Annyeong haseooooo!
GAMSAHAMNIDAAAAAAAAAAAA UNTUK READERS, FOLLOWERS DAN REVIEWERS TERCINTA!
Thanks banget yaaaaaa Luv U All!
Selamat Membaca ^^
.
.
[UPDATE Chap 5] Kata orang, pengatin baru akan benar-benar diuji pada tiga bulan pertama usia pernikahan mereka. Kata orang. Tapi, pasangan YoonMin ingin sekali membenarkan 'kata orang' tersebut. AU! OneShot! Yoon!Top Jimin!Bottom.
Falling in love with You (again)
.
.
"Sarapanku mana?"
Yoongi menatap heran pada meja makan yang menghidangkan makanan di satu sisi saja, sisi di hadapan Jimin.
"Baru tadi malam Hyung bilang masakanku tidak enak kan, masa lupa sih."
Jimin menjawab enteng tanpa melihat suaminya. Acuh, tapi hatinya masih kesal mengingat kata-kata Yoongi tadi malam, kata-kata yang sebenarnya hanya terucap karena tersulut emosi.
"Heol,"desah Yoongi tersenyum mengejek. Tak habis pikir bahwa 'istrinya' mulai bersikap kekanak-kanakan. Pria itu lalu meraih kesal kotak sereal dan membanting pintu kulkas setelah mengambil susu. Dengan memangku mangkok berisi sarapan paling ala kadar selama pernikahannya ia duduk di sofa ruang tengah, menonton berita pagi dengan setelan suara yang cukup keras. Mencoba menenggelamkan musik yang menemani pagi Jimin.
Jimin memutar bola mata jengah, menaikkan volume speaker di atas pantry.
Dan Yoongi memencet kuat-kuat remote TV.
Kemudian Jimin menyetel suara paling maksimal pada speaker.
Jadilah sekarang seperti konser sumbang memekakkan telinga bagi pengantin dua bulan itu.
Untung mereka tinggal di apartemen mewah, jadi hanya telinga mereka berdua yang menjadi korban dentuman membahana yang sarat sikap kekanakan.
.
.
"Hyung tak bisa membaca jam ya?"
Jimin menatap tajam pada Yoongi yang baru datang dengan langkah gontainya.
Pria mabuk itu mendengus lucu, hanya terkekeh dan menghempaskan tubuh pada sofa.
"Hyung tahu jam berapa sekarang hha?"tanya Jimin lagi. Dilewati begitu saja oleh Yoongi di lorong depan ia semakin mengerut kesal di dekat sofa, "kau tidak mengangkat telpon dan membaca pesanku."
Yoongi tersenyum dan memelas yang dibuat-buat, "aigooo, apa Chimchim kesepian hm? Apa Chimchim menunggu lama hm? Apa Chimchim kesal karena suaminya pulang malam dan mabuk seperti ini hm?"tanyanya penuh dengan nada mengejek, "hahahaha. Terserah aku pulang jam berapa! Memangnya kau Ibuku!"
"Aku pasanganmu!"
"Terserah! Terserah!"
"Ada bau parfum wanita di tubuhmu. Menyengat sekali."
...
"Jinnie-hyung bilang kalian mengundang wanita klub malam kali ini."
"Ya! Kau pikir kami harus mengundang siapa lagi! Ahjumma tukang bagi tissue?! Hah! Pesta itu tak akan lengkap kalau tidak ada yang seksi Jiminieee..."
Dada Jimin kembang kempis mendengarnya. Emosinya sontak naik ke ubun-ubun. Tatapannya penuh amarah dan menghembuskan napas layaknya banteng yang siap menyeruduk.
TAK
Kaki ia hentak pada lantai sekuat tenaga. Bergegas ke kamar dan membanting pintu.
"MIN BABO!"
.
.
"Dasi hitamku mana?"
...
"Ya! Kenapa kemeja ini belum di setrika heoh!"
...
"HEOL! Apa ini!? Sudah kubilang aku akan memakai celana ini kan!"
...
"Ya! Park Jimin!"
Yoongi yang berbalut handuk melangkah kesal menyusuri apartemennya. Celana kotor di tangannya ia angkat tinggi-tinggi begitu melihat Jimin yang baru keluar dari dapur.
"Kenapa kau belum mencuci- Kau mau ke mana?"
Yoongi mematai Jimin yang sudah berpakaian rapi. Setahunya jadwal mengajar Jimin baru dimulai pukul 11 pagi setiap hari kerja.
"Aku diajak Taetae ke taman. Sudah lama aku tidak bertemu Doodoo,"jawab Jimin tanpa melihat Yoongi, berlalu menuju pintu depan, "aku pergi- ugh! Hyung!"kemudian terhenti karena Yoongi meremas kuat lengan kirinya, "kau kenapa, Hyung? Sekedar pakaian tak perlu semarah ini kan! Hyung kan bisa pakai yang lain."
"Sejak kapan kalian punya acara 'jalan-jalan di taman' hha?"tanya Yoongi dingin semakin menguatkan cengkramannya. Tatapannya tajam penuh kebencian. Membayangkan seorang Taehyung, teman sekampus Jimin yang jelas-jelas mengincar Jimin sejak dulu tentu tak bisa membuatnya tenang.
"Heol. Hyung. Dia sahabatku. Sudah lima tahun kami saling mengenal dengan baik,"Jimin berusaha menepis tangan Yoongi, "kau tahu dia sedang pacaran dengan Jungkook, kan. Jangan berpikiran rendah tentang kami, Hyung,"tekannya menatap kesal.
Yoongi menarik tangan Jimin kuat-kuat. Menyeretnya paksa ke kamar dan menghempaskan tubuh Jimin ke atas kasur secara kasar.
Jimin menatap gamang ketika Yoongi mulai merangkak untuk menindihnya.
"Hyung, kau tahu aku harus mengajar dance-"
"Diam! Aku akan membuatku tak bisa berjalan dan keluar dari apartemen ini."
.
.
Jimin mengucek kedua matanya. Ia tahu ini masih pagi sekali, tapi ia yakin sudah terjaga seratus persen dan tidak akan berhalusinasi melihat orang lain di apartemennya.
Menyipit dan menelengkan kepala. Langkahnya agak ragu-ragu mendekati pantry dapur.
"Em..."gumamnya keras mencoba buka suara.
Sosok yang tengah mengaduk sup itu langsung berbalik.
"Oh, Nak Jimin ya. Annyeong haseo,"sapa wanita paruh baya itu sopan dan tersenyum lembut, "saya Lee Hana. Tuan Min mempekerjakan saya mulai hari ini. Saya akan mengusahakan yang terbaik..."
Jimin mengerut. Yoongi tak pernah menyinggung tentang hal ini- well, akhir-akhir ini mereka memang tak pernah menyinggung hal apapun. Tak pernah membicarakan apapun. Tak pernah mengobrol apapun. Hanya ada cekcok dan kata-kata penuh emosi. Lalu hubungan intim yang kasar dan secara sepihak oleh Yoongi.
Tapi, haloooo. Jimin berperan sebagai 'istri' dalam pernikahan mereka. Mempekerjakan seorang house keeper disaat Jimin memiliki banyak waktu luang akan menjadi sindiran halus untuknya bahwa ia tak becus menjalankan tugas.
Jimin termangu. Dipikir-pikir, rumah memang beres olehnya, tapi sudah dua minggu lebih ia sering absen memasak sarapan untuk Yoongi. Sering uring-uringan mengurus pakaian kotor Yoongi. Selalu membuat Yoongi memesan delivery untuk makan malamnya. Tak pernah lagi menyiapkan bekal untuk Yoongi.
"Tuan Min bilang, Nak Jimin lebih sibuk dan kecapaian untuk sementara waktu ini,"Nyona Lee mencoba mengobrol, mendapati Jimin yang hanya mematung cukup lama, "jadi dia bilang biar saya yang mengurus semuanya. Akan saya buatkan makanan tiga kali sehari. Urusan loundry, beberes rumah dan sebagainya, Nak Jimin tidak usah cemas lagi ya. Oh, apakah Tuan Min suka asin atau tidak?"
Tak ada jawaban dari Jimin. Ia bergegas kembali ke kamar dan langsung membangunkan Yoongi dengan serangan bantal.
"Ck! Mwoyaa!"kesal Yoongi.
"Kau benar-benar tak menganggapku lagi heoh?"ada nada getir dari pertanyaan Jimin. Jadi Yoongi yang semula ingin meringkuk melanjutkan tidurnya, memilih terjaga dan bergerak duduk.
"Kenapa Hyung tidak memberitahuku tentang hal penting ini?"
"Ya. Kenapa kau malah seperti ini. Bukannya kau senang pekerjaanmu jadi- YA!"sungut Yoongi menepis bantal yang dilempar Jimin.
"Aku? Lebih sibuk? Kecapaian? Pandai sekali Hyung menjaga image."
"Kau mau aku bilang karena aku selalu bertengkar dengan istriku jadi aku butuh pembantu sekarang, begitu?"
Jimin terisak dua kali, lalu menatap tajam kedua mata Yoongi, "aku benar-benar tak akan memasakkan-mu apa-apa lagi!"
.
.
Yoongi memang pekerja keras, namun akan menjadi seseorang yang benar-benar pemalas di hari Minggu. CEO muda itu lebih memilih bersantai dan berdiam diri di rumah kala hari libur. Tak akan menjawab panggilan. Tak akan menerima kunjungan. Tak akan ada yang lain, selain dia, istirahat dan gerakan minim untuk bertahan hidup.
Nyonya Lee bahkan ikut ia liburkan di hari Minggu. Yoongi bisa bertahan dengan ramen. Sehari libur tak akan membuat tugas Nyonya Lee tertumpuk banyak.
Jadi Minggu adalah surga ketenangan dengan penuh santai bagi seorang Min Yoongi-
-seharusnya.
Tapi, lihat. Sepertinya Minggu ini tak sama dengan Minggu-Minggu berharga Yoongi lainnya.
Apa ia tengah bermimpi?
Apa Jimin menghidupkan TV keras-keras untuk mengusik tidurnya?
Apa suara gelak tawa itu semakin nyata di telinganya?
"BU! Hahahahaha! Hei! Jangan menggigitku! Haha! Hei!"
Hm?
Mata Yoongi membulat lebar.
"Kau nakal ya! Sini! Biar aku balas! Hahaha!"
HHHMMM!?
Yoongi tiba-tiba emosi. Sontak saja ia bangkit dan terburu keluar kamar. Alisnya semakin menyatu melihat Jimin ternyata bersama seonggok daging hidup yang paling ia benci di dunia ini.
Dia baru saja akan marah. Mengira Jimin tengah bercanda entah dengan siapa, tapi yang jelas tawa Jimin yang lepas itu pastilah hasil dari seorang yang lebih Jimin sukai dari dirinya. Ia berpikir macam-macam dan hendak menyiapkan umpatan paling kasarnya.
Namun, lihat. Ternyata kenyataannya jauh lebih menjengkelkan bagi Yoongi. Makhluk yang paling tak bisa Yoongi dekati ada di pangkuan sang istri. Menggeliat manja dengan nyamannya. Terkekeh lucu menggapai-gapai wajah manis Jimin. Bukan orang dewasa seperti dugaannya.
"Kenapa ada makhluk menyebalkan itu ada di apartemenku hha!"
"Oh,"Jimin mendongak pada suaminya yang mematung dengan tatapan jijik, "kau sudah bangun, Hyung. Hei! Sampai kapan kau belum juga bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik heoh? Bayi, Hyung! Bayi. Dan dia Junghan. Kau tahu namanya, kan. Sudah berapa kali kita bertemu keluarga Yoon heoh. Dasar."
"Ya. Jawab pertanyaanku. Kenapa dia bisa ada di sini hha? Mana orang tuanya?"
"Gikwang-sshi tak bisa menjaga Junghan hari ini."
"Orang tua mana yang menitipkan anak mereka di hari Minggu."
"Orang tua Doojoon-sshi sakit dan mereka melarang membawa bayi untuk menjenguknya."
"Bukannya Seokjin-hyung yang biasa membantunya."
"Aku sendiri yang minta. Lagipula Jinnie-hyung dan Namjoon-hyung ada urusan pagi ini."
"Kau sengaja ingin merusak hari Minggu-ku hha."
Jimin mengacuhkan Yoongi. Kembali sibuk bermain bersama Junghan.
"Heol. Aku akan menelpon Nyonya Lee."
"Jangan, Hyung."
"Kau tahu aku benci mereka kan."
"Ish. Kami tidak berisik kan. Kami tak akan mengganggu. Aku ingin sekali-"
"Hha! Tidak berisik apanya! Aku bangun karena mendengar kalian tahu! Dan dia pasti akan menangis keras-"
"Hyung. Jangan berteriak."
"Terserah! Memangnya kenapa kalau aku berteriak!"
"Huweeeeee! Huwweeeee!"
"Astaga. Hyung, sudah kubilang jangan berteriak. Junghan jadi menangis kan. Astaga... Cup cup cup. Junghan-aaaaa~ Aigooo~ Jangan menangis~ Cup cup cup,"Jimin menimang-nimang Junghan berkeliling ruang tengah sambil sesekali melirik sinis pada Yoongi.
[Kau tak akan bisa menjadi Appa] cibir Jimin.
"Kau laki-laki. Dan kita tak akan pernah memiliki makhluk berisik yang bisanya cuman menangis itu,"tandas Yoongi bergerak mengambil handphonenya.
"Astaga. Hyung serius akan menelpon Nyonya Lee?"
"Ne. Aku akan menyuruhnya menjemput makhluk itu."
"Menjemput? Jadi, Junghan akan dijaga di rumah Nyonya Lee begitu?"
"Haloooo. Aku tak akan membiarkan alien popok itu menginvasi rumahku."
"Heol. Kami akan pergi kalau begitu."
"Hei, kenapa aku repot-repot menelpon Nyonya Lee. Karena kau tak boleh ke mana-mana hari ini. Tetap di sini."
"Hha?"
"Bisa saja aku ingin melakukannya siang ini kan."
"Jinjja,"Jimin geleng-geleng kepala mendesah kasar dan mulai membereskan barang-barang Junghan. Dia bergerak ke kamar, sedikit bersiap-siap dan bergerak akan pergi, "kami. akan. pergi. kalau. begitu."
"YA! Kau-"
Yoongi hendak meraih kasar, namun terhenti mengingat ada bayi dalam gendongan Jimin.
Jadi langkah Jimin tetap berlanjut dengan protes yang dilayangkan Yoongi.
"Ya ya ya ya ya."
"Apa hm?"Jimin menatap prihatin pada suaminya, "apa karena terlalu menjaga image kau jadi tidak bisa menghubungi satupun wanita panggilan heoh."
"Astaga. Jaga ucapanmu Park Jimin."
"Apanya yang perlu aku jaga. Main sendiri sana sama batangan mesummu itu,"tandas Jimin, "untuk sementara waktu aku tak ingin melakukannya denganmu. Hyung sudah kelewatan dan terlalu kasar akhir-akhir ini."
.
.
Yoongi tersenyum pahit menatap bekalnya. Bekal buatan Nyonya Lee yang tak kunjung mengerti bagaimana seleranya. Padahal dia sudah menjelaskan baik-baik dan panjang lebar. Apa tangan seseorang itu begitu susah untuk mengubah kebiasaan hm.
Selera Yoongi memang terbilang susah dan tidak umum. Seumur hidupnya baru dua orang yang bisa memasakkan sesuatu yang benar-benar bisa ia nikmati.
Eommanya.
Dan-
-Yoongi mendesah kasar memijit pangkal hidung seraya menatap nanar bingkai foto di ujung meja kerja. Mendengus lucu pada potret yang tak pernah bosan untuk ia nikmati.
Tawa lepas seorang Jimin ketika menatap kembang api pada saat honeymoon mereka di Okinawa. Yoongi memiliki hobi photografer. Dan objek yang paling indah baginya adalah senyuman seorang Park Jimin.
Tak ada yang mengalahkan itu.
Tak akan ada.
Dan sesuatu yang sangat berharga itu hanya bisa ia lihat melalui foto kini.
Sudah sebulan lebih hubungan mereka semakin memburuk. Tiap harinya kian parah. Hal-hal kecilpun bisa menjadi bahan pertengkaran. Tetek bengek yang tak perlu dipusingkan malah bisa menyulut emosi mereka.
Acara TV. Perihal toilet. Selera parfum. Interior kamar. Dan banyak lainnya. Posisi tidurpun mereka permasalahkan sekarang.
Mereka bahkan baru bertengkar tadi pagi karena Jimin menyinggung anjing Taehyung dalam obrolannya dengan Nyonya Lee. Omongan Jimin hanya mengenai Doodoo, tak sedikitpun membahas majikannya. Tapi tetap menyebalkan bagi Yoongi.
Dan ia balas dengan pemberitahuan tiba-tiba bahwa seminggu ini Nyonya Lee tak perlu bekerja, nanti malam Yoongi akan langsung berangkat ke London untuk pekerjaannya. Nanti malam, ya, nanti malam. Nanti malam dia akan berangkat ke luar negri selama seminggu lebih dan dia baru memberitahukannya secara tidak langsung pada Jimin tadi pagi. Malah sebenarnya Yoongi ingin menelpon Nyonya Lee nanti malam tanpa mengatakan apapun pada Jimin. Well, untuk yang satu ini mungkin Jimin pantas untuk marah.
Tapi baru kemarin Jimin seharian keluar rumah bersama Seokjin dari pagi buta sampai malam tanpa mengangkat telpon dan membalas text Yoongi. Yoongi pikir mereka impas sekarang.
Entah kenapa dua bulan pertama berjalan sangat mulus dan romantis. Mereka memang baru tinggal bersama setelah menikah, dan tentu akan banyak perbedaan dan hal-hal yang baru diketahui keduanya dari pasangan masing-masing. Yoongi yang malas mandi. Jimin yang lasak dalam tidurnya. Jimin yang sangat teratur jam makannya. Yoongi yang mengisi perut ketika lapar saja. Yoongi yang tak mau keluar di hari Minggu. Jimin yang suka berjalan-jalan.
Tak sedikit perbedaan mereka, namun dapat dilalui dengan baik-
-pada awalnya.
Karena dua bulan setelah mengikat sumpah setia, tak ada lagi yang ditutupi, benar-benar gamblang memperlihatkan semua keburukan dan kekurangan mereka, terang-terangan akan semua hal, malah membuat Yoongi dan Jimin mulai merasa boleh memprotes ini itu daripada memaklumi seperti di awal. Untuk apa mereka menjaga sikap seperti masa pacaran, toh mereka sudah menjadi suami istri, sudah jelas-jelas terikat satu sama lain.
Yoongi tersentak begitu handphonennya berbunyi nyaring. Cepat-cepat ia angkat panggilan dari-
Seokjin-hyung?
"Halo?"
"YA! Sudah cukup kalian berdua!"
"Hha?"
"Apalagi kali ini heoh?"
"Ck. Haaah. Apa bocah itu mengadu padamu hm?"
"Astaga! Kau menyebut istrimu sendiri bocah Min Yoongi!"
"Heol! Masih lebih baik daripada Jimin yang menyebutku Brengsek!"
"Astaga...Terserahlah... Sudah dari pagi Jimin belum berhenti menangis, bisakah kau menjemputnya heoh?"
"Hha?"
"Dia sudah jadi bahan tontonan di restoranku. Aku bujuk pakai cara apapun dia tak mau beranjak dari kursinya. Kau sedang istirahat siang kan, cepatlah ke sini."
"Aku akan menyuruh Namjoon, dia bisa menggendong paksa Jimin dan mengantarnya pulang kan."
"Dan ternyata Namjoon tidak bisa melakukan itu."
"Mwo?"
"Namjoon sudah ke sini dari tadi. Jimin-mu tak segan-segan menyiram Suamiku dengan kopi panasnya! Astaga, Tuhan. Apa kau tahu hha cairan mengepul itu nyaris saja mengenai wajah Namjoon."
"AISH! JINJJA!"
.
.
Tidak hanya Jimin, semua pengunjung tersentak pada sosok yang membanting pintu restoran. Keringat bercucuran dari keningnya. Tatapannya tajam ke segala arah.
Memburu sesuatu yang membuatnya terlihat seperti orang gila.
Jimin mengerut, masih dengan menggenggam pensilnya ia beralih sepenuhnya untuk mematai Yoongi.
Tatapan mereka beradu.
Sama-sama terdiam, sama-sama mengerut heran.
Sontak saja Yoongi langsung dongkol mendapati Jimin ternyata sedang santai menggambar sketsa. Ia mendecak kasar, tanpa mengubris tatapan heran dari Jimin, langkahnya terburu menuju dapur.
"BRENGSEK KAU KIM SEOKJIN!?"teriaknya lantang penuh emosi, "KAU MEMPERMAINKU HHA!?"
Sosok yang menjabat sebagai koki kepala dan pemilik restoran mewah itu tersenyum manis tanpa rasa bersalah.
"Oh, kau datang."
"HEOL!"
"Eits!"
Seokjin langsung mencegah Yoongi yang akan berlalu pergi, "aku tidak bohong. Dia memang menangis seharian ini, kau lihat matanya kan. Bengkak."
Well, Yoongi sempat memperhatikan baik-baik kedua mata Jimin tadi. Ia merasa tak enak lalu memilih mendengarkan kata-kata Seokjin.
"Kasihan Jiminie, setidaknya makan siang di sini ya, suatu pemandangan yang bagus seorang Min Yoongi makan siang bersama dengan istrinya kan. Kau tahu, beberapa pengunjung restoranku adalah orang penting, apa tidak akan menciptapkan pandangan aneh ketika kau tiba-tiba datang lalu malah pergi meninggalkan istrimu makan siang sendirian. Pernikahan kalian menggemparkan kan, sejatinya kau harus menunjukkan kerukunan di antara kalian berdua."
"Tunggu pembalasanku, Kim Seokjin,"geram Yoongi.
"Gamsahamnida."
.
.
Yoongi tak peduli jika dikatakan terlalu berlebihan ataupun sangat mendramatisir. Karena ia akui, dirinya termangu begitu takjub pada sesuatu yang sangat ia rindukan akhir-akhir ini. Padahal jelas-jelas senyuman Jimin terkesan canggung dan dibuat-buat -mengingat mereka di tempat umum- tapi Yoongi tetap merasa bersyukur dan sangat lega. Sudah lama Jimin tidak tersenyum kepadanya.
Sedang Jimin tak tahu harus bagaimana. Ia tak bisa menyembunyikan sembab yang tercetak jelas di kedua matanya. Tapi ia masih ingin menjadi pihak yang sama sekali tak merasa tertekan di sini. Sisi lemahnya hanya akan membuatnya kalah dengan sikap Yoongi.
Mereka mulai makan.
Dalam diam.
Semua tamu di sini memang tak terlalu bersuara. Mereka golongan high class yang sangat menjaga sikap. Menikmati makanan mewah dengan gaya yang elegan pula.
Bukan gaya Jimin tentunya. Ia bukan berasal dari keluarga kaya seperti Yoongi. Ayahnya adalah guru SMA dan Ibunya instruktur piano biasa. Jika ingin makan di luar dia akan lebih memilih kafe biasa yang jauh lebih sederhana dengan suasana hommy yang menyenangkan. Yoongi cukup mengalah dalam hal ini.
Baru dua kali Jimin datang ke restoran mewah sebagai pengunjung. Ketika Yoongi melamarnya dan pertemuan pertamanya dengan orang tua Yoongi. Selebihnya dia sering mengunjungi restoran bintang lima Seokjin sebagai teman, tidak di kursi tamu, dia lebih suka mengobrol di dapur atau di ruangan Seokjin.
Namun siang ini Seokjin menyuruhnya untuk makan siang sebagai tamu setelah menangis berjam-jam mengeluh tentang hubungannya dengan Yoongi. Jadilah Jimin duduk di meja pojok sambil menggambar sketsa menunggu Seokjin menghidangkan sesuatu. Tak ia sangka Seokjin malah mengundang penyebab mata bengkaknya ini.
Yoongi tersenyum tipis melirik sketsa Jimin, "kau menggunakan fotoku sebagai contoh ya?"
"Eh?"
"Gambar itu, persis dengan foto yang kuambil ketika kita ke Namsan Tower."
Jimin cepat-cepat membereskan barangnya dan memasukkannya ke dalam tas, "aku hanya mencontoh salah satu majalah. Banyak foto yang mirip kan kalau objeknya tempat umum yang terkenal."
"Hmm..."tampak Yoongi tersenyum puas dan menggoda Jimin dengan tatapannya, "oh, begitu ya."
Jimin hanya menunduk dalam, dengan ekspresi kesal memasukkan makanan semampu tampungan mulutnya. Gembungan dan kunyahan pipi yang menggemaskan sekali. Seketika mengikis rasa kesal Yoongi belakangan ini.
Sebenarnya emosi Yoongi sudah reda sejak tadi, bahkan lebih kepada rasa bersalah teramat dalam ketika dihadapkan pada sembab Jimin yang terlihat miris. Seolah dia menginjak duri dari pintu masuk, dapur dan melangkah ke meja Jimin. Dadanya sakit. Melihat hasil dari perbuatan bodohnya. Sudah seharusnya ia mengalah sekarang, mengingat dia yang berperan jadi kepala keluarga dalam rumah tangga mereka.
"Em, masalah keberangkatanku ke London-"
"Aku sudah tak mempermasalahkannya lagi."
"Eh? Jinjja?"
Oh, kenapa Yoongi merasa mereka berada di padang bunga kini, lihat, seolah-olah ada kupu-kupu indah yang hinggap di kepala pemuda manisnya.
"Ne. Lagipula minggu depan aku akan ke Busan."
"Eh?"
"Begitu Hyung pulang dari London, Hyung tak perlu cemas akan direpotkan lagi oleh pertengkaran kita. Hyung bisa beristirahat dengan tenang sehabis perjalanan jauh."
"Mworago?"
"Minggu depan aku akan pulang ke Busan."
"Kau ke Busan? Maksudmu apa?"
"Sudah kuputuskan, untuk sementara waktu aku akan tinggal dulu di rumah orang tuaku."
"Mwo?!"
.
.
Jimin mendesis ketika pantatnya bertemu permukaan keras bathtub. Kalau bukan benda empuk dan lunak, maka masih menjadi siksaan bagi tubuh Jimin. Padahal sudah dari dua hari yang lalu, tapi analnya masih terasa sakit dan begitu perih.
Sejak mereka sering bertengkar, Yoongi selalu seenaknya jika menyangkut hubungan intim. Tiba-tiba, tak kenal waktu, tak tahu tempat, kasar, penuh paksaan dan murni didasari oleh nafsu. Dan Jimin tidak dapat menahan dominannya.
Seperti kemarin lusa, Yoongi yang mabuk seenaknya saja menyerang Jimin yang ada di dapur. Tanpa pemanasan, langsung pada hidangan utama. Lebih lama dari yang pernah ada, lebih kasar dari sebelumnya. Tanpa ciuman. Hanya semata-mata pelampiasan kebutuhan saja.
"Babo..."
Jimin meringis kesal. Membayangkan seorang Yoongi yang berangkat ke London malam ini.
"Babo..."
Lirihnya menahan amarah pada suaminya yang ternyata tak mencegahnya pulang ke Busan.
"Babo..."
.
.
Benar saja.
Memasuki apartemennya, Yoongi di sambut keheningan yang semakin meletihkan tubuh dan pikirannya. Ia langsung menyusuri apartemennya, masih sangat berharap akan menemui sosok Jimin yang mungkin tak mendengar dia pulang.
Yoongi menghela napas.
Tak ada tanda-tanda kehidupan di sini.
Bersandar pada sofa empuk ruang tengah, tiba-tiba Yoongi tersenyum simpul mengingat sesuatu. Karena tadi dengan bodohnya dia membuka semua pintu lemari, mencari baik-baik di ruang pakaian dan apapun itu yang dapat menyembunyikan satu tubuh manusia.
Karena pernah waktu itu dia ke Amerika selama tiga hari untuk urusan bisnisnya. Sekembalinya ia ke Korea, Jimin memberikan kejutan menggemaskan untuk sambutan pulangnya. Bayangkan, sosok manis bersembunyi dalam lemari sambil menciptakan suara yang mengerikan, kemudian memekik riang ketika Yoongi penuh waspada membuka pintunya. Jimin tersenyum cerah memamerkan tubuhnya yang hanya berbalut kemeja putih tanpa dalaman, tanpa tambahan apapun, murni memakai kemeja longgar yang terlihat sangat sensual. Lalu menyeringai dan menggoda Yoongi dengan cara yang lucu. Sampai sekarangpun, Jimin belum bisa terlihat seksi -baginya. Bagi Yoongi, Jimin diampun sudah sangat seksi dan menggoda.
Sial...
Sudah lama sekali rasanya dia tidak disambut pulang. Sudah lama sekali rasanya dia tak diberi kejutan. Sudah lama sekali rasanya dia tak ditelpon untuk cepat pulang. Sudah lama sekali rasanya dia tak mencuri kecupan manis ketika Jimin memakaikannya dasi. Sudah lama sekali rasanya dia tak bergelut di sofa ini bersama Jimin di hari Minggu.
Sial...
Setelah termenung cukup lama dan mengumpat pada dirinya sendiri, akhirnya perhatian Yoongi mulai tertuju pada apa yang digenggamnya sedari tadi, secarik kertas yang ia temukan di atas pantry dapur, pesan dari Jimin.
Ia tak ingin membacanya. Malah awalnya ia ingin membuang saja kertas itu. Untuk apa ia membaca sesuatu yang akan membuat batinnya tersiksa. Sudah pasti isinya tentang Jimin yang memilih kembali ke Busan, atau bagaimana Jimin yang menderita tiga bulan ini, atau yang paling buruk adalah kata-kata yang mengarah pada perpisahan.
Hubungan mereka ditentang oleh ayah Jimin, bahkan sampai detik ini ayah Jimin belum mau berbicara dengannya. Kembali ke rumah orang tuanya sama saja dengan Jimin menyerah pada pernikahannya.
Yoongi memicing erat. Mengutuk dirinya yang tak mampu mencegah Jimin.
Dengan berat hati kertas yang sudah remuk itu Yoongi coba luruskan lagi agar bisa terbaca.
Kalimat pertama- sontak saja menciptakan linangan di pucuk matanya.
Annyeong, Hyung. Apa kau sudah makan hm?
Bahu Yoongi bergetar menahan tangis. Kenapa tadi dia sempat berpikir yang bukan-bukan.
Hyung pasti capek, tapi jangan lupa mengisi perutmu ya. Aku sudah memasakkan sesuatu, ada di kulkas dan panaskan dengan suhu yang pas ya. Aku sudah menempelkan note di microwave, jadi jangan sampai salah. Karena tak ada ramen, aku sengaja membuang semuanya. Hyung tak boleh lagi makan makanan cepat saji ya. Setelah itu istirahatlah.
Em, aku pergi untuk sementara waktu. Tidak akan lama, hanya ingin menenangkan pikiranku. Dan Hyungpun mungkin bisa fokus dulu ke pekerjaan Hyung tanpa beban pikiran yang lain. Jinnie-hyung cerita, katanya perusahaanmu sedang sibuk-sibuknya, jadi tak usah dulu memikirkan hubungan kita, aku sudah memaafkanmu. Semoga kau juga memaafkanku, Hyung.
Karena sudah ada Nyonya Lee, jadi aku tak perlu khawatir lagi. Tapi, masalah tidur Hyung sendiri yang mengaturnya kan, aku harap kau istirahat yang cukup.
Jika kau menelpon aku akan tetap mengangkatnya-
Yoongi langsung meraih handphone dan menelpon Jimin.
"Yoongi-hyung?"
Ada nada keraguan di sana. Pasti Jimin tak menyangka Yoongi langsung menelponnya.
"Kau di mana, bodoh?"
Ingin rasanya Jimin marah karena dipanggil bodoh tapi mendengar suara berat yang serak itu Jimin jadi berbalik khawatir, "Hyung, gwaenchana?"
"Untuk apa kau bertanya. Mana mungkin aku baik-baik saja."
"Em... apa Hyung sudah membaca-"
"Kau di mana? Benar kau di Busan sekarang? Kalau begitu aku akan ke sana-"
"Hyung."
"Wae?"
"Hyung belum baca semuanya ya?"
"Eh?"
Yoongi melanjutkan bacaannya tadi.
Jika kau menelpon aku akan tetap mengangkatnya, jika kau mengirimiku pesan aku akan membalasnya. Sebenarnya aku tidak pulang ke Busan. Aku ke suatu tempat, cukup jauh. Aku sendiri belum tahu kapan kembali, yang jelas, jika kau merasa pikiran dan emosi kita sudah sama-sama membaik, hubungi aku, aku akan kembali.
Note: Aku mungkin sedikit merajuk, aku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Aku juga tak akan memberi tahu ke mana aku pergi. Jika Hyung khawatir, tak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik-baik saja. Well, tapi sepertinya Hyung tidak begitu khawatir ya... aku harap pekerjaanmu lancar.
"Ke mana kau heoh?"
"Aku tak akan memberi tahu."
"Heol. Pekerjaan lancar apanya!"
"Eh?"
"Kau yang seperti ini malah membuatku semakin tak fokus dengan pekerjaanku."
"Bohong..."
"Kau benar-benar tidak ingin memberitahu heoh?"
"Tak akan..."
"Hide and seek hm?"
"Aku takut. Aku takut, Hyung... Aku takut jika kita bertemu dalam waktu dekat ini, kita hanya akan bertengkar lagi..."
"Aku akan mencarimu mulai detik ini juga, Park Jimin."
.
.
"Nani o shitte imasuka?" (Apa yang sedang anda lakukan?)
"Eh?"
Jimin menghentikan goresannya dan mendapati seorang bocah sedang memperhatikan buku gambarnya.
"E da!" (Gambar!) pekik anak yang memegang bola itu. Ia tersenyum lebar tanpa melepas pandangannya untuk sketsa Jimin, "Ii ne." (Bagus ya...)
"Em... arigatou,"balas Jimin, ia tidak begitu mengerti bahasa Jepang, tapi binar dan celetuk dari bocah itu sepertinya adalah sebuah pujian untuk karyanya.
"Zenbu ga hikemasuka?" (Apa anda bisa menggambar semuanya?) tanya anak itu antusias duduk di sebelah Jimin.
"Em..."Jimin menyesap udara lalu cepat-cepat mengambil kamus saku bahasa Jepangnya, "em.. em.."
Dia bilang apa tadi ya...
"Oh! Sore ga jishou desu yo ne. Gaikokujin!?" (Oh! Itu kamus kan. Orang asing!)
"Ne! Eh, ani, Hai! Gaikokujin imnida, eh, gaikokujin desu,"senyum Jimin. Dia sangat hapal dengan satu kata itu.
Bocah itu lalu berdiri di hadapannya. Ia menunjuk Jimin, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan menggerakkan tangannya seperti menggambar sesuatu.
"Aku? Semua? Menggambar?"tebak Jimin, "aaa! Apa aku bisa menggambar semuanya? Em... No, ee, no everything,"jawabnya pas-pasan. Tapi sepertinya anak itu mengerti.
Bocah Jepang itu lalu mengisyaratkan kata-kata 'menggambar lagi' dan menunjuk dirinya.
"Oh! Kau ingin aku menggambarmu?"angguk Jimin, "okay, okay. Hai."
.
Yoongi tersenyum simpul melihat Jimin yang kesusahan berkomunikasi dengan seorang bocah Jepang. Dari kejauhan ia perhatikan benar gelagat lucu dari pemuda manisnya itu.
Langkahnya dibuat sepelan mungkin. Bahkan akhirnya berhenti dan memilih menunggu apa yang akan terjadi di antara mereka berdua. Mematai di bangku taman yang lainnya.
Well, Yoongi langsung mengerti, sepertinya Jimin sedang menggambar bocah tersebut. Ia menggoreskan pensilnya dengan sesekali melirik pada sosok mungil yang sok-sok berpose bak pahlawan itu. Jimin sesekali terkekeh dibuatnya.
Buket mawar Yoongi taruh di sampingnya. Melipat lengan di depan dada, matanya tak berhenti menikmati sosok yang dirindukannya itu. Yoongi jadi mengingat pertemuan pertamanya dengan Jimin.
"Kau! Kau yang merebut pacar Seungkwan ya!?"
"Excuse me?"
Berawal dari salah paham Jimin yang mengira dirinya Jihoon, seseorang yang merebut Seungchol dari Seungkwan, sahabat dekat Jimin di kampus. Berlanjut dengan traktiran makan siang sebagai permintaan maaf Jimin dan saling bertukar nomor handphone atas permintaan Yoongi. Sejak itu Yoongi jadi sering ke jurusan seni, padahal kampus bisnisnya jauh dari sana.
"Apa kau ingin menjadi kekasihku?"
"Eh?!"
Respon paling menggemaskan yang pernah Yoongi temui dalam hidupnya. Biasanya wanita yang Yoongi ajak berkencan akan langsung merona dan mencium bibirnya, tapi Jimin mematung begitu lama dan melongo seperti orang bodoh. Semakin membuat Yoongi jatuh cinta pada makhluk manis yang polos itu.
"Maaf, Ayah tidak setuju dengan hubungan kita..."
Berita paling menggenaskan yang berhasil merusak suka cita kelulusan Yoongi. Ditambah dengan dirinya yang dipaksa melanjutkan studi ke Amerika. Tapi Yoongi dengan egois berkata bahwa Jimin harus menunggu dirinya, apapun yang terjadi, karena sekembalinya dari Amerika Yoongi akan nekat melamar Jimin di depan Ayahnya.
"KAU BUKAN ANAKKU LAGI?!"
Ucapan final Ayah Jimin setelah menciptakan lebam di rahang Yoongi. Jimin laki-laki, Yoongi juga laki-laki, dan Tuan Park adalah seorang terpelajar yang tentunya tak akan mengakui hubungan yang seperti itu. Tapi Jimin sangat mencintai Yoongi, dan Eommanya ternyata diam-diam mendukung pernikahan mereka. Jadilah sepasang kekasih itu bersujud di belakangi Tuan Park, berharap suatu saat nanti ayah Jimin akan mengerti dengan apa yang mereka jalani. Itu terakhir kalinya Jimin menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.
"ARIGATOOOUU!"
Teriak bocah Jepang itu meloncat-loncat kegirangan, menatap puas pada kertas yang ia junjung tinggi-tinggi. Senyumnya lebar sekali, lalu memberikan Jimin permen setelah ibunya memanggil dari kejauhan.
"Bye bye, Jimin!"
"Bye, bye, Takeru!"
Kini Jimin memilih istirahat sejenak, memakai headset, mendengar musik favorit sambil menutup mata merasakan semilir angin sore yang lembut menyapanya.
Yoongi berdiri dan mulai mendekat.
Tatapannya sendu.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana tangisan Jimin ketika meninggalkan rumah orang tuanya. Menderita sekali, namun dipaksa tersenyum saat mengobati luka di wajah Yoongi.
Bagaimana Jimin bersabar dalam keluarga besarnya. Keluarga besar yang setuju akan pernikahan mereka namun tak berhenti menyindir Jimin yang orang biasa.
Sontak Jimin membuka mata ketika dirasa sebuah tangan baru saja melepaskan headsetnya.
"Hyung...?"lirih Jimin tak percaya. Sudah ada Yoongi yang berlutut di hadapannya dengan sebuket mawar di tangannya, "kenapa Hyung bisa-"
"Kau pikir aku bodoh apa,"dengus Yoongi tersenyum simpul.
"Sudah kubilang kan untuk sementara... hiks, hiks,"Jimin terisak sambil meraih buket mawar dari tangan Yoongi.
Yoongi tersenyum lebar dan duduk di samping Jimin, "Okinawa hm. Apa kau memang suka tempat ini atau kau ingin mengenang bulan madu kita?"
"Dua-duanya..."
"Hmm."
Jimin melirik jam tangannya, "astaga, apa setelah menelpon Hyung langsung terbang ke sini?"
"Yup. Kita beda satu pernerbangan. Kau mengangkat telponku ketika di bandara kan. Aku langsung bergegas ke sana, ingin mencegahmu tapi tak sempat, jadi langsung memesan tiket penerbangan terdekat."
"Pekerjaanmu-"
"Kau yang lebih penting sekarang."
Jimin tersenyum manis. Menyembunyikan rona malunya pada tumpukan kelopak mawar.
"Jiminie."
Tapi tetap menoleh ketika Yoongi memanggilnya lembut. Dagunya diraih, agar bibir ranumnya dapat bertemu dengan bibir tipis Yoongi.
Ciuman manis.
Dan terbilang singkat, mengingat mereka tengah berada di tempat umum, namun terasa begitu menyentuh dan menghangatkan hati keduanya.
"Kita lanjutkan di hotel,"bisik Yoongi nakal.
.
.
CUE
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAAA!
How? How? How?
Marriage Life nih! Hahahhaha
Begitulah ~
Lumayan panjang kaaaaaaannnnnnn hihi
Sebenarnya masih byk lagi yg mo ditulis, tapi segitu aja dulu, jujur kalo udah nikah pasti byk juga momen2 manis mereka kan... haha, lain kali deh.
Once again gamsahamnida
Review juseyo ^^
Balasan Review ^^
Park Rinhyun-Uchiha : Huwaaaaaaa, yang sekarang gmn? Apa saya masih menyebalkan? Hahaha. Sekrang sweet ga? Ada cekcoknya sih wkwkkwk. Fighting! (Gomawo ^^)
ChiminChim : Nih! Udah dinikahin! Hahahaha. Fighting! (Gomawo ^^)
yoongiena : Ish! Senyum senyum, ntar sarap lho hahahha. Kalo yang sekarang Chimnya agak anak-anak dikit, tapi ujung2nya dewasa juga haha. (Gomawo ^^)
jchimchimo : Udah! Udah dihalalin! Udah nikah mereka wkwkwkw (Gomawo ^^)
yongchan : Noh, saya bikin mereka suami istri wkwkwk (Gomawo ^^)
Tiwi21 : Yg sekarang lumayan panjang kan? (Gomawo ^^)
noona93 : Ga, Jimin masih tinggal di rumah ortu kok hihi. Belum ada rencana naikin rated FF ini hihi. Jimin cerita ttg Yoongi, Yoonginya juga nganterin Jimin terus ke rumah kan ya, jadi ortunya suka ama Yoongi hoho. (Gomawo ^^)
Zyan Chim-Chim : IYA! YOONGI MAU NIKAHIN JIMIN WOI! hahaha. Pengen gitu juga? Langkahin dulu -terlalu banyak saingan ga bisa disebutin satu-satu, bahkan termasuk saya- hahaha (Gomawo ^^)
itsathenazi : Nah, lho. Yang sekrang jangan lupan discroll ke bawah juga lho. Haha. Iyalah, namanya juga emak2 betah bgt ngodain urusan pacaran anaknya. SEMANGAT! House of Cards udah kan ya (Gomawo ^^)
avis alfi : Cieeeee~ cieeee ~ Saya juga kepengen! Ugh, yang jomblo gini bisanya apa atuh haha. Nih, udah nikah, diundang ga? (Gomawo ^^)
yellow-ssi : Novaaaa! Gamsahamnida ^^
rrriiieee : Udaaaah! Noh, chapter sekrang mereka udah nikah hahaha. (Gomawo ^^)
.
.
Bonus yang ngescroll ke bawah ^^
.
.
"Maafkan Hyung ya..."
Yoongi menyisiri poni Jimin yang basah karena keringat. Ia yang menindih Jimin kemudian berbaring di sampingnya setelah mengecup kening berpeluh Jimin cukup lama.
Jimin tersenyum lembut, meraih jemari Yoongi dan mengecupnya, "aku juga..."
"Ani, aku yang benar-benar salah kali ini."
"Kalau begitu, apa Hyung mau mengabulkan permintaanku?"
"Apapun,"jawab Yoongi cepat, "apapun yang kau pinta, akan aku lakukan,"tuturnya halus menatap lamat wajah Jimin.
Jimin tersenyum manis, merengsek dalam dekapan Yoongi, menyandarkan kepala pada dada bidang tanpa pakaian itu, "pertama, Hyung harus selalu ingat, bahwa aku ini adalah 'istrimu'"
"Itu bukan sebuah permintaan, Honey."
"Kalau Hyung ingat bahwa aku adalah istrimu, berarti Hyung harus selalu mengangkat telponku, harus selalu membalas pesanku, harus selalu mengatakan masakanku enak, harus selalu-"
"Okay, okay. Hahaha."
"Ish, jangan tertawa,"pukul Jimin gemas pada dada Yoongi.
"Iya, iya. Nah, lalu?"
"Em,"Jimin menyamankan posisi kepalanya, jarinya bermain-main di kulit Yoongi.
"Apa? Katakan saja..."
"Hyung harus belajar menjadi Appa yang baik mulai sekarang."
"Eh? Mworago?"
"Hyung harus belajar menjadi Appa yang baik mulai sekarang."
Yoongi bergerak duduk, menatap heran pada Jimin yang ikut duduk.
"Hyung harus belajar menjadi 'Appa' yang baik mulai sekarang,"ulang Jimin tersenyum lembut.
"Tunggu. Tunggu. Tunggu. Tunggu. Appa?"
"Ne!"
"Well, Jiminie, untuk yang satu itu, kau tahu tidak suka makhluk-"
Tampak Jimin memberengut kesal.
"Okaaay,"desah Yoongi, "kita adopsi yang sudah berumur di atas 10 tahun."
Jimin terkekeh kecil, "tak perlu diadopsi Hyung."
"Hha?"
Jimin mengambil jemari Yoongi dan menyentuhkannya ke perutnya, "Hyung tahu kenapa akhir-akhir ini aku jadi lebih sensitif dan mudah merajuk?"
"Jimin, tolong jangan katakan,"sontak saja Yoongi menatap gamang perut istrinya.
"Dan aku juga langsung memaafkanmu kan. Ketika Hyung di London-"
"Please, Jiminie jangan bilang..."
Kedua bahu Yoongi jatuh dan ekspresinya tampak benar-benar memelas agar apa yang ia takutkan tak akan terjadi. Sedang senyum Jimin semakin lebar.
"Aku hamil, Hyung!"
SHIT!
.
.
END
.
.
