"Kau pikir dengan tubuh sependek dan segemuk itu kau bisa jadi model apa!?"lantang Yoongi berteriak keras tepat di depan Jimin yang sudah siap mengeluarkan tangis.
"Lihat tampangmu!"lanjut Yoongi semakin kasar, "kau hanya akan menjadi badut di sana! Agensi mana yang mau menjadikanmu model hha!"
"Hiks!"
"Kalau mau melucu pergi ke tengah pasar sana! Teriakkan lelucon yang selalu ayahmu ucapkan atau menari seperti orang gila. Jangan seperti ini, nekat merantau ke kota besar untuk menjadi-"
"BERISIK!"
Pekik Jimin murka.
Lalu berlinang air mata, ia yang semula hanya bisa menunduk mendongakkan kepala. Membalas tatapan tajam sang kekasih dengan pandangan yang tajam pula- bercampur rasa kecewa.
"Kau tidak perlu menghinaku sampai seperti itu kan!"kesal Jimin. Memberengut bibir tebalnya, benar-benar marah dengan pemuda pucat di hadapannya.
Sedang si pemuda pucat tetap merasa tidak bersalah, kekecewaan Jimin jadi bertambah-tambah sekarang.
Min Yoongi memanglah seseorang yang bermulut pedas. Pacar yang sangat tidak romantis, dan selalu saja mengejek dan memarahi Jimin. Padahal sebenarnya ia hanyalah seseorang yang terlalu malu untuk berkata jujur sesuai dengan perasaannya.
Sekarangpun, Yoongi berkata seperti itu semata-mata agar Jimin mengurungkan niatnya untuk ke Seoul dan tetap berada di Busan bersamanya. Namun sayangnya, sepertinya Jimin berpikir bahwa Yoongi serius mengolok-olok dirinya yang mencoba untuk meraih mimpi.
"Ya sudah! Terserahmu saja!"tandas Yoongi berbalik pergi, "kalau kau jadi bahan tontonan lawak di sana jangan sekali-kali menangis kepadaku!"
Jimin kian memberengut. Melap kasar kedua pipi basahnya dan melangkah meninggalkan gerbang Hanggae High School itu dengan kedua tangan yang terkepal terlampau erat.
"Sial... Hiks! Hiks!"
Gantosci
Annyeong ~
So, chapter ini terinspirasi dari komik yg ganto lupa judulnya apa, yg ganto lupa kapan bacanya, yg ganto ingat cuman inti ceritanya. Haha.
Semoga masih bisa menghibur
Happy reading ~
Gantosci
Jimin mendesah panjang membaca email masuk dari teman semasa SMA-nya sehabis berendam selama kurang lebih satu jam dengan produk perawatan kulit, dan kini tengah bersiap untuk tidur.
Undangan Reunian.
Ia jadi teringat pada perpisahan dikala itu. Perpisahannya dengan Yoongi, ketika ia dengan persiapan batin yang bukan main mengatakan akan benar-benar mengejar mimpinya kepada sang kekasih. Namun yang ada, tepat di depan gerbang sekolah mereka, hubungan Yoongi dan Jimin kandas begitu saja.
Memang tidak ada kata-kata 'putus' yang jelas dari keduanya, namun sejak pertengkaran dihari kelulusan tersebut mereka tak lagi saling menghubungi, tak lagi saling berkomunikasi. Bahkan Yoongi tidak melepas kepergian Jimin ke Seoul.
Dan tanpa terasa, sudah tiga tahun berlalu semenjak itu.
Sejak merantau ke Seoul, Jimin belum pernah sekalipun pulang ke kampung halamannya. Meskipun Chuseok ia tetap betah berada di Seoul. Berlatih giat dalam sekolah modelnya. Berjuang habis-habisan agar bisa meraih mimpinya. Banyak hal yang sudah ia lakukan, termasuk diet ketat dan membeli obat serta alat penumbuh tinggi badan dengan gaji parttime di mana-mana.
Kini berat Jimin memang bisa dikatakan ideal, namun tinggi-nya masih dibawah rata-rata untuk menjadi model yang sempurna. Mungkin karena itu seorang Park Jimin kalah saing dengan teman-teman se-universitasnya. Well, tapi banyak model sukses yang bertumbuh pendek di dunia ini, karena itu Jimin masih belum ingin menyerah.
Sejauh ini pencapaiannya hanyalah pernah menjadi salah satu model brand baru yang tentunya belum terkenal, itupun bersama dengan sebelas calon model lainnya yang dimuat di majalah lokal. Namun itu sudah cukup memuaskan bagi Jimin. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa ia banggakan kepada teman-teman SMA-nya ketika reunian nanti.
Apalagi kepada Yoongi.
Tiga tahun. Tiga tahun tenggelam dalam meraih mimpi dan keberhasilannya hanya secuil dibanding teman-teman sekelasnya yang sekarang.
"Apa aku tidak usah pergi ya..."
Jimin merebahkan tubuh penatnya ke kasur empuk. Menatap langit-langit kamar begitu lama, dengan pikiran yang menerawang kepada masa SMA-nya.
"Aku bahkan sangat jarang menghubungi mereka..."desah Jimin,"Taetae dan Kookie kabarnya bagaimana ya. Apa mereka masih bersama, atau mereka sama seperti aku dan- ugh. Pasti dia datang! Hoseok dan Namjoon kan panitianya! Mana mungkin si pucat itu tidak datang! Ish! Aku tak akan datang! Lebih baik aku bekerja parttime dan membeli produk perawatan kulit yang lebih mahal!"
"Yosh! Kau tidak usah datang Jimin! Un! Lebih baik sibukkan dirimu dengan mencari uang!"
Begitu tekad Jimin, cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan selimut. Menutup mata erat mencoba tertidur, namun sebuah kenangan tiba-tiba terlintas begitu saja.
"Kau bilang apa barusan?"
"Kubilang, apa kau mau jadi pacarku heoh?"
"Hha?"
"AISH! Jangan membuatku mengatakannya lagi! Kau suka padaku apa tidak hha?"
"Ou.. ne..."
"Okay, mulai sekarang kau resmi menjadi pacarku."
"Hei! Apa kau tidak bisa lebih romantis lagi hha!"
"Terserah!"
"Yoongi..."lirih Jimin pelan.
#### ####
Jimin baru saja turun dari kereta yang membawanya dari Seoul menuju Busan.
Yeah, Busan.
Minggu pagi ini begitu cerah dan juga terik, namun Jimin memakai pakaian yang serba tertutup dan berwarna gelap. Kaos lengan panjang, jins sobek, topi hitam, kacamata hitam dan bahkan masker. Ya, masker.
Karena dia tidak ingin ada yang tahu tentang kedatangannya ke Busan pada hari Minggu bulan September ini. Seharusnya sekarang dia sedang berada di salah butik di jalanan Gangnam untuk pekerjaan paruh waktunya, namun entah kenapa dia tiba-tiba meminta cuti tadi malam dan malah bertolak menuju Busan.
Yup, seharusnya begitu, bukannya malah datang ke kampung halamannya.
Tapi Jimin tak sanggup membohongi perasaannya sendiri. Dia rindu teman-teman masa SMAnya. Fakta yang tidak bisa Jimin pungkiri. Dia juga merasa sudah terlalu lama tidak pulang kampung menemui kedua orang tuanya.
Tapi disisi lain, dia juga belum siap bertemu mereka. Jadilah dia berniat untuk melihat keadaan dan kondisi terlebih dahulu, baru menampakkan dirinya ketika merasa sudah semestinya. Karena itu Jimin memutuskan untuk berada di cafe lain, di seberang cafe tempat reunian kelas 3-A Hanggae High School angkatan ke 46. Kelasnya dan Yoongi dulu.
Kelas di mana ia mencuri lihat ke arah Yoongi ketika Guru Matematika menjabarkan rumus, kelas di mana mereka sudah menjadi pasangan kekasih yang tak berhenti ditertawakan, kelas yang membuatnya semakin dekat dengan Yoongi setelah dua tahun hanya berhubungan karena kegiatan klub.
"Aigo~"decak Jimin kagum melihat Taehyung dan Jungkook datang berboncengan dengan motor, memasuki cafe bergandengan tangan dan disambut meriah oleh yang lain.
"Asiknya ~ Mereka makin mesra ternyata. Haha."
"Oh! Seokjinie~ Astaga! Dia semakin goodlooking saja~ Tidak memakai kacamata tebal lagi hm, ck sudah kubilang dari dulu kalau dia itu cocok memakai softlens. Lihat, Namjoon jadi posesif kan, haha."
"Heol! Si kuda sama sekali tak berubah! Kkkk."
Jimin bermonolog ria memandangi cafe di seberang sana, kadang tertawa sendiri kadang tersenyum sarat merindu. Kedua matanya begitu fokus pada jendela bening di dekatnya yang menampilkan pemandangan haru dan penuh nostalgia tersebut. Sampai-sampai ia tidak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arah mejanya.
Bahkan pria berkulit pucat itu sudah duduk di hadapan Jimin. Mendengus lucu melihat Jimin kemudian tangannya terulur meraih topi dan kacamata hitam si pemuda manis.
"Park Jimin. Kenapa kau malah di sini heoh?"
#### ####
I Miss U by Gantosci
YoonMin. Yoongi x Jimin.
Warning! Typo (s)
#### ####
"Yoongi..."
Jimin seketika terpana akan sosok di hadapannya.
Min Yoongi.
Kekasihnya semasa SMA.
Seseorang yang bahkan sampai kini masih selalu ia pikirkan.
"Kenapa kau malah di sini heoh?"tanya Yoongi santai. Berbeda sekali dengan Jimin yang masih terdiam tak mampu berkata-kata.
"Hei. Gwaenchana?"tanya Yoongi lagi, melambai-lambaikan tangan kirinya tepat di depan wajah Jimin. Sedang tangan kanannya dipakai untuk menopang dagu kurusnya.
"Eh?"
Jimin langsung tersadar dari pikirannya, "ou... ne, gwaenchana yo,"gagapnya sedikit bergetar karena sungguh, rasanya ia ingin menangis detik ini juga. Oh, Jimin akhirnya mengakui bahwa alasan terbesar ia memutuskan untuk tetap ke Busan adalah karena Min Yoongi.
Ya, Min Yoongi.
Membuat detik ini jantungnya berdebar tak karuan. Ekspresinya susah dikendalikan. Tak tahu harus bagaimana. Namun, Yoongi-
"Haloo! Kau salah makan hha?"
-kenapa Yoongi bisa sesantai ini menyapanya, kenapa Yoongi malah bersikap biasa-biasa saja. Mereka sudah tidak bertemu selama tiga tahun penuh. Apa hanya Jimin yang masih terjebak akan masa lalu mereka. Apa Yoongi tidak pernah lagi memikirkannya.
Ah, atau Yoongi sudah memiliki pengganti dirinya. Mungkin karena itu ekspresi Yoongi benar-benar datar tak mengandung apa-apa. Begitu pikir Jimin, membuat ia dengan mudah berbalik bersikap biasa pula.
"Es krim-mu sudah mulai mencair tuh,"tegur Yoongi.
"Eh? Ou! Iya, ya,"cepat-cepat Jimin meraih sendok dan menyuap rakus pesanannya yang tak tersentuh selama belasan menit lalu. Tepat ketika suapan terakhir, ia mendengar kekehan Yoongi yang khas, yang sama sekali tak berubah dari dulunya.
Jimin mengerjap pelan memandangi Yoongi, melalui ekspresinya mempertanyakan apakah Yoongi barusan menertawakannya.
Dibalas oleh senyuman lebar dari Yoongi.
"Kau sama sekali tidak berubah. Dasar. Park Chimchim,"Yoongi mengacak-acak rambut silver Jimin. Ia lalu membersihkan noda es krim di sekitar mulut Jimin, menyapu dengan ujung jempol kemudian menjilat dan memakannya.
Jimin terdiam lagi dibuatnya.
Tidak hanya penampilan Yoongi yang masih tetap terkesan berantakan, tawa khas yang masih sama seperti terakhir Jimin dengar, namun perlakuannya-pun tetap saja sama.
"Kenapa memakai topi dan kacamata hitam segala heoh. Memangnya kau bintang terkenal apa. Ck, ck,ck kau itu masih saja aneh, Jiminie."
Dan masih juga suka mengejek keka- mantan kekasihnya.
#### ####
"Sudah kubilang akan turun hujan kan! LIhat! Kita kita jadi basah kuyup seperti ini!"
"Mian..."
"Kau baca pesanku kan! Kalau kubilang cepat, ya cepat dong. Kenapa kau lama sekali-"
"Habis, aku tak tahu ternyata membakar ini memerlukan waktu yang sangat lama ."
"Hha?"
Yoongi yang semula sibuk mengibas-ibas jaket akhirnya melihat kepada Jimin. Kekasihnya itu menunduk memegangi kotak berisakan sesuatu yang membuat mereka musti berlari kencang sepulang sekolah menuju halte bis terdekat.
Tembikar yang seharusnya besok baru bisa diambil, Jimin malah memohon pada guru keseniannya agar bisa dibakar saat itu juga.
Jaket yang dikibas-kibas Yoongi agar cukup kering untuk meradakan dinginnya hujan, ia sampirkan pada tubuh Jimin dengan hati-hati. Bertolak belakang dengan kata-kata yang kemudian ia ucapkan.
"Astaga! Jadi ini katanya 'ada urusan' tadi hha. Heol. Park Jimin, berapa kali aku harus bilang! Berhenti-"
"Besok sudah lewat hari valentine..."
"Hha?"
Jimin mendongak, menatap lekat kedua mata Yoongi. Memberikan senyuman termanis yang ia punya sembari menyodorkan kotak berisi kerajinan tangan karyanya sendiri.
"Ini untukmu."
Katanya malu-malu dengan rona merah menghias di kedua pipi.
Yoongi mengerjap cepat. Termangu untuk beberapa saat.
Kekasih Jimin itu langsung mati kutu tiap kali dihadapkan pada situasi seperti ini. Ia selalu tak bisa mengimbangi Jimin yang menciptakan percikan romantisme dalam hubungan mereka. Nah, dia memang tak bisa seperti itu, namun ia bisa menerima pemberian Jimin dengan senyuman tipis -sok cueknya- dan pandangan tulus serta kecupan hangat di dahi sebagai rasa terima kasih.
"Kau tahu aku tidak peduli dengan- apa itu- palentain? Heol. Kau tidak usah repot-repot seperti ini,"desah Yoongi memeluk tubuh Jimin yang sudah terbungkus jaket hitamnya.
"Hehe~"
Jimin balas memeluk, lalu mereka saling pandang untuk beberapa saat hingga akhirnya sama-sama menutup mata dan mendekatkan wajah mereka.
Mereka akan berciuman, namun tetesan air mengenai kening mereka membuat mereka serentak mendongak dan mendengus lucu mendapati atap halte yang ternyata bocor.
Yoongi menarik tubuh Jimin ke sudut lain, dan setelahnya menuntaskan ciuman mereka yang tadi sempat tertunda.
"YA!"
"Eh?"
"Astaga! Apa kau masih mabuk perjalanan hha! Kenapa dari tadi kau hanya melamun seperti orang idiot."
"Ya! Siapa yang idiot hha!"
"Kau."
"ISh! Maaf, maaf,"desah Jimin duduk di bangku halte, "ngomong-ngomong, kenapa kau mengajakku berkeliling hm? Plis, apa setelah ini kita masih lanjut? Aku sudah mulai capek."
Yoongi ikut duduk di samping Jimin. Memandang lurus ke arah pantai di seberang sana, "aku hanya ingin kau tahu, bahwa desa kita sudah banyak berubah."
Jimin mengikuti arah pandang Yoongi. Ia jadi teringat ketika dulu pernah bermain air di pantai itu setelah pulang sekolah dan tentunya juga ingat ciuman pertama mereka di halte ini.
"Haltenya sudah lebih keren ya,"komentar Jimin.
"Yup,"angguk Yoongi.
"Banyak yang berubah, tapi pantainya masih sama."
"Ne..."angguk Yoongi lagi, "pantai kita memang belum-"
"Kau juga."
Yoongi menoleh untuk Jimin yang masih setia memandangi lautan.
"Kau juga masih sama seperti dulu, Yoongi,"sambung Jimin. Untuk beberapa saat ia memberi jeda, kemudian berpaling dari pantai untuk membalas tatapan Yoongi dengan senyuman lembut dan pandangan teduh penuh makna. Sepasang manik indahnya menerawang jauh, seolah-olah sangat ingin agar Yoongi memahami betul apa yang ia rasakan.
Rindu.
Ingin mengenang masa-masa dulu.
Masa-masa di mana mereka masih saling merasakan sengatan listrik tiap kali menyentuh. Berbagi keseruan masa muda mereka, sama-sama mencuri lihat ketika guru menerangkan.
Desiran ombak terdengar. Angin pantai menyapa keduanya.
"Selanjutnya ke Hanggae,"ucap Yoongi memecah keheningan mereka. Berdiri dan mulai melanjutkan langkah.
"Pas,"balas Jimin cepat, "jika kita musti berjalan kaki lagi, aku akan tetap di sini menunggu bis dan kembali ke cafe tadi."
"Oh, ayolah. Kau bukannya tidak kembali setelah puluhan tahun sampai-sampai lupa bahwa Hanggae dekat dari sini kan. Sangat dekat lho."
"Pas."
"Ck, Jiminie, ayolah. Kau sudah harus kembali ke Seoul nanti malam kan. Kapan lagi hm. Di sana saja kita beristirahat, okay."
"Nope."
"Bukannya model selalu melatih cara jalannya heoh. Berarti kalian sudah terbiasa kan 'jalan-jalan'. Kenapa baru segini saja kau sudah kecapekan sih."
Jimin hanya bisa membalas kata-kata Yoongi dengan ekor mata yang melirik tajam. Tubuhnya sudah terlalu letih untuk beradu mulut.
"Ayolah~"bujuk Yoongi tak menyerah.
"Heol. Baiklah..."desah Pemuda Park mulai mengikuti langkah semangat sang Pemuda Min dengan ogah-ogahan.
Namun kemudian tersampir senyuman simpul pada wajah manisnya, memandangi punggung Yoongi dengan tatapan memuja seperti dulu. Seperti ketika ia menonton permainan basket Yoongi, ketika ia diam-diam mengikuti Yoongi sepulang sekolah sebelum berpacaran, ketika ia menerima mawar pertama dari Yoongi, ketika ia mendapatkan ciuman pertama dari Yoongi, ketika ia-
"WAA!"
BRUK
"Ugh..."
Kaki Jimin tersandung. Tubuhnya tersungkur di trotoar. Lutut kirinya tergores, berdarah. Membuatnya meringis sakit dan belum bisa berdiri bangkit. Dan juga menyesal karena lebih memilih untuk memakai jins sobek dibanding jins biasa.
Bisa-bisanya Jimin tersandung, well kedua matanya selalu terkena sihir untuk setia memandangi sosok Yoongi seorang.
Yoongi yang beberapa langkah di depan langsung berbalik, bergegas menghampiri Jimin.
"YA! Kau-"
"Kau itu umur berapa hha! Kenapa sering sekali tesandung! Sudah berapa kali aku bilang untuk berhati-hati kan! Aigoo, Pabo!"
Jimin pikir ia akan dimarahi. Menurutnya Yoongi akan berteriak kesal karena kecerobohannya. Namun yang ia dapati adalah wajah khawatir Yoongi yang begitu jelas. Menatap cemas dan menjongkok di hadapannya.
"Hei, kau tidak apa-apa heoh? Astaga lututmu."
Jimin tak mempedulikan luka fisiknya, ia lebih memilih sibuk mematai gelagat Yoongi yang diluar dugaannya.
"Heol. Bagaimana ini? Berdarah lho."
"Duh, kelihatannya cukup parah. Ck, apa kau bisa berdiri?"
"Astaga! Kenapa kau bisa tersandung!"
"Matamu itu melihat ke mana sih! Mana ada orang tersandung tanpa sebab zaman sekarang!"
Well, ternyata Yoongi memang tidak berubah.
Tetap ketus.
Tetap khawatir dibalik decak kesal tuturannya.
Berlagak mengejek padahal merasa cemas juga.
"Hiks..."
Yoongi terdiam melihat Jimin yang menunduk dalam, mendengar Jimin mulai terisak. Ia langsung gelapan antara ingin menyentuh luka Jimin apa tidak, "astaga! Apa sakit sekali?! Heol! Bagaimana ini! Apa aku harus mengendongmu? Duh, kalau digendong apa tidak apa-apa ya? Apa ketika aku mengangkatmu lukanya akan tersentuh dan malah-"
"Pabo!"isak Jimin.
"Hha?"
"Min Pabo!"kesal Jimin.
"Ya! Kenapa kau malah marah kepadaku hha."
"Kenapa kau masih saja khawatir kepadaku heoh! Sudah tiga tahun- hiks... Kenapa kau sama sekali tidak berubah. Kenapa kau membuatku masih suka dengan semua perhatianmu hha! Kenapa-"
Dagu Jimin tiba-tiba diraih. Ia dibuat mendongak dan bibir tebalnya dicium oleh Yoongi. Dikecup untuk kemudian dilumat hati-hati.
Tangisan kesal itu seketika berhenti. Tergantikan lenguhan pelan akibat pertarungan lidah penuh perasaan. Selang beberapa menit setelah itu, sang dominan memilih menyudahi ciuman mereka.
"Hei, tenanglah. Bukan sesuatu yang salah jika kau masih mencintaiku kan,"Yoongi terkekeh pelan dan tersenyum tampan setelah melepaskan tautan mulut mereka berdua. Ia sempatkan untuk mengecup kedua mata Jimin sebelum berbalik menghadapkan punggung kepada Jimin.
Jimin hanya mendengus tersenyum simpul lalu bergerak memeluk leher Yoongi dan memposisikan tubuhnya memberikan tanda bahwa ia siap untuk digendong.
#### ####
So far away ~
Naega-
"Kenapa kau tidak jadi penyanyi saja, Chim?"
Jimin tersenyum mendengar kata 'Chim' akhirnya keluar dari mulut Yoongi. Itu adalah panggilan sayang dari Yoongi untuk Jimin. Hanya dipakai ketika berduaan saja ataupun suasana serius.
"Eum,"Jimin mendengung berpikir-pikir, "entahlah, kenapa ya? Haha. Mungkin karena suara Jungkook jauh lebih bagus dari suaraku. Jadi aku pikir, suaraku biasa-biasa saja dan tidak pantas menjadi penyanyi."
"Hei, siapa yang bilang begitu heoh."
"Buktinya, setiap paduan suara selalu Jungkook yang menjadi penyanyi utama."
"Karena Gikwang-ssaem pribadi sangat suka dengan karakter suara Jungkook dan menurutnya suara Jungkooklah yang cocok untuk acara-acara yang selalu diadakan di sekolah. Bukan berarti suaramu tidak bagus, kau lupa heoh, kalau aku selalu memuji suaramu."
"Huh,"Jimin dalam gendongan Yoongi menoel-noel kesal pipi si pemuda pucat, "kapan si Tuan Bermulut Pedas ini pernah memuji sang Kekasih manis-nya heoh?".
"Pernah kok! Dasar. Umurmu bahkan belum mencapai pertengahan dua puluhan, dan kau sudah sepikun ini. Ck ck ck."
Hening sesaat.
Yoongi menoleh ke belakang karena Jimin tiba-tiba terdiam.
"Wae?"herannya.
"Ani, kenapa tubuhmu dingin sekali, Yoongi? Apa kau sakit?"
Jimin sedikit menarik diri ke arah belakang, tubuhnya yang semula bersandar pada punggung Yoongi ditegakkan agar tangannya dapat meraba-raba punggung Yoongi. Juga menempelkan jemari mungilnya pada tengkuk Yoongi.
"Turunkan aku,"pinta Jimin, "astaga, kau benar-benar dingin, Yoongi..."sambungnya bernada khawatir dan merengsek turun dari gendongan Yoongi.
"Apa kau baik-"
"Kita sudah sampai!"sela Yoongi tiba-tiba memekik antusias.
"E-eeh?"
Yoongi tersenyum lebar, deretan giginya jadi terlihat dan membuat Jimin sesaat lupa untuk menanyai kondisi Yoongi lebih lanjut. Jimin sontak menoleh ke arah tunjukan Yoongi.
Gerbang sekolah menengah atas-nya. Gerbang yang tertutup rapat karena hari ini hari libur.
"Sudah berapa lama ya sejak saat itu..."lirih Yoongi mulai melangkah, diikuti Jimin mereka kini berdiri tepat di depan pagar berwarna hitam yang menjulang tinggi.
Jimin pandangi gedung sekolahnya yang sejak dulu tak berubah, hanya cat-nya saja yang baru dan halaman yang terkesan lebih asri. Ia lalu tersentak kaget ketika Yoongi secara mendadak menarik lengannya untuk ikut berlari.
"Ya! Kita akan ke mana?"
Yoongi tersenyum lagi kepada Jimin, "kita akan masuk."
"Hha? Maksudmu lewat jalan yang itu?"
"Yup. Kau masih ingat kan."
"Tentu saja! Kita pernah nyaris tertangkap Seokjin karena temuanmu itu kan!"
"Dan sejak saat itu kau sah-sah saja untuk membolos bersamaku kan."
"Sah-sah saja? Excuse me! Kau memaksaku Min Yoongisshi!"
Hanya gelak tawa yang setelahnya Jimin dengar dari Yoongi, membuatnya juga ikut tertawa. Dipikir-pikir, kenangan buruk dan menyebalkan semasa SMA adalah sesuatu yang mengundang senyuman di masa depan, di masa-masa seperti sekarang.
Berlari memutari setengah sekolah, lalu sepasang namja seumuran itu berhasil menemukan jalan rahasia mereka di waktu dulu, celah kecil di sebuah sudut tembok sekolah yang biasanya tertutupi bangku dan meja bekas. Mereka kembali tertawa bersama selama memasuki celah tersebut dan akhirnya sampai di koridor luar sekolah.
"Nah, sepertinya sampai di sini saja,"desah Jimin pura-pura kecewa ketika jalan mereka berujung pada pintu bangunan yang terkunci, "kau tahu Paman Kang tak akan melewatkan satupun jendela."
"Ada Jimin,"ujar Yoongi bersungut bangga, "ada."
"Hm?"
"Kau tahu kebiasaan Namjoon kan."
"Dan itu sudah tiga tahun yang lalu, Yoongi."
"Dan ternyata kebiasaan Namjoon itu diturunkan kepada sang adik."
"Okay, aku mengerti maksudmu. Tapi untuk apa kita repot-repot masuk hm?"
Yoongi langsung mendekatkan wajahnya pada Jimin, mengusap-usapkan hidung mereka berdua.
"Nostalgia." Lirihnya tersenyum manis tepat di depan mulut Jimin. Membuat Jimin ikut tersenyum dan hanya bisa membuang napas menuruti.
#### ####
"Nomormu masih yang lama kan?"
Yoongi mengangguk.
"Kau yakin tidak ikut masuk, Yoongi?"tanya Jimin lagi, kini mereka sudah berada tak jauh dari Cafe IreneLer. Tempat teman-teman mereka mulai menggaduh karena acara reunian.
Kali ini Yoongi menggeleng dan tersenyum, "aku ada urusan," jawabnya melepas tautan jemari mereka berdua, "cepatlah, sebelum acaranya selesai."
"Un. Sampai jumpa."
"Jimin."
"Ne?"
"Jangan bilang ke yang lain kalau kau bertemu denganku ya."
"Eh? Kok-"
"Pokoknya rahasiakan pertemuan kita, okay?"
Meski agak bingung Jimin mengangguk mengiyakan. Sebelum ia melangkah lebih jauh untuk mendekati cafe, Jimin sempatkan untuk mengecup kedua pipi Yoongi penuh sayang. Sesaat ia merasa seperti mencium es, tapi tak begitu ia gubris karena Yoongi kembali menyuruhnya untuk cepat-cepat pergi.
"Sampai jumpa!"ujar Jimin riang melambai-lambaikan tangannya ke arah Yoongi, "nanti malam aku telpon yaaa!"
Sedangkan Yoongi hanya tersenyum tipis membalasnya. Dan jika jarak mereka sedekat tadi, Jimin pasti akan tahu ada kesenduan dalam gurat Yoongi. Serta akan mendengar Yoongi yang bergumam lirih,
"selamat tinggal, Jimin."
#### ####
Semua berjalan menyenangkan.
Tak seperti yang jauh-jauh hari Jimin khawatirkan. Teman-temannya menyambut dengan riang dan begitu hangat, Jimin sendiri pun memilih terbuka dan mengatakan yang sejujurnya.
Pertemuannya dengan Yoongi berhasil membuat pemikirannya segar dan mood-nya bagus. Kecanggungannya hilang, rasa minder tidak jadi menguasainya.
Banyak yang memberikannya semangat dan dukungan. Bahkan Namjoon yang dikenal kaku-pun tampak berusaha menyemangati Jimin bahwa tidak sedikit orang yang memang terkendala untuk meraih mimpi mereka.
Semua berjalan menyenangkan, sampai Jimin tanpa sengaja menyebut Yoongi dalam obrolan mereka. Yoongi sudah meminta Jimin untuk merahasiakan pertemuan mereka, tapi ayolah bagi Jimin tidak ada yang salah dengan itu semua. Memangnya kenapa jika ia bertemu dengan Yoongi-
"Hei, kenapa tampang kalian semua seperti itu..."
Jimin menatapi satu persatu semua temannya, tak ada wajah yang tidak terkejut seperti melihat hantu.
"Jimin... "Seokjn yang bersuara terlebih dahulu setelah keheningan mencekam dirasakan Jimin beberapa lama. Ekspresinya pemuda cantik itu terlihat begitu khawatir, "apa kau yakin bahwa yang kau temui itu Yoongi, Jimin?"
"Maksudmu apa?"
"Yoongi..."Seokjin tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia tenggelam dalam pelukan dari samping oleh Namjoon. Air matanya mulai merembes.
Di sisi lain Jungkook menduduk dalam, Taehyung memalingkan wajah sedihnya. Yang lain bersikap tak kalah serupa.
Dan Hoseok, yang duduk di samping Jimin merasa perlu bahwa dirinyalah yang musti menjelaskan. Ia memegang sebelah bahu Jimin, "Jiminie, Yoongi sudah..."
#### ####
"Kalau otakmu memang bekerja dengan baik, seharusnya kau tahu bahwa model bukanlah impian yang cocok untukmu."
"Tak bisakah kau memberi nasehat dengan cara yang baik, Yoongi..."
"Well, kalau kau tahu dengan dirimu sendiri, kau pasti mengerti masa depan seperti apa yang seharusnya kau raih."
"Masa depan yang seharusnya aku raih... kau, apa, apa kau-"
"Ne, aku tahu dirimu, Chim. Kau seharusnya menjadi-"
Pembicaraan seperti itu selalu terulang-ulang selama Jimin berpacaran dengan Yoongi. Meski terkesan ketus, Yoongi tak pernah berhenti untuk memberitahu Jimin bakat sebenarnya yang Jimin miliki. Di luar pembicaraan mengenai impian mereka, Yoongi bahkan lebih ketus lagi.
Ia terkesan mudah emosi, berbanding terbalik dengan Jimin yang sederhana dan begitu naif.
"SIAPA LAGI YANG AKAN MEMARAHIKU BRENGSEK!"
Jimin berteriak sejadi-jadinya pada hamparan lautan Busan. Napasnya sesak, dadanya sakit. Ia kemudian terduduk lemas meremas pasir pantai sekuat tenaga.
"Kenapa kau selalu seperti ini sial... hiks."
Jimin tak lagi sesederhana dulu, dia sudah banyak berubah. Pergaulan ibu kota membentuk Jimin menjadi lebih mudah mengutarakan kemarahannya.
"Brengsek...hiks."
Jimin mengeluarkan semua umpatan yang ia punya, menujukan semua kata-kata kotor itu kepada seseorang yang kini membuat jantungnya benar-benar tersiksa.
"Kau selalu menyimpan semuanya sendiri... hiks. Tak pernah mau membagi penderitaanmu... hiks."
"Selepas kepergianmu, Yoongi menjadi pribadi yang benar-benar buruk. Puncaknya setahun yang lalu. Dia mabuk-mabuk, Jimin. Mabuk parah dan seseorang melihatnya berjalan sempoyongan di jalanan dekat pantai sambil tak berhenti meneriakkan namamu. Dia menghilang setelah itu dan... beberapa hari kemudian mayatnya ditemukan oleh nelayan Maaf, maafkan karena kami tidak sanggup memberitahumu... maafkan kami..."
"Sial..."
"KALAU BEGITU AKU AKAN JADI MENJADI PENYANYI BIAR KAU PUAS, BRENGSEK!"
Begitu ucapan final Jimin dengan suara lantang semampu yang ia bisa. Dengan hidung memerah pekat dan mata sembab yang membengkak serta ambisi yang tidak main-main.
Seokjin dan Hoseok yang semula berdiri jauh dari Jimin mulai melangkah dan merangkul teman satu klub semasa SMA mereka itu. Memberi penguatan dan berjanji bahwa mereka akan mendukung apapun keputusan Jimin. Dan tak lupa mengingatkan, kebahagiaan Jimin adalah kebahagian Yoongi juga.
5 tahun kemudian
"Jiminie?"
Jimin baru bisa merespon panggilan managernya setelah belasan detik berlalu. Ia kemudian beralih dari kaca rias untuk tersenyum mantap dan mendengus penuh semangat, "aku siap,"ujarnya mengangguk yakin.
"Gwaenchana?"tanya Manager Kang lagi.
"Gwaenchana yo."
"Nah, tidak hanya kau aku juga benar-benar gugup, Jimin. Bahkan semua staff juga. Ini konser tunggal pertamamu kan wajar jika semuanya gelisah, tapi kita sudah memberikan usaha yang terbaik jadi kau tidak perlu cemas."
"Aku baik-baik saja, Hyung."
"Ekspresimu tadi-"
"Ani yo. Pikiran dan perasaanku benar-benar kondusif dan siap untuk semua ini. Aku hanya tiba-tiba teringat dengan seseorang. Ingatan yang begitu nyata, seolah-olah dia tepat berada di sampingku, mengenggam tanganku serta berbisik bahwa aku sudah bekerja keras dan semua akan baik-baik saja. Aku akan memberikan yang terbaik semaksimal yang bisa aku berikan untuk membuatnya merasa bangga, tersenyum dan bahagia di atas sana."
-END-
Gamsahamnida ~
Btw, ganto mau survey [sori bukan maksudnya ke pedean TTvTT] kalo ganto bikin fanbook One Shot YoonMin ada yg mau pesen ga? maksudnya, bakalan bener2 beli, ada yg minat ga?
untuk skrg cuman mau nanya itu aja. detailnya belum kepikiran juga sih
kalo berkenan bisa pm ganto lewat ffn, wp [GantoKim], atau IG [gantokim_]
Once again gamsahamnida ~
See u next YoonMin time ~
.
.
.
.
.
Ganto
29 Januari 2018
