.
.
.
.
.
.
.
Aturan Ketiga: Memakan atau Dimakan!
Disclaimer:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Warning:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
The Rules
.
.
.
.
.
.
.
[Normal POV]
"Aku peringatkan. Mereka akan menangkapmu jika tempat ini membeku."
Sosok gadis berbusana gothic mendengus jengkel. Kilauan matanya memancarkan aura membunuh. Tangannya terkepal kuat. Berusaha meredam kebenciannya. Jika ini bukan hari yang penting. Dia tidak akan pernah mau menginjakkan kakinya di istana.
"Apa aku terlihat bodoh dimatamu?" Suaranya sedikit tertahan. Tak mudah menghapus kebencian disaat sumber kebencian itu sangatlah dekat. "Bilang saja kalau kau merasa kedinginan." Sarkasnya disambut tawa indah yang mengalun merdu.
"Pangeran matahari merasa kedinginan?"
Sosok mirip boneka prancis itu bertanya nakal.
"Benar-benar lelucon yang bagus putri perang. Kau mengkhawatirkan orang yang salah."
Imbuhnya dengan nada main-main. Kristal biru toska miliknya berkilat jenaka. Bibir tipisnya mengukir senyum halus. Bertentangan dengan kata-katanya yang sinis dan dingin.
Kalau saja lawan bicaranya adalah gadis cengeng. Sudah bisa dipastikan, dia akan menangis ketakutan. Tapi, tidak untuk Rin Kagami. Putri bungsu bangsawan Kagami. Putri yang dilatih dalam medan perang. Penuh dengan kekejaman dan kesadisan.
Kata-kata itu... ditelinganya bagaikan sebutir kerikil. Tak berarti sama sekali.
"Aku benci wajah palsu mu itu, nona negi. Kau bisa menjauh dariku jika takut teh kesayanganmu membeku atau kalau kau mau, kita bisa bertukar tempat. Pangeran matahari mungkin bisa membuat tehmu mencair." Balasnya tak kalah tajam.
Aura permusuhan terlihat jelas diantara mereka. Gumi menggelengkan kepalanya. Jika terus di biarkan, mungkin tujuh menit ke depan, dia bisa melihat putri perang mengangkat pedang esnya seakan istana ini adalah medannya untuk berperang.
"Jangan memulai, Rin-chan. Ini hari penting. Banyak penguasa atas yang hadir." Katanya tegas sekaligus mengingatkan kalau hari ini adalah hari penilaian Navigator.
Ya, mereka semua masih calon navigator, sekalipun tugas pertama sudah mereka dapat. Tapi, jika tidak ada pengakuan sah dari para penguasa atas, mereka belum bisa dinyatakan sebagai navigator sepenuhnya.
Dan inilah harinya... hari dimana mereka akan dinilai oleh seluruh penguasa atas yang ada di kerajaan Crypton yang terbagi ke dalam tiga tingkatan yaitu:
Tingkat satu untuk Pilar Raja. Pondasi utama kerajaan Crypton yang memegang kendali penting di kerajaan. Tujuh bangsawan terkenal yang menguasai kota-kota besar dengan kemampuan mereka yang hebat.
Tingkat dua. Penguasa perbatasan. Umumnya terdiri dari bangsawan yang memiliki kemampuan militer dan bermukim di sekitar daerah perbatasan.
Terakhir, tingkat tiga. Penguasa daerah. Bangsawan yang mengawasi daerah-daerah kecil.
"Apa kau tidak malu dengan Miki-san. Lihat dia..."
Rin melirik ke arah Miki. Satu hembusan keki dia keluarkan. Gumi benar. Ini bukan waktunya untuk meninggikan egonya.
Miki yang tiap harinya terlihat seperti cacing kepanasan saja bisa diam seperti mayat yang sudah diberi formalin.
"Sebaiknya kau kenakan topeng mu. Sebentar lagi nama kita dipanggil." Nasihat Teto menatap kosong pintu raksasa dihadapannya.
Hatinya berdecak kagum pada ornamen bunga sakura dan matahari (simbol kerajaan) yang terukir di pintu raksasa tersebut.
Indah dan misterius.
Tidak jauh berbeda dengan gerbang awal dan gerbang akhir.
Takut-takut kepalanya menengadah ke atas. Matanya menyipit seakan sedang berusaha melihat sesuatu. Namun hanya awan putih dan langit biru yang bisa tertangkap oleh manik merahnya.
Tidak ada istana melayang yang sering di dongengkan ibunya setiap malam.
Rin melihat ke sisi kanannya, mendapati Lenka (seniornya) sudah memakai topeng kucing hitam lalu ke sisi kiri, hanya untuk memastikan kalau kakaknya sudah memakai topeng yang serupa dengannya.
"Oh, aturan. Aku benci." Keluhnya pelan. Memakai topeng rubahnya.
Hanya mereka bertiga yang mengunakan topeng. Atau lebih tepatnya, dua bangsawan. Kagamine dan Kagami.
Mereka di wajibkan mengenakan topeng. Entah untuk alasan apa, Rin tak pernah tahu dan tak pernah ingin tahu. Dia merasa cukup dengan informasi kalau dirinya akan di gantung jika tidak mengenakan topeng rubahnya disaat acara penting. Contohnya seperti sekarang.
Suara decitan pintu terbuka terdengar. Aroma musim semi dan musim panas berbaur menjadi satu memenuhi indra penciuman dua belas permata crypton. Karpet merah terbentang luas mempersilahkan mereka masuk.
Yang pertama melangkah adalah Lenka Kagamine.
Putri pertama keturunan sah bangsawan Kagamine.
Tidak ada sorakan yang menyambutnya ketika ia mulai berjalan di atas karpet merah, semua orang seakan tersihir oleh auranya yang lembut dan elegan.
Seperkian detik, mereka mengerjapkan matanya kaget.
Antara percaya tidak percaya saat sosok yang anggun itu berubah menjadi gadis kecil dengan aura cerianya.
Pasti itu cuman perasaan mereka saja. Lagipula, sebagian dari mereka yang duduk di kursi kebesaran mengenalnya. Apalagi dengan nama belakangnya. Kagamine.
Sudah bisa di pastikan kalau sihirnya adalah perintah absolut.
Gumi meneguk ludahnya dalam saat menerima aura intimidasi dari para penguasa atas. Sekarang adalah gilirannya. Dia mengambil napas dan mulai melangkah melewati pintu raksasa yang akan mengujinya.
Suara nyanyian mengiringi langkah ringannya. Kepercayaan dirinya mulai bangkit seirama dengan not not melodi yang menari di sekitarnya.
"Kurasa kita tahu siapa yang akan menjadi Muse berikutnya."
Lenka tersenyum lembut seakan memberi selamat pada Gumi.
Membalas senyum Lenka, Gumi menempatkan dirinya di samping Lenka.
Tak lama, tercium aroma bunga segar. Bunga yang tumbuh di atas rerumputan hijau.
Tidak akan ada yang percaya kalau aroma menyegarkan itu berasal dari Miki yang berjalan kaku.
Penguasa atas terlihat menilai Miki dengan teliti. Jenis sihir apa yang dia miliki karena baru kali ini mereka melihat reaksi seperti ini. Reaksi yang begitu alami.
Mirip seperti bunga itu sendiri. Sihir bunga.
Sihir yang sudah lama punah.
"Hipnotis rupanya." Komentar salah satu penguasa atas, menepis kemungkinan yang tak masuk di akal tadi.
'Hampir saja ketahuan.' Batin Miki merilekskan tubuhnya. Namun, tubuhnya kembali menegang saat udara disekitarnya terasa panas.
Len menapaki karpet merah dengan langkah tegap seakan menatang para penguasa untuk berduel dengannya.
Tidak ada yang berani bernapas saat wajah dingin itu melintas dengan aura yang mengerikan sekaligus mengancam.
Sekali lihat, mereka langsung paham, seberapa kuat sosok yang berjalan di atas karpet merah itu.
Sosok yang sangat ideal untuk menjadi seorang pemimpin.
Sangat cocok menjadi calon raja berikutnya.
Namun, pemikiran itu segera mereka tepis jauh-jauh. Sekalipun Len memiliki nama depan yang sama dengan calon penerus kerajaan Crypton, nama belakang keluarganya berbeda. Dia bukan Kagamine. Tapi, Kamine.
Berikutnya adalah permata termuda, Rin Kagami.
Dia berjalan dengan tenang di antara para penguasa yang menilainya.
Tidak ada hal menakjubkan yang terjadi. Itu yang membuat para penguasa atas bertanya-tanya dan penasaran.
Namun, mereka yakin, sosok gadis yang berbalut gaun hitam itu sangatlah kuat. Entah keyakinan itu berasal darimana, mereka tidak tahu. Hanya saja, siapa pun yang melihat Rin, bisa membayangkan dia duduk disinggahsana dengan mahkota emas dan gaun kuningnya.
Sang Ratu kerajaan Crypton.
Tidak ada yang berani menyangkal aura agung gadis manis yang belum pernah kalah dalam api peperangan. Apalagi saat dia berdiri berdampingan dengan Len. Memperkuat prediksi masa depan gadis manis tersebut dimata para penguasa atas.
Tetes air yang turun dari langit-langit, menghapus bayangan masa depan sang ratu agung.
Gadis cantik bagaikan boneka porselen berjalan dengan anggunnya, tangan kirinya mengapit payung biru berenda dengan tungkai berbentuk negi. Seulas senyum terukir dari bibir tipisnya.
Dia... satu-satunya penerus bangsawan Hatsune yang tersisa. Bangsawan yang terkenal dengan kecantikannya.
Sang putri dari garis pantai.
Sudah sewajarnya jika dia bisa menguasai sihir air.
Kecantikannya adalah bukti kalau ia merupakan keturunan sekaligus pewaris sah darah mermaid. Konon katanya, dulu bangsawan Hatsune punya hubungan misterius dengan bangsa mermaid (sebelum mereka punah). Dan karena alasan itulah, keturunan mereka rata-rata dianugrahi sihir air dengan paras yang cantik.
Sisa-sisa air hujan yang menggenang di lantai membeku. Karpet merah yang diinjak Luka berubah menjadi es. Namun, itu tidak menyulitkannya untuk berjalan.
Es milik Luka sama sekali tidak memberi efek negatif. Sebaliknya memberi efek positif. Hangat dan menyehatkan.
Inilah calon dokter kerajaan.
Luka Kagami.
Si cantik jenius.
Jika saja ia tidak mengenakan topeng, mungkin para penguasa atas akan mengetahui sisi lain dari sihirnya.
Sihir turun menurun bangsawan Kagami.
Sihir yang tidak pernah diketahui siapa pun dan akan tetap seperti itu.
Permata selanjutnya, Gakupo Kamui.
Pemuda tampan dengan rambutnya yang berwarna nyentrik dipadukan dengan pakaian samurai. Cukup memberi kesan aneh untuk ukuran seorang dokter. Para penguasa atas langsung tahu jenis sihir apa yang dimiliki calon dokter itu, sihir ramuan. Jenis sihir ini memang lebih mudah dikenali karena munjukkan ciri-ciri yang spesifik. Berbeda dari yang lain.
Dan betapa terkejutnya para penguasa atas saat mendapati gadis bermata sendu sudah berada di samping Gakupo. Bahkan Gakupo sendiri nyaris terpekik kaget jika saja dia tidak punya pengendalian diri yang baik.
Aura gadis itu sangatlah tipis.
Bunyi-bunyian horror yang berasal dari biola melayang di samping kirinya bisa membuat siapa pun salah paham. Seandainya mereka berada di rumah hantu. Mungkin semua orang akan mengiranya sebagai roh halus.
Mata merahnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu menatap lurus seakan tidak pernah melakukan kesalahan apapun, dia ── Teto Kasane ── memang seharusnya ada disana. Berdiri di samping Gakupo.
Untuk ukuran sihir teleport, para penguasa atas sepakat, Teto layak mendapatkan lencana Navigator.
Berikutnya, permata kesepuluh, Kaito Shion.
Tidak ada yang menarik darinya. Selain latar belakangnya yang berasal dari keluarga biasa.
Sihir Kaito pun tergolong biasa saja. Namun, dia mampu mengembangkan sihirnya (manipulasi teknologi) sampai ke tahap akhir diusianya yang tergolong dini.
Hentakan di kakinya membuat tanah berlomba-lomba muncul ke permukaan sehingga bangunan terasa bergetar disebabkan oleh alas sepatu miliknya yang dapat mengubah gelombang tekanan.
Sihir miliknya bisa membawa kemajuan dalam hal teknologi. Mungkin di masa depan nanti, akan ada masa dimana sihir digunakan dengan cara yang mudah tanpa merapalkan mantra berkat penemuannya.
Suara kilatan kamera dan cahaya blitz mengantarkan sosok asing yang sedang berjalan di atas karpet merah layaknya seorang model. Rambutnya bergerak seakan ditarik oleh angin ke belakang.
Satu detik kemudian, sosok model tersebut berubah menjadi petani lengkap dengan cangkul di pundaknya membuat gelitikan misterius di sekitar perut. Beberapa orang terlihat menahan tawanya.
Piko cemberut berdiri disamping Kaito. Dia malu dan tidak menyangka sihir transformasi yang dia miliki tidak berkesan ˈwahˈ seperti yang ia harapkan.
Terakhir, Rei Kagene berjalan dengan segala kenarsisan yang dia miliki. Beberapa kali ia melempar senyum ramah. Semua orang terpana, mereka bahkan lupa untuk berkedip sampai suara deheham terdengar di beberapa sudut seakan menyadarkan orang-orang dari daya tarik sosok yang terlihat memikat itu.
Bangsawan Kagene tersenyum misterius. Tidak ada yang bisa menolak Pheromone. Sihir pemikat mereka yang bisa menaklukan siapa pun.
Dengan begini, dua belas permata Crypton Academy telah berdiri di atas podium.
Penilaian akan selesai, kalau saja... tidak ada bangsawan yang berdiri dan bertepuk tangan dengan kerasnya. Membuatnya menjadi pusat perhatian. Dari warna jubah yang dia pakai, semua orang tahu kalau ia berasal dari keluarga Mizune.
Bangsawan tingkat satu.
Salah satu pilar raja yang menempati posisi kedua.
"Luar biasa. Permata yang sekarang sungguh indah. Aku tidak percaya ini, kalau sebagian dari kalian adalah calon pilar raja."
Kata-katanya itu seperti ingin memancing keributan.
Jika diperhatikan, ekspresi kekaguman para penguasa atas tingkat dua dan tingkat tiga mulai berubah.
Seolah tidak peduli dengan tatapan mengintimidasi dari pilar raja lainnya, ia meninggikan suaranya.
"Dan lihat apa ini... ada dua Kagami! Selain Meiko... ternyata kalian punya dua penerus lainnya yang berpotensi." Sosok tua yang diketahui bernama Sin itu melanjutkan bualannya. Dia memuji namun matanya memancarkan kedengkian. "Apalagi si kecil yang di juluki putri perang. Kudengar semua misi yang diambilnya adalah misi tingkat S. Aku yakin dia akan sangat berguna dalam militer. Sekali lihat pun aku langsung tahu apa yang bisa dilakukan dengan tubuh mungilnya itu. Andai aku bisa melihat wajah cantik di balik topengnya." Komentarnya berani. Terlalu berani, karena tidak seharusnya ia melontarkan komentar yang terdengar menyudutkan bangsawan lainnya. Itu melanggar kode etik yang dianut oleh para bangsawan. Apalagi ia termasuk dalam pilar raja, harusnya ia memberikan contoh yang baik, bukannya mencoreng nama baik keluarganya sendiri.
Dan lagi, dia dengan beraninya mengucapkan hal tabu. Meminta keturunan bangsawan tua melepas topeng mereka. Hal itu mengundang kemarahan enam pilar raja lainnya, karena topeng yang bangsawan tua pakai adalah bentuk kehormatan dari King-sama dan Queen-sama atas jasa mereka berpuluh-puluh tahun lamanya. Simbol kejayaan kerajaan Crypton.
Dua belas permata yang memang mendapat didikan baik dari keluarganya pun mulai marah dan geram. Diantara mereka mungkin bermulut pedas dan tajam, namun mereka tidak pernah mengeluarkan kalimat dengan maksud menghina. Kata-kata Sin sudah sangat keterlaluan.
Menghina simbol kerajaan sama dengan menghina kerajaan Crypton. Dia bisa saja dianggap sebagai pemberontak jika mengesampingkan status kebangsawanannya.
'Mulutmu sangat kotor Pak tua.' Maki Rin dalam hatinya.
Ia hanya diam saja saat Sin menatap benci kearahnya. Seakan menyimpan dendam.
Bukan tanpa alasan pak tua itu membenci sosok muda di depan sana.
Sin tidak akan pernah lupa dengan sosok gadis mungil yang berbalut terusan hitam berlari di tengah medan pertempuran sendirian.
Sosok yang sepertinya tak kenal kata takut dan terus menebas musuh di depannya.
Sosok pemberani yang merapalkan mantra seperti sedang bernapas. Sangat mudah.
Bagi Sin, keberadaan Rin di garis depan hanya merusak pemandangannya saja sekalipun gadis mungil itulah yang membawa mereka pada kemenangan. Ia tidak akan terima. Tidak akan pernah. Menurutnya, dipimpin oleh gadis kecil adalah penghinaan terbesar untuknya. Sin tidak akan pernah mau mengakui kemenangan mereka di perbatasan utara dua bulan lalu. Itu adalah aib untuknya dan untuk keluarganya.
"Anda terlalu banyak memuji cucu saya, Mizune-san. Kemampuan cucu saya tidak sebanding dengan penerus di keluarga Anda." Tetua Kagami membalas dengan sopan. Tidak ada maksud untuk merendahkan diri ataupun menghina balik.
Lagipula, tidak ada yang tahu ekspresi seperti apa yang tercetak dibalik topeng rubahnya itu.
Dibelakangnya, orang-orang yang mendampinginya hendak menghunuskan pedang mereka jika saja tetua Kagami tidak mencegahnya.
"Kau terlalu merendah, Kagami. Jujur saja, kau merasa tidak senang karena pak tua itu berencana merekrut putri emasmu. Ah, sepertinya tidak, dia hanya merasa iri." Timpal tetua Kagene tajam, melirik sinis Sin. "Kau harusnya bangga memiliki putri seperti Rin dan dua putri lainnya, Kagami. Aku yakin dia tidak akan berani mengibaskan ekornya seperti ini jika tetua Mizune ada disini. Sangat disayangkan memang, dia sedang sakit sekarang."
Anggur di tanggannya bergoyang pelan.
Dia tidak takut dengan tatapan seluruh bangsawan Mizune yang ingin menyantapnya hidup-hidup. Sementara, dua permata nampak senang dengan kata-kata berkelas miliknya.
"Ah, aku tidak bermaksud menyindir. Aku hanya merasa heran saja, dimana penerus yang dulu kalian bangga-bangga kan itu. Aku tidak pernah melihatnya lagi semenjak tujuh tahun yang lalu." Ujarnya santai membuat para penguasa atas lainnya (yang tidak ikut terlibat) saling berbisik-bisik.
Apa yang dikatakannya adalah fakta.
Tujuh tahun yang lalu, semenjak penerus kedua Mizune dinyatakan meninggal dunia, penerus pertama mereka tidak pernah terlihat lagi.
Beberapa orang menduga, penerus pertama sengaja disembunyikan untuk menutupi rasa malu mereka karena pertunangan sang putri dibatalkan oleh pangeran secara frontal. Dihadapan semua penguasa atas dalam acara pemakaman.
Rei menepuk jidatnya. Kakeknya benar-benar berani.
"Kau akan melihatnya nanti saat pelantikan dua belas permata crypton, Kagene." Jawab Sin tidak mau kalah.
Tetua Kagene menaikkan alisnya tidak percaya dan tersenyum geli. "Benarkah? Aku sangat menantikan saat itu tiba."
Kepalanya mengangguk pelan. Dalam hati dia tertawa prihatin, menduga apa yang akan dilakukan bangsawan licik itu dalam sepuluh menit ke depan.
"Tapi, kuharap itu tidak akan pernah terjadi. Aku lebih suka permata yang sekarang. Rasanya seperti sedang bernostalgia. Bukan begitu, Kagami?"
Beberapa bangsawan yang paham dengan maksud tetua Kagene mengangguk haru. Mereka tidak akan lupa masa dimana kerajaan Crypton mengalami masa-masa sulit dan berkat perjuangan tujuh pilar raja di masa itu, sekarang mereka bisa sedikit tenang dan hidup nyaman.
Semenjak tujuh puluh tujuh tahun yang lalu sampai sekarang pilar raja sudah mengalami tiga kali pergantian.
Generasi pertama, terdiri dari tujuh bangsawan penyelamat kerajaan Crypton: Hatsune, Furukawa, Megurine, Kamui, Sakine, Kagami dan Shion.
Generasi kedua: Kagamine, Hatsune, Furukawa, Shion, Kagene, Utatane dan Kagami.
Generasi ketiga: Kagamine, Mizune, Kagene, Utatane, Kasane, Megpoid dan Kagami.
Yang dimaksud tetua Kagene adalah generasi kedua. Jika saja, penerus bangsawan Furukawa masih ada.
Sampai generasi itu, ketujuh pilar raja masih akur dan saling bekerja sama dalam membangun kerajaan Crypton.
Namun, semuanya berubah, semenjak tiga bangsawan musnah dalam kejadian tragis.
Hatsune, Furukawa dan Shion.
Tiga bangsawan itu resmi dihapus dari daftar kecuali Hatsune yang masih memiliki penerus.
Mengingat bangsawan Shion, membuat Gumi teringat pada Kaito Shion. Dia sedikit tidak percaya kalau Kaito berasal dari keluarga biasa saja. Bisa jadi dia adalah penerus bangsawan Shion. Siapa yang tahu, bukan?
Tetua Kagami mengangguk setuju "Ah, ya, kau benar. Aku merasa mereka kembali hidup bersama kita."
Bagi mereka, tidak akan ada yang bisa menggantikan ketiga bangsawan tersebut karena tidak ada yang bisa memecah belah mereka. Kedekatan mereka sedekat nadi dan darah.
Mungkin mereka bisa menerima bangsawan Kasane dan bangsawan Megpoid. Tapi, tidak untuk Mizune. Bangsawan itu mencurigakan.
Posisi mereka yang melesat naik dari tingkat dua menjadi tingkat satu dan langsung menduduki kursi kedua setelah Kagamine dalam sehari, menyimpan tanda tanya besar. Apa yang sudah dilakukan bangsawan Mizune sampai mendapat penghormatan setinggi itu?
Lebih herannya lagi saat berita pertunangan putri pertama bangsawan Mizune dengan Pangeran (calon Raja Crypton) muncul dalam media. Semuanya terasa seperti mimpi. Tersusun sangat rapih.
Sin berdecih meremehkan. "Sayangnya, kalian berdua harus kembali pada kenyataan atau kalian akan bernasib sama seperti mereka."
Ancaman itu tidak akan mempan untuknya. Sekalipun Mizune mendapat dukungan penuh dari penguasan atas tingkat dua dan tingkat tiga, dimatanya, mereka itu hanya tikus-tikus penjilat. Ia akui sistem kerajaan yang sekarang sudah kacau. Keserakahanlah penyebabnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia tidak sebebas dulu. Pengaruh bangsawan Mizune di masyarakat cukup besar. Namun, ia tidak akan menutup mata terhadap masyarakat kecil. Karena merekalah yang menerima dampaknya.
Dampak dari keegoisan.
Tetua Kagene menekankan dalam hatinya. Secepatnya, ia pasti akan mengungkap kebenaran dari kematian rekan-rekannya, membersihkan nama baik mereka yang diinjak-injak oleh bangsawan keji itu. Dan mengembalikan rasa aman pada rakyat biasa karena akibat ulah tak bermoral bangsawan sombong dan angkuh itu mereka ditindas dan diperlakukan semena-mena.
Itu janjinya.
Pada ratusan jiwa yang menghilang tujuh tahun yang lalu.
Sepasang kupu-kupu kuning dan merah jambu terbang meninggalkan kilauan halus dalam lintasannya.
Gemericik lonceng mengalun merdu.
Perdebatan terhenti.
Semua orang menunduk memberi hormat pada dua sosok paling berkuasa di kerajaan Crypton.
Dua sosok yang dicintai oleh rakyatnya.
King-sama dan Queen-sama.
Leon Kagamine dan Lily Kagamine.
Seorang raja yang bijaksana dan ratu berhati lembut bagaikan kapas.
Mereka berjalan dengan tenang melawati beberapa orang yang menunduk.
Emerald sang raja melirik minat pada gadis bertubuh mungil dengan topeng rubahnya. Begitu juga dengan shappire milik sang ratu. Kilauan matanya bersinar misterius saat melewati gadis mungil itu dalam langkahnya yang halus dan elegan.
Tangannya yang ditutun oleh King-sama sedikit bergetar seakan menahan rindu yang mendalam.
Ia harus bisa menahannya.
Bagaikan mantra. Sang ratu terus mengucapkan sebaris kalimat itu di dalam hatinya sampai ia menempati kursi dengan ornamen bunga sakura.
Mereka semua mengangkat wajahnya kembali saat suara tegas milik sang Raja bergema memenuhi ruangan.
Sekarang, acara utama yang ditunggu-tunggu sejak tadi akan segera dimulai.
Pelantikan Navigator.
Penasehat raja membawa gulungan emas. Ia memberi hormat dan menyerahkan gulungan tersebut pada King-sama untuk dibacakan. Gulungan tersebut berisi hasil keputusan untuk dua belas permata.
Namun ada yang berbeda...
"Dua belas permata crypton menjadi tiga belas? Pak tua itu terlalu memaksakan diri." Decak kesal tetua Kagene.
Mendapati sosok tambahan yang tak terduga.
Sang putri yang di kabarkan sengaja di sembunyikan.
Penerus sah bangsawan Mizune.
Rin sangat mengerti arti tatapan yang dilempar oleh Gumi, Teto dan kakaknya.
Sosok itu... mirip dengannya namun dalam versi yang berbeda. Lebih feminim, seolah-olah ia adalah putri yang di besarkan di istana.
Tetua Kagene berdeham kecil.
"Maaf, menyela aroma kebahagiaan ini. Tapi, aku tak bisa menahan hati kecilku yang terus memberontak. Rasanya sangat tidak adil jika dengan mudahnya kita memasukkan satu nama begitu saja untuk satu orang permata yang tidak kita ketahui kualitasnya. Dan rasanya kita tidak mungkin membuat satu divisi lagi tanpa perencanaan. Apa kalian sependapat dengan ku?"
Ia tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya.
Apalagi menyentuh Crypton Academy. Peninggalan suci dari sang ratu pertama.
Ini belum terlambat. Keputusan itu masih bisa diubah sebelum du... sekarang tiga belas permata itu menerima lencana Navigator dan bendera divisi.
Hanya dengan satu celah dan dorongan saja, ia pasti bisa mengubah keadaan.
"Ya, kurasa ada benarnya juga. Lagipula, permata-permata ini dipilih bukan dengan cara sembarang. Tapi, melalui seleksi yang ketat. Akan sangat tidak adil jika tiba-tiba saja satu nama muncul begitu saja." Nyonya Utatane memberi tanggapan yang logis. Ia bisa menangkap tujuan dari tetua Kagene. Hanya ini bantuan yang bisa diberikan olehnya.
Tatapan matanya mengarah pada sang Ratu yang menyimpan sorot misterius. Sebagai sesama wanita, ia bisa merasakannya juga, perasaan rindu yang entah darimana datangnya saat melihat gadis mungil dengan pakaian hitamnya. Mengingatkan ia pada cerita sang ibu yang menggambarkan sosok ratu Agung di masa lalu.
"Lalu bagaimana sebaiknya? Menurutku walau tidak melalui penyeleksian, satu nama yang menurut kalian tidak pantas itu sangat berkompeten jika dilihat dari latar belakangnya." Pendapat lainnya berasal dari penguasa atas tingkat dua. Kata-katanya syarat akan keberatan.
"Bagaimana jika dia diuji saja. Bukankah Mizune sangat yakin, kalau cucunya lebih kuat dibandingkan Kagami?" Tetua Kasane memberi usul. Ia satu pendapat dengan nyonya Utatane dan tetua Kagene.
Kedudukan bukan segalanya.
Semua ada aturannya.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun bermain curang.
"Rasanya itu lebih tidak adil lagi. Kita menempatkan tiap permata dalam divisi sesuai dengan bakat masing-masing. Kulihat dari profilnya, nona Mizune lebih cocok masuk divisi Alexandrite." Dan lawan mereka pun, nampaknya tidak akan melepas mereka begitu saja. Sementara dua belas permata menatap datar pada Navigator tambahan. Mereka bukannya tidak suka, hanya saja, apa gadis itu akan tetap diam saja melihat dirinya diperdebatkan? Dan apa-apaan itu tadi? Mengapa harus Gumi yang yang menjadi korbannya? Seenaknya saja orang itu memilih divisi. Batin Rin kesal.
"Bagaimana menurut Anda, Megpoid-san? Apa Anda tidak keberatan jika putri Anda diseleksi ulang?" Tanya King-sama menengahi dengan bijak sebelum penguasa atas lainnya memperkeruh keadaan.
Diam-diam tetua Kagene melempar senyum terima kasih pada sang Raja karena telah menggunakan celah yang mereka buat dengan bijak.
"Dengan segala hormat, King-sama, Queen-sama. Saya tidak keberatan. Tapi, saya ingin mendengar pendapat putri saya karena dialah yang akan menjalaninya."
Ya, itu benar... mereka juga harus memikirkan perasaan Gumi.
Gumi membuka mulutnya sedikit sebelum_
"Aku..."
"Yang Mulia!"
_suara seorang ksatria mengintrupsinya. Ksatria itu berlari tergesa-gesa. Lengkap dengan perlengkapan militernya. Beberapa pasang mata ada yang menatapnya geram dan kesal. Sebagiannya lagi tidak peduli.
"Maaf karena dengan tidak sopannya saya menyela pembicaraan penting ini, yang mulia." Ia berlutut dihadapan King-sama dan Queen-sama. Pedang dan perisainya tergeletak begitu saja diatas karpet merah. "Tapi, ini kondisi darurat, di luar gerbang istana banyak masyarakat yang berkumpul. Mereka meminta izin untuk bertemu dengan Anda."
"Apa yang terjadi?"
"Fenomena aneh itu... serentak terjadi di beberapa titik kota."
.
.
.
"Waahhh ~! Banyak sekali yang datang. Mereka semua terlihat panik dan ketakutan."
Pemandangan dibawah sana menarik suara riang untuk berkomentar.
Ribuan warga berbaris saling berdesakan memasuki halaman istana mengikuti intruksi dari para prajurit.
"Miki-sama, tolong turunlah. Anda bisa jatuh kalau berjalan disana."
"Diamlah, kaki ku ini lincah tahu."
Ia mengabaikan suara pengawal istana yang terus memintanya untuk turun dari pagar yang membatasi balkon istana.
Dengan santainya Miki tetap melangkahkan kakinya bak seorang pemain sirkus yang berjalan di atas seutas tali tipis.
"Wajar saja sih. Dua hari yang lalu kita juga panik seperti mereka. Tidak tahu apa yang harus dilakukan saat melihat teman-teman berubah menjadi patung. Bahkan sebagian dari kita ada yang pingsan."
Mulut Miki merengut kesal ketika jalur lintasannya terhalang oleh Navigator bersuara indah.
Kepala merahnya ikut menengok ke bawah dan mulai berpikir seberapa panjang barisan yang dibuat warga. Pastinya akan sangat panjang jika semua penghuni kota-kota besar sekaligus daerah kecil benar-benar berkumpul disini. Aula istana tidak akan cukup menampung mereka semua.
"Gu-chan! Kau menghalangi jalanku."
"Kau bisa melompatiku, Prof Miki."
"Miki-sama!"
Dua pengawal istana yang memang ditugaskan untuk menjaga keselamatan mereka (walau sebenarnya tak perlu) berteriak panik saat melihat Miki benar-benar melompati Gumi. Bahkan gadis manis itu masih sempat-sempatnya melakukan salto.
Mereka berdua menahan napas, kalau kaki yang katanya lincah itu tidak mendarat kesisi lainnya dengan selamat, kepala mereka pasti akan di penggal.
"Aku tidak akan jatuh. Tidak akan ada yang memenggal kepala kalian~" Ucap Miki dengan nada riangnya, seakan ia tidak peduli dengan jantung dua pengawal yang mungkin saja sudah terjun bebas, mengira gadis manis yang menitipkan setangkai lily orange pada mereka akan berakhir disini. Didepan mata mereka.
"Miki turunlah, apa kau tidak kasihan? Kalau kau ingin terus menggoda mereka, boleh saja sih. Tapi, aku nggak yakin kalau bunga itu ditujukan untuk mereka." Tanggap Miku dengan suara datarnya. Tanpa melihat lawan bicaranya. Ia sedang duduk menikmati secangkir teh hangat, satu kursi dengan Kaito dan Piko.
Sekarang, mereka sedang berada di balkon bagian sayap barat istana. Sementara para penguasa atas berada di sayap timur. Mereka sengaja dipisahkan supaya bisa menikmati makan siang dengan leluasa tanpa rasa canggung. Biarpun masih diawasi oleh beberapa pengawal yang telihat berjaga di beberapa sudut. Tapi, mereka semua berjaga diluar penghalang sehingga tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Aku tahu. Bunga ini lebih cocok untuk orang itu kan."
Miki membalas sambil melompat turun, jemari lentiknya dengan lihai mencuri lily orange dari dua pengawal yang menurutnya berisik. Ia berlari-lari kecil menuju kursinya. Disamping Miku.
Dua pengawal yang membututi Miki sedari tadi segera pamit undur diri untuk kembali berdiri di luar batas penghalang.
"Kebencian, penghinaan dan kesombongan. Sangat menggambarkan dirinya~" Ia tersenyum sangat lebar. Nada suaranya begitu riang.
"Siapa sih yang kalian bicara kan?" Tanya Gumi bingung sambil menarik kursinya.
Meja miliknya ada di sebelah Miki. Ada empat meja yang tersusun secara segitiga dimana setiap orang duduk dalam satu meja berisi empat kursi dan Gumi duduk satu meja dengan Teto, Rin dan... Len?
Ya, mereka hanya ada dua belas orang. Atas permintaan Lenka, King-sama dan Queen-sama memberi mereka waktu dan ruang tanpa navigator tambahan.
Miki tidak langsung menjawab, ia hanya melirik sekilas pada Gumi lalu melempar tatapan penuh arti pada Miku.
Rin yang merasa sekitarnya mulai sepi, sedikit membuka matanya. Tepat saat itu...
"Kau yakin tidak keberatan?"
"Dia akan mengambil kursimu lho."
"Dia itu licik. Kau akan dimakannya jika tidak hati-hati."
"Benar... benar... Gu-chan baik sih. Jadi, dia mengincarmu. Tet-chan juga harus hati-hati lho."
...ia mendengar suara Miki dan Miku.
Matanya menatap mereka berdua cukup lama. Lalu beralih pada Len. Satu-satunya orang yang mungkin bisa diajaknya bicara karena saat ini... ia tidak boleh bicara.
'Tes... tes... panggilan untuk pangeran matahari.' Untuk memastikan, ia mencoba memanggil Len yang sedang fokus menikmati sepiring banana split dalam pikirannya. 'Kau bisa dengar suara ku nggak? Kalau iya, mengangguk lah.'
Len memutar bola matanya. 'Aku selalu mendengar suaramu, bodoh.'
'Ish... aku kan tidak bisa telepati. Dan, hei, berhenti membaca pikiranku!'
'Oke, aku akan berhenti.'
Dan sambungan pun terputus.
Rin menekuk alisnya bingung saat tidak mendapat balasan dari rivalnya itu. Ia menatap Len aneh. 'Memangnya ini salah aku ya?'
Tetap tidak ada jawaban.
Rin mendengus, beruntung ia masih mengenakan topengnya, dengan begitu, tidak akan ada yang tahu kalau ia sedang jengkel dan tidak akan ada yang tahu kalau sebelumnya ia tertidur.
Ia membuang mukanya ke arah lain, asal bukan Len.
'Kau marah?'
Rin tersentak kaget. Namun, ia sudah kehilangan minat untuk bertanya. Ia akan menunggu sampai Miku dan Miki selesai dengan sihirnya.
Sihir istimewa mereka. Ramalan bunga dan ramalan bintang.
Sihir yang hanya di ketahui oleh mereka... dua belas permata crypton.
"Bertindak curang itu dilarang kan?"
"Iya, itu tidak boleh. Dia harus di hukum."
"Tapi, untung saja suaranya itu sangat menjijikan. Dia pasti kalah."
"Ya, dia pasti kalah. Dia tidak punya kesempatan untuk menang."
Gumi tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya menatap lurus pada empat bola mata yang menatapnya seakan memberitahu dirinya 'Kau akan menang.', 'Kau pasti menang.'
Rin menghela napas lega ketika melihat lingkaran sihir di salah satu mata mereka (Miku kanan, Miki kiri) mulai memudar.
"Aku sudah boleh bicara kan?"
Miki mengangguk. "Yup, kami sudah selesai kok." Tangannya sedang mengumpulkan kelopak lily orange yang sebelumnya ia cabuti.
"Kenapa kalian melakukannya disini?"
"Kenapa kalian meramal ku?"
Rin dan Gumi saling berpandangan. Mereka bertanya di waktu yang bersamaan.
"Aku-"
"Kau saja." Rin memotong. Ia mengedikkan bahunya tidak peduli. Kakaknya sudah berbaik hati menjawab pertanyaannya lewat telepati.
'Manis sekali adik. Kau khawatir pada temanmu? Tenang saja, si mata empat sudah menyamarkan lingkaran sihir mereka. Para pengawal itu tidak akan tahu.'
Gumi memandang Rin dengan tatapan menyesal. Dia tidak bermaksud...
"Tak apa. Aku mengerti." Rin meyakinkan.
"Kenapa kalian meramalku?" Gumi mengulang pertanyaannya setelah yakin Rin tidak marah padanya.
"Miki dan Mi-chan tidak meramal Gu-chan kok." Jawab Miki sambil mencelupkan kelopak lily orange kedalam air panas satu persatu.
"Tidak meramalku?"
"Iya, Miki juga tidak bisa meramal. Yang melakukan ramalan itu bukan Miki tapi bunga ini." Ia membolak balikkan kelopak lily orange yang sudah layu.
"Miki hanya melihat kedalamnya." Lanjutnya dengan raut wajah seakan menahan muntah. "Bunga orang itu rasanya tidak enak."
Piko segera memberinya mawar putih, membuat Rei bersiul menggoda. "Cinta sejati, heh?"
Lalu ia melakukan high five dengan Gakupo. Mereka berdua tertawa kecil.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Luka penasaran pada Miku. Sebentar, matanya melihat keluar batas penghalang, memastikan para pengawal tidak curiga dengan kegiatan unik Miki. Makan bunga.
Miku terlihat sedang berpikir keras. Menerawang jauh ke dalam cangkir tehnya. Ia sudah meminum obat anti alergi, jadi perasaan tidak enak yang dia rasakan bukan berasal dari serbuk bunga.
"Aku pun sama. Aku tidak bisa meramalkan nasib seseorang." Menarik napas, ia langsung meninum tehnya dalam satu kali tegukan. "Yang ku lakukan hanya melihat apa yang tertulis disini." Kemudian, ia perlihatkan dasar cangkir teh miliknya yang terdapat pola rasi bintang. "Ugh, ini teh paling buruk yang pernah kuminum."
Pantas perasaannya tidak enak.
"Pahit ya? Mungkin ini bisa membuatmu lebih baik." Lenka menawarinya permen.
Miku hanya melirik sekilas permen rasa mint itu. "Tidak, terima kasih." Tolaknya halus karena Kaito sudah menyeduhkan teh hangat kesukaannya. Tentu ia akan lebih memilih teh negi dibandingkan permen yang mungkin saja bisa membuat giginya rusak.
"Kenapa rasa tehnya bisa buruk?" Tanya Rin, ia habis mencicipi teh miliknya dan rasanya enak.
"Karena ramalan bintang ataupun ramalan bunga bukan hanya meramal masa depan saja tapi juga membaca hati seseorang. Jika orang itu punya hati baik, teh ku atau bunga milik Miki rasanya akan manis. Apalagi kalau orang itu punya hati yang bersih, mungkin aku nggak kan sanggup meminumnya."
Pasti rasanya amat manis.
"Memangnya apa yang akan terjadi jika itu tidak diminum? Dan itu tidak dimakan?" Baru kali ini, Rin mendengar sihir yang begitu merepotkan. Jari telunjuknya menunjuk cangkir teh dan bunga secara bergantian.
"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kita meminjam buku lalu tidak mengembalikannya? Teorinya hampir sama dengan itu."
"Intinya, kalian ingin bilang kalau kalian hanya bisa melihat apa yang sudah diramalkan oleh bunga dan cangkir teh itu. Lalu setelah selesai kalian harus mengembalikan apa yang sudah kalian lihat." Gakupo mencoba membuat kesimpulan, alisnya terangkat satu seakan bertanya 'Aku benar kan?'
Miki menjentikkan jarinya riang. "Yup, tepat sekali." Ia meminta satu lagi mawar putih di tangan Piko.
"Oke, ini cukup aneh. Apa karena alasan ini kalian tidak ingin orang lain tahu?"
Jelas. Apa yang akan dipikirkan orang-orang saat seorang penyihir prediksi tidak bisa meramal?
Miku mengangguk dengan anggunnya, menjawab pertanyaan Luka.
"Jadi apa rumor itu juga benar?" Tanya Lenka dengan suara lembutnya. Mengingat banyak rumor yang melibatkan dua gadis itu sering terdengar di setiap sudut akademi. Salah satunya, cangkir teh yang bisa mengutuk seseorang.
Miku menghela napas pendek. "Tidak, itu hanya keisengannya saja." Tangannya menunjuk Miki jengkel. Berkat gadis periang itu, ia kadang menjadi incaran orang-orang pedendam.
"Lalu siapa yang kalian ramal?" Tanya Teto yang sedari tadi diam mendengarkan.
Miku dan Miki saling berpandangan lalu mereka melihat ke satu arah.
"Aku?" Merasa diperhatikan, Rin menunjuk dirinya ragu.
"Seseorang yang mirip denganmu." / "Seseorang yang mirip dengan Rinny."
"Oh, sial."
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
.
Pertama, saya minta maaf karena lama sekali tidak update cerita satu ini. Berhubung drafnya sempat hilang jadi saya kehilangan minat untuk menulis ulang /dibuang ke sungai/
Kedua, selamat membaca.
.
-Cherry Monochrome-
17/17/2017
