Annyeong haseo ~

Thanks for my readers, follower dan reviewer hehe

Well, selamat membaca ^^

Bukannya terpukul, Jimin malah berbunga-bunga ketika mengetahui Yoongi bukanlah paman kandungnya. YoonMin. Yoon!top Jimin!bottom. AU! OneShot!

.

.

My Lovely Ahjusshi!

Jimin mematung tak percaya. Bola matanya seolah bisa meloncat keluar saking kagetnya.

"Eomma bilang apa?"getar Jimin mulai berkaca-kaca.

"Yoongi bukan keluarga kita, Jiminie,"wanita tambun itu berhenti sejenak untuk mendesah panjang, merasa begitu bersalah mengatakan hal ini kepada anak sulungnya, "kami juga baru mengetahuinya tadi malam, setelah pengacara Kim membacakan surat wasiat."

"Jadi, jadi, jadi,"Jimin mengerut. Tampak guratnya bertambah sangsi.

"Selama ini Kakek dan Nenekmu menutupinya dari kami, bahkan dari Yoongi sendiri. Ternyata mereka mengadopsi Yoongi-"

DUAK

Jemari Jimin dihempas ke meja seraya bangkit. Kedua matanya menatap liar, sangat terkejut akan fakta yang dibeberkan oleh Eommanya.

Eomma mendongak mencoba mengelus punggung Jimin, namun pemuda manis itu langsung melangkah mundur.

"Jadi, jadi-"toleh Jimin pada Eomma dengan tangisannya, "Yoongi-ahjusshi bukan paman kandungku, Eomma?"lirihnya, "Yoongi-ahjusshi bukan anak kandung Kakek dan Nenek? Yoongi-ahjusshi bukan saudara kandung Eomma? Aku, aku,"bibir ranum itu ditangkup telapak tanganya, "aku, aku hiks hiks! Bukan keponakan..."

"Jiminie..."

Lalu Jimin berlari kencang menuju kamar dan membanting pintu.

"Aigooo,"keluh Eomma.

"Nah, mau bagaimana lagi, Eomma,"sahut Jungkook dari sofa ruang tengah, "sudah dari kecil Hyung selalu menempel dengan Yoongi-ahjusshi. Pasti Hyung sangat terpukul,"lanjutnya sok bijak.

"Jungkook-a."

"Ne, Eomma?"

"Kau sendiri, kenapa reaksimu santai sekali hm?"

"Well,"Jungkook menarik bibirnya, mengangkat bahu singkat, "mau kandung atau bukan, tidak masalah buatku. Yang penting Min Yoongi tetap kuanggap sebagai pamanku yang paling keren!"

Eomma tersenyum simpul, lalu langsung berubah lesu menatap pintu kamar Jimin yang tertutup rapat.

Semoga dia baik-baik saja Harap Eomma.

.

.

"Kyyyaaa!"

"Uwaaaaa!"

Seharusnya teriakan Jimin lebih melengking dari suara Eomma yang melerainya dengan Jungkook ketika bertengkar. Namun oktaf tertinggi Jimin itu terbendung dari bantal yang ia remas kuat-kuat.

Badannya menggelinjang di atas tempat tidur.

Kakinya liar menendang-nendang entah ke arah mana.

Kepalanya menggeleng-geleng gemas seolah ingin memakan bantal.

Sudah begitu selama sejam lebih sejak ia berhasil menampilkan akting terpukulnya di hadapan Eomma dan adik satu-satunya, Jungkook.

Benar. Jimin hanya berpura-pura bersedih. Seolah-olah terguncang dengan kebenaran Yoongi bukanlah paman kandungnya. Paman yang selama ini selalu ia idolakan. Selalu ia banggakan. Selalu ia perhatikan. Dan selalu ia-

Cintai.

Rasa cinta untuk dijadikan sebagai kekasih. Bukan rasa sayang seseorang kepada adik ibunya.

Tapi keluarganya tentu menganggap Jimin hanyalah keponakan yang sangat manja dengan pamannya sendiri. Tak ada yang salah. Lumrah sebagai keluarga.

Padahal semakin hari perasaan Jimin semakin menguat. Batinnya selalu tersiksa sejak ia tanpa sengaja bergerak untuk mencium bibir Yoongi yang sedang tertidur. Ketika Yoongi bermalam di rumah mereka karena ketinggalan kereta, tidur di sofa ruang tengah dan Jimin terbangun tengah malam karena ingin ke kamar mandi. Awalnya Jimin hanya berniat memperbaiki selimut Yoongi, tapi entah mengapa wajah tampan yang terlelap dengan damai itu seakan menariknya bagaikan gravitasi, tak dapat ditolak. Kala itu Jimin duduk memangku wajah pada sebelah tangan, tersenyum lebar menikmati pemandangan terindah dalam hidupnya dan entah atas dorongan apa, tiba-tiba saja wajahnya sudah berjarak beberapa senti saja dari Yoongi. Untung Yoongi sempat bersuara dalam tidurnya, membuyarkan Jimin dari tindakan gilanya-

mencium pamannya sendiri.

Sejak saat itulah, awalnya Jimin shock, bisa-bisanya ia tergerak sendiri untuk melakukan itu, namun hari-hari selanjutnya ia mulai mengerti akan perasaannya sendiri dan selalu berusaha agar rasa cinta terlarang itu dapat terkikis perlahan-lahan.

Setelah setahun barlalu. Dan lihat, apa yang terjadi sehari setelah kematian kakeknya.

Terungkap bahwa Yoongi ternyata bukan paman kandungnya. Yoongi tidak memiliki hubungan darah dengannya. Dia bukan keponakan Yoongi. Sejatinya mereka adalah orang lain. Dan berarti Jimin berhak,

mencintai Yoongi.

Bantal Jimin memelas minta dilepas. Lihat, cengkraman Jimin makin menjadi, pelampiasan emosi senangnya yang bukan main. Kegirangan sangat karena ia boleh merasakan apa yang sudah susah payah ia tahan selama ini.

.

.

Tok tok tok

Jimin tak bergeming. Bisa saja ia membuka pintu dan membiarkan seseorang masuk ke kamarnya, toh dia hanya sedang berchat ria bersama sahabat terdekatnya, Hoseok. Tapi ingat, minggu pagi ini Jimin harus bertingkah layaknya seseorang yang belum bisa menerima kenyataan yang ada.

Jadi yang mengetuk itu menghela napas panjang dan bahunya jatuh karena menganggap hening di kamar Jimin adalah sebuah pertanda bahwa yang di dalam tengah dilanda kesedihan yang mendalam.

"Jiminie, ini aku,"suara berat itu terdengar sedih.

Jimin melotot.

"Ini Ahjusshi, bisakah kita bicara sebentar, Jiminie?"

Handphone dilempar.

Rambut diacak asal.

Gelas diraih, meneteskan air pada kedua mata.

Cermin dilirik sekilas, mengatur wajah sengsara sedemikian rupa.

Klek

Pintu dibuka dan Yoongi langsung di hadapkan pada Jimin yang menunduk dalam dengan isakannya.

"Jiminie..."panggil Yoongi lembut. Ia masuk, menutup kembali pintu kamar lalu mengarahkan Jimin untuk ikut duduk di tepian kasur.

Yoongi mendesah kasar, sedang Jimin masih [akting] menangis.

Hening.

Belum terdengar apa-apa selain bibir ranum itu yang [akting] tersedu-sedu dan-

I NEED YOU GIRL WAE HONJA SARANGHAGO HONJASEOMAN IBYEOLHAE~

Sialan kau Hoseok!

I NEED YOU GIRL WAE DACHIL GEOL ALMYEONSEO JAKKU NIGA PIRYOHAE

"Em..."sangsi Jimin.

"Tak apa. Silahkan."

"Ne..."pamit Jimin sok lemas.

Kemudian meraih cepat handphonenya dan bergerak ke sudut kamar.

[YA! Kenapa kau menelpon hha!?]

Eh? Kenapa kau marah! Aku cuman penasaran, jadi pamanmu-

[Nanti kita chat lagi! Heol! Jangan menggangguku dulu!]

Iya~ iya~ Jangan lupa cerita ya!

Pip.

"Maaf..."ujar Jimin tetap sok lemas.

"Gwenchana."

Jimin berwajah lesu lagi, duduk kembali di samping Yoongi. Menekuk kepala, menggulung ujung baju dan tak lupa terisak kecil.

"Paman juga baru mengatahuinya,"mulai Yoongi tanpa melihat Jimin, tak tega akan wajah tertekan keponakan kesayangannya yang satu itu, "paman terkejut. Paman shock. Bukan main sakitnya ketika tahu orang-orang hangat yang sangat baik ini bukanlah keluargaku. Aku orang asing, Jiminie. Aku orang lain, bukan siapa-siapa mereka... "getarnya mengusap seluruh wajah.

Aduh. Jimin jadi merasa bersalah. Merasa tak pantas akan kesenangannya.

"Kau tahu, tepat ketika kebenaran itu terungkap, semuanya tetap tersenyum lembut ke arahku. Mereka tak ambil pusing, mereka menegaskan bahwa apapun yang terjadi aku tetap bagian keluarga ini. Aku tetap berhak menyandang marga 'Min'. Aku tetap adik dari kakak-kakakku selama ini. Aku tetap,"ia menoleh, mengelus-elus kepala Jimin.

Ooh! Batin Jimin girang. Tapi ia perlahan mendongak, menatap lekat kedua bola mata Yoongi dengan pandangan sendu.

"Aku tetaplah seorang paman dari keponakan-keponakan yang sangat aku sayangi,"senyumnya lembut pada Jimin.

"Huwaaa! Yoongi-ahjusshiiiiii!"haru Jimin menghambur memeluk Yoongi. Merangkul erat punggung kokoh itu dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki yang ia cintai.

"Ne, Jiminie..."balas Yoongi mendekap erat tubuh mungil itu, "rasa sayang paman akan tetap sama, bahkan akan semakin lebih, Jiminie..."elusnya pada surai coklat dan punggung berbalut sweater belang itu.

Aaaah. Memang enak kalau dipeluk begini.

.

.

"Lalu?"

"Lalu apa?"

"Kapan kau akan menyatakan cintamu?"

Jimin mendesah kasar, "nah, itu tuh. Entahlah. Cih, apa yang harus aku lakukan ya?"

Jjajangmyeon itu hanya dimainkan oleh sumpit Jimin.

"Minta ditemani belanja atau apalah, lalu nyatakan perasaanmu setelah itu,"saran pemuda di seberang Jimin, Hoseok, yang malah lahap dengan makanannya.

"Haaaah, tidak semudah itu lho. Maksudku, maksudku, baru kemarin lho, dan berarti akhir pekan nanti belum juga seminggu. Mustahil aku langung menyatakan cinta, kan. Ketahuan jelas kalau selama ini aku sudah menyimpan rasa yang tidak seharusnya."

"Trus? Sebulan begitu?"

Jimin menggeleng lemah, "masih terlalu cepat. Masa hanya dalam sebulan kita sudah menyukai orang yang selama ini sudah kita anggap sebagai paman sendiri."

"Setengah tahun begitu?"

"Terlalu lamaaaaaa."

"Heol! Aku masih tak habis pikir,"Hoseok hendak meraih piring Jimin, namun langsung dicegah, "bisa-bisanya kau suka dengan orang tua. Paman sendiri malah! Ckckck."

"YA! Yoongi-ahjusshi itu masih muda!"sungut Jimin, "kau tahu kan betapa tampannya dia! Tampan! Baik! Penyayang! Sayang keluarga! Sayang ponakannya! Aaaahhhh, Ahjusshi~"

Jimin menangkup kedua pipi merahnya, memandang penuh pesona pada langit cerah yang seolah menampilkan wajah Yoongi tercintanya.

Cepat Hoseok mengambil kesempatan, mengambil Jjajangmyeon Jimin yang tak niat dimakan, bergegas melahapnya dan tersenyum puas.

"Terima kasih atas makanannya~"kekeh Hoseok.

Jimin bergeming. Matanya melotot melihat dua piring kosong di depan Hoseok.

"YA! JUNG HOSEOK! KEMBALIKAN MAKAN SIANGKU!"

.

.

Entah untuk keberapa kalinya Jimin mendesah kasar. Matanya tertuju pada layar televisi tapi Eomma yang memandangnya khawatir, tahu, pasti Jimin sedang memikirkan Yoongi.

Memang benar, namun dalam konteks yang berbeda tentunya, jika Eomma berpikir Jimin masih lesu karena Yoongi yang ternyata tidak sedarah dengannya, maka sebenarnya Jimin tidak bersemangat karena belum menemukan waktu yang tepat untuk menyatakan cintanya.

Remote di tangan Jimin direbut, drama percintaan terganti dengan channel olahraga.

"Ya!"protes Jimin pada Jungkook yang baru mendaratkan pantat di sampingnya, "aku sedang nonton lho!"

"Alaaah. Nonton atau melamun, Hyung,"ejek Jungkook.

"Nonton! Berikan remotenya!"

"Ish! Tidak akan!"Jungkook bangkit, mengangkat tinggi-tinggi remote televisi.

"YA!"kesal Jimin meloncat-loncat, berusaha menggapai jemari adiknya yang bagaikan melangit. Salahkan dirinya yang tidak suka meminum susu dan jarang berolah raga.

"Kau tidak nonton, Pendek!"

Well, Jimin memang tidak terlalu ingin menonton, tapi entah mengapa ia tak rela jika Jungkook menguasai televisi.

"Aku nonton, Kelinci!"

"Tidak."

"Iya."

"Aish, nih!"

Jimin mengerjap cepat. Tumben Jungkook mau mengalah. Cuman sebentar lagi mereka cekcoknya, hanya lima dialog. Langka sekali, tak pernah bahkan.

"Kau sakit, Jungkook-a?"tanya Jimin khawatir, memeriksa kening Jungkook.

"Aish! Apaan sih, Hyung,"tepis Jungkook pelan, "nanti aku ganti lagi lho channelnya."

"Ani... setelah dipikir-pikir, beberapa hari ini kau,"Jimin menelengkan kepalanya bingung, "akhir-akhir ini kau jadi sering mengalah ya."

Jungkook mendecak, "nah, kau tahu. Kami benar-benar khawatir lho."

"Khawatir? Kepadaku?"

"Well, sejak Paman ke sini, Hyung jadi uring-uringan, tak berselera makan, sering melamun dan,"Jungkook berpaling malu, "aku tidak suka melihatmu kehilangan semangat."

"Aigooooo,"sontak Jimin mengacak-acak rambut Jungkook, menatap haru yang dibuat-buat, "sejak kapan adik Hyung bersikap manis begini hm? Aigooooo~"

"Cih,"tepis Jungkook. Kakak beradik ini memang jarang bermanja-manja.

"Hehe."

"Ngomong-ngomong."

"Apa?"

"Eomma,"panggil Jungkook, dongaknya ke arah dapur.

"Kau saja yang cerita, Jungkook-a,"sahut Eomma yang sedang mencuci piring.

"Well,"Jungkook memandang Jimin, "mulai besok, dan untuk sebulan ke depan, Hyung akan tinggal di apartemen Yoongi-ahjusshi."

"Eh? Mworago?"

"Eomma dan Appa mengusulkan kalian tinggal bersama dulu sementara waktu, barang kali dengan itu Hyung ceria lagi dan masalah kandung atau bukan tak akan diambil hati lagi kan."

"EEEHHHH!?"

.

.

Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

GYAAAAAAAA!

ASTAGA! ASTAGA! ASTAGA! ASTAGA!

Astagaaaaaa

Demi jutaan foto Ahjusshi yang kusimpan diam-diam. BAGAIMANA INI!?

HUWAAAAAAA!

Tin Tin

Jimin tersentak. Sebuah mobil sudah terparkir tak jauh di depannya. Ford Fiesta yang sangat ia kenal, jadi ia langung tersenyum dan masuk ke pintu samping kemudi.

Jimin memakai seltbet dengan semangat.

"Lama menunggu?"tanya Yoongi menjalankan mobil lagi.

"Ani!"geleng Jimin cepat. Padahal dia sudah hampir sejam menunggu Yoongi di depan tempat lesnya. Jika Hoseok atau Jungkook yang ia tunggu maka mulutnya sudah merapal umpatan kesal sekarang.

"Maaf, ya. Tadi setelah menjembut kopermu, Paman ada keperluan mendadak."

"Gwenchana~"senyum Jimin semanis mungkin.

Yoongi ikut tersenyum jadinya, mengacak rambut Jimin, "gomawo."

"Hehe."

"Mau makan malam apa?"

"Hmmmmm."

"Chicken?"

"Hmmmmm."

"Daging bakar berarti?"

"Ne!"

"Okeeeh."

.

.

"Eh? Aku-"

Jimin menatap sangsi double bed itu.

"Jadi aku tidur di sini? Bersama Paman begitu?"

"Ne,"angguk Yoongi santai membawa koper Jimin tepat di samping lemari dindingnya, "wae?"

"Ani. Ee. Ee, itu... Paman serius?"

"Eh? Memangnya kenapa?"tanya Yoongi duduk di tepian ranjang, "kau lihat sendiri kan, apartemen baruku ini hanya memiliki satu tempat tidur. Dan tidak ada masalah jika kita tidur bersama kan. Jangan khawatir, Paman tidak lasak dan tidak mendengkur kok."

Heol! Bukan itu masalahnya!

"Apa kau ingat? Setiap pulang kampung kau selalu merengek untuk tidur di sampingku,"lalu Yoongi tertawa kecil mengingat kejadian dulu.

Itu kan waktu aku masih kecil Paman! Astaga! Apa kau pikir aku masih bocah hha!? Sampai kapan kau mengganggapku anak kecil terus heoh?!

Jimin menatap lekat kedua bola mata Yoongi. Bergerak berlahan bersimpuh dipangkuan pria pucat itu, mengalungi leher pamannya yang mematung berkedip cepat.

"Jiminie?"tanya Yoongi mulai tak fokus. Menenggak ludah susah payah, ketika Jimin memandangnya sendu dan penuh menggoda.

"Apa di matamu aku masih kecil hm?"rajuk Jimin bernada manja.

Mata Yoongi membulat sempurna.

Satu tangan Jimin berangsur turun. Jari telunjuknya diputar-putar pada dada Yoongi. Dada yang tiba-tiba bergemuruh dengan dahsyat.

Jimin lalu menyandar di pundak Yoongi, "apa aku harus membuktikannya malam ini hm?"rengutnya kecewa.

"Ji, Ji, Jiminie. Apa yang kau bicarakan?"panik Yoongi. Bahkan sebenarnya ia bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Jimin mendongak, menggapai pipi Yoongi dan berbisik, "apa kau perlu merasakanku hm?"

Eh?

SRET

Eeeeh?

Yoongi sudah menindih Jimin kini.

Kedua tangannya masing-masing memegang erat pergelangan tangan Jimin.

Tatapannya intens. Wajahnya perlahan berubah menjadi seduktif.

"Eh? Yoongi-ahju- Mph! Nnngh..."

Yoongi menciumnya. Melumat bibir yang tadi hanya berniat mempermainkan pamannya, bercanda, main-main. Jimin tak serius, dan dia yakin pamannya itu tak akan berbuat macam-macam.

Tapi apa ini?

Oooh!

Jimin bahkan dengan senang hati sudah menyerahkan rongga mulutnya pada Yoongi. Ciuman yang terlalu vulgar untuk remaja seusia Jimin. Membuat otaknya berhenti berpikir, mabuk dipenuhi hasrat menginginkan lebih.

Tautan lidah dilepas. Membuahkan kelopak Jimin yang setengah menutup dan desahan napas yang terburu.

Melihat Jimin tak melawan, Yoongi menyeringai. Cepat-cepat membuka kemeja sekolah Jimin-

"Yoongi-ahjusshi!"pekik Jimin tertahan, "ngh!"

dan mulai menjilat leher mulus itu. Beberapa bercak tercipta dengan Jimin yang melenguh nikmat tak henti-hentinya.

"Hei, Jiminie,"bisik Yoongi menggigit singkat cuping telinga Jiminie, "panggil aku Hyung malam ini..."

"Eh?"

Yoongi menegakkan punggung, melepas kaos hitamnya dan tersenyum lebar, "'Yoongi-hyung', begitu,"titahnya, "atau kau bisa mendesah 'Yoongi' saja, Jiminie."

HOLY SHIT! Wajah Jimin merah padam. Habis sudah logikanya. Nalarnya hilang entah ke mana. Berterima kasihlah pada Tuhan karna sudah menakdirkan Yoongi bukan sebagai paman kandungnya. Lihat, dada telanjang yang menggoda itu. Seringai licik yang menawan. Dan! Dan jemari yang mulai menjalar memanjakan tubuh Jimin.

"Yoongi-Hyung!"desah Jimin.

"Nah, begitu, Jiminie."

"Hyung! Ah! Ah!"

"Jiminie."

"Yoon-"

DUAK

Eh?

Jimin mengerjap cepat.

Hm?

Jangan bilang dia baru terjatuh dari tempat tidur sambil menciumi bantal.

SIAL!?

.

.

Celana boxer itu Jimin kucek kesal di wastafel.

Cih! Hanya mimpi!

Gerutunya membersihkan noda akibat bunga tidurnya itu. Setelah makan malam kemarin, mereka pulang ke apartemen Yoongi yang memiliki dua kamar. Mengobrol ringan sambil menonton televisi, lalu Yoongi menyuruhnya tidur setelah dirasa larut.

Hanya itu. Tak terjadi apa-apa.

Well, perjalanan masih jauh Jiminie. Tenang ~ masih banyak kesempatan. Jimin menyemangati dirinya sendiri. Kau pintar masak kan, bisa beres-beres rumah kan, nah, bersikaplah layaknya seorang istri, bisa saja kalian terlihat seperti pengantin baru kan. Hohohoho.

Selesai. Lalu Jimin berganti celana dan melangkah keluar kamar.

Hm? Kekehan siapa itu?

Jimin melangkah ragu ke arah dapur.

Sontak ia menahan napas.

Lututnya lemas dan langsung terduduk.

Bunyi lutut yang terbentur lantai mengagetkan dua makhluk di dapur itu. Yang satu sedang sibuk memasak, yang satu memeluknya erat dari belakang sambil terkadang menggigiti leher putih itu nakal. Malu dan geli yang membuahkan kekehan dari si pemuda cantik.

"Ah!"Yoongi langsung berbalik dan melepas pelukannya, "kau sudah bangun Jiminie. Maaf, seharusnya kami-"

"Ish. Kau sih,"senggol yang bercelemek itu mematikan kompor dan menghampiri Jimin, "gwenchana?"tanyanya khawatir, sekedar mendapati sepasang kekasih sedang bermesraan tidak sampai terduduk lemas begini kan.

Jimin tak bergeming.

"Kenalkan, aku Kim Seokjin,"senyum Seokjin ramah, "Yoongi sering menceritakanmu."

"Ne. Aku lupa mengatakannya,"timpal Yoongi, "mungkin kau akan sering bertemu Jinnie. Dia em, kekasihku,"terangnya malu-malu.

Jantung Jimin meledak.

"Ketika tahu kau akan tinggal di sini,"lanjut Yoongi, "dia ingin sesekali membuatkan sarapan untuk kita-"

Mulut Jimin terisak.

"Gwenchana?"Seokjin memegang kedua bahu Jimin. Matanya memperhatikan sekujur tubuh Jimin, berusaha mencari tahu mana yang sakit. Tapi Jimin hanya menangis dengan tangan yang tidak bergerak sama sekali dan kepala menunduk dalam.

Yoongi jadi ikut menghampirinya penuh khawatir.

"Gwenchana, Jiminie?"

Kuatkan dirimu Park JIMIN! Astaga! Astaga! Hancur sudah semua harapanku!

"Gwenchana?"

Kuatkan dirimu, BODOH!

"Gwenchana?"

Jimin akhirnya mendongak dan tersenyum manis, "gwenchana hehe, aku tadi mimpi buruk. Mengerikan sekali, makanya, begitulah..."

Yoongi dan Seokjin mendesah lega. Dibantu mereka berdua kemudian Jimin mulai berdiri.

"Oh, ya!"celetuk Jimin, "Yoongi-ahjusshi."

"Ne?"

"Mungkin Ahjusshi akan sering bertemu Taehyung."

"Taehyung?"

"Ne, kadang dia menjemputku dan mengantarku pulang."

"Waah, padahal Paman yang ingin begitu."

"Gwenchana, Ahjusshi. Tinggal bersama saja sudah cukup kok hehe."

Well, berarti Jimin mau tak mau harus membuka hatinya mulai hari ini, setidaknya mulai membalas chat dari Taehyung dulu, teman sekelas yang sudah tiga kali ia tolak.

.

.

-END-

.

.

Gamsahamnidaaaaaaaaa ^^

How?

Wkwkwkwkwk Kasihan Chimchim.