.

.

.

.

.

.

.

Aturan Keenam: Berbohong Untuk Kebaikan
Disclaimer:
Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.
Warning:
Cerita ini hanyalah fiksi belaka.
DLDR
Selamat membaca.

.

.

.

.

.

.

.

The Rules

.

.

.

.

.

.

.

[Miku POV]
Pagi ini, kami semua bangun pagi-pagi sekali. Sedikit merapihkan aula yang semalam digunakan untuk pesta piyama.

Tidak banyak yang bisa kulakukan. Aku hanya menatap bosan orang-orang yang nampak sibuk berteleport atau berlarian sambil membawa barang.

Beberapa orang yang melintas didepanku, menatapku aneh. Hanya karena aku tidak mengenakan mantel seperti mereka. Aku akui, cuaca pagi ini cukup dingin. Tapi, aku tidak mau mengambil resiko kulitku berubah warna menjadi biru karena kedinginan atau berubah menjadi merah karena kepanasan. Ya, kondisi tubuhku memang sedikit tidak normal.

"Hatsune-san sudah waktunya. Tapi, apa kau yakin bisa..."

"...aku bisa mengatasinya." Potongku cepat.

Gumi melihatku sebentar sebelum mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, tolong awasi Miki-san."

Dia berbalik, bicara sebentar pada Teto kemudian melakukan teleport bersama orang-orang yang daritadi berkeliaran didepanku. Meninggalkan aku dan Miki bersama pengikutnya.

"Mi-chan! Ayo kita sama-sama berjuang." Seru Miki riang di posisinya.

Payungku menutup, lalu berubah menjadi secangkir teh. Aroma negi memenuhi indra penciumanku.

"Kita mulai, Miki." Abaku saat melihat kilauan cahaya di taman labirin.

Air teh dalam cangkir tehku tumpah. Bergerak dibawah kakiku. Membentuk pola rumit. Aku melihat ke sisi jalan setapak, mulai terlihat basah, batu-batuanya nampak bergetar.

Satu persatu calon Advance berdatangan bersamaan dengan munculnya air mancur yang membentuk terowongan cahaya.

Aku menaruh cangkir tehku ke tempat semula dan merubahnya kembali menjadi payung. Lalu, berjalan ketengah-tengah jalan setapak yang dilapisi karpet merah.

Miki membidik langit dengan panah bersama pengikutnya.

"Selamat datang di Crypton Academy. Aku Miku Hatsune. Calon Navigator divisi Aquamarine." Ucapku memperkenalkan diri bertepatan dengan pertunjukan di langit.

Payungku tertutup saat angin berhembus dari arah belakang. Kelopak-kelopak bunga sakura berterbangan, menari diantara para calon Advance.

"Ikuti aku. Aku akan menunjukkan jalan ke aula."

Kami berjalan diantara tiruan-tiruan binatang yang bermain di halaman. Beberapa dari mereka melakukan interaksi langsung dengan calon Advance. Iringan lagu dari Gumi memberi kesan alami. Dia sedang bernyanyi di suatu tempat yang tinggi.

Piko dan Rei menyambut kami di depan pintu aula. Mereka tersenyum tipis menimbulkan suara jeritan 'kyaaa' keras dibelakang punggungku. Aku melempar kode pada mereka untuk segera membuka pintu.

Mereka kompak tersenyum miring dan melakukan apa yang ku pinta. Aku menempatkan diriku di sebelah Rei. Memberi jalan pada calon Advance untuk memasuki aula.

"Bagaimana? Apa sudah ada kabar darinya?" Tanyaku setelah memastikan Rei memakai bross pemberian Kaito.

"Tidak. Aku belum mendengar apapun."

Senyum tipisku terukir, mempersilahkan mereka masuk sebelum menghela napas.

Aku tidak bertanya lagi. Piko mencuri-curi pandang kepada Kami. Dia tersenyum lebar saat tertangkap basah olehku.

Kami memastikan semua calon Advance sudah memasuki aula, setelah itu, kami masuk ke dalam dan menutup pintu aula. Kami langsung berjalan menuju belakang panggung.

"Tahap satu selesai." Laporku pada Lenka yang sedang bersiap untuk memberi kata-kata penyambutan. Piko dan Rei bergabung bersama Kaito.

Gumi tiba-tiba saja muncul bersama Teto. "Lenka-senpai." Napasnya terputus. "Rin-chan, Kamine-san, Luka-senpai dan Gakupo-senpai sampai sekarang masih belum bisa ditemukan." Lapornya panik. Sementara Teto mengisi energinya. Dia terlalu banyak menggunakan sihir teleport.

"Kau sudah mencarinya ke rumah sakit?"

Gumi mengangguk cepat. "Sudah. Petugas disana bilang, sejak pagi Luka-senpai maupun Gakupo-senpai tidak ada yang berkunjung ke rumah sakit."

"Kamu mengambil apa yang kuminta?" Cepat-cepat Gumi menyerahkan secarik kertas kosong. Tanpa ragu, Lenka memakan kertas tersebut. Aku sedikit menutup mataku, menghalau cahaya berlebihan.

Setelah cahaya itu menghilang, kami menemukan Lenka kecil sedang menggerutu tidak jelas. "Dia mendapat misi darurat tapi tidak memberitahuku? Apa yang dipikirkannya sih? Dan dimana Len dan Rin? Apa mereka bolos lagi?"

Matanya menyorot kami semua tajam. Aku membalas dengan datar. Mulut kecilnya terbuka lalu mengatup lagi. Blue bird hinggap di kepalanya lalu berkicau sampai berubah menjadi kepingan cahaya. Dia menghela napas kecil.

"Kita bisa skip tahap dua dan empat, langsung saja menuju tahap tiga, lima dan seterusnya."

Semua orang yang bertugas untuk tahap tiga, lima dan seterusnya segera bersiap. Mereka bergerak cepat menuju posisi masing-masing. Gumi langsung pamit mundur, mempersiapkan diri.

Kami sengaja membagi upacara penerimaan calon advance ke dalam tujuh tahap yaitu memandu, memperkenalkan, demonstrasi, pembagian divisi, pengesahan, pesta kecil sampai penutup. Dengan tujuan untuk mempermudah penugasan.

Lenka berjalan mendekatiku.

"Jangan beritahu siapa pun kecuali navigator, ada yang perlu kubicarakan. Jangan kemana-mana setelah upacara ini selesai." Bisiknya sebelum beranjak pergi.

"Kaito, kau dengar kan?"

Kaito mengangguk walau matanya terpaku pada layar di depannya.

"Kalau begitu, kau yang urus."


-o0o-

The Rules

-o0o-


[Rei POV]
"Capeknya..." Keluhku bersandar di kursi nyaman sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Piko memberiku sekaleng minuman dingin. Aku membuka segelnya dan meneguknya hingga habis. Merasakan oase di tengah ketegangan. Kami sedang menunggu senior Lenka. Upacara penerimaan calon Advance baru saja selesai sepuluh menit yang lalu.

"Apa Lenka-san akan memarahi kita karena dua tahap terpaksa di skip?" Tanya seseorang yang kutahu dia adalah teman Rin, kalau tak salah Miki sering menyebutnya Gu-chan. Dia terlihat cemas. Siapa ya namanya? Aku lupa.

"Apa kalian tahu dimana Rin-chan atau Kamine-san berada?" Kali ini, temannya yang lain bertanya. Tet-chan?

Aku melambaikan tangan pas. "Entah."

Terlalu capek untuk menanggapi.

Miku sedang dalam mode 'tak bisa diganggu', ia hanya mengedikkan bahunya acuh. Miki disebelahnya menyilangkan tangan, artinya tidak. Lalu Piko melarikan diri dengan alasan ingin ke toilet. Dia payah dalam hal berbohong. Sementara Kaito menanggapi dengan senyum sopannya.

"Maaf, tadi aku terlalu sibuk dengan tugas ku. Tidak memperhatikan sekitar."

Suasana kembali hening setelah si Tet-chan itu mengagguk.

"Sudah lama menunggu?" Senior Lenka masuk. Dia sudah selesai mengantar pulang calon Advance menuju gerbang akhir. Matanya memindai kami satu persatu. "Dimana Piko?"

"Aku disini." Seru Piko dibelakangnya dengan senyum lebar. Senior Lenka mengangguk kecil.

Piko menempatkan dirinya disebelahku setelah sebelumnya diusir oleh Miku. Dia menggerutu karena Miku melarangnya mendekati Miki.

"Buat diri kalian nyaman. Aku tidak akan berkomentar apapun tentang hari ini."

Si Gu-chan yang cemas senior Lenka akan marah, bernapas lega dan temannya si Tet-chan mengeluarkan sebungkus roti melon lalu memakannya dalam diam.

Senior Lenka memposisikan dirinya duduk di depan, memutar kursinya menghadap kami. Dia menghela napas berkali-kali.

"Ada apa Lenka? Kau bisa bicara sekarang." Kata Miku tanpa perlu repot-repot menambahkan kata 'senpai' atau 'senior'.

"Aku hanya akan memberitahu kalian. Berjanjilah untuk mengunci mulut kalian rapat-rapat."

Si Tet-chan menyimpan rotinya, dia mengangguk kompak dengan si Gu-chan.

Aku harus berkenalan dengan mereka berdua nanti supaya bisa memanggil nama mereka dengan layak.

Miku tidak memberi respon tapi Miki dengan baik hati menjadikan dirinya jaminan kalau kami semua tidak akan membocorkan rahasia senior Lenka. Apapun yang terjadi.

Senior Lenka meremas tangannya resah. "Tiga hari yang lalu, Len dan Rin menerima misi rahasia. Apa diantara kalian ada yang tahu?"

Untuk yang satu ini kami semua serempak menggeleng. Cuman menggeleng, tidak berat sama sekali.

Tarik napas dan hembuskan. "Misi mereka gagal dan sekarang Rin dalam kondisi kritis."

Klontang

Tanpa sadar aku menjatuhkan kalengku.

"Maaf, lanjutkan saja." Seruku santai sambil memungut pelaku kerusuhan yang berputar-putar di lantai. Sementara senior Lenka kembali menjelaskan informasi yang dia ketahui. Tidak ada satupun dari kami yang menyela ataupun berkomentar. Kami semua mendengarkan dalam pikiran masing-masing. Oh kecuali aku. Aku sama sekali tidak mendengarkan. Pikiranku sejak tadi pagi sedang berkelana, mencari tempat yang mungkin saja dijadikan oleh pangeran matahari untuk bersembunyi. Rin sedang bersamanya dan dia sedang terluka parah.

Semalam, dia diserang atau menyerang penyusup yang masuk ke akademi. Aku tidak tahu pastinya, yang ku tahu harusnya itu adalah tugas kami bertiga. Aku, Kaito dan Piko. Kami bertigalah yang bertugas menjaga akademi selama Len dan Rin melaksanakan misi mereka di luar akademi.

Hhh... kalau saja kami bertiga tidak kehilangan jejak penyusup itu, mungkin Rin tidak akan terluka parah. Kalau saja kami tahu dia masih berada di akademi, mungkin aku tidak akan bertemu dengan dia yang hampir sekarat karena bagaimana pun juga aku tidak akan membiarkannya bertemu dengan musuh kami. Tidak untuk sekarang.

Melihatnya terbaring kaku di halaman belakang akademi seakan memperjelas mimpi yang selama tujuh tahun ini menghantui ku. Kegagalan menolong putri alam di dataran utara merupakan hantu mengerikan yang selalu datang dalam mimpiku tiap malam. Aku tidak tahu bagaimana dengan yang lain, bagiku putri alam adalah segalanya. Sebelum tahu Rin adalah putri alam, aku sempat bertemu dengan seseorang yang mirip dengannya. Di pesta jamuan minum teh, namanya kalau tidak salah Rui. Dia satu-satunya orang yang menganggap aku berbeda. Satu-satunya orang yang mau melihatku apa adanya. Tidak peduli latar belakangku, tata krama dan hal merepotkan lainnya. Dia juga yang menjadi alasanku untuk terus bernyanyi.

Akhhhh... kenapa semuanya jadi serumit ini? Aku sendiri masih bingung dan tidak percaya kalau Rui Mizune dan Rin Kagami adalah orang yang sama. Jujur saja, kalau Rui yang kutemui saat delapan tahun yang lalu itu adalah Rui Mizune, mereka benar-benar sangat berbeda. Rui adalah calon putri sejati. Baik, lembut dan ramah. Jika aku harus membandingkan dengan Rin, wajah mereka memang mirip tapi sikap mereka bertolak belakang. Ini yang masih menjadi teka teki. Bahkan jika ingatanku tidak salah, harusnya Rin seumuran dengan kami, bukan satu tahun di bawah kami.

Sebenarnya apa yang terjadi pada bangsawan Mizune tujuh tahun yang lalu?

Bagaimana bisa adik menjadi kakak dan kakak menjadi adik?

Untuk alasan kenaikan tingkat mereka masih bisa aku pahami. Wajar saja jika mereka mengincar kekuasaan, keluargaku juga begitu. Apalagi kakek, dia sering mendokrin ku kalau aku harus begini dan begitu. Dia orang yang paling shock saat tahu aku memutuskan untuk terjun ke dunia hiburan. Ayahku paling puas melihat wajah shock kakek, sudah lama dia ingin menyadarkan kakek kalau tiap orang punya jalan masing-masing, tidak sama seperti dirinya. Pengusaha hebat.

Kakek masih belum terima bangsawan Kagene yang dulunya paling aktif di dunia politik sekarang berpindah haluan ke dunia hiburan. Entah apa motif sebenarnya, yang kulihat dia seperti anak kecil yang tidak rela saingannya (baca: bangsawan Mizune) lebih bersinar daripada dia di bidang politik.

Ya, sekalipun aku satu pendapat dengan kakek untuk waspada terhadap bangsawan Mizune. Bagaimana pun juga, kenaikan tingkat mereka sangat tidak wajar. Aku sedikit menaruh rasa curiga karena pengangkatan bangsawan Mizune menjadi pilar raja tingkat dua bertepatan dengan datangnya surat misterius yang isinya permintaan tolong. Awalnya aku ragu untuk percaya keaslian surat tersebut. Bisa jadi surat itu ditulis oleh orang iseng yang mengincar harta atau kekuasaan seperti yang sering ayah bilang. Tapi, berhubung waktu itu Ayah sedang sibuk mengurus kekacauan di istana dan aku yang diselimuti rasa penasaran. Aku putuskan untuk menyelinap keluar mansion dan pergi menuju dataran utara. Setibanya disana aku tidak menemukan apapun, selain bangunan yang habis terbakar dan dua orang asing yang menyedihkan. Pertemuan canggung kami bertiga, antara aku, Len dan Kaito.

Aku sedikit lupa dengan kronologinya, seingatku aku diajak mereka ke sebuah rumah dan diminta menunggu disana sebentar sementara mereka pergi keluar. Sambil menunggu mereka, aku melihat acara di televisi, wajah kemarahan ayahkulah yang pertama kali muncul saat kotak segi empat itu menyala. Dia masih belum bisa menerima kenaikan tingkat bangsawan Mizune, channel berpindah, memberitakan kebarakan di dataran utama, aku pindahkan lagi, berganti dengan berita ledakan institut penelitian Furukawa, lalu kupindahkan lagi, berita berikutnya membuatku bingung, entah kenapa semua acara televisi isinya sama semua? Tentang kebakaran.

Saat sedang berpikir, bel berbunyi, aku bergegas membuka pintu, kupikir mereka sudah kembali, ternyata pikiranku salah, yang membunyikan bel adalah dua orang asing lainnya yang sekarang ku kenal dengan nama Miki dan Piko, penampilan mereka sama kacaunya seperti ku.

Tak lama, dua orang yang kami tunggu-tunggu pun kembali, mereka pergi berdua tapi pulangnya bertiga. Ada satu orang asing lagi, dia Miku Hatsune, penampilannya pun sama kacaunya seperti kami.

Dalam ruangan yang sunyi itu, kami serempak menunjukkan satu surat yang menjadi tali penghubung kehidupan kami berenam juga tanda yang membuatku memutuskan untuk kemari. Dari situlah petualangan ku bersama lima orang asing dimulai.

Aku pulang ke rumah setelah dua hari melakukan diskusi panjang bersama mereka. Orang rumah tidak ada yang sadar aku menghilang. Ayah terlalu sedih dengan kematian tiga sahabatnya. Sementara ibu, membantu ayah mengurus pemakaman mereka.

Besoknya aku diajak oleh ayah menghadiri acara pemakaman. Aku berkeliling, memisahkan diri. Banyak orang-orang berpakaian hitam mengucapkan bela sungkawan. Ada juga yang gembira, yang satu ini aku kurang paham. Ada juga yang membuat kerusuhan. Aku sedikit tidak percaya, orang yang membuat kerusuhan adalah dua orang yang kutemui di dataran utara. Len dan Kaito. Entah apa yang mereka katakan, tapi mereka memancing kemarahan bangsawan Mizune. Acara pemakaman yang harusnya berlangsung dengan damai dan tenang berakhir kacau dan berantakan.

Keesokan harinya lagi, aku menerima surat keterangan pindah sekolah. Kakek yang memberinya. Sulit dipercaya. Jelas. Kakek adalah orang yang paling mementingkan adat. Tidak ada badai atau hujan petir, dia memintaku pindah ke Crypton Academy, padahal dia sendiri yang memaksa ku masuk ke sekolah Kerajaan. Sekolah yang dikhususkan untuk calon pilar raja. Kakek ku sangat kekanak-kanakan, hanya karena penerus bangsawan Mizune pindah kesana, dia meminta ku keluar darisana. Ya ampun...

Tapi, ada bagusnya juga sih, di Crypton Academy aku bertemu dengan mereka lagi, pertemuan kami seakan sudah ada yang merencanakan. Kami berenam rutin berkomunikasi, mencari putri alam adalah misi utama kami. Kami tidak mau di dahului oleh mereka. Musuh kami yang menginginkan kematian putri alam. Penguasa Malam.

Salah satu dari penguasa malam lah yang semalam menyusup ke akademi. Kaito berhasil melacak keberadaan mereka dari bunga poppy yang dia ambil setelah mengalami beberapa kali kegagalan, Kaito bilang, mereka masih bersembunyi di akademi, fenomena aneh yang terjadi di akademi adalah ulah mereka. Makanya kami bertiga berjaga di akademi. Namun, Kaito tidak bisa melacak keberadaan mereka lagi setelah mereka berhasil melukai Rin. Kami sudah berusaha mengejarnya, mengikuti gelombang sihir dari pesan yang mereka tinggalkan. Tapi, hasilnya nihil. Mereka seakan ditelan oleh kegelapan malam. Sekarang petunjuk satu-satunya yang kami punya adalah pesan dari mereka.

'Fenomena aneh di kota itu bukan ulah kami. Putri alam tidak boleh bangun. Itu kata mereka. Ramalan langit sudah turun.'

Mereka? Siapa?

Kok aku merasa musuh kami bukan hanya satu. Tapi ada dua. Selain Penguasa Malam lalu siapa lagi?

Akhh! Yang penting sekarang, kemana orang itu membawa Rin pergi?

Terserah mau ramalan langit atau apapun, itu urusan Kaito untuk mencari tahu!

"Sekarang mereka ada dimana?" Tanyaku penasaran.

"Mereka berada di tangan yang tepat. Karena ini misi rahasia, kita tidak akan menerima infomasi lengkapnya."

Bukan itu yang ingin kudengar. "Apa kau dapat petunjuk?" Bisik ku pada Piko.

"Jika kau lupa, aku tidak bisa bicara dengan angin." Dia balik berbisik. Mengecewakan. Aku juga tahu itu. Tapi setidaknya ada dua orang yang bisa berkomunikasi dengan alam. Miki dan Miku. Miki bisa bicara dengan bunga dan Miku bisa bicara dengan air. Dan salah satu dari mereka dekat dengan Piko. Dia bisa tanyakan itu pada kekasihnya. Apa susahnya?

"Apa... hiks... ti-tidak ada cara... hiks... agar kami bisa menjenguknya?" Tanya si Gu-chan di sela tangisnya. Berbeda dengan si Tet-chan, dia diam tak berekspresi. Terlihat shock. Mereka berdua pasti lebih khawatir daripada kami. Dibandingkan mereka setidaknya kami tahu dia benar-benar berada di tangan yang tepat.

Senior Lenka menggeleng. "Kita tidak bisa berbuat apapun selain menunggu kabar selanjutnya. Sampai kita mendapat kejelasan tentang kondisi Rin, kuharap kalian bisa menutup ketidakhadiran mereka sehingga tidak menimbulkan kecurigaan."

[Teto POV]
"Kita tidak bisa berbuat apapun selain menunggu kabar selanjutnya. Sampai kita mendapat kejelasan tentang kondisi Rin, kuharap kalian bisa menutup ketidakhadiran mereka sehingga tidak menimbulkan kecurigaan."

Setelah mengatakan itu, Lenka-senpai beranjak pergi. Gumi menangis histeris sambil memanggil nama Rin-chan berkali-kali. Sedangkan aku mengusap kedua mata merahku yang mulai terasa panas.

Aku benar-benar kaget. Selama ini kupikir Rin-chan bermalas-malasan seperti kucing yang melakukan hibernasi layaknya beruang.

Tahunya dia malah menjalankan misi sulit lagi dan membahayakan nyawanya. Ini kedua kalinya kami mendapat kabar Rin-chan dalam kondisi kritis. Tapi ini pertama kalinya kami tidak bisa bertemu dengannya. Alasan itulah yang membuat Gumi-chan semakin histeris.

"Ini." Kagene-san memberi kami dua sapu tangan. "Sapu tangan ini bisa membuat wajah kalian kembali segar. Pakailah."

"Arigatou~" Dia mengangguk. Aku mengambil sapu tangan tersebut. Satu kuberikan pada Gumi-chan. Dia menerimanya dengan tangan gemetar.

"Ngomong-ngomong, aku Rei Kagene." Aku menatapnya bingung. Dia mengelus lehernya pelan. "Kita belum berkenalan secara formal."

Aku terkekeh. Merasa lucu dengan sikap kikuknya. "Aku Teto Kasane. Panggil saja Teto." Dia mengulang namaku dengan suara kecil. Seperti sedang menghapal. "Dan ini sahabatku, Gumi Megpoid."

"Salam kenal." Gumam Gumi-chan kecil. "Dan terima kasih untuk sapu tangannya."

Suaranya terdengar serak. Padahal besok dia harus mengikuti ujian seleksi. Apa Gumi-chan baik-baik saja?

"Aku Piko Utatane. Yo, salam kenal Teto, Gumi." Ucap Utatane-san dengan suara cerianya.

Aku tersenyum tipis lalu mengambil bungkus roti melon yang kuabaikan sejak mendengarkan informasi dari Lenka-senpai. Menghabiskannya dalam diam sambil melempar senyum sopan pada Shion-san yang memperkenalkan dirinya pada kami. Pikiranku tidak ada bersama mereka. Aku masih memikirkan kondisi Rin-chan, kuharap apa yang dikatakan Lenka-senpai adalah bohong. Kuharap Rin-chan tiba-tiba saja muncul seperti biasanya dan berkata 'Maaf, aku terlambat.'

"Huaaa." Tiba-tiba saja Miki-san berteriak. Dia berlari kecil mendekati jendela dan membukanya. Menangkap daun yang diterbangkan oleh angin musim gugur. "Aku lupa! Bunganya belum di siram."

"Aku temani, Cherry!" Piko cepat-cepat mengejar Miki yang berlari keluar meninggalkan aula.

"Aku dan Kaito yang akan mengurus ketidakhadiran mereka."

Aku ingin menolak usul Hatsune-san namun dia segera menambahkan, memperkuat ucapan sebelumnya. "Besok adalah ujian seleksi ulang. Fokus saja kesana."

Aku hanya bisa mengangguk. Rasa roti yang kumakan sekarang adalah rasa yang paling pahit yang pernah kumakan.

"Kuharap susunan Navigator tidak berubah. Selamat bejuang untuk besok, Gumi, Teto." Pamit Kagene-san beranjak pergi menyusul Hatsune-san dan Shion-san.

Sekarang di aula tinggal kami berdua. Aku dan Gumi.

"Apa kau bisa bernyanyi untuk besok, Gumi-chan?" Tanyaku.

Gumi-chan diam saja, melihatku sebentar sebelum menghela napas pelan.

"Ya, Oracion."


-o0o-

The Rules

-o0o-


[Normal POV]
Di taman yang luas, bunga-bunga bergoyang dimainkan oleh angin. Salah satu dari sekian banyak bunga yang masih kuncup, satu kelopaknya bergerak turun. Miki thumbelina menjulurkan kakinya kebawah sebelum meloncat. Dia mendarat dengan selamat diatas rumput, menyapa sebentar pada belalang yang dia temui. Miki merubah dirinya ke ukuran normal.

Angin tornado kecil datang, berputar-putar disebelahnya sampai ukurannya mengecil dan menunjukkan sosok Piko.

"Kita ada dimana?" Tanya Piko.

"Mansion The-san." Miki berjalan ke depan air mancur. Kakinya kembali melangkah mundur, memberi jarak saat airnya meluap. Mengalir disekitar rerumputan dan bergerak-gerak sampai membentuk sosok Miku.

"Apa dia ada disini?" Tanyanya melihat mansion besar beraura aneh.

"Iya, Lenny yang memberitahuku." Miki menunjukkan daun yang berisi tulisan tangan Len yang sengaja ditangkapnya tadi. "Leaf-chan yang menuntunku kemari."

"Kalau begitu, apa yang kita tunggu?" Piko berlari menuju pintu utama mansion. Miki menerbangkan daun ditangannya. Daun itu terbang mendahului Piko. Memandu. Sementara Miku berjalan dengan tenang, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian musim panas sebelum dirinya mendidih. Udara disekitarnya terasa panas.

"Kenapa disini sepi sekali?" Tanya Piko yang belum melihat satu orang pun. Kakinya dengan cekatan menaiki dua tangga sekaligus.

"Tidak tahu, Pi-chan. Ini bukan mansion Miki." Gerutu Miki sambil mengusap keringat di keningnya. "Apa Pi-chan tidak merasa kalau rumah ini semakin panas? Mi-chan, ayo cepat!" Kepalanya menoleh kebelakang dan menyipitkan mata.

"Mi-chan ganti baju?"

Miku menatap Miki yang dibanjiri keringat. Dia menghela napas sebentar sebelum mengerakkan tangannya. Genangan air dengan cepat menaiki tangga lalu menyelimuti Miki.

"Tempat ini panas. Aku bisa mendidih dan kau bisa terkena dehidrasi kapan saja."

"Segarnya ~ Atigatou, Mi-chan."

Piko melirik sekilas dan bergumam dengan suara kecilnya. Butir-butir keringat di pelipisnya menghilang satu persatu. Dia merubah susunan udara disekitar mereka menjadi sejuk. Mereka sudah berada di puncak tangga. Piko mengambil napas sebentar sebelum kembali mengikuti jejak pemandu mereka yang sudah jatuh di tengah lorong.

"Kita hampir dekat." Miki mengambil daun yang sudah berjasa untuk memandu mereka dan menyimpan di saku seragamnya. Miku sudah berganti pakaian lagi, kali ini dengan kaos dan celana pendek. Bukan terusan biru. Rambutnya diikat satu.

"Sebenarnya apa yang terjadi di mansion ini?" Tanya Piko mengatur napasnya. Dia sedikit kelelahan karena harus menaiki tangga yang jumlahnya malas untuk dihitung, belum lagi dia harus menggunakan sihirnya untuk membuat udara disekitar mereka tetap sejuk. Sementara Miku menjaga Miki agar tidak terkena dehidrasi.

Tidak ada yang menjawab, mereka kembali meneruskan pencarian mereka. Semakin dalam mereka memasuki lorong, pencahayaan disana semakin berkurang.

"Gakupo-senpai?" Panggil Piko ragu pada sosok berambut ungu yang terlihat membelakanginya. Sosok itu membalikkan badan dan Piko berhenti berlari, membuat Miki dan Miku saling bertabrakan.

"Aduh! Pi-chan! Kenapa berhenti mendadak?" Protes Miki. Sementara Miku mengumpat kecil.

Piko meringis. "Sepertinya kita dalam masalah."

Miki dan Miku melihat ke depan dan terkejut.

"Sedang apa kalian disini?" Tanya Gakupo.

Miku memasang wajah datarnya saat Leon, Theo, Lilian dan Rion ikut membalikkan badan mereka karena pertanyaan Gakupo.

"Bagaimana kalian bisa masuk?" Tanya Theo. Pemilik mansion tersebut.

"Lewat pintu." Jawab Miki polos. Piko mengelus lehernya bingung.

"Dimana Len?" Tanya Miku. "Dan apa yang terjadi disini?"

"Bagaimana caranya kalian bisa keluar akademi?" Leon balik bertanya.

Miku menunjukkan lencana miliknya. "Dengan ini, Len yang meminta kami untuk datang kemari."
Miki memasukkan tangannya kedalam saku roknya dan mendapati lencana miliknya juga ada. Piko menatap heran lencana ditangannya. Sejak kapan mereka mendapatkan lencana mereka kembali?

Semilir angin berhembus di telinganya dan berbisik, 'Katakan pada mereka kalian datang untuk menyembuhkan rancun dalam tubuh Rin.'

Itu suara Kaito.

Piko berdeham kecil, menarik perhatian. "Kami dipanggil kemari untuk menyembuhkan rancun dalam tubuh Rin." Cengirnya lima jari.

"Akhhhhhhhhh!"

Wushhhhhh!

Suara teriakan dan udara dingin berhembus di waktu yang sama. Miki dengan inisiatifnya sendiri bejalan mendekat, mencari tahu apa yang baru saja terjadi.

Luka dan Kiyoteru berdiri dengan lingkaran sihir biru tua dan merah muda dibawah kaki mereka. Lapisan es baru bergerak menutupi celah pintu besi yang mengeluarkan percikan api.

Sementara sisanya berdiri diluar radius pembekuan sihir Luka dan Kiyoteru.

Miku mengganti pakaiannya dengan yang lebih tebal, dia membuka payungnya lalu bergabung bersama Luka dan Kiyoteru.

"Aku bisa membantu mendinginkan ruangannya."

Satu tetes air jatuh dari ujung payungnya. Disusul tetesan yang lain. Diatas es yang membeku, tetesan air itu membentuk pola rumit. Udara yang awalnya dingin berubah sejuk. Napas Luka dan Kiyoteru kembali normal, tidak mengeluarkan uap dingin.

"Dimana Lenny?" Miki mengulang pertanyaan Miku.

"Dia ada di dalam." Jawab Leon.

"Apa yang dia lakukan di dalam sana?" Piko mengambil spidol di dalam sakunya. Memberikannya pada Miki.

"Menahan Rin supaya tidak mengamuk dan membuat lukanya semakin parah." Jawab Gakupo sambil mengingat kondisi Rin. "Dia mendapat tiga tusukan dan beberapa tulangnya retak, mengakibatkan organ dalamnya mengalami kerusakan. Diperparah dengan racun yang belum kami ketahui. Racun itu kebalikkan dari sihir miliknya yang sepertinya berisi material sihir panas sehingga membuat suhu tubuhnya terus meningkat. Saat ini yang bisa menolongnya cuman Len, dia satu-satunya orang yang tahan panas. Kami disini bergantian, menjaga kamar itu agar tidak meledak."

Miki mencengkram spidol di tangannya. Tidak kuat mendengar penjelasan mengerikan Gakupo.

"Kau pasti bisa. Percayalah." Piko mengelus rambut Miki.

Miki mengangguk dan tersenyum. "Ya."

Dia melangkah dengan pasti. Melewati Luka, Kiyoteru dan Miku. Tangannya menyentuh es yang terasa hangat. Sudut-sudut bibirnya tertarik keatas. Miku akan menjaganya, Miku tidak akan membiarkan Miki membeku. Seperti halnya tadi Miku berusaha untuk tidak membuatnya dehidrasi. Yakinnya dalam hati.

Luka menatap heran Miki yang membuat coretan di atas permukaan es. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang di tulis oleh Miki. Sementara empat penjaga labirin terkejut dengan tindakan Miki tersebut. Mereka berempat merasa sudah tidak asing lagi dengan hal tersebut.

"Siapa anak itu sebenarnya?" Tanya Lilian penasaran.

"Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Rin dari racun tersebut." Jawab Piko yakin. 'Kuharap begitu.' Lanjutnya dalam hati sedikit ragu.

"Selesai."

Miki membuat satu garis lurus dibawah angka nol dan meletakkan spidol itu di bawah garis lurus dalam posisi berdiri terbalik.

"Kita mulai."

Kedua matanya terpejam. Aliran udara disekitarnya berubah. Es yang berada di dekatnya mengikis. Luka dan Kiyoteru dengan cekatan menutupnya kembali.

Lingkaran sihir terbentuk dibawah kaki Miki dan diatas kepalanya, bergerak perlahan sampai tidak ada jarak lagi. Kemudian, berubah menjadi kepingan cahaya yang berterbangan menyelimuti spidol milik Piko. Miki bergumam dengan suara kecil. Spidol yang dipakainya untuk menulis terbelah menjadi dua bagian dan menyerap semua tulisan yang telah di buatnya dalam sekejap.
"Itu tadi apa?" Tanya Gakupo tidak mengerti.

Miku menutup payungnya dan segera berjalan menghampiri Miki, menahan tubuh Miki yang terhuyung ke belakang.

"Bagaimana?" Tanyanya cemas.

Miki menyandarkan tubuh lemasnya ke tembok. Dia mengganguk senang sambil tersenyum lebar.

Luka dan Kiyoteru perlahan menghapus sihir mereka. Es yang membekukan pintu besi mulai mencair. Tidak ada percikan api seperti sebelumnya. Warna pintu besi tersebut sudah kembali normal, tidak merah menyala.

Piko membuang napasnya lega. Dia menggerakkan jarinya di atas tembok. Seperti orang yang sedang putus asa. Namun, wajahnya nampak bahagia.

"Darimana kau memperlajari sihir itu?" Tanya Theo. Dia memberi kode pada Gakupo untuk memulihkan stamina Miki. Gakupo memberinya obat. Miki terlihat enggan menerimanya, tapi dia tetap menelan obat tersebut, baru menjawab.

"Dari bangsawan Furukawa." Lidahnya menjulur lalu bergumam 'Pahit.'

"Furukawa?"

"Iya, Prof Furukawa adalah pelindung Miki. Waktu Miki umur empat tahun, beliau mengajari Miki macam-macam jenis sihir. Tapi..." Miki memasang wajah murung. "Sekarang mereka sudah tidak ada."

Leon duduk seperti orang yang sedang berlutut, tersenyum tipis dan mengusap rambut Miki pelan. "Dia masih ada bersama kita, sihir miliknya yang ada bersamamu adalah buktinya. Takai akan senang jika tahu ada anak perempuan sepertimu yang mengagumi sihirnya."

"Ya, kau benar. Aku masih ingat, dulu dia sering protes karena tidak ada yang mau menjadi muridnya. Salahnya sendiri terlalu terobsesi dengan sihir kuno yang rumit-rumit dan merepotkan. Hhh... aku tidak percaya jika sihirnya yang merepotkan itu yang membantu kita sekarang." Sambung Theo santai.

Lilian terkekeh merdu. "Aku jadi ingin tahu seperti apa reaksinya jika tahu ada seorang anak perempuan yang bisa menggunakan sihir rumitnya itu."

Rion mendengus. "Dan saat itu terjadi, aku yang rugi." Gumamnya yang di dengar tiga penjaga labirin lainnya. Mereka tersenyum geli. Mengerti maksud Rion.

"Kalian mengenal Prof Takai?" Miki menatap penuh harap pada empat penjaga labirin.

Theo berdeham gugup. "Ya, kami sahabatnya."

"Bagaimana dengan Rin?" Miku menunjuk pintu besi dengan payungnya. Tidak ada maksud untuk menyela.

Miki melebarkan mata merahnya. "Ah, luka Rinny harus segera diobati!"

Luka dengan cepat membuka pintu yang suhunya sudah kembali normal. Di dalam ruangan nampak kacau. Bau gosong langsung tercium jelas. Rin bernapas normal dalam lindungan Len. Tubuh mereka berdua terlihat baik-baik saja.

"Dia pasti kelelahan semalaman menjaganya." Leon menyimpulkan. Membawa Len untuk di tangani. Gakupo yang paham arti lirikan Leon pun mengikuti. Sementara Luka mulai memeriksa bagian-bagian tubuh Rin yang harus mendapatkan pertolongan pertama.

"Rin baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Sepertinya anak itu sudah memberikan pertolongan pertama pada Rin. Tapi, dia tetap membutuhkan operasi untuk mempercepat penyembuhan tulang-tulangnya yang retak dan beberapa bagian organ dalam yang rusak." Terang Luka.

"Kita teleport ke rumah sakit sekarang!"

Di tempat lain.

"Hosh... hosh... hosh... hampir saja kita terlambat." Rei mejatuhkan badannya di atas rerumputan.

"Ya, kau benar." Balas Kaito menatap tulisan di bawah kakinya.

Rin sudah selamat.

"Jangan istarahat dulu. Kita masih harus mengembalikan ruang pemulihan sebelum ada yang melihatnya."

Rei mengerling pada rubik yang melayang diatas mansion Kagene.

"Kalau ayah sampai melihat itu, aku bisa habis. Ayo!"

.

.

.

Teto tidak henti-hentinya menatap sosok di depannya dan kursi Miku. Bolak balik sampai membuat Gumi jengah.

"Teto-chan, orang lain bisa curiga kalau kau menatap aneh copy-an Rin-chan terus." Ingat Gumi dengan suara kecil.

"Aku hanya sedikit kagum dengan copy-an Rin-chan yang tak ada cacatnya, Gumi-chan." Teto berbisik "Apa kita bisa mengajaknya bicara?" Tunjuknya pada copy-an Rin yang sebenarnya itu merupakan boneka buatan Miki.

"Coba tanyakan pada Hatsune-san atau Shion-san. Mereka lebih tahu daripada aku."

Teto cemberut dan makan roti kesukaannya dengan tenang. Tidak mencuri pandang pada boneka Rin maupun Miku lagi.

"Kau yakin sudah baikan?" Namun, ia tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya. Matanya yang memang sendu semakin sendu saat sedang cemas.

Gumi mengangguk. "Ya, aku sudah minum obat pemberian Shion-san. Suaraku jauh lebih baik."

"Oh." Tanggap Teto mengingat Kaito yang kerepotan mencari kamar mereka di asrama putri. Kaito bahkan sampai di tuduh yang tidak-tidak padahal dia sudah mendapatkan izin dari pengawas asrama. Kasihan Kaito. "Ah, dia orang yang baik. Tapi, apa kau yakin mau menggunakan lagu itu?"

Gumi mengalihkan tatapan dari sup wortel pada Teto. Menarik sudut-sudut bibirnya membentuk satu senyum tulus. "Ya, karena lagu itu adalah lagu yang 'dia' nyanyikan untukku saat aku sakit."

Teto ikut mengulum senyum. "Apapun hasilnya, aku akan selalu mendukungmu Gumi-chan."

.

.

.

Miki dan Miku duduk bersama, menjauh dari keramaian. Terkadang kepala mereka akan bergerak ke satu arah, memastikan sesuatu atau cuman sekadar menghitung jumlah orang-orang yang menunggu di depan ruang operasi tetap sama. Tidak berkurang atau pun bertambah.

Jika dilihat lebih jelas, sebelah mata mereka memiliki pola aneh. Pola yang hampir sama saat mereka sedang dalam kondisi meramal.

"Kau bisa melihatnya, Mi-chan?" Miki menatap Miku kosong.

Miku mengangguk dengan tatapan yang sama. Menghadap Miki. "Ramalan bintang dan bunga meleset. Kira-kira apa ya maksudnya?"

"Tidak meleset. Namun, berganti. Harusnya Rinny terluka saat itu."

"Ya, harusnya saat itu dia terluka. Tapi, sesuatu yang tak terduga menghalanginya."

"Apa itu?" Miki memiringkan kepalanya bingung. "Ah, ada yang datang. Apa kita lanjutkan nanti?"

Miku memejamkan matanya. "Aku tidak tahu. Dan tak apa, kita mengenalnya."

Kriet.

Pintu di samping terbuka. Gakupo menatap Miki dan Miku datar.

"Kalian benar-benar tidak kenal tempat." Gerutunya pura-pura tak melihat. Mengira mereka sedang membaca nasib seseorang. Tak menyadari pola lingkaran sihir dimata mereka yang berbeda dengan sebelumnya.

Miki dan Miku mengikuti langkah Gakupo sampai dia menyapa Piko.

"Disampingnya ada dua perisai. Untuk sekarang dia baik-baik saja."

"Bukan dua, tapi..." Miku mengerutkan keningnya seakan sedang menghitung. "Waktu membuat jumlahnya bertambah."

"Ayo, kita akhiri ini sebelum mereka curiga." Sarannya menambahkan.

Miki mengangguk setuju. Dia meniup bunga dandelion. Miku membenarkan posisi cangkir tehnya yang terbalik.

"Ini bukan ramalan bunga ataupun bintang."

"Kami hanya meminjam buku langit. Setelah itu, kami kembalikan."

"Terima kasih sudah mengizinkan kami membaca."

Mereka mengucapkan kalimat itu secara bersamaan dengan suara rendah. Pola di mata mereka menghilang. Tatapan mata mereka tidak kosong lagi. Miku dengan wajah tenangnya dan Miki dengan wajah cerianya.

"Bagaimana kondisimu?" Tanya Miku merubah cangkir tehnya ke bentuk payung bertangkai negi. Lalu melangkah pasti mendekati ruang operasi.

"Lebih semangat dari sebelumnya." Miki berlari riang menghampiri Piko yang langsung mendapat sambutan decakan gemas.

Miku melirik sekilas dan berhenti di depan ruang orperasi. Matanya tertarik pada lampu yang baru saja berubah warna menjadi hijau. Pintu ruang operasi terbuka. Kakinya sedikit melangkah mundur. Penjaga labirin berdiri dan menunggu. Gakupo bergegas pergi menghilang di balik pintu, entah mau kemana. Miki dan Piko berjalan lebih mendekat.

Luka keluar dari ruang operasi dan menutup pintunya. "Operasinya sukses. Rin akan segera dipindahkan ke ruang inap."

"Kapan dia siuman?" Tanya Leon.

"Nanti malam. Tapi, tolong beri dia waktu untuk istirahat. Sekalipun Rin sudah melewati masa krisisnya tapi ada kemungkinan dia masih harus menjalani beberapa pengecekan."

"Bisa lebih jelas lagi?" Theo sama sekali tidak paham. Tangannya mengelus lehernya pelan.

Luka tersenyum simpul. "Ada kemungkinan Rin tidak bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas untuk sementara waktu."

"Ma-maksudmu dia lumpuh?" Suara Theo tercekat. Tidak rela kehilangan satu permata.

"Tidak." Wajah Luka berubah datar. "Aku tidak suka melihat pasien ku berkeliaran. Kuharap kalian mengerti maksudku."

Merasa tidak ada yang bertanya lagi, Luka beranjak pergi. Theo berdeham. Dia sempat terdiam karena kaget mendapat ancaman dari anak sahabatnya. Rion.

"Aku sekarang yakin kalau dia anakmu."

Rion tersenyum sinis. Lilian terkekeh geli. "Jadi, kau masih tidak percaya hanya karena rambutnya yang merah muda?"

Miku menunduk sedikit walau tidak ada yang melihatnya, tapi dia baru saja berpamitan ala bangsawan Hatsune dan pergi meninggalkan ruang tunggu operasi bersama Miki dan Piko. Memberikan ruang dan waktu untuk empat penjaga labirin bercengkrama.

"Tentu saja! Kau pikir siapa yang akan percaya? Merah muda dan Kagami."

"Bagaimana dengan Meiko?"

"Dia mendapat rambut coklatnya dari ibunya. Itu turunan, bisa ku maklum."

"Omong kosong." Cibir Rion. Leon menggeleng tak percaya. Rekan-rekannya bertengkar di depan ruang operasi. Apa tidak ada tempat yang lebih elit lagi?

"Bagaimana kalau kau menjodohkan Rin dengan anakku? Dia tampan dan juga terkenal seperti ku dulu. Kau sudah melihatnya tadi kan di ruang penilaian."

Nah, jika sudah berlanjut pada acara perjodohan, jangan salahkan Leon jika tangannya bertindak lebih dulu daripada akal sehatnya. Menjitak keras kepala Theo.

"Jangan asal bicara." Katanya lalu melangkah pergi.

"Kenapa dia yang marah?"

"Karena kau bodoh."

"Hah?"

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

.

.

.

.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Terima kasih sudah membaca sampai sini.

-Aixa Tangerina-

01/10/2017