Falling in Love with You (again) -Sequel-

.

.

Warning, BoyxBoy, Yaoi, Typo(s)

Happy Reading ~

.

.

Yoongi mendesah kasar. Memicing erat seraya memijit pangkal hidungnya.

Tampak CEO muda itu sulit sekali menyetujui permintaan sang lawan bicara. Seseorang yang lima belas menit lalu tiba-tiba saja menelponnya.

"Hyung tidak mau ya?"

Astaga. Nada tanya macam apa itu. Merajuk sekaligus menekan sekali. Yoongi terpaksa menahan desahan kasarnya kini. Helaan napas yang terdengar berat hanya akan membuat si manis di seberang sana semakin merengut kecewa.

"Begini, Jiminie-"

"Kalau Hyung tidak mau,"sergahnya cepat-cepat, tak terima jika diberikan sebuah alasan, "aku akan pergi dengan Hobie-hyung!"

"Aku akan pergi!"jawab Yoongi cepat, "aku akan pergi. Aku akan pergi, Sayang."

"Hehe. Janji, ya?"

"Ne."

"Aku akan sampai di sana dua puluh menit lagi, Hyung. I love you..."

Yoongi mendengus tersenyum simpul, "me too."

Pip.

"Jujur."

Yoongi langsung berbalik ke arah pintu. Sudah ada Namjoon yang tersenyum senang kepadanya.

"Jujur,"lanjut pria tinggi selaku sekretaris Yoongi itu, "aku sangat menikmati ketika seorang Min Yoongi bisa berbicara sehalus itu,"katanya terlihat seperti menahan tawa.

"Coba kau di posisiku, Brengsek,"balas Yoongi jengah menghempaskan punggung ke kursi kulitnya, "astaga. Demi apapun, Joon. Apa orang hamil memang seperti itu heoh?"

"Sir, anda masih beruntung, banyak yang lain yang lebih aneh lagi permintaanya,"Namjoon bergerak ke meja Yoongi membawa berkas-berkas yang musti Yoongi tanda tangani, "anda belum disuruh menyeret artis tampan favorit Jimin kan,"sambungnya,"atau mencari makanan yang mustahil ada atau melakukan sesuatu yang memalukan di depan umum atau dipakaikan kostum norak. Jimin hanya-"

"Sudah, Namjoon,"sela Yoongi menutup mata, menjatuhkan kedua bahu dan mengepal erat semua jarinya, "barusan dia menelpon agar kami ke fanmeeting Song Joonki nanti sore,"ungkapnya penuh siksa, "memaksaku memakai baju fanclubnya dan sehabis itu kami harus makan malam Martabak Afrika. Heol, martabak afrika? Makanan apa itu. Astaga..."

Namjoon mengerjap cepat, kemudian senyumnya semakin mengambang melihat boss dinginnya itu terlihat frustasi menahan kesal.

Ayolah. Tak ada satupun bawahan yang tak pernah mengumpat Yoongi di dalam hati. Karena pria 25 tahun itu merupakan seorang boss dengan tipikal dingin, kejam dan bermulut pedas tanpa pandang bulu. Mau karyawan magang ataupun cleaning service yang sudah berumur pasti pernah menjadi korban ketajaman lidah Min Yoongi.

Pemandangan yang sangat menghibur bagi Namjoon ketika Yoongi melunak seperti ini. Mengalah demi istrinya. Menderita demi istrinya. Well, dia tak serius mensyukuri ketidak berdayaan Yoongi, hanya senang dapat melihat sisi lain dari atasannya. Karena Namjoon bukan termasuk orang-orang yang baru mengenal Yoongi yang pasti akan mengutuk pria pucat itu, tapi ia adalah segelintir orang yang tahu betul bahwa Yoongi hanyalah seorang pekerja keras yang tentu menginginkan yang terbaik untuk orang-orang di sekelilingnya.

"Berarti meeting nanti akan dibatalkan, Sir?"

"Well, minggu depan kita terpaksa menambah jam rapat jadinya."

"Wah,"tampak Namjoon terkagum, namun di mata Yoongi justru seperti takjub yang dibuat-buat, "saya sangat senang jika anda mengutamakan istri anda, Sir."

"Berhenti mengejekku, Brengsek!"

.

Falling in Love with You (again) Sequel

.

Yoongi mengetuk-ngetuk badan stir. Sudah lebih setengah jam dari waktu yang dijanjikan Jimin. Dan Jimin belum juga mengiriminya pesan.

Jadi sambungan telpon yang tak kunjung dijawab itu, membuat Yoongi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah keluar dari parkiran gedung perusahaannya.

Jimin memang tidak selalu tepat waktu ketika janjian, pernah bahkan semasa pacaran Jimin membuat Yoongi menunggu lebih dari tiga jam tanpa mengabari apapun. Untuk pertama kalinya kencan mereka diawali dengan pertengkaran. Beruntung Yoongi yang entah mengapa, sedang ingin mengalah waktu itu, jika tidak pasti tiket drama musikal yang sudah Yoongi perjuangkan kala itu, tiket yang sold out hanya dalam waktu semalam, akan berakhir sia-sia di tong sampah dekat gedung theater paling terkenal di Seoul. Padahal Yoongi sama sekali tak berminat dengan hal-hal berbau seni musik dan sebagainya, tapi ia tetap mencoba menonton pertunjukkan yang sangat Jimin nikmati.

Berarti Jimin bisa saja terlambat untuk hal-hal yang sangat ia tunggu-tunggu dan sangat ia sukai.

Jadi, seharusnya Yoongi tak perlu berwajah setegang itu. Bisa saja Jimin ketiduran, atau bersiap-siap terlalu lama, atau dia mampir ke toko buku dulu dan lupa waktu. Tapi bukan berarti panggilan Yoongi tidak dia jawab kan.

Yoongi jadi merasakan firasat buruk. Ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada istrinya.

Dan lihat, decakan kasar keluar dari mulut Yoongi setelah tanpa sengaja melihat mobil yang sangat ia kenal baru saja keluar dari basement apartementnya.

.

Yoongi menghela napas pelan. Kakinya terasa berat sejak memasuki pintu depan. Tersirat di wajahnya rasa bersalah yang teramat dalam.

Lalu hatinya semakin terasa ngilu ketika kakinya terhenti di batas lorong depan dan ruang tengah. Ruang tengah bernuansa minimalis yang begitu sunyi dan menyedihkan. Karena satu orang di sana, yang duduk termenung di sofa putih susu, dengan rengutan pilu pada bibirnya berusaha menahan tangis sekaligus kesal yang menyiksa. Sampai-sampai kehadiran orang lain tak ia sadari sudah berdiri tepat di hadapannya.

Pria berkemeja hitam berlutut, memegang lembut tangan Jimin yang sepertinya terkepal terlalu erat dan begitu lama, "Jiminie..."panggilnya halus seraya melepaskan genggaman kuat jemari Jimin, sorot matanya semakin sendu mendapati telapak tangan yang sudah memutih dan terdapat bekas kuku yang sangat memerah itu.

Jimin tersentak. Langsung sadar dari lamunannya dan cepat-cepat berdiri tegap,"eh. Oh, Hyung sudah pulang,"gagapnya menelan ludah, "astaga, apa Hyung menungguku terlalu lama? Aigo. Maaf, Hyung. Astaga sudah jam berapa sekarang,"ucapnya berpura-pura panik memandangi jam tangan, "aduh. Apa kita terlambat ya."

Pelukan hangat langsung Yoongi berikan. Ia mendekap erat tubuh Jimin yang sesaat lagi bersikap seolah-olah dia harus bergegas untuk bersiap pergi.

"Gwaenchana...?"bisik Yoongi. Lembut dan hangat. Serta sangat hati-hati.

Jimin langsung terenyuh. Ingin rasanya ia berbohong, tapi sepertinya suaminya tahu apa yang sebenarnya tadi terjadi kepadanya. Jadi Jimin membalas pelukan Yoongi tak kalah erat dan sedetik kemudian menangis sejadi-jadinya.

.

.

"What the fuck are you doing."

Yoongi menatap dingin wanita di hadapannya. Barusan adalah kalimat pertama yang meluncur dari mulut Yoongi. Tanpa salam, tanpa basa-basi langsung pada poin inti kenapa ia mendatangi kantor pemilik beberapa butik elit di kawasan Gangnam ini.

Sang wanita berbibir merah menyala tersenyum sok-sok bingung, "astaga, semakin lama kau semakin terpengaruh dengan orang-orang kelas bawah hm."

"I asked. What. the. fuck. are. you. doing."

"Hahaha. Aigo. Aigo,"sosok berbalut kemeja biru laut dengan renda sekilas bermerek gucci itu tertawa renyah, "pria macam apa yang sukanya mengadu hm. Oh. Mana ada pria hamil, should we start to call him 'she' right now?"

"Hell. Kalau warisan yang kau cemaskan, sudah berapa kali aku tegaskan, aku tak tertarik menjadi penerus Ayah. Mustahil kau belum mengerti kenapa aku bekerja keras menjalankan perusahaan orang lain dibanding mengembangkan perusahaan Ayahku sendiri."

Raut angkuh itu seketika berubah air mukanya. Tampak dengan tajam dia memandang benci ke arah Yoongi, "jika anak itu lahir, tanpa kemauan-mu pun, semua aset akan diatas namakan dengan namamu."

"Kalau kau ingin, aku akan langsung menyerahkannya kepadamu."

"Kau pikir Kakek dengan mudah mengubah tradisi heoh."

Yoongi mendesah pelan, tersenyum remeh dan tak habis pikir, "heol, sepicik itukah Min Hyorin hm. Perlu kau tahu, Jimin tak mengatakan apapun kepadaku, dengan kau yang kemarin kulihat keluar dari parkiran apartemenku, sudah cukup membuatku mengerti bahwa kau mendatangi Jimin dan memainkan lidah berbisamu yang tak punya akal budi. Seharusnya kau menyuruh suamimu itu untuk berpikir. Bukannya-"

Yoongi melepas sandarannya, menaruh kedua tangan di atas meja dan memberikan tatapan paling dingin yang ia punya.

"-mengasari Jimin-ku dengan omongan tak berbobotmu,"tandasnya langsung beranjak pergi. Tak berniat untuk mendengar balasan dari lawan bicaranya.

Berlama-lama bersama wanita yang secara sosial menjabat sebagai adik kandungnya tapi secara mental termasuk orang yang membencinya, hanya membuat mood Yoongi semakin buruk.

Cukup ia menegaskan bahwa jangan berani menemui Jimin lagi, selebihnya untuk apa ia berbincang pada seseorang yang bahkan tak pernah memanggilnya Oppa.

.

.

"Aku tak mengerti,"Jungkook menggeleng-geleng polos, "bahkan konflik pada drama The Heirs-pun yang tak berhubungan dengan percintaan tak pernah aku pedulikan."

"Nah,"Jimin tersenyum simpul. Jungkook adalah salah satu temannya yang bukan dari golongan atas. Jadi dia maklum ketika ceritanya yang langsung mengarah pada adik Yoongi yang mendatanginya, tak dimengerti oleh kekasih teman kuliahnya itu.

"Yoongi-hyung anak laki-laki pertama, otomatis dia menjadi penerus utama Min Grup,"mulai Jimin, mengaduk sup dengan sesekali melihat Jungkook yang sedang serius membuat kimchi, "tapi, Yoongi-hyung menolak untuk mengikuti jejak Ayahnya, dia ingin mandiri, tentu perusahaan tak tinggal diam, namun ternyata Yoongi-hyung nekat menikahiku."

"Pernikahan kalian di Amerika bahkan tak luput dari media Korea,"timpal Jungkook, "heol, apa kau ingat betapa anehnya perasaanku ketika wajahku ikut tersorot pada salah satu halaman utama koran bisnis yang apa itu namanya, entahlah."

"Em. Maaf sudah melibatkanmu ya..."

"Astaga. Hei, apa kau masih merasa bersalah karena aku dijadikan bulan-bulanan di kampus heoh."

"Tentu saja..."

"Hahahaha. Aku sih senang jadi terkenal. Kau tahu, Taetae-hyung bahkan dengan bangga mengatakan dia sahabatmu pada orang-orang di bengkel. Hei, gwaenchana ~ Nah, lalu?"

Jimin tersenyum manis. Tak pernah berhenti bersyukur memiliki teman-teman baik yang selalu mendukung dan mengerti akan keadaannya.

"Yoongi-hyung yang bersikeras menolak untuk mewarisi Min Grup, serta pernikahan kami yang mustahil untuk memberikan keturunan membuat perusahaan melepas Yoongi."

"Jadi, otomatis suami Hyorin yang menggantikan posisi Yoongi-hyung,"tambah Seungkwan yang kembali dari kamar mandi, dia ke dapur hanya untuk mengambil apel, lalu bergerak ke ruang tengah, tiduran di sana dan mulai menonton TV.

"YA!"teriak Jungkook kesal, "bantu aku, dasar pemalas!"

"Seokjin-hyung sebentar lagi akan datang kan,"jawab Seungkwan santai, "tenang saja ~ Tanpa campur tangan kita berdua pun, makan malam nanti akan cepat selesai kok. Kau juga berpikir seperti itu kan, tapi karena ingin bisa memasakkan sesuatu untuk 'Taetae-hyung' tercinta- YA!"

Sebuah jeruk nyaris mengenai kepala Seungkwan. Yang melemparnya hanya mencebik merasa tak bersalah. Mereka mengadu cibiran untuk beberapa saat, lalu teringat bahwa mereka sedang membahas masalah Jimin.

"Berita kehamilanku sampai di telinga Eommonim,"lanjut Jimin, "otomatis keluarga besar Yoongi-hyung tahu dengan fakta yang mustahil ini. Yoongi dan Jimin mampu memberikan keturunan dan keturanan itu adalah laki-laki. Dan ternyata Kakek- kau tahu kan, Kakek yang sangat menyayangi Yoongi-hyung- memutuskan membawa kembali nama Min Yoongi sebagai pewaris Min Grup."

"Astaga, jadi karena itu Hyorin memaksa menggugurkan kandunganmu. Heol. Ada-ada saja."

"Nah, sebenarnya dia tak perlu semarah itu,"timpal Seungkwan, "karena itu masih rencana Kakek Yoongi-hyung, belum keputusan resmi. Tapi omongan beliau tetap mutlak, meski sudah menurunkan tahtanya pada Ayah Yoongi-hyung. Jadi, Hyorin percaya kemungkinan besar itu akan terjadi. Dan jangan lupakan kerabat lain pendukung Taeyang, suami Hyorin, siap-siap saja Jimin-kita akan diserang habis-habisan. Aigoooo. Sudah kubilang kan, Jiminie! Seharusnya kau memilih Hobie-hyung kan! Kenapa kau bisa suka pada Pucat Jutek tak punya hati seperti Yoongi heoh, mana dia memiliki keluarga yang nyaris tokoh antagonis semua lagi!"

Jimin hanya membalas dengan senyuman simpul. Baginya, tak ada alasan untuk tidak memilih Yoongi sebagai pendamping hidupnya.

"Kok jadi lucu, ya,"komentar Jungkook tersenyum miring.

"Apanya?"heran Seungkwan.

"Ani,"Jungkook menyesap udara, berhenti sejenak dari kimchinya yang tak kunjung selesai sedari tadi, "maksudku yang memihak Taeyang. Awalnya mereka mengejek pernikahan Jimin, tapi karena tidak bisa memberikan keturunan, mereka jadi mendukung pernihakan Jimin, tapi tetep sering menggosip Jimin yang orang biasa, nah lalu sekarang ternyata Jimin hamil, mereka jadi panik sendiri kan."

"Well. Terserah mereka saja,"balas Seungkwan, "yang jelas, kalau mereka sudah kelewatan, lihat saja! Mau kaya atau apa! Aku akan menuntut mereka. Dasar."

"Buuu! Menuntut apanya,"ejek Jungkook, "kau itu cuman omong besar Seungkwana, berkoar-koar di depan kami eh eh eh, di depan yang lain malah bungkam."

"Ani! Kali ini aku serius lho!"

"Ne ne ne."

"Ya! Kukutuk kau tidak bisa memasak!"

"Mwo!?"

"Taetae-hyungmu akan selalu tersiksa dengan makanan cepat saji!"

"Ya! Hanya aku yang boleh memanggilnya 'Taetae-hyung'!"

"Taetae-hyuuuung~"

"Boo Seungkwan!"

Jimin mendengus lucu, melihat Seungkwan yang berlarian dikejar Jungkook. Dua sahabatnya itu memang selalu bisa memeriahkan suasana. Tepat ketika keduanya mulai saling menjambak dengan mesra, pukulan sayang mendarat di kepala masing-masing.

Seokjin yang baru datang geleng-geleng kepala, "astaga! Kalian seharusnya membantu Jimin kan!

.

Sehabis makan malam bersama, setelah melepas pergi semuanya -Namjoon, Seokjin, Taehyung, Jungkook, Hoseok dan Seungkwan- Yoongi bergerak menuju dapur, menuangkan sisa terakhir wine pada gelasnya dan air mineral pada gelas yang ia sodorkan untuk Jimin.

"Cheers,"senyumnya sembari menekan remote home theater.

Jimin balas tersenyum begitu alunan musik klasik mulai memenuhi apartemen mereka, "cheers."

Meneguk habis minuman masing-masing, keduanya kini mulai berdansa di ruang tengah. Dansa ringan, nyaris berkutat pada satu tempat saja dan saling memeluk dengan erat.

"Apa kita harus pindah ke luar negri hm?"tanya Yoongi yang memimpin dansa.

"Tidak usah ah, Hyung."

"Kau tahu keluargaku cukup keras kepala kan."

"Gwaenchana yo. Aku kuat kok."

"Well, aku sudah memberi peringatan ke semuanya."

"Apa Hyung berbicara baik-baik?"

"Hell, kau tahu mereka tak pantas-"

"Mereka tetap keluargamu kan, Hyung..."

"Haaah,"Yoongi menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Jimin, iringan langkahnya agak pelan kini, "kenapa Kakek bersikeras menjadikanku pewaris heoh."

Jimin mengelus lembut surai Yoongi, "beliau sangat menyayangimu, Hyung,"senyumnya, "kau adalah cucu laki-laki pertama. Sudah sewajarnya beliau sangat menginginkanmu untuk menjadi penerus-"

"Jimin."

"Hm?"

"Aku mencintaimu."

"Nado. Aku juga mencintaimu, Hyung."

"Em, kalian juga,"Yoongi melepas pelukan mereka, menatap datar perut buncit Jimin, "aku mencintai kalian..."

"Hyung,"dengus Jimin, "tak bisakah kau mengucapkannya dengan lebih tulus hm? Dan sudah berapa kali aku bilang, panggil dirimu 'Appa' jika berbicara dengan mereka."

"Nah,"Yoongi mendesah pelan, mencoba tersenyum, mengecup perut Jimin dan mengelus-elusnya, "semuanya, nomu nomu nomu sarang he. Appa benar-benar menyayangi kalian. Begitu?"

Kekehan manis keluar dari mulut Jimin. Kepadanya saja Yoongi tidak bisa bersikap lembut, apalagi pada yang lain. Raut Yoongi yang berusaha dibuat penuh sayang jadi terlihat lucu bagi Jimin, "oh! Ada yang menendang,"kikiknya kemudian.

"Jinjja?"

"Ne. Hihi."

"Waaah."

"Hyung~"

"Hm?"

Jimin melingkarkan sepasang lengannya di leher Yoongi, tanpa berkata apa-apa hanya dengan melenguh manja dan tertahan sudah membuat suaminya menyeringai senang lalu menggendong Jimin menuju kamar.

.

.

"Yoongi!"panggil Seokjin melongok dari jendela mobil. Cepat-cepat ia mematikan mesin dan bergegas keluar dari Ford Mustang GT-nya, "astaga. Maafkan aku. Maafkan aku,"ujarnya cemas setelah berjalan beriringan dengan Yoongi, "hari ini kebetulan sekali aku-"

"Bagaimana kabar terakhir dari manager restoranmu?"sergah Yoongi memburu langkahnya, menekan tombol lift dengan tenang namun sepatunya diketuk-ketuk tanda gusar.

"Em, kerabatmu masih di sana, belum ada yang berani mendekatinya."

"Shit."

.

Habis sudah kesabaran Yoongi. Dihadapkan pada Jimin yang terduduk lemas di lantai dapur dengan rambut dan pakaian basah karena siraman wine merah. Tubuh mungil itu gemetar dan terisak sedang wanita anggun di depannya masih lantang meneriakinya.

"YA!"teriak Yoongi penuh emosi, ingin rasanya ia meraih salah satu pisau di sana dan menusuk-nusuk wanita jalang yang berani menyakiti Jimin. Wajah Yoongi memerah karena amarah. Gemeretak giginya terdengar. Rahangnya mengeras. Namun ia memilih tak peduli dulu, bergegas membuka jasnya dan memakaikannya pada Jimin yang masih menekuk dalam menyembunyikan tangisannya.

"Wah, cepat sekali datangnya,"sindir Tae Hee, sepupu Yoongi, memainkan kuku-kuku mengkilatnya, "hmph ~ tak kusangka istrimu bisa berteman juga dengan pemilik restoran ini."

Yoongi menegakkan tubuh Jimin, merengkuhnya erat-erat dan menyerahkannya pada Seokjin. Ia lalu meraih asal salah satu wadah, mengambil air cucian piring dengan itu dan langsung menyiramnya ke arah Tae Hee. Baru saja Tae Hee menganga tak percaya, Yoongi mengambil sampah cair dan menyiram lagi tubuh Tae Hee.

Ekspresi Yoongi tenang, namun sorot matanya jelas-jelas penuh kemarahan, belum sempat Tae Hee melayangkan protes, Yoongi menarik kuat-kuat lengan kirinya, menyeretnya keluar dapur mendorongnya hingga tersungkur di hadapan para pengunjung.

"Ya! Kau tak tahu malu hha!"desis Tae Hee meringis memandangi cairan berbau busuk yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

"Terserah orang mau bilang apa tentang keluarga kita,"Yoongi mendengus lucu, menatapi satu persatu tamu yang mulai berkasak kusuk, "yang jelas mereka harus tahu, ternyata ada orang-orang bodoh yang lebih rendah daripada binatang penyandang marga Min,"ujarnya enteng lalu berjongkok, menusuk pandangan Tae Hee, "ya~ kalau kalian tetap seperti ini, aku jadi ingin merubah pikiranku kan. Apa aku harus menuruti semua permintaan Kakek heoh."

Hanya hembusan napas penuh kebencian yang keluar dari mulut Tae Hee.

.

Untuk kesekian kalinya Yoongi mengelus lembut pipi Jimin. Tatapannya sendu, mulutnya belum mau berucap sepatah katapun sejak ia menghampiri Jimin setelah mempermalukan Tae Hee -dan dirinya sendiri tentunya-, membantu Seokjin mengeringkan rambut dan baju Jimin, sampai ia menggendong Jimin ke mobilnya.

Ia memakaikan seltbet Jimin, lalu bergerak mencium bibir istrinya itu. Mengisapnya, melumat, mengulum dan berakhir dengan serangan rongga mulut yang cukup lama hingga menciptakan satu kiss mark di ceruk leher Jimin.

"Gwaenchana...?"tanya Yoongi hati-hati memeluk tubuh Jimin.

Jimin mengatur napasnya sebentar kemudian mengangguk kecil.

"Jiminie..."

"Em?"

Yoongi melepas pelukan mereka, dan kembali mengusap pipi Jimin penuh sayang, "Honey, selama kau di Seoul mereka tak akan berhenti mengancammu,"ia lalu menunduk dalam, merasa bersalah entah pada dirinya sendiri atau keluarganya, mengelus-elus jemari Jimin, Yoongi tersenyum lembut, "kau menolak didampingi bodyguard, kau juga bersikeras tak ingin membalas perlakuan mereka, kau selalu berkata kau baik-baik saja, tapi jantungku tak sanggup setiap dihadapkan pada dirimu yang diperlakukan seperti ini..."

"Aku tak ingin berpisah denganmu, Hyung..."

"Hanya untuk sementara, Jim."

"Aku tidak mau..."

"Jimin-"

Dering handphone Yoongi menyela mereka, "sebentar,"katanya cepat-cepat merogoh saku celananya. Ia terdiam sejenak menatap nomor masuk yang tertera, lalu menjawab panggilan dengan sedikit canggung.

"Ha, halo Eommoniem..."

"Eomma?"kaget Jimin.

"Halo, Nak Yoongi. Apa Ibu mengganggu, Nak?"

"Ani yo, Eommoniem..."

"Bagaimana kabarmu, Nak?"

"Ee, ee, ba, baik Eommoniem..."

Meski masih sedikit heran kenapa ibunya tiba-tiba menelpon Yoongi, Jimin tersenyum simpul, sampai sekarangpun Yoongi tetap gugup ketika berbicara pada ibunya. Jimin suka sekali dengan sisi Yoongi yang seperti itu.

"Syukurlah. Apa kau sedang di kantor, Nak?"

"Em, aku sedang di luar bersama Jimin, Eommoniem."

"Benarkah? Apa Jimin baik-baik saja, Nak? Telpon Ibu tidak diangkat."

Yoongi melirik Jimin.

Mengerti jika ia sedang ditanyai, Jimin langsung memegang bahu Yoongi dan tersenyum lembut.

"Jimin baik-baik saja, Eommoniem. Apa Eommoniem ingin bicara dengan Jimin?"

"Ne, terima kasih, Nak."

"Eomma!"

"Jiminie."

"Handphoneku, em. Sedang rusak, masuk ke air. Wae, Eomma?"aku Jimin alih-alih jujur jika handphonenya di banting oleh Tae Hee tadi.

"Ani, akhir-akhir Ibu merasakan firasat buruk. Apa kalian baik-baik saja?"

Jimin jadi sedikit merengut begitu mendengarnya, karena Jimin adalah seseorang yang selalu menceritakan masalahnya kepada ibunya. Tapi sejak ia menikah, ia jadi membatasi beberapa hal, tidak ingin ibunya khawatir dan tak ingin keluarga Yoongi terlihat buruk di mata ibunya.

"Gwaenchana yo, Eomma."

"Kandunganmu bagaimana, Nak?"

"Baik. Hehe. Baiiik sekali. Yoongi-hyung sangat menjagaku."

"Maaf ya, Jimin. Jika saja Appa-"

Ada helaan napas berat dari Ibu Jimin.

"Gwaenchana yo, Eomma."

Jadi Jimin langsung menyemangati.

"Tapi, sejak mendengarmu hamil... Appa jadi sedikit melunak."

"Eh? Jinjja?"

"Ne, kadang Appa menanyakan kabarmu, dan juga Yoongi."

"Astaga... Benarkah, Eomma?"

"Ne, akhir-akhir ini Ibu sedang membujuk Appamu. Sepertinya minggu depan dia sudah membolehkan Eomma untuk mengunjungimu."

"Jinjja, Eomma?"

"Ne..."

Jimin menatap lekat wajah Yoongi, tersenyum lebar dengan semangat.

"Kalau begitu, aku saja yang ke sana, Eomma."

"Eh?"

"Aku saja yang ke Busan."

"Yoongi bagaimana, Nak?"

"Yoongi-hyung pasti mengizinkanku. Justru dia sempat berpikir akan jauh lebih baik jika aku bersama Eomma ketika hamil begini."

"Baiklah, akan ibu bicarakan dengan Appa. Jiminie, berikan lagi pada Yoongi ya."

"Ne, Eomma."

.

.

.

.

Satu masalah selesai-

pertemuan keluarga besar yang diusulkan Yoongi membuatnya resmi menjadi pewaris. Posisinya yang sudah tidak bisa diganggu gugat menyurutkan kerabatnya untuk mengusik Jimin lebih jauh lagi. Peringatan keras Yoongi berikan secara terang-terangan.

-tapi masalah lama terungkit kembali.

Yoongi mendesah napas panjang, merilekskan diri dan mencoba untuk tersenyum tulus. Tubuhnya yang letih bekerja seharian, berjalan gontai menyusuri tumpukan barang yang berserakan di lantai. Kakinya seperti terseret, karena terhalangi benda-benda yang semestinya di tempat lain.

Mulai dari belasan pasang sepatu, tas, buku-buku tebal, bantal sampai beberapa wadah makanan. Hingga dokumen-dokumen milik Yoongi, juga puluhan baju mereka tentunya, semua sengaja disebarkan asal ke penjuru apartemen.

Karena Jimin punya hobi baru seminggu terakhir ini.

"Honey,"tegur Yoongi pada Jimin yang tengah santai menonton TV.

"Wae, Hyung?"jawab Jimin acuh sambil menguyah keripik pedasnya. Matanya tak berpaling sekalipun dari layar TV. Padahal biasanya ia menyambut Yoongi di pintu depan.

Yoongi duduk di ujung sofa, memijit-mijit kaki Jimin yang berbaring dengan nyamannya, "kasihan Nyonya Lee kan,"desahnya halus.

"Ani,"geleng Jimin cepat, "dia sendiri yang bilang tidak apa-apa kok."

"Ouh. Okaaay. Nah, seharian ini apa saja yang kau lalukan? Tumben kau sama sekali tidak menelpon atau mengirimiku pesan."

"Hanya di rumah. Aku sedang tak ingin keluar. Aku malas sekali, sampai-sampai menghubungi suami sendiri juga malas. Hahahaha."

Yoongi ikut tertawa, tapi ada ekspresi miris dari wajahnya. Hal lain yang membuatnya mengurut dada adalah sikap Jimin yang semakin acuh kepadanya. Well, jika Jimin sedang tidak hamil mungkin Yoongi akan kesal dan akan memulai pertengkaran lagi.

Tapi 'bawaan hamil' benar-benar sukses membuat Jimin merajai kesabaran Yoongi.

"Nah, aku mandi dulu. Apa kau sudah makan malam hm?"

"Yup. Oh!"sontak saja Jimin bangkit mengingat sesuatu, ia lalu memandang Yoongi dengan cengiran manja, "tadi aku lapar sekali, Hyung. Hehe. Jadi porsi makan malam Hyung sudah aku habiskan semuanya,"ujarnya dengan nada manis, "delivery saja sekarang!"semangatnya kemudian, "jadi setelah mandi Hyung sudah bisa langsung makan."

Aigoooo. Aigoooo.

Leher Yoongi serasa ditumpuk batu besar sekarang. Ia hanya menghela napas dan bergerak menuju kamarnya, "nah, aku sudah makan malam kok,"gumamnya asal, tiba-tiba saja kehilangan nafsu makannya.

"Kok Hyung sudah makan malam?"tapi Jimin cepat-cepat menyusul Yoongi, "di mana? Sama siapa? Bukannya seharusnya Hyung makan malam di rumah? Kenapa tidak memberitahuku? Kenapa tidak memberi tahu Nyonya Lee? Nyonya Lee tidak mengatakan apapun. Nyonya Lee tetap memasakkan porsi untuk Hyung. Jangan-jangan Hyung makan malam- mmmpph..."

"Nggh ~"

Yoongi bergegas membungkam mulut Jimin dengan bibirnya. Tak lupa dengan permainan nakal di leher serta remasan lembut di kedua bokong kenyal Jimin. Satu-satunya cara agar istrinya itu berhenti mengomeli sesuatu yang tidak penting.

Karena jujur, Yoongi sudah cukup bersabar dengan tak adanya sambutan pulang, keadaan apartemennya yang selalu berantakan dan soal makan malam barusan. Omelan Jimin yang ujung-ujungnya membuat Jimin sendiri yang mengambek dan marah hanya akan membuat kepalanya semakin berputar-putar.

Beberapa menit, setelah dirasa pikiran Jimin sudah teralih barulah Yoongi kembali bergerak untuk mandi. Tapi Jimin langsung memeluknya dari belakang, tak ingin ditinggal barang sedetikpun.

"Hyuuuung ~ "

Gelengan imut, Jimin poleskan pada punggung pekerja keras itu.

"Biarkan aku mandi dulu okay?"senyum Yoongi berbalik, mengusap kepala Jimin.

"Tidak mau ~ "rengek Jimin menggembungkan kedua pipinya.

Yoongi jadi tak bisa menolak. Kemudian menggendong Jimin yang terkekeh manis mengigiti pipinya, membawa tubuh mereka ke atas ranjang.

Baru saja Yoongi melonggarkan dasi, Jimin memberinya tatapan bingung.

"Wae?"heran Yoongi.

"Kok aku jadi tiba-tiba tak ingin melakukannya ya, Hyung?"

"Mwo?"

"Hyung mandi sana! Bau!"

HEOL!

Ada dengusan panjang sarat akan emosi yang tertahan dari hidung Yoongi. Ia memicing erat, mengepal kedua tangan kuat-kuat dan untuk beberapa detik mengontrol diri dengan mengingat perkataan dokter kandungan, nasehat-nasehat dari Eommanya, Seokjin, Namjoon, bahkan Jungkook serta foto USG dua janin bayi yang tumbuh sehat di perut Jimin.

"Hyung? Ooo, Hyuuuung ~ "panggil Jimin melambai-lambaikan tangannya pada Yoongi yang masih bergeming menindihnya.

Sabar adalah kata-kata yang cukup langka dalam hidup Yoongi. Tapi mengingat Jimin harus diperlakukan seperti ratu untuk saat ini, membuat pria bermulut tajam itu musti berlapang hati mau tak mau tunduk pada apa yang diucapkan istrinya.

"Hyung, mandi sana!"

"Ne, Jimin..."

"Ah! Ani, belikan aku bbibimbap dulu ya ~ "

"Eh?"

"Aku ingin makan bbibimbap. Sekarang. Belikan aku, Honey ~"

"Ne, Jimin,"angguk Yoongi menurut, tersenyum pahit penuh kemakluman, "ne, Jimin. Nah, apa malam ini aku harus tidur di sofa lagi hm?"tanyanya memastikan keinginan aneh Jimin lainnya, setidaknya sepulang dari membeli bbibimbap dirinya sudah siap disuruh macam-macam.

"Hmmm, aku inginnya-"

Jimin menepuk tangan sekali, menatap Yoongi antusias.

-aku inginnya Hyung tidur di lantai kamar!"

"Ne, Jimin. Ne..."

.

.

CUE

.

.

Gamsahamnidaaaaaa!

Annyeong ~

Hehe. Pasti Sequelnya ga sesuai ama yg diharapkan. Mian ~ Mian ~

Saya tiba-tiba kepengen nulis yang beginian soalnya haha. Ada yg ga ngerti? Ngertiin aja wkwkwkwkwkk ~

Nah, untuk yang tertarik sama kisah mereka semasa pacaran, silahkan dibaca lanjutan di bawah ini hihi

Once again gamsahamnida ^^

.

.

Yoongi memandangi langit-langit kamar. Entah kenapa matanya belum mengantuk. Sedang Jimin di atas sana sudah mendengkur halus, terlelap dalam tidurnya.

Mungkin, karena baru kali ini Yoongi terpaksa tidur di lantai kamar. Well, masih lebih baik dari pada tidur di sofa dengan pintu kamar yang Jimin kunci, sekarang hanya tinggal menunggu Jimin benar-benar terbuai dalam mimpinya, maka Yoongi akan diam-diam pindah ke tempat tidur.

Jadi kini Yoongi duduk, memastikan apakah istrinya sudah dalam mode 'tak akan terbangun' atau belum. Beberapa lama melakukan pengamatan, ia lalu bergerak hati-hati memegangi bantal, menaruh bantal itu di sisi paling pinggir ranjang dan mulai merebahkan diri bersiap untuk tidur.

"Ngh..."

Tapi terdengar lenguhan Jimin.

Shit.

Sontak saja Yoongi kembali ke posisi awal. Sepertinya sejak hamil, Jimin jadi lebih sensitif dalam tidurnya. Padahal biasanya meski sudah diciumi dan digigiti oleh Yoongi, Jimin tetap bertahan untuk melanjutkan mimpi.

Dengan berat hati, Yoongi mengurungkan niatnya. Memutuskan menerima saja dirinya tidur di lantai kamar setelah memandangi lama wajah Jimin, wajah manis yang semakin terlihat adorable dalam tidurnya. Wajah seseorang yang tak pernah berhenti mengaduk semua emosinya. Wajah yang tak pernah bosan ia nikmati. Wajah paling indah, wajah paling sempurna bagi Yoongi.

Pikiran Yoongi jadi melayang bagaimana rupa sepasang kembar yang ada dalam perut Jimin. Dia ingin anak-anak itu sama manisnya dengan sang ibu. Sama menggemaskannya dengan sang ibu. Jika tidak, entahlah, yang jelas Yoongi tetap menyayangi mereka.

Awalnya dia tidak terima dengan kehamilan Jimin. Jujur, Yoongi sangat membenci yang namanya bayi dan anak-anak. Dia paling tak suka makhluk berisik yang bisanya cuman menangis, dan makhluk egois yang selalu menyusahkan orang dewasa. Bukannya tidak suka lagi, tapi benar-benar benci dan tak ingin berada di dekat mereka. Yoongi sempat berpikir, bahwa ia mungkin tak akan menikah.

Tak disangka hatinya malah jatuh pada seorang pemuda manis bernama Jimin. Rasa cintanya yang teramat dalam seolah memberikan bonus dengan Jimin yang seorang namja yang mustahil memberikan keturunan. Karena itu Yoongi cepat-cepat melamar Jimin begitu ia pulang dari Amerika.

Tapi lihat, memang tak ada yang mustahil di dunia ini. Dua bulan lalu, hidup Yoongi serasa-

-entahlah, terguncang dengan dahsyatnya? Well, jauh lebih buruk dari itu. Yoongi sendiri tak tahu merasakan apa saking terkejutnya. Otak jeniusnya kehilangan kata-kata, dan sempat gusar setiap detik serta hilang akal dalam beberapa hari.

Namja manisnya hamil. Namja manisnya akan menghadirkan makhluk yang paling ia hindari.

"Haaah... 'Appa' hm?"Yoongi sudah bisa tersenyum simpul ketika kata Appa berkutat dalam kepalanya. Penolakan batinnya hanya bertahan selama seminggu sejak pemberitahuan dari Jimin, kebahagian Jimin adalah segala-galanya bagi Yoongi, bermula dari itu kemudian hati yang luluh karena diri yang semakin 'manusiawi' sejak mengenal Jimin jadilah sekarang Yoongi sangat bersyukur bisa memiliki buah hati dari pernikahannya dengan Jimin.

"Orang tua... "senyum Yoongi semakin lebar, "kami akan menjadi 'orang tua' hm?"dengusnya tiba-tiba merasa lucu, mengingat masa-masa pacarannya dulu, tak menyangka kesalahpahaman di kala itu berujung pada dirinya dan Jimin yang kini akan menjadi orang tua.

-tiga tahun yang lalu-

"Kau! Kau yang merebut pacar Seungkwan ya?!"

"Excume me?"dahi Yoongi sedikit berkerut memandangi seseorang yang melipat lengan di depan dada, berdiri angkuh di dekatnya.

"Heol!"desah si manis seolah mengejek tatapan heran Yoongi, "jangan pura-pura ya! Dasar! Berani sekali kau memainkan perasaan orang!"

"Ehm,"dehem Yoongi, ikut berdiri dengan masih menautkan alis, "apa aku mengenalmu heoh?"

"Memang tidak kenal! Aku ini Park Jimin. Sahabat Seungkwan yang sedang mengurung diri karena ulahmu!"

"Seungkwan?"

"Astaga... Yang namanya selingkuhan itu pasti tahu siapa yang dia selingkuhi kan! Jangan pura-pura tidak mengenal Seungkwan! Kau pasti memberi Seungcheol racun ya! Atau kau-"

"Waw. Waw. Waw,"sergah Yoongi mengangkat tangannya, "Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan Park-Ji-min-sshi."

Jimin hanya mendengus remeh sekali lagi. Tangannya lalu memilih meraih jus jeruk yang baru setengah diminum oleh Yoongi, lalu langsung menyiramnya pada pemuda yang ia pikir adalah Jihoon itu.

TAK

Gelas dihentak kesal ke atas meja, "yang kau permainkan itu perasaan orang! Bukan boneka!"tandas Jimin berlalu pergi lalu sontak saja terdiam melihat di kejauhan sana ada Seungchol yang baru memasuki kantin bersama seorang- "eh?"

Jimin tercekat. Wajahnya tegang mendapati Jihoon yang asli ternyata ada di sana. Jadi yang yang ia marahi barusan-

ASTAGA! Seketika Jimin menenggak ludah susah payah. Dengan gamang tubuhnya memutar ke belakang. Ada Yoongi yang semula bergeming saking kagetnya, kini mendengus kesal menatapnya tajam, memperlihatkan aura kemarahan yang luar biasa.

"BRENGSEK KAU!?"

Lantang Yoongi menggema ke penjuru kantin kampus, memburu langkah mendekati Jimin yang sudah bersujud meminta ampun. Jimin yang sudah berkeringat dingin. Jimin yang sudah merasa berurusan dengan orang yang salah.

"Fuck!"umpat Yoongi meraih kasar kerah baju Jimin, "kau mau mati hha!"

.

Tangan Jimin tak berhenti gemetar. Sosok yang sedang berada di kamar mandi itu berhasil menghujam pertahanan mentalnya. Bahkan guru SMAnya yang dikenal paling sadis tak pernah membuat Jimin ketakutan seperti ini.

Sorot mata penuh amarahnya benar-benar menusuk padangan Jimin, seolah umpatan kasarnya yang mengarah pada 'kematian' benar adanya, seolah ia akan membunuh Jimin dengan mudahnya.

"Babo..."desis Jimin, untuk kesekian kali memukul kepalanya.

"Apa kau teman kampus Yoongi?"

Jimin mendongak, mematai seorang wanita cantik yang kalau tidak salah dipanggil 'okama brengsek' oleh Yoongi tadi.

"Aku belum pernah melihatmu? Namamu siapa?"

"Em, ee... Jimin, Park Jimin imnida. Annyeong haseo..."

"Aku Hasegawa Keiko, panggil Keiko saja ya,"senyum Keiko memberi satu stel pakaian baru kepada Jimin, "nah, ini baju ganti Yoongi ya. Aku ke depan dulu."

"Em. Ne... Gamsahamnida."

.

Meninggalkan butik kenalan Yoongi, kini mereka berjalan menuju parkiran kampus yang tak begitu jauh dari sana.

"Masuk,"perintah Yoongi pada Jimin yang sedari tadi masih betah menunduk dalam.

Keduanya kini duduk bersebelahan di dalam mobil sport Yoongi.

"Apa aku harus benar-benar membunuhmu heoh."

Seketika jantung Jimin seolah berhenti untuk bekerja. Dia jadi semakin yakin bahwa masa mudanya akan segera berakhir dengan konyolnya. Mendengar Yoongi yang mengumpat dengan sangat kasar, melihat wajah Yoongi yang benar-benar menyeramkan, merasa intimidasi Yoongi yang-

-ugh, Jimin jadi berpikir, apa benar makhluk di sampingnya ini seorang manusia? Bukannya iblis?

Takut. Takut. Takut. Takut.

Jimin ketakutan. Ditambah akhirnya ia sadar- teman yang merupakan pemilik butik mewah, pakaian yang masih bisa dicuci dibuang begitu saja, mobil sport yang jelas-jelas jauh lebih mahal dari rumah mungil Jimin- bahwa Yoongi bukan orang biasa. Jangan-jangan Jimin akan dipenjarakan atau didenda dengan jumlah uang yang akan membuat Eommanya menangis.

"Kau anak mana heoh?"

"Eh? Em... aku, aku bukan dari sini, aku dari University of Arts..."

"Heol! Jauh-jauh datang ke sini, lalu salah mengenal orang. Kau itu punya otak atau tidak."

Ingin rasanya Jimin berteriak 'mwo' sekerasnya-kerasnya, tapi mengingat memang dia yang salah, "jeo, jeosonghamnida..."jadi ia hanya berujar pelan tak melawan.

"Kau mengganggu makan siangku."

"Jeosonghamnida!"

"Kau menuduhku yang bukan-bukan."

"Jeosonghamnidaaa!"

"Kau meneriakiku."

"Jeosonghamnidaaaa..."

"Kau. Menyiramku. Dengan. Minuman."

"Jeo-"

"Kau mempermalukanku di depan semua orang!"

Jimin menyudut hingga mengenai daun pintu mobil. Matanya terpicing erat. Hatinya berteriak memanggil ibunya ratusan kali.

"Ya!"Yoongi meraih kasar kerah Jimin, mendekatkan wajah mereka hingga berjarak sejengkal saja, "lihat mataku brengsek!"

Gemetaran, Jimin berusaha agar bisa beradu pandangan.

HIIIIII!?

Jimin bukanlah pemuda culun yang penakut. Buktinya dia berani saja memarahi sosok yang ia pikir 'Jihoon' di tempat ramai. Tapi Yoongi berhasil menciutkannya, terlepas bahwa Jimin memang tak boleh sembarangan melawan orang kaya raya.

"Kau mahasiswa tahun berapa?"nada bicara Yoongi melunak, setelah memperhatikan baik-baik setiap sudut wajah Jimin dan menelusuri sorot mata pemuda manis itu.

"Ta, ta, tahun kedua..."

"Panggil aku Hyung kalau begitu."

"Ne, Hyung..."

Yoongi semakin memangkas jarak wajah mereka. Dia sendiri tidak mengerti, tapi yang jelas ekspresi polos yang ketakutan itu cukup membuat batinnya tergelitik. Jadi ia kini mendekatkan bibir tipisnya ke telinga Jimin, bersiap untuk berbisik.

"Apa kau pernah melakukannya dengan namja hm?"dengan suara beratnya yang seolah-olah menggoda Jimin.

"Eh?"

Tarikan kerah di lepas, diganti dengan gerakan tubuh Yoongi yang menyudutkan Jimin ke pintu mobil.

"Hy, hyung mau apa?"getar Jimin.

"Huh. Bahkan sepertinya kau belum pernah melakukannya dengan seorang wanita ya."

"Ka- kau mau apa!?"

"Seperti yang kau lihat,"Yoongi menahan kuat-kuat kedua tangan Jimin yang memberontak, "aku tak butuh uang, jadi kau bisa apa selain menyerahkan tubuhmu-"

DUAK

"AW! SAEGGYA!"

Jimin mengadu kening mereka sekuat tenaga. Terserah dia akan dituntut seperti apa, tapi yang jelas pemuda pucat di depannya ini jelas-jelas sudah gila, hanya karena kejadian tadi mustahil Jimin menebusnya dengan tubuhnya kan.

"YA! DASAR KELEBIHAN HORMON!? KAU PIKIR-"

"AKU BERCANDA BODOH!"

"Eh?"

"Astaga... Fuck!"ringis Yoongi masih merasakan sakit di keningnya. Menyipit pada kaca spion memperhatikan apakah ada darah yang mengalir dari sana, "kepalamu itu batu ya! Aish! Jinjja! Ugh, sakit sekali..."

"Ha, habis... Kau..."

"Aku bercanda, Brengsek. Heol! Masih mending ditemani wanita culun dari pada menyentuh seorang namja. Astaga. Apa aku harus ke rumah sakit hha! Ya! Kau ini- Hei, kau tidak apa-apa? Woi!"

Pening mulai menggerogoti kesadaran Jimin. Kepalanya terhuyung. Matanya sayu. Dan akhirnya pingsan.

"Well done!"umpat Yoongi, "apalagi sekarang!?"

.

.

"Astaga! Kepalamu kenapa Jimin?"

Taehyung langsung memegang eart kedua bahu Jimin dan menatap khawatir pada balutan perban di kepala sahabatnya itu.

Jimin yang baru datang hanya mendesah napas panjang. Melepaskan diri dari Taehyung dan bergerak merebahkan diri di sofa setelah menaruh asal ransel hitamnya.

"Apa ini balasanku karena tidak sengaja menghilangkan dompetmu hm..."keluh Jimin sarat keputus asaan.

Taehyung mengernyit, "Dompetku? Aish! Sudah kubilang tidak apa-apa kan! Kau kenapa? Apa kepalamu baik-baik saja?"

"Kepalaku baik-baik saja..."jawab Jimin lesu.

"Ada apa sebenarnya hm?"

"Tae,"Jimin menatap malas pada Taehyung, "aku janji, aku tak akan mencampuri percintaan orang lain lagi,"tandasnya lalu memilih tidur, pikiran dan fisiknya benar-benar letih sekarang.

"Well... Aku tunggu ceritamu besok pagi ya."

.

.

"Keningmu sudah tidak apa-apa heoh."

Yoongi melongokkan kepalanya keluar dari jendela mobil, setelah mengklakson Jimin yang barusan keluar dari kos-kosannya.

Jimin terdiam sebentar. Lalu cepat-cepat berpaling dan memburu langkah menjauhi mobil Yoongi.

Yoongi mengidikkan kedua bahu, melajukan mobil pelan-pelan sembari tetap sesekali mengklakson Jimin, "hei! Apa kau jadi lupa ingatan heoh!"

Jimin masih tak ingin menjawab. Bahkan ia setengah berlari kini.

"Ya!"panggil Yoongi tak menyerah, membunyikan klakson mobil semakin nyaring dan semakin panjang, tak berhenti sampai Jimin mau menoleh untuknya.

"Aish!"geram Jimin, mendapati dirinya yang sudah mulai jadi pusat perhatian, mau tak mau akhirnya bergerak mendekati mobil Yoongi, "kau mau apa lagi hha? Aku tahu kemarin aku benar-benar salah. Dan merepotkanmu karena harus membawaku ke rumah sakit. Traktiran makan siangku memang tak seberapa. Tapi, bukannya setelah mengantarku pulang kau bilang sudah tidak marah lagi. Berarti urusan kita sudah selesai kan."

"Hei, sudah kubilang 'Hyung' kan. Heol. Tahu begini, lebih baik aku membuangmu ke laut saat kau pingsan. Dasar. Sopan santunmu mana hm."

Jimin mendengus mencoba bersabar. Mulutmu sendiri kasar kan. Dan bagaimana dengan candaan anehmu hha! Mana memaksa meminta nomorku lagi! Ugh! Seharusnya aku tidak membiarkan dia mengantarku pulang, dia jadi tahu di mana aku tinggal.

"Hyung ada urusan apa lagi denganku?"Jimin bertanya dengan nada yang sopan sekarang.

"Nah, begitu kan enak didengar,"senyum Yoongi, "kau tidak mengangkat telponku. Jangan-jangan kau juga tidak membaca pesanku."

"Eh?"heran Jimin, "oh.."kemudian langsung teringat dengan email asing yang masuk tadi pagi 'aku akan mengantarmu ke kampus' begitu isinya, yang membuat Jimin heran entah sejak kapan dia punya kenalan yang mau mengantarnya ke kampus yang hanya berjarak dua blok dari kos-kosannya, "em, itu Hyung ya..."

"Masuklah."

"Kampusku dekat kok, Hyung. Cukup berjalan kaki saja."

"Masuklah."

Jujur, Jimin tak ingin lagi berurusan dengan Min Yoongi. Ia merasa dunia Min Yoongi jauh berbeda dengan hidupnya. Dirinya tak akan bisa berteman dengan seorang Min Yoongi.

Tapi, dipikir-pikir lagi, kemarin Yoongi memang berkata kasar dan menggertaknya, namun kekasarannya tak sampai menyakiti fisik, malah Jimin yang membuat kepala mereka sama-sama benjol. Lalu Yoongi juga repot-repot mengurus semua hal di rumah sakit dan mengantarnya dengan alasan khawatir karena bisa saja Jimin pingsan lagi entah di mana.

"Okeh, baiklah,"setuju Jimin bergerak memasuki mobil Yoongi.

.

.

TBC

.

.

Gamsahamnidaaaaaaaa

Sebenarnya saya mau bikin ini selesai dalam satu chapter, tapi kayanya ntar kepanjangan deh. Di bikin 2 part aja ya... Saya juga penasaran, mau cepat-cepat tahu dulu gmn pendapat pembaca ama sequel falling in love with you ini hehe bagus ga kalo emang dilanjutin lagi, begitu...

Yang kemaren itu juga sebenarnya panjang dan byk momen yang ga jadi saya tulis... Singkat bgt kan ya kalo dilihat dari ceritanya. Hehe. Tambahan, sountrack ff yang kemaren itu Rain-BTS lho hehe.

Once again, gamsahamnidaaaaa

Review juseyoooo

Balasan review ^^

yongchan: Ne. Syukurlah... Konsep OneShot YoonMin ini emang happy ending semua kok hehe. Ceritanya ringan, dan ga bakal terlalu nguras emosi fufu (Gomawo ^^)

Jungeunyoon: Kasian kalo mati beneran, lagi pula kalo dia mati berarti dia ga cinta ama Jimin jiah. Haha. Ne, saya punya akun wattpad hihi (Gomawo ^^)

JiminVivi: Haha. Gomawo ^^

rrriiieee: Ga kok. Ga angst. FF ini ringan semua kok hehe. Semangat! (Gomawo ^^)

intansone: Alurnya emang lompat lompat yah, karena oneshot jadinya aku tulis inti-intinya aja hehe. Sekrang hasrat YoonMin saya emang masih menurun sih, KookMin itu lho! KookMin itu kok makin menguat ya haha. Sampai ke hati hehe Gamsahamnida ^^

ChiminChim: Sequel ya? Hmhmhm, maunya momen pas mereka masih pdkt atau pas mereka udah sama-sama di Korea? Iya, karena dia jatuh cinta ama Jimin, dia punya hasrat untuk hidup, makanya dia atur segala sesuatunya dan ganti identitas jadi Min Yoongi, biar mereka sama-sama bahagia. Awalnya peran pada Hobie itu si Jimin yang kutu buku, kan pertamanya Yoonseok kkkkk trus pas saya ganti Jimin, entah napa kutu buku saya ganti aja jadi bencong kkkkk Udah ada lho ide buat YoonSeok kkkk lebih tepatnya YoonMin vs YoonSeok siiiiii ditunggu ya jiah! (Gomawo ^^)

Jinjin22: Ne, saya ngebayanginnya Suga disini, tipikal yang ga byk omong yg rasa cintanya ga main-main lho jiah! (Gomawo ^^)

bulatbulatmanis: Kasian kalo Suganya mati kan ya. (Gomawo ^^)

irmagination: Ne! Ganto pribadi suka bgt lho sama nama 'Minamoto Suga' karena marganya Min, jadi kebayang Minami atau Minamoto kalo versi jepangnya kkkkk Ne, dia masih kepengen hidup, masih kepengen ngebahagiain Jimin jiah! Hahaha Paman Jeon! Bayangin ajalah Irmasshi ~ YoonSeok mulai dilirik ama Ganto soalnya kkkkk (Arigatou ^^)

itsathenazi: Sequel ya? Hmhmhm, maunya momen pas mereka masih pdkt atau pas mereka udah sama-sama di Korea? (Gomawo ^^)

avis alfi: Jinjja? Dont cry ~ OneShot YoonMin AU! ini konsepnya ringan soalnya, ga terlalu nguras emosi, tapi kalau anda sedih... Aduh! Saya jd malu, kayanya emosional bgt ff yg udah saya tulis hehe gomawo. Ga lemot ah, sayanya juga bikin alur agak lompat-lompat, cuman nulisin yg inti-intinya aja. (Gomawo ^^)

sugasugababy: Saya pribadi suka bgt ama peran Suga. Di antara semua peran sejauh enam chapter ini, ini lho yg paling saya suka hehe Kalo Hobie... Sesekali dia kedapatan kaya begono ga papa kan ya hahaha (Gomawo ^^)

Nikmah444: Suga ga jd mati, dia milih untuk tetap hidup karena cinta ama Jimin. Dia ke korea dan ganti identitas biar bisa mulai hidup baru di sana bareng Jimin. Semangat. (Gomawo ^^)

kumiko Ve: NamSeok? Hmhmhmhmhmhmhm leh ugha hahaha. Bener sih, Hobie lucu gitu kalo ama Namjoon. Dia akhirnya punya semngat untuk hidup dan hasrat itu bikin dia bertahan ama luka dari Taehyung, berobat dan sembuh. Trus pergi ke korea ngurus ini itunya dan well, begitulah memulai hidup baru bareng Jimin (Gomawo ^^)