Annyeong Haseo #deepbow

Maaf, khusus chapter ini Rated M ya...

Selamat Membaca ^^

.

.

"Aku bercanda, Brengsek. Heol! Masih lebih baik ditemani wanita culun dari pada menyentuh seorang namja. Astaga..."

Begitu pengakuan spontan Yoongi seminggu yang lalu.

Benar, baru seminggu yang lalu. Tapi sekarang batas normal seolah menampar keras logika dan perasaannya, jadi kata-kata itu sepertinya tak bisa lagi ia benarkan.

Senyuman itu ia perhatikan baik-baik. Semakin lama mata Yoongi semakin menyipit menelusuri.

Keindahan seharusnya sesuatu yang dinikmati. Namun sorot mata Yoongi penuh selidik memandangi sosok manis di kejauhan sana.

"Dia namja, Min Yoongi. Dia namja."

Berulang kali pemuda Daegu itu bergumam untuk dirinya sendiri.

"Dia namja. Dia namja! Astaga! Dadanya rata dan ada jakun di lehernya, Min Yoongi!"

Gerutunya kesal karena tak dapat ia pungkiri senyuman itu kian menyeret perhatiannya. Mulai ia nikmati entah mengapa. Secara ajaib memberi nyaman pada hatinya.

Membentur-benturkan kening pada badan stir, Yoongi tetap sibuk dengan perang batin belum berujung-nya. Jadi sosok jauh yang semula ia perhatikan itu, tak dia ketahui tengah mendekat ke arah mobilnya.

Tuk tuk

Fuck! Fuck! Namja! Dia Namja!

Tuk tuk

Min Yoongiiiiiii Min Yoongiiiii kau bahkan tak pernah benar-benar takhluk dengan wanita manapun kan.

Jimin memiringkan kepalanya sedikit, kemudian mendekatkan wajahnya ke kaca jendela untuk memastikan apa pemilik mobil itu benar berada di dalam.

Tidur? Batin Jimin. Mendapati Yoongi menumpukan kening pada badan stir. Membuatnya terdiam sebentar dan tak tahu harus bagaimana. Apa dia harus membangunkan Yoongi. Apa dia tunggu saja Yoongi bangun sendiri.

Tapi bukannya Yoongi sendiri yang ingin menjemput Jimin.

Tuk tuk

Jadi Jimin kembali mengetuk kaca jendela tapi kini pada pintu pengemudi.

Dengan niat sedikit iseng. Menempelkan wajah lekat-lekat pada permukaan kaca, memasang wajah sejelek mungkin.

Tapi Yoongi yang akhirnya sadar dari lamunan dan langsung menoleh ke arah jendela-

"WHAT THE F- Heol!"malah terkejut bukan main. Namun seketika mendengus lucu tersenyum simpul.

Kunci pintu mobil Yoongi buka. Bunyinya terdengar hingga Jimin mengerti untuk segera bergerak memasuki mobil.

"Jahil juga ya,"desah Yoongi.

"Hehe ~"kekeh Jimin senang karena berhasil mengejutkan Yoongi.

Kekehan yang seolah menciptakan hujaman anak panah pada dada Yoongi. Anak panah bermata bentuk love menyayat hati.

.

.

Falling in Love with You (again) Sequel Part. 2

.

.

"Omo! Astaga! Jimin! Jimin!"Seungkwan berbisik histeris mengguncang-guncang bahu Jimin.

"Waeeee?"balas Jimin bernada malas karena Seungkwan kini menganggu pemanasannya. Tubuhnya dengan kaki berselonjor sedang sibuk untuk bisa dibungkukkan lebih dalam lagi guna melenturkan seluruh otot-otot yang ada agar bergerak lebih prima untuk nantinya.

"Lihat siapa yang datang!"

Tepukan keras dari Seungkwan membuat Jimin mau tak mau mendongak ke arah tunjukan sahabatnya itu, ke arah kerumunan penonton yang sedang menunggu pertunjukkan mereka untuk dimulai, "Yoongi-hyung?"herannya.

"Aish! Kau bilang dia tak akan datang kan,"Seungkwan menowel-nowel pipi chubby Jimin, "berlagak diacuhkan heoh! Padahal si dia perhatian ~ jieeeee~"sungutnya sok-sok mengejek.

"Ani,"Jimin menepis tangan Seungkwan seraya matanya tak berhenti berkedip mematai pemuda berjaket denim berkaca mata hitam itu, "dia bilang memang tidak bisa datang sih."

"Kejutan berarti."

"Ou..."angguk Jimin pelan lalu bersegera bangkit, "sebentar ya."

"Yup. Kirim salam yaaaaaa."

"Ish!"

"Hahaha."

.

Jimin bergerak pelan mendekati sosok Yoongi dengan hati-hati. Menyembunyikan aura keberadaannya, lalu berdiri tepat di samping pemuda yang sedari tadi sibuk dengan handphonenya itu, "Hyung bilang tak bisa datang,"bisiknya tiba-tiba.

Yoongi agak tersentak, cepat-cepat menoleh lalu langsung tersenyum tampan membuka kacamata hitamnya, "well, kejutan."

"Oooo. Lumayan berkesan,"senyum Jimin seolah tak tulus, "seharusnya Hyung muncul tepat di saat pertunjukan akan dimulai kan. Itu baru namanya kejutan."

"Aku tak ingin konsentrasimu yang sudah berdiri di atas panggung buyar ketika tiba-tiba menangkap kehadiranku di tengah-tengah penonton."

"Percaya diri sekali~ "

"Sejak kau bersedia untuk aku antar jemput ke kampus, aku cukup percaya diri-"

Yoongi mendekatkan mulutnya ke telinga Jimin. Sengaja memberi jeda untuk sekedar menggoda Jimin dengan hembusan napas beratnya.

-bisa membuatmu gila karena memikirkanku."

Jimin langsung menyikut keras rusuk Yoongi, pria pucat itu meringis dan mendengus kesal.

"Ya! Sakit tahu!"

"Berhenti menggodaku! Leluconmu itu . . Min Yoongisshi."

"Aku serius."

"Iya, iya terserah."

"Aku serius lho. Kau sendiri sah-sah saja menerima ajakan makan siangku, menjawab telponku, membalas pesanku kan. Dan makan malam Sabtu depan, kau menyetujuinya kan."

Jimin menarik bibir, menatap Yoongi dengan pandangan menyipit, "bagaimana kalau aku bilang kalau Seungkwan menyukaimu dan karena itu aku menerima dengan baik 'pendekatanmu' itu?"

"Mwo!?"

Yoongi mengernyit tak suka, tak terima. Sedang Jimin seolah melempar tatapan kemenangan.

Selang beberapa detik menikmati wajah Yoongi yang terlihat kebingungan bercampur tidak percaya, Jimin akhirnya tertawa cukup keras. Membuahkan ekspresi dongkol dari Yoongi.

"Aku bercanda kok, Hyung,"senyum Jimin.

"Hell."

"Haha. Nah, aku pergi dulu ya, kau akan terpana dengan tarianku, Hyung."

"Dasar."

.

Benar sekali. Kedipan mata Yoongi bisa dihitung jari sejak musik pengiring dimainkan hingga salam terakhir dari seluruh anggota salah satu grup dancer Universitas of Art.

Pandangannya dibius oleh performa seorang Park Jimin.

Beberapa kali senyuman bangga tercipta di bibir Yoongi, selebihnya mengerut samar mendapati beberapa penonton yang histeris meneriaki nama Jimin.

Meski belum menjadi grup resmi dan hanya sesekali perform di tengah khalayak umum, sepertinya grup dance Jimin sudah mempunyai cukup banyak fans.

Nanti dia akan protes pada Jimin, agar liukan dance-nya tak lagi mengundang histeris.

Ya, nanti. Disaat dia sudah cukup memiliki hak untuk mengatur Jimin. Disaat dia memiliki Jimin.

Perlu diketahui, Yoongi sudah memutuskan untuk merebut hati Jimin.

Yoongi tidak suka orang yang bertele-tele. Tidak suka pada orang-orang yang mempunyai pemikiran berputar-putar dan tidak bisa memutuskan dengan pasti.

Berarti dia tidak boleh berlama-lama terjebak dalam keruwetan konyol yang mempertanyakan perasaannya sendiri.

.

"Jadi?"

Seungkwan sudah selesai membereskan barang-barangnya.

"Apa?"

Dan Jimin tinggal mengganti sepatunya.

Seungkwan membuang napas, "jadi kau ikut minum-minum dengan kami apa tidak?"desahnya kecewa karena Jimin tak mengerti akan maksudnya.

"Oh!"sadar Jimin, "emmmmm."

"Atau kau ajak saja Yoongi-hyungmu itu bergabung bersama kita."

"Boleh juga sih,"Jimin mengangguk-angguk mengiyakan, "tapi dia tidak suka ramai. Sudah kubilang dia hanya memiliki sedikit teman kan,"tolaknya kemudian, memandangi semua teman kampusnya yang sudah selesai berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pulang, orang-orang heboh yang tak berhenti melempar candaan, "well, kurasa Yoongi-hyung belum bisa membaur dengan kita."

"Okelah. Kencan sana! Seungyoon juga tidak bisa ikut karena pacarnya."

"Yoongi-hyung bukan pacarku."

"Calon."

"Ish, apaan sih!"

"Hei ~ Mengaku saja ~ Siapa kemarin-kemarin yang tak berhenti tersenyum-"

"Yoongi-hyung,"sela Jimin tersenyum getir menghela napas panjang, "aku yakin dia lurus, Seungkwan-a."

"Heol. Zaman sekarang cinta sudah tak pandang bulu lagi, Jiminie. Apa kau tidak mengerti dengan semua yang sudah dia lakukan?"

"Nah, mungkin dia memang nyaman bersamaku, sebatas teman tentunya."

"Sudah kuliah, tapi tetap saja berpikir seperti bocah,"desah Seungkwan menatap miris sahabatnya, "ck ck ck masa mudamu sia-sia sekali, Jiminie..."

"Hha! Apa maksudmu heoh!"

"Semuanyaaaa! Si Park Jimin ini masih bocah lhooo!"

"Ya! Boo Seungkwan!"

.

Setelah Jimin benar-benar duduk di sampingnya, Yoongi memasangkan seltbet untuk pemuda manis itu. Dan untuk dirinya sendiri lalu mulai melajukan mobil meninggalkan taman kota yang tadi dijadikan panggung oleh Jimin dan grup dancer-nya.

Jimin termangu sejenak. Dipikir-pikir, setelah pertemuan pertama mereka, setiap kali dia menaiki mobil Yoongi tak pernah sekalipun tangannya mendahului Yoongi untuk memakaikan seltbet. Hal kecil, tapi mengingat pembicaraannya tadi dengan Seungkwan, Jimin jadi tersadar bahwa hal ini kecil ini-

Ani, ani! Mustahil mustahil batin Jimin.

Tapi-

"Apa kau selalu memakaikan seltbet untuk temanmu, Hyung?"tanya Jimin membuka pembicaraan.

"Hha?"heran Yoongi karena Jimin tiba-tiba menyinggung hal seperti ini.

"Apa kau selalu memakaikan seltbet untuk temanmu?"ulang Jimin, serius.

"Heol. Mana mungkin. Ugh, mana mungkin aku memakaikan seltbet untuk Namjoon- astaga, apalagi untuk Keiko."

"Oou..."

"Wae? Sudah kubilang aku serius kan."

"Eh?"

Yoongi menghela napas. Bergeming sebentar dan baru membalas keheranan Jimin setelah mobilnya terparkir rapi di parkiran sebuah butik mewah. Tempat ia akan membelikan Jimin satu stel pakaian untuk pertemuan mereka Sabtu depan.

"Aku serius mendekatimu, Jimin. Aku serius menggodamu selama ini,"sambung Yoongi, menatap lekat kedua mata Jimin, "well, aku ingin menembakmu di restoran mewah yang sudah kubooking Sabtu depan. Tapi, yah, sebenarnya lebih cepat lebih baik sih. Apa kau ingin menjadi kekasihku, Jimin?"

Jimin terdiam. Dan di kepalanya seolah-olah ada seekor gagak berkicau numpang lewat.

Yoongi mendengus lucu dibuatnya. Dan mengulangi pertanyaannya, "apa kau ingin menjadi kekasihku, Park Jimin?"

"Eh?"

"Ne, apa kau ingin menjadi kekasihku?"

Butuh hitungan mundur dipikiran Jimin layaknya bom yang akan meledak.

Tiga.

Dua.

Satu.

"EEEEHHHHHH!?"

Sukses mendengungkan telinga Yoongi. Pria itu lalu sedikit mengernyit, "wae? Kau tidak perlu sekaget itu kan. Kupikir karena memiliki teman seperti Seungkwan, kau sudah biasa dengan hubungan sejenis."

Jimin melongo dengan bodohnya.

"Dan seharusnya kau sudah mengeti kan dengan maksudku selama ini."

"A- a, ani... itu... jadi..."

"Hm?"

"Itu- itu- ee, ani... Hyung-"

Banyak kata yang berdesakan di kerongkongan Jimin. Tak tahu kata mana yang harus dikeluarkan lebih dulu, pikirannya yang blank kini membuat bibirnya hanya bisa bergerak-gerak tanpa suara dengan kedua tangan yang salah tingkah. Mulut yang kelu itu semakin lengkap dengan kedua mata Jimin yang tak berhenti mengerjap cepat untuk menunjukkan ekspresi kebingungan yang luar biasa. Ekspresi yang kemudian sangat terkejut ketika dagunya diraih, ketika bibirnya dicium oleh Yoongi.

EEEEEEEEHHHHHHH?! jerit Jimin didalam hati. Kedua matanya melotot tak percaya. Dan Jimin tak melawan, bukan karena ia menerima begitu saja ciuman dari Yoongi. Tapi karena terlalu shock dan tak tahu harus berbuat apa, jadi dia membeku dan membiarkan Yoongi yang kini mulai melumat ranum tebalnya.

Ekspresi Jimin sangat menggemaskan. Yoongi jadi tak tahan untuk tidak menyerangnya. Dan Yoongi yakin speechless-nya Jimin bukan berarti pemuda manis memiliki jawaban tidak untuk pertanyaannya. Jimin hanya belum mengerti, jadilah ia tak perlu membuang waktu untuk segera menunjukkan bahwa ia serius menginginkan Jimin menjadi kekasihnya.

Respon Jimin yang terlalu lambat -sangat, sangat lambat sekali- karena otaknya belum mampu mencerna situasi dengan baik, malah membuat Yoongi semakin bersemangat untuk mencium bibirnya. Tangan yang memegangi wajah Jimin bergerak turun merangkul pinggang ramping itu, menempelkan perut mereka berdua. Giginya mengggigit gemas bibir merah Jimin, memberi akses agar lidahnya dapat bermain dalam rongga mulut si pemuda manis.

Barulah ketika daging kenyal itu berhasil dengan tujuannya, Jimin tanpa sadar menutup erat kedua matanya seraya mengalungi leher Yoongi. Mulutnya yang tadi hanya bergerak pasif, kini mencoba mengimbangi lumatan Yoongi.

Merasa lawannya semakin menikmati, penguasa perang antar lidah itu memperdalam ciuman mereka dengan mendorong tubuh si manis hingga terdesak ke pintu mobil.

"Nngh..."

Cengkraman kuat di pundak Yoongi menandakan Jimin mulai kewalahan mengimbangi. Berat hati melepas tautan lidah, Yoongi yang juga terengah-engah seperti Jimin memilih melanjutkan gairahnya dengan kepala yang bergerak ke ceruk leher Jimin.

Satu jilatan.

Tuk tuk

Terdengar ketukan dari luar.

Satu hisapan.

TUK TUK

Ketukan yang semakin ingin mengganggu mereka.

Satu desahan, "Hy! Hyung- nnngh, Hyung! Ada orang- ngh~"

TUK TUK TUK TUK TUK TUK

Satu bercak kemerahan tercipta indah.

DUAK DUAK DUAK DUAK DUAK DUAK

Hell!

Gerakan Yoongi terhenti, "son of bitch,"desahnya kesal menahan amarah. Dengan jengkel akhirnya ia mau melihat ke arah sosok yang tak berhenti memukul jendela mobilnya itu.

Yoongi bergegas keluar mobil. Sedang Jimin cepat-cepat memperbaiki rambut dan kemejanya lalu duduk tegap mengatur deru napas dan detak jantung yang memburu cepat.

"Ada apa hha!?"kesal Yoongi membanting pintu mobil.

"Aish! Aku yang seharusnya marah! Kau tahu di mana kau sekarang hha!"Keiko menatap tajam kedua mata Yoongi, ia lalu bergerak memutari mobil, "bilangnya akan menjemput Jimin, lalu tidak keluar-keluar dari mobil sejak tadi, kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan itu di parkiran butikku hha! Dasar kelebihan hormon,"gerutunya kesal menatap sengit sahabat masa kecilnya itu kemudian langsung tersenyum setelah membuka pintu mobil.

"Annyeong, Chimchim ~"

"A, annyeong haseo, Keikosshi!"gagap Jimin bergerak keluar, entah kenapa merasa canggung seolah kedapatan berbuat mesum-

well, memang benar sih.

.

.

"KAU BENAR-BENAR PACARAN DENGAN MIN YOONGI!?"

"AISH! Saeggya!"

Sontak Jimin mencubit pinggang Seungkwan kuat-kuat. Matanya melotot marah agar sahabatnya itu berhenti berteriak mencuri perhatian.

"Kita sedang di kantin, Babo!"lanjut Jimin kini memukul telak kepala Seungkwan. Benar-benar kesal karena sudah membuat mereka kini dilirik oleh puluhan orang. Mahasiswa-mahasiswa lainnya itu menatap aneh dan beberapa dari mereka mulai berkasak kusuk mengejek mereka.

"Aigoooo,"desah Jimin memijit pelipisnya, "kenapa kau selalu membuatku malu Boo Seungkwan?"desahnya berat.

"Hehe~"Seungkwan memberi sengiran sok polos yang malah terlihat menyebalkan bagi Jimin.

"Jadi! Jadi! Apa yang terjadi tadi malam?"

Jimin berpaling dari makan siangnya, menatap entah ke mana sambil menggaruk-garuk rahang yang tak gatal. Ekspresinya jelas terbaca oleh Seungkwan, malu-malu yang ditahan, sumringah yang ditahan. Membuat Seungkwan semakin penasaran.

Teman sepermainan Jimin itu menggeser pantatnya, menyikut-nyikut lengan Jimin minta penjelasan, "apa? Apa? Apa yang terjadi? Ayolaaah~ Apa heoh?"

"Em... Itu... Yah! Begitulah. Pokoknya dia menembakku, lalu entah kenapa kami em, lalu aku menjawabnya setelah sampai di kos-kosan, lalu begitulah."

"Hooooo. Ada 'em em' nya nih!"

"Ish, kau pikir kita masih anak sekolahan apa. Jangan menggodaku dengan itu."

"Waaah. Benar dugaanku."

"Tapi aku sendiri masih belum percaya lho."

"Heeei."

"Sumpah! Sudah kubilang, sedikitpun aku tak pernah berpikir bahwa Yoongi-hyung bisa menyukai seorang namja- Ani! Yoongi-hyung bisa menyukai seseorang seperti diriku."

"Aigo~ Beruntung sekali hm. Tampan, cool, dewasa dan kaya! Ugh! Kau pasti akan senang sekali, Jiminieeee~ Siap-siap kau dibelikan barang-barang mahal."

"Kau itu,"desah Jimin, "sampai kapan kau selalu mengelu-elukan kekayaannya hm."

"Habiiiiis. Memang senang kan, ditraktir makanan enak, dibelikan ini itu."

"Itu bonus Seungkwan-a~ Bonus. Sudah kuberi tahu, pertama aku tertarik dengannya karena sifatnya kan. Si-fat-nya! Mengerti?"

"Iya~ iya~ Hahaha. Padahal awalnya kau sangat ingin menghindarinya kan."

"Nah, siapa yang mau dekat-dekat dengan orang menyeramkan seperti dia. Menyeramkan dan seenaknya. Heol, apa kau ingat? Sejak kapan aku menyukainya hm?"

Seungkwan menyesap udara cukup lama, berusaha mengingat-ingat curhatan Jimin satu bulan terakhir ini, "kalau tidak salah sih,"jawabnya, "kau jadi lebih sering membicarakannya sejak mendengar cerita tentang Yoongi-hyung dari Keiko."

"Oh, benar-benar."

"Yup. Aku ingat kata-katamu waktu itu,"Seungkwan memperbaiki posisi duduknya, "'Seungkwan-a... "sambungnya berusaha meniru gaya bicara Jimin, "'kita tidak boleh sembarangan menghakimi karakter seseorang' begitu, lalu ada juga begini, 'Yoongi-hyung itu sebenarnya baik kok' Dan beberapa lama setelah itu, kau jadi tak berhenti-berhenti menyebut namanya."

"Jinjja?"

"Yup!"

"Hehe~"

"Aku tunggu traktiranmu. Lebih dari makan siang tentunya."

"Hha?"

"Ya! Kau bertemu dengan Yoongi-hyung kan juga karena aku!"

"Aaaa. Benar juga sih. Haha. Astaga... aku tak menyangka orang yang aku pikir selingkuhan- Ee, mian."

"Gweanchana ~ Aku sudah menemukan pengganti si brengsek itu kok."

"Eh?"

"Lihat,"Seungkwan memperlihatkan sebuah foto melalui handphonenya, "tampan kan."

"Well..."Jimin mengangguk-angguk setuju.

"Namanya Hansol. Lihat baik-baik wajahnya, dia campuran."

"Hoooo. Benar-benar."

"Tidak hanya kau lho yang pergi kencan Sabtu nanti, aku juga. Hehe~"

"Haha."

"Nah, Taehyung bagaimana?"

"Taehyung? Bagaimana apanya?"

"Perasaannya, Babo."

"Perasaan Taehyung? Maksudnya?"

"WHAT THE- Aw!"

"Sudah kubilang berhenti berteriak histeris!"

"Habis! Aku maklum- well, sebenarnya heran juga sih- kau yang tidak paham dengan maksud Yoongi-hyung, soalnya baru sebulan kan. Tapi ini Taehyung lho! Jebal, dia roommate -mu sejak awal kuliah lho!"

"Taehyung menyukaiku?"tanya Jimin polos.

"Tidak!"kesal Seungkwan, "dia menyukaiku! Ya iyalah dia menyukaimu Park Babo."

"Heol. Jinjja?"

"Firasat Boo Seungkwan selalu benar!"

"Daebak! Jinjja?"

"Kau ini selalu bebal kalau sudah menyangkut percintaan ya."

"Kau sendiri payah dalam percintaan."

"Mwo!"

"Benar kan. Hahaha."

"Ish!"

.

.

Jimin mematung di depan pintu kamarnya.

Oh, ya. Aku tidak jadi membicarakan Taehyung lebih jauh lagi kan ya.

Tidak mungkin dia menyukaiku kan!

Tapi-

Ani, ani, ani, ani, ani!

Dia kesal sih setiap aku telponan dengan Yoongi-hyung.

Ani, ani, ani, ani, ani, ani, ani, ani!

Tapi- tapi-

"Kau menghilangkan kuncimu lagi, pendek?"

"Pendek!? Siapa yang kau- Ou, kau baru pulang Taetae?"

"Yup. Kenapa mondar mandir di depan pintu heoh? Tampangmu juga jauh lebih serius dibanding ketika mengerjakan tugas."

Taehyung yang membuka pintu, diekori Jimin memasuki kos-kosan mereka, "jadi, ada apa heoh?"

"Eh? Oh. Ani..."

"Apa si pucat itu menyusahkanmu?"

"Yoongi-hyung? Tidak kok, kami baik-baik saja kok."

"Memikirkan apa?"

"Oooo, itu... Aku, aku mandi dulu!"

"Dia kenapa sih?"

.

"Tae..."

"Hm?"

"Taehyung."

"Wae?"

"Kim Taehyung?"

"Ada apa Park Jiminsshi?"

Taehyung berpaling dari 'mainannya'. Menatap malas Jimin dari balik googles besarnya dan menunggu Jimin yang sedang melemaskan otot-otot mulutnya.

"Em..."Jimin mendekat. Bersimpuh di samping Taehyung, "em..."

"Apa heoh?"desah Taehyung melanjutkan mengutak atik mesin buatannya, "kau mau cerita tentang pacar barumu itu?"

"Eh?"

"Kemarin si pucat menembak-mu kan. Lalu kau terima kan. Kalian pacaran sekarang kan. Nah lalu?"

"Eeeeeh!? Dari mana kau tahu!?"

"Gelagatmu terbaca sekali, Babo."

"Ou..."

"Well,"kini Taehyung berdiri, memilih menyudahi aktifitasnya dan beranjak ke kulkas mereka, "aku tak akan mengganggu kalian,"ucapnya setelah satu tegukan bir untuk kerongkongannya.

Jimin ikut duduk di sofa, menatap lamat Taehyung yang kini menonton TV, "kau benar menyukaiku, Tae?"

"Yup,"jawab Taehyung tanpa melihat Jimin.

"Heol!"

"Kupikir posisiku aman selama ini. Ck, tahu-tahunya. Aku tak menyangka dia terang-terangan dan gencar sekali mendekatimu."

"Ou..."

"Hei."

"Ne?"

"Aku tak suka jadi pihak ketiga. Tapi sekali saja dia membuatmu kecewa, aku tak akan segan-segan merebutmu darinya."

Jimin terkekeh, "kau benar-benar menyukaiku hm?"tanyanya memeluk lengan Taehyung, mendekatkan wajah mereka berdua dan berusaha mencuri etensi pandangan Taehyung, "apa yang kau sukai dariku hm?"senyumnya sok-sok manis. Benar-benar senang mengetahui teman sekamar yang selalu mengejeknya itu ternyata selama ini menyimpan rasa untuknya. Jimin jadi merasa memenangkan sesuatu sekarang.

"Entahlah. Karena kau bodoh mungkin."

"YA!"

.

.

.

.

"Aku sudah di depan kos-mu."

"Eh? Jinjja? Aku tidak sedang di kos, Hyung."

"Hha? Kau di mana?"

"Em, aku masih di Busan."

"Seharusnya kau sudah kembali dari Busan tadi malam kan?"

"Ne, tapi ada urusan mendadak, Hyung. Jadi aku belum tahu kapan akan kembali ke Seoul."

"Urusan mendadak? Apa?"

"Em, nanti aku ceritakan, Hyung. Sudah dulu ya, Hyung."

"Hha! Ya! Park Ji-"

Pip

Alias Yoongi menyatu lalu memandangi lekat jendela kamar Jimin. Beberapa detik akhirnya dia memutuskan, masih dengan ekspresi memikirkan sesuatu ia bergerak keluar dari mobil dan untuk kemudian masuk ke dalam bangunan lima lantai itu.

Sambil terus menghubungi nomor kekasihnya.

.

Jimin membasahi bibirnya dan mendesah panjang. Menatap sangsi layar handphone yang menampilkan panggilan masuk.

Dari Yoongi, seseorang yang sudah menjadi kekasihnya tiga bulan ini.

Tapi Jimin sedang tak ingin mengangkatnya.

Ia biarkan benda pipih berwarna silver tergeletak di atas tempat tidur begitu saja, sedang ia bergerak ke kulkas untuk membasahi kerongkongan yang sudah kering seharian.

Satu tegukan, terdengar ketukan di pintu depan. Bergegas Jimin menuju jendela, memastikan apakah mobil kekasihnya masih terparkir di bawah sana.

Masih. Sebuah Sport Mustang berwarna merah masih berdiam diri di depan gedung kosan Jimin. Berarti pemiliknya belum ingin pergi meski Jimin berbohong mengenai di mana ia berada.

Mahasiswa yang sebulan lagi akan naik tingkat itu jadi menghela napas yang cukup panjang sembari menutup erat kedua mata.

Jimin sedang tak ingin menemuinya. Jimin tak boleh menemuinya. Jimin-

"Aku tahu kau di dalam, Jimin!"teriak seseorang yang mengedor pintu, "hei! Ada apa hha? Sejak kemarin kau juga tidak pernah membalas pesanku!"

-tak akan menemuinya selama lebam di pipinya masih berwarna segar dan bibir lecetnya masih tampak begitu jelas.

"Ya!"sambung Yoongi semakin tak sabar, "kau tahu aku tak akan segan-segan untuk mendobrak pintu kan! Park Jimin!"

Jimin tak tahu harus bagaimana.

"Jimin!"

...

Yang dipanggil memijit-mijit pangkal hidungnya. Sedang yang memanggil mulai gusar gerakan tangannya, mengedor-gedor pintu lebih kuat, memainkan kasar gagang pintu. Dan sepertinya memang akan bersiap untuk mendobrak dengan keras.

"Ya! Park Jimin! Aku akan-"

Klek

Tak ingin membuat keributan, tak mau Jimin akhirnya bersedia membukakan pintu. Wajahnya menunduk melakukan itu, lalu cepat-cepat berpaling membelakangi tamu tak diundang.

"Aku sedang tak enak badan, Hyung,"begitu Jimin beralasan. Padahal tadi dia bilang masih ada di Busan. Jadi Yoongi memburu masuk dengan perasaan kesal dan langsung menarik lengannya, membuat mereka saling berhadapan.

"Kenapa kau berbohong- astaga! Wajahmu kenapa, Jim!?"

Yoongi beralih menggenggam kedua bahu Jimin, sedikit membungkuk agar lebih jelas mematai wajah Jimin yang mencoba menunduk dan berpaling.

...

"Jim, kau kenapa?"

...

"Hei, kau kenapa Sayang?"

Jimin mulai terisak. Seketika menjatuhkan tubuhnya kepada Yoongi, sepertinya ia tak sanggup untuk berbohong lebih jauh lagi.

"Hyung..."rintihnya.

Mendengar itu Yoongi langsung mendekapnya hati-hati, "ada apa, Jiminie?"tanyanya khawatir.

"Appa- hiks! Appa- hiks!"

"Ada apa dengan Ayahmu?"

"Appa tidak menyetujui hubungan kita."

.

"Hyung."

Panggil Jimin lembut. Wajahnya sudah sedikit lebih cerah dibanding kemarin-kemarin, setelah tadi menangis dalam pelukan Yoongi seraya menceritakan apa yang terjadi dengannya selama berlibur di Busan.

Yoongi yang hendak menggapai gagang pintu memutar tubuhnya menghadap Jimin, "hm?"senyumnya menunggu perkataan Jimin.

Tapi Jimin tidak mengatakan apapun, pemuda manis itu hanya memandang sendu kedua mata Yoongi.

"Istirahatlah,"ujar Yoongi lembut mengusap pucuk kepala Jimin, "nanti malam-"

Jimin tiba-tiba mendesah. Jemarinya meraih ujung baju Yoongi.

Deru napas Jimin. Gejolak panas pada kesenduan Jimin, membuat Yoongi terdiam sejenak dan mulai mengerti.

"Taetae hhhh Taetae baru akan kembali besok."

Tepat setelah mengatakan itu, Jimin langsung diburu ciuman panas. Tubuhnya terseret kebelakang, nyaris akan jatuh jika tangan Yoongi tidak melingkar pada pinggangnya. Cepat-cepat ia mengalungi leher Yoongi, cepat-cepat ia mengimbangi permainan lidah Yoongi.

Kedua paha Jimin diangkat, seraya tubuhnya langsung digendong untuk direbahkan di sofa panjang, dengan sesekali Yoongi bergantian melahap mulut dan lehernya.

Sukses berbaring pada sofa, sepasang kekasih itu bergegas melucuti pakaian masing-masing dengan deru napas penuh gairah.

Mereka saling memberikan jilatan, hisapan, lumatan serta sentuhan sensual pada sekujur tubuh yang sudah bertelanjang, namun yang menindih lebih terampil hingga Jimin memilih hanya akan mendesah kuat seraya meremas helaian surai Yoongi untuk melampiaskan kenikmatannya.

Dan desahannya kian menyesak begitu tangan besar menuntunnya untuk melakukan hal yang sama, mengocok dua kemaluan yang mulai menegang. Namun Jimin seolah menolak, kedua tangannya cepat-cepat menangkup wajah Yoongi.

"Masuki aku sekarang juga,"desahnya terburu.

Yoongi terdiam. Sedang Jimin tak dapat lagi menahan birahinya. Ia bangkit untuk membalik posisi mereka. Menindih selangkangan Yoongi, Jimin mulai memasukkan milik Yoongi ke dalam lubangnya.

"Jim-"

"Yoongi hhhh Yoongi..."

Tak Jimin gubris tatapan keraguan Yoongi, karena matanya tertutup erat, bibirnya digigit, dan pikirannya hanya penuh oleh bagaimana ia bisa menyatu dengan Yoongi secepatnya. Air matanya mengalir, perih mulai ia rasakan, tapi cairan bening itu seolah keluar bukan karena itu. Lebih kepada pelampiasan kata-kata Ayahnya yang ternyata masih terngiang jelas di telinganya.

Ia mencintai Yoongi. Juga sangat menyayangi Ayahnya.

"ANGH!"

Mengikuti kemauan Jimin, Yoongi serta merta menarik kebawah kedua paha mulus itu. Meski ia tahu belum waktunya melesak masuk ke dalam Jimin, tapi ia tak tahan lagi dengan wajah frustasi sang kekasih. Biar ia buat Jimin melupakan semua masalahnya.

Dengan cepat Yoongi bangkit, lalu bergerak menggendong Jimin yang sudah dimasuki sebagian miliknya. Sofa bukan tempat yang tepat jika Jimin memang menginginkan permainan yang membuatnya lepas dari rasa gundahnya. Jadi Yoongi membawa Jimin menuju kamar, menghempaskan tubuh mereka ke atas ranjang lalu mulai menghentak-hentakkan miliknya begitu liar hingga Jimin mendesah keras berulang kali memekik namanya.

.

.

"Kau kenapa?"

"Apa?"

"Mood-mu hari ini buruk sekali."

"Hha?"

"Apa lagi sekarang?"

"Apanya?"

"Kau dan Jimin."

Yoongi memilih diam kali ini. Menatap datar rockglass yang sedari tadi hanya ia mainkan tanpa meminum weskhey di dalamnya. Kedua irisnya tepat tertuju pada gelas bening di hadapan wajahnya itu, tapi pikirannya melayang entah ke mana.

Duduk di sebelah mahasiswa tahun akhir itu, Namjoon menarik bibir dan mengangguk-angguk samar, merasa dugaannya benar. Dan ikut bungkam karena ia yakin Yoongi adalah seseorang yang akan bercerita jika memang ia ingin, jika tidak meski didesak seperti apapun mulut Yoongi tak akan mau bersuara.

Tetapi tepat ketika kalimat akan meluncur dari bibir Namjoon untuk mengalihkan pembicaraan, membahas kelulusan mereka, ternyata Yoongi bersuara lebih dulu.

"Ayahnya seorang guru SMA,"mulai Yoongi melirik sekilas ke arah Namjoon, ada senyum miris di wajahnya, "golongan terpelajar, yang tentunya menjunjung tinggi nilai sosial masyarakat, memilih kehidupan yang harus sesuai dengan moral yang seharusnya,"sambungnya meraih handphone pada saku blazer, jari-jarinya bermain di layar Iphone silver itu seraya tetap melanjutkan ucapannya.

"Tiga tahun menyembunyikannya, liburan kemarin kedua orang tuanya akhirnya tahu orientasi seksual Jimin. Tanpa disengaja, Jimin memutuskan akan coming out setelah ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Ketahuan itu saja sudah membuatnya babak belur, ditambah dengan foto-foto kami di handphonenya-"

Yoongi mendesah kasar, melihat galeri pada Iphonenya. Salah satu foto di mana Jimin sedang mencium pipinya ia pandangi cukup lama.

-nah, begitulah."

"What will you do?"

"Nah..."

"Kau mau melepas Jimin, begitu?"

"Tentu saja tidak."

"Lalu?"

"Kawin lari."

"What?!"

"Itu pilihan terakhir, jika Ayahnya tak kunjung menerima putranya mengencani pria lain."

"Dan tiga bulan lagi kau harus ke Amerika kan?"

"Ne, aku terlanjur menyetujui keinginan Kakek."

"Wah, selamat, dude."

"Fuck."

.

.

TBC

.

.

GAMSAHAMNIDAAAAAAAAA!

Thanks untuk semua reader yang masih mau baca ff ini.

Adakah yg mengingat saya?

Author labil yang mood2an ini...

Well... haha

Nah, jadi gini, sejatinya ff ini kumpulan oneshot kan ya, jadiiiiiiii Falling in Love with you bakal Ganto pindahin ke ff tersendiri atau tetep di sini aja ya? Gimana bagus?

Kalo ditanya berapa chapter lagi (kan kalo satu chapter lagi nanggung kan ya) Ganto juga ga tau hahahahhahaha habiiiiiiis lanjutan ini belum diketik, meski ceritanya udah ada di kepala tapi ga tau ntar jadinya berapa panjang dan berapa chapter.

Atau, sebanyak apapun itu, mari Ganto jadiin satu chapter terakhir aja ya haha.

Nah, jadi begitulah ~

Btw, comeback BTS?

HEOL! JANGAN DITANYA! MATI! MATIIIIIIII! TEWAS GANTO WKKWKWKWKWK

Once again gamsahamnida

Balasan review dari reviewer terhormat

Jungeunyoon : masihkah engkau menungguku? Yep, keluarga yoon jahat, tipe2 bourjuis yang ga punya hati. Biasa ~ korban drama korea haha. Ganto pribadi suka bgt sma anak kembar! Ne, Yoon sabar kok, Yoon ikhlas kok, demi Jimin trsayang apa yg ga bisa dia korbanin. Ibu2 hamil emang aneh, byk maunya, byk mintanya, Ganto punya contoh nyata, uni Ganto yang lagi hamil yang tinggal di rumah depan, hahaha bahkan dia minta uda Ganto sok sok imut di depan Ayah ganto kkkkkkkkk sumpah! seriusan lho dia minta itu hahahahaha. Ceritanya si jihoon malah kaya kembar terpisah si yoon di ff ini, gitu ajalah hehe. (Gomawo ^^)

ChiminChim : Iyaaaaa! Brhubung Ganto suka sama YoonMin di ff yang satu ini, jadi kebayang-bayang kisah2 lain mereka jiah. Nama juga nenek sihir ga da kerjaan, dan jimin mah, baik bgt terima2 aja digituin tapi syukuuur skrg keluarga besar Yoon ga berani lagi kok gangguin enchim meski mereka masih anti sikap baik ke jim. Epilogue pas jim lahiran? Boleh juga tuh! Nah, yang Dead Leaves itu juga sempet trlintas sih bikin sequelnya, doain aja kalo mood Ganto bisa ngetik lanjutan kisah mereka di koriyaaaa. (Gomawo ^^)

lunch27: ga kok ga kok. Kumpulan OneShot ini jauh dari sad ending hehe (Gomawo ^^)

ChiminsCake: how? Masa2 pacarannya belum diliatin sih haha (Gomawo ^^)

yongchan : Emang! Nyebelin mereka! Ugh! Kalau ga kaya, Ganto cakar2 mereka! Enak aja gangguin si enchim! (Gomawo ^^)

itsathenazi : Kapan chimchim ga bikin kita gemes heoh. Ngadepin org hamil emang kudu sabar. Kookie and Taetae di ff ini jadi pasangan manis adem ayem lho hihi. Seungkwan mah pantang ditinggalin. Chimchim mah saking keselnya jadi kaya begono, main nyerocos aja, main siram2 aja, ujung2nya jadi malah diteror kan. Well, mau yang udah di korea ya, okaaay, akan ganto pertimbangkan (Gomawo ^^)

Nikmah444 : org hamil emang seringnya ngidam yg aneh2 kan ya haha. Suga mah, ck ck ck doain aja dia, doain dia biar tabah menghadapi cobaaan haha. Hyorin ama Taehee kita buang k bulan aja, ga bisa napas mereka hoho (Gomawo ^^)

meganehood : gimana yang chapter ini? (Gomawo ^^)

kumiko Ve : well, ganto pribadi kadang seneng juga liat yoon tersiksa muahahahaha pertemuan mereka emang absurd bgt ya haha. Noh, dia udah nembak jimin hehe (Gomawo ^^)

Gasuga : Syukuuuuurrrr, syukuuuuur bgt anak mereka kembar yaaaaaaa hihi. Biar rame. Ne! Soalnya, di sini karakter Yoon itu bukan tipe2 seme yang lembut dan manjain, dia jutek, cool, baiknya pas jim ada masalahnya aja, keseharian mereka ga lovey dovey bgt kok, lebih ke- hmhm tipikal pasangan yang mesranya beda gitu jiah. Makanya ngehibur bgt bagi joon dan bagi ganto tentunya. (Gomawo ^^)

noona93 : Ne... dia udah mulai bisa luluh, nah tapi di akhir chapter and next chapter diliatain gimana ayahnya pas masih ga setuju... Jinjja? Manis? Syukurlah ~ Gamsahamnida.

rrriiieee : Hwaiting! (Gomawo ^^)

ekayuni018 : Hahahaha. Siapa yg ga seneng org emosian seenaknya cam yoon terpaksa sabar gitu hihi. Yoon pake Apron? Gimana kalo pake seragam sailormoon hihi (Gomawo ^^)

.

.

Ganto, 12th October 2016