.

.

.

.

.

.

.

Aturan Keempat: Diatas Raja Masih Ada Raja Lainnya
Disclaimer:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Warning:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.

.

.

.

.

.

.

.

The Rules

.

.

.

.

.

.

.

[Normal POV]

Sesuai prediksi Miki, Aula istana sangatlah padat. Padahal jumlah kuota tiap daerah dan kota yang diberi izin masuk sudah dibatasi oleh pihak kerajaan. Sementara sisanya menyaksikan melalui layar besar di aula cadangan.

Dalam mimpi pun, Gumi akan tetap merasa heran. Untuk apa dia disini? Akan lebih masuk diakal jika dirinya ditempatkan di aula cadangan. Jika ingatannya tidak salah, pelantikan navigator ditunda sementara waktu. Tentunya dia tidak punya hak berada disini. Terlibat dalam masalah kerajaan. Dengan kikuk, dia mendudukan dirinya di kursi yang ditunjukkan oleh prajurit yang mengatur posisi duduk mereka. Teto yang duduk disampingnya pun bergerak gelisah, sama seperti dirinya.

"Kau calon navigator Alexandrite, bukan?" Pertanyaan dari arah samping kirinya menghentikan dirinya untuk bertingkah lebih memalukan lagi.

"Ya?"

"Aku Mizune, sama sepertimu."

Ingin sekali rasanya Gumi memutar bola matanya jengah. Serius, apa seperti ini cara seorang bangsawan memperkenalkan diri? Sopan sekali.

"Gumi, Gumi Megpoid. Salam kenal." Gumi tersenyum seadanya. Tangannya menyikut pinggang Teto.

"Teto Kasane."

Merasa tak ada tanggapan lagi, Gumi mengikuti arah pandang lawan bicaranya. Masa iya dia harus menyikut satu persatu pinggang navigator lain.

"Kau bisa berkenalan dengan mereka nanti."

Sorotan kecewa lawan bicaranya Gumi terima dalam satu ringisan kecil. Dia sedikit anti dengan tipe 'Princess'. Ayolah, ini bukan waktu yang tepat untuk berkenalan.

"Kalau tidak salah, bukannya ada tiga orang yang memakai topeng? Kemana mereka?"

Gumi dan Teto saling melempar kode via mata. Apa tidak masalah memberitahu seseorang yang baru mereka kenal. Bahkan belum sampai sejam. Oh, lebih tepatnya baru saling berkenalan. Memangnya siapa yang tidak kenal dengan bangsawan Mizune?

"Dipangggil oleh... ya ampun, apa ini mimpi?!"

Gumi tidak jadi menjawab. Matanya terpaku pada para bangsawan yang berjalan acuh tak acuh namun menyimpan aura mengintimidasi. Gumi yakin, bukan dirinya saja yang merasa jumlah ratu dikerajaannya tiba-tiba bertambah berkali-kali lipat.

"Apa itu Rin-chan?" Lanjutnya bertanya.

Seingatnya, satu-satunya orang yang ia kenal memiliki aura dominan seperti ratu di bangsawan Kagami adalah sahabatnya sejak kecil. Rin Kagami. Tapi, ia tidak pernah tahu kalau sahabatnya itu punya kembaran sebanyak ini.

"Sepertinya, tapi dimana Luka-senpai?" Teto mengangguk tidak yakin. Mata merahnya menelusuri dengan teliti sosok yang menyerupai Rin. Desahan kecewa lolos begitu saja saat dirinya tidak berhasil menemukan satu perbedaan dari sekian banyak sosok yang mirip itu.

"Apa ini pertama kalinya?" Gakupo yang mendengar komentar lucu juniornya tergelitik untuk bertanya.

"Ah, jangan bilang kalau!" Pekik Gumi tertahan.

Gakupo terbahak. "Tepat sekali. Sangat gila bukan?"

"Lebih dari itu." Kening Gumi mengernyit, mencari kata yang sekiranya pas untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

"Super gila." Sekeras apapun mencari, pikirannya tidak bisa menemukan kata yang lebih sopan dari itu. "Untuk apa mereka melakukan hal ini?"

Pikiran logisnya tidak bisa menemukan alasan mengapa bangsawan Kagami menyamar sebagai Rin.

Secara tiba-tiba bulu kuduknya meremang saat melihat sosok yang mirip dengan sahabatnya itu duduk dikursi yang di khususkan untuk para Tetua. Apa itu tetua Kagami? Selera makannya sudah bisa dipastikan akan jatuh ke jurang jika dirinya tetap nekad membayangankan sosok tua yang sudah beruban dan jenggotan sedang bercosplay menjadi gadis remaja. Itu menggelikan. Untung Kagami menggunakan topeng. Batinnya bernapas lega.

Gakupo nampak menerawang jauh ke depan. "Ini memang gila, tapi menurutku wajar saja jika mereka melakukan ini."

"Wajar?"

"Hm, ini pasti karena 'kejadian itu'..." Tanpa sadar dia bergumam tak jelas, membuat yang mendengar ucapannya bingung.

Kejadian itu?

"Ah, maksudku, wajar saja jika mereka ingin melindungi Rin. Kudengar pelaku dari fenomena aneh itu kemungkinan besar ada di dekat kita." Ralatnya cepat dengan tawa kaku setelah sadar apa yang baru saja dia gumamkan. "Dia kan satu-satunya saksi." Tambahnya memperkuat.

'Tapi, dilihat dari sudut manapun, rasanya ini terlalu berlebihan dan mencolok.' Sudut-sudut bibirnya meringis, ia pernah berkunjung ke kediaman utama Kagami. Dalam hati, Gakupo berharap, orang-orang yang wajahnya dia ketahui tidak ikutan menyamar karena mereka tidak pantas lagi menyamar menjadi sosok remaja manis.

"Jadi pelakunya sudah di temukan ya?"

Hah?

Gakupo mengelus tengkuknya. Ia bingung harus menjawab apa, tadi dia terpaksa berhohong karena tidak sengaja kelepasan bicara.

"Hei, apa yang sedang kalian bagikan?" Ia pun mengalihkan topik saat tak sengaja menangkap basah Piko yang sedang memberikan sesuatu pada Miki dan Miku menerima sesuatu dari Kaito.

Teto dan Gumi pun ikut memperhatikan mereka. Begitu juga dengan navigator tambahan. Dia menatap mereka penuh minat.

"Kalian cukup berani juga ya, pacaran di aula istana. Tidak buruk." Goda Gakupo menyeringai geli.

Miki hanya melambaikan tangannya riang lalu memasang bross bunga di topinya. Kaito sama sekali tidak terganggu, malah dengan tenangnya ia memberikan bross lainnya pada Len dan Rei. Bahkan ia menawari Gakupo bross terong dengan alibi bross itu sengaja ia buat sebagai ucapan selamat atas pelantikan mereka walaupun mengalami penundaan. Gakupo dengan suka rela menerimanya, dia suka hadiah. Gumi dan Teto pun mendapat bagiannya, bross wortel dan roti. Kaito tersenyum minta maaf pada navigator tambahan karena dia tidak menyiapkan bross untuknya.

"Kira-kira apa ya hukuman untuk orang-orang yang menuduh tanpa bukti." Tanya Miku tersenyum miring. Ia menatap Gakupo dengan kilatan tersinggung. "Apa kamu tahu Ga-ku-po?"

"Ah, tidak, lupakan saja. Aku cuman bercanda tadi." Gakupo mengibaskan tangannya. "Ngomong-ngomong, terima kasih untuk brossnya. Aku suka."

Usai mengucapkan itu, Gakupo segera memaku kepalanya, lurus ke depan. Berdebat dengan putri garis pantai bukan pilihan yang tepat. Gadis itu ahli membalikkan kata-kata, Gakupo tahu itu.

Miku masih menatap Gakupo sambil memasang bross bintang di kerah bajunya.

"Kalian mendengarnya tadi?"

"Iya, iya, Miki juga mendengarnya." Angguk Miki semangat.

"Dia... sepertinya tahu sesuatu tentang Rin."

Sebisa mungkin, Gakupo menahan matanya tetap fokus ke depan, menghiraukan suara-suara mencurigakan dari samping kanannya.

"Daripada bahas itu, apa kalian nggak merasa kalau tuan putri disana melirik kita terus." Rei menyilangkan kakinya, lalu bersedekap. "Jujur saja, itu membuatku risih."

Piko terkekeh setelah melirik sebentar pada seseorang yang dimaksud oleh Rei. Orang itu sedang mengobrol dengan Teto dan Gumi.

"Dia tidak melihat kita, tapi pangeran matahari." Katanya santai sambil memasang bross daun.

Len mendengus. Ia tidak peduli dengan orang yang menurut Piko sedang melirik ke arahnya. "Terserah."

Piko mengangguk sambil mengamati bross yang tersemat di sakunya. Tidak buruk. Modelnya lumayan baguslah.

"Well, bross ini benar-benar bisa merubah isi dari pembicaraan kita kan?"

Ia mengedarkan tatapannya kesekitar, mendapati orang-orang berkedudukan tinggi tengah berbincang-bincang tanpa memperdulikan mereka berenam. "Yah, sepertinya ini efektif."

"Tentu saja efektif, kau pikir sihir siapa yang dipakai untuk membuat itu." Dengus Rei. "Tanpa sihirku, kalian tidak akan bisa bicara sesantai ini."

"Ha'i... ha'i" Sahut Piko malas. "Bagaimana dengan mereka?" Piko menunjuk Gakupo, Gumi dan Teto dengan dagunya.

Kaito membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun. "Itu hanya bross biasa. Aku membuatnya untuk berjaga-jaga." Jelasnya singkat sambil mengetikkan sesuatu diatas kotak melayang. Apapun yang dikerjakan Kaito, Piko hanya mau menerima hasilnya saja, prosesnya cukup serahkan pada ahlinya.

"Oh, iya, ngomong-ngomong apa benar 'dia' akan terluka parah dalam sebuah acara?" Tanya Rei tiba-tiba mengganti topik.

Miki berhenti cekikikan, merasa pertanyaan Rei ditujukan untuknya. Piko memasang raut muka cemas melihat Miki mengangguk lesu.

"Iya, biarpun samar-samar. Tapi, Miki yakin waktu kejadiannya adalah sekarang. Dalam suatu pertemuan besar yang dihadiri banyak orang dari semua lapisan masyarakat, ada seseorang dibelakangnya, orang itu sepertinya punya niat jahat. Miki tidak tahu akhirnya seperti apa karena... "

"...karena kau dikejutkan dengan kehadirannya." Sambung Miku. Melepas targetnya ── Gakupo ── ia merilekskan punggungnya. "Jadi, dengan ramalan yang setengah itu kita menyimpulkan kalau akan ada seseorang yang mengincar nyawanya disini. Dan kemungkinan terbesarnya dia beniat melukainya secara diam-diam." Lanjutnya, menatap bosan para penguasa atas berambut hitam.

"Lalu apa kalian sudah memikirkan cara apa yang akan kita lakukan di tengah keramaian ini supaya bisa mencegah orang itu melakukan niat jahatnya?"

Rei menengok kebelakang, melihat perwakilan dari tiap desa dan kota duduk dengan kaku, tak ada yang bersuara satu pun. Mungkin karena ini pertama kalinya mereka satu ruangan dengan para penguasa atas, ditambah lagi ada King-sama dan Queen-sama yang mereka hormati dan cintai. Pastinya mereka tidak ingin mempermalukan diri mereka sendiri. Ya, kecuali kalau mereka bermuka tebal.

Berbanding terbalik dengan para penguasa atas. Beberapa dari mereka sepertinya kekurangan stok etika, menatap rendah kebelakang.

Miku menimbang jawaban apa yang layak ia keluarkan untuk memuaskan makhluk narsis yang merasa dirinya paling tampan sedunia.

"Entah." Jeda sejenak "Walaupun yang kulihat hanya setengah, entah kenapa aku merasa saat itu tiba kita hanya akan terpaku diam saja."

Mata Rei menyipit tidak suka.

'Dengan kata lain, kau ingin bilang, kita duduk disini untuk melihatnya menderita.'

'Atau lebih halusnya lagi, kita disini untuk membuktikan benar atau tidaknya dugaanmu itu.'

Opsi manapun, tidak membuat Rei senang. Opsi pertama adalah opsi yang paling ia benci karena sebagai laki-laki sejati ia tidak mungkin diam saja saat melihat seorang perempuan terancam mati di depan matanya. Pokoknya sulit di percaya. Masa ia, dia diam saja?

Sedangkan opsi kedua itu terdengar seperti taruhan dan dia benci taruhan.

Tapi, seandainya dugaan Miku benar. Maka, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya?

'Kenapa juga ramalannya cuman setengah?! Kita kan jadi nggak tahu apa dia terluka atau tidak!'

'Kira-kira apa yang sedang dipikirkan olehnya ya?'

Rei ingin bertanya sesuatu pada Len namun ia tak berani. Salah-salah, ia bisa dilempar ke luar bumi.

"Kalian jangan keenakan ngobrol, sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Peringat Piko membuat Rei mendesah lega sekaligus tersenyum sinis di waktu yang sama.

Piko dan ucapannya tidak sinkron. Dia yang memberi peringatan, dia sendiri yang asyik bercanda dengan Miki. Teman-temannya memang tidak ada yang beres. Teman? Sejak kapan mereka berteman? Rei membatin miris. Mereka bersama bukan karena ikatan pertemanan. Tapi, karena situasi yang memaksa.

Intinya, semakin cepat pertemuan ini dimulai, semakin cepat rasa penasarannya menghilang.

Di tengah pertemuan inilah, jawaban itu akan datang.

Kaito menghilangkan kotak melayang dihadapannya saat mendengar suara penasihat raja mengudara, memberi salam penghormatan pada King-sama dan Queen-sama, lalu memulai basa basinya. Apa yang harus dilakukan dan aturan apa saja yang perlu ditaati saat pertemuan berlangsung. Setelah selesai mengeluarkan semua basa basinya, penasihat itu menyerahkan kendalinya pada pria berkacamata.

"Saya Kiyoteru Hiyama." Suara tegasnya menggema. Piko langsung memperbaiki posisi duduknya dan mengunci mulutnya rapat-rapat. Siapa pun yang mendengar nama itu, akan melakukan hal yang sama seperti halnya yang dilakukan oleh Piko, pengecualian untuk mereka yang punya keberanian lebih, mereka bebas dalam bersikap karena tidak akan terpengaruh oleh aura mengintimidasi Kiyoteru. Contohnya Len, dia dengan terang-terangan menunjukkan sikap menyebalkan. Duduk dengan kaki menyilang dan muka tertutupi buku.

Kiyoteru mengabaikan sikap berkelas salah satu murid yang memang berada dibawah pengawasannya lalu berucap.

"Saya sudah mendengar alasan kalian semua berkumpul disini."

Dia berjalan ke sisi kanan, seakan memberi ruang. Kepalanya bergerak ke samping kiri, meminta pendengar untuk melihat kebelakang. Satu layar besar muncul, Gumi melebarkan matanya, sedikit tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.

Layar lainnya muncul, Teto terdiam dengan mulut terkatup rapat. Keinginannya untuk menikmati roti seperti biasanya lenyap begitu saja.

Layar berikutnya, Gakupo mengeraskan wajahnya. "Kalian boleh menutup mata kalian." Sarannya pada juniornya. Mengingat diantara semua orang yang berada disini, hanya mereka bersembilanlah yang masih berusia empat belas tahun.

Teto mengepalkan tangannya kuat. "Tidak apa-apa Gakupo-senpai. Kami tidak akan dipilih menjadi Navigator jika hal seperti ini saja membuat kami takut."

"Teto-chan benar." Angguk Gumi membenarkan. "Rin-chan bahkan satu tahun lebih muda dari kami Gakupo-senpai."

Gakupo nampak tidak setuju. Tapi, ia urungkan niatnya untuk memberi mereka penutup mata saat mendapatkan lirikan tajam dari Miku. Baiklah, mereka bukan anak kecil lagi.

Gakupo kembali memperhatikan penjelasan Kiyoteru di depan sana.

"Gambar kedua di layar adalah korban menghilang dari fenomena yang baru-baru saja terjadi. Sementara gambar terakhir adalah kematian masal penyihir api di dataran utara tujuh tahun lalu."

Tanpa diperjelas pun, sepertinya semua orang sudah bisa menarik kesimpulam itu secara mandiri. Tapi, apa hubungannya gambar kedua dan ketiga?

"Sebelum kita membahas ke masalah inti, saya ingin kalian semua melihat sesuatu yang mungkin bisa dijadikan sebagai petunjuk."

Layar baru muncul, kali ini gambarnya bergerak, Gumi menyatukan alisnya bingung. Darimana gurunya bisa mendapatkan rekaman saat fenomena aneh itu muncul di akademi?

"Rekaman ini asli. Kami membuatnya dari sisa gelombang sihir yang masih ada di tempat kejadian."

Seakan tahu apa yang berkecambuk dalam pikiran Gumi, Kiyoteru menjelaskan.

"Dua hari yang lalu, hal tersebut terjadi di Crypton Academy. Melihat reaksi kalian, kurasa sebagian dari kalian paham maksud saya."

"Paham?" Gumam Gumi heran. Merasa daya tangkapnya menurun. "Gakupo-senpai, apa kau paham?"

"Tidak." Gakupo melirik sekilas pada Teto dan Gumi yang menunjukkan raut kecewa.

"Dia berbohong." Ucap Miku yang diangguki Miki.

"Iya, habis mereka yang saling mencintai adalah perisainya sih."

"Dan yang tak terlihat adalah pedangnya."

"Kalian berdua, bisa tidak berhenti sejenak bicara sesuatu yang sedikit berbau ramalan." Pinta Rei. Miki menatapnya polos dan Miku mengedikkan bahunya acuh.

"Ya, ya, bukan urusan ku juga sih." Keki Rei kesal.

"Langsung saja pada intinya, tidak perlu berbelit-belit, bilang saja kalau fenomena yang baru-baru ini muncul berhubungan dengan 'kejadian itu'. Apa aku benar? Dan untuk apa mengungkit kasus yang sudah di tutup?"

Rei menatap datar bangsawan yang baru saja mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Dia pelaku utama yang menyababkan macetnya pelantikan navigator. Apa dia tidak punya malu masih berani bicara dengan nada menjengkelkan seperti itu?

"Huh? Aku terkejut, harapan kalian terkabul." Sambungnya melirik tetua Kagami dan Kagene.

Tetua Kagami dan Kagene tidak menanggapi, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Menatap empat layar dengan tatapan menilai.

"Apa kau sudah melihat isi labirinnya?" Tanya Tetua Kagami dengan suara manis namun tegas.

Kiyoteru berdeham kecil, belum terbiasa dengan perubahan ekstrim bangsawan Kagami. "Iya, pasukan putih sudah memeriksanya dan labirin itu kosong."

"Kosong?" Kali ini, Tetua Kagene terkesiap kaget. "Kau yakin?"

Ragu, Kiyoteru mengangguk.

"Memangnya ada apa dengan labirin?" Tanya Sina Megpoid ── Ibu Gumi. Mewakili kebingungan beberapa orang yang mendengar pembicaraan mereka.

Tetua Kagene mengurut pelipisnya. Kerutan di wajahnya semakin bertambah saat dirinya sedang berpikir keras.

Tiba-tiba saja dia bangkit. "Aku akan pergi memeriksanya sendiri. Theo, ikut aku!"

Theo Kagene - ayah Rei - nyaris memutar bola matanya bosan. Apanya yang sendiri jika masih minta ditemani?

"Apa yang kau tunggu, anak nakal?! Cepatlah!"

Sebelum perintah kedua turun. Theo segera menyeret dirinya meninggalkan aula. Tanpa pamit. Menyisakan tanda tanya besar.

"Jadi, sepertinya hanya kau yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Kagami-sama." Kata Sin, tetap dengan nada angkuhnya.

"Kiyoteru-san." Merasa namanya dipanggil, Kiyoteru menatap heran tetua Kagami. "Seberapa jauh kau mengetahui 'kejadian itu'?"

"Tidak banyak."

"Kurasa kau bisa menjelaskan pada mereka karena sepertinya kalian semua terlihat terganggu dengan suaraku."

Tepat sasaran.

Suasana mendadak canggung.

Beberapa terlihat memalingkan muka ke arah lain, merasa tersindir.

"Tentu, jika Anda tidak keberatan, King-sama." Kiyoteru meminta izin.

King-sama atau sebut saja Leon, ia memejamkan matanya sebentar, nampak berpikir. "Ya, ceritakan pada mereka apa yang kau dengar dariku."

Pernyataan Leon membuktikan, kalau Kagami bukan satu-satunya orang yang tahu 'kejadian itu'.

Kiyoteru mengangguk dan menggerakkan mulutnya cepat, membuat layar-layar yang melayang di atas panggung menghilang begitu saja, berganti dengan layar yang baru. Menampilkan gambar labirin.

"Labirin ini bukan merupakan karya seni murid Crypton Academy seperti yang kalian ketahui selama ini, kami sengaja memalsukan keberadaannya supaya apa yang ada didalamnya tidak terusik."

"Terusik?"

"Kurang lebih begitu, kalian yang sudah hidup lebih lama kemungkinan pernah mendengar cerita dari orang tua kalian tentang 'Buku dua sisi'. Buk-"

"KAU!" Potong seorang lelaki tua. Dia berteriak sambil menunjuk Kiyoteru dengan tangan bergetar. "JANGAN BERCANDA!"

Napasnya memburu. "Mereka tidak mungkin masih hidup. Apa yang terjadi di masa itu, mereka semua sudah tidak ada dan tidak akan pernah menghantui tempat ini lagi. Kalian yang menjamin itu dan apa maksudmu berkata seperti itu? Kau ingin bilang kalau mereka selama ini di penjara dalam labirin? Lelucon yang bagus."

"Saya terkejut anda lebih tahu dari saya dan King-sama." Kiyoteru menekan panggilannya untuk Leon. Menjelaskan kalau semua pengetahuan yang dia punya berasal dari Leon. "Dan saya rasa saya tidak pernah mengatakan kalau labirin itu adalah penjara untuk mereka yang terlibat 'kejadian itu'."

"Apa maksudmu?"

"Bilang saja kalau 'mereka' bersiap untuk bangkit. Apa susahnya sih? Kalau bukan itu, apalagi coba?" Gerutu Shin. Apa dia berniat merusuh lagi? "Apa? Kalian pikir aku tidak tahu? Aku pernah membaca The Lules yang merupakan copyan buku dua sisi, disana tertulis kalau labirin dan peri dipercaya sebagai tanda kehadiran 'mereka'. Dua hal itu merupakan pengganti dari pembawa pesan. Apa bukti itu tidak cukup? Apa aku juga perlu menyebutkan hal apa saja yang terjadi hari ini dan apa yang tertulis dalam buku itu supaya kalian percaya?"

Bukannya mengerti dengan tatapan peringatan yang dihadiahkan oleh beberapa pasang mata, Sin malah membalas dengan tatapan menantang.

Kiyoteru mendelik. "Kita masih belum tahu pasti sampai tetua Kagene memberikan laporannya." Sanggahnya. Tatapannya beralih dari Sin ke pria tua. "Dan tenang saja, labirin itu bukan penjara seperti yang Anda khawatirkan. Apa yang terjadi di masa itu memang sudah selesai. Anggap saja labirin itu sebagai kenang-kenangan sekaligus peringatan untuk kita agar tidak mengulang kesalahan yang sama."

Sin mengedikkan bahunya acuh. Sementara pria tua itu bergidik ngeri. "Lalu apa yang kau maksud dengan 'apa yang di dalamnya tidak terusik'."

"Saya tidak tahu." Jawab Kiyoteru tenang.

"Yang benar saja! Kau bilang tidak tahu setelah meyakinkan kami kalau mereka tidak akan kembali mengacau?! Disisi lain kau bicara seakan fenomena aneh ini terjadi karena 'kejadian itu' dan sekarang kau bilang tidak tahu?! Apa kau lupa kalau fenomena aneh itu sudah memakan korban?! Sampai kapan kau akan bilang tidak tahu? Bagaimana nasib kami yang kehilangan keluarga kami secara tiba-tiba?"

Seringai Sin berkembang seakan mengatakan 'Nah kan, apa aku bilang.'

"Kiyoteru-san berkata benar." Bela tetua Utatane. "Entah Kiyoteru-san atau siapa pun, bahkan kami sebagai penjaga labirin. Tidak tahu apa yang sebenarnya tinggal disana."

Informasi yang cukup mengejutnya. Pria tua itu terdiam dengan wajah bingung. Menatap aneh tetua Utatane. "Penjaga labirin?"

"Kagamine, Kagami, Kagene dan Utatane. Kami berempat adalah penjaga labirin yang tersisa." Jelas tetua Utatane kalem. "Dan mungkin saja ditambah dengan Hatsune. Jika tetua sebelumnya memberimu kunci masuk kesana." Pandangnya lurus menatap Miku.

Miku tersenyum tipis. "Sayangnya, saya tidak memiliki kunci lama."

Rei mendengus. 'Jelas, untuk apa kunci lama, jika punya kunci baru.'

"Kalau begitu, bagaimana Anda tahu kalau labirin itu ada penghuninya?" Tanya Kana Kasane ── Ibu Teto ── tidak menutupi rasa penasarannya.

"Apa kalian akan percaya jika aku bilang, terkadang kami menemukan pakaian anak kecil disana atau maianan anak. Ada kalanya kami juga menemukan satu set perlengkapan make up atau pakaian pria. Ah, bahkan kami pernah menemukan sapu terbang." Tetua Utatane tersenyum misterius.

Hah?

"Tak perlu di pikirkan serius. Tiap tahun berkelipatan tujuh. Barang yang kami temukan disana sering berganti. Tahun ini, tepatnya bulan lalu, kami menukan tumpukan buku dan senjata. Siapa pun yang menempati labirin itu, dia kemungkinan pintar dan ahli bertarung."

Sebenarnya labirin itu tempat apa?

"Tapi, jika dalam labirin tidak ditemukan apapun seperti yang dikatakan Kiyoteru." Suara tetua Utatane tiba-tiba berubah serius. "'Kejadian itu' kemungkinan besar akan terulang. Bagaimana pun juga untuk menjaga keseimbangan di dalam labirin itu diperlukan tujuh pilar raja."

Pria tua itu semakin tidak mengerti. Terlihat jelas dari kerutan dikeningnya. "Tujuh? Bukankah pilar raja memang berjumlah tujuh? Dan setahu ku untuk mencegah 'kejadian itu' tiap tahun kelipatan tujuh kita melakukan upacara pembersihan."

"Mungkin maksud Utatane-sama adalah pilar raja sebelumnya. Furukawa, Shion dan Hatsune." Tebak tetua Kasane. "Mengingat tetua Hatsune tidak sempat menyerahkan kunci labirin pada penerusnya. Sepertinya itu berlaku untuk bangsawan Furukawa dan Shion. Dan untuk upacara..." Tetua Kasene melihat Kiyoteru, meminta bantuannya untuk menjelaskan.

"Untuk upacara pembersihan, seperti yang Anda katakan, itu memang merupakan salah satu upaya untuk mencegah apa yang terjadi tujuh puluh tujuh tahun yang lalu tidak terjadi dimasa kita. Namun, itu hanya sebagian kecilnya saja, kami tidak mungkin memaparkan semuanya pada publik." Kiyoteru menjelaskan.

"Apa tidak ada cara lain untuk menjaga labirin tanpa kunci? Dan apa tidak sebaiknya kita mempercepat upacara pembersihan?" Tanya Sina cemas dan sedikit lega melihat Gumi baik-baik saja. Dia baru tahu kejadian yang menimpa Crypton Academy. Harusnya dia curiga saat menerima surat yang menerangkan bahwa anaknya tidak pulang karena sedang dalam masa pelatihan ujian tingkat Proficient.

"Upacara pembersihan hanya bisa dilakukan saat waktunya tiba, nyonya Megpoid." Sanggah Sin sinis. "Apa anda lupa aturannya?"

Sina mengunci mulutnya rapat, dia tidak suka dengan cara bicara Sin yang seenak jidatnya.

Ichio Megpoid ── Ayah Gumi ── melepas jubahnya yang terasa panas. "Bagaimana dengan korban di akademi?" Tanyanya mengganti topik. Mengingat rekaman yang sempat dikiranya patung.

"Mereka sudah dalam penanganan orang yang tepat. Dua atau tiga hari lagi mereka semua sudah bisa pulang." Kiyoteru memindai bangsawan Kagami. "Bukan begitu Gakupo?"

Mata Gakupo mengerjap kaget ketika namanya disebut. Dia mengelus belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ah, ya, rasanya Luka pernah bilang begitu. Sepertinya. Bukan begitu..."

Gakupo menatap datar bangsawan Kagami. Pantas gurunya melempar pertanyaan padanya. Dimana Luka berada? Atau yang mana Luka? Tidak ada satu pun yang berambut merah muda.

Bertanya pada Luka yang sedang menyamar sama saja bicara dengan angin. Tidak akan ada yang menjawab.

"Aku dan Luka yang bertanggung jawab atas mereka. Jadi, tak ada yang perlu di khawatirkan. Mereka semua baik-baik saja." Jelasnya masih tetap membawa nama Luka. Gakupo yakin setelah semua ini selesai, Luka akan mendatanginya dan memberinya pelajaran tambahan.

"Senang mendengarnya." Ichio mengangguk puas. "Tapi aku masih tidak mengerti. Apa semua ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami penyihir api?" Dia mengganti kata kebakaran dengan kecelakaan. "Dan apa labirin itu yang mengundang fenomena aneh itu muncul? Rasanya sulit dipercaya, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya."

Kiyoteru menaikkan sebelah alisnya. Dia kembali menampilkan gambar kebakaran yang terjadi di dataran utara tapi kali ini yang diperlihatkan hanya tanah kosong berwarna hitam dengan sisa-sisa bangunan yang gosong.

"Bisa dikatan ya, bisa juga tidak. Anggap saja apa yang kita alami sekarang tidak seekstrim tujuh tahun lalu. Sekacau apapun hari itu, kita semua masih bisa mengatasinya dengan tenang." Kiyoteru tersenyum penuh arti di tengah penjelasannya. "Mungkin kalian merasa hal ini merupakan sesuatu yang baru. Namun, kenyataannya ini sama seperti tujuh tahun yang lalu."

"Sama?"

"Ya, tujuh tahun lalu kejadian ini berlangsung dengan cepat sehingga sebagian dari kalian menganggap hal itu bukanlah sesuatu yang besar dan mengusulkan untuk menutup kasus tersebut. Kebakaran besar di dataran utara..." Kiyoteru menampilkan dua gambar baru. "Lalu ledakan yang terjadi di institut penelitian Furukawa, kecelakaan yang dialami bangsawan Hatsune, semua itu terjadi dalam satu hari. Berbeda dengan sekarang, fenomena hari ini sangat membekas di pikiran kalian karena mengingatkan kalian pada kejadian tujuh puluh tujuh tahun yang lalu. Satu persatu orang-orang mulai menghilang tanpa sebab."

"Oh." Gumi bergumam datar. Dia sangat ingat dengan kasus tujuh tahun yang lalu yang di maksud oleh gurunya itu. Sekalipun waktu itu umurnya masih kecil, ia sudah hapal siapa saja orang-orang penting di istana. Menurut Gumi, hari itu merupakan hari paling menyebalkan dalam hidupnya. Satu hari penuh dia harus mendengarkan ibunya menggerutu mempertanyakan terbuat dari apa hati nurani mereka (orang-orang yang mendukung untuk menutup kasus itu). Dia tidak masalah dengan kerusuhan yang dibuat ibunya, hanya saja dia tidak begitu suka mendengar keburukan orang lain.

Mata sejuknya memindai beberapa nama yang dulu pernah ibunya sebut. Kira-kira apakah mereka akan melakukan hal yang sama. Seperti tujuh tahun lalu. Mengabaikan ratusan jiwa yang menghilang tanpa kejelasan.

"Dan bagaimana jika aku mengusulkan untuk menutup kasus fenomena yang akhir-akhir ini muncul seperti tujuh tahun yang lalu?"

Tiba-tiba saja Leon memberi usul, memecah keheningan.

Hampir semua orang yang mendengarkan usul itu menatap Leon tak percaya.

"Anda tidak bisa seenaknya begitu?! Ini dan itu jelas berbeda?!" Bantah salah satu penguasa atas tingkat dua marah.

'Aneh? Dari cerita kaa-sama, orang itu harusnya berada di barisan pendukung.' Nilai Gumi dalam hatinya. 'Kenapa dia menolak? Apa mungkin dia sudah sadar dengan kesalahannya ya?'

Emerald Leon menghunus tajam. "Apa yang membuatmu berpikir ini dan itu berbeda?"

"Apa Anda tega mengorbankan rakyat Anda untuk perasaan sentimentil seperti ini?"

Rasanya Gumi ingin bersorak, memuji keberanian Kouji Yukimura. Seingat Gumi namanya itu. Sementara Miku sudah gatal ingin melemparinya dengan teko. Apa orang itu tidak mengerti juga maksud Leon? Harusnya dia melihat wajah rekannya yang sudah pias.

Kiyoteru hendak memberi peringatan namun pertanyaan Leon mengurungkan niatnya.

"Siapa saja korban yang dinyatakan menghilang sampai detik ini?"

Penasihat raja berjalan tergesa-gesa menghampiri Kiyoteru. Dia memberikan gulungan bertali silver. Kiyoteru membuka gulungan tersebut dan membacakan nama-nama korban yang dinyatakan menghilang sesuai permintaan Leon. Tepat saat nama seorang gadis, Kiyoteru berhenti lalu menatap datar Kouji.

"Apa dia putrimu?"

Kouji tidak menjawab, hanya menatap Kiyoteru sambil menahan emosinya.

Gumi menarik kembali semua pujian untuk Kouji. Semua perkiraannya salah. Kouji tidak sadar sama sekali. Dia hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri.

Lily membisikan sesuatu pada Kiyoteru. Membuat Kiyoteru manatap Lily terkejut. Lily mengangguk, menegaskan permintaannya. Tanpa banyak bicara, Kiyoteru keluar ruangan.

Selang beberapa detik, seekor blue bird terbang menghampiri Leon dan mendarat dipundaknya. Blue bird tersebut berkicau dengan suara cicitan kecil sebelum menghilang menjadi kepingan cahaya. Leon mendesah lega setelah menyimak isi pesan yang disampaikan oleh blue bird.

"Labirin itu tidak kosong."

Ternyata blue bird tadi merupakan kiriman dari tetua Kagene yang sedang memeriksa kondisi labirin bersama Theo.

Kana merilekskan badannya. Satu masalah selesai. Labirin dinyatakan sudah aman. Apa yang mereka khawatirkan tidak terbukti.

Tapi, apa benar begitu?

Lalu mengapa Leon terlihat menahan emosi?

"Rion Kagami, Lilian Utatane." Panggil Leon. "Apa diantara kalian ada yang memberi izin pasukan putih untuk memeriksa labirin atau berjaga disekitarnya?"

"Tidak."

Lilian melirik Rion. Menunggu jawaban. Namun, Rion tetap diam, tak bersuara, bahkan dia tak bergerak seinci pun. Sebentar, matanya melirik pada tetua Kagami. Tidak jauh berbeda. Like father, like son. Great.

"Begitu juga dengannya." Tambahnya sambil menunjuk Rion yang duduk tujuh kursi darinya.

Leon menarik napas dalam dan menghembuskannya. "Sepertinya aku bukan satu-satunya 'King-sama' disini."

Tatapan terkejut terlempar begitu saja tanpa bisa dicegah. Sin tersenyum meremehkan seakan membenarkan.

Gumi menutup mulutnya cepat-cepat yang nyaris mengeluarkan pekikkan. Disebelahnya, Gakupo bergumam 'Ini gawat' dengan suara kecil. Kalimat singkat Leon cukup menjelaskan maksud tersembunyi di dalamnya.

Ada penghianat disini.

Laporan pasukan putih tidak sesuai dengan laporan tetua Kagene.

Bisik-bisikan halus mulai terdengar.

"Leon."

Fokus teralihkan pada kedatangan Kiyoteru yang datang bersama Lenka.

Dan nampaknya mereka harus meluangkan waktu untuk pergi ke dokter.

Apakah tadi Kiyoteru baru saja memanggil nama depan raja? Bukan King-sama?

Len menurunkan buku yang menutupi wajahnya, alisnya terangkat satu, menunggu aksi apa yang akan dilakukan oleh Leon.

"Mulai hari ini aku bukanlah 'King-sama' lagi."

Leon melepas mahkota yang sudah menemaninya selama puluhan tahun dan menggantinya dengan topeng kucing hitam yang dibawa oleh Lenka.

"Aku kembali menjadi Leon Kagamine."

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

.

Saya fokus melanjutkan cerita ini dulu, idenya lagi berkumpul disini ~ hehe

.

-Aixa Tangerina-

06/09/2017