Annyeong haseo ~
.
.
Yoongi terbangun, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang masih terasa asing bagi penglihatannya. Juga bantal serta ranjang yang tak pernah ia gunakan sebelumnya. Karena baru kali ini ia bermalam di tempat Jimin meski sudah berpacaran selama hampir empat bulan.
Cahaya matahari sudah menerpa terang ke penjuru ruangan, tapi Yoongi sepertinya masih enggan bangkit dari baringan. Jadi ia kembali meringkuk, mencoba bergelung nyaman ke dalam selimut setelah ternyata Jimin yang baru memasuki kamar menyadari gerak-geriknya.
"Hyung mau sarapan apa?"tanya Jimin lembut sembari menaruh pakaian Yoongi di ujung ranjang.
"Terserah,"jawab Yoongi seadanya, lalu muncul dari balik selimut dan dengan tubuh telanjangnya memeluk perut Jimin yang duduk di tepian ranjang, "mmngh,"lenguhnya sesaat, menyamankan posisi tengkurapnya, menyesap dalam-dalam aroma pewangi pakaian pada kaos longgar Jimin yang bercampur dengan cologne miliknya.
Jimin tersenyum simpul mengusap-usap kepala Yoongi, "ternyata kau manja, ya Hyung."
"Mmm."
"Apa hari ini kau ada acara, Hyung?"
"Mmm."
"Rencananya aku tidak akan ke mana-mana hari ini."
"Mmm."
"Apa kita-"
"Jimin."
"Hm?"
Yoongi bergerak membalik badan. Menjadikan paha Jimin sebagai bantal, sebelah tangannya terangkat menuju wajah manis di atasnya. Membuat Jimin membungkuk, membawa mereka ke dalam permainan singkat lumatan bibir yang lumayan nakal.
"Kau sudah tahu kan aku harus melanjutkan studi ke Amerika,"ucap Yoongi tanpa membuka mata setelah mengecup sekali perpotongan leher Jimin, "aku akan langsung berangkat sehari setelah kelulusan."
Jemari Jimin kembali bermain pada surai Yoongi, terlihat gurat sendu dari wajahnya, "ne..."
"Kita tidak usah berhubungan selama dua tahun itu."
"Eh?"
Jantung Jimin mulai memburu. Takut akan tafsiran kata-kata Yoongi barusan adalah sesuatu yang mengarah pada 'perpisahan'.
Sedang Yoongi membuka matanya, mengambil jemari Jimin yang ada di rambutnya, mengecup satu persatu secara berulang-ulang. Seraya memberi padangan teduh pada kekasihnya.
Lelaki bertubuh kurus namun tetap tercetak sixpack pada perutnya itu lalu bergerak duduk. Mengelus-elus pipi Jimin, menatap nanar lebam samar yang sudah mulai hilang dari sana, "jelas-jelas keluargamu tidak setuju dengan hubungan seperti ini kan. Karena itu mulai besok kau sudah harus tinggal dengan Bibimu yang akan mengawasimu secara ketat kan."
"Hyung?"
"Hei, bukan putus,"Yoongi mencoba tersenyum lembut mendapati ekspresi Jimin yang menatapnya kecewa dan siap menangis.
"Lalu?"lirih Jimin
"Aku mencintaimu, Jim. Karena itu aku tak ingin melihatmu terluka. Kebetulan aku memang harus pergi ke Amerika. Dua tahun. Kita cukup bersabar selama dua tahun ini. Di saat itu lebih baik kita tidak usah dulu berhubungan. Perlihatkan pada keluargamu bahwa kau tidak sedang menjalin kasih dengan siapapun. Setidaknya dengan itu mereka akan cukup tenang kan."
"Hyung..."Jimin menanggapi dengan nada getir dan tatapan memelas. Keduanya sama-sama tahu, sehari saja tidak berkomunikasi sudah membuat mereka merasakan sakitnya merindukan. Apalagi selama dua tahun dengan tempat yang sangat berjauhan.
"Hei, bersabarlah."
Hening beberapa lama. Hingga akhirnya pijakan Jimin terangkat dari lantai kamar, membawa tubuhnya memeluk Yoongi dengan erat, "ne..."bisiknya pelan.
"Kau yang sudah lulus dan aku yang kembali dari Amerika, sudah lebih berhak menentukan jalan hidup kita kan."
"Em..."
"Jim-"
Yoongi melepas pelukan mereka, menatap lamat kedua netra kelam yang selalu menjadi favoritnya, "-dan ketika itu aku sudah bisa menjadi sosok pendamping hidupmu kan."
"Eh?"
"Jiminie, mungkin ini terdengar sedikit egois. Aku ingin kau senantiasa menunggu dan selalu mempercayaiku. Karena apapun yang terjadi, sekembalinya dari Amerika, aku akan menemui Ayahmu. Whatever it takes, I'm gonna marry you."
.
.
Falling in love with You (again) Sequel Last Part.
Min Yoongi x Park Jimin
Warning Typo(s)!
Happy reading ~
.
.
Jimin baru saja mengepak barang terakhirnya. Menghembus napas kasar yang menyibak poni hitamnya, pemuda Busan itu hendak beristirahat barang sejenak.
Namun tepat ketika itu handphonenya bersuara menandakan sebuah panggilan masuk. Melihat kontak yang tertera pada layarnya, Jimin tersenyum manis menghiraukan rasa lelahnya.
"Aku baru selesai beberes."
"..."
"Ne, aku akan ke sana sebentar lagi.
"... "
"Ou, okeh."
"..."
"Ne, sampai nanti."
Menutup panggilan, Jimin bergegas meraih coat hitam, syal rajutnya dan bergegas keluar kamar.
"Sudah selesai beberesnya?"tanya wanita paruh baya yang menangkap kehadiran Jimin di ujung tangga. Ia teralih sebentar dari layar TV.
"Sudah, Bi,"jawab Jimin.
"Mau ke mana?"lanjut adik perempuan ayah Jimin itu mendapati keponakannya yang berpakaian lengkap.
"Keluar sebentar, Bi."
"Jangan sampai tidak makan malam di sini, ya?"
"Ne. Aku pergi dulu ya, Bi."
"Hati-hati."
.
"Annyeong!"sapa Jimin riang begitu turun dari bus.
Sosok yang sedari tadi sibuk memainkan handphone langsung mendongak dan menampilkan wajah kesal yang dibuat-buat, "kau lama sekali!"gerutunya mulai berjalan bersama Jimin meninggalkan halte bus.
"Hehe. Mian, mian."
"Katanya sudah selesai mengepak barang."
"Yup. Setelah kau menelpon aku langsung ke sini kok."
"Terus. Kenapa lama sekali?"
"Em, itu..."
Pemuda bergigi kelinci di samping Jimin ikut terdiam. Ia telusuri baik-baik ekspresi Jimin yang seolah mencoba tersenyum tenang, "kau mengambil rute memutar ya?"
"Eh?"
"Bus yang kau naiki tadi, rutenya melewati kosan lamamu kan."
Untuk sesaat mulut Jimin terbuka tanpa suara, menenggak ludah kemudian ia mengangguk mengiyakan, "ne..."
"Hei, kalau dia datang, pasti Taetae-hyung akan langsung menghubungimu kan. Kau tidak perlu selalu memastikannya sendiri."
"Geunyang..."Jimin sedikit menunduk. Menatapi pijakan langkahnya, pikiran dan perasaannya tiba-tiba merasa sesak.
Keduanya kembali dikuasi keheningan untuk sesaat. Sampai bahu Jimin dirangkul dengan erat.
"Oh, ya!"celetuk pemuda yang sebenarnya lebih muda dari Jimin itu, "akhirnya aku gajian! Aku belum sempat memberimu hadiah kelulusan kan. Aku mengajakmu karena ingin membelikanmu sesuatu."
"Hoooo~"
"Aku tak tahu harus memberikanmu apa, kau saja yang pilih sendiri, aku yang bayar."
"Jinjja? Haha aku pikir aku akan bertugas sebagai yang menyarankan saja hari ini."
"Aku sudah memberikan Taetae-hyung sesuatu kok."
"Heeee. Bukannya tadi malam kau masih bingung harus membelikannya apa?"
"Setelah kita telponan, tiba-tiba saja Taetae-hyung menghubungiku. Hehe"
Jimin sedikit berjengit menangkap kekehan yang terdengar tak biasa itu, "heol, Jungkook-a. Jangan bilang-"
"Ya! Apa yang kau pikirkan!"
"Tentu saja aku memikirkan itu! Apa lagi kalau bukan sesuatu yang bisa kau berikan malam-malam-"
"Aku memberikannya tadi pagi!"
"Waw! Kalian melakukan itu pagi-pagi."
"Heol!"Jungkook mendesah kasar dan berjalan lebih dulu, "masakanku, Jimin-a! Masakanku!"
"Hha?"heran Jimin tergesa menyusul Jungkook.
"Astaga. Kau itu lupa kalau kami ini belum pacaran heoh!"
"Hehe. Bisa saja kan."
"Dasar. Tadi malam itu Taetae-hyung bilang, dia sudah tahu kalau aku bingung harus memberikannya hadiah apa. Lalu dia menyuruhku tidak usah repot-repot memikirkan itu. Dia memintaku untuk mendatanginya pagi ini, membuatkannya sarapan korea satu set lengkap sebagai hadiah."
"Kau kan tidak bisa memasak."
Jungkook tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang terlihat menggemaskan, "memang. Hehe. Tapi, Taetae-hyung tetap memakannya. Aaaah, dia gentle sekali. Aku sempat panik mendengar permintaannya itu, bisa-bisa kesempatanku hilang untuk dijadikan kekasihnya kan. Eh, ternyata. Hehe. Dan, dan-"
"Wah, wah. Karena itu siang ini kau juga mengajak Seungkwan hm."
"Yup. Aku akan mentraktir kalian."
"Sambil menceritakan statusmu yang sudah berubah hm."
"Yuuup!"
"Haha."
Jimin dan Jungkook akhirnya sampai di tujuan mereka. Cafe langganan dengan interior bernuansa Prancis yang kentara. Di salah sudutnya, sudah ada Seungkwan yang melambai ke arah mereka.
.
"Astaga! Kau bahkan sudah bukan mahasiswa lagi sekarang, kenapa mereka masih melarangmu pulang malam heoh!?"
Seungkwan mendecak tak suka dan geleng-gelenge kepala. Seperti biasa, dirinya yang terlalu ekpresif dengan suara kerasnya membuat Jungkook memukul kepalanya cukup keras karena sukses menarik perhatian beberapa orang di dekat mereka.
Hanya sekali lirik, lalu setelahnya mereka yang sama-sama sedang menunggu bus kembali sibuk dengan urusan masing-masing.
"Bukannya melarang kok,"senyum Jimin, "sejak semester akhir kalian sadar kan, Paman dan Bibi sudah tak lagi menanyaiku setiap saat. Sudah mulai mau memberikanku izin diluar jam-jam kampus. Dan tidak terlalu ketat mengawasiku seperti diawal-awal dulu."
"Nah, kenapa tidak bisa ikut minum bersama kami malam ini hm? Ini malam terakhirmu di Seoul kan."
"Ne, aku akan pulang ke Busan besok pagi. Karena itu Bibi sudah menyiapkan masakan yang sangat lezat untuk makan malam nanti."
"Kami bagaimana? Huweeee,"Seungkwan mengelus-eluskan kepalanya pada ujung pundak Jimin, "ini terakhir kali kita pergi hang out lho. Dan orang tuamu hanya membolehkanmu bekerja di Busan."
"Kita sudah mengobrol banyak tadi kan. Hei, jangan membuat seolah-olah kita memang tidak akan pernah bertemu lagi."
"Jimin bukannya mau ke luar negri, Bodoh,"timpal Jungkook, "kita bisa mengunjunginya ke Busan kan."
"Iya, siiiih."
"Nah,"Jimin mematai bus yang akan segera dinaikinya, begitu kendaraan umum itu sudah menepi dan berhenti menunggu penumpang, ia tersenyum manis untuk kedua sahabat terdekatnya, "annyeong~"
"Annyeong~"balas Seungkwan dan Jungkook bersamaan, "besok pagi kabari kami jika kau sudah mau berangkat menuju stasiun ya."
"Ne."
Setelah bus benar-benar pergi, Seungkwang menghela napas cukup panjang, "dia naik bus itu lagi."
"Em. Sudah kubilang, kalau memang dia datang, Taetae-hyung pasti akan langsung mengabarinya. Apa mereka benar-benar sama sekali tidak berhubungan dua tahun ini hm? Sampai-sampai hanya kosan lama Jimin yang menjadi tempat mereka untuk bisa bertemu."
"Mereka memang sama sekali tidak berkomunikasi lho. Sebelum pergi dia juga sudah tahu di mana alamat Bibinya Jimin kan. Lagipua jika memang sudah kembali, dia tinggal menghubungi Jimin dan mereka bisa bertemu di mana saja kan."
"Nah... pelampiasan sebuah harapan begitu?"
"Bisa jadi."
.
Sepasang mata itu menatap lurus ke arah bangunan yang dua tahun lalu menjadi tempat tinggalnya. Tak ada satupun mobil yang terparkir di sana. Tak ada tanda-tanda kehadiran seseorang yang selalu ia rindukan di sana.
Kepalanya menoleh ke arah sana dengan gurat sendu penuh pengharapan. Melalui kaca jendela, bangunan itu tetap memenuhi atensinya sampai akhirnya bus berbelok melanjutkan rutenya.
Jika memang sudah kembali, pria itu pasti akan menghubunginya. Jika memang belum bisa mendatangi rumah Bibinya, pria itu bukan berarti tidak bisa mengajaknya bertemu selain di kosan lamanya.
Jimin hanya merindu. Dan berharap sosok itu memilih tempat pertemuan di kosan lamanya, dan Jimin ingin, ia lebih dulu melihatnya sebelum sosok itu sempat menghubunginya.
Pria itu sendiri yang menyuruh Jimin untuk selalu setia menunggunya.
Sejak mencapai penantian pada angka dua tahun, kerinduan di hati Jimin semakin menyesakkan keseluruhan asanya. Membuatnya nyaris gila. Karena pria itu sudah berjanji untuk kembali diwaktu-waktu sekarang.
.
.
Yoongi memang tipikal seseorang yang terkadang lebih cendrung menunjukkan sesuatu secara langsung dibanding melalui hal yang tidak langsung. Contohnya melalui telpon ataupun text, tidak jarang Yoongi lebih suka mengabaikan hal-hal tersebut.
Dan Jimin sudah mengerti benar dengan Yoongi yang seperti itu. Jadi sebenarnya ia tak perlu menampilkan wajah memerah semarah itu pada sosok tampan yang baru saja mendaratkan pantat di kursi sebelahnya. Pria berkaca mata hitam yang dengan santainya duduk di kursi sebelahnya.
Sosok yang tiba-tiba muncul untuk tersenyum kepada Jimin tepat di kursi sebelahnya.
"Hei."
Jimin sontak saja berdiri. Setelah melotot tak percaya, ia mengepalkan erat sepuluh jemarinya. Ranumnya tebalnya mulai memberengut, sebelum air mata jatuh dari pelupuk indahnya, sebuah pukulan teramat keras ia berikan pada penumpang kereta di sampingnya.
"AW!"
Teriak Yoongi kesakitan. Mengelus kepalanya seraya meraih kacamata hitam yang seketika terjatuh karena hentakan yang begitu keras dari kepalanya.
"Kau ingin aku ke rumah sakit apa!"
"Mati sana!"
"Ya!"
"Mati sana... hiks! Saegya..."
Jimin kembali duduk, mengelap kasar kedua pipinya yang basah, "mati saja sana..."isaknya sarat akan kekesalan. Dan kemarahannya semakin menjadi tatkala Yoongi terkekeh tanpa merasa bersalah.
"Berani kau tertawa aku akan mengulitimu sekarang."
Yoongi terdiam. Tidak pernah Jimin berani berkata kasar seperti itu kepadanya. Jelas-jelas kejutannya ini benar-benar membuat Jimin murka. Jadi ia berdehem. Menjilat bibir dan-
"Hyung!"
-tetap tak tahan untuk tidak tertawa. Wajah kesal Jimin memang sesuatu yang sangat menarik bagi Yoongi.
"Mian, mian,"senyumnya memeluk Jimin. Sempat ada penolakan dan pukulan keras pada dadanya, tapi tak ia gubris malah semakin menenggelamkan tubuh Jimin dalam dekapannya.
"Aku merindukanmu,"bisiknya meresapi aroma Jimin. Menghirup napas dalam-dalam pada syal rajut Jimin yang berwarna jingga.
"Aku merindukan, Jimin. I miss you so much, Honey."
Masih tersisa isakan dari mulut Jimin. Membalas ucapan Yoongi, ia berusaha keras menahan tangisannya, "nado. Aku benar-benar merindukanmu..."
.
PIntu terbuka.
Nyonya Park tergopoh dari dapur hendak menyambut kedatangan putra pertamanya. Namun ternyata senyum di bibirnya seketika sirna ketika sampai di pintu depan.
"Eomma!"Jimin menghambur memeluk ibunya yang mematung kehilangan kata-kata.
Wanita bercelemek itu terdiam memandangi tamu tak diundang yang bergerak selangkah ke depan dari ambang pintu.
"Annyeog haseo,"bungkuk Yoongi hormat.
.
Bukan ini yang diharapkan Tuan Park setelah pulang bekerja. Bukan dihadapkan pada kedatangan seorang pria yang masih jelas dalam ingatannya pernah menjadi kekasih anak lelakinya.
"Untuk apa kau ke sini?"geram Tuan Park menahan emosi sesaat setelah Yoongi menyapanya dengan sopan. Ia duduk di depan pemuda Daegu itu, menampilkan ketegasan intimidasi. Pikirannya mulai mengerti kenapa Jimin bersikap baik dua tahun ini.
Yoongi membalas tatapan Tuan Park sama tegasnya. Sedang Jimin di sebelahnya meremas jemari menunduk dalam. Lalu ada Nyonya Park yang memperhatikan mereka dari meja makan dengan mata yang sudah sembab.
"Min Yoongi imnida."
"Kau tidak perlu memperkenalkan dirimu. Kutanya untuk apa kau ke sini?"
"Saya-"
Yoongi disela oleh sentuhan jemari yang gemetar pada lengannya. Jimin menggigit bibir, memberi tatapan sangsi seolah-olah Yoongi tidak seharusnya melanjutkan kata. Melihat itu Yoongi malah tersenyum lembut dan menggenggam erat tangan Jimin.
"Saya akan menikahi Jimin-"
Tinju Tuan Park melayang cepat mengenai rahang atas Yoongi.
"Appa!"
"BERANI KAU MENGATAKAN ITU HHA!?"
Yoongi sama sekali tidak takut. Ia tetap bersikap tenang. Tetap memandang lurus wajah Tuan Park.
"Saya akan menikahi Jimin-"
"Appa!"jerit Jimin semakin panik, karena kali ini ayahnya menarik kerah baju Yoongi memukul pria itu jauh lebih keras dari sebelumnya hingga mau tak mau membuat Yoongi jatuh tersungkur dengan mulut berdarah.
"Yeobo!"Nyonya Park langsung bergerak menghampiri suaminya.
"Appa..."lirih Jimin, ia sudah menangis. Dengan mata penuh air mata ia memelas kepada ayahnya, "Aku sudah berhak menentukan jalan hidupku... aku sudah berhak-"isakannya menjadi, bibirnya gemetar hebat tak sanggup berbicara lagi.
Yoongi yang sempat merasakan pening, bergerak untuk bersujud, "saya akan menikahi Jimin,"ucapnya tegas, "saya akan membahagiakan Jimin."
Jimin mengulum bibirnya, isakannya belum berhenti, ikut bersujud seperti Yoongi.
Selang beberapa detik hanya terdengar deru napas Tuan Park yang penuh emosi. Kilatan matanya yang mengandung kecewa dan amarah mematai dua pemuda yang tengah bersujud di hadapannya.
Tidak terbesit sedikitpun rasa maklum dalam dirinya. Tidak secuilpun muncul penerimaan dalam hatinya. Dadanya masih naik turun. Wajahnya masih mengeras.
Ucapan final akhirnya terlintas dalam benaknya.
"KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG! KAU BUKAN ANAKKU LAGI!"
.
Yoongi menatap koper Jimin. Koper besar yang dibawa Jimin dari rumah Bibinya, menuju rumahnya di Busan, lalu kini malah berakhir di kamar hotel mereka.
Kompres dingin Yoongi lepaskan dari pipinya. Matanya beralih pada Jimin yang sedang menyiapkan obat untuk luka di bibir serta pelipisnya.
"Masih pusing?"tanya Jimin lembut setelah ikut duduk di ujung rajang. Ia mendongakkan kepala Yoongi dan mendekatkan wajah ke sana memperhatikan baik-baik luka-luka yang terasa segar.
Yoongi menggeleng pelan. Lalu dengan hati-hati Jimin mulai mengobati wajahnya.
"Besok pagi akan aku pesankan bubur,"jari telunjuk Jimin bergerak pelan-pelan mengusapkan salap di pelipis Yoongi, "nanti tidurnya hati-hati, ya."
Mata Jimin menyipit untuk sudut bibir Yoongi, "apa gigimu baik-baik saja, Hyung?"
"Aku mencintaimu,"ucap Yoongi.
Jimin termangu. Kebetulan luka terakhir Yoongi memang sudah ia olesi dengan salap.
"Jimin."
Yoongi mendekap erat tubuh Jimin.
"Jimin."
Bisiknya berat menenggelamkan wajah di ceruk leher Jimin.
"Jimin..."
Jimin menggigit bibirnya. Mencoba untuk tidak menangis lagi. Namun rangkulan dan panggilan Yoongi terlalu ia mengerti. Jadi ia mulai terisak, membalas pelukan Yoongi lebih erat lagi. Prianya itu lalu menciumi lehernya, menjilat, menghisapnya penuh sayang membuat Jimin tergerak sendiri untuk membaringkan diri.
Meremas surai platinum Yoongi, isakan Jimin bercampur dengan lenguhan manja memanggil nama sang kekasih.
Deru napas mereka lalu beradu, bersitatap beberapa saat, Jimin bersikap pasrah untuk dilucuti semua yang membungkus kulit mulusnya. Napasnya kian memburu, mematai Yoongi yang kini melepas seluruh pakaiannya.
Jimin menarik Yoongi dalam ciuman panas yan cukup lama. Dibalas oleh Yoongi dengan sentuhan-sentuhan sensual di sekujur tubuhnya.
Kemudian dominan kembali merajai Jimin. Mengerjainya habis-habisan. Melukis jejak-jejak pelampiasan gairah. Membuahkan desahan tak tertahankan, tak tanggung-tanggung menggema ke penjuru ruang temaran.
.
"Morning."
Jimin yang baru terbangun, yang baru membuka kedua matanya, langsung tersenyum lembut kepada Yoongi, "morning..."balasnya agak parau merengsek dalam dekapan Yoongi.
Menempelkan pipinya di pucuk kepala Jimin, Yoongi menyisiri surai Jimin, "siang nanti kita akan kembali ke Seoul, lalu langsung pergi ke Amerika."
"Ne..."
"Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya di sana."
"Ne."
"Kau ingin kita mengundang siapa saja?"
"Seungkwan, Taetae, Kookie. Seokjin-hyung, Namjoon-hyung, Keiko."
"Hanya itu?"
"Ne. Aku lebih suka pernikahan yang sederhana. Dan yang hanya didatangi orang-orang terdekat."
"Hmmmm."
"Apa tidak apa-apa, Hyung?"
"Well, sebenarnya aku sudah merencanakan pernikahan yang mewah."
"Jinjja yo? Kalau sudah terlanjur-"
"Gwaenchana. Masih bisa diubah kok."
"Apa keluarga besarmu akan datang?"
Yoongi mendengus lucu, "keluargaku? Keluargaku ya? Kau tahu mereka seperti apa kan."
"Orang tuamu, Hyung?"
"Mereka akan datang. Kakek juga. Mungkin hanya mereka bertiga. Tapi jika kabar pernikahanku sempat bocor ke media, sepertiya semuanya akan datang. Membangun imej sebagai pihak yang menerima sesuatu seperti pernikahan kita."
"Aku senang jika mereka datang."
"Nah,"kini Yoongi melepas pelukannya dan membawa Jimin untuk berbaring di atasnya, "kau ingin kita bulan madu di mana?"
"Hmmmmm,"pikir Jimin, "o, ya. Keiko bilang Okinawa itu tempat yang sangat indah."
"Okinawa ya."
"Ne!"jawab Jimin semangat, kini ia duduk bersimpuh menindih perut Yoongi, "aku suka pantai."
"Call."
"Hyung juga lancar kan berbahasa Jepang."
"Yup."
"Ai shiteru,"celutuk Jimin tersenyum manis.
Yoongi terkekeh, mengacak rambut Jimin, "boku mo. Ai shiteru yo."
-flashback end-
.
.
.
.
"Hyung...?"
Yoongi tersadar dari lamunannya, ia bangkit dan mendapati Jimin yang ternyata sedang bergerak menuruni ranjang.
"Ada apa, Honey?"tanya Yoongi.
Jimin tak menjawab, dengan mata yang masih tertutup serta kesadaran yang belum penuh ia duduk di pangkuan Yoongi. Sepasang lengannya merangkul leher Yoongi. Dan sepertinya terlelap kembali.
Yoongi mendengus lucu, merebahkan tubuh mereka. Memilih memejamkan mata untuk tertidur setelah mengecup kening istri manisnya.
.
.
END
.
.
GAMSAHAMNIDAAAAAAAAAAAA
Love U All!
Sarang he!
See you next time ^^
.
.
Ganto, 24th October 2016
