Saat kau tak lagi takut akan kematian, saat itulah kau memang tak pantas lagi untuk hidup.
.
.
Cast and Pairing
Minamoto Suga (Min Yoongi) x Park Jimin
Kim Namjoon x Kimura Jin (Kim Seokjin)
Kim Taehyung
Jung Hoseok
Jeon Jungkook
.
.
Happy Reading
.
.
"Haah..."
Deras hujan menemani Suga. Genangannya melarutkan darah segar berwarna merah pekat. Tanpa suara selain gemericiknya suasana sendu begitu memilukan.
Sosok Suga terbujur lemah seorang diri. Napasnya semakin berat dan tubuhnya semakin mendingin. Tatapan hampa ia lempar pada langit kelabu. Lalu ia hentikan dengan perlahan menutup mata.
Ia bukanlah seorang pria yang sentimentil. Baginya hingga kinipun belum ada sosok yang berhasil menaklukkan hatinya. Lebih tepatnya memunculkan kembali perasaannya. Karena sudah sejak lama, Suga menjadi seseorang yang tidak memiliki emosi.
Tapi kenapa.
Kenapa sekarang, saat ia tahu sebentar lagi hidupnya akan berakhir sebuah senyuman memenuhi pikirannya. Senyuman merekah yang begitu lembut. Penuh kehangatan seolah selalu berhasil menyilaukannya. Senyuman milik seseorang yang- nalarnyapun membenarkan -ingin ia rangkul, ingin ia dekap begitu erat tiap kali fisiknya begitu letih menuruti logikanya.
Detik ini juga, kenangan dengan senyuman itu berkelebat dalam ingatannya.
Suga merasa getir namun berpura tegar. Menampik sesuatu yang bernama kasih dan sayang. Padahal jelas-jelas Suga selalu memikirkannya. Begitu menikmati ketika senyuman itu menyapanya. Tak pernah risih. Dan tak pernah bosan.
"Haaah..."kembali Suga membuang napas. Begitu pelan dan terdengar berat. Memperlihatkan sebuah kondisi kritis di mana untuk sekedar bernapaspun butuh sebuah perjuangan.
Suga sangat merindukannya. Senyuman yang selalu mempermainkannya.
Tak perlu pria itu ikut tersenyum, kontras sekali dengan detik-detik terakhirnya. Tapi Suga merasa bahagia karena masih mampu mengingatnya. Karena masih bisa merasakannya. Seolah-olah senyuman itu tepat ada di hadapannya.
"Sugasshi..."
Sontak batin Suga tersengat. Seketika tersentak dengan sebuah suara yang tiba-tiba menggema pada pendengarannya. Membuat jemarinya bergerak dan perlahan terangkat. Lelaki pucat itu berusaha membuka kedua matanya.
Ternyata langit belum berhenti menurunkan hujan. Itu yang membantu Suga untuk menyembunyikan tangisannya. Ada deras lain yang membanjiri kedua pipinya selain air mata. Bergerak menjunjung jemari setinggi-tingginya, membiarkan mereka bertabrakan dengan tetesan air. Lama Suga perhatikan tangan yang menghadap langit itu.
Sial...
Suga langsung menyadari sesuatu. Benar, akhirnya Suga menyadari sesuatu yang benar-benar penting. Senyuman sama sekali tak sebanding dengan sang pemilik senyuman. Seorang pemuda manis berhati lembut yang dengan kehangatannya selalu berusaha agar orang lain bahagia. Penyemangat yang telah berhasil menundukkan seorang Suga.
Sial...
Ingin rasanya Suga berteriak pada dunia bahwa ternyata ia masih ingin hidup.
Ia masih memiliki seseorang yang menunggunya. Ia masih bisa menata ulang keseluruhan hidupnya. Ia masih bisa...
Sial... Sejak kapan aku seperti ini. Memohon pada takdir yang sejak dulu telah menginjakku.
"Apa anda masih menyesali keputusan takdir?"
"Aku bukan menyesali, aku hanya membenci keputusannya."
"Termasuk mempertemukan anda dengan seorang Park Jimin?"
Tangan Suga rebah. Seakan sebuah pertanda bahwa ia benar-benar pasrah dan menyerah. Apa yang bisa ia lakukan dengan luka seperti ini seorang diri. Meski akhirnya memiliki hasrat untuk hidup, tapi lagi-lagi takdir enggan mengikutinya.
Haaah. Jiminie, seharusnya aku menolak ajakanmu Sabtu nanti...
.
.
-flashback-
"Ano, sumimasen. Koko ni nereranaindesukedo..." [Em, maaf. Tapi anda tidak bisa tidur di sini...]
Suga mengernyit. Matanya yang siap menyipit karena mengira akan berhadapan dengan terik matahari mengerjap cepat mendapati sebuah senyuman canggung namun masih sarat akan keramahan dari seseorang yang tak dikenalnya.
"Em, bahkan rumput ini tak boleh diinjak,"sambung pemuda yang sepertinya lebih muda dari Suga itu. Ia yang membungkuk lalu menarik diri dan menunjuk sekilas plang di ujung sana dengan tolehan wajahnya, "sudah jelas tertulis 'dilarang menginjak rumput'"
Suga melepas headsetnya, "oh, mian,"ujarnya singkat perlahan bangkit dan mengibas-ngibas sekujur pakaiannya, "tadi aku tak terlalu memperhatikan,"lanjutnya memilih berbahasa korea setelah melihat nama 'Park Jimin' tertera pada nametag pemuda berseragam cleaning service itu.
"Kankok- [Kankokujin=Orang Korea] ani, apa anda orang korea?"kaget Jimin. Ada seulas senyuman dibalik pertanyaannya. Baru kali ini ia menemukan orang korea di perusahaan tempat ia bekerja.
"Well, anggap saja begitu."
"Wah, annyeong haseo, Park Jimin imnida,"bungkuk Jimin hormat tersenyum lebar.
Suga hanya menarik bibirnya, "bukannya tak boleh menginjak rumput, sebaiknya kau simpan dulu pengenalanmu setelah kita keluar dari sini."
"Oh, benar juga. Hehe."
.
"Jadi anda bukan karyawan di sini?"
"Nah, aku hanya kebetulan lewat."
Jimin menangguk-angguk paham. Pantas Suga tidak memakai pakaian kantoran dan tidak memiliki nametag. Pria pucat itu memakai kemaja kotak merah hitam dan jins hitam serta kets berwarna hitam pula.
"Jadi, apa anda campuran? Tadi anda tidak terlalu membenarkan bahwa anda orang korea."
Suga tak menjawab, malah menatap panjang sosok Jimin yang duduk manis di sampingnya, "apa setiap bertemu dengan orang korea kau selalu mentraktir mereka minuman kaleng hm?"lanjutnya balik bertanya memandang cola digenggamannya.
"Em, aku hanya sangat senang. Apa anda sedang terburu-buru?"
"Aku tak akan tidur jika harus melakukan sesuatu. Kau sendiri? Dari tadi Ahjumma itu melirik ke arah sini."
Jimin langsung mengikuti arah mata Suga, "astaga! Benar juga. Aku kan minta izin hanya untuk menegurmu, astaga. Wah, maaf, kalau begitu aku duluan. Permisi,"pamitnya bergegas pergi namun terhenti sebentar dan berbalik untuk Suga, "oh, iya! Nama lengkap anda?"
"Suga. Cukup itu yang kau ketahui."
.
.
"Penjagaannya tak terlalu ketat,"Suga menghempaskan tubuhnya di sofa, meneguk satu kali vodka yang tadi ia ambil dari meja nakas lalu memperhatikan itu sembari memainkan bongkahan es yang ada di dalamnya, "apa kau tak salah hitung dengan bayaranku heoh?"
Namjoon melepas mulutnya dari ceruk leher putih mulus itu, melongok dari balik Jin yang ia pangku membelakangi Suga, "klien kita hanya ingin urusan ini cepat selesai. Banyak yang bisa melakukannya dengan mudah, tapi dia mau membayar mahal pada kita,"jelasnya sambil sesekali menggigit gemas dada pria cantik yang tak sabar untuk dimasukinya, "kau tak percaya hm? Mau melihat langsung uang mukanya?"
"Nah, aku cukup melihat bagianku saja,"Suga meneguk habis minumannya, "jika tak ada yang berubah,"ujarnya bangkit, bergerak meninggalkan Namjoon, "beri aku waktu dua minggu."
"Hai. Yoroshiku."
.
.
"Astaga, Sugasshi?"
Untuk sesaat Suga menghentikan suapan ramennya, lalu melanjutkannya sembari mematai sosok yang bergerak duduk tepat di sampingnya.
"Annyeong, kita bertemu lagi,"senyum pemuda itu setelah mengisyaratkan sesuatu pada pemilik kedai, "apa anda masih mengingat saya?"
Suga hanya mengangguk kecil. Dan terlihat acuh, namun tetap melirik ke arah sampingnya.
"Omo, apa pria ini juga orang korea, Nak Jimin?"kaget pemilik kedai sembari meletakkan hati-hati mangkuk ramen dan gelas berisi teh olong di depan Jimin.
"Ne, Ahjusshi!"angguk Jimin semangat.
"Kupikir orang jepang, aksennya kental sekali. Dan, tak ada kesan orang korea-nya. Haha. Apa anda campuran, Nak?"
"Ibuku yang orang korea."
Dua lawan bicara Suga membulatkan mulut mereka. Dan sepertinya terlihat semakin penasaran dengan latar belakang pria pucat berpembawaan tenang itu.
Jadilah Paman Jeon, pemilik kedai langganan Jimin, kemudian menaruh dua botol soju sambil tersenyum lebar. Disambut kekehen Jimin karena mengerti benar, sepertinya mereka akan berbincang cukup lama malam ini.
.
"Maaf, Nak Suga,"Paman Jeon mengangkat sebelah tangan tepat di depan wajahnya, "biasanya Jungkook yang mengantar Jimin jika ia mabuk, tapi kedai sedang ramai sekali dan salah satu karyawan kami sedang cuti..."
"Ne, Ahjusshi,"angguk Suga mulai memapah Jimin, "biar aku yang mengantarnya."
"Gamsahamnida, Nak Suga."
Pria yang pinggangnya dirangkul erat oleh Suga itu terkikik dan dengan gontai melambai-lambai pada Paman Jeon, "Ahjusshiiiii, gamsahamnidaaaaa,"ujarnya ramah namun bernada khas orang mabuk, "malaaam, aku pulang duluuuu."
"Ne, hati-hati di jalan, Nak Jimin. Nak Suga, terima kasih ya."
"Kami pamit, Ahjusshi,"bungkuk Suga berlalu meninggalkan kedai.
.
"Akan aku panggilkan taksi."
Jimin menggeleng-geleng kuat mengerucutkan bibirnya, "andwe!"tegasnya mengacungkan jari telunjuk tinggi-tinggi, "mahal! Aku akan jalan kaki saja!"
"Oke. Kalau begitu aku akan mengantarmu."
"Andwe!"geleng Jimin lagi, cepat-cepat melepaskan diri dari Suga. Mencoba berdiri tegap padahal kepalanya terasa berat dan tertekuk-tekuk ke berbagai arah, "andwe, hik,"ulangnya cemberut pada Suga, "aku hik tak boleh merepotkan orang lain, aku, aku, aku bisa-"
Suga langsung merangkul Jimin yang hampir jatuh. Lagi-lagi Jimin bersikeras melepaskan diri.
"Aku bisa pulang sendiri hik!"tandas Jimin berbalik dan mulai melangkah meninggalkan Suga, "annyeong Sugassiiiii ~ kuharap kita bisa bertemu lagi ~"
Suga menghembus napas pelan. Tanpa diketahui Jimin, pria bersurai platina itu memutuskan mengikutinya dari belakang.
Mengekori Jimin untuk memastikan segala sesuatunya aman hingga pemuda mabuk itu menghilang memasuki pintu losmen murah dua blok dari Kedai Jeon.
.
Taehyung mendecak tak suka ketika bahunya secara tidak sengaja bersinggungan dengan bahu Suga. Ia yang memasuki ruangan Namjoon, memandangi punggung pria yang barusan keluar dari sana. Bahasa matanya tak ramah, bukan karena Suga melenggang pergi tanpa menyapanya tapi karena mereka memang sejak pertama bertemu sudah saling tak cocok satu sama lainnya.
"Lagi-lagi Hyung memberinya tugas dengan bayaran tinggi,"gerutu Taehyung setelah duduk di sofa kulit berwarna hitam, kedua kakinya yang disilang diletakkan di atas meja sedang kedua tangannya disembunyikan di saku jaket, "kenapa aku selalu kedatapatan yang murahan terus, Hyung?"
"Bocah,"Namjoon yang tengah membersihkan pajangan katana-nya mengerling sebentar ke arah Taehyung, "jika kau punya waktu untuk merajuk seperti ini, lebih baik kau menemani Hoseok sana."
"Hha? Menemaninya ke salon begitu. Yang benar saja."
"Kepalamu bisa dipoles barangkali. Karena otak bodohmu itu semakin tak bisa dipakai."
"Mwo!? Hyung! Aku kan-"
Sekejab mata, garis darah sudah terbentuk di pipi kiri Taehyung. Matanya yang membulat lebar menatap gamang pada pisau yang tertancap tepat di sebelah wajahnya, ada beberapa helai rambutnya yang mulai berjatuhan dari sana.
"Appa mengirimmu ke sini bukan untuk menjadi bocah ingusan yang sukanya merengek, Taehyunga,"terlihat Namjoon masih santai memainkan alat pembersih pedangnya sambil sesekali menyipit apakah ada debu yang luput dari penglihatannya, semakin membuat Taehyung berkeringat dingin, lupa, bahwa seorang Bos yang kerjanya hanya duduk di balik layar itu adalah pembunuh terbaik pada masanya. Entah kapan Namjoon melayangkan pisau ke arah Taehyung, dengan bidikan tepat untuk sekedar menggertak lawan, "kau tak bisa bersabar hha. Aku akan menuruti keinginanmu jika kau sudah dapat dipercaya."
Taehyung mengangguk pelan menenggak ludah susah payah.
"Nah, aku serius menyuruhmu menemani Hoseok,"sambung Namjoon, kini ia mendengus tersenyum simpul, "kasihan okama itu, kau tahu Suga tak bisa berbasa basi kan."
.
.
Jimin menajamkan pendengarannya. Ia bangkit dari tidurnya, menyibak selimut tebalnya dan perlahan menjauhi futon-nya.
Tok tok tok
Benar, ia tak salah dengar. Memang ada ketukan pada pintu losmennya.
Agak takut-takut, karena ini sudah tengah malam, Jimin menempel pada daun pintu dan melihat dari lubang intip penuh waspada.
Sontak ia mengerjap cepat dan bergegas membuka pintu, "astaga, Sugasshi!"paniknya kemudian mendapati Suga yang terengah-engah dan berkeringat dingin.
"Kau- haah,"desah Suga rebah pada bahu Jimin, "kau pernah bilang cukup bisa merawat orang terluka kan..."
.
"Apa anda yakin tidak perlu ke rumah sakit, Sugasshi?"
Untuk kesekian kalinya pertanyaan serupa terlontar dari mulut Jimin, dengan nada yang semakin khawatir. Dari memapah masuk Suga, membersihkan luka Suga sampai Suga kini sudah terbaring di futon-nya.
"Gwaenchana yo,"tolak Suga berulang kali pula. Padahal jelas-jelas luka tusukan di perutnya akan semakin memburuk dengan penangan ala kadar dari persediaan P3K Jimin yang tidak memadai. Ditambah benturan di kepalanya yang tak mempan hanya dengan kompres dingin. Jimin jadi ingin menelpon ambulans, tapi entah kenapa iapun tak bisa membantah penolakan Suga.
Menghela napas, tatapan cemas Jimin belum membaik sedikitpun. Sembari tak berhenti mengusap keringat di kening Suga ia perhatikan benar semua balutan perban yang menyelimuti tubuh kurus itu. Jimin jadi ingat pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu, di mana Suga belum mau menjawab pekerjaan apa yang dimilikinya. Ia cukup berterus terang mengenai keluarganya, umurnya dan beberapa hal lain, namun Suga seolah menghindar ketika ditanyai perkerjaannya.
"Suatu saat nanti kau akan tahu."
Begitu yang dijawab Suga, membuat Jimin mulai ketakutan sekarang. Tak ada orang biasa yang tengah malam begini tiba-tiba mendatanginya dengan tubuh yang terluka parah. Luka di perut Suga, jelas-jelas luka yang tidak di dapat dari perkelahian biasa.
"Maaf, apa kau takut?"
"Eh?"
"Kau pasti sedang berpikir yang bukan-bukan sekarang,"Suga sedikit tersengal, terlihat belum bisa mengatur napas beratnya. Ingin rasanya ia tertidur dulu, tapi merasa Jimin terdiam cukup lama Suga merasa perlu menjelaskan sesuatu.
"Ani!"geleng Jimin cepat, "ani yo..."sanggahnya mencoba bersikap sopan.
"Nah, begini,"Suga meringis sebentar, lalu melanjutkan dengan tetap menutup mata, "kau tak akan mengerti jika aku menjelaskan siapa diriku, tapi malam ini aku sedang lengah... kebetulan rumahmu dekat sini... dan aku-"
"Astaga..."sela Jimin merasa hawa panas mulai terasa di tubuh Suga, memilih tak menggubris dulu apa yang tadi sebenarnya terjadi pada Suga, "sepertinya anda juga terkena demam, Sugasshi,"simpulnya setelah mengecek suhu tubuh Suga dengan punggung tangannya, "aku akan ke apotik 24 jam dekat sini, tunggu sebentar-"
"Tetap di sini,"cegah Suga langsung menggenggam erat pergelangan tangan Jimin, ia mendudukkan diri, menatap lekat kedua manik Jimin, "tetap di sini. Kau belum boleh keluar."
"Eh?"
"Jika kau ke apotik, mereka akan sadar bahwa kau sedang merawat orang terluka,"jelas Suga kembali berbaring namun tidak melepas genggamannya, "jangan ke mana-mana dulu, aku janji besok pagi aku akan keluar dari sini."
.
.
"Apa anda seorang robot, Sugasshi?"
Suga mengerling, tampak Jimin sedang menatap bingung ke arahnya.
"Robot?"heran Suga mematai Jimin hingga pemuda manis itu duduk tepat di sampingnya, sama-sama mengisi kursi kosong di depan minimarket dekat rumah Jimin.
"Ani, maksudku,"Jimin menaruh kantong belanjaannya di atas meja, menatapi sekujur tubuh pria kurus di dekatnya, "baru tadi pagi anda pergi begitu saja dari tempatku dengan luka yang aku yakin semakin parah dan sekarang anda sudah duduk santai di sini sambil menikmati dua- tiga kaleng bir,"terangnya serius, "dan juga, em, baru kali ini aku menenemui seseorang yang tidak memiliki ekspresi seperti anda."
Suga meneguk sekali, lalu menatap datar pada Jimin, "kau serius mengira aku ini cyborg heoh?"
"Well... Bukan sesuatu yang mustahil bagi Jepang kan."
Suga tersenyum tipis. Lebih kepada hanya tarikan kecil di sudut bibirnya, tapi entah mengapa Jimin mengerti bahwa Suga merasa ada yang lucu, "aku sudah biasa terluka seperti ini."
"Jadi, kau benar-benar tidak takut padaku ya?"kini Suga bertanya sembari menatap lurus kedua bola mata Jimin, menarik Jimin untuk menyelami bahasa matanya yang sarat akan keingin tahuan.
Dipandangi seperti itu sontak saja Jimin mengerjap cepat dan berpaling ke arah lain. Ritme jantungnya jadi lebih cepat, ada sengatan aneh pada hati kecilnya, "kalau boleh jujur, awalnya aku takut..."jawabnya pelan, "dan kita tidak terlalu dekat, hanya kebetulan bertemu di berbagai tempat,"sambungnya sudah bisa menatap sesekali ke arah Suga, "hanya saja."
"Hanya saja?"
"Entahlah, maksudku, aku yakin bukan sesuatu yang salah jika berteman dengan anda."
"Hmm..."
Lalu Suga dan Jimin sama-sama terdiam.
Terdengar bunyi miris dari perut Jimin. Seketika pipi mulus itu memerah, "jeo, jeosonghamnida!"
Suga tak ambil pusing, melirik sebentar jam tangannya, "sudah jam segini kau belum makan malam?"
"Ne, setiap Sabtu dan Minggu, aku mengambil dua part time sekaligus."
"Dan setiap hari kerja kau lembur di Hasegawa Corp."timpal Suga mengingat jam datang Jimin di Kedai Jeon beberapa hari yang lalu.
"Ne..."
"Jimin."
"Hm?"
"Boleh aku bertanya mengenai lemburmu?"
"Tentu."
.
.
Dead Leaves
.
.
Entah untuk keberapa kalinya Hoseok kembali memastikan riasan wajahnya. Memanut-manut handmirror pinknya seolah-olah cermin itu ingin mengeluh dipandangi Hoseok dengan genitnya.
Pria, yang mengaku dirinya adalah wanita tercantik sejagad raya itu mencoba-coba kedipan mana yang akan berhasil meluluhkan Suga. Memonyong-monyongkan bibirnya agar terlihat lebih seksi, mengetes lenguhan yang bagaimana sebaiknya ia perdengarkan untuk Suga.
Semenjak Suga menjadi pembunuh bayaran di bawah naungan Namjoon, sepupu jauhnya, Hoseok langsung jatuh pada pesona kalem, dingin dan maskulin seorang Suga. Sejauh ini ia sudah terang-terangan menggoda Suga, namun pria idamannya itu selalu berterus terang bahwa ia sedikitpun tak memiliki rasa untuknya.
Hoseok tak menyerah, ia menganggap Suga hanya butuh waktu. Seorang yang dingin memang membutuhkan waktu untuk jujur terhadap perasaannya, itu yang diyakini Hoseok.
Dan lihat, meski Taehyung mengejeknya seperti orang gila karena tak berhenti tersenyum seharian ini, ia tak peduli, yang jelas Suga tiba-tiba saja mengajaknya bertemu berdua saja, tak boleh memberitahukan pada siapapun, dan waktu serta tempat yang Suga tentukan adalah tengah malam dan Love Hotel paling tersembunyi.
Pintu kamar terbuka.
Hoseok duduk manis di tepian ranjang dengan balutan baju tidur transparan penuh renda. Gairahnya semakin meningkat tatkala sosok Suga muncul di ruangan yang temaram itu.
Sebuah dokumen Suga lempar di dekat Hoseok, "aku akan menemanimu malam ini, asal kau bersedia menjadi pengantar surat."
Hoseok bangkit.
Tangannya terkepal dan bersungut kesal, "HELL! Kau memang tak punya hati hha!"
"Aku sudah bilang dari awal kan."
"Heol!"desah Hoseok kasar, segera meraih pakaian dan bergegas memakainya. Tepat ketika ia akan melangkah melewati Suga, lengannya dicegat cukup erat.
"Aku mohon..."
Lirih Suga, pertama kali ia berkata begitu kepada Hoseok, kepada orang lain. Jadi Hoseok terdiam lalu mendecak, menepis tangan Suga dan merebahkan diri di sofa pink, "katakan apa yang harus aku lakukan. Ya! Aku seperti ini karena sudah terlanjur mencintaimu! Kuharap setelah ini setidaknya kau mulai bisa tersenyum kepadaku heoh!"
"Nah..."
.
"Namjoon tidak menginginkanku lagi,"mulai Suga, "kau tahu Taehyung benar-benar membenciku kan."
"Well."
"Setelah membunuh Hasegawa Tatsuya, aku yakin Namjoon juga akan membunuhku."
"Shit,"umpat Hoseok mematikan kasar cerutunya, lalu mulai mengisap yang lainnya, "kau akan pergi heoh?"
"Tidak. Aku hanya akan terlihat seperti pengecut dan anjing yang tak setia."
"Hell! Jadi kau membiarkan dirimu mati, begitu!"
"Nah, bagiku hidup dan mati tak ada bedanya."
"Astaga. Shit, shit. Fuck,"ceracau Hoseok kesal pada pria yang tenang sikapnya itu. Dari awal dia memang merasa kesal sendiri melihat Suga yang sepertinya tak memiliki niat untuk hidup. Dia maklumi, mengingat tak ada seorang keluargapun, teman ataupun kekasih yang Suga punya. Tapi menerima begitu saja dirinya terbunuh-
"Gomawo."
"Hha?"
"Kau orang kedua yang terlihat kesal akan sifatku yang seperti ini."
"Kedua?"
"Yang pertama adalah orang yang akan kau temui Sabtu nanti."
-flashback end-
.
.
Jimin memandangi lagi jam tangannya. Nyaris satu jam sudah ia menunggu. Padahal ia susah payah memberanikan diri mengajak Suga untuk berkencan, setelah akhirnya yakin bahwa ia memang menyukai pria pucat berdarah campuran itu.
Mengambil cuti di tempat kerjanya. Meminta izin dengan susah payah di tempat part timenya. Merasa antusias sejak Suga menerima ajakannya.
Ia akui, mungkin ia terlihat konyol, karena jelas-jelas dia belum terlalu mengenal seorang Suga. Tapi debaran jantungnya tak bisa ia pungkiri, pipinya yang memanas ketika pertama kalinya Suga mau tersenyum kepadanya tak bisa ia pungkiri, mimpinya beberapa hari ini yang selalu dipenuhi Suga tak bisa ia pungkiri.
Mereka bahkan belum saling menyimpan kontak masing-masing. Hanya terlalu sering bertemu secara tak sengaja di Kedai Jeon, minimarket dekat rumah, toko buku langganan Jimin dan berbagai tempat lainnya yang biasa Jimin datangi. Jimin mengira takdir mendukung perasaannya, padahal kebetulan itu hanyalah sesuatu yang dibuat-buat Suga.
Jimin harusnya sadar, setiap kali mereka mengobrol sejauh ini, Suga hanya tertarik pada detail pekerjaannya di Hasegawa Corp. Menanyakan berbagai macam hal yang menyangkut jam-jam tertentu yang hanya bisa terperhatikan oleh cleaning service seperti Jimin. Memastikan ritme perusahaan, rutinitas perusahaan dan hal-hal kecil mengenai perusahaan.
Kebetulan menurut Jimin, kesengajaan bagi Suga-
-namun tetap terhitung 'takdir' oleh sang pengendalinya.
Mungkin karena itu, Suga yang semula menganggap seorang Jimin termasuk ke dalam rencananya, mulai merasa bersyukur terhadap pertemuan mereka.
"Aish! Jinjja! Kupikir yang di mana ternyata yang di sini! Heol!"
Jimin tersentak. Seseorang baru saja memasuki ke kafe dengan gerutuan yang menarik beberapa pengunjung.
Pria dengan polesan minimalis di wajahnya, berpakaian agak ketat, acuh dengan bisikan sekitar itu kemudian duduk tepat di hadapan Jimin setelah memesan sesuatu.
Mengedip cepat, Jimin menatap bingung, "Ano, sumimasen-"
"Kau tadi tidak dengar omelanku?"
"Eh?"
"Kankokujin desu yoooo,"ketuk Hoseok berkali-kali pada meja, "baka."
"Ah, ne... Em, maaf, anda?"
"Kau Park Jimin kan ya,"Hoseok menatapi Jimin, matanya gencar menelusuri sekujur tubuh Jimin, "nah, kau cukup manis sih,"acuhnya seolah-olah memberi penilaian sekenanya.
"Ne, Park Jimin imnida."
Sebuah dokumen dilempar di atas meja, "aku kenalannya Suga, dia menitipkan ini kepadamu."
"Ini?"Jimin menatap heran sembari meraih amplop coklat yang sepertinya berisi puluhan lembar surat-surat itu.
"Kudengar kau belum bisa kembali ke Korea ya."
"Ne..."
"Nah, Suga sudah mengurus segala sesuatunya, berkemaslah, minggu depan kau sudah bisa kembali ke Korea."
"Eh?"
"Astaga,"Hoseok geleng-geleng kepala, "apa benar Suga menyukaimu heoh. Apanya yang 'Eh'? Dokumen itu berisi hal-hal yang kau butuhkan agar tak tertahan di bandara. Urusan imigrasimu sudah jelas sekarang. Sebelumnya bermasalah karena waktu kecil kau imigran illegal kan, nah, berterima kasihlah. Dalam sebulan ini kau bahkan sudah bisa menemui orang tua kandungmu."
Jimin tetap tak mengerti. Namun otaknya tetap dipaksa berkerja keras. Sejak kemarin ia hanya membayangkan bagaimana kencan pertamanya dengan Suga. Bukan disodorkan pada hal yang seperti ini.
"Kami sudah biasa mengurus hal-hal seperti ini, kau bisa mempercayai Suga,"sambung Hoseok, menghabiskan sisa jus jeruknya dan beranjak akan pergi.
"Tunggu,"cegah Jimin.
"Wae?"
"Sugasshi..."
"Aaah,"Hoseok menarik bibirnya, tersenyum miring, "kau tak perlu menunggunya lagi, Boy. Dia tak akan datang."
.
.
.
.
Jimin memandang hampa pada kepulauan Korea Selatan yang mulai terlihat.
Ia harusnya senang. Sangat senang. Karena akhirnya bisa pulang setelah lima belas tahun lamanya terpisah dari negrinya itu. Sejak ia dijual oleh kedua orang tuanya.
Hanya saja, semua terjadi dengan tiba-tiba dan tanpa andil dari dirinya sendiri. Apalagi kalau setelah kembali ke Korea, memangnya dia harus bagaimana. Dia punya keluarga, tentu, tapi bukanlah orang-orang yang ia kenal ataupun ia rindukan. Ingin bertemu dengan kedua orang tuanya pun, ia sebenarnya belum terlalu siap. Bukannya dendam, bahkan Jimin sudah memaafkan kedua orangnya tuanya, tapi baru minggu kemarin kehidupannya masih tetap sama seperti biasa.
Dan lagi-
-Suga.
Jimin belum bisa terima Suga yang menghilang tiba-tiba. Suga yang tak lagi kebetulan bertemu dengannya. Suga yang menitipkan sesuatu kepadanya. Suga yang seolah-olah pergi meninggalkannya selama-lamanya.
Ucapan Hoseok masing terngiang-ngiang di kepalanya. Sudah tak perlu menunggu Suga, Jimin iyakan dengan kembali ke Korea sesuai dengan tiket yang diberikan Suga. Namun hatinya tak tenang, hatinya tersiksa, hatinya merindui sosok Suga.
Itu yang membuat bibirnya merasa tak pantas untuk tersenyum meski Jimin pulang ke kampung halamannya.
Secara naluri Jimin mengerti, hidup Suga bukanlah hidup yang damai seperti hidupnya. Ia mengerti, namun bersikeras tetap mencintai seorang Suga. Jadilah perasaannya kini antara terguncang dan berusaha untuk memahami apa yang terjadi pada Suga.
Teringat sesuatu, Jimin merogoh tas ranselnya. Mengeluarkan sebuah amplop putih yang tertera hangul berbunyi 'bacalah saat kau akan sampai di Korea'.
Cepat-cepat Jimin membukanya. Terdapat secarik kertas di sana.
Surat dari Suga.
Aku tak pandai berbasa basi.
Sontak Jimin merengut pilu. Seolah-olah mendengar suara Suga dalam batinnya.
Sejak aku mendatangimu tiba-tiba malam itu, kau pasti sudah sadar bagaimana duniaku selama ini. Awalnya aku hanya memanfaatkanmu sebagai salah satu informanku, kematian Hasegawa Tatsuya, aku yang merencanakannya namun ternyata bukan aku yang melakukannya. Aku dikhianati dan itu artinya aku akan dibunuh.
Saat kau membaca surat ini, maka Minamoto Suga sudah tak ada lagi di dunia ini.
Perlu kau tahu, aku menyukaimu. Aku suka dengan senyumanmu dan bagaimana kau yang tidak mempermalasahkan latar belakangku. Aku bersyukur, kau yang aku pilih untuk masuk ke dalam rencanaku. Sengaja mendekatimu namun berakhir dengan diriku yang menginginkan kebahagianmu.
Setelah sampai di Korea, ada seseorang yang sudah menunggumu di bandara. Kau bisa memulai kehidupan yang lebih baik di Korea. Jangan khawatir, jika lebih baik, tentu kau bisa sesekali mengunjungi Paman Jeon dan yang lainnya.
Nb: ...
.
Seketika sekujur tubuh Jimin merasa lemas. Napasnya sesak mendapati seorang pria pucat yang tengah tersenyum lembut ke arahnya.
Pria yang mendekatinya yang kemudian memeluknya begitu erat. Melepaskan pegangannya pada koper, menjatuhkan begitu saja ranselnya, Jimin mulai menangis membalas dekapannya.
"Hiks, Yoongisshi..."bisik Jimin penuh haru.
"Okaeri nasai..."
.
Nb: Seseorang pernah berkata, saat kau tak lagi takut akan kematian, saat itulah kau memang tak pantas lagi untuk hidup. Aku jadi mengerti setelah melihatmu, manusia memang harus memperjuangkan kehidupannya. Sejatinya manusia memiliki keinginan untuk hidup.
Minamoto Suga sudah tak ada lagi. Karena mulai sekarang, aku adalah seorang Min Yoongi.
Min Yoongi yang ingin hidup, yang takut mati, yang akan berjuang demi kebahagiaan seorang Park Jimin.
.
.
END
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAAAAAAAAAAAA!
Mian, saya lagi ga bisa balas review satu2 ya... Tehe!
Kali ini gaje bgt! Aish! Paan nih! Hahaha, kurang greget kan! Au ah! Hahahaha
Hei, hei, hei, plis jgn request sequel dong, kan kan kan kan saya jadi kpengen bikinnya hahahaha. FF serial saya ga boleh nambah lagi! Musti tamatin dulu yang lainnya, baru nambah hahaha. Ini juga kelamaan updatenya kan ya, mian. Apalah daya daku yang mood2an ini hehe
Btw, kenapa saya lama update? Karena hasrat nulis ff saya agak hilang, momen YoonMin dikit sssssiiiiih! Jujur, bahkan Dead Leaves ini awalnya YoonSeok lho! Haha. Saya jadi mulai tertarik dengan YoonSeok wkwkwkwk
Once again gamsahamnida ^^
.
.
.
.
WF16H07O15CAT
