.
.
.
.
.
.
.
Aturan Kelima: Jangan Sampai Tertinggal
Disclaimer:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Warning:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
.
.
The Rules
.
.
.
.
.
.
.
[Rin POV]
"Rin-chan, kau yakin tidak akan tersesat lagi kan?" Tanya Gumi cemas.
"Tidak akan!"
Aku langsung melesat pergi. Terbang bersama tiga orang calon Advance. Mereka dua tahun di bawah ku. Tujuan kami adalah Secret Garden.
Ini hari keenam dan sudah tiga puluh kali aku mengantar calon Advance ke tempat itu. Karena tugas dari akademi──dan paksaan dari anggota ku yang merengek minta libur──aku harus memastikan mereka sampai dengan selamat. Pulang dan Pergi. Huft, merepotkan!
Mereka yang ujian. Kenapa aku yang susah?
Butuh waktu satu atau dua jam untuk sampai disana lewat jalur udara. Jika lewat jalur darat, mungkin sekitar setengah hari.
"Kagami-san! Perhatikan arahmu!"
Aku melewati (hampir menabrak) penyihir lain yang kebetulan berada di jalur yang sama.
"Ha'i..." Jawabku malas dan menambah kecepatan.
Dari arah depan, padang bunga mulai terlihat.
"Rin-senpai, bisa pelan-pelan sedikit. Kami masih belum terbiasa terbang di area bebas."
Hhh... Inilah salah satu alasan mengapa aku tidak suka mengerjakan tugas ini. Dasar manja.
Aku mengangguk kecil dan menurunkan kecepatan.
"Kalian bisa mendarat?" Tanyaku. Mereka saling melirik ragu. "Sebentar lagi kita sampai."
Setelah melewati padang bunga ini adalah bagian tersulitnya. Kami harus melewati celah sempit diantara bebatuan yang lebarnya 70cm sejauh 200km lalu menukik kebawah dan mendarat tepat di atas Giant Mushroom. Jamur berbintik empat. Di salah satu bintik itulah kami harus mendarat.
Masalahnya aku tidak tahu seberapa buruk mereka mendarat.
"Kurangi kecepatan kalian." Sisa tinggal 100km. "Perhatikan aku baik-baik. Jika kalian gagal mendarat, tahun depan jangan temui aku lagi!"
Aku memperkecil ukuran sayap di sepatuku. Posisi kepalaku condong ke bawah, menukik menuju salah satu bintik Giant Mushroom. Bintik sebelah kanan atas. Sedikit melakukan gerakan memutar, aku mengganti posisi tubuhku menjadi berdiri. Perlahan kakiku menyentuh permukaannya dan sayap di kedua sepatuku pun menghilang.
Satu persatu ketiga calon Advance itu melakukan hal yang baru saja kulakukan. Untuk tingkat Novice mereka terlalu kaku dan berhati-hati.
Setidaknya mereka berhasil melakukannya.
Saat keempat bintik sudah terisi, pijakan di bawah kaki kami pun menghilang dan kami semua terjatuh begitu saja.
"Waaaaaaaaaa!"
Kami berteriak histeris.
Bruk!
Dan mendarat dengan kasar. Saling menindih.
"Ugh... berapa kali pun kemari, aku selalu lupa dengan bagian itu." Ringisku. "Dan mau sampai kapan kalian berada di atas ku!?"
"Ah, maafkan kami senpai." Buru-buru mereka bersingut menjauh. Aku bernapas lega. Heran saja, tulang-tulangku masih utuh setelah ditindih entah berapa kali.
"Ah, ya.. lupakan saja." Aku melihat sekeliling. "Ngomong-ngomong kita sudah sampai di Secret Garden."
Selesai mengucapkan itu, terdengar suara pekikan senang. Mereka saling berpelukan dan meloncat kegirangan.
"Aku tidak percaya... kita berhasil sampai disini!"
"Tempat ini... benar-benar mengagumkan."
"Dan sangat cantik."
Komentar yang bagus, sayangnya aku tidak sependapat dengan mereka. Aku bahkan sudah bosan melihat tempat ini. Satu-satunya tempat yang tidak membuat ku bosan adalah tempat tidur. Serius, aku butuh istirahat.
"Kalian bisa menanam bibit harapannya sekarang." Perintahku cuek.
"EH?"
Jangan bilang kalau...
"SENPAI! BIBITNYA TERTINGGAL!"
Aku mungkin sudah kehilangan akal sehatku saat menerima tugas ini tanpa penolakan.
"Rinny~ Apa mereka calon Advance yang kamu bawa?" Tanya Miki tiba-tiba sudah ada di sampingku. Kebetulan sekali!
"Miki,tolong jaga mereka sebentar. Aku akan pergi menjemput calon Advance lainnya." Ucapku cepat dalam satu tarikan napas dan melesat terbang. Tidak memberi kesempatan pada Miki untuk protes.
"Rin-chan kau mau kemana? Disana bukan..." Aku berpapasan dengan Gumi yang sedang mengantar calon Advance. Beruntung kami tidak bertemu di celah sempit.
"Ya, aku tahu. Aku akan segera kembali." Potongku cepat, menambah kecepatan.
Aku berhasil sampai di tempat para calon Advance berkumpul dalam waktu tujuh menit. Jantungku panas dan rasanya ingin ku dinginkan. Mataku memincing tajam pada bungkusan yang kuyakini berisi bibit harapan milik para calon Advance yang ceroboh itu.
"Kuharap aku dibayar lebih untuk ini." Gumamku mengambil kasar bungkusan kain yang tergeletak di samping pohon.
"Aoi, Toma, Zix. Apa itu nama kalian?" Aku menghampiri tiga laki-laki yang sedang asyik mengobrol. Mereka mengangguk bingung.
"Bagus. Aku Rin. Kita terbang sekarang."
"Tapi..."
"Aku sedang dalam kondisi buruk. Jadi, pastikan kalian membawa bibit harapan atau kalian akan merasakan akibatnya." Potongku kilat. Aku tahu mereka akan bicara apa. Dalam kamusku, aku tidak tahu apa itu jadwal. Aku tidak peduli mereka harus terbang sejam lagi atau tahun depan sekalipun. Tugasku cuman satu, mengantar mereka dengan selamat.
Dalam penerbangan ketiga puluh satu ini, kami terbang dengan brutal. Mereka cukup hebat bisa mengikuti ku sejauh ini. Fisik mereka bagus untuk ukuran pemula.
"Apa kalian bisa mendarat?"
"Jauh lebih baik darimu."
"Aku bahkan bisa mendarat sambil menutup mata."
"Kalau kau butuh bantuan untuk mendarat, katakan saja."
Mereka menjawab dengan sombong dan angkuh. Yang terakhir, aku tidak yakin kalau itu rayuan. Intinya, mereka meremehkan ku hanya karena aku perempuan. Menarik.
"Sebentar lagi kita sampai, kurangi kecepatan kalian jika tidak ingin menabrak." Peringatku di jarak 200km. Kami memasuki celah sempit. Sebagus apapun cara terbang mereka, akan sia-sia jika mereka tidak berhasil mendarat. "Setelah 100km darisini, menukiklah kebawah. Semoga beruntung, pecundang."
Aku menambah kecepatan dan meninggalkan mereka dalam satu kedipan mata.
Mereka muncul di hadapanku setelah dua kotak stik coklat kuhabiskan. Kupikir mereka tersesat.
"Kalian lama se────HUAAAAAA!"
Gawat! Aku lupa dengan bagian ini! Rasanya pasti super sakit saat tertimpa tiga laki-laki sekaligus. Dan kenapa aku selalu mendarat duluan?
"Itu karena kamu ringan, bodoh."
Eh?
"Aku tidak jadi jatuh?"
Len menangkapku seperti seekor kucing. Mencubit dileher namun yang dia raih bukan kulit leherku melainkan kerah bajuku. Apa dia tidak bisa menolongku secara normal?
Entah kenapa aku selalu ditangkap olehnya seperti ini setiap kali aku mengantar calon Advance laki-laki.
"Jadi kau lebih suka jatuh dan tertimpa?" Tanyanya sinis sambil melihat tiga calon advance yang saling menimpa di bawah sana dengan datar.
"Aku bisa terbang sendiri. Lepaskan aku."
Dia melepas kerahku. Aku langsung terbang turun. Keenam calon Advance yang kubawa kemari segera menghampiriku ketika melihatku turun.
Aku menyerahkan bungkusan kain pada calon Advance yang kehilangan bibit harapan. Mereka mengucapkan terima kasih berkali-kali dan memintaku untuk tidak meninggalkan mereka bersama Miki. Aku bisa bayangkan apa yang terjadi pada mereka selama aku pergi.
Ketiga cowok yang sombong itu juga meminta maaf padaku. Mereka kagum dengan kemampuan terbangku. Sekarang mereka mengira aku ini Advance tercepat. Aku terlalu malas meluruskan jadi kubiarkan saja.
Lagipula ujian sebenarnya baru saja dimulai. Bibit Harapan lah yang menilai apakah mereka pantas menjadi Advance atau tidak karena bibit itulah yang menentukan jenis sihir mereka. Ngomong-ngomong, salah satu syarat kelulusan masuk Crypton Academy adalah lulus ujian Advance.
"Minumlah, Rin-chan. Kau terlihat lelah." Teto memberiku jus jeruk. Dia menempatkan dirinya di sebelahku. Kami berdua duduk diatas batu besar.
"Terima kasih." Aku membuka segelnya dengan mudah lalu meminumnya.
"Ngomong-ngomong jus jeruk itu dari Kamine-san."
Refleks. Air mancur orange terbentuk. Bersamaan dengan mekarnya bunga berbentuk not melodi. Tanda bahwa sihirnya merupakan sihir suara. Sama seperti Gumi.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang?" Tanyaku.
Teto berkedip lucu dengan roti yang baru setengah di gigit olehnya. "Karena Rin-chan tidak bertanya." Jawabnya setelah berhasil menelan rotinya dalam sekali kunyahan.
Aku menghela napas dan meminum jus jeruk yang tinggal setengah. Sayang kalau di buang.
Kami pun menyaksikan para calon Advance memperoleh sihirnya.
"Tiga orang."
"Hm?"
"Mereka gagal."
"Oh." Tanggap ku datar. Tidak tahu harus menjawab apa. Menatap biasa bunga yang layu. Menunduk ke bawah.
Ujian Advance merupakan tantangan ringan bagi mereka yang bermimpi ingin menjadi penyihir hebat. Karena pada kenyataannya tidak semua orang memiliki potensi menjadi seorang penyihir. Sekalipun mereka bisa terbang atau bisa menggunakan item sihir. Mereka selamanya akan tetap menjadi Novice (setengah penyihir) jika tidak mendapatkan setifikat kelulusan Advance dari sekolah sihir tertentu.
Crypton Academy bukan satu-satunya sekolah sihir di kerajaan ini, masih ada enam sekolah lainnya.
Jika mereka gagal disini, mereka masih punya kesempatan untuk mengikuti ujian Advance di tempat lain yang lebih ringan dari ini. Hanya saja, mereka harus membuang impian mereka atau berusaha sangat sangat sangat keras jika ingin menjadi bagian dari kerajaan karena hanya Crypton Acamedy lah, satu-satunya sekolah sihir yang mendapat pengakuan langsung dari pihak kerajaan. Bersekolah disini pun tidak sepenuhnya menjamin, perjalanannya masih sangat panjang jika yang diincar adalah istana. Masih ada tiga ujian lagi yang harus di lewati.
Competent. Proficient. Dan Expert.
Sebut saja, tiga pintu pembantaian. Tiga pintu yang akan membantai habis mimpi kalian tanpa ampun jika tak kuat mental, kurang potensi dan lemah fisik.
Namun, pembantaian bisa berubah menjadi kembali hidup jika bisa melewati pintu terakhir. Maka... selamat, dia telah menemukan kengerian yang baru yaitu menjadi penyihir 'veteran'. Masalah biaya kehidupan, tidak perlu dipusingkan lagi. Kehidupan penyihir veteran dijamin nikmat. Sangat nikmat sampai kenikmatan itu sendiri tak tersentuh karena jumlah misi yang padat dan tuntutan sana sini. Ya, itu sih dari yang kudengar, aslinya aku nggak tahu.
Rumornya, jumlah penyihir veteran bisa dihitung dengan jari. Jadi, silahkan bayangkan sendiri sesulit apa ujiannya, yang pasti sangat jauh berbeda dengan ujian Advance. Lagipula, kalau kehidupan penyihir veteran dikekang, siapa juga yang mau?
"Ujiannya pasti sulit."
Yang di maksud Teto adalah ujian pintu pembantaian kedua. Proficient. Dia sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian itu di musim dingin nanti.
"Aha ha ha."Aku tertawa kaku. Tidak tahu harus berkomentar apa. Untuk lulus dari ujian itu, aku bahkan sampai mencobanya sebanyak tujuh kali. "Ya, mungkin saja."
.
.
.
"Lama!" Seru Gumi cemberut sambil mengetukkan kakinya ke lantai. "Dari mana saja?"
"Maaf, tadi ada sedikit masalah." Aku menarik kursi dihadapan Gumi dan menatap penuh minat puding jeruk sebelum puding itu menghilang.
Siapa yang mencuri pudingku?
"Aku akan memberikan puding ini jika kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Mataku menatap horror puding jeruk yang sudah ada ditangan Gumi. Nayris diremas. Pasti Teto yang menteleport pudingku. Aku menatapnya jengkel, semakin jengkel saat Teto merespon ku biasa. Menatapku kosong. Mata rohnya menyeramkan.
"Baik, tapi jauhkan tanganmu. Kau melukainya."
Gumi mengangguk, menyanggupi.
Oke, negosiasi dimulai.
"Berjanjilah Rin-chan!"
"Oke, aku janji." aku tidak akan berhenti menyukai jeruk. Lanjutku curang. Aku sendiri nggak ngerti ini jadi untuk apa? Gumi nggak mungkin tahu kalau aku baru saja bolos kan?
Ya, setelah mengantar tiga laki-laki sombong, aku kabur. Mencari atap. Tidur dengan damai disana sambi menunggu jam makan siang. Hingga akhirnya aku lupa waktu. Bukan salah ku kalau aku ketiduran. Salahkan jadwal misi yang padat. Tolong ya, Rin bukan robot yang siap bekerja 24 jam. Rin juga butuh istirahat!
"Baiklah, aku pegang janjimu Rin-chan." Pudingku kembali. Ini yang kutunggu-tunggu sejak pagi. "Ingat! Jangan bolos lagi oke. Kau Navigator sekarang."
Jadi Gumi tahu?
Kekehan Teto menarik perhatianku. Mata-mata ditemukan. Kemungkinan besar Teto yang memberitahu Gumi. Seingatku orang terakhir yang kutemui adalah Teto. Tidak salah lagi...
"Apa jadwalnya sudah keluar?"
... aku memang ingin mengganti topik.
Gumi menatapku tidak mengerti.
"Seleksi ulang." Lengkapku.
"Entah. Sekarang 'mereka' pasti sibuk dengan kau tahu apa yang kumaksud, Rin-chan. Pekalah untuk yang satu ini."
Aku mengangguk. Sangat tahu maksud Gumi. Pertemuan yang kacau. Aku sendiri tidak begitu paham apa yang waktu itu mereka bahas. Sempat merinding sih, biarpun dalam hati. Habis mereka membahas apa yang ditinggalkan oleh pelatih. The Lules. Lebih parahnya lagi, buku dua sisi pun ikut diseret masuk dalam pembahasan. Namun, cerita tetaplah cerita. Semua berakhir dengan terciumnya gerakan penghiatan dan King-sama yang resmi turun tahta. Fenomena aneh dianggap sebagai tipuan yang dilakukan oleh penghianat yang sampai sekarang masih belum tertangkap. Dia sengaja mengkambing hitamkan kisah yang ditakuti masyarakat. Licik sekali.
"Dengar-dengar sih, sekarang yang memimpin kerajaan adalah putra bungsu Leon-sama, dari info yang kudapat dia masih muda dan jenius. Tidak seperti ayahnya, dia sangat dingin. Bahkan belum lima menit, dia sudah berhasil menangkap pasukan putih yang berkhianat, aku sempat melihat wajah mereka. Para penghinat itu. Mereka semua mengerikan. King-sama yang baru tidak tanggung-tanggung memberi hukuman. Mereka semua seperti habis dicambuk ribuan kali. Aku jadi ingin tahu, hukuman seperti apa yang didapat pemimpin mereka jika tertangkap."
Gumi masih melanjutkan bahasannya tentang pertemuan yang tak bisa diselamatkan lagi bersama Teto. Aku samar-samar mendengarkan. Puding jeruk lebih menarik daripada krisis istana.
"Tapi, sangat disayangkan semua usahanya itu tidak bisa membuatnya menjadi 'King-sama' yang baru untuk waktu yang tidak ditentukan."
Tidak bisa menjadi King-sama? Apa maksudnya?
"Maksudmu dia akan menjadi makhluk di balik bayangan?" Tanyaku asal.
"Rin-chan, ini tidak seperti pembagian tugas dalam pentas drama." Balas Gumi gemas. Teto menyeringai. Dia satu pendapat denganku. Kami berdua makhluk bayangan yang lebih suka bekerja dibalik panggung.
"Oh, kamu pasti menyukai informasi yang satu ini. Kamu tahu siapa nama King-sama baru kita?"
Tubuh Gumi sedikit condong ke arah ku. Kedua tangannya bertahan di ujung meja. Sup wortelnya akan terbuang sia-sia jika dia kehilangan keseimbangan.
Aku menggeleng. "Tidak."
"Len Kagamine."
Alisku mengernyit bingung. "Lalu?"
"Kamu tidak merasakan apapun?" Heran Gumi. Kembali duduk normal.
"Hm?"
"Namanya Rin-chan."
"Maksudmu nama keluarganya sama dengan Lenka-nee?"
"Bukan itu! Dia kan adik Lenka-senpai. Jadi wajar saja kalau sama! Semua orang tahu itu!"
Suapan terakhir, aku berdiri. "Oh... tugasku masih menumpuk. Aku duluan, Gumi, Teto."
Gumi nampak ingin menahanku lebih lama namun dia mengangguk. "Ya, baiklah. Jangan lupa kalau nanti malam kita ada rapat antar divisi, Rin-chan."
Teto hanya mengucapkan 'Semangat Rin-chan'.
Sementara aku sedang berpikir. Dimana tempat yang enak untuk tidur siang ya?
.
.
.
Malam harinya, Gumi menyergapku di atas pohon. Dia mengikat kedua tanganku kebelakang. Tidak kencang, sihir esku bisa memotong not not melody bersuara merdu itu dalam satu detik. Tapi, tidak kulakukan. Aku pasrah saja digiring menuju ruang rapat seperti tahanan.
"Kerja bagus, Gumi." Ucap Sherry-sensei. Dia pelatih Gumi. Ikatan ditanganku menghilang, Gumi memandangku aneh.
"Aku datang, sesuai janji." Kataku acuh. Ini kadang terjadi. Aku tidak tahu sihir apa yang Sherry-sensei gunakan pada Gumi, yang kutahu, siapa pun yang menjadi target sihirnya akan patuh.
"Duduklah."
Dengan malas, aku meloncati meja dan duduk di kursiku. Tidak akan ada yang protes. Kondisiku tidak mengizinkan aku berjalan dengan normal. Kaki Len dengan baik hati memblokir jalan menuju kursiku. Nasib jika duduk sebangku dengannya dan berada dekat jendela. Sementra Gumi menempati kursinya dengan wajah bingung, masih menatapku aneh. Aku menggerakkan mulutku tanpa suara 'Kau dikendalikan oleh Sherry-sensei tadi.' Dia meringis dan membalas 'maaf'. Aku mengedikkan bahuku acuh, merasa itu bukan salah Gumi. Tak ada yang perlu dimaafkan.
"Karena kalian semua sudah berkumpul, aku ingin menyampaikan satu hal. Tentang pelantikan navigator." Sherry-sensei mengulum senyum. Aku menatapnya bosan. "Selamat, pelantikan akan dilaksanakan bertepatan dengan upacara pembersihan."
Sorakan 'iyey', 'hore', 'banzai' dan apapun yang bisa menggambarkan kegembiraan langsung memenuhi ruang rapat. Seseorang menupuk bahuku keras. Dia anggota divisiku. Aku tersenyum kaku dan membalas seperlunya. Lalu ada juga yang menjabat tanganku erat sambil berseru selamat.
Sherry-sensei mempertemukan kedua tangannya, menimbulkan suara 'prok-prok-prok' keras. Kami semua terdiam kaku. Menatapnya bingung.
"Apa sudah selesai?" Tanyanya. Kami serempak mejawab ˈIya.ˈ
Tunggu. Kenapa aku ikut menjawab?
"Baik. Sekarang berbaris!"
Apa yang terjadi? Tubuhku bergerak sendiri.
"Navigator. Maju ke depan."
Aku melakukan semua apa yang diperintahkan Sherry-sensei.
Perasaanku tidak enak.
"Kamine-san." Panggil Sherry-sensei pada Len. Dia satu-satunya orang yang tidak mengikuti perintahnya. Bahkan mengabaikan panggilannya.
Sherry-sensei menghela napas.
"Lepas penyumbat telinganya."
Penyumbat telinga?
"Kau tidak tahu?" Tanya Miku.
"Apa?" Aku menggerakkan mulutku. Ternyata bisa. Lalu aku mencoba bagian lainnya.
"Sherry-sensei pengguna sihir komando."
Tanganku juga bisa digerakkan. Sementara leherku mati rasa. Berlaku untuk kakiku juga. "Oh."
Aku pernah mendengar jenis sihir satu itu. Gumi yang memberitahuku saat aku bertanya tentang sihir milik Sherry-sensei dan Gumi menjawab, 'Informasi itu rahasia, Rin-chan. Kau tahu tidak sihir komando?'
Aku mendengus, mengingat penjelasannya yang berbelit-belit waktu itu. Niat baiknya terkadang sulit dimengerti. Sekarang aku mengerti alasan Teto memberi komentar seperti:
'Percuma Gumi-chan. Rin-chan tidak akan mengerti jika kamu tidak mengatakannya dengan jelas.'
Brak!
Len membanting orang yang betugas melepas penyumbat telinganya. Suara bantingannya sangat keras. Ugh, Pasti sakit.
Dengan wajah masam, dia ikut berbaris bersama kami di depan.
Hanya orang bodoh yang berani mengganggu pangeran matahari.
Itu candaan yang biasa kudengar dari fansnya. Dia disebut begitu karena sihir panasnya.
Setelah memastikan semua navigator berdiri di depan, Sherry-sensei memberi perintah pada anggota kami untuk mengunci mulut mereka dan kami diberi setumpuk kertas. Apa ini?
"Tugas kalian selanjutnya setelah misi penerbangan selesai."
Heh?
"Upacara penerimaan calon Advance?"
"Iya dan tidak ada penolakan. Misi utama kalian adalah menggantikan tugas kami sampai istana berjalan semestinya."
Aku mengatupkan mulutku. Tidak jadi protes. Mata Sherry-sensei melotot ke arahku.
Semenjak pergantian King-sama, tugas guru dan staf disini dibekukan dan dialihkan kepada kami. Navigator. Sekarang kamilah──para navigator──yang bertanggung jawab atas akademi. Sementara guru dan staf ditahan di istana. Mengerjakan tugas yang lebih berat dari ini. Perlu diketahui, kacaunya istana sangat berpengaruh pada Crypton Academy. Kalau di istana kursi 'King-sama' yang kosong maka di akademi kursi direkturlah yang kosong karena direktur akademi adalah King-sama. Aku hanya tahu sampai sini. Lebih lengkapnya, hanya diketahui orang yang pintar dan suka politik.
"Kau yakin tidak ingin menolaknya, shota?" Bisikku.
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, bodoh." Balasnya datar. Sama sekali tidak bisa diajak bercanda.
"Bagaimana dengan navigator tambahan?" Tanya Lenka-nee. Mengingatkan kami pada seseorang yang tidak merasakan penderitaan disini.
"Dia mendapat tugas lain." Jawab Sherry-sensei kalem. "Dan untukmu Gumi, dua hari sebelum pelantikan, kau akan diuji kembali."
Gumi tersenyum siap. Begitu juga dengaku. Aku dan anggota divisi Alexandrite sudah mempersiapkan banyak hal. Mereka menatapku penuh arti. Aku tersenyum misterius, membalas.
"Sekarang, kumpulkan lencana kalian disini. Setelah itu, kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing."
Apalagi sekarang?
Kami bergerak ke kotak kecil yang di tunjuk oleh Sherry-sensei dalam bentuk antrian. Melepas lencana kami dan memasukkannya ke dalam lubang kecil di kotak tersebut. Namun, ketika giliran ku tiba, lencanaku malah keluar lagi dan masuk ke saku jaketku. Aku hendak memasukkannya lagi. Tapi, Sherry-sensei keburu menyahut, "Berikutnya."
Tubuhku otomatis menyingkir. Ini aneh, aku yakin Sherry-sensei melihat lencanaku yang menolak masuk ke dalam kotak kecil itu. Tapi, kenapa dia membiarkan ku lolos?
Aku kembali ke tempat duduk ku dengan wajah bingung.
"Kau bodoh seperti biasanya." Len berkata datar. Aku ingin menengok kearahnya, namun tidak bisa dan tanpa di sangka-sangka sebuah buku melayang ke arahku. Aku melirik Len tajam. Kalau saja tubuhku tidak sedang dikendali, aku mungkin sudah menghajarnya.
"Jangan marah. Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara sendiri. Bukan aku yang melempar."
Adakah orang yang tidak marah setelah di lempari buku?
'Apa ini misi rahasia?' Tanyaku dalam hati. Butuh waktu sepuluh detik untuk memahami maksudnya.
Bicaralah dalam hati. Aku akan menjawabnya.
"Hm"
'Siapa?'
"Pak tua."
'Misinya?'
"Penjara es."
Alisku menyatu. Penjara es?
'Maksudmu kita dipanggil ke ruangannya?'
"Hm."
Aku tidak bertanya lagi. Karena tidak ada yang ingin kutanyakan.
Kulihat antrian di depan mulai memendek.
Kotak itu menghilang dengan sendirinya setelah lencana kami masuk semuanya. Kecuali milikku dan Len (sepertinya).
"Kalian akan menginap di akademi sampai upacara pelantikan Navigator." Info Sherry-sensei sambil menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Membebaskan kami dari pengaruh sihirnya.
Ruang rapat langsung dibanjiri suara protes. Lima hari yang lalu, kami baru saja mendapatkan izin pulang karena instiden 'patung' baru selesai dengan tanda pulihnya para pasien lalu sekarang kami diminta kembali menginap lagi? Oh, tentu aku ingin protes karena jatah liburku belum ku ambil.
Menjadi Navigator tidak sepenuhnya enak. Tugas sepele yang biasanya tidak pernah kudapat sekarang mengantri meminta perhatianku. Jatah liburku hanya bisa diambil setelah anggota ku mengambilnya. Ish, kalau begini caranya lebih baik aku jadi orang biasa saja. Hidup bersahaja, bisa tidur dimana pun dan kapan pun.
Sherry-sensei tidak mendengar protes kami. Dia malah memberi kami informasi lainnya, soal surat pemberitahuan pada orang tua kami dan kebutuhan kami di akademi. Dia juga memberi kami kunci kamar masing-masing. Tiap kamar berisi tiga orang. Kabar buruknya, aku sekamar dengan orang yang bahkan namanya tidak ada dalam pikiranku. Miki dan Miku.
"Miki senang kita bisa sekamar ~."
Tidak denganku. Aku merasa rugi.
Dengan berat, kuseret kakiku ke dekat jendela, satu-satunya kasur yang kosong dan menjatuhkan diriku disana. "Selamat malam."
"Rinny, ini masih siang. Jangan tidur dulu."
Miki mengguncang bahuku.
"Jam 10. Ini sudah malam. Jangan ganggu aku." Gumamku, manarik selimut sampai kepala.
"Miki, jangan berisik!" Peringat Miku yang bersiap untuk tidur. Sama sepertiku.
"Kalian bedua tidak asik!"
.
.
.
Aku bangun pagi-pagi sekali. Rekor baru. Ucapkan terima kasih pada Miki yang sangat pemaksa. Dia menyeretku dalam keadaan setengah tidur ke bukit, sedikit jauh dari gedung asrama.
"Mau apa kita kemari?" Tanyaku sambil mengusap pelan kedua mataku. Angin pagi terasa dingin dan menusuk. Miki──masih dengan senyum riangnya──menarikku ke tengah-tengah padang bunga.
"Menunggu bunga mekar."
Kemudian duduk sambil menekuk kakinya. Aku mengacak rambutku kasar, yang benar saja! Mana ada orang bangun pagi-pagi hanya untuk melihat bunga mekar. Apa matahari pagi sudah tidak populer lagi?
Terpaksa, aku tiduran, menimpa bunga-bunga yang mungkin akan mekar nanti.
"Mereka menyukaimu."
Aku maikkan alisku tidak mengerti melihat Miki menyembunyikan senyumnya diantara lutut yang tertekuk. "Siapa?"
Miki mengarahkan tatapannya pada bunga-bunga yang kurusak. "Mereka sangat senang."
Belum selesai aku mencerna maksud Miki, matahari sudah terbit, satu persatu kuncup bunga bermekaran. Angin lembut datang, menerbangkan sari bunga dan beberapa daun yang mengering. Aku merubah posisiku menjadi duduk dan berdiri. Memeluk diriku sendiri yang menggigil. "Bunganya sudah mekar. Ayo kita kembali."
Miki mengangguk sambil mencabuti bunga yang kurusak dan membawanya pulang. Mungkin dia akan membuangnya.
Aku berlari-lari kecil menuju asrama. "Dinginnya."
.
.
.
"Penampilan yang bagus, Rin-chan."
Aku tersenyum kecut dan menerima nampan yang diberikan oleh Sugar. Kemarin malam, setelah Sherry-sensei meninggalkan ruangan, kami melakukan rapat kecil. Membagi tugas di asrama. Kami sepakat menggunakan sistem seperti biasanya. Anak laki-laki bertugas membersihkan ruang tengah dan halaman sementara anak perempuan bertugas di dapur. Kecuali aku. Tidak ada yang percaya aku bisa memasak jadi aku mendapat tugas yang sama dengan anak laki-laki.
"Apa ini ulah Miki-san?" Gumi menahan tawa. Aku mengangguk sambil mengunyah.
"Dia bilang bunga-bunga ini akan mengutukku jika aku tidak mau memakainya."
Miki tidak membuang bunga yang dia petik. Tapi dia merubah bunga-bunga rusak itu menjadi berbagai macam aksesoris. Jepit bunga, ikat pinggang bunga dan gelang bunga.
"Wow, siapa ini?"
Teto tiba-tiba saja muncul dan sudah duduk di kursi yang memang sebelumnya sengaja ditarik Gumi dan dibiarkan kosong tanpa ditempati.
"Peri bunga." Jawabku asal.
"Peri yang manis." Teto mengeluarkan roti yang dibawanya lalu merobek roti tersebut di bagian tengah. Kemudian, memasukkan nasi kedalamnya. Dia biasa makan dengan cara seperti itu. Sementara Gumi harus ada wortel disetiap menunya. Dia sudah memberi peringatan pada setiap petugas di dapur.
"Kalian kembaran?"
Miki yang baru saja masuk ke area kantin bersama Miku menarik perhatian Teto. Ya, menarik perhatian yang lainnya juga. Aku melotot galak pada Len yang tersenyum mengejek ke arahku. Tawa Gumi semakin kencang.
"Ya begitulah, dia mengancamku."
"Ahahaha... Uhuk... uhuk... "
Gumi terbatuk, tersedak wortel kesukaannya. Dia terlalu banyak tertawa. Tangannya cepat-cepat meraih segelas jus wortel. Selalu wortel.
"Kapan misimu selesai, Rin-chan?" Tanyanya setelah wortelnya tak tersangkut lagi.
Aku menghitung jumlah calon Advance yang perlu ku tangani. Ada dua puluh satu lagi. "Besok aku sudah bebas."
"Aku akan memberitahu Lenka-senpai. Kami sekamar."
Disini kami tidak menerapkan sistem junior dan senior karena itu sangat membingungkan. Kami harus menerapkannya di kelas umum atau dikelas sihir. Siapa pun bisa menjadi senior atau junior. Jika dikelas umum aku, Teto dan Gumi satu tingkat. Namun, jika dikelas sihir, aku senior mereka. Membingungkan bukan? Tapi, untuk beberapa orang ada yang menambahkan 'senior' atau 'senpai' berdasarkan umur sebagai penghormatan pada yang lebih tua. Intinya, penempatan kamar kami dilakukan secara random. Tidak ada syarat khusus.
"Ya, tolong."
"Aku dan Teto sudah beres sejak kemarin. Kami berdua masuk panitia inti. Lenka-senpai ketuanya dan Luka-senpai adalah wakilnya."
Aku mengangguk mendengarkan.
"Kita mungkin akan jarang bertemu."
Aku berpikir sejenak. Kiyoteru-sensei memberi ku misi rahasia. Aku mungkin akan jarang di akademi. Tidak masalah.
"Ya, aku pun akan sibuk."
"Tenang saja, Rin-chan. Kami akan memberimu tugas yang ringan." Janji Teto meyakinkan.
Aku tersenyum misterius. "Itu yang kubutuhkan."
"Ya, untuk tidur sepuasmu." Cibir Gumi di sela makannya.
"Istirahat itu penting."
"Ah, ya, aku sempat menanyakan soal 'King-sama' baru pada Lenka-senpai."
Aku memutar manik biruku malas. Apa tidak ada topik lain?
Telingaku sudah kenyang mendengar tentangnya hampir tiap hari. Apa bagusnya sih dia?
"Jadi, apa kau sudah tahu seperti apa wajah 'King-sama' baru kita Gumi-nyam... nyam..." Tanya Teto dengan mulut dipenuhi roti.
Gumi menggeleng lesu. "Sama sekali tidak. Lenka-senpai tidak mau menunjukkan fotonya. Dia susah sekali di bujuk!"
Itu sudah jelas. Lenka-nee tidak mungkin menjual wajah adiknya sendiri. Dia bukan tipe kakak yang kejam.
"Kita semua bahkan baru melihat wajah Leon Kagamine-sama kemarin saat dia turun tahta. Jadi, Lenka-nee tidak mungkin menunjukkan secara cuma-cuma." Kataku logis dengan nada malas.
"Yah, kau benar. Bisa melihat rupa sesungguhnya Lenka Kagamine-senpai saja merupakan keuntungan kita."
Teto terkekeh. "Jangan lupa dengan Rin-chan dan Luka-senpai. Kalau kita tidak bersekolah disini mungkin kita tak akan tahu."
He? Masa sih? Aku merasa tidak sespesial itu.
Apa bagusnya topeng rubah?
.
.
.
"Oke... oke..., aku janji akan hadir. Tenang saja."
"Pokoknya kau harus ada disana. Awas kalau tidak!"
"Ya. Sampai jumpa nanti."
Aku berpamitan pada Gumi dan Teto. Mereka berdua pergi ke aula. Sementara aku, berjalan menuju ruang Kiyoteru-sensei. Kami bertiga mungkin tidak akan bisa bertemu lagi. Aku dan misiku. Sementara mereka bersama tugas merepotkan akademi. Kami berjanji akan bertemu saat seleksi ulang divisi Alexandrite dan itu masih ada waktu sembilan hari lagi dari sekarang. Aku sudah memberi perintah pada anggota divisiku untuk mendengarkan apapun yang diperintahkan oleh Lenka-nee dan Luka-nee. Mereka sudah merampas jatah liburku. Sekarang giliranku untuk malas-malasan.
"Yo, shota." Panggilku pada Len yang menunggu di depan pintu. Kami sudah membuat janji dengan Kiyoteru-sensei. Selain membahas misi, ada hal lain yang ingin ku tanyakan sejak keluar dari aula utama istana yaitu tentang dataran utara. Apa maksudnya dengan kasusnya di tutup? Pelatih tidak pernah memberitahuku soal ini.
Tatapan heran kulempar begitu saja. Len memberiku topeng rubah. "Untuk apa?"
"Pakai saja."
Dengan bingung aku memakainya. Kami pun masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Aku dan Len tidak sesopan itu.
"Kita dimana?" Tanyaku heran tidak mengenali tempatku berdiri sekarang. Pintu yang baru saja ku lewati menghilang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, disini gelap.
Len meraih tanganku. "Jangan begerak."
Tiba-tiba semuanya menjadi terang. Mata biru cerahku setengah tertutup, menyapu serpihan cahaya yang sedikit mengejutkan. Saat penglihatanku kembali normal. Aku dikejutkan oleh keberadaan tou-san? Dan err... Leon Kagamine, lalu dua lagi aku lupa mereka siapa.
"Dia Rin Kagami." Kiyoteru-sensei berdiri tak jauh dari kami. "Saksi mata dari 'kejadian itu'."
Saksi mata? Heee... jadi apa untuk itu aku dipanggil. Tapi, kalau tidak salah kasus fenomena aneh sudah dianggap selesai bukan?
"Kau sedikit berbeda." Pria tua yang entah kenapa mengingatkan ku pada si narsis mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Lebih manis saat terakhir aku melihatmu dan kalian nampak serasi."
Siapa pun anda kuharap bukan andalah yang memilih Len sebagai partnerku kali ini.
Sungguh, kalimatnya sangat mencurigakan.
"Berhenti menggoda mereka Theo." Leon mengingatkan. Tangannya dengan lihai membuka tiap lembar kertas yang diberikan oleh Kiyoteru-sensei.
Oh, jadi namanya Theo.
Baguslah kalau yang tadi cuman iseng.
"Kalian akan digoda terus olehnya jika terus berpegangan tangan."
Aku menatap Len malas dan dia mengedikkan bahunya acuh. Sedetik kemudian, dia melepas tanganku. Dia kenapa?
Leon menyatukan kedua tangannya dan menatap kami serius.
"Bisa ceritakan pada kami, apa yang kau lihat waktu itu?"
-o0o-
The Rules
-o0o-
[Gumi POV]
"Teto-chan bisa berikan ini pada Luka-senpai."
Aku menyerahkan tiga map merah. Teto-chan mengangguk dan segera ber-teleport.
Persiapan untuk upacara penerimaan calon Advance hampir selesai. Kami sedang menata ruangan yang akan di pakai besok. Mulai dari dekorasi, hidangan, tata letak kursi dan masih banyak lainnya.
"Lenka-senpai, apa ini cukup?" Tanyaku pada Lenka-senpai yang sedang memberi arahan. Aku harus sedikit menunduk. Lenka-senpai baru saja memakan beberapa kertas. Membuat dirinya mengecil. Dia pengguna sihir pengetahuan. Sihir langka yang membuat dirinya bisa menyerap informasi apapun dari benda yang dimakannya. Sebagai ganti dari informasi yang dia dapat, tubuh Lenka-senpai menyusut kecil.
Mata bulatnya melihat apa yang kubawa sebelum kepala kecilnya mengangguk.
"Ya, itu cukup." Ucapnya dengan suara manis.
Tangan ku bergerak, mengarahkan not-not melodi yang mengapit rangkaian bunga untuk dipasang di pintu masuk.
Saat sedang menyusun rangkaian bunga diatas papan ucapan selamat, mataku tak sengaja melihat Rin-chan yang sedang berlari tergesa-gesa.
"Rin-chan." Panggil ku.
Aku membuat suaraku sedikit bergema dengan sihirku. Tapi, Rin-chan tidak berhenti ataupun merespon. Kalau dipikir-pikir, sudah tiga hari kami tidak bertemu. Aku pasti terlalu sibuk dengan tugas ku disini dan Rin-chan bersenang-senang dengan tidur siangnya. Tugas Rin-chan tidak banyak, hanya menyambut calon Advance dengan atraksinya. Itu pun dia lakukan besok. Sebaiknya, nanti malam aku ajak Teto-chan berkunjung kekamarnya. Kurasa Miki-san dan Hatsune-san tidak keberatan dengan kehadiran kami.
"Gumi, bisa bantu aku sebentar?"
"Ya, aku segera kesana."
.
.
.
"Apa Rin-chan ada?"
Seperti rencanaku tadi siang. Aku mengajak Teto-chan bertemu Rin-chan. Dia sudah membawa bantalnya sendiri dan juga camilan pendamping.
"Rin-chan sudah tidur Gu-chan. Apa perlu Miki bangunkan?"
Mata merah Miki-san mengarah pada bantal dan camilan yang kami bawa.
"Pesta piyama!" Serunya senang. Bertepuk tangan.
"Ah, tidak usah. Kami akan kembali." Cepat-cepat aku berseru, mencegah apa pun yang Miki-san rencanakan. Dia pasti dengan suka hati membangunkan Rin-chan. Aku tidak ingin menggaggu tidur Rin-chan yang jarang bisa dia dapat.
"Siapa Miki?"
Itu suara Hatsune-san. Kami tidak bisa melihat keberadaannya karena Miki-san hanya membuka pintu kamarnya sedikit.
"Tunggu sebentar."
Dia menutup pintu. Suara gaduh terdengar dari dalam. Aku dan Teto-chan saling berpandang. Sedang apa mereka?
Lalu tak lama pintu kembali terbuka. Miki-san tidak keluar sendiri. Tapi, bersama Hatsune-san. Mereka berdua membawa bantal seperti kami.
"Kami sudah siap! Ayo kita ke aula sekarang!" Seru Miki-san senang mengapit tanganku yang bebas. Teto-chan dan Hatsune-san mengikuti dibelakang.
"Untuk apa kita ke aula?"
"Tentu saja pesta piyama."
"Hah?"
"Teman-teman sudah menunggu disana. Aku sudah menghubungi semuanya~"
Rencana awalku menemui Rin berubah di tangan Miki.
Kami berpesta semalaman suntuk, saling melempar bantal dan menghabiskan stok camilan.
Jam satu menuju dini hari, kami semua baru bisa tidur. Tidur ku terganggu dengan suara rintihan seseorang. Aku sedikit membuka mataku, melihat bahu Miki-san bergetar. Apa dia menangis?
Aku masih mengantuk dan mengganti posisi tidur ku ke arah lain. Kilauan cahaya biru melintas, aku tidak begitu jelas melihatnya. Tapi, kurasa diantara kami ada yang bangun dan berlari tergesa-gesa keluar aula. Suara dibelakang punggungku bagaikan lagu pengantar tidur. Aku jatuh ke alam mimpi. Berharap besok aku bisa bertemu dengan Rin-chan.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
.
.
.
.
Ya-hoo, apa ada yang bingung dengan ceritaku yang satu ini? Kalau ada bagian tertentu dari cerita yang sulit dipahami, boleh ditanyakan kok, nanti ku jawab asalkan jawabannya tidak mengandung spoiler ~ hehe /dibakar/
Saran dan komentarnya di tunggu karena dua hal itulah yang bisa memperbaiki tulisanku ~
Terima kasih sudah bersedia membaca sampai sini.
.
-Aixa Tangerina-
10/09/2017
