Aku lari dari masa lalu karena disana aku kehilangan diriku────Rin Kagami.
Aku mengejar masa lalu karena disana dia menghilang────Len Kamine.
Aku harus kuat demi keluargaku────SF-A2 Miki.
Aku mencari bintang────Miku Hatsune.
Aku melihat bintang. Dia jauh dan tak tergapai────Kaito Shion.
Aku tidak suka suasana sepi──── Piko Utatane.
Aku benci disamakan ──── Rei Kagene.
.
.
.
.
.
.
.
Aturan Pertama: Larilah!
Penolakan:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Peringatan:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
The Rules
.
.
.
.
.
.
.
[Rin POV]
Kringgggg!
Mataku mengerjap kaget.
Langit-langit kamar adalah hal pertama yang ku lihat dan pegal adalah hal pertama yang ku rasakan.
Saat itu, aku menyadari kalau posisi tidur ku cukup menggelikan. Tidur terlentang di lantai, di temani beberapa buku tebal. Apa aku sudah terlihat seperti orang pintar?
"Ugh..." Lenguhku menyingkirkan buku dengan ketebalan luar biasa dari atas perutku.
Titik kesadaranku belum sepenuhnya terisi. Kaleng berisik penyebab ku terbangun masih berteriak meminta perhatian. Mata sayu ku meliriknya dalam ketenangan.
Jam 5 pagi.
Siapa yang men-setting-nya sepagi ini?
Clek!
Suara pintu terbuka menjadi pusat perhatianku dan membuatku segar secara misterius.
"Oh, sudah bangun ternyata."
Sekarang aku tahu siapa pelakunya. Aku menatapnya dalam diam dan mulai berpikir untuk melemparinya dengan salah satu buku yang berserakan di sekitarku. Mengingat statusnya sebagai Kakak kedua dan hukum tak tertulis bagi seorang adik adalah budak. Aku mengurungkan niatku itu. Aku belum siap menjadi adik durhaka. Melemparinya dengan buku sama dengan melompat ke jurang setan. Ha-ha.
"Kau masih membaca buku tidak jelas itu?"
Manik biru teduhnya menyipit tidak suka. Aku mengangguk dan melirik singkat pada buku yang seminggu ini ingin kubakar.
"Berhentilah! Jangan di baca lagi, Rin. Kau tidak akan pintar hanya dengan membaca cerita fiksi."
Aku memberengut dan mulai mengumpulkan satu persatu buku yang berserakan. Menyusunnya dalam satu tumpukan. Lagipula, siapa yang suka baca buku!
"Perintah orang itu sebaiknya tidak usah di dengarkan..."
Dia melanjutkan sambil bersedekap dan menaruh beban tubuhnya pada daun pintu.
Aku hanya meliriknya sekilas sambil menaruh semua buku yang kususun di atas meja belajar. Lalu menggerakkan jari telunjukku membentuk lingkaran, menimbulkan efek cahaya merah muda melingkar, penuh dengan huruf rune di sekitar kaleng berisik. Menghentikan suara cerewetnya. Selanjutnya aku arahkan jariku pada kalender meja, menimbulkan efek yang sama dengan hasil yang berbeda, banyak robekan kertas kecil berisi tanggal kemarin yang langsung terbang masuk ke tempat sampah dan menyisakan tanggal hari ini.
Hampir memasuki akhir musim gugur. Pantas udaranya mulai terasa dingin.
"Luka-nee ... tolong... jangan sentuh alarm ku lagi. Aku butuh istirahat yang banyak." Pintaku menjatuhkan diri ke kasur empuk dan lembut. Nyamannya... entah sudah berapa hari aku tidur di lantai.
Luka-nee menghela napas panjang dan terdengar berat.
"Haaaa... Orang itu benar-benar membuatku susah. Aku tidak pernah suka dengan apapun yang sedang dia coba lakukan. Meskipun itu demi kebaikanmu. Bereskan kamarmu dan gunakan sihir seperlunya. Segeralah turun jika sudah selesai."
Dia pergi setelah mengatakan itu.
Aku segera mendudukkan diriku di pinggir kasur, menatap pintu yang baru saja di tutup secara kasar dengan tatapan sendu. 'Maaf...'
Melemaskan seluruh ototku, manik biru cerahku mulai memindai sekelilingku.
Tiga kata. Kacau dan Berantakan.
Terkadang aku memang terlalu malas untuk merapihkan barang-barangku dan melemparnya asal. Bisa dihitung dengan jari berapa kali aku merapihkannya dalam sebulan.
Di rumah sederhana ini ada satu aturan yang tak bisa di langgar. Melanggarnya berarti kau sudah siap untuk mati.
Dilarang menggunakan sihir untuk kepentingan pribadi.
Peraturan bodoh itu secara tidak langsung mengajarkan ku hidup mandiri. Menggunakan sihir memang praktis. Tapi, itu bisa memberikan efek samping ketergantungan.
"Hhhh... sepertinya aku harus menyelesaikan masalah satu ini sebelum monster cerewet itu datang lagi dan menjajah telingaku." Keluhku suram mulai membereskan kamar.
Namaku Rin Kagami. Umur 13 tahun. Murid tingkat menengah biasa yang terjebak diantara buku-buku tebal. Ada enam buah buku dengan ketebalan dan judul sama. Namun, isinya berbeda di beberapa bagian. Aku mendapatkannya dari pelatih sihirku. Namanya Meiko Kagami , Kakak pertama sekaligus orang yang keberadaannya tidak pernah diharapkan oleh Luka-nee. Banyak hal keren yang terjadi diantara mereka berdua. Makanya tidak heran kalau Luka-nee selalu naik pitam tiap kali melihat apapun yang berhubungan dengannya, salah satunya buku merepotkan itu.
Sudah satu bulan berlalu semenjak berita menghilangnya pelatih (aku lebih suka menyebutnya seperti itu dibandingkan Meiko-nee ) tersebar. Tak ada yang tahu keberadaannya dimana. Masih bernapas atau sudah tak bernyawa lagi. Salah satu alasan kenapa Luke-nee tidak suka padanya. Dia suka pergi tanpa pamit.
Satu minggu sebelum dirinya dikabarkan menghilang, dia memberiku satu hari satu buku secara rutin. Awalnya aku biarkan buku itu diselimuti debu dalam keheningan rak tak bernyawa. Tapi, menginjak hari ke tujuh, Blue Bird (burung pembawa pesan) datang mengetuk jendela kamarku, tepat saat jarum panjang milik kaleng berisik bergerak menyentuh angka satu dan jarum pendeknya lurus menatap langit.
Jam 00.05.
Hari ke tujuh dimana pelatih seharusnya memberiku buku ke tujuh. Namun, tidak demikian. Dia menghilang dan meninggalkan pesan merepotkan.
Rin, kalau kau membiarkan buku berharga milikku di makan debu dan rayap... Bersiaplah untuk mati saat aku kembali!
Seluruh anggota gerak tubuhku pun merespon pesan kematian itu dengan baik. Sisa akal sehatku tidak membiarkan buku aneh itu membusuk bersama buku lainnya. Sejak saat itu, manik biru cerahku berusaha bertahan menatap redup goresan tinta hitam dalam keinginan untuk merubahnya menjadi abu dan merebusnya dalam air mendidih.
Aku ingin tahu tujuan pelatih memberiku buku merepotkan seperti ini. Keenam buku tersebut berjudul 'The Lules '. Tanpa identitas pengarang maupun penerbit. Aku pasti sedang dijahili.
"Aku akan menuntutnya jika pulang nanti."
.
.
.
Aku pura-pura bersenandung 'lalala' dengan suara sumbang. Menghindari senyum palsu siapa pun yang berniat menyapaku. Tidak peduli berapa kali Luka-nee memberi ku pelototan tajam, memintaku bersikap ramah. Kami berdua sedang dalam perjalan menuju akademi dan dalam perjalanan penuh rintangan itu selalu saja ada sekumpulan orang bodoh pencari muka.
Pemandangan seperti itu sudah biasa kudapat. Tapi, aku bukanlah Luka-nee yang mampu menghadapi mereka dengan senyum kesabaran.
Aku tidak mau berurusan dengan mereka. Hanya karena rumor aku dan Luka-nee akan di calonkan menjadi Navigator, mereka semua jadi bersikap palsu.
Navigator adalah posisi tertinggi yang mampu mengantarkan siapa pun masuk ke Istana. Impian semua orang, tidak termasuk aku.
Kenyataannya, tidak semua orang berjalan ke akademi dengan niat menutut ilmu. Bahkan saat pertama kali aku memasuki Cryton Academy untuk mengikuti upacara penerimaan Advance baru, aku nyaris tersedak ludahku sendiri dan memandang tidak percaya pada sebagian besar orang tua yang mengantar anak-anak mereka sedang memberikan nasihat gila. Mereka mengajarkan anak-anak mereka untuk menjilat jika tidak bisa meraih peringkat atas. Mendekati calon penguasa adalah akses tercepat menjadi terkenal, diakui dan disegani. Kebanyakan anak-anak yang mendaftar di Cypton Academy bertujuan untuk masuk Istana, mendapatkan posisi penting, memajukan kerajaan dan menjamin kesejahteraan rakyat. Mulia sekali niat mereka. Cih.
Kalau saja jalan menuju akademi ada dua jalur atau setidaknya tersedia jalan pintas yang sepi. Pasti aku tidak perlu berpapasan dengan orang-orang bermuka palsu seperti mereka. Melihat akademi dari sisi menguntungkan. Aku menyebut mereka sebagai para pencari keuntungan di jalan sesat.
Crypton Academy memang satu-satunya sekolah sihir yang di akui dan di percaya pihak pemerintah. Lulusan terbaik dari sini sudah bisa di pastikan mendapat satu kursi kosong di Istana. Benar-benar sekolah impian.
"Mereka akan mengigit nee-chan kalau tidak di abaikan." Sambil membenarkan headphone ku, aku memberi nasihat. Sayup-sayup terdengar suara Muse (icon kebanggaan Kerajaan Crypton) bersenandung merdu.
Luka-nee tersenyum ramah pada segerombolan manusia menjijikan dan membalas ucapanku.
"Perbaiki dulu sikapmu itu, baru aku dengarkan. Bagaimana dengan jadwal latihanmu? Apa di liburkan?"
Aku menggeleng kecil lalu menatap dedaunan berwarna gelap mulai berguguran, terbang tersapu angin, menari di udara sebentar sebelum jatuh menyapa tanah kering.
Musim gugur sebentar lagi berakhir. Aku benci dingin.
"Tidak. Latihan tetap berjalan seperti biasanya. Orang itu kan jelmaan iblis, aku mana punya waktu untuk bersenang-senang. Ha-ha." Aku tertawa hambar, kesannya suram.
"Ya, tidak di ragukan lagi. Kudengar semua misi mu di alihkan."
"Mm, begitulah." Aku meng-iya-kan sambil melirik Luka-nee yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. Tak lama, dia mengeluarkan si cerdas persegi panjang-handphone.
"Tumben tidak protes." Sindirnya.
Aku mendengus dan menggantungkan headphone ku di leher. Sementara Luka-nee mencoba menghubungi seseorang.
"Dia sudah kabur sebelum aku protes."
Tepat saat aku memberikan balasan, di depan sana dua pasang mata elang milik Griffin bersinar merah. Griffin adalah patung hewan penjaga pintu Gerbang Awal (pintu masuk utama Crypton Academy), memiliki sayap seekor elang dan kaki seekor singa.
"Aku duluan nee-chan ." Pamitku berlari-lari kecil meninggalkan Luka-nee dalam ritual jalan santainya.
Aku mendekati patung Griffin seperti yang dilakukan murid lainnya. Saat kami sudah berada di jarak tujuh meter dari Gerbang Awal. Patung Griffin akan mendeteksi lencana yang kami pakai lalu lingkaran sihir muncul secara ajaib di bawah kaki kami dan pilar cahaya membawa kami masuk melewati gerbang. Tanpa benar-benar melewatinya. Itu sihir teleport. Seperti itulah prosedur kami memasuki area sekolah. Tanpa lencana kami tidak akan bisa masuk.
Dan sebaiknya lupakan saja ide untuk menerobos masuk dengan paksa karena patung Griffin bukan sekedar hiasan biasa. Mereka bisa memakanmu.
Lagipula tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang ada di balik Gerbang Awal berlapis emas dan perak itu. Banyak rumor menyesatkan tentang apa yang tersembunyi di baliknya, mulai dari mansion mewah, tambang emas, pohon pencetak uang sampai hutan berlian. Sugoi.
Sama seperti Gerbang Awal. Pada dasarnya, letak keberadaan Crypton Academy sendiri tidak ada yang tahu dimana pastinya. Akademi ini seakan disembunyikan oleh sesuatu. Namun, sebagian orang meyakini kalau Crypton Academy berada di balik Gerbang Awal. Benarkah begitu?
Secara geografis, Gerbang Awal sendiri berada di sebelah timur batas Vocaloid City dan Gerbang Akhir berada di sebelah barat batas Vocaloid City. Sementara menurut peta dunia, Vocaloid City diapit oleh dua kota yaitu The Past dan The Future. Kota Kematian dan Kota Impian. Sama sekali tidak menjelaskan dimana letak pastinya.
Aku mendarat dengan selamat di taman labirin yang menjadi pembatas antara gedung tingkat menengah dengan gedung tingkat atas.
"Rinnnyyyy~ Ohayoouuuuu~ " Sapa Miki riang. Dia bukan teman sekelasku. Dia hanya orang aneh yang mengaku dirinya jenius dan ingin di panggil profesor.
"Miki! Jauhkan bunga itu dariku! Aku alergi serbuk... hatcuh... bunga... hatcuh." Disampingnya, teman beda kelas Miki. Miku Hatsune. Satu-satunya keturunan bangsawan Hatsune yang tersisa. Aku tidak mengenalnya. Hanya tahu namanya saja. Dia terlihat risih karena Miki tidak bisa diam dan terus memainkan bunga Poppy di tangannya.
"Kematian." Aku menoleh kesamping. Melihat Gumi menatap serius Miki. Dia teman sekelasku. Sekaligus sahabatku yang paling suka bernyanyi. Suaranya lembut dan menenangkan. "Arti bunga yang di pegang Miki-san ." Tambahnya.
"Kira-kira siapa ya yang sedang di ramalnya?" Teto muncul di belakang punggung Gumi. Dia bertanya sambil mengunyah roti. Dia sahabatku juga. Pandai bermain biola.
Yang dimaksud Teto adalah ramalan bunga. Miki terkadang tanpa sengaja meramalkan nasib seseorang melalui bunganya. Sayangnya, dia tidak tahu nasib siapa yang sedang diramalnya. Itu yang kudengar dari orang-orang. Dulu aku pernah menegurnya sekali karena kesal melihatnya selalu tertawa tidak jelas. Seharusnya dia marah ketika aku bentak tapi dia malah memberiku bunga. Aku berniat membuang bunga itu kalau saja Gumi tidak memberitahu aku arti dari bunga itu beserta namanya.
Hydrangea. Terima kasih sudah memahamiku.
Apa maksudnya? Apa dia meramalku? Atau hanya iseng?
Karena insiden itu, dia jadi sering menyapaku bahkan terkadang menempel. Merepotkan.
"Minggir." Nada ketus itu milik Len Kamine. Rivalku dalam berbagai hal. Dan dengan berat hati harus aku akui, dia teman sebangkuku sekaligus tetanggaku. Rumahnya tepat berada di samping rumahku.
Teto dan Gumi bergeser menjauh dariku dan memberinya jalan. Dia lewat begitu saja. Harga dirinya yang selangit melarangnya untuk mengucapkan terima kasih atau permisi. Ya ampun, padahal jalan di taman ini masih luas. Apa dia buta?
"Sudahlah, Rin-chan. Jangan melotot seperti itu atau kau bisa jatuh hati padanya." Canda Gumi merangkul bahuku. Aku mendengus.
"Dalam mimpi pun aku tak sudi." Sahutku keki.
"Bukankah seharusnya Kamine-san pulang dua hari lagi? Apa terjadi sesuatu dalam misinya?" Tanya Teto bingung.
"Mungkin dia membuat masalah." Tebakku asal.
"Dia tidak seperti kamu, Rin-chan."
Pip Pip Pip
Suara ponsel berdering, aku dan Teto spontan menoleh pada Gumi. Dia sedang mengotak-atik ponselnya.
"Kurasa tidak, Kamine-san... " Gumi menggeleng. "Ah, tidak, maksudku semua murid yang sedang menjalani misinya di paksa pulang oleh pihak Akademi. Kalian berdua bersiaplah, Navigator selanjutnya sudah di tetapkan." Gumi menunjukkan pesan yang baru saja di terimanya. Menjawab pertanyaan Teto.
"Ayo! Kita temui si Papan Cerewet. Dia pasti sedang meneriakkan nama-nama Navigator tiap divisi dengan suara sumbangnya." Teto menarik tanganku dan Gumi dengan semangat. Kulihat yang lain pun melakukan hal yang sama. Pergi menemui Papan Cerewet.
Papan Cerewet adalah papan pengumuman yang di pasang di Kantin Gabungan. Papan itu sudah ada sejak sekolah ini didirikan dan selalu mengocehkan isi pengumuman yang tertempel di badannya. Berkatnya, kami tidak perlu saling berdesakkan. Tapi, suara ocehannya sangat mengganggu. Papan itu sepertinya produk gagal karena selalu menambahkan komentar tidak perlu. Dia seperti punya pemikiran sendiri karena diberi mata, telinga dan mulut.
"Ada apa dengan Papan Cerewetnya? Apa dia rusak?" Tanya Gumi bingung menemukan Papan Cerewet meraung bahagia. Papan cerewet itu mungkin sudah mencapai batas pemakaiannya.
Sebagai gantinya, murid tingkat atas dengan sihir suaranya, bernyanyi membacakan pengumuman. Suaranya yang merdu bergema ke seluruh penjuru Kantin.
Gumi yang tidak enak namanya disebut sebagai Navigator divisi Alexandrite pun ikut bergabung membantu si penyanyi (aku tidak tahu siapa dia dan terlalu malas mencari tahu) menyebarkan pengumuman. Suaranya membaur dengan suara si penyanyi namun bedanya di sekeliling Gumi banyak not not melodi penuh kilauan menari mengikuti irama. Dua lingkaran sihir bersinar di bawah kaki mereka. Perlahan mulai terdengar suara nyanyian di beberapa titik. Tanpa disuruh, semua anggota Alexandrite kompak bernyanyi. Jiwa pendukung mereka sedang terusik. Kantin gabungan ini menjadi lebih bersinar dari biasanya. Kami semua diselimuti serbuk cahaya. Efek dari lingkaran sihir mereka.
Di Crypton Academy, kami semua dibagi ke dalam 12 divisi sesuai dengan karakter sihir tiap individu. Dikenal dengan nama 12 Permata Crypton.
1. Divisi Diamond, dinavigatori oleh Lenka Kagamine (aku mengenalnya sebagai teman Luka-nee ). Divisi ini diisi oleh para penyihir analisa. Sihir mereka rata-rata digunakan untuk mengungkap kebenaran. Mereka ahli mencari jejak. Kecintaan mereka terhadap lingkungan tidak membiarkan satu tikus pun berhasil lolos setelah melakukan tindak kejahatan.
2. Divisi Alexandrite, dinavigatori oleh Gumi Megpoid (sahabatku yang sedang bernyanyi). Divisi ini diisi oleh para penyihir pendukung. Mereka tak pernah melakukan misi seorang diri. Kemampuan sihir mereka adalah ketenangan jiwa.
3. Divisi Pink Tourmaline, dinavigatori oleh SF-A2 Miki (aku terkejut dia bisa dipilih menjadi navigator). Divisi ini diisi oleh penyihir penghasut. Paling pandai mencari informasi dengan cara membuat pikiran target menjadi kacau.
4. Divisi Shappire, dinavigatori oleh Len Kamine (Rival shota-ku). Divisi ini diisi oleh penyihir berbahaya. Tugas mereka hanya satu yaitu mengeksekusi target di tempat (cocok untuknya yang tak punya perasaan).
5. Divisi Ruby, dinavigatori oleh Rin Kagami (aku sendiri). Divisi ini diisi oleh penyihir gila tempur. Tidak peduli lawannya kuat atau lemah, mereka tidak akan mundur dari misi yang sudah diberikan sekalipun harus mempertaruhkan nyawa.
6. Divisi Aquamarine, dinavigatori oleh Miku Hatsune (kudengar dia sering disebut nona es). Divisi ini berisi penyihir kemampuan bertahan. Keperibadian mereka paling disegani karena sopan layaknya bangsawan (tidak cocok untukku).
7. Divisi Blue Topaz, dinavigatori oleh Luka Kagami (kakak ku). Divisi ini berisi penyihir pemulihan. Paling anti terhadap kekerasan (sangat bertolak belakang denganku).
8. Divisi Amethyst, dinavigatori oleh Gakupo Kamui (dia teman Luka- nee dan sedang dalam masa pendekatan). Divisi ini berisi penyihir pemurnian. Mereka meracik berbagai jenis ramuan.
9. Divisi Emerald, dinavigatori oleh Teto Kasane (sahabatku yang sekarang memelukku penuh haru karena namanya disebut). Divisi ini berisi penyihir penemuan. Mereka pandai mencari barang langka/hilang.
10. Divisi Citrine, dinavigatori oleh Kaito Shion (aku tidak tahu siapa dia). Divisi ini berisi penyihir penciptaan. Mereka melakukan penelitian terhadap banyak hal dan menciptakan berbagai macam benda sihir.
11. Divisi Garnet, dinavigatori oleh Piko Utatane (aku tak mengenalnya, kudengar dia seorang model). Divisi ini berisi penyihir perubahan. Mereka ahli dalam menyamar.
12. Divisi Peridot, dinavigatori oleh Rei Kagene (aku tak mau mengenal orang ini, dia narsis). Divisi ini berisi penyihir dengan tingkat kepercayaan diri tinggi. Dianugrahi wajah yang rupawan dan kemampuan memikat hati.
"Luka-san ~ aku senang kamu jadi navigator kami. Kita beruntung Putri Alam sepertimu masuk divisi Blue Topaz."
Aku tersenyum tipis melihat Luka-nee mendapat sambutan hangat dari teman-temannya. Mereka menyebutnya sebagai Putri Alam. Julukan itu diberikan pada Luka-nee karena sihir pengobatan yang dimilikinya. Sangat cocok untuknya. Mirip dengan karakter dalam buku yang diberikan pelatih. Tokoh utama dalam buku itu juga di beri julukan Putri Alam. Mereka sama-sama berperan sebagai penolong.
"Maaf membuat kalian menunggu." Gumi mengatupkan kedua tanggannya. Dia baru selesai bernyanyi dan mengucapkan terima kasih pada angota satu divisinya.
Teto langsung menerjangnya, "Aku senang kita semua terpilih. Kupikir aku tertinggal." Katanya dengan mata berkaca-kaca.
"Errr... sebenarnya aku pun tidak menyangka bisa terpilih." Gumi mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah. Ayo kita rayakan di kelas. Hari ini aku bawakan makanan favorit kalian."
Denting! Denting!
Aku bisa mendengar suara mata Teto bersinar. Apa aku berhalusinasi?
"Ayo! Tunggu apa lagi?! Kita rayakan keberhasilan kita!"
Teto dengan semangat membawa lari Gumi. Aku menggeleng kecil dan berjalan mengikuti mereka. Namun, suara papan cerewet yang sedang menangis bahagia (entah karena apa) menghentikan langkahku.
────Aku senang anda masih hidup... Nightmare.
"Rin-chan! Cepatlah!" Teto kembali dan menarik tanganku sementara tatapanku mengarah pada papan cerewet. Dia tersenyum ke arahku. Aku menunduk dan menarik balik tangan Teto yang kebingungan melihat perubahan sikapku.
Kuharap aku salah dengar. Papan itu tidak mungkin tahu tentangku. Dia hanya benda sihir yang dibuat puluhan tahun yang lalu. Dia tidak mungkin tahu.
"Rin-chan , kau baik-baik saja?" Tanya Gumi khawatir. Aku menatapnya kaget. Sekarang aku, Teto dan Gumi berada di ruang 7. Kelas kami saat dalam pelajaran umum.
"Kau menjadi aneh setelah keluar dari kantin. Ada apa?" Tambah Teto.
"Benarkah? Mungkin itu cuman per-"
"Kami mencari Rin Kagami! Apa dia ada?" Potong seseorang. Kutebak dia anggota divisiku.
Gumi hendak buka suara namun aku mencegahnya. Aku berdiri dan menghampirinya. Dia berdiri di ambang pintu masuk.
"Dia ada di hadapanmu." Kataku datar.
Orang itu dengan tidak sopannya menilaiku. Melihatku dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Cih, biasa saja." Cibirnya.
"Aku menantangmu bertanding Dodgeball !" Jari telunjuknya menunjuk hidungku. Aku mendengus. Anggota divisiku memang seharusnya seperti ini. Berani dan pemberontak.
"Boleh. Siang hari. Aku tunggu di Arena Penentuan." Setuju ku, menyingkirkan jari telunjuknya. Kami pun berjabat tangan membuat kesepakatan.
"RIN-CHAN ! KAU SUDAH GILA!" Pekik Gumi dan Teto tidak kudengar.
-o0o-
The Rules
-o0o-
[Normal POV]
'Bagaimana? Apa sudah selesai?' Tanya Miku lewat telepati pada seseorang. Matanya menatap datar tubuh Kaito yang terkulai lemas, duduk satu meja dengannya. Mereka sedang berada di rumah kaca. Salah satu fasilitas Crypton Academy.
'Ya, aku kembali sekarang.' Jawab sebuah suara dalam pikirannya.
Miku mengambil cangkir tehnya yang sudah kosong dan mengulurkannya ke arah Kaito.
"Tuangkan!" Perintahnya mutlak.
Tubuh Kaito yang awalnya terlihat tak bernyawa, perlahan bergetar kecil dan nampak lebih hidup dari sebelumnya. Miku sangat yakin kalau jiwa Kaito sudah kembali sepenuhnya. Makanya dia dengan penuh rasa percaya diri memberinya perintah.
Kaito menggerakkan kepalanya sebentar, menghilangkan rasa pusing lalu membenarkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser akibat menunduk berjam-jam. Kemudian dengan cekatan, tangannya meraih teko dan menuangkan isinya layaknya seorang butler.
"Terima kasih sudah menjaga tubuhku, Miku." Katanya tersenyum tipis dan meletakkan kembali teko teh itu ke tempatnya.
"Langsung saja. bagaimana hasilnya?" Miku menghirup aroma teh rasa negi kesukaannya sebentar, lalu meminumnya.
"Akan kuberitahu nanti jika mereka sudah tiba disini." Jawab Kaito sambil menggerakkan jarinya di atas meja membentuk pola rumit.
"Biar aku saja." Ucap Miku menghentikan gerakan jari Kaito. Dia menatap isi cangkir tehnya yang menampilkan bagian luar rumah kaca mulai dilapisi selimut tipis. Dia menggantikan Kaito membuat barrier agar tidak ada satu orang pun bisa mendekati rumah kaca atau menyelinap masuk dengan niat menguping. Tak jauh dari tempat Miku duduk, kuncup bunga tulip orange mekar.
"Hoaaaammm, ada apa memanggil Miki, Kai-chan ?" Tanya Miki mengantuk. Tangannya menyingkap salah satu kelopak bunga tulip, menampilkan sosoknya yang seukuran ibu jari.
"Yeey, Miki orang pertama yang sampai ~" Soraknya senang lalu melompat turun dan mengubah tubuhnya ke ukuran semula.
Kemudian dia berceloteh banyak tentang pengalamannya memberi sambutan pada anggota divisinya. Miku hanya diam, tak menanggapi semua kebohongan Miki. Dia ada di tempat kejadian saat Miki menjahili anggota divisinya. Tidak ada sambutan hangat atau apa pun yang sedang Miki ceritakan. Kaito? Dia terlalu sibuk untuk mendengar cerita Miki, tapi kepalanya sekali-kali mengangguk, pura-pura menanggapi.
"Apa kami terlambat?" Tanya Piko datang bersama Len dan Rei. Dia langsung mengacak gemas surai merah kekasihnya dan duduk disampingnya.
"Pi-chan telat tujuh menit. Dari mana saja?" Tanya Miki dengan nada lucu sambil merapihkan rambutnya.
"Hum? Aku habis mengatur ulang jadwalku. Bukankah kamu yang memintaku libur satu minggu, Cherry?" Miki nyenyir dan mengangguk semangat. Disamping kirinya, Miku mendengus geli mendengar percakapan manis Miki dan Piko.
"Kau sudah mendapatkan datanya?" Tanya Len langsung. Dia menempatkan dirinya di bawah pohon. Sementara Rei mendesah pelan karena kehabisan tempat duduk. Dia melompat ke atas pohon yang di jadikan tempat sandaran oleh Len.
"Ya, kurang lebih begitu. Tidak banyak yang berhasil kudapatkan. Tapi, kurasa ini cukup membuktikan kalau dia orang yang selama ini kita cari." Kaito menggerakkan jarinya di udara. Layar kotak kecil dengan sinar kecoklatan muncul menampilkan data yang berhasil di dapatnya.
"Aku sudah mencocokkan dna nya dengan keluarganya yang sekarang. Hasilnya seperti yang kita duga selama ini, dna nya tidak cocok. Aku memang tidak bisa menemukan penyebab perbedaan umurnya dengan kita. Tapi, aku menemukan reaksi gelombang Flame of Red disekitar wilayah y, dekat dengan kediaman utama mereka. Aku sudah menyelidikinya dan tingkat kecocokkannya 99%. Bagaimana menurut kalian? Apa aku perlu menyelidikinya lebih lanjut?" Kaito mengakhiri penjelasannya dan menatap satu persatu temannya.
Rei bersiul kagum dengan kemampuan Kaito yang mirip seperti seorang detektif, tidak melewatkan sedikit pun bagian terkecil. Piko hanya menatap bingung setiap layar yang dimunculkan Kaito, dia bahkan tidak bisa membaca isinya. Jadi, bagaimana caranya dia memberi pendapat? Pikirnya.
Disampingnya, Miki sudah melanjutkan acara tidurnya sejak Kaito memulai penjelasan, tidak peduli dengan hawa panas di samping kirinya. Baginya penjelasan Kaito terdengar seperti sebuah dongeng pengantar tidur. Kasihan Kaito.
"Aku sudah yakin. Tidak ada yang perlu di ragukan lagi." Jawab Miku dengan telinga berkedut kesal mendengar suara dengkuran Miki menyebut nama-nama bunga. Bahkan dia bisa melihat bunga Poppy di saku rok Miki (yang berusaha disembunyikannya) sedikit menampakkan diri. Miku langsung bersingut menjauhkan kursinya dan menelan pil anti alergi.
"Bagaimana dengan pergerakkan mereka?" Tanya Len dengan mata terpejam. Kaito langsung menggerakkan jarinya di udara dan memunculkan layar baru, membuat mata Piko semakin berputar tidak mengerti. Mungkin sebentar lagi kepalanya bisa mengeluarkan asap.
"Jika perhitunganku tidak meleset. Mereka akan bergerak sekarang. Aku menemukan gelombang sihir tak biasa sedang mendekat kemari. Selain itu, aku juga menyempatkan diri menyusup masuk istana dan disana ada sesuatu yang sedikit menganggu pikiranku." Kaito menghentikan penjelasannya dan menatap Len seakan meminta persetujuan.
"Apa itu?" Tanya Miku keki melihat keraguan Kaito. Apa dia menganggapnya sebagai orang asing sehingga enggan menjelaskan padanya? Dan kenapa harus meminta persetujuan dari Len?
"Pasukan Putih. Aku lihat mereka sedang berkumpul dan sepertinya sedang bersiap untuk berperang." Jawab Kaito setelah mendapat anggukan dari Len.
Rei hampir jatuh dari pohonnya saat mendengar jawaban Kaito. Di bawahnya, Len menatap tajam Kaito yang sedang memijit pelipisnya. Miku tidak berkomentar apapun, mulutnya terlalu kaku untuk bersuara. Sementara Piko menatap Kaito tak percaya.
"Pasukan Putih?! Kau yakin? Mungkin ini cuman kebetulan. Mereka mungkin sedang menyiapkan hal lain. Bukankah tujuh tahun sekali mereka selalu mengadakan ritual pembersihan." Sahut Piko berusaha tenang namun gagal. Suaranya terdengar bergetar.
"Sangat yakin. Kuharap mereka bukan alasannya menghilang tujuh tahun yang lalu. Aku mulai berpikir ritual pembersihan yang mereka lakukan selama ini hanyalah kedok untuk memburu sang Putri Alam. Kita semua tahu, kalau pembersihan yang mereka lakukan tujuh tahun yang lalu gagal dan bencana itu akan menyapa tempat ini, cepat atau lambat alam akan mengabarkan keberadaan kita."
Rei melompat turun dan menyilangkan tangannya di belakang kepala.
"Bisa kita pikirkan itu nanti? Kita bisa terlambat menjemput sang Putri kalau terus membahas ini. Oh, ngomong-ngomong boneka tiruanku mendapatkan sesuatu yang menarik. Di Arena Penentuan sedang berlangsung pertandingan seru." Katanya santai dengan senyum ciri khasnya.
"Kaito, cari tahu kebenaran peristiwa tujuh tahun yang lalu kalau perlu kau bisa mengusik seseorang yang sudah tenang di alamnya." Perintah Len yang langsung mendapat anggukan setuju dari Kaito. Rei dalam hati mengerutu, dia tidak pernah suka dengan sikap Len yang berlaga seperti seorang pemimpin.
"Bersiaplah untuk perkenalan ulang. Kita bergerak sekarang." Lanjutnya dengan seringai misterius dan beranjak pergi, meninggalkan Rei yang manyun tujuh senti.
.
.
.
Dodgeball adalah permainan lempar bola yang dimainkan oleh dua tim dengan cara melempar bola ke arah lawan sehingga lawan yang terkena lemparan bola dinyatakan kalah dan harus keluar dari arena. Lain ceritanya jika berhasil di tangkap, si penangkap dinyatakan aman dan bola berpindah ke tangannya. Namun, seiring berjalannya waktu, permainan ini diubah menjadi pertandingan kehormatan oleh para murid Crypton Academy. Mereka membuat pertandingan ini sebagai alat pengambilan keputusan jika terjadi perbedaan pendapat atau ketidaksetujuan akan suatu hal.
Pihak Academy sendiri memberi izin resmi terhadap kompetisi ini karena terbukti sangat efisien dan efektif dalam menyelesaikan masalah di antara para murid. Seperti masalah yang sedang dihadapi divisi Ruby. Anggota mereka tidak menerima Rin Kagamie sebagai Navigator-nya. Rin yang menerima tantangan mereka pun diharuskan melawan mereka seorang diri. Dia memantulkan bola di tangannya dengan tenang menatap puluhan lawan yang balik menatapnya waspada.
Suara pendukung dan caci maki melebur di udara menjadi satu, memperpanas arena yang sudah membeku.
Ada tiga kondisi kemenangan yang harus dipenuhinya yaitu eliminasi, waktu dan skor.
Pertandingan tidak seimbang ini harus dimenangkan oleh Rin dengan cara mengeluarkan seluruh anggota divisi Ruby dalam waktu dua jam. Puluhan anggota divisi diberi nilai 1, sama seperti dirinya yang juga bernilai 1. Jadi, jika dia berhasil menendang keluar mereka semua dalam batas waktu yang di tentukan maka skor teringgi berada di tangannya. 1-0. Begitu juga sebaliknya, jika Rin berhasil dikeluarkan oleh mereka. Dia yang kalah dan harus menerima dirinya digantikan oleh orang lain yang menurut mereka pantas.
Baru satu jam permainan berlangsung, Rin sudah berhasil menendang setengahnya keluar arena.
"Rin-chaaannnnnn ! Tunggu apa lagiiiiiii?! Cepat habisi merekaaaaaa! Musim dingin belum saatnya tiba tahuuuuu!" Teriak Gumi dari bangku penonton dengan tubuh menggigil. Sekali-kali kedua telapak tangannya bertemu, mencari kehangatan. Matanya menatap kagum divisi Ruby yang sama kedinginan seperti dirinya masih berdiri kokoh. Gumi tidak bisa membayangkan dirinya berada di dekat Rin seperi halnya mereka. Dia mungkin akan mati membeku. Sihir esnya keterlaluan. Rin seharusnya tidak perlu membekukan bangku penonton juga kan? Pikir Gumi antara ingin marah atau memberinya semangat.
"Hum? Rinny bisa mati kalau terus seperti ini. Nee, Gu-chan , mau Miki hangatkan~?" Ucap Miki langsung memeluk Gumi yang terkejut dengan kehadirannya. Dia meronta-ronta dan mendorong Miki menjauh.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" Tanya Gumi bingung mencemaskan kondisi Rin. Apalagi yang barusan bicara hal mengerikan itu Miki. Orang yang daripagi membawa bunga Poppy di tangannya hingga sekarang. Miki terkekeh dan menatap lemparan bola Rin seperti roket. Melesat cepat dan penuh semangat membantai.
"Sejak awal permainan, Rinny baru mengambil napas satu kali. Dia sama seperti Gu-chan. Rinny kedinginan namun di tahannya dengan cara tidak terlalu banyak mengambil napas. Udara dingin yang dihirupnya bisa menyebabkan jantungnya ikut membeku. Kira-kira disekitar Rinny udara dinginnya mencapai -10." Jelas Miki dengan nada lucu disertai tawa cerianya.
Gumi menatap tidak percaya pada Rin. Sementara Teto yang seharusnya berada disampingnya sudah menghilang, menyisakan sebungkus roti. Dia tengah berlari terburu-buru ke bagian bawah bangku penonton.
"Luka- senpai! Tolong hentikan pertandingan ini! Jika dilanjutkan... Rin-chan... dia bisa..." Ucapnya terputus-putus pada Luka yang sedang mengobati para anggota divisi Ruby yang mengalami cedera ringan.
Luka melirik Teto sekilas lalu mulai melilitkan perban pada lengan yang menjadi pasiennya. "Biarkan saja. Kau tak perlu khawatir. Udara dingin tidak akan membuatnya mati. Dia terlalu keras kepala untuk menyerah. Lagi pula, dia tidak akan menerima tantangan ini jika kemungkinan menangnya tipis."
Teto merosotkan tubuhnya mendengar jawaban acuh tak acuh Luka. Dia tidak menduga Luka akan membiarkan adiknya sendiri dalam bahaya. Menurutnya, seberapa kuat pun seseorang, ada saatnya dimana mereka harus menyerah dan meminjam kekuatan orang lain. Rin tetaplah manusia biasa yang tidak bisa berdiri sendiri. Dia butuh pertolongan. Apalagi dia harus melawan orang sebanyak itu. Staminanya bisa terkuras habis. Dia akan kalah.
"Kau sahabatnya kan?" Tanya Luka tiba-tiba mengejutkan Teto. Teto mengangguk mengiyakan dan menerima sekaleng coklat hangat. Luka menawarkan Teto duduk di bangku sebelah ujung sana. Dia sudah selesai mengobati para korban keganasan adiknya.
"Kalau begitu, kau harus percaya padanya. Dia sedang berperang melawan waktu. Umurnya yang lebih muda dari yang lainnya pasti sangat menyulitkannya. Apalagi dengan reputasinya yang buruk. Sudah sewajarnya mereka menolak dipimpin olehnya. Tenang saja, Rin tidak mengincar kemenangan sampai harus membahayakan nyawanya . Dia hanya ingin diakui. Dia tidak serius mengirim semua anggota divisinya ke rumah sakit. Aku mendengar banyak pujian dan terima kasih dari mereka." Luka menatap para pasiennya.
"Satu persatu orang yang berhasil dikalah oleh Rin mengakui kemampuannya. Memang agak sulit menjadi bagian divisi Ruby yang berpegang teguh pada hukum rimba dimana yang kuat dialah yang berkuasa. Lagi pula divisi itu hanyalah kumpulan anak-anak nakal yang suka berkelahi." Jelasnya mencoba menenangkan sahabat adiknya yang terlihat shock mendengar nada ketusnya tadi. Dia kelepasan dan menyesal memperlihatkan sikap alaminya pada gadis serapuh Teto.
Teto terkekeh mendengar gurauan Luka di akhir kalimatnya dan kebetulan manik merahnya menangkap sepatu kats milik sahabat kuningnya melayang indah. Rin melempari anggota divisinya yang bermain tidak benar. Dia berteriak dan memaki sambil membenarkan tiap kesalahan yang dilakukan anggota divisinya. Dia sudah salah paham pada Luka. Apa yang dikatakan Luka memang benar. Rin tidak mungkin repot-repot memberi saran jika yang dia incar adalah kemenangan.
Dan yang mengkhawatirkan Rin bukan dia saja. Sebagai seorang Kakak, Luka juga merasakah hal yang sama seperti dirinya.
'Rin pasti akan baik-baik saja'. Pikir Teto tenang.
"Sudah tenang sekarang, Teto-chan?" Tanya Gumi tiba-tiba menjitak gemas kepala merah Teto. Yang dijitak hanya tersenyum dan menunjukkan jarinya yang dibetuk huruf 'v'.
Luka berdiri dan beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua. Gumi dan Teto cepat-cepat membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
"Makanya, jangan lari tiba-tiba!" Nasihat Gumi menempatkan dirinya di tempat yang Luka duduki sebelumnya. Teto meringis dan bergumam maaf.
Mereka kembali berteriak memberi semangat Rin. Pertandingan hampir mencapai puncaknya. Waktu yang tersisa tinggal tujuh belas menit dengan jumlah pemain yang harus Rin tendang sebanyak tujuh belas orang. Mendekati menit-menit berharga, gerakan mereka (lawan Rin) terlihat lebih baik dan luwes. Rin sedikit menyesal telah membenarkan tiap kesalahan yang mereka lakukan sepanjang pertandingan berlangsung. Mulai dari sikap tangan, posisi kaki, jari, badan, kuda-kuda dan masih banyak kesalahan lainnya. Semuanya Rin benarkan dalam satu teriakan dan makian. Dibanding bertanding, mereka lebih terlihat sedang berlatih. Batin para penonton yang baru sadar.
"Hoo, apa sudah lelah? Ingin menyerah? Atau ingin coklat hangat?" Ejek Rin melihat lawannya terengah-engah dengan mata memincing tajam. Dia memutar bola dengan jari telunjuknya. Dalam hati dia ingin tertawa melihat jejak sepatu di kening salah satu lawannya. Setidaknya perkembangan yang mereka perlihatkan tidak membuat sepasang sepatunya terbuang sia-sia.
"Tidak akan! Sebelum kami berhasil mengalahkanmu!" Jawab salah satu lawannya sengit. Rin menyeringai senang melihat tangan lawannya terangkat ke atas dan lingkaran sihir terbentuk. Orang itu siap menyerangnya.
"Jawaban yang bagus. Aku akan kecewa jika kalian menyerah disini. Lagi pula, aku tidak mau punya anggota lemah dan pengecut." Balasnya.
Pijakan di kakinya melemah dan terdengar suara retakan. Dengan cepat Rin melakukan salto ke belakang sebanyak tiga kali, menghindari jarum-jarum kecil yang muncul di balik es. Bola di tangannya berhasil dipertahankan. Ini memang bukan permainan dodgeball biasa. Disini lawan yang tidak bisa bangkit setelah terkena serangan bolalah yang harus keluar arena. Singkatnya, ini adalah pertarungan habis-habisan.
"Bo-A-apa itu?" Kejut Rin melihat seekor peri menari dihadapannya dan berkata 'mereka kembali'. Dia terjengkang kebelajang dan bolanya menggelinding bebas.
Rin mengernyitkan alisnya bingung menemukan lawannya mundur secara teratur dengan mulut tergagap. Mereka menatap Rin dengan wajah pucat pasi seolah dibelakangnya ada naga yang sedang mengamuk dan hendak memakannya. Suara penonton juga tidak terdengar lagi. Mendadak sekelilingnya menjadi hening.
'Memangnya dibelakangku ada apa sih? Tidak mungkin...' Rin memutar kepalanya patah-patah berharap di belakangnya bukan Kiyoteru (guru tergalaknya). Jika iya, habislah dia.
"La-labirinnya... hidup?" Tanya Rin tidak percaya melihat labirin (yang menjadi batas antara gedungtingkat atas dan menengah) semakin tumbuh tinggi sehingga bisa terlihat dari arena penentuan yang seharusnya tidak terlihat.
Disekeliling laribirin, ribuan peri menari sambil mengucapkan 'mereka kembali' berulang kali seperti mantra.
Ini sih lebih parah dari Kiyoteru-sensei!
Ngingggggggg!
Terdengar suara nyaring di langit. Semua orang spontan menutup telinga. Rin merasakan pirasat buruk, sesuatu akan terjadi dan dugaanya terbukti benar saat melihat angka '00.17.00' di langit bergerak mundur.
Telinganya bisa mendengar suara teriakan panik dari berbagai arah setelah keheningan sesaat tadi. Para murid mulai berlarian, kilaun cahaya terlihat dimana-mana dan menghilang dalam sekejap.
Suara nyaring tadi adalah tanda peringatan kedatangan pasukan putih. Pasukan putih adalah tim Pemerintah yang bertanggung jawab terhadap fenomena alam. Mereka hanya punya waktu 17 menit untuk kembali ke dalam gedung. Satu-satunya tempat yang dinyatakan aman. Jika mereka tertangkap berkeliaran di luar gedung oleh pasukan putih, mereka akan di bawa pergi dan kembali dalam kondisi tak utuh. Kesimpulan itu di dapat dari kakak kelas yang pernah tertangkap dan mengalami trauma panjang.
Luka membantu para murid yang tidak bisa menggunakan sihir teleport, dia membuat portal yang bisa men-teleport mereka langsung ke gedung masing-masing. Manik biru teduhnya mencari keberadaan Rin yang dilihat terakhir kalinya terpaku menatap labirin. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Gakupo berlari tergesa-gesa dan meneriakkan namanya. Dia meraih tangan Luka yang kelelahan dan segera melakukan teleport.
Teto dan Gumi berdesakan membelah arus kepanikan. Mereka mencoba naik kebangku penonton, mencari jejak sahabatnya dilapangan. Gumi sempat melihat Rin melempar bungkusan merah muda (yang diyakini Gumi berisi koin teleport ) pada anggota divisinya lalu pergi entah kemana. Rin tidak mungkin menggunakan kedua kakinya untuk kembali ke gedung tingkat menengah dalam waktu singkat terlebih jaraknya sangat jauh. Dia tidak punya kaki secepat dan sekuat kuda. Dalam hati pun Gumi masih sempat mengeluhkan kekurangan sahabatnya itu dan merutuki luasnya akademi.
Waktu yang tersisa tinggal 7 detik lagi. Arena penentuan mulai kosong. Sosok Rin masih belum di temukan. Teto menggeleng dan menggengam tangan Gumi. Mereka punmelakukan teleport.
00.00.00
Waktu habis.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
.
Ada yang sudah baca The Rules versi Awal? Maaf, kalau kesannya beda tapi intinya sama kok xD
Alurnya di buat cepat, habis yang kemarin terlalu lama, gomen ~ :'v
Setahun terbengkalai, gaya penulisan saya berubah dan nggak bisa beradaptasi/?/oi
Mohon maaf, kalau artian bunganya ada yang beda dengan yang kalian ketahui karena saya sendiri tahu dari g*ogle, ha-ha
Terima kasih sudah menunggu dan bersedia membaca.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ... ^^ /
