Olaaaa…. Saia balik lagi nih
Sebelumnya saia sangat berterima kasih yang udah mau membaca nih cerita. Dan untuk membalas review nanti ada di bawah. Lalu saia ndak tau tentang istilah-istilah di fic*hiks hiks* ,misal typo. Apa iku saia ndak tau. Adakah yang mau mengajari saia…?*malah curhat*. Udahlah langsung aja.
Selamat membaca...
Disclaimer : Bleach punya Tite kubo
Warning : Seperti sebelumnya. Mungkin bakalan ada kesalahan dalam bentuk apapun.
Pairing : IchiRuki
Rate : T
KASTIL LAS NOCHES
Dimalam yang sunyi nan dingin, dimana disaat sang bulan menyinari kegelapan. Sang bulan bersinar terang menyinari hueco mundo. Hueco mundo tempat dimana beradanya kastil yang megah bernama Las Noches, disana tempat mereka berada. Didalam gedung las noches berkumpul 10 prajurit yang bernamakan Espada. Mereka sedang menunggu pimpinan mereka yang telah terbebas dari segel nerakanya.
TAP TAP TAP
Setelah menunggu akhirnya pemimpin mereka tiba dan ditemani oleh ketiga asistennya. Aizen sousuke sang penguasa hueco mundo dan sekaligus pemimpin kastil las noches. Ia menempatkan diri didepan para espada. Disamping kanan Aizen terdapat seorang yang setia kepada Aizen. Dia selalu tersenyum walaupun tidak disuruh tersenyum, dia akan tersenyum lebih dulu. Ichimaru Gin dengan senyum mautnya dia melihat para espada. Lalu disamping kiri Aizen terdapat Kaname Tousen yang berdiri tegak. Dia buta, akan tetapi ia dapat mengalahkan musuhnya dengan cepat. Dan disebelah Tousen berdiri seorang yang mempunyai wajah seperti Aizen. Tsukishima, dia tersenyum tipis melihat para espada yang berjajar rapi di depannya. Seorang pemilik kekuatan yang bernama fullbring itu menutup bukunya. Buku yang bernamakan'book of the end' dapat berubah menjadi sebuah zanpakutou hanya dengan menarik pembatasnya. Fullbring mengerikan yang dia punya sangat terkenal dipenjuru semua kerajaan. Bila ia mau, ia dapat mengubah masalalu seseorang dengan tusukan pertama. Pertama?. Tentu saja karena tusukan kedua adalah menghilangkan pengaruh dari tusukan pertama.
"Para Espada sekalian. Bagaimana kabar kalian?"Tanya sang penguasa kastil sekaligus membuka pembicaraan.
"Kami selau sehat Aizen-sama."jawab mereka kompak.
"Mereka semangat sekali."ucap Gin dengan senyuman yang selalu melekat diwajahnya.
"Tentu saja mereka semangat, karena sang pemimpin mereka telah kembali."kata Tousen. Aizen yang mendengar itu hanya tersenyum.
"Tidak lama lagi kita akan segera bergerak, siapkan diri kalian."kata Aizen kepada semua espada.
"Kami selau siap Aizen-sama."jawab mereka kompak lagi.
"Aizen-sama sepertinya mereka siap untuk bertempur."sang pemilik fullbring itu bicara.
"Hm, mereka prajurit-prajurit yang setia."jawab Aizen.
"Aizen-sama."panggil seorang espada bernomor 6 yang memiliki rambut biru langit. Sontak semua mata tertuju padanya.
"Ada apa Grimmjow jeagerjaques."jawab Aizen terhadap lelaki bermata biru itu.
"Kapan kita bisah mulai menyerang?"
"Tenang saja, kita akan segera menyerang."ucap Aizen dengan senyum penuh arti.
"Baiklah aku mengerti."kata Grimmjow.
"Baiklah kalau begitu kalian boleh bubar."perintah Aizen.
"Ya."lagi-lagi pasukan itu menjawab kompak.
Setelah itu para espada balik kanan dan bubar jalan(?).
"Hem.. kira-kira mana yang akan kita serang duluan Aizen-sama?"Tanya Gin sambil tersenyum.
"Yang mana saja boleh."jawab Aizen sambil melihat batu permata berwarna violet itu. Batu itu mempunyai kekuatan yang sangat besar, hougyoku itu namanya.
"Melihat hougyoku itu, aku jadi teringat seseorang."ucap Tsukishima. Mendengar ucapan Tsukishima, Aizen meliriknya sambil menyeringai.
"Ya. Seseorang yang membebaskanku dari segel sialan itu."ucap Aizen.
'sepertinya aku harus berterimakasih padanya.'pikir Aizen dalam hati.'tapi, dia yang bisah menghancurkan hougyoku ini.'ingat Aizen.
"Hem, sepertinya dia yang harus dibereskan lebih dulu."kata Aizen.
"Jangan begitu Aizen-sama."sambil membuka bukunya Tsukishima melanjutkan perkataannya."Kita bermain lebih dulu."lanjutnya sambil menyeringai.
"Hem…baiklah."sepertinya Aizen mengerti maksudnya.
URAHARA GAKUEN
Malam yang dingin membuat gadis bertubuh mungil ini terjaga dari tidurnya. Ada sesuatu yang membuat dirinya tak bisa tidur. Dia mengingat masa lalunya sebelum berada disini-urahara gakuen-. Saat ini dia sedang berfikir di dalam kamarnya. Wajahnya tampak serius memikirkan sesuatu.
'Apa yang harus aku lakukan?'kata Rukia lirih.
GREP
Tangan mugil itu kembali kembali memegang kalungnya. Itulah yang dilakukan Rukia saat dia bimbang.
Hah.. ha.. ha..
Gadis ini sedang mengatur emosinya.
'Aku tak boleh lemah, aku tidak sendiri lagi.'Rukia mencoba menghibur dirinya sendiri.
Ditempat lain…
Diruangan kerja yang cukup luas, disana terlihat Urahara yang membaca sesuatu. Urahara nampak sedang melihat data profil tentang pangeran Kurosaki Ichigo. Urahara hanya bisa tersenyum melihat profil itu. Semua yang ditulis di profil itu lengkap-mungkin-dan akurat. Profil itu berisikan…
THE PROFILE OF PRINCE
Nama : Kurosaki Ichigo.
Tempat,tanggal lahir : Kerajaan Kurosaki, 15 juli.
Warna rambut : Orange.
Warna mata : Coklat.
Status : Singel.
Hobi : Bertarung dan berendam.
Zanpakutou : Zangetsu.
Hal yang dibenci : orang yang mempertanyakan rambutnya.
Hal yang disukai : Menyendiri ditempat sepi
Hal yang belum pernah dilakukan : Memeluk ayahnya.
Sifat : Cepat marah, baik hati, terkadang juga manja.
Profil yang diatas adalah buatan sang ayahnya. Mungkin banyak yang benar, atau mungkin malah sebaliknya?. "Hem, sepertinya putramu sudah dewasa."ucap Urahara sambil mengamati foto Ichigo.
TOK TOK TOK
"Siapa?"
"Saya Hanataro, Urahara-san."ucap Hanataro dari luar ruangan Urahara.
SERG
Dibukanya pintu oleh Urahara. Disana ada Hanataro yang sedikit membungkuk."Ada apa Hanataro, malam-malam ke ruanganku?"Tanya Urahara langsung.
"Ano…maaf. Tapi diluar ada yang ingin bertemu dengan Urahara-san."jelas Hanataro sambil tergugup takut dimarahi.
"Siapa?"Tanya Urahara lagi sambil keluar dari ruangannya.
"Saya tidak tau. Tapi dia mempunyai rambut orange, dan membawa pedang besar dipunggungnya."ingat Hanataro. Mendengar kata orange mengingatkannya akan profil yang baru saja dia baca.
"Oh, ternyata pangeran sudah sampai."ucap urahara sambil melangkah meninggalkan Hanantaro yang masih syok.
"Ja..jadi tadi itu pangeran?"kaget Hanataro.
Diluar…
"Aduh.. kenapa lama sekali."ucap sang pangeran sambil mengamati sekelilingnya. Bangunan yang cukup besar dan megah, tapi tidak semegah istananya. Dilihatnya halaman yang cukup luas, sepertinya halaman itu bisa untuk berlatih. Setelah cukup memandang bangunan tersebut sang pangeran menurunkan tas besarnya.
BRUKK
Baru saja Ichigo akan mengambil tasnya, tapi udah keburu jatuh.
"Hah.."hela nafas sang pangeran. Dengan malas Ichigo mengangkat tasnya. Tapi Ichigo langsung cengo, karena tasnya itu berat sekali.
"Apa-apaan ini. Kenapa berat sekali. Tadi Yuzu memasukkan apa saja sih?"gerutu sang pemilik mata musim gugur itu sambil mengamati tasnya.
'ini sih lebih tepat karung beras dari pada tas.'kesal Ichigo dalam hati.
Karena sang pangeran sedang asik dengan tasnya , ia tidak tau bahwa ada seorang lelaki bertopi blazter berada didepan pintu masuk.
"Ara.. kurosaki-kun sudah sampai."kata Urahara. Dibelakang Urahara tampak Hanataro yang mengikutinya. Merasa dipangil ,Ichigo menoleh"Urahara-san."kaget Ichigo.
"Ayo masuk. Kita bicara didalam, diluar dingin."ucap Urahara sambil mempersilahkan sang pangeran masuk."Baik."
"Oh ya Hanataro, tolong bawakan tas Kurosaki-san kedalam kamarnya."perintah Urahara.
"A….mohon bantuannya."ucap Ichigo. Sebenarnya Ichigo agak ragu karena tasnya sangat berat, dan dia tak yakin Hanataro bisah membawanya. Tapi apa boleh buat dia'kan lagi capek. Lalu ichigo dan Urahara masuk. Hanataro manatap tas itu.
"Kok perasaanku gak enak ya?"
Tanpa memperdulikan perasaanya Hanataro mengankat tas itu tapi,…
KREKKK
Otot punggungnya tertarik.
"Aduh sakit, ini tas isinya apa sih?"keluh Hanataro sambil memegang punggungnya."Bagaimana caraku membawanya?"pikir Hanataro.
"AHA!"sepertinya dia dapat ide. Dipegangnya tas itu dan kemudian…
SRET SRET SRET
Dia menyeret tas itu sampai kamar pangeran.
RUANG TAMU
"Bagaimana perjalanannya Kurosaki-san?"Tanya Urahara sambil memberikan teh hijau kepada sang pangeran.
"Biasa saja, tidak ada yang menarik"jawab Ichigo sambil menerima teh tersebut."Oh ya. Kenapa di sini sepi sekali?"Tanya Ichigo lalu meneguk tehnya.
"Mereka sudah terlelap."jawab Yoruichi yang masih ngantuk. Sebenarnya tadi dia sudah tidur, tapi dibanggunkan oleh Urahara.
"Bagaimana kabar Ayahmu dan kedua adikmu?"Tanya Urahara.
"Ayah semakin menggila, kalau Yuzu dan Karin mereka baik-baik saja."ucap Ichigo dengan sayu karena dia mulai mengantuk.
TAP TAP TAP
Terdengar suara langkah kaki dari anak tangga.
"Maaf aku lama, kamar pangeran kurosaki Ichigo sudah siap."ucap Hanataro yang bercucuran keringat. Ya.. dia berkeringat karena tas jumbo milik Ichigo tadi.
"Tak usah memanggilku seperti itu."nasehat Ichigo terhadap Hanataro. Lalu dia beranjak dari duduknya.
"Baik Ichi..go-san."
"Nah.. Kurosaki-san, silakan beristirahat. Kau pasti sudah lelah."kata Urahara sambil berdiri.
"Ya, terima kasih."ucap Ichigo sambil berlalu, tapi dia berhenti dan menatap Hanataro. Hanataro yang ditatap jadi ketakutan.
"Ad..ada a..apa Ichigo-san?"kata Hanataro dengan gugup.
"Omong-omong kamarku yang dimana?"tanya Ichigo dengan lunglai.
"Oh.., kamar Ichigo-san ada dilantai tiga yang pintu kamarnya berwarna putih."ucap Hanataro dengan perasaan tenang.
"Ya, terima kasih."lanjut Ichigo lalu beranjak ke lantai tiga dimana tempatnya beristirahat. Sementara itu…
"Urahara-san, saya mohon diri untuk kembali ke kamar saya."pamit Hanataro.
"Ya, silakan"ucap Urahara."Nah…Yoruichi kau boleh kembali ke-"perkataan Urahara terhenti, karena Yoruichi menghilang. Sepertinya dia sudah kembali kekamarnya dari tadi. Jadilah Urahara celingak-celinguk sendiri.
"Hah, ya sudah."desah Urahara sambil kembali keruangannya.
Dilantai tiga..
TAP…TAP…
Akhirnya sampai juga Ichigo di lantai tiga. Disana ruangan yang bisah dibilang cukup luas. Dilantai tiga hanya ada tiga kamar, tapi bukan kamar sembarangan melainkan sebuah kamar yang cukup luas. Lalu Ichigo mencari pintu kamar berwarna putih.
"Hem..pink.."ucap Ichigo yang telah melalui pintu berwarna pink, lalu.."Hah kenapa begini?"Tanya Ichigo bingung. Tentu saja, karena dia melihat dua pintu bercat putih yang berhadapan."Kamarku yang mana?"ucap Ichigo sambil mengacak rambut orangenya.
'Hah coba satu persatu dulu.'pikir Ichigo.
'Tapi nanti kalok aku salah masuk kamar bagaimana?'
'Hah, nanti kalok salah kamar tinggal keluar.'
Setelah berdebat dengan pikirannya Ichigo memberanikan diri untuk membuka salah satu pintu berwarna putih itu.
CEKLEK
'Tidak di kunci?'pikir Ichigo.
Kamar yang dibuka Ichigo nampak gelap dan sunyi. Kemudian Ichigo melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Disana terlihat sinar rembulan, sepertinya tirainya tidak ditutup. Langkah kaki Ichigo semakin mendalam dan….
'Lavender'batin ichigo.
Ruang ini penuh dengan aroma lavender."Sepertinya ini bukan kamarku."bisik Ichigo pada dirinya sendiri. Segera mungkin Ichigo meninggalkan kamar ini, tapi ada sesuatu yang menyita pandangannya. Disana disudut kamar, tepatnya diatas ranjang yang bisah dikatakan besar. Seorang gadis mungil menyita pandangannya. Tubuh mungil itu tertutupi oleh selimut tebal berwarna putih. Wajah yang imut itu tertepa oleh sinar rembulan, dan semua itu sukses membuat iris sang pangeran tak mau berkedip.
TAP…TAP…
Dengan pelan-pelan Ichigo mendekatinya. Setelah berada disamping ranjang milik sang gadis mungil itu, Ichigo mencondongkan dirinya. Diamatinya wajah mungil dibawahnya itu.
'Manis'batin Ichigo sambil menatap wajah itu yang sedang terlelap.
Disentuhnya pipi kiri sang gadis. Dengan pelan sang pangeran mengukiri wajah yang terlelap itu dengan jarinya. Tapi tiba-tiba tangan sang pangeran berhenti.
'Basah..'batin Ichigo setelah menyentuh bagian pipi yang basah.'apa dia habis menangis?'lanjut Ichigo. Setelah selesai meyentuh pipi mungil itu. Ichigo menarik jarinya kembali. Dia tersenyum tipis sambil berbalik.
'Lebih baik aku segera kekamarku.'batin Ichigo sambil berlalu. Sesampainya di pintu kamar gadis mungil itu, sang pangeran menutup pintu dengan pelan. Dia segera berbalik dan meraih kenop pintu yang ada di depannya. Dibukanya pintu itu, lalu sang pangeran menyalakan saklar lampu. Nampaklah sebuah kamar yang sangat luas bercat biru. Ichigo menuju ranjangnya setelah menutup pintunya. Dilihatnya tas bawaannya berada di samping ranjang.
BRUK..
Ichigo menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan tanpa menunggu lama ia sudah terlelap.
Sinar matahari mulai menyinari alam. Udara yang sejuk membuat angin pagi terasa menyegarkan. Semua orang terbangun dari mimpi mereka masing-masing. Dan mereka segera melakukan aktivitasnya masing-masing. Seperti yang dilakukan orang-orang yang berada di Urahara Gakuen. Murid didik Urahara segera bangun dari tidur mereka, karena mereka harus menyiapkan diri untuk materi latihan. Seperti yang dilakukan gadis mungil ini dia baru saja terbangun dari tidurnya.
"Emm… sudah pagi."ucap Rukia. Dia segera beranjak dari ranjangnya yang empuk. Dia berjalan menuju jendela dan membukanya.
"Sejuk sekali.."ucap Rukia sambil tersenyum tipis. Sepertinya dia sudah kembali yang biasanya. Tidak seperti kemarin malam, dia nampak kacau pada saat itu. Setelah cukup menikmati udara di pagi hari, ia beranjak untuk mandi.
Setelah selesai mandi, ia memakai haori hitamnya dan zanpakutounya. Dia menatap dirinya melalui pantulan cermin sambil menyisir rambutnya yang basah. Dirasa dirinya sudah rapi, dia sesegera mungkin menuju lantai satu. Dimana ia dan teman-temannya berkumpul sambil sarapan. Dibukanya kenop pintu kamarnya.
CEKLEK
CEKLEK
Dua pintu yang berhadapan terbuka secara bersamaan. Secara reflek mereka melihat siapa yang membuka pintu didepannya.
ICHIGO POV
Pagi-pagi aku terbangun dari tidur'ku, karena aku tak mau terlambat pada hari pertama'ku ini. Setelah aku beranjak dari ranjang'ku, aku membongkar tas yang'ku bawa. Aku mengambi handuk'ku, tapi yang terjangkau tangan'ku adalah…'Boneka singa'
"Ha?, kenapa Yuzu memsukkan boneka?"gerutu'ku tak menentu, lalu kulempar boneka itu ke atas ranjang'ku. Kulanjutkan pencarian handuk'ku, tapi lagi-lagi sepertinya ada barang aneh lagi yang'ku ambil. Ya… ternyata yang aku pegang adalah sebuah senter.
Tek tek
Ku hidup matikan senter itu,"Hah Yuzu." Lalu dengan ganas aku mengeluarkan barang-barang'ku kelantai. Ada payung, sapu tangan, sulak, kacamata, kalender, tisu, ringso, sofel, p3k, switer dan…foto. Kulihat sekilas foto itu, itu adalah foto keluarga'ku. Kemudian kuletakkan foto berbingkai coklat keemasan di meja dekat ranjang'ku. Setelah meletakkan foto itu, kulanjutkan pencarian handuk'ku. Dan akhirnya aku temukan handuk yang lembut, tapi…
"Yuzu…..kenapa kau memasukkan handuk yang bermotif bunga sakura?"teriak'ku frustasi.
Setelah mandi dan berpakaian, sesegera mungkin aku menuju lantai bawah, tapi sebelum itu aku membawa zangetsu. Kubuka pintu kamarku, dan….
CEKLEK
CEKLEK
Sontak aku langsung melihat depanku. Disana tampak seseorang yang mempunyai iris violet yang indah.
'Ah, dia yang kemarin malam.'ingatku.
END OF POV ICHIGO
"Pagi."sapa Ichigo sambil tersenyum.
"Ah,ya..pagi.."ucap Rukia sambil menutup pintu, dan berlalu. Melihat Rukia yang seperti itu Ichigo mengerutkan alisnya.
'Ada apa dengannya?. Apa dia tak menyadari keberadaanku."pikir Ichigo segera menyusul Rukia setelah menutup pintu.
Rukia berjalan dengan lambat dan sepertinya dia baru ingat sesuatu. Sedangkan Ichigo, dia hanya bisa memandang punggung kecil Rukia dari belakang. Tiba-tiba langkah Rukia terhenti, melihat itu Ichigo juga menghentikan langkahnya.
'Tunggu dulu, bukankah aku tinggal sendirian dilantai tiga?. Lalu siapa lelaki yang ada di belakangku ini?'pikir Rukia yang baru menyadari situasi.
'Ah jangan-jangan dia…'
"PENYUSUP!"teriak Rukia menggelegar Urahara Gakuen. Sontak Ichigo membekap mulut Rukia dari belakang dengan tangan kanannya.
TBC
Kira-kira nanti lanjutannya mau di bikin gimana ya…?*bingung*, hah sudah lah.
Maap baru update sekarang , karena saia punya tugas 3 diskripsi*susahnya…*. Dan lagi aku harus membuat pola lantai dan gerakan buat ulangan*gak tanya*.
Oke saatnya membalas review…
1. Dari Reika Kuchiki : kyaaaaa pereview pertamakuuu. Makasih ya dah review. Iya nih setingnya menjerumus kesitu. Soal ringso itu karena Ichigo harus nyuci sendiri*hahaha-plak-*, kalau sofel dipakai buat ngusir nyamuk. Oh.. yang bener tuh 'istana' toh, pantesan saat aku tulis 'istanah' rasanya kayak gimana gitu. Gak papa jadi guruku sekalian, karena aku butuh banyak guru soalnya aku tuh lemotttt. nih aku dah update. review lagi ya hahaha.
2. Dari Kurosaki OrangeBerry : ini dia pereview keduakuu. Makasih ya dah mau mereview. Iya nih salah ketik harusnya 'istana' malah ketik 'istanah'. oke akan aku ingat itu. review lagi ya..hehe.
3. Dari RiruzawaStrife Hiru15 : nah ini pereview ketigaku sekaligus my frist teacher. Iya aku dah bisah publish berkat dirimu guru...makacih. Ceritanya udah lumayan apa?. Lumayan jelek apa lumayan buruk?*hiks..*. Oke guru aku akan memperhatikan tanda baca pakek kaca pembesar. Makasih ya guru... review lagi haha-ngarep-.
4. Dari nenk rukiakate : selamat datang pereview keempatku. Salam kenal juga. Ya aku harus semangat ^^. Ya silahkan bantu aku.'
1. Baiklah aku akan mengurangi sepasiku.
2. Oh oke-oke.
3. Aku malah pakek huruf kecil. Akanku ganti.
4. Ya.. akan aku perbaiki EYD aku. Iya 'low' yang disitu maksudnya 'lho'.
kyaaa aku di panggil manis... makasih, padahal aku lebih suka imut*plak*. Ndak papa kok aku juga bisa cerewet hehehe. Okeh akukan terus semangat.
Aku ngak ambil hati tapi ambil pupu*ngak nyambung*. Ni dah dilanjutin. Review lagi ya..hoho.
Makasih bagi kalian yang mau baca fanfic aku…
Oke akhir kata….
MOHON REVIEW
