Ada satu anime yang begitu membekas di ingatan Naruto. Anime itu berkisah tentang seorang gadis penyakitan yang mencintai pemuda tampan berdarah dingin. Ingin sekali Naruto masuk kedalam kisah itu untuk menyadarkan si pemuda, bahwa betapa bodohnya pemuda itu karena telah menyianyikan si gadis penyakitan itu, padahal gadis itu berhati baik dan mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Anime itu ditonton olehnya saat berusia 10 tahun, namun kisah menyedihkannya sangat membekas di ingatannya sampai saat ini, oleh karena itulah anime itu menjadi anime yang paling ia sukai dan juga ia benci, karena Anime itu begitu mirip dengan kisah hidup teman baiknya, Haruno Sakura, dengan beberapa perbedaan tentu saja.
"Kau terlihat murung, ada apa?"
Naruto menolehkan kepalanya kearah Kiba, temannya yang satu ini tengah berkunjung kekediamannya setelah setahun lebih mereka tidak bertemu. Naruto hanya menggelengkan kepala dengan wajah lesu untuk menjawab pertanyaan yang Kiba lontarkan kepadanya.
Kiba memandangi Naruto dengan penuh minat. Tidak biasanya Naruto bertingkah seperti saat ini, Kiba menyakini bahwa Naruto tengah menghadapi masalah besar, hingga membuatnya murung seperti sekarang. "Kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Kau tahukan, aku ini dapat dipercaya!" bujuk Kiba, berharap Naruto mau mengatakan masalah yang tengah dipikulnya itu, namun Naruto tetap bergeming, matanya sayu memandangi laptop yang menyala dihadapannya, yang kini tengah memutarkan sebuah video; Anime Movies. Kiba pun ikut menonton Anime yang tengah diputar itu. "Ini Anime lawaskan?" tanya Kiba sambil melirik kearah Naruto yang wajahnya masih terlihat murung. Naruto tidak menjawab dan pandangan matanya masih fokus pada apa yang tengah ditontonnya, namun nyatanya pikirannya entah terlontar kemana. Kiba mengangkat bahu, menyerah akan sikap 'tidak biasa' Naruto dan kembali menonton Anime yang tengah di putar.
"Apa aku bisa merubah jalan cerita itu?" gumam Naruto penuh harap.
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
SasuNaru
Sorry for typo
.
.
.
Sore itu Naruto berkunjung kerumah sakit tempat dimana kakak sulungnya bertugas. Entah mengapa ia merasa begitu ingin datang kerumah sakit tersebut, padahal biasanya ia akan menolak jika kakaknya meminta dirinya untuk datang.
Langit yang menaungi langkahnya terlihat mendung, Naruto mempercepat langkahnya, tak ingin terkena hujan, jika sewaktu waktu hujan turun. Saat ia telah menginjakan kakinya diteras rumah sakit, hujan seketika turun, membuatnya bernapas lega karena telah sampai di waktu yang tepat.
Ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, menuju kantin rumah sakit, tempat dimana ia dan kakaknya membuat janji untuk bertemu. Saat sampai, Naruto menengokkan kepala kesana kemari, mencari keberadaan kakaknya, dan didapatinya sang kakak yang tengah melambaikan tangan kearahnya.
"Sepertinya kau tidak kehujanan?" tanya sang kakak sambil meneliti pakaian Naruto.
"Ya, begitulah," jawabnya sekenanya. "Bagaimana kondisi Sakura?" tanya Naruto datar.
Kakaknya menyipitkan mata, mendengus, lalu berkata ketus, "Untuk apa kau menanyai kabarnya?" begitu katanya. "Bukankah kau sudah tidak mau berteman dengannya lagi?" tanyanya sambil melirik sinis, kemudian membuang muka kearah berlawanan. "Setiap kali aku memintamu untuk menjenguknya disini, kau selalu saja membuat alasan yang tidak-tidak untuk menolak. Teman macam apa kau ini, Naruto!"
Naruto mengangkat bahu acuh, lalu iapun mendudukan dirinya dikursi yang berhadapan dengan kakaknya. "Aku tidak tahu," jawabnya lesu. Mata birunya yang sewarna dengan milik sang kakak terlihat mengembun, sang kakak yang melihat itu menatap sedih.
"Naruto," panggil sang kakak dengan suara lembut. "Temuilah dia, Sakura selalu menanyai dirimu padaku. Setiap aku datang ke kamar inapnya, dia pasti akan bertanya, 'Ino-nee, dimana sibodoh itu? Dia jahat sekali padaku! Akukan rindu padanya, tapi dia tak pernah datang menemuiku. Dimana dia, Nee-san?'. Aku sampai bosan dibuatnya, karena dia hanya menanyakan hal yang sama setiap aku datang, menanyai keberadaanmu."
"Apa tidak apa kalau aku menemuinya? Aku ini jahat, Nee-san! Aku telah merebut orang yang Sakura cintai! Aku malu untuk bertatap muka dengannya,"
"Kau tidak merebut siapapun dari Sakura! Orang itu yang lebih memilih dirimu, bukan kau yang telah merebutnya."
"Aku akan menemuinya, jika aku sudah mendapatkan keberanianku lagi."
"Tentu saja. Dan saat kau telah mendapatkan keberanianmu, ternyata dia sudah ditimbun tanah! Kaupun akhirnya akan menangis karena merasa telah menyianyikan waktu!"
Naruto termangu, meresapi perkataan Ino, kakaknya. Bertemu Sakura sekarang atau tidak akan bertemu untuk selamanya. Mana yang lebih baik diantara keduanya?
.
.
.
Sakura duduk diatas ranjang kamar inapnya dengan mata yang memandang kearah pintu kamar inapnya dengan penuh harap. Ingin sekali ia bertemu dengan Naruto, ia ingin meluruskan masalah diantara keduanya yang belum tuntas. Sakura tidak ingin meninggalkan masalah di kehidupannya yang tidak lama lagi ini, ia ingin hidup bahagia di kehidupan keduanya kelak, tanpa ada beban apapun lagi.
Ino telah mengabari bahwa Naruto kini tengah berada bersama dengannya dan ia tengah membujuk Naruto, agar Naruto mau menemui Sakura.
Betapa pahit dan menyedihkannya hidup Sakura ini. Hidup dengan berbagai penyakit di dalam tubuhnya sejak berusia 10 tahun, telah membuatnya sedikit demi sedikit menanggalkan sikap buruknya dimasalalu. Masih hangat di ingatannya mengenai masa kanak-kanaknya yang dipenuhi kenakalan dan betapa ia merindukan masa-masa itu. Masa dimana ia belum terlalu mengerti betapa kejam dan rumitnya kehidupan ini. Juga, masih hangat di ingatannya mengenai kejahatan yang telah ia perbuat terhadap Naruto.
Sakura menyunggingkan senyum bahagia saat pintu kamar inapnya terbuka perlahan, menampakkan sesosok remaja pirang yang kedatangannya sudah ia nantikan.
"Naruto!" panggilnya dengun penuh semangat. "Kau datang?" tanyanya dengan nada tak percaya, mata hijau kemilaunya berkaca-kaca, penuh haru.
Wajah pemuda itu terlihat kusut, senyum dibibirnya terlihat begitu di paksakan, membuat senyuaman dibibir Sakura, perlahan-lahan mulai memudar.
"Apa kabar Sakura?" tanya pemuda itu datar.
Dimata Sakura, Naruto terlihat begitu berbeda. Naruto tidak lagi terlihat ceria, kening pemuda itu terlihat mengkerut, seakan ia telah memikirkan banyak hal, namun belum juga membuahkan hasil.
"Kabarku seperti yang kau lihat. Kemarilah, aku sangat merindukan mu!" Langkah Naruto terlihat ragu untuk menghampiri dirinya, dan itu semua tak luput dari pandangan Sakura. Saat Naruto telah berada dekat dengan jangkauan tangannya, Sakura langsung menarik tangan Naruto dan membenamkan wajahnya di dada Naruto dan menangis tersedu setelahnya. "Kenapa kau tidak datang menjengukku? Kau pasti marah setelah apa yang telah ku perbuat padamu. Maafkan aku, Naru, aku minta maaf!" ucap gadis itu di tengah tangisannya. "Aku sangat menyesal!" ucapnya lagi.
Naruto bergeming, bahkan ia tak membalas pelukan Sakura. Pikirannya melayang pada kejadian yang sangat ingin ia lupakan, namun gadis yang tengah menangis ini malah membuatnya kembali teringat pada kejadian tersebut.
"Kisah hidupmu memang sama dengan gadis dalam anime, tapi gadis itu gadis baik hati yang tak pernah melakukan dosa, tidak seperti dirimu, Sakura! Gadis dalam anime itu begitu tabah dalam menjalani rintangan hidup yang telah diciptakan Tuhan untuknya, tidak pernah mengeluh, bahkan ia selalu terlihat bahagia dengan selalu tersenyum. Namun nyatanya itu hanyalah anime. Tidak ada manusia sebaik gadis itu di dalam kehidupan nyata. Tidak ada!
Kau meminta maaf atas apa yang telah kau perbuat terhadap diriku dan akupun telah memaafkan mu, namun nyatanya permintaan maafmu tak akan mengembalikan kehormatanku!"
Sakura semakin terisak saat mendengar setiap kata yang di ucapkan Naruto padanya dan tak henti-hentinya gadis berambut merah muda itu menggumamkan kata maaf berulang-ulang kali.
To Be Continued..
Bab permulaan. Akan dilanjut bila mendapat respon positif! Sankyu
Review?
