh waktu lama keduanya langsung menegakkan badan sambil memandang DVD ber-cover si kembar yang dipegang Defteros dengan santainya.

"Yah, kalau kamu memang mau nonton ya setel saja, kami tidak keberatan kok menemanimu menonton."

Hakurei pura-pura berdeham dan menjaga imagesambil berujar pelan, sementara Sage hanya mengangguk pelan mendukung ucapan abangnya. Defteros memicingkan mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghidupkan tv di dekat mereka, kepengen banget nyolok mata kembar Cancer tapi gak jadi, sebagai gantinya dia menggerutu di dalam hati. 'Dasar sok jaim. Bilang aja lu berdua mau banget nonton ponakan-ponakan gue pas kecil yang unyu gemesin.'

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Dohko memandang sekelilingnya, celingukan kiri-kanan dan memastikan kondisi aman. Dia baru saja melihat Avera-nya sendirian sedang membaca buku resep di perpustakaan. Oke dia yakin sekarang saat yang aman untuk memodusi adik duo Gemini Aspros-Defteros.

Dehamannya terdengar kalem, beberapa kali mengetes suara, oke sip kedengaran enak di telinga kok. Memandang ke bagian baju kaosnya dan celana hitamnya, pemuda keturunan Cina itu memastikan kalau penampilannya pantas. Soalnya sekalian pengen ngajak kencan terselubung mumpung Aspros lagi dipusingkan Nitsu, pemuda bertato harimau itu diam-diam ingin berterima kasih kepada murid El Cid dengan membelikannya bakpao daging ayam sebanyak mungkin.

"Avera~"

Avera yang sedang membaca memandang ke arah Dohko sambil tersenyum manis, "Dohko-san." Wajahnya sedikit memerah saat melihat pemuda itu mengenakan pakaian santainya, 'G- ganteng…' sementara Dohko nyengir senang.

"Kita kencan yuk?"

"K- kencan?"

"Iyep, mumpung sekarang Aspros lagi diomelin Rhea."

Dohko tertawa puas di dalam hatinya mengingat bagaimana memelasnya wajah Gemini satu itu karena diomelin anak umur 15 tahun, walau sebenarnya dia tidak menyangka kalau ternyata anak Nitsuki bisa seganas itu, eh tapi mengingat siapa emaknya ya wajarlah anaknya gitu. Emaknya kan kucing… hutan…

"Errr…. Dohko-san…?"

Melihat Dohko yang tersenyum-senyum sendiri, Avera menjentikkan jarinya di depan wajah Dohko. Pemuda Libra itu menggelengkan kepalanya sambil mengulurkan tangannya, "Ayo nona manis~ mall-nya menanti~" dan semakin merahlah wajah gadis kesayangan kembar Gemini itu, tangannya terulur ke arah Dohko sambil membiarkan sang Libra menuntunnya ke Mall yang dimaksud.

Bersenandung riang, Dohko eberapa kali melirik Avera dari sudut matanya sambil kembali mengingat rencananya. 'Pertama ajak ke tempat main, lalu habis itu mungkin belikan boneka macan atau penangkap mimpi yang kemarin dilihat Avera? Hmmm yang jelas habis itu pergi makan siang dan jangan lupa beli es krim stroberi kesukaan Vera, baru nanti yes! Gombalin Avera!'

Avera yang berjalan di samping Dohko hanya tersenyum bingung memperhatikan tingkah harimau kesayangannya satu itu, tapi… jarang-jarang kan mereka kencan begini tanpa diganggu Aspros? Jadi dia memutuskan untuk menikmati hari bersama pacarnya yang selalu kelebihan energy itu.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Shaka mengerutkan dahinya ketika mendengarkan ceramah singkat Yoru, oke jelas ceramahan anak murid Kanon itu jauh lebih berguna daripada mendengar omongan Asmita yang sampai sekarang masih sakit kepala karena bingung antara mau atau tidak mau menggombali pacar misteriusnya, Aon. Tapi dia rasanya tidak siap mental karena dia takut kalau nanti akan membuat kesalahan sekali lagi.

Yoru tahu apa yang ada di kepala Shaka saat ini, dia langsung menepuk pundak pemuda india itu dan tersenyum tipis, "Aku tahu kalau nii-san tidak siap kalau harus menggombali Aika-nee lagi setelah kemarin gagal, saranku sih sebaiknya saat ini rileks saja dulu. Nanti cari-cari kesempatan bagus untuk menggombalinya, jangan pakai pikir panjang. Langsung gombali saja dengan kata-kata yang terlintas di kepala. Oke? Masa' nii-san mau kalah dari yang lainnya?"

Mau tidak mau Shaka menganggukkan kepalanya, dia memang tidak mau kalah. Ada Yoru di sampingnya, jelas dia tidak mungkin kalah.

Iya kan?

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Saga menghela napas berulang kali, dia memandang ke arah Nitsuki yang sembarangan membawa seorang wanita kembali dari Underworld lagi. Seorang wanita berambut hitam lurus yang sangat manis duduk di dekat Nitsuki sambil memainkan rambut panjang gadis itu, oh wanita itu bukan sembarangan wanita. Wanita itu adalah seseorang yang telah lama tiada dan meninggalkan bekas luka mendalam di hati Saga, kekasihnya sendiri, ibu dari putri tunggalnya yang juga telah tiada. Mereka meninggalkannya di saat para Titan menyerang dan itu membuat pria itu berduka dalam diam selama bertahun-tahun.

"Saga, jangan berwajah seperti itu. Aku akan segera kembali ke Dunia Bawah setelah kau selesai melakukan apapun yang diminta Nitsuki."

Elusan di lengan Saga membuatnya memandang ke arah asal suara itu, senyuman menenangkan itu kembali menghiasi wajah wanita kesayangannya. Tanpa ia sadari, Saga menghela napas dan mengelus pipi putihnya, "Aku hanya tidak ingin mengganggu istirahatmu…"

"Kau tidak mengganggu istirahatku… aku senang bisa bertemu denganmu lagi…"

Tersenyum, Saga memeluk wanita itu dengan erat. Beban hatinya yang selama ini mampu dia sembunyikan dengan baik langsung tumpah ruah saat melihat kasihnya. "Maafkan aku Cissy, aku tahu ini menyiksamu, aku tahu aku terlalu egois… tapi aku sangat merindukanmu." Memejamkan matanya, Cissy mengangguk dan bersandar ke arah Saga. "Aku juga merindukanmu…"

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Minos nyesek! Iya dia nyesek ngeliat Felicity gak ada, gitu mau gangguin Albafica eh malah si Aphrodite yang ngelempar berbagai jenis pot bunga ke arahnya, mana pot bunganya dari keramik lagi. Nyesal pergi? Enggak juga, soalnya kan dia bisa bolos kerjaan. Tapi nyesek ngeliat banyak yang lagi enak-enakan nyantai sama pasangan mereka sementara dia ngejones sendirian. Si Taurus abad 18? Dia mah kagak peduli dengan yang namanya pasangan, yang penting dia bisa ngeliat rekan-rekannya bahagia, termasuk reinkarnasinya yang sekarang lagi berenang bareng pasangannya.

Duo kambing El Cid-Shura? Mereka juga gak tertarik, biarin disuruh ngapa-ngapain nanti yang penting jangan menggombal karena gombalan menurut mereka tidak membuktikan keseriusan mereka terhadap pasangan. Ditambah lagi tadi dia ngeliat Saga lagi peluk-pelukan dengan entah siapa. Makin ngeneslah dirinya. Gak ada teman buat diajak ngobrol.

Rhadamanthys? Bah! Dia sedang barengan si Leo abad 18 itu, sejujurnya sudah dari dulu dia penasaran apa si Wyvern itu pedo? Thanatos dimana? Lagi ngumpul bareng keluarganya dan itu berarti termasuk Kana yang baru saja pulang dari kolam berenang. Minos berasa jadi Griffin congek di hotel yang luasnya luar binasa itu.

"…. Gue mau pulang Hades-sama."

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Aiolia berdeham pelan, suasana sore ini sangat romantic dan jelas cocok untuk melakukan niatannya. Beberapa kali dia melirik ke arah Marin yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup lembut, sang Leo tersenyum lebar melihat kecantikan alami gebetannya sampai bikin dia deg-degan.

Berdeham pelan, Aiolia melihat beberapa tanaman bunga yang bermekaran tanpa peduli cuaca, "Marin… errrrr, kau tahu? Kecantikan bunga-bunga yang ada di seluruh dunia tidak bisa mengalahkan kecantikanmu…. dan… mereka errr…"

Sang Eagle melirik Aiolia yang wajahnya sudah memerah, dalam hati dia ingin tertawa karena menurutnya tingkah Aiolia saat ini sangat menggemaskan, tapi dia harus menunggu gombalan sang Leo selesai kan?

"Errrr…. Itu…. Itu…."

Tertawa kecil, Marin langsung tahu kalau Aiolia tidak siap, menggelengkan kepalanya dan meletakkan telunjuknya di depan bibir Aiolia. "Aku tidak minta kau buru-buru, aku bisa menunggu lebih lama lagi." Aiolia menundukkan wajahnya karena malu, "Maaf…"

"Tidak apa-apa…."

Menggenggam tangan Marin, Aiolia berjalan pelan. Yah, memang dia gagal menggombal, tapi bukan berarti mereka gagal kencan sore kan?

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Milo mengacak rambutnya, dia mau gombalin Shizen tapi masa' ambil langkah nekad kayak Kardia? No way, yang kecean dikit bisa gak? Dia gak mau dihajar gara-gara salah gombalan atau ketahuan para abang over-protective pacarnya yang manis itu. Tapi kalau gak ngegombal sekarang bisa-bisa diejek sama Kardia lagi, jadi intinya… Scorpio abad 20 itu stress berat.

Kardia yang melihat tingkah juniornya dari jauh menggaruk kepalanya sambil menggigit apelnya, sambil melenggang ke halaman hotel, Kalajengking abad 18 itu mengerutkan dahinya, 'Mungkin dia sudah benar-benar jadi bego kali. Gue rasa gue harus minta bantuan sama Degel versi dua itu.'

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Camus menutup buku bersampul tebal yang dia pegang, dari sudut matanya dia melirik ke arah Serena yang sedang membaca bersama Siria. Entah kenapa rasanya ada yang kurang, tapi dia tidak tahu apa. Menggelengkan kepalanya, dia berdiri dan mengembalikan buku yang dia baca ke tempatnya. Saat ini dia harus berkonsentrasi dengan 'misi' yang diberikan Nitsuki walau jujur kali ini otak jeniusnya dan bahan bacaan di tempat ini sama sekali tidak membantu.

"…. Serena…."

Mendengar namanya dipanggil, Serena mengangkat kepalanya sambil tersenyum. "Ada apa Camus?" berdeham sedikit, dia memegang lembut tangan gadis itu dan mengelusnya. "I love you…" mendengar ucapan Camus, wajah Serena langsung memerah dan senyum lembut menghiasi bibirnya. Siria tertawa pelan sambil mengamati adegan ayah-ibunya sambil menelpon Hyoga tidak jauh dari mereka.

'Masih jauh pa dari kata menggombal… itu sih pengakuan cinta…' ^^;;

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Makan malam berlangsung dengan heboh, namun tidak ada yang memprotes. Sage mendadak meminta Rhea dan Yoru duduk di dekatnya dan Hakurei, mereka menanyai sepasang kembar itu banyak hal sampai keduanya kewalahan menjawab. Namun Yoru tetap memasang tampang dingin tenang nan angkuhnya yang berujung dengan geplakan nampan di kepalanya dari Rhea, walhasil sepasang kakak beradik itu kembali ribut sementara Hakurei tertawa besar melihat keakraban mereka.

Saga sedang duduk di samping kekasihnya, sesekali tangan pria itu mengelus pipi wanita itu dengan lembut sementara Aldebaran terlihat sedang memandang bunga di tangannya sambil tersenyum-senyum melamun. Minos yang mengamati mereka langsung merasa ngenes, saat dia hendak mengamati Albafica, lemparan pot keramik langsung diterimanya tepat di mukanya. Aphrodite memasang tampang galak sambil mengerutkan bibirnya ke arah Minos.

Dohko tersenyum-senyum sambil mengamati Avera yang duduk diapit Aspros dan Defteros, beberapa kali pemuda itu terlihat menggumam senang. Sementara wajah Avera memerah setiap kali dia melihat Dohko, Nitsuki yang melihat mereka hanya tertawa kecil, membayangkan apa yang membuat adik dari kekasihnya sampai memerah seperti itu.

"Dohko~ ayo cerita~"

Dohko nyengir lebar, tapi menggelengkan kepalanya, "Rahasia dong Yue~ nanti kubeliin bakpao isi daging ayam deh." Nitsu mengerutkan dahinya, tumben-tumbenan si Libra mau ngebeliin dia bakpao daging? Kesambit apaan ya?

"Mau nyuap gue ya ceritanya?"

Menggelengkan kepalanya, Dohko hanya nyengir lebar. Sementara Aiolia senyam-senyum lebar sendiri, Rin yang memandangnya langsung merinding dan menjaga jaraknya dari adik Sagittarius abad 20 itu. "Kau sedang kesambit setan ya, Li?" menggeleng kepalanya, Aiolia hanya terkekeh sambil melayangkan pikirannya ke arah Marin yang membuatnya mendapat tabokan special dari Thea dan ujung-ujungnya mereka sparring.

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

Saat malam semakin larut, sebuah mobil Lamborghini merah tiba di depan hotel. Seorang gadis berambut hitam keluar dan berdiri sambil melepas kacamata hitamnya, mata biru esnya memandang ke arah hotel itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan sementara satu tangannya mengipasi badannya. "Lilac, what do you think about this?"

"I think this will be fun Vanni."

Seorang gadis lainnya berdiri di sampingnya sambil tersenyum manis, menenangkan gadis di sampingnya. Sementara si gadis prancis mengangkat satu sudut bibirnya sambil menaikkan kacamatanya ke kepalanya, memandangi sopir yang mengeluarkan kedua koper mereka.

"I don't want to stay in this hot city and leaving my boyfriend if this is not the order from my author."

Gadis berambut pirang di belakang gadis itu mengangkat koper kecilnya dan berjalan sambil mempertahankan senyum manis, "Actually, I feel the same way too. Come on, we should make the end as soon as possible and back to our school."

Menghela napas, gadis itu mengangkat kopernya, "I know Lilac, I know." Sementara di depan mereka, Nitsuki yang mengenakan kimono hitamnya sudah berdiri menunggu dengan sebuah senyuman lebar.

~~~ To be Continued ~~~

A/N: Nyehee, gomen telat lagi update-nya ^^;; banyak tugas, banyak kegiatan, banyak sakit juga ^^;; ah udahlah gak usah banyak omong, semoga fic-nya bisa menghibur ya