Air langit satu persatu jatuh menabrak permukaan bumi. Awalnya enggan, namun kemudian mereka seolah berlomba-lomba mana yang lebih dulu untuk membahasi. Menjadi deras, membuat seorang pemuda bersurai blonde itu menghela napas panjang mengeluh pada diri sendiri.
Jimin menyesal karena tidak jadi membawa payung. Padahal hanya tinggal sembarang meraih yang ada di sebelah rak sepatu, sembari menyentak sepatu.
"Ini."
Sebuah suara mengalihkan perhatian Jimin dari air hujan yang mengalir jatuh di kanopi studio tari. Sudah ada payung yang tengah disodorkan kepadanya.
"Ou, gwaenchana. Aku akan menunggu hingga reda kok,"tolak Jimin halus. Pasalnya namja yang menawarkannya payung itu hanya memakai kemeja tipis. Dan dapat Jimin pastikan bahwa jika payungnya diterima oleh Jimin maka ia akan langsung berlari menerobos hujan begitu saja.
"Pakai saja. Aku tinggal berlari ke halte bis."
Yeah, dia hanya tinggal berlari ke halte bis. Karena tidak seperti Jimin yang tinggal satu blok dari sana. Tapi tetap saja Jimin merasa tidak enak. "Kalau begitu kita berdua ke halte dulu, setelah itu aku baru akan meminjam payungmu."
"Kau jadinya bolak baik, Jimin."
"Lebih baik begitu."
"Dan pacarmu- well, pacarku juga akan membunuh kita jika mereka tahu kita sepayung berdua."
Jimin memutar bola mata malas, "hanya sepayung berdua ketika hujan sederas ini tidak akan membuat mereka- YA! KIM TAEHYUNG!"
Taehyung sudah berlari kencang menerobos hujan tepat setelah melempar payung ke arah Jimin. Jimin baru saja refleks menangkap, belum lagi membukanya dan hendak menyusul tapi sosok Taehyung sudah terlalu jauh.
Jadi Jimin hanya mendengus tersenyum simpul dan mulai melangkah pulang.
#### ####
On Rainy Days
Min Yoongi x Park Jimin
Warning! Typo (s)!
Happy Reading
#### ####
"Pardon me?"
"Sekarang aku sedang di apartemen Taehyung, Yoongi. Dia sakit-"
"Dia sakit dan kau yang merawatnya?"
"Jungkook baru bisa besok kembali dari Busan. Lagipula Taehyung sakit karena aku kan."
"Okay, dia sakit karena kau?"
"Tadi malam kan aku sudah cerita kalau Taehyung yang meminjamkan payungnya-"
"Karena Taehyung yang meminjamkan payungnya untukmu lalu dia kehujanan dan sekarang dia sakit. Jadi kau yang harus merawatnya, begitu?"
"Well. Benar kan."
"Kau tiba-tiba membatalkan kencan kita karena hal seperti ini."
"Hei. Sudah kubilang bukannya batal, tapi akan benar-benar terlambat. Mungkin kita baru bisa bertemu setelah jam makan siang. Demamnya juga tinggi, badannya benar-benar lemas tidak sanggup melakukan apa-apa. Bahkan aku harus menyuapi-"
"KAU MENYUAPINYA!?"
Jimin menghembuskan napas panjang. Lalu kembali menempelkan handphone yang sesaat tadi secara spontan ia jauhkan dari telinga. Yoongi benar-benar langsung berteriak.
"Taehyung sedang sakit, Yoongi. Plis, aku sudah mengirim fotonya kan."
"Kenapa kau mau-mau saja menerima payungnya hha!"
"Dan kenapa kau tidak bisa menjemputku heoh."
"Aku sudah bilang-"
"Plis, aku tidak mau berdebat. Bisa-bisa kita bertengkar dan kencan kita akan benar-benar batal."
"Batalkan saja."
"Hha?"
"Aku akan pergi bersama Hoseok saja."
"Mworago?"
"Well, Hoseok memang mengajakku pergi hari ini, tapi aku menolaknya karena kencan kita. Dan sekarang jika kau sibuk menjadi perawat dadakan lebih baik aku menerima ajakannya."
"Hei, kenapa-"
"Kau selalu saja memprioritaskan alien itu kan."
"Demi Tuhan. Dia sahabat terbaikku, Yoongi. Sudah berapa kali aku bilang-"
"Ya ya ya ya. Kalian sudah berteman sejak SMA. Sedangkan aku baru mengenalmu sejak semester tiga."
"Aku tidak suka nada bicaramu, Yoongi."
"Dan aku tidak suka perhatian berlebihan-mu terhadap Kim Taehyung!"
"Wah. Kau sebut apa 'begadang semalaman hanya berdua dengan Hoseok' hha!"
"Ya! Itu karena- Aiish! Setidaknya aku tetap menomorsatukanmu kan!"
"Ne! Geure! Kau selalu menomorsatukan-ku tapi disisi lain kau lebih sering menghabiskan waktu bersama Jung Hoseok!"
"Kau sendiri yang bilang tidak apa-apa kan!"
"Karena aku tahu kau tidak suka dituntut ini itu makanya aku tidak pernah terang-terangan meminta waktumu!"
"Terserah. Pokoknya kencan hari ini batalkan saja."
"Ya! KAu-"
Sambungan telpon diputus secara sepihak. Napas Jimin tentu jadi memburu karena marah. Dadanya kembang kempis menahan emosi, berdebat dengan Yoongi memang hanya akan berujung sakit hati. Jimin memang tipikal penyabar, Jungkook bahkan mengakui makhluk paling sabar yang pernah ia kenal adalah seorang Park Jimin, tapi Yoongi bukan main temperamennya.
Yoongi gampang meledak-ledak, mudah kesal dan tidak terlalu pengertian. Sikapnya slengehan dan tidak suka diatur meskipun itu demi kebaikannya. Emosinya bisa saja terpancing karena hal-hal sepele. Semua Jimin maklumi walaupun sebulan setelah barulah diketahui Yoongi dibesarkan dalam keluarga yang benar-benar bermasalah.
Dan Jimin tak pernah merasa bahwa selama ini dialah yang banyak mengalah. Lagi, karena wataknya memang penyabar. Tapi Jimin pencemburu, malah jika diperhatikan baik-baik dia lebih pencemburu dibanding Yoongi. Jadi emosinya akan ikut tersulut jika itu berhubungan dengan pihak lain.
Apalagi Jung Hoseok.
Mantan kekasih Yoongi.
"Heol! Kenapa aku mau berpacaran dengan si pucat yang bisanya cuman berteriak kesal!"
"Karena kau sendiri sadar dibalik sisi badboynya, sebenarnya Min Yoongi memiliki hati yang baik."
"Ugh..."
Jimin menggembungkan kedua pipinya. Mulutnya cemberut tapi tangannya tetap bekerja dengan baik melap tubuh Taehyung yang banjir oleh keringat.
"Dan kenapa dia musti masih berteman baik dengan mantan kekasihnya."
Taehyung terkekeh. Lemah. Jika dia sedang sehat maka dia akan tertawa keras. Melihat Jimin yang seperti ini adalah suatu hal yang lucu bagi dirinya. Jarang-jarangnya Jimin merajuk, jarang-jarangnya Jimin melontarkan kekesalannya. Taehyung jadi merasa perlu berterima kasih kepada Yoongi, karena secara tidak langsung meladeni seorang Min Yoongi membuat Park Jimin ikut terbawa untuk mengeluarkan apa yang ia rasakan.
"Wae?"gerutu Jimin mendapati kekehan dan senyuman dari Taehyung.
"Aku saja tahu kalau Yoongi benar-benar tidak memilki rasa apapun lagi terhadap Hoseok."
"Tapi-"Jimin mendesah panjang kemudian menduduk dalam, "jadi seperti ini ya yang dirasakan Yoongi,"ujarnya lesu memandangi handuk kecil basah yang ia genggam.
"Yeah. Makanya, sudah kubilang aku tidak apa-apa kan."
"Tidak apa-apa apanya! Kau itu bisanya cuman omong besar. Dasar, kalau aku tidak cepat-cepat ke sini kau akan mati karena demam! Suhu tubuhmu tinggi sekali tahu!"
"Iya iya. Tapi sekarang sudah aku tidak apa-apa kan. Suhu tubuhku sudah turun, aku sudah makan bubur buatanmu, aku sudah makan obat, bajuku sudah diganti. Yang perlu aku lakukan sekarang hanyalah tidur. Dan aku tidak butuh seseorang ketika aku sudah tertidur, okay."
"Tapi, kalau tiba-tiba saja kondisimu memburuk bagaimana?"
"Sepertinya Jungkook sebentar lagi akan datang."
"Eh? Bukannya dia baru besok bisa kembali?"
"Yeah. Tapi tadi pagi sepertinya dia menghubungiku setelah kau menelpon. Aku tidak begitu ingat, dan kau menyita handphoneku jadi aku tidak bisa mengecek-nya lagi. Tapi firasatku mengatakan seorang Jeon Jungkook sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Ou..."
"Nah, bisakah kau kembalikan handphoneku? Aku janji, aku hanya ingin memastikan di mana Jungkook."
"Jangan bermain game."
"Okay."
"Jangan membuka naver."
"Okay."
"Jangan-"
"Oh! Cepatlah, Jimin. Kau sendiri tak sabar untuk menyusul Yoongi kan."
"Siapa bilang aku ingin menyusul Yoongi."
Taehyung melempar tatapan datar dan Jimin membuang buka enggan mengiyakan.
"So, hyudaephon juseyo?"
#### ####
Jimin belum tahu akan ke mana dulu setelah keluar dari apartemen Taehyung. Tujuannya memang pasti, yaitu menyusul Yoongi. Tapi entah itu harus ke apartemen Yoongi, ke apartemen Hoseok, ke studio Yoongi, ke tempat janjian mereka atau ke manapun itu yang berkemungkinan adanya Yoongi -ke mana sekiranya Hoseok mengajak Yoongi-.
Dan Jimin tidak mau menghubungi Yoongi untuk memastikan itu. Lebih tepatnya Jimin yakin bahwa kekasihnya itu tidak akan membaca pesan dan tidak akan mengangkat telponnya sampai nanti sore.
Tapi yang jelas Jimin tidak ingin membuang waktu, karena itu tepat setelah jemari Taehyung menunjukkan isyarat 'oke' ketika menelpon Jungkook Jimin langsung bergegas pergi meskipun belum tahu harus ke mana.
Apa dia harus menelpon Namjoon, barangkali sahabat Yoongi itu tahu-
"Eh?"
Jimin baru saja mengeluarkan handphone dari dalam ransel ketika kehadiran seseorang tertangkap penglihatannya. Membuatnya menghentikan langkah dan keheranan.
"Kenapa-"Jimin kembali berlari kecil hingga sampai tepat di hadapan Yoongi, "kenapa kau di sini?"tanyanya heran mendapati dia dan Yoongi kini berada tak jauh dari gedung apartemen Taehyung.
Yoongi balik bertanya dengan napasnya yang putus-putus karena telah berlari kencang, "kau sendiri? Bukannya kau-"
Serbuan air hujan sontak saja menghujami mereka. Awan mendung bukannya mengeluarkan gerimis terlebih dahulu, melainkan langsung guyuran deras. Sepasang kekasih itu secara spontan berlari untuk berteduh. Sekarang mereka berdiri di depan minimarket 24 jam.
"Jadi, kenapa kau bisa ada di sini?"tanya Jimin menahan senyum. Well, karena dia sebenarnya sudah tahu jawabannya. Tapi mendengar langsung dari mulut Yoongi rasanya lebih menyenangkan.
"Aku ingin menghajar Alien Brengsek bernama Kim Taehyung karena sudah mengacaukan kencanku dengan Park Jimin. Aku akan mematahkan tulangnya, jadi dia harus dilarikan ke rumah sakit dan tentunya dirawat oleh perawat asli."
"Waah. Kau bisa dilaporkan ke polisi lho, Min Yoongisshi."
"Biar saja."
"He-eh. Park Jimin-mu itu mungkin akan sedih jika kekasihnya- hatsyi!"
"Ck. Tahu begini aku akan membawa jaket." Yoongi mendecak kesal seiringan dengan tubuhnya yang bergerak memeluk Jimin, "baju kita sama-sama lembab, tapi setidaknya kalau begini lumayan hangat kan."
"Un."
"Jadi, kau akan ke mana heoh? Sudah selesai main perawat-perawatnya?"
"Menyusulmu."
"Hm?"
"Iya, menyusulmu. Aku ingin melabrak Kuda Kelebihan Energi bernama Jung Hoseok karena sudah seenaknya mengajak Min Yoongi- Hei, jangan tertawa! Aku serius."
"Iya iya,"Yoongi mengeratkan pelukan mereka. Menghirup napas dalam-dalam pada perpotongan leher Jimin yang tertutupi turtleneck sweater warna merah, "aigo. Kalau kau yang berkata kasar kenapa jatuhnya menggemaskan ya."
"Ugh..."
"Eh, tapi. Kau tidak boleh mengganggu Hoseok."
"Kenapa?"
"Setidaknya setelah proyek kami selesai, okay."
"Proyek?"Jimin melonggarkan dekapan Yoongi untuk sekedar bisa melihat jelas wajah kekasihnya.
"Em. Kami sedang merampungkan beberapa lagu."
Mulut Jimin terbuka dan ia mengangguk-angguk mengerti, "jadi karena itu kalian lebih sering bersama akhir-akhir ini. Bahkan tadi malam juga."
"Well."
"Apa proyek kali ini sepenting itu hm?"
"Ou..."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Itu- karena-"
"Karena jika proyek kalian berhasil, maka kau akan bisa menghadiahkan sesuatu yang spesial kepadaku."
"DAri mana kau- Aish! Dasar monster sialan."
"Nah, bukannya Namjoon sih. Lebih tepatnya Seokjin-hyung."
"Dasar tukang gosip."
"Aku tidak pernah ke Jaeju sebelumnya. Jadi aku sangat menantikannya."
Yoongi menggeram kesal, "sejauh mana Si Tukang Makan Sialan itu memberitahumu?"
"Guess."
"Jadi, kau memang lebih suka mawar putih daripada mawar merah kan."
"Waw. Aku belum tahu bagian yang itu."
"Fuck..."
"Wah, aku tidak tahu ternyata kau bisa seromantis itu, Min Yoongisshi."
"Romantis apanya kalau sudah ketahuan."
JImin tertawa kecil dan mengecup kedua pipi Yoongi, "aigo. Apa kau juga demam heoh. Kenapa pipimu merah sekali."
"Terserah." Yoongi mencebik kesal lalu melangkah memasuki minimarket dengan menautkan jemarinya dengan milik Jimin. Mereka kemudian mengganti acara nonton ke bioskop mereka dengan duduk di meja dalam minimarket menyantap ramyun panas instan yang terlihat lebih lezat ketika hujan. Seraya mengobrol ringan seperti biasanya, kali ini ditambah dengan bahasan mengenai tempat-tempat menarik yang ada di Pulau Jaeju.
-CUE-
Gamsahamnidaaaa ~
Ganto, 30 September 2017
