Annyeong~
FF ini kumpulan oneshot YoonMin AU.
Well, selamat membaca ^^
.
.
"Eh?"
Jimin yang semula menunduk malu langsung mendongak.
"Sunbae bilang apa barusan?"tanyanya tak yakin.
"Aku bilang aku mau pacaran denganmu."
"Eeeh!?"
"Wae?"meski merasa heran tampang datar itu tetap tak merubah air mukanya, "tadi kau bilang kau menyukaiku kan, berarti secara tak langsung kau bertanya apakah aku mau menjadi pacarmu, lalu aku jawab 'baiklah, aku mau pacaran denganmu' apa ada yang salah dengan itu?"
Jimin mengerjap cepat, "eh? Ani, itu... ani..."gelagap Jimin tak percaya pernyataan cintanya yang membutuhkan persiapan hati berbulan-bulan ternyata disambut begitu saja. Sosok dihadapannya ini memang tipikal seseorang yang santai dan tak ambil pusing, tapi tetap saja.
"Nomormu berapa? Alamat emailmu?"
"Eh?"
Jimin terpaku melihat handphone yang dikeluarkan untuk menyimpan kontaknya. Yang memegangnya mendekat satu langkah, agar lebih teliti mendengar jawaban Jimin.
"Mulai sekarang kita pacaran, kan."
Sumpah. Otak Jimin benar-benar bekerja dengan sangat lambat saat ini. Bahkan rumus aljabar yang sangat ia benci tak pernah membuatnya melongo seidiot ini.
"Hei,"panggilnya pelan mengingatkan agar Jimin cepat-cepat menjawabnya, karena sepertinya jam istirahat siang sebentar lagi akan berakhir.
"Oh! Ne!"sadar Jimin. Ia lalu mengeja baik-baik nomor telpon serta alamat emailnya yang kemudian diketik ligat oleh jemari kurus itu.
"Kau ingin aku menyimpan kontakmu dengan sebutan apa?"
"Eh?"
"Well, biasanya kalau pacar, nama kontaknya berbeda dari yang lain kan."
"Eh?"
Sungguh. Tolong maklumi Jimin dengan 'eh eh eh' nya itu. Karena pemuda manis ini benar-benar tak habis pikir dan logikanya belum bisa mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Ee..."tampak Jimin berpikir keras. Dua bolanya menatap liar, tanda ia blank musti menjawab apa.
"Kau bilang tadi namamu Park Jimin kan?"
Lihat. Bahkan dia masih ragu dengan nama Jimin.
"Ne,"angguk Jimin.
"Jiminie? Park Jimin? Uri Jiminie? Chagi?"saran yang lebih tua.
"Oh. Jiminie,"setuju yang lebih muda.
"Oke. Nah, sekarang giliranku."
"Eh? Oh. Geure..."Jimin langsung mengeluarkan handphonenya yang disaku blazer. Lalu menekan-nekan layarnya selama mendengar kata-kata sunbae berkulit pucat di dekatnya itu, "Sunbae sendiri ingin disimpan dengan apa?"senyum Jimin, sepertinya dia mulai terbawa aura santai dari pacar barunya itu.
"Hmm."
"Min Yoongi? Yoongi-sunbae? Yoongi-hyung? Ee..."kemudian ada sedikit rona dari pipi Jimin, "Uri Yoongi? Chagi?"
"Hmm. Yoongi-hyung saja."
"Oke."
Tepat ketika tombol 'save' ditekan, bel menggema ke seluruh penjuru sekolah.
Sontak Yoongi dan Jimin menoleh ke deretan gedung sekolah. Sekarang mereka harus kembali ke kelas masing-masing.
Jimin terpaku. Surainya diacak singkat oleh Yoongi.
"Sepulang sekolah aku akan menghungimu. Bye, Jiminie."
"Ne..."cicit Jimin.
Yoongi berlari kecil meninggalkan Jimin yang perlahan memegang kepalanya tak percaya. Barusan Yoongi menyempatkan jemarinya mengacak singkat surai kecoklatan Jimin kan. Senyuman malu-malu nan manis tercipta dan masih bertahan sampai bel berikutnya berbunyi, bel pulang sekolah.
.
.
Oh. Yoongi menepati janjinya. Baru saja Jimin melangkah keluar dari kelas sudah ada email masuk dari Yoongi.
"Apa kau ikut klub?"-Yoongi.
"Ne. Dance. Kalau Sunbae Basket kan ya." -Jimin.
"Ne. Apa kau ingin aku menjemputmu setelah klub selesai?"
Jimin berpikir sejenak. Mengingat mana yang biasanya lebih dulu selesai antara Klub Dance dan Klub Basket.
"Tidak usah Sunbae, aku saja yang ke tempatmu. Sepertinya aku yang lebih dulu selesai."
"Oke. Sampai bertemu nanti."
"Ne, Sunbae."
Jimin menatap lamat kontak bernama 'Yoongi-hyung' itu. Jujur. Sampai detik ini ia masih belum tahu pasti apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.
Senang?
Tentu saja. Siapa yang tidak senang pernyataan cintanya berjalan dengan sangat mulus. Tapi malah terasa sedikit- yah, karena benar-benar 'berjalan dengan sangat mulus'.
Bingung?
Benar. Karena yang Jimin yakini, Yoongi tidak akan menyambut perasaannya. Sedari awal Jimin sudah mewanti-wanti bahwa dirinya pasti akan ditolak jika dia mengajak Sunbae yang tak mengenal dirinya itu pacaran. Dia hanya ingin mengungkapkan rasa yang seolah-olah sudah penuh dan mau tak mau harus secepatnya diutarakan.
Aneh?
Ya, tepat sekali. Kenapa Yoongi bisa menerimanya begitu saja. Bisa Jimin pastikan bahwa selama ini hanya dirinyalah yang memperhatikan sepihak Sunbae yang sudah ia kagumi secara diam-diam sejak beberapa bulan yang lalu itu, sejak masa orientasi ketika pengenalan seluruh klub yang ada di sekolah.
Tak ada yang spesial dari diri Yoongi. Kemampuan basketnya memang di atas rata-rata karena ketekunannya, tapi ia tak menjadi sorotan karena ada Lee Changmin, Si Jenius Klub Basket dan Yoon Doojoon Si Tampan Berbakat. Jika diperhatikan baik-baik, parasnya memang lumayan, tapi masih banyak yang lebih dari dirinya, sebut saja Lee Gikwang dan Song Mino atau Kim Seokjin. Namun entah mengapa ada sesuatu yang menarik obsidian Jimin untuk tak berhenti melihat setiap gerak-gerik pemuda kurus itu. Mungkin itu yang dinamakan 'jatuh cinta pada pandangan pertama' dan 'suka tanpa alasan'.
Kala itu Yoongi menjadi salah satu anggota klub yang bertugas mensimulasikan pertandingan singkat basket guna menarik siswa tahun ajaran baru untuk bergabung. Hanya Changmin dan Doojoon yang menjadi perhatian, tapi etensi Jimin malah terpusat pada dirinya. Jimin bahkan memastikan bahwa tak akan lupa dengan namanya, setelah minigame-set berakhir dan semua anggota memperkenalkan diri mereka masing-masing.
Min Yoongi. Kelas 2-B. Anggota Klub Basket.
Informasi yang Jimin tanamkan kuat-kuat dalam memorinya. Nama yang berusaha ia ingat setelah kepala sekolah dan teman barunya, Lee Sungjong. Seseorang yang kemudian menjadi fokus seluruh indranya.
Jimin sendiri juga seorang siswa biasa yang menjalani masa sekolah dengan damai tanpa kisah drama ataupun picisan. Hanya tugas-tugas sekolah yang menjadi masalahnya. Ia memang sudah mengagumi sosok Yoongi, tapi seperti sahabatnya ia memutuskan mengikuti Klub Dance, karena Jimin sudah menyukai hal itu sejak kecil. Tarian Jimin sangat bagus, tapi ada Jung Hoseok Sang Michael Jackson Sekolah dan Jeon Jungkook Junior Berkarisma. Meski belum dilirik, tapi Jimin tetap menjalani klub dengan baik dan lebih giat berlatih semata-mata ingin meningkatkan kemampuannya. Wajahnya manis, tapi tersimpan dari balik kacamata besarnya. Nilai akademiknya cukup bagus, tapi tak sampai masuk dalam jejeran atas. Jimin hanyalah pemuda biasa, yang menjadi secret admirer seorang Min Yoongi beberapa bulan.
Yang masih belum percaya bahwa kisah asmara masa remajanya ternyata dimulai dengan tiba-tiba.
.
.
"Sampai bertemu besok,"pamit Yoongi.
"Ne, Sunbae."
"Em. Apa kau mau aku menelponmu nanti malam?"
"Eh? Oh! Tidak usah! Tidak perlu repot-repot Sunbae."
Yoongi mendengus tersenyum tipis, "'repot-repot'? Apa menelpon pacar sendiri hal yang merepotkan? Aku bertanya hanya ingin memastikan, soalnya barangkali setelah belajar kau langsung tidur."
"Ee..."
"Tidak usah, ya?"
"Mau!"
Wah, pipi Jimin memerah. Jawaban yang antusias sekali.
"Kalau begitu email saja aku ketika kau sudah selesai belajar."
"Ne..."
"Bye."
"Bye."
Jimin menatap lekat punggung pengendara sepeda itu sampai menghilang pada belokan gang. Tangannya yang tadi melambai belum berangsur turun karena masih merasa takjub bahwa Yoongi ternyata mengantarnya tepat sampai di depan pintu rumahnya. Dan nanti malam, romantisme 'menelpon pacar sebelum tidur' akhirnya dapat Jimin rasakan.
.
.
"Apa dia menciummu?" -text dari Sungjong.
"Heol. Kau pikir secepat itu apa!" -balasan Jimin.
"Dia mengantarmu sampai rumah kan."
Jimin tersenyum lebar.
"Ne."
"Cieee. Tapi, astaga! Aku masih tak percaya ternyata Yoongi-sunbae mau menjadi pacarmu."
"Aku sendiri juga masih belum percaya."
"Jangan-jangan selama ini dia juga memperhatikanmu!?"
"Ish! Mana mungkin. Dari gelagatnya ketika aku tiba-tiba menghampirinya, memang benar kok dia sama sekali tidak mengenalku."
"Hmmm. Jangan-jangan dia hanya mempermainkanmu."
"Ya! Yoongi-sunbae bukan orang yang seperti itu!"
"Bisa saja kan."
"Benarkah?"
"Hei! Ke mana rasa percaya dirimu barusan!? Aku hanya bercanda kok."
"Tapi, setelah dipikir-pikir, aneh kan. Mustahil dia mau pacaran dengan seseorang yang tidak dia kenal. Orangnya aku lagi."
"Pasti first impression-mu cukup menarik perhatiannya. Secara visual dia menyukaimu mungkin. Jadi dia berpikir untuk apa membuang-buang kesempatan, jalani saja dulu, bisa saja nanti dia benar-benar menyukaimu kan. Lagipula sebenarnya kau menarik kok! Kau tahu, ada gosip bahwa Hoseok-sunbae menyukaimu."
"Jjinja?!"
"Ne."
"Heol. Mana mungkin."
"Nah, gosip sih. Hehe."
"Haha. Tapi kalau 'jalani saja dulu'... berarti untuk beberapa lama hubungan kami hanya sepihak dong."
"Nah, berjuanglah agar dia benar-benar menyukaimu."
Belum sempat Jimin mengetik balasan, layar handhonenya menunjukkan panggilan masuk.
Jimin menenggak air ludah. Hufth. Berdebar-debar sekali. Padahal hanya ditelpon.
"Halo, Jiminie."
"Ne. Halo, Sunbae."
"Maaf, emailmu masuk ketika aku sedang mandi."
"Ani! Gwenchana, Sunbae."
"Em. Ingin mengobrol apa?"
"Eh?"
"Yang kutahu hanya tentang basket. Dan aku sebenarnya tak banyak bicara."
"Hmm. Eee, we, wae..."
"Hm?"
"Ke, kenapa Sunbae mau menjadi pacarku?"
Oh, akhirnya Jimin berani menanyakannya setelah seharian memilih bungkam mengenai itu. Antara takut-takut dan malu-malu. Karena sepertinya pertanyaan ini belum ingin didengar oleh Yoongi dulu.
"Hmm. Entahlah. Sejak kau malu-malu mengajakku ke belakang sekolah, aku sudah memperhatikan setiap sudut dan seluruh gerak-gerikmu. , aku suka."
Mata Jimin membulat. Sontak saja ia merona mendengarnya.
"Kau sendiri. Kau hanya bilang 'selama ini' kan. Sejak kapan? Dan kenapa?"
"Eh? Eee..."Jimin tiba-tiba gugup. Tentu saja, malu sekali mengatakan ini bukan, "eee..."
"Apa kau mempermainkanku?"
"Ani! Sungguh! Aku benar-benar menyukai Sunbae! Percayalah!"
"Pft!"
"Eh?"
"Haha. Ne, aku percaya kok.. Aku tahu sorot matamu itu tulus dan rautmu sama sekali tidak berbohong."
Waaaah. Tawa yang paling merdu sepanjang hidup Jimin. Selama ini ia hanya bisa melihat dari kejauhan, tak menyangka ternyata jauh lebih mendebarkan dari perkiraannya.
"Oh, ya. Mulai besok aku akan menjemputmu ke rumah. Apa setiap hari mau berangkat dan pulang bersama?"
"Eh? Ne. Tentu, Sunbae,"tak henti-hentinya jantung Jimin berpacu dengan cepat, "oh, ya. Apa Sunbae menyukai manisan lemon?"
"Kau ingin membuatkannya untukku?"
"Ne. Katanya manisan lemon cocok setelah latihan basket."
Yoongi terdiam dan mulai merasakan sesuatu dalam hatinya.
"Kalau kau mau membuatkannya, aku sangat senang."
Jimin memeluk bantalnya kuat-kuat dan tersenyum manis, "ne, Sunbae. Akan aku buatkan."
"Em, apa lagi yang bisa kau buat?"
"Em, macam-macam. Aku lumayan bisa memasak."
"Jjinja?"
"Ne."
Yoongi tersenyum. Bersyukur sekali sudah menuruti hati kecilnya. Ia akui, sebelum Jimin mengajaknya untuk bicara berdua saja, ia bahkan tak mengenal siapa pemuda manis itu. Tapi wajah yang menunduk malu-malu, suara tertahan karena gugup yang terdengar manis, dan, aura menenangkan dari Jimin membuatnya merasa yakin, ia tak boleh menyia-nyiakan waktu barang sedetikpun. Karena itu ia langsung meyakinkan bahwa ia mau berpacaran dengan Jimin.
Dan keputusannya tak salah, lihat, setelah mengobrol selama perjalanan sekolah hingga sekarang seorang Park Jimin sepertinya berhasil menumbuhkan benih cinta dalam dirinya.
"Apa Sunbae juga ingin dibuatkan bekal?"
"Eh?"
"Aku bisa memasakkan dua bekal setiap paginya."
"Benarkah. Well..."
Senyuman Yoongi semakin lebar. Ingatkan ia untuk menabung agar bisa membelikan tiket bioskop dan mentraktir Jimin Sabtu nanti.
.
.
-END-
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAAA
Hehe, how?
Adem ayem aja kan ya. Hihi.
Aku ngebayangin, kalau Yoongi n Jimin emang jadi siswa biasa-biasa saja, menjalani masa-masa sekolah dengan damai dan merasakan juga romansa percintaan biasa, adem ayem tanpa masalah hihi
Mungkin masih agak kaku dan Yoongi juga banyak nanya, tapi aku suka, kesannya Yoongi emang memperlakukan Jimin baiiiiik banget
Well, once again gamsahamnida ^^
As always review juseyooooooooo
