Yo! Minna, maaf buat update yang lama. Ada banyak yang diganti dari plot dasar yang udah ane bikin karena ane lebih sreg sama plot yang ini. Ane harap, kalian semua masih mau mengikuti fiksi ini. Review yang ane terima akan ane jadikan pelajaran agar ke depannya jadi lebih baik dan ane berharap chapter ini gak membosankan, ya.
Thousands Thanks For You
Sei-chan, Ryu Uchiha, fuyu-yuki-shiro, azalea yuri, Hyou Hyouichiffer, Inolana Willowshimmer, oraRi hinaRa, uchihyuu nagisa, Yukio Hisa, Mei Anna AiHina, Yamanaka Emo, Himeka Kyousuke, Lollytha-chan, Hikari Shourai, hyuuchiha alvie-chan, lavender hime chan, shyoul lavaen, zoroutecchi, Sabaku no Rei, vivi-chan, without name
Dan buat siapa pun yang udah membaca fiksi ini~
[Hope you don't mind to RnR again]
Chapter ini ane persembahkan untuk kalian semua, Minna~
Ringkasan Cerita Sebelumnya :
BRAKKK!
Suara pukulan yang dahsyat terdengar bermuara di salah satu bilik toilet pria. Siapa pelakunya? Tentu saja seorang tersangka yang tadi telah melontarkan kata-kata sinis untuk virtual ally-nya sendiri. Dialah Sasuke Uchiha. Raja egois yang pernah ada. Sesal, kini mulai merembes di hatinya. Rasa sesal karena bertindak dan berkata sebelum menggunakan akalnya.
Ah, entah bagaimana perasaannya jika posisinya dan Hinata ditukar tadi. Bagaimana jika Hinata-lah yang berkata demikian? Jelas ia akan sakit hati karenanya.
Bodoh! Kenapa semudah itu emosiku terpancing? Hinata! Aku harus minta maaf kepadanya!
Uchiha itu bersandar di balik pintu. Wajahnya menengadah ke langit-langit. Ia tak ingin hubungannya kian mendingin dengan sang virtual ally. Ia pun mengiba kehangatan seperti halnya Naruto dengan Sakura atau Shikamaru dengan Temari. Mereka begitu karib dengan komunikasi lancar di antaranya, dengan perdebatan yang membawa mereka untuk semakin akrab. Maka dengan kebulatan tekad, sang Uchiha menegakkan tubuhnya. Pintu bilik pun terbuka dan dengan segera ditinggalkan sang pemuda yang kini tengah berlari menjauh.
Virtual ally harus mengabdi kepada majikannya, manusia. Menyerahkan segenap hidup dan perasaan mereka sekehendak majikan mereka. Di sisi lain, terlihat seperti boneka. Tapi, di sisi lain, justru terlihat lebih manusiawi ketimbang manusia itu sendiri. Mereka bahkan rela mengesampingkan ego yang tetap ada di hati mereka dan hidup mereka di dunia virtual demi kontribusi besar mereka kepada para manusia. Namun, yang masih kerap menjadi kejanggalan di akal manusia awam adalah … apakah sesungguhnya virtual ally itu? Kapankah mereka diciptakan dan untuk tujuan apa?
NARUTO
© Masashi Kishimoto
U. Sasuke & H. Hinata
Warnings
AU, OoC, typo[s], inspired by "Epotoransu", etc
Coklat Abu presents
Virtual Love
[Capitulo 4 : Revealed!]
Sasuke sesungguhnya tak habis pikir, mengapa ia semudah itu dibakar api cemburu hanya karena melihat Gaara dan Hinata bersama. Apa cinta selalu beriringan dengan rasa cemburu? Apakah rasa cemburu selalu beriringan dengan letupan emosi? Ia tak tahu. Uchiha Sasuke seumur hidupnya belum pernah jatuh cinta pada dara seindah apa pun parasnya. Ini benar-benar kali perdananya mengecap cinta. Lagipula, bukanlah sebuah kesalahan jika Sasuke kesal melihat Hinata berdekatan dengan pemuda lain. Ia berhak atas diri virtual ally-nya. Hanya, tak dapat diingkari, cara Uchiha dalam mengutarakan perasaannya memang salah. Terlalu pedas dan menusuk—dan itu pulalah yang kini ia tengah sesali.
Uchiha berlari kencang di sepanjang koridor, membuat ia menjadi tontonan bagi siapa pun manusia yang langsung merapat ke samping begitu Uchiha berteriak agar mereka menyingkir. Uchiha selalu tampak angkuh dan dingin, melihat Uchiha berteriak dan berlari seperti ini agaknya memang menjadi sejarah yang beberapa manusia abadikan lewat kamera ponsel berbentuk cincin.
Surai sewarna stroberi adalah perkara yang membuat Sasuke berhenti berlari dengan seketika. Gaara, pemuda itu tengah duduk diam di halaman sekolah, tersembunyi di antara ilalang hijau yang menjulang. Tapi, tetap, oniks Sasuke terlampau tajam untuk menangkap warna khas dari sang pemuda. Dengan langkah garang, Uchiha menghampiri pemuda tersebut.
"Gaara!"
Sang Sabaku menoleh ketika namanya dilantangkan dengan nada yang layaknya mengajak ia untuk beradu dalam sebuah perkelahian. Tapi, Sabaku cukup tenang dalam menghadapi Uchiha yang sedang gusar dan itu terbukti dari gelagatnya yang tetap terlihat biasa. Pemuda bersurai marun itu menepuk celananya yang kotor dan beranjak menghampiri Sasuke.
"Ada apa? Kauterlihat seperti hewan buas yang kelaparan."
Sasuke berdecih. "Jangan memberiku lelucon konyol. Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak mendekati Hinata lagi!"
"Begitukah?" Gaara masih terlihat tenang, membuat sang Uchiha merasa bahwa ucapannya hanya dianggap angin lalu sehingga sebuah ancaman keluar dari bibir sehalus sutra milik pemuda raven itu.
"Jika kauberani mendekati Hinata sedikit saja, aku bersumpah untuk menghajarmu habis-habisan!"
Namun, sebuah pernyataan dari Gaara membuat Uchiha bagai anak ayam yang dibungkam, diam beberapa saat kemudian.
"Dekati?" Alis tipis sang pemuda berkelereng emerald terangkat. Sejurus setelahnya senyuman penuh arogansi terulas di wajahnya yang tampan. "Jangan salah paham. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan seperti yang kaupikirkan, Sasuke. Aku juga tidak punya maksud untuk merebut Hinata. Terlebih, aku tahu rasanya ketika orang yang kucintai menghilang dari kehidupanku. Jadi, aku pun tidak ingin orang lain bernasib serupa."
"Apa … apa maksudmu? Jelas-jelas aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kaumemiliki perasaan khusus kepada Hinata! Virtual ally-ku!"
Sebuah helaan napas keluar menimpali sang Uchiha dengan ketidakpercayaannya akan opini Gaara. Memaksa pemuda itu untuk melakukan suatu hal. Gaara mengangkat jemarinya dan melepaskan lensa hijaunya yang ternyata merupakan sebuah gadget. Warna mata asli sang Sabaku yang bersinar keemasan menatap Sasuke dingin.
Diserahkannya sebelah lensa hijau itu pada Uchiha. Membuat Uchiha keheranan akan tindakan apa yang harus dilakukannya dengan sebuah lensa di tangan?
Kembali, Gaara melakukan suatu hal. Dirogohnya sebuah gadget kecil berbentuk bola dari saku celananya. Ia menekan tombol yang ada di sana dan meminta Sasuke untuk melihat dengan jelas lensa hijau Gaara.
"Itu adalah alat perekam. Bentuknya menyerupai lensa kontak agar memudahkan dalam proses perekaman. Itu membuatku bisa merekam apa yang kulihat sehari-hari, berguna dalam menunjukkan bukti jika aku menemukan pelajar yang melanggar peraturan. Aku wakil ketua OSIS, ingat?"
Sasuke menyipitkan netranya dan dengan seksama melihat rekaman ulang kejadian beberapa saat lalu. Rekaman yang tertuang di lingkaran emerald membuat Sasuke terhenyak. Rekaman itu telah lebih dari cukup menjadi bukti bahwa Gaara tidak bermaksud apa pun seperti dugaannya. Memang benar di sana Sasuke dapat melihat adegan di mana Gaara mendekap Hinata, tapi suara yang terdengar di sana membuat otak Uchiha bekerja dan berhasil mencerna keadaan dengan baik. Keadaan sesungguhnya yang memupuskan segala kecemburuan butanya.
"Jelas, bukan? Aku memeluk Hinata bukan karena cinta. Tapi, karena aku merasa familiar dengan wajah Hinata yang sama persis dengan seorang wanita yang dahulu kupuja. Wanita yang kucintai tapi kini telah pergi."
Sasuke mengangkat wajahnya. Sesal, bersalah dan bingung. Asanya melebur menjadi satu dan membuat Uchiha itu hanya sanggup berkata dengan tersendat, "Gaara, kau …."
"Aku mencintai seorang wanita bernama Haruna dan wanita itu adalah ibu Hinata."
Sabaku maju dan meraih kembali lensa kontaknya yang diserahkan Sasuke. Ia kembali memasang lensa kontak itu sembari kembali menjelaskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Aku melihat Hinata menjadi bulan-bulanan penggemarmu. Aku minta maaf karena tidak lekas menolongnya. Tapi, aku memerhatikan kondisinya dan berhasil merekam saat-saat tersebut untuk kujadikan bukti pada pihak kedisiplinan sekolah. Aku terkejut ketika melihatnya mengeluarkan kekuatannya, ia mengendalikan listrik di dalam kelas seperti yang Haruna pernah lakukan dan saat aku melihat wajahnya, aku tahu bahwa mereka ibu dan anak."
"Aku—"
"Tidak perlu merasa bersalah dan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Hinata karena ialah sesungguhnya pihak yang terluka."
Drap! Drap! Drap!
Kaki jenjang Uchiha menderap di antara lorong perpustakaan. Membuat beberapa pengunjung keluar untuk rasa penasaran terhadap suara berisik yang mengganggu konsentrasi mereka dalam merangkum isi buku. Tetapi, Sasuke tak acuh. Ia tetap berlari. Semua yang Gaara katakan kepadanya tadi membuat Uchiha itu kian gelisah tak menentu.
"Minta maaflah pada Hinata. Jangan sampai kaumenyesal saat ia sudah tak ada lagi di sisimu. Seperti Haruna dan aku."
Sebuah senyuman pahit dari Gaara seakan membuat Sasuke tanpa sadar melantunkan pertanyaan.
"Gaara. Apa … apa yang terjadi padamu dan ibu Hinata?"
Sabaku tak lekas angkat bicara. Ia berbalik, membelakangi sang Uchiha. Menunggu sebentar dan tak lama Sabaku muda bicara.
"Ibu Hinata sesungguhnya adalah virtual ally Ayahku. Dia istimewa karena merupakan ratu virtual ally sehingga berbeda dengan virtual ally yang lajang, ia sudah memiliki seorang suami di dunia virtual-nya. Ayahku pun tidak dapat menjadikannya sebagai ganti dari ibuku yang sudah tiada. Jadi, Ayah menjadikan Haruna sebagai virtual ally-ku. Kami menghabiskan saat bersama dan tanpa sadar aku yang saat itu masih kecil sangat memujanya. Aku mencintainya, sebagai sosok seorang ibu dan sosok seorang wanita. Tetapi, kemudian aku melakukan sebuah kecerobohan yang fatal. Aku kesal ketika tahu bahwa Haruna merindukan suaminya. Aku yang saat itu masih kecil bersikap kekanakan. Aku kabur dari rumah sehingga Haruna mencariku. Kemudian, aku ditemukannya di sebuah taman yang letaknya tidak terlalu jauh. Di sana aku bersembunyi di balik pohon sementara Haruna memaksaku pulang. Setelah itu, hujan turun."
Kata-kata Gaara terputus. Meski kurang lebih, Sasuke sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Kautahu, bukan? Air adalah musuh virtual ally. Aku dengan keegoisanku telah membuat Haruna terkena derasnya air hujan. Saat aku berbalik karena merasa bahwa suara Haruna semakin redam, aku terpaku. Haruna tidak ada, tubuhnya perlahan menipis seperti hologram dan menghilang. Ketika sadar, yang bisa kulakukan hanyalah menyesal. Aku." Bahu Gaara terlihat bergetar, seiring dengan vibra yang terdengar dari suaranya. "Aku sudah membunuh wanita yang kucintai."
Kelebat bayangan buruk bermunculan di benak sang Uchiha. Tak dapat ia hindari rasa kalut di hatinya saat ia membayangkan Hinata menghilang layaknya Haruna. Bagaimana jika Hinata terjatuh atau terkena air hujan dan rusak. Tidak! Ia baru bertemu dengan Hinata dalam sesingkatnya waktu berjalan! Ia tidak ingin berpisah dengan Hinata! Tidak!
BRAKKK!
"HINATA!"
Sasuke mendobrak pintu kelasnya dengan gebuan emosi. Ia dapati sang gadis berada di sisi tirai jendela dengan raut kesendian yang begitu sarat terpancar. Rasa bersalah pun mulai mengubang di sana, membentuk sebuah lubang nan lebar hingga sang Uchiha tak lagi tunggu lama untuk sebuah kata pamungkasnya.
"Maaf. Maafkan aku." Frasa yang terdengar jernih di telinga sang gadis membawa wajah sang gadis untuk menghadap pemuda yang kini ada di depannya.
Setidaknya Sasuke dapat meraup napas lega ketika sang gadis bernuansa anggun itu menorehkan sebusur senyuman manisnya. Meski jejak-jejak rembes air mata masih terlihat jelas. Tapi, senyuman itu menandakan bahwa Hinata telah memaafkannya.
Untuk segala egoisme Uchiha-nya yang tak dapat dinalar.
Uchiha tersenyum dan merengkuh tubuh virtual ally-nya. Dalam rengkuhannya, Hinata berulangkali berkata, "Tidak apa-apa."
Memberikan Sasuke sebuah ketenangan yang begitu kental. Bersamaan dengan itu, jarum jam sekolah berdetak dan berdendanglah lonceng yang menandai jam istirahat sudah usai. Sasuke mengelus rambut Hinata. Ketika sang virtual ally hendak kembali ke dalam tablet-nya, Sasuke membisikan kalimat yang membuat jantung Hinata berdebar bukan main.
"Lonceng ini, seperti lonceng pernikahan, ya? Pas dengan saat kita saling berpelukan."
Uchiha Sasuke berjalan kaki sendirian menuju kediaman Uchiha. Kedua sahabatnya memiliki jadwal lain untuk mereka kerjakan sehingga kini tinggalah ia sendiri. Mata oniks tajamnya mengarah ke berbagai penjuru jalan, memerhatikan kegiatan masyarakat kala senja hari. Robot penjual eskrim yang sedang membagikan eskrim untuk beberapa anak kecil, manula yang sedang menghirup teh hangat sembari ditemani virtual ally mereka, atau pun beberapa remaja yang sedang mengobrol dengan tablet yang di layarnya terpampang wajah virtual ally mereka. Virtual ally. Mendadak, Sasuke merasa ingin bertemu dengan Hinata-nya. Ia ingin virtual ally terkasihnya menjadi pendamping saat ia berjalan pulang.
Tapi, ia terkejut ketika menangkap air muka Hinata yang terlihat seperti sedang mengurai air mata di layar tablet.
"Hinata? Kaukenapa?" Sasuke bertanya panik. Apakah Hinata masih mempersoalkan saat di sekolah tadi?
Telengan kecil dari kepala Hinata membuat Sasuke mengerti bahwa ini lain soal dengan yang tadi. Tapi, ada apa?
"Aku teringat Ibu."
Kalimat itulah yang lalu membuat sorot mata Uchiha melunak. Hinata pasti kesepian hidup tanpa sosok seorang Ibu di sisinya. Sedangkan ia? Ia memiliki Mikoto, Ibunya. Ia belum mengerti rasanya kehilangan dan tidak ingin mengerti. Ia pernah bermimpi seluruh anggota keluarganya dibantai Itachi, kakak kandungnya sendiri, setelah melihat sebuah tayangan di televisi tentang kisah hidup para shinobi. Meski mimpi, pasca mendapat kembang tidur demikian Sasuke selalu rutin memeriksa bahwa keluarganya lengkap dan baik-baik saja. Ia bahkan menjadi paranoid terhadap Itachi hingga beberapa saat. Kehilangan itu perih.
Sasuke menekan sebuah tombol dan wujud Hinata keluar dari tablet yang dipegangnya. Disentuhnya pipi Hinata dengan lembut, dieluskan perlahan ibu jarinya di antara air mata yang masih berlinang itu.
"Ada aku di sini. Jangan bersedih."
Hinata mengangguk lemah. Ia menggigit bibirnya. Ada hal yang harus ia beritahukan kepada Sasuke. Kepada pemuda yang mencintainya itu. Ia tidak ingin merahasiakan apa pun. Sekali pun kenyataan ini pasti akan mengejutkan sang pemuda.
"Sasuke."
"Ya?"
Sasuke melihat dua kelereng Hinata yang berkaca. Dilihatnya Hinata seolah hendak menyampaikan perihal yang penting. Itu membuat sang Uchiha mengangguk.
"Katakanlah."
"Aku ingin kautahu rahasia keberadaan kami, Sasuke. Rahasia sebenarnya dari virtual ally."
Sasuke membelalak. Rahasia apa? Ia memang tidak mengetahui dengan baik bagaimana sebuah virtual ally dibuat. Virtual ally berbeda dengan android atau robot yang pikirannya telah terprogram. Virtual ally bergerak dan hidup sesuai hasrat dan insting mereka tersendiri. Di samping itu, mereka memiliki zona di mana mereka tinggal yang dikenal sebagai dunia virtual ally.
Karena rasa penasaran yang menghantui, Sasuke mengiyakan. Hinata mengusap air matanya. Wajahnya menegar kemudian.
ia menggenggam kedua telapak tangan sang pemuda dan membawanya pergi dari ruangannya kala itu. Menembus dimensi di mana sang Uchiha begitu asing akannya. Inilah sunshin. Kemampuan teleport yang dimiliki virtual ally sebagai mahkluk super.
Hingga telapak kaki keduanya mendarat di suatu tempat. Suatu tempat yang begitu pendar karena minimnya cahaya, ruangan tanpa penghuni yang dindingnya merupakan lapisan logam yang tebal dan rapat dan dipenuhi pilar-pilar.
"Aku tidak bisa sunshin ke ruangan itu karena ada teknologi yang membuat sunshin-ku tidak bekerja dengan baik." Sang gadis lavender berbisik pelan.
Hinata lantas mengisyaratkan kepada Sasuke untuk tidak bicara apa pun atau membuat suara sedikit pun. Dengan anggukkan pertanda mengerti dari Uchiha, perjalanan mereka lanjutkan hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu logam raksasa yang dari celahnya keluar hawa dingin yang menggigilkan tubuh.
Namun, belum sempat tangan Hinata menyentuh lapisan pintu, sebuah suara mengejutkan mereka.
"Kalian sedang apa di sini?"
Sesosok android berwajah manis dengan semurai merah dan sebuah topi telah ada di belakang mereka. Sasuke tak dapat menyembunyikan raut gelisah ketika keberadaannya dan Hinata dapat tertangkap basah layaknya kini. Namun, ia tetap coba pertahankan rautnya agar tenang selayaknya biasa.
"Tayuya-chan?" Hinata yang semula terkejut karena tertangkap saat mengendap memasuki ruang penelitian berbalik tersenyum cerah saat mendapati siapa yang yang menyapanya.
Demikian Hinata, demikian pula android bernama Tayuya. Ia ikut tersenyum saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya. Ia membungkuk hormat sejenak dan melangkah mendekat.
"Apa yang Anda lakukan di sini, Hinata-sama? Ini ruangan khusus yang tidak bisa dimasuki sembarang orang, sekali pun itu Anda." Tayuya lalu menunjuk sebuah monitor kecil di pusat pintu raksasa tersebut. "Ada sistem yang tidak dapat ditembus kecuali bagi pihak yang terjun langsung menangani bagian itu."
"Maaf, tapi ada yang ingin kutunjukkan kepada Sasuke."
Tayuya memandang Sasuke yang ditunjuk oleh jemari Hinata. Sejurus kemudian, sebuah senyuman melingkar di bibirnya. Tayuya kembali membungkukkan tubuhnya memberi penghormatan. Dengan sedikit canggung, Uchiha itu ikut membungkuk.
"Saya Tayuya. Saya sudah lama kenal dengan Hinata lewat komunikasi antar dimensi."
"Aku Uchiha Sasuke. Salam kenal."
Tayuya kembali menegakkan tubuhnya, masih dengan sebuah senyuman ramah.
"Anda beruntung, Hinata-sama. Saya adalah salah-satu pihak yang bertanggung jawab di bagian itu. Saya akan membukakan pintu untuk Anda berdua dan menunggu kalian di sini. Tapi, saya harap kalian tahu bahwa waktu kalian sangat singkat. Jadi, tolong segera keluar dari ruangan itu jika urusan kalian telah beres."
Usai berkata demikian, Tayuya berjalan ke dekat pintu. Seketika bola mata Tayuya mengosong dan tubuhnya diam tak bergerak. Dahi Tayuya kemudian memunculkan sebuah lubang yang mengeluarkan sinar berwarna merah yang langsung mengarah pada monitor. Layar monitor yang sebelumnya hijau berubah warna menjadi merah hingga akhirnya pintu tersebut terbuka lebar dan memerlihatkan pemandangan di baliknya.
Sasuke tidak bisa tidak untuk terbelalak ketika sajian tayangan di hadapannya terpampang dengan begitu jelas. Keterkejutan, rasa jijik dan ngeri berbaur menjadi serumpun. Membuat makanan yang beberapa jam lalu ditelannya kini seolah naik ke atas dan minta keluar lewat mulutnya. Ia tutup mulutnya dengan telapak tangan, mengerahkan pemikirannya dari muntahan yang hendak keluar.
Di sana, dalam ruangan itu, jasad-jasad manusia berjejer di antara mesin-mesin. Ya, anatomi manusia itulah rupanya yang menjadi bahan baku dari proses penciptaan virtual ally. Organ dalam yang telah melapuk digantikan dengan mesin-mesin canggih, bagian otak digantikan dengan chip dan disertakan pula mesin berkegunaan lagi di masing-masing tubuh. Bagian tubuh yang koyak, terluka, atau rapuh dilapisi kembali dengan bahan karet yang serupa kulit. Membuat mereka tampak sebagaimana rupawan. Jasad-jasad tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kapsul kaca raksasa seolah mereka adalah boneka-boneka kemasan yang siap untuk dijual. Kapsul berisikan virtual ally yang belum hidup itulah yang kemudian akan dikirimkan ke dunia virtual untuk menjalani hidup sebelum takdir mereka sebagai pendamping manusia dimulai.
"Inilah rahasia kami, Sasuke. Virtual ally diciptakan dari tubuh manusia yang telah mati. Inilah … sisi gelap sesungguhnya dari kami."
"Hina—"
"—Kau pun harus tahu, Sasuke. Aku dan keluargaku menjadi anggota kerajaan tak lain adalah karena kamilah virtual ally yang pertama dibuat dan berhasil sementara virtual ally sebelum keluargaku hancur menjadi butiran debu ketika sistem di dalam tubuh mereka rusak."
Uchiha Sasuke tak bersuara mendengarnya. Hanya ada bisu ketika bibirnya seakan terjahit untuk rangkaian kata yang tertahan di tenggorokan.
つづく
[To Be Continued]
Next Chapter :
"Hinata? Ini apa?" Uchiha Sasuke menunjuk sebuah foto usang yang Hinata sodorkan. Sebuah foto di mana terlihat dua mempelai manusia yang tengah melangsungkan ritual pernikahan.
Seorang pemuda bersurai coklat panjang dan seorang gadis bersurai indigo yang wajahnya sama dengan Hinata.
"Itu Hyuuga Hinata. Wujud manusiaku, dahulu kala. Ketika aku menikah dengan seorang pria, Sasuke."
Tertanda,
Coklat Abu
